[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

28 July 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Daniel

Daniel 1:1-21

Alkitab mengatakan Firman itu pelita bagi kaki kita. Sungguh-sungguh ini adalah sesuatu penerang di tengah-tengah kegelapan dunia. Tanpa Firman Tuhan, kita tidak mungkin akan mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi dalam hidup kita, bagaimana seharusnya kita berespons dan kita tidak tahu bahwa ada jalan-jalan Tuhan di tengah-tengah seluruh masalah hidup kita. Ayat-ayat dalam Kitab Daniel ini menuntun hidup kita. Akan banyak prinsip-prinsip yang merupakan pelita-pelita di dalam hidup gereja dan hidup pribadi kita. Kita memiliki konteks yang berbeda dengan Daniel. Kita tidak melihat lagi ada peperangan seperti Daniel melihat peperangan. Kita tidak bertemu dengan Raja Nebukadnezar, dia sudah mati begitu lama. Konteks-konteks hidup yang ada pada Daniel dan nabi-nabi, tidak kita temukan dalam hidup kita. Tetapi prinsip bagaimana Tuhan memerintah, prinsip teologis yang Tuhan tetapkan dan prinsip kehendak Allah bagi umat-Nya untuk berespon kepada Allah, ada di dalam setiap konteks itu tetap sama. Hari ini kita akan melihat apa yang menjadi prinsip-prinsip teologis yang Tuhan tetapkan bagi Daniel, bagi kita dan bagi gereja-Nya sepanjang masa.

Pertama. Tuhan menetapkan kepada Daniel untuk melihat segala sesuatu dari tahta Allah. Tuhan yang sama juga meminta kepada kita, gereja-Nya, untuk melihat segala sesuatu di dalam hidup kita dari tahta Allah. Dalam ayat kedua, ada satu kalimat yang menyatakan kemahiran kerohanian Daniel. “Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda kepada pemerintahan Nebukadnezar.” Artinya bahwa seluruh kerajaan Israel itu hancur lebur, darah itu kemana-mana mengalir dan Israel Selatan, umat Allah itu terkalahkan, oleh bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan sekalipun, itu adalah di dalam kedaulatan, dalam rencana, dalam tahta Allah. Ini adalah satu kalimat yang tidak main-main. Daniel bukan orang yang tidak tahu keuangan, politik atau strategi perang. Bahkan pernah dikatakan bahwa dia adalah orang yang ketiga setelah raja dan anak raja. Dia salah satu dari nabi besar yang mengerti berbagai macam ilmu, tetapi ketika dia mempelajari, dia mengerti hal yang terutama. Jika kita bertanya kepada Daniel, “Apa yang sebenarnya terjadi? Engkau sendiri berada di dalam pembuangan, dikalahkan dan darah itu kemana-mana. Apakah kita harus melatih militer kita? Apakah negara kita kurang bersatu? Apakah tidak ada orang-orang kaya?” Daniel mengatakan, “Bukan, tetapi Tuhan yang menyerahkan kita semua ke tangan Nebukadnezar.” Lalu apakah solusinya? Maka Daniel mengatakan, ”Karena masalahnya adalah antara kita dengan Tuhan, Tuhan yang menyerahkan Yoyakim kepada Nebukadnezar, maka solusinya adalah repentance/pertobatan.

Dalam Alkitab ada prinsip-prinsip bahwa Tuhan membiarkan atau mengizinkan penyakit adalah karena orang itu berdosa. Tetapi dalam Alkitab juga diajarkan tidak semua sakit penyakit dan kemalangan adalah karena dosa. Tetapi by default, jikalau ada masalah di dalam hidup kita, maka Allah mengajarkan solusinya adalah berdamai kembali dengan Allah. Solusinya adalah: aku harus bertobat. Daniel adalah salah satu orang benar. Di dalam Alkitab boleh dikatakan hanya ada dua orang yang tidak dicatat kesalahannya, yaitu Daniel dan Yusuf tetapi kita tetap tahu mereka adalah orang berdosa. Tetapi prinsipnya sama dengan Nehemia. Nehemia itu bahkan mengatakan,”Aku dan seluruh bangsaku, kami adalah orang berdosa.” Di dalam kitab-kitab suci, bahkan nabi pun tidak pernah menganggap diri lebih suci daripada seluruh bangsa. Kalau mereka masuk dalam sesuatu tragedi yang besar, Tuhan izinkan karena mereka berbagian dalam pergumulan sebuah bangsa. Israel melakukan dosa dan mereka harus mengalami kesulitan, penderitaan karena mereka bagian dari Israel. Yeremia, Yesaya, Habakuk, dan seluruh nabi termasuk Daniel mengalami kesulitan, penderitaan besar karena mereka adalah bagian dari satu bangsa tetapi mereka tidak pernah menganggap diri bahwa aku lebih baik daripada seluruh bangsa. Mereka sendiri adalah orang yang harus bertobat. Tetapi banyak dari kita tidak mau bertobat walaupun begitu banyak masalah yang terjadi dan tidak selesai-selesai. Kita menyalahkan siapa pun saja dan yang paling jahat, saudara menyalahkan Tuhan dan gereja. Kapan kita mau bertobat? Suatu hari Pak Tong pernah bertemu dengan satu orang yang sakit cancer atau ada satu keluarganya yang sakit cancer, kemudian orang ini marah kenapa Tuhan lakukan ini sama dia? Mendengar orang seperti itu, Pak Tong langsung marah sama orang itu, “You tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan.” Kadang kita itu mudah sekali menyalahkan orang lain dan terlalu berani menyalahkan Tuhan. Kita makan dan hidup juga tidak karu-karuan. Polusi sudah ada di mana-mana. Pokoknya asal Tuhan disalahkan. Sebaliknya Alkitab dengan begitu jeli menyatakan - seluruhnya anugerah. Kalau kita belum sakit, kalau kita belum mati, di tengah dunia yang polusi dan makanan yang tidak karu-karuan seperti ini. Itu anugerah. Kalau kita belum cancer di tengah makanan yang di dalamnya ada pewarna-pewarna yang kita sendiri tidak pernah tahu. Itu anugerah. Jangan dibalik. Kesalahan ada pada pada kita. Solusi dari permasalahan bukan untuk menunjuk orang lain tetapi bagaimana kita berespons kepada Allah. Itu yang disebut sebagai memandang dari cara pandang Allah.

Mari kita melihat 2 Raja-Raja 17: 1-6. Ini bicara tentang akhir kerajaan Utara. Kerajaan Utara hancur karena Asyur. Ayat 6, “Dalam tahun kesembilan zaman Hosea maka raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan dan di kota-kota orang Madai”. Ayat 7, ini ayat kuncinya, “Hal itu terjadi, karena orang Israel telah berdosa kepada TUHAN, Allah mereka, yang telah menuntun mereka dari tanah Mesir dari kekuasaan Firaun, raja Mesir, dan karena mereka telah menyembah allah lain”. Bukankah penulis kitab Raja-Raja memiliki cara pandang yang sama dengan Daniel? Kalau saudara hidup kesulitan dan penderitaan, bukan karena uang, relasi, atau orang lain yang salah kepada kita, tetapi karena kita tidak takut akan Allah. Itulah cara pandang kekekalan. Jangan percaya kepada alasan-alasan psychology atau ekonomi. Kerja sekeras apapun saja, sepanjang hidupmu tidak takut akan Allah, engkau akan tahu tidak ada kepuasan.

Di sisi yang lain, Daniel mengatakan,”Tuhan yang menyerahkan Yoyakim ke Nebukadnezar.” Itu artinya adalah kita berada di dalam tangan Tuhan. Ini adalah untuk anak-anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Bayangkan Daniel pada waktu itu masih remaja. Tiba-tiba kuda Nebukadnezar dan perwiranya masuk dan membakar seluruh Israel dan membantai orang-orang yang masih hidup di sana. Mungkin salah satu yang dibantai adalah orangtua/keluarganya Daniel. Tentara-tentara mengambil anak-anak muda yang kuat dan kemudian mereka membelenggu, merantainya dan menyeretnya membawa kepada Babel. Dengan air mata seperti itu, Daniel terpaksa pergi. Jika ditanya kenapa ini semua terjadi? Daniel tidak masuk ke dalam self-pity padahal penderitaan begitu besar. Karena Daniel mengerti kunci ini. Tuhan yang melakukannya bagiku. Tuhan memiliki rencana bagiku. Eh Daniel, you harus tahu, bahwa Dia sedang marah bagimu dan Dia melakukan sesuatu yang kejam mungkin bagimu. Seandainya pun seperti itu, Daud memberikan satu prinsip ini kepada kita, “Lebih baik aku jatuh ke tangan-Mu, ya Tuhan karena engkau Allah yang penuh dengan belas kasihan.” Sseandainya sesuatu yang buruk itu terjadi, dia menerimanya. Seandainya pun itu adalah hukuman Tuhan bagi dia, karena pilihan-pilihan masa lalu yang sudah berdosa, dia mau meletakkan dirinya, hidupnya, nasibnya ke tangan Tuhan yang marah kepada dia, karena dia tahu Allah yang marah kepada dia adalah Allah yang penuh belas kasihan. Mari kita melihat satu prinsip ini, 2 Samuel 24: 14, “Lalu berkatalah Daud kepada Gad, ‘Sangat susah hatiku, biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia’”. Daniel tidak menganggap bahwa dia jatuh ke tangan Nebukadnezar. Bukan Nebukadnezar yang menang kepadaku, menguasaiku. Tetapi aku jatuh ke tangan Tuhan. Dan Tuhan yang akan menghukum aku melalui dia. Biarlah aku boleh jatuh ke tangan Tuhan karena Tuhan adalah Allah yang memberikan belas kasihan.

Kedua. Gereja diminta untuk menjadi berguna bagi dunia dan bagi Allah. Satu prinsip ini yang biasa kita orang-orang reformed itu lupa, Tuhan minta saudara dan saya rajin, sebisa mungkin, sepandai mungkin, dan sekaya mungkin. Banyak orang injili yang salah mengerti tentang hal ini. Saya tidak berbicara tentang superiority (lebih kaya/lebih pandai dari orang lain), tetapi saya berbicara mengenai excellency. Allah kita mengatakan bahwa Dia akan menuntun anak-Nya, umat-Nya, dengan integrity of heart and skillful of hand. Yesus itu mengatakan, “jadilah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Banyak orang cerdik itu tidak tulus jadinya licik. Dan Tuhan akan menghukum dia. Banyak orang itu tulus tetapi dia tidak cerdik dan itu adalah orang Kristen. 90% orang Kristen seperti itu. Salah satu masalah terbesar di dalam pelayanan adalah kita ketemu sama orang naïve. Tidak mengerti apa-apa dan tidak mau tahu kalau diberitahu. Orang-orang seperti itu, sampai pada titik tertentu bisa dipakai oleh Tuhan tetapi tidak mungkin menjadi pemimpin gereja. Kalau saudara tidak terlatih untuk membaca hati, saudara akan memasukkan musuh ke dalam gereja saudara. Saudara-saudara pikir baik semuanya. Saudara tentu harus baik, tentu harus mendoakan orang itu. Tetapi kalau saudara berikan hati kepada dia, gereja yang hancur, bukan saudara. Saya pernah menegur pengurus yang tidak pernah terpikir tentang keuangan gereja. Kalau kita adalah pemimpin gereja, kita mesti mikir. Kalau saya pindahkan ini ke sini, ini bagaimana pertumbuhan rohani? Bagaimana dengan keuangan, cukup atau tidak? Kita sama sekali tidak boleh mengatur sebuah gereja dengan prinsip keuangan. Kalau Tuhan kehendaki, kita harus kerjakan apa pun saja, meski tidak ada uang. Tetapi itu bukan berarti saya tidak pernah pikir mengenai keuangan itu harus seperti apa. Ini adalah suatu hal yang kita harus mengerti. Banyak orang cerdik tidak tulus; banyak orang tulus tidak cerdik. Golongan ketiga, sudah tidak cerdik tidak tulus. Sudah tidak bisa dipakai dunia, tidak bisa dipakai sama Tuhan. Tetapi Tuhan menginginkan saudara dan saya cerdik dan tulus. Saudara-saudara, pasti pernah mendengarkan bahwa satu negara yang paling pandai sebenarnya di seluruh dunia adalah orang-orang Israel. Orang-orang Israel itu sebenarnya menguasai militer dan keuangan dunia. Dari mana mereka bisa seperti itu? Tentu di dalam Perjanjian Lama, saudara tahu bagaimana Tuhan itu melatih Israel dari segala hal. Tetapi kalau saudara-saudara mengerti lebih lagi, dalam masa-masa ini maka sepuluh suku sudah dihabisi oleh Asyur, sudah tidak ada lagi. Hanya ada dua suku, itu ada di dalam Yehuda, di dalam Yerusalem, Israel Selatan. Kemudian Nebukadnezar itu datang, dan mengambil hanya orang-orang muda yang skillful dan pandai. Kemudian dilatih oleh Nebukadnezar. Menguasai berbagai macam ilmu dan menguasai bahasa internasional Aram sampai kemudian Tuhan itu kemudian membebaskan anak cucu mereka. Orang-orang terpandai, terbaik Israel setelah mereka jadi budak dilepaskan oleh Tuhan kembali ke Israel, dari situlah anak cucu Israel itu ada. Mereka adalah orang yang terbaik. Saudara jangan pernah berpikir, aku adalah anak Tuhan pokoknya aku tulus lalu kemudian ilmuku tidak seberapa ya sudahlah, nanti Tuhan pakai. Ketika saya berkhotbah seperti ini, saudara yang merasa bodoh, jangan merasa tersinggung, jangan berpikir bahwa Tuhan tidak bisa memakai saudara. Tetapi di tengah-tengah saudara merasa bodoh, saudara lakukan yang terbaik. Dan kalau saudara-saudara lakukan terbaik, bahkan saudara-saudara akan tercenggang ternyata saudara itu tidak sebodoh yang saudara pikirkan. Karena Alkitab dengan jelas orang yang paling bawah pun dikasih satu talenta. Dan satu talenta itu begitu banyak. Saya yakin sekali masalah di tengah kita bukan adalah orang-orang bodoh. Tetapi adalah orang-orang yang tidak mau berpikir yang malas. Mengenai malas Tuhan sendiri bicara, “Hai hambaku yang malas dan jahat”. Orang bodoh masih bisa dipakai sama Tuhan. Orang malas tidak akan dipakai sama Tuhan. Itu dari Alkitab. Jikalau saudara malas pikir, saudara tidak akan dipakai oleh Tuhan. Beberapa kali kami rapat pengurus berkali-kali terakhir saya bicara, “Baca buku”. Semakin pandai, semakin luas jangkauan pelayanan. Semakin kaya, semakin saudara dipakai memberkati semakin banyak orang. Saya sungguh-sungguh berbicara kita harus excellent. Kita bisa lebih pandai, lebih berpengaruh, dan lebih kaya daripada saat ini. Jangan ada kemalasan dalam segala aspek. Lakukan itu sebagai satu pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kalau saudara lihat talenta, ada yang dikasih 5, 2, 1 oleh Tuhan. Saudara bisa lihat talenta itu saudara mau asumsikan apa? Kepandaian saudara? Uang? Maka saudara mesti kerja keras untuk bisa melipatgandakan. Pikir baik-baik, bagaimana saudara uang itu bisa berputar untuk makin melimpah. Kalau saudara-saudara sudah pikir-pikir lalu kemudian invest akhirnya rugi bagaimana? Bersyukur sama Tuhan. Itulah sebabnya cerdik dan tulus. Karena Tuhan yang menyerahkan Yoyakim. Tuhan yang memerintah seluruhnya. Tetapi yang saya mau lawan adalah pada pagi hari ini banyak orang yang tidak berani untuk hal itu. Bahkan tidak pernah berpikir untuk hal itu. Sama seperti pengurus itu yang tidak pernah pikir mengenai keuangan, jika tidak bertobat, dia tidak mau berubah, bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengurus gereja? Apakah saudara pernah bertemu dengan kepala keluarga yang tidak pernah memikirkan uang di dalam rumah tangga, hanya pikirkan anaknya sudah mandi, sudah makan, sudah belajar? Bukan seperti itu. Yesus katakan tidak boleh kuatir tetapi bukan jangan pikirkan. Sebagai kepala keluarga, saudara mesti memikirkan segala sesuatu. Sebagai pemimpin gereja, saudara mesti mengelola segala sesuatu. Sekali lagi saya tidak mau saudara pulang lalu meratapi nasib saudara. Apa yang harus kita respon? Doa sama Tuhan. Tuhan ampuni kemalasanku. Saya akan mulai berpikir karena Engkau sudah memberikan hal-hal ini kepadaku. Tuhan sudah memberikan modal ini kepada kita. Kita harus lakukan yang terbaik. Karena tiba-tiba ada waktunya Tuhan akan memakai orang-orang seperti ini.

Ketiga. Tuhan mendidik kita melalui Daniel untuk hidup di dalam kesucian. Perhatikan ayat delapan, “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja.” Holy di dalam bahasa aslinya adalah dipisahkan untuk hidup didedikasikan. Ini adalah ketetapan hati, keputusan pribadi/personal. Keputusan untuk memisahkan dirinya dimiliki oleh Allah dengan mengambil perjanjian dengan Allah secara pribadi yang hanya diketahui oleh Allah dan dia saja. Saya sangat-sangat mendorong kita semua, pikirkan satu hal di dalam hidup yang saudara mau bawa itu sebagai ketetapan hati memisahkan diri hanya untuk Allah. Saya tidak akan mengajarkan poin yang ini adalah dengan mengatakan bahwa Daniel itu tidak mau makan karena ini adalah makanan yang sudah dipersembahkan minuman yang sudah dipersembahkan kepada ilah-ilah. Akan banyak penafsiran dalam hal itu dan aplikasi yang akan sulit. Misalnya saja Nehemiah, juru minum, meminum dan memakan makanan raja yang dipersembahkan oleh ilah-ilah. Kalau saudara-saudara mengatakan tidak boleh makan sesuatu yang sudah dipersembahkan oleh ilah. Beras yang kita makan kalau di Indonesia, kemungkinan sudah dipersembahkan kepada ilah tertentu, dewi Sri misalnya. Saya tidak akan masuk ke dalam hal itu tetapi saya mau masuk adalah Daniel mengambil satu bagian di dalam hidupnya khusus dia lakukan itu untuk Allah. Ada suatu cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Ada satu anak Tuhan yang selalu akan berdoa syafaat untuk Indonesia pada jam tertentu misalnya saja jam 6-7 malam. Maka suatu hari ada yang datang. Kemudian pembantunya membukakan pintu. Kemudian pembantunya sudah memberitahu bahwa orang ini ada, tetapi dia tidak akan bisa diganggu setiap jam 6-7 malam karena dia sedang berdoa sama Tuhan. Sebagai gembala, saya menyarankan saudara memiliki hal-hal seperti ini. Ini adalah hidup yang dipikirkan satu bagian dipersembahkan untuk Tuhan. Ada perjanjian-perjanjian pribadi antara anda dengan Tuhan. Dan itu artinya mengkhususkan diri untuk Allah. Dalam konteks Daniel, Daniel memilih makanan. Namanya diganti, dia tidak melawan. Bahasanya diganti, tetapi dia tetap setia dengan bahasanya. Ini bukan sesuatu yang mudah, 70 tahun Daniel tidak pernah kembali ke tempat asalnya tetapi bahasa aslinya tidak hilang, dia pindah pada waktu masih kecil mungkin 7-8 tahun, paling tinggi 11 tahun. Banyak orang Indonesia setelah generasi kedua sudah hilang di sini. Anak saya Emily datang ke sini masih kecil, sekarang kalau bicara saya selalu marahin, “Pakai bahasa Indonesia.” Masih ada papanya saja susah kita jagain anak untuk tidak hilang bahasa Indonesia. Daniel tidak punya siapa-siapa. Dia berarti mesti melatih dirinya setiap hari untuk tulis, baca, bicara bahasa Ibrani yang tidak ada orang tahu bahasa Ibrani. Di saat yang sama dia dilatih terus bahasa Aram. Tetapi di situlah imannya. Dia memiliki akar bahasa Ibrani sehingga saudara-saudara lihat Daniel pasal 1-2 dia tulis pakai bahasa Ibrani. Pasal 2 akhir-7 pakai bahasa Aram. Pasal 8-12, pakai bahasa Ibrani. Berarti dia adalah satu orang yang bisa dua bahasa secara fasih. Dan dia dipakai oleh Tuhan memberkati Hebrew dan internasional. Saya sungguh-sungguh bicara sekarang secara resmi dari mimbar. Jangan biarkan anak saudara tidak lagi bisa bahasa Indonesia, atau bahasa apapun saja tempat saudara lahir. Itu tempat kita lahir, itu tempat Tuhan pertama kali meletakkan kita untuk bermisi di situ. Apalagi kita orang Indonesia. Saya tahu banyak orang yang sangat sakit hati dan malu sama negara Indonesia. Tetapi tidak bisa. Terimalah identitas dan tanya sama Tuhan apa misinya. Kalau saudara dipindahkan ke negara ini. Ada maksud Tuhan. Tetapi saudara tidak bisa melupakan original kita. Daniel dipakai oleh siapa? Allah. Untuk apa? Untuk memberkati bangsa-bangsa. Termasuk yang utama adalah Ibrani. Ini adalah sesuatu yang dia mengerti. Saya sungguh-sungguh salut sama imannya Daniel. Gimana ya masih kecil gitu, dia pasti bicara, kalau di tempat kita pakai bahasa Inggris, tetapi bahasa aslinya itu tidak hilang. Ini adalah sesuatu hal yang luar biasa, karena dia mau hidup bagi Tuhan. Dan sekarang kembali ke makanan, dia mengambil komitmen itu untuk perjanjian dengan Tuhan. Perhatikan pengendalian dirinya bukan untuk nafsu tetapi untuk dedikasi bagi Allah. Kalau saudara bertemu masuk all you can eat restoran, setelah bayar,melihat seluruh makanan menjadi ingin memakan semuanya sebelum keluar bukan? Tetapi Daniel tidak mau melakukannya. Meskipun itu free. Bahkan sebenarnya dipaksa. Kemudian dia mengatakan tidak. Saya akan selesaikan poin ini, yaitu Tuhan akan memberkati dengan limpah orang-orang yang mengambil perjanjian di dalam kesucian-Nya. Di dalam ayat ke-9, Tuhan mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana. Dari ayat ke-10 dan seterusnya, saudara akan melihat bahwa Daniel diberikan berkat demi berkat yang besar. Tuhan senang dengan orang-orang yang berketetapan mengkuduskan dirinya bagi nama-Nya.

Keempat. Daniel ada di istana sampai tahun pertama pemerintahan Koresh. Artinya Daniel hidup melayani Tuhan selama 70 tahun, bukan sampai berumur 70 tahun. Seluruh catatan ini menyatakan bahwa Daniel bersaksi bahwa Tuhan itu Yahweh itu hidup dan besar. 70 tahun berjuang bagi Allah. Dari raja demi raja demi raja yang berganti. Aku berjuang, berjuang, berjuang menyatakan Yahweh dan bukan raja itu yang besar. Ini adalah api dari Roh Kudus. Ini adalah api anak-anak Tuhan yang sejati. Kecuali engkau bukan orang yang ditebus engkau tidak akan peduli dengan hal ini. Tetapi kalau kita adalah orang-orang yang ditebus, kita akan melihat hidup ini dengan air mata jikalau kita tidak berjuang bagi Allah. Engkau akan memiliki seluruh api ada dalam tulang untuk menginginkan Allah itu nyata dalam hidup kita. Dari urusan doa. Di dalam urusan sehari-hari. Dari urusan pemilihan bahkan dengan makanan sekalipun. Sampai ke pemerintahan. Allah itu milikku dan aku itu milik Allah. Allah itu lebih besar daripada diriku. Dan Allah lebih besar daripada engkau ya raja. Aku hidup di sana sampai pemerintahan Koresh. Dia tidak perlu bicara banyak, dia menuliskannya dan saudara tahu seorang anak Tuhan dari keputusan-keputusan kecil dibawa Tuhan ke pemerintahan hanya untuk satu, yaitu Yahweh lebih besar daripada kita semua. Ini bukan hidup yang ditempel dengan agama. Celakalah, orang yang seperti itu karena engkau bukan orang-orang tebusan Allah. Daniel tidak seperti itu, orang yang sejati dipilih oleh Allah, ada Roh Kudus di dalamnya. Ada di dalam hatinya api untuk menyenangkan Allah. Dari cara pandangnya, doanya, makanannya, pilihan-pilihan hidupnya, bahasanya. Dia tidak pernah memikirkan untuk menjadi perdana menteri. Tuhan mau letakkan dia di atas atau di bawah dia mau. Kemudian Tuhan letakkan dia di atas dan kemudian dia menyatakan apa yang memang menjadi pilihan hidup personal-nya ketika dia ada di kamar sendirian. Seluruh pilihan ini tidak akan terlihat pada kita, kecuali dia menuliskannya karena Tuhan menyuruhnya.

Sekali lagi gereja dipanggil untuk berjuang bagi kemuliaan Allah di tengah-tengah dunia. Kalau ada orang yang pernah bicara di telinga saya. Saya tidak tahan kalau ke GRII. Saya rasanya itu dipaksa-paksa terus. Saya serahkan sama Tuhan. Kalau saudara rasa dipaksa, uji dirimu. Apakah engkau menjadi milik Allah atau tidak? Tetapi kalau orang-orang yang sejati, saya yakin bahwa saudara mendengarkan khotbah kalimat-kalimat seperti ini, hati saudara akan terbakar aku mau hidup lebih lagi bagi Tuhan. Saudara tidak akan puas dengan hidup yang ada saat ini. Saudara tidak pernah mengatakan aku sudah memberikan terlalu banyak bagi Tuhan. Saudara terus menginginkan dipakai lebih, dipakai lebih. Karena semakin saudara berjalan setiap hari, semakin saudara tahu kubur itu menanti kita. Pasti ada air mata dan jeritan Tuhan pakai aku lebih sebelum aku masuk ke dalam liang kubur. Dan tulisan ini menjadi kenyataan dalam hidupnya Daniel. Dia memerintah sampai tahun pertama Koresh dan kemudian selesai. Empat hal ini. Lihat segala sesuatu dari mata Allah. Kedua, jadilah pandai, jadilah excellent dalam segala hal sampai akhirnya Tuhan itu memakai kita pada tempatnya. Ketiga, buat perjanjian-perjanjian pribadi di dalam kesucian kepada Allah. Dan keempat, berjuanglah bagi kerajaan Allah sepanjang kita masih hidup. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^