[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

19 May 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 27 (2)

Mazmur 27:1,4,14

Minggu lalu saya membicarakan Mazmur 27 dengan latar belakang Daud sedang takut. Dia adalah orang yang terus-menerus menerima pergumulan dan penderitaan. Begitu juga orang-orang puritan, temannya adalah pergumulan, penderitaan, kematian, kesusahan dan kemiskinan. Ini adalah suatu yang gelap di dalam hidup kita. Apakah kekuatan anak-anak Tuhan dalam menghadapi kuasa kegelapan yang menyerang kita? Anak-anak Tuhan diminta oleh Tuhan memiliki confidence dalam perang. Maka Daud menyatakan, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Ini adalah kepercayaan yang kokoh di dalam Tuhan, dalam peperangan. Dalam ayat yang keempat ini, Alkitab bertanya kepada Daud, “Musuhmu begitu banyak, kegelapan begitu nyata, engkau terus berada dalam pertempuran sengit. Darimana munculnya confidence dan keberanianmu?” Ayat keempat merupakan jawabannya. Confidence Daud berakar dari kekuatan dalam memandang the beauty of the Lord di dalam bait-Nya, “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN. Itulah yang kuingini, diam di rumah TUHAN seumur hidupku. Menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” Ayat pertama adalah confidence dalam peperangan. Ayat keempat adalah sumber kekuatan confidence itu. Saya akan menjabarkan ayat keempat.

Tuhan menunjukkan hal-hal indah dan menakjubkan bagi kita dalam Alkitab. Ketika Musa ditanya, satu hal apa yang engkau inginkan? Maka dia menyatakan: berikan saya penglihatan akan kemuliaan-Mu. Ketika Paulus ditanya, yang dia inginkan adalah untuk mengenal Dia, kuasa kematian-Nya, kuasa kebangkitan-Nya, persekutuan di dalam penderitaan-Nya. Dan Yesus sendiri mengatakan kepada Martha untuk membandingkan apa yang ada pada Maria. Yesus menyatakan bahwa Martha telah bersusah-susah, tetapi Maria memilih satu hal saja yang terbaik, yang tidak akan diambil darinya seumur hidupnya; yaitu mendengarkan suara Kristus. Perhatikan “satu hal”. Jikalau pagi ini Tuhan memberikan engkau kesempatan untuk meminta satu hal saja dan pasti Tuhan akan kabulkan, apa yang engkau minta? “Satu hal”, perhatikan betapa krusialnya karena itu menentukan prioritas kita. Maria sudah memilih yang terbaik yang tidak akan diambil darinya, yang dipilih oleh Maria adalah satu hal: aku ingin mendekat kepada-Mu, Kristus, aku ingin mendengarkan suara-Mu Kristus, aku tidak akan memperdulikan hal-hal yang lain. Yesus mengatakan Maria memilih bagian yang terbaik yang tidak mungkin diambil darinya. Karena itu adalah ketetapan hati Maria. Meskipun mendapat kemarahan dari saudaranya. Tidak ada yang bisa menggeser dia, itu prioritas hidupnya. Itu hal yang terpenting dari dirinya. Setiap kita ketika ditanya kenapa tidak ikut ini? Saudara punya alasan-alasan. Tetapi sebenarnya, intinya satu yaitu kita tidak memprioritaskan yang harusnya diprioritaskan. Itu bukan sesuatu yang mendesak pilihan. Saudara memberikan prioritas kepada sesuatu yang bukan Tuhan. Maria memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil darinya. Dan itu juga diteguhkan oleh Tuhan. Tuhan akan meneguhkan setiap hati anak-anak-Nya yang seluruh jiwanya diberikan kepada Tuhan. Yang keinginannya hanya satu adalah untuk hidup bagi Tuhan. Dan Yesus sendiri memuji Maria, engkau sudah memilih yang terbaik. Hidup ini adalah rangkaian dari pilihan-pilihan. Apakah saudara dan saya sudah memilih yang terbaik yang dari Tuhan, yang Tuhan nyatakan ini yang terbaik?

Kita harus menetapkan hati untuk mengejar hal-hal surgawi. Ini adalah mengejar, mau melihat, memikirkan hal-hal di mana Kristus itu ada duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Perhatikan apa yang Daud minta: diam di rumah Tuhan seumur hidupku, melihat keindahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Pada waktu itu, itu adalah tenda tabernakel, belum ada bait Allah, tetapi Tuhan memilih tenda itu, tempat Dia berdiam di bumi ini. Perhatikan prinsipnya: Allah itu maha hadir, tidak ada satu ruangan di mana Allah tidak hadir. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan kehadiran Allah itu dapat dirasakan oleh umat-Nya di dalam kondisi-kondisi tertentu, di dalam kedaulatan Allah memilih tempat itu. Ada tempat-tempat “spesial” yang Tuhan sendiri nyatakan “Aku mau di tempat itu”. Ini sangat mencengangkan, sesuatu yang tidak masuk akal kita. Salomo-pun mengatakan: Engkau adalah Allah yang melingkupi langkit di atas langit, mana mungkin Engkau mau berdiam di dalam sebuah rumah? Tetapi Alkitab kita mengajarkan bahwa Allah memilih satu tempat bagi-Nya yang disebut Rumah Tuhan. Dalam Perjanjian Baru itu adalah gereja yang sejati, di mana orang-orangnya memegang teguh, mau tunduk kepada Kristus. Maka Daud menyukai rumah Tuhan. Daud tidak mengatakan satu hal yang kuminta aku bisa diam di rumahku. Padahal rumah Daud waktu itu lebih mewah daripada tenda pertemuan. Rumah adalah tempat kita beristirahat, merasa nyaman dan secure, tempat adanya keluarga kita dan rasa dicintai. Ada kekuatan lagi, ada pemulihan. Ketika seseorang ada kesulitan atau musibah, yang pertama dipikirkan adalah pulang ke rumah. Kalau sudah beberapa lama bertamasya yang saudara-saudara pikirkan: aku ingin pulang rumah. Seperti itulah perasaan Daud, tetapi bukan pulang ke rumah dia, melainkan pulang ke rumah Allah. Ini bukan berbicara mengenai surga, tetapi di bumi ini. Kesukaannya adalah: aku bisa tinggal di rumah Tuhan seumur hidupku, untuk melihat the beauty of the Lord. Di dalam kata aslinya itu, Ibrani adalah Noam, ini adalah sesuatu yang menyenangkan, menyukakan, sesuatu yang manusia itu sebenarnya cari.

Dalam beberapa bulan ini saya belajar dua kata di mana Tuhan menyatakan insight yang dalam kepada saya. Pertama adalah obedience. Ketika berkata tentang obedience apa yang ada di dalam pikiran saudara? Taat, mesti pegang dengan teguh, sesuatu yang sulit, dan harus terbungkuk-bungkuk untuk melakukannya. Tetapi dalam Alkitab, kata obedience ini selalu berkait dengan perintah Allah dan kata ketiga yang menggabungkannya adalah kasih. Maka perintah Allah tidak pernah diberikan kepada umatnya di luar konteks kasih, dan Allah menginginkan umat-Nya melakukan perintah-Nya karena cinta. Ketika pengkotbah mengatakan taatlah kepada Tuhan, itu artinya berikan hatimu total kepada Kristus. Ini adalah suatu tindakan yang didorong karena cinta.

Kata kedua adalah holiness, ketika kita mendengar kata holiness apa yang ada di dalam pikiran kita? Tidak boleh ini/itu, menjauhi kejahatan. Tetapi ketika saya melihat Alkitab maka saya menyetujui kalimat yang saya dapatkan dari Nancy Leigh DeMoss, “Ketika kata holiness muncul engkau memikirkan tentang beauty.” Ketika Daud mengatakan, “Aku mau melihat the beauty of the Lord.” The beauty of the Lord, adalah keseluruhan sifat Allah dalam kesucian-Nya. Kesucian itu menakutkan. Musa, Yesaya dan Ayub takut. Tetapi kalau itu berada di dalam Kristus maka kesucian itu menjadi sesuatu yang indah (beauty). Perhatikan baik-baik, Tuhan memiliki segala hal di dalam diri-Nya yang manusia inginkan. Dia satu-satunya yang sempurna di dalam diri-Nya dan dalam sifat-Nya. Dalam diri dan sifat Allah terdapat segala hal yang jiwa kita inginkan. Jiwa kita menginginkan kebenaran, belas kasihan, anugerah, keadilan dan adanya penghakiman yang adil. Jiwa kita menginginkan dikasihi, diperhatikan. Sehingga kalau Allah memberikan pertumbuhan rohani dalam diri kita, maka kita akan melihat kemuliaan, keindahan dari Tuhan di dalam Yesus Kristus.

Daud menginginkan satu hal saja: Diam di rumah Tuhan seumur hidupku, melihat keindahan Tuhan dan menikmati bait-Nya. Di dalam rumah Tuhan yang sejati, kita bukan bertemu dengan orang-orang berdosa saja. Kita mesti sadar kita adalah orang-orang yang berdosa, dan Tuhan mempertemukan kita di gereja ini. Tetapi di dalam rumah Tuhan setiap orang akan melihat the beauty of the Lord dan Tuhan yang berdaulat, rela menyatakan keindahan-Nya kepada umat-Nya di dalam gereja yang sejati. Saudara tidak bisa memisahkan pertumbuhan pengenalan akan Allah dengan Bait Allah. Gereja lokal yang sejati itu begitu penting untuk membuat kita bertumbuh mengenal Allah. Gereja lokal itu begitu mulia. Jikalau gereja lokal itu sungguh-sungguh sejati, maka itu dibawa dan dipakai oleh Allah untuk menyatakan kehadiran-Nya yang terlihat. Dan inilah kekuatan Daud sehingga Daud memiliki confidence untuk menyatakan kalimat-kalimat perang terhadap musuhnya. Perhatikan dua tonggak itu: ayat 1 dan ayat 4. Ayat 1 berbicara confidence dalam peperangan. Ayat 4 berbicara berkenaan sumber keberanian dari peperangan tersebut. Ketika kita berbicara mengenai melihat keindahan Tuhan. Alkitab berkali-kali menyatakan bahwa itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Kita tidak bisa take-it-for-granted. Maka dalam ayat-ayat selanjutnya Daud menekankan, “Nantikanlah Tuhan”.

Ada tiga tonggak penting dalam Mazmur 27. Pertama adalah confidence di tengah ketakutan dan pergumulan. Tuhan Allah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut. Tuhan adalah benteng hidupku, kepada siapakah aku harus gemetar? Tonggak kedua, kekuatan Daud datang dari melihat kemuliaan, keindahan Tuhan di Bait-Nya. Daud menginginkan seluruh hidupnya di dalam sana melihat keindahan Tuhan. Tetapi bagaimana kita bisa memiliki pengalaman melihat keindahan Tuhan? Alkitab mengajar kita, Allah tidak bisa dipermainkan. Alkitab dengan jelas menyatakan ketika kita approach Tuhan, sungguh-sungguh dengan segenap hati, dengan bulat hati. Beberapa waktu yang lalu kami menyelesaikan retreat Pemuda dan Pekerja berjudul Living Zealously. Apa prinsip Living Zealously? Yang penting adalah Zeal. Ini adalah suatu kata adjective dan verb yang sifatnya menerangkan: segenap, seutuhnya, semua. Alkitab mengatakan, ‘Berikan seluruh hatimu’, kita berpikir yang penting itu adalah hati. Tidak! Yang paling penting adalah ‘seluruh’. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap pikiranmu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap kekuatanmu. Seluruhnya berkata ‘segenap’. Kita tidak pernah bisa memandang keindahan Tuhan dengan menganggapnya sesuatu yang murahan, yang aku bisa dapatkan dengan jiwa take it for granted. Ada sesuatu yang harus kita kejar secara rohani, yang kita harus memiliki pengharapan dan kemauan untuk meraihnya dengan segenap hati. Daud mengajarkan bagaimana kita bisa melihat keindahan Tuhan. Ada satu kondisi yang dinamakan: nantikanlah Tuhan. Di ayat 14, dalam satu ayat ada dua kata ini diulang: “Nantikanlah Tuhan, ya nantikanlah Tuhan”. Setiap hal dalam Alkitab dua kali diulang menekankan keseriusan. Tuhan menyatakan, “Musa, Musa”. Tuhan menyatakan, “Saulus, Saulus”. Di Amsal dikatakan: maka jagailah hatimu dengan segala kewasapadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Dalam bahasa aslinya adalah “Keep with all keeping” menyatakan betapa seriusnya hal ini, dan betapa sulitnya, kita harus berusaha sungguh-sungguh. Daud menyatakan, untuk menanti, engkau perlu menguatkan dan meneguhkan hatimu. Engkau perlu menyemangati dirimu dari dalam. tidak ada pertolonganmu dari luar untuk menguatkan dan membuat engkau bisa menantikan Tuhan, engkau harus menguatkan dan meneguhkan hatimu sendiri. Kuatkan, teguhkan hatimu, nantikan Tuhan. Perhatikan, Kita tidak akan mengetahui kalimat-kalimat berikutnya mengenai menanti Allah sampai seluruh hatimu diletakkan total kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan secara mutlak. Kalau kita hanya sebagai pengunjung gereja kemudian pulang, atau mengatakan, aku sudah menerima Yesus sebagai Juruselamatku, sudah lahir baru, tetapi hati kita tidak seutuhnya diberikan dalam pemerintahan Yesus Kristus, saudara akan melihat kalimat-kalimat di bawah ini absurd. Ada bagian-bagian dalam Alkitab yang kita tidak mengerti karena memang Tuhan belum membukakannya. Tetapi juga ada bagian-bagian yang kita tidak bisa mengerti karena memang kita tidak masuk di dalam kategori itu. Kiranya Tuhan menolong kita semua.

Apa yang Alkitab katakan mengenai wait for the Lord? Ada empat hal. Pertama, menanti Tuhan adalah paralel satu koin dua sisi yang berbeda dengan kata ‘mencari wajah Tuhan’.Menanti Tuhan dan mencari wajah Tuhan adalah hal yang sama. Satu dipakai nada yang sifatnya pasif seakan-akan, pada saat yang sama ketika dia pasif, dia sedang aktif. Menantikan Tuhan bukan seperti seseorang menunggu di ruang tunggu Dokter atau menganggur, bukan artinya bahwa orang itu malas, atau tidak bekerja, bukan merupakan gambaran orang tersebut tidur. Tetapi menanti Tuhan adalah tindakan aktif mencari wajah Allah. Contohnya, di dalam Alkitab seorang perempuan Siro-Fenisia, pergi kepada Yesus dan mengatakan: Have mercy on me, the Son of David, anak-ku itu sedang sakit, aku minta tolong untuk disembuhkan, have mercy on me the Son of David. Yesus diam dan tidak berkata apa-apa. Apa sebenarnya inti seluruh cerita itu? Perempuan ini menunggu dengan gigih Yesus berbicara. Dia tahu satu-satunya yang bisa mengubah hidup dia adalah perkataan Yesus. Dia menantikan Yesus berbicara personally kepada dia. Murid-murid Yesus mengusir dia. Seandainya murid-murid Yesus menghibur dia, dia tidak akan peduli. Waktu itu Yesus diam, tetapi perempuan ini mengejar dan mendekat kepada Yesus Kristus. Persis seperti kitab Mazmur mengatakan: aku dungu, aku tidak mengerti tetapi aku tetap mendekat kepada-Mu. Perempuan ini tidak menyerah, terus berjuang, menanti dengan pengharapan yang besar atas jawaban satu kalimat saja dari Yesus kepada dia. Dan ketika Yesus kemudian menyatakan kalimat-Nya, Yesus Kristus memuji imannya yang besar. Dalam kitab Ibrani dikatakan: barangsiapa beriman kepada Allah, harus percaya Allah ada, dan Allah memberi upah bagi mereka yang mencari Dia. Menanti Tuhan itu bukan tindakan yang pasif, melainkan aktif mencari wajah Allah. Perhatikan ayat ke-8. Daud mengatakan, “Hatiku mengikuti Firman-Mu, carilah wajah-Ku, maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan.” Sekali lagi, kekuatan kita adalah melihat the beauty of the Lord dan kita tidak bisa take it for granted. Saat mau melihat pertunjukan yang sangat terkenal pun saudara perlu menanti berjam-jam dan membayar begitu mahal. Saudara dan saya mau melihat the beauty for the Lord dengan jiwa yang take it for granted? Lupakan! Alkitab mengatakan, berikan segenap usahamu untuk mengejar Allah.

Kedua, Alkitab berkata, menanti Allah adalah memiliki kesiapan mendengar dan mentaati perintah Allah yang akan datang. Satu readiness. Maka dalam ayat ke-11 dikatakan: Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Allah. Ini adalah kesiapan Daud mendengar dan menaati perintah Allah yang akan datang. Seperti prajurit yang menunggu perintah dari jenderalnya. Setelah jenderal itu memberikan perintah, apa yang dikatakan oleh prajurit itu? Hanya satu kata “Siap!” Saudara, ini adalah suatu yang nyata bukan? Saudara lihat di TV bagaimana seorang jenderal Romawi memerintah anak buahnya, kemudian mereka semua mengatakan “Siap!” TNI atau tentara di seluruh dunia, bahkan ketika mereka sedang duduk, sedang bercanda dengan temannya, main kartu, atau minum-minum, begitu jenderal itu datang ke ruangan itu, semuanya berdiri. Ketika jenderal itu memerintahkan sesuatu, semua orang akan mengatakan “Siap! Kami akan kerjakan.” Suatu hari Yosua masuk ke tanah Kanaan, kota pertama Yerikho. Tiba-tiba dia bertemu dengan Malaikat Tuhan dengan pedang yang berputar. Yosua sangat kaget dan bertanya, “Engkau lawan atau Engkau kawan?” Ini adalah pikiran orang berperang. Kalau engkau lawan/musuh aku akan melawan engkau. Kalau engkau berada di belakangku engkau adalah pendukungku. Tetapi Malaikat Tuhan itu tidak jawab apa-apa. Kalau jawab itu artinya Yosua memegang order, memegang ordo. Tetapi Malaikat Tuhan mengatakan, “Aku panglima bala tentara Tuhan” Sekarang baru Yosua yang harus memikirkan Yosua lawan atau Yosua kawan. Jika saudara teliti, Alkitab itu begitu indah. Allah akan menyatakan diri-Nya, you sekarang lawan-Ku atau you adalah orang yang mau takluk kepada-Ku? Setelah Malaikat Tuhan mengatakan “Aku adalah panglima bala tentara Allah” Yosua tahu, Dia Jenderal, bukan Yosua yang jenderal. Dia adalah Allah itu sendiri, Kristofani, Kristus yang muncul pada Perjanjian Lama dan Yosua mengatakan, “Apa yang dikatakan Tuanku kepada hamba-Mu ini? Engkau bicara apa sekarang, katakanlah.” Ini adalah readiness untuk mendengar dan mentaati perintah Allah yang akan datang.

Ketiga, menanti Allah artinya adalah tinggal diam dalam kekuatan dan perlindungan Allah. Ini adalah tinggal diam di dalam kekuatan Allah dan bukan saja memelihara, menguatkan tetapi akan menyembuhkan. Dari kalimat ini, saya selalu mengingat burung rajawali. Setelah burung rajawali bertempur, maka seluruh bulunya rontok, dan kulit-kulitnya berdarah. Dia akan mencari tempat perlindungan, tidak kemana-mana, sampai seluruh bulunya dan seluruh sayapnya kuat kembali, mungkin beberapa hari/minggu/bulan. Setelah kekuatannya pulih, maka dia akan terbang dan bertempur lagi. Dia akan menemukan kekuatan yang baru. Baca Yesaya 40:30-31, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Apakah saudara mempunyai pengalaman? Begitu banyak kesakitan yang terjadi. Mungkin salah paham, mungkin orang jahat kepada kita, mungkin menganggap orang jahat kepada kita, seperti Daud begitu banyak musuhnya tetapi ketika itu terjadi dan dia begitu down, lalu dia mengundurkan diri, tidak mau berbicara kepada siapa pun saja, pergi ke satu tempat yang terlindungi, dan di tempat itu dia bergumul dengan Allah saja. Dia menanti-nanti Allah, sampai seluruh kekuatannya itu diperbaharui oleh Allah. Dan dia akan persis seperti burung rajawali, keluar dari tempat itu dengan kekuatan yang baru. Setiap pahlawan di dunia ini pasti ada tempat persembunyiannya. Setiap orang yang dipakai oleh Tuhan pasti ada tempat persembunyiannya. Setiap orang yang diurapi oleh Tuhan pasti ada tempat persembunyiannya. Apakah engkau memiliki tempat persembunyianmu? Apakah engkau memiliki tempat di mana engkau bisa mencurahkan isi hatimu yang terdalam dengan air matamu? Engkau menanti-nanti Tuhan di situ, sampai Dia mengarahkan pandangan-Nya kepada kita dan mengasihi kita. Alkitab mengatakan orang itu seperti rajawali yang naik terbang tinggi. Orang yang menanti Tuhan adalah orang yang tinggal diam dalam kekuatan Allah.

Keempat, Alkitab mengajar kepada kita menanti Allah artinya mengijinkan Allah bertindak dengan cara-Nya, dengan jalan-Nya, pada waktu-Nya. Orang yang menanti Allah akan menetapkan hati menyetujui metode, cara dan sarana yang dipakai Allah untuk menyelamatkan dan memberkati kita. Kita pasti punya banyak masalah, dan kita berharap Tuhan menolong kita. Tetapi pertanyaannya, apakah saudara menanti Allah atau tidak? Menanti Allah itu artinya menyetujui dari cara-Nya, jalan-Nya pada waktu-Nya. Tuhan yang bergerak menolong kita. Mungkin Dia mengubah hati seseorang, bagaimana orang itu menjadi baik kepada kita, atau mungkin Dia mengubah keadaan-keadaan kondisi dari kehidupan kita. Apapun saja kita tidak tahu, begitu banyak kemungkinannya tetapi jelas adalah Tuhan yang bekerja bukan kita yang memaksakan kehendak. Dalam Yesaya 7 ada satu raja yang tidak menanti Tuhan, dan itu adalah Ahas. Pada waktu itu Ahas sangat terkepung dengan tentara Siria dan Efraim, kemudian Yesaya diutus oleh Tuhan datang kepada Ahas. Yesaya mengatakan, “Minta satu tanda, dari dunia orang mati pun minta satu tanda, aku akan menyelamatkan engkau.” Kemudian Ahas menyatakan, “Oh tidak, aku tidak akan merepotkan siapa-siapa, aku tidak mau mencobai Tuhan.” Ini kalimat yang kelihatannya rohani, tetapi dia tidak mau menanti Tuhan bekerja, dia tidak mempercayai Tuhan yang bekerja, tetapi sebaliknya, dia cepat mengutus bawahannya pergi ke Asyur meminta bantuan. Berapa banyak dari hidup kita, ketika ada masalah, kita memikirkan orang lain dulu untuk membantu kita. Kita memikirkan mengenai uang ada atau tidak terlebih dahulu dari Tuhan yang ada untuk membantu kita. Begitu ada masalah saudara lakukan apapun saja untuk membereskan masalah, dan doa adalah hal terakhir kalau seluruhnya tidak mendapatkan pertolongan. Bertobat saudara! Kita harus datang lebih dulu kepada Tuhan, menanti pertolongan-Nya, karena Allah itu mau menolong kita umat-Nya. Di tengah kegelisahan dan kekuatiran yang besar, nama Tuhan adalah menara yang kuat dan seluruh umat saleh itu akan berlindung kepada-Nya. Saya akan akhiri dengan satu kisah yang sungguh-sungguh terjadi yang membuat hati saya hancur.

Saya pernah masuk ke dalam sebuah konferensi penginjilan. Dan di sana ada hamba-hamba Tuhan dari Tiongkok datang. Kemudian hamba-hamba Tuhan itu mendapat kesempatan sharing dan membawakan Firman Tuhan selama 20-30 menit setiap orang. Ada orang yang spesialisasinya adalah mengabarkan Injil di jalanan. Ada yang spesialisasinya adalah mengabarkan Injil kepada anak-anak. Ada yang spesialisasinya adalah misi di kedalaman Tiongkok. Dan ada pengkotbah-pengkotbah dengan spesialisasi masing-masing. Beberapa dari mereka pernah di penjara, beberapa dari mereka ada yang pernah makan tikus di dalam penjara karena mereka sangat kelaparan. Kemudian ketika saya mendengarkan mereka berbicara, dari hati mereka yang terdalam, semuanya, kita bisa melihat kerinduannya yang besar supaya Tiongkok bisa diselamatkan. “Kapan Tiongkok terbuka untuk Injil?” Setiap dari hamba Tuhan tersebut selalu mengakhiri khotbahnya dengan air mata. Dan terus mereka berdoa “Tuhan kapan waktunya? Berapa lama lagi ya Tuhan?” Di tengah-tengah seluruh rekan mereka yang mati, sebagian besar dari keluarga-keluarga mereka harus masuk penjara, tetapi mereka semua dengan motivasi yang benar terus-menerus menginginkan Tiongkok diselamatkan dan terbuka untuk Injil. Pada waktu itu saya ada di sana, dan saya tidak tahu sama sekali tentang Tiongkok, tetapi getaran hati mereka itu sampai ke hati saya. Kemudian ada satu orang dijadwalkan untuk berkotbah yang datang ke mimbar. Kemudian dia membuka Mazmur 46:10 dan dia hanya mengatakan satu kalimat ini dan kemudian membahasnya dalam beberapa menit dan menyelesaikannya. Dan apa yang dibacakan? “Be still and know that I am God” “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Tuhan”. Saya kaget sekali. Semua orang gundah gulana “Tuhan, buka Tiongkok, berikan pertobatan, kapan Tuhan?” Penginjil itu mengatakan ‘Be still! Diam! Dan ketahuilah Akulah Tuhan” Dan semua orang di sana tertunduk mau mentaati Tuhan untuk bertindak dengan cara-Nya pada waktu-Nya. Nantikanlah Tuhan. Ya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, ya, nantikanlah Tuhan. Kiranya jemaat ini diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk berlutut setiap hari, menanti Dia bekerja luar biasa di tengah-tengah kita. Mari belajar menanti Tuhan. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^