[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

24 March 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 139 (4)

Mazmur 139:19-24

Mazmur 139 dibagi menjadi 4 bait. Bait yang pertama adalah berbicara mengenai Allah Yang Mahatahu, bait yang kedua adalah Allah yang Mahahadir, bait yang ketiga adalah Allah yang Mahakuasa. Tetapi kalau melihat keseluruhan Mazmur ini, yang menakjubkan adalah Daud bukan saja tahu sifat-sifat Allah ini, tetapi Daud mengalami sifat-sifat Allah ini. Apa yang timbul di dalam hatinya ketika mengalami Allah ini, yaitu ketertakjuban. Dia tidak bisa untuk tidak menyatakan betapa agungnya Allah dalam puji-pujian. Kita semua bisa mengetahui bahwa Allah itu Mahahadir, Mahatahu, Mahakuasa, tetapi kenyataannya adalah itu tidak membuat hidup kita takut kepada Dia. Kebenaran itu tidak membuat kita mengagumi, memuja, memuliakan Dia, bahkan tidak membuat kita menjagai diri dari dosa di hadapan-Nya. Dalam bait yang keempat ini, saudara akan menemukan bahwa kebenaran ini membuat Daud aman di dalam genggaman Allah. Tiga bait pertama, Allah yang Mahatahu, Allah yang Mahahadir, dan Allah yang Mahakuasa, dan di dalam bait yang keempat ini, menyatakan apa implikasinya bagi dunia dan bagi Daud. Ada suatu perbedaan yang terjadi pada diri seorang yang tahu tentang Allah dan yang mengenal Allah. Daud bukan saja tahu tentang Allah, Daud mengenal dan menikmati Allah. Dalam ayat 19-24, saudara akan menemukan tiga hal besar ini. (1) Mengenal Allah maka pertama Daud memiliki kebencian yang suci di dalam hatinya kepada dosa dan kefasikan. Apakah engkau mengetahui bahwa Allah itu Mahahadir, Mahakuasa dan Maha Melihat? Semua pasti mengatakan ya. Tetapi apakah engkau memiliki kebencian yang suci di dalam hati terhadap dosa dan kefasikan? Apakah kita sungguh-sungguh membenci dosa, membenci kefasikan? Kita mengatakan tidak. Itu tidak ada dalam diri saya. Maka itu hanya mengetahui teologia, tetapi tidak mengalami Allah. Mintalah kepada Tuhan untuk boleh mengenal Dia, bukan saja mengetahui tentang Dia. Ayub mengatakan bahwa tadinya dari orang lain aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri melihat Engkau. Pengetahuan akan sifat-sifat Allah ini menghasilkan dua respon dan membagi manusia menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama adalah orang yang marah kepada Allah dan bahkan melawan Allah, atau kelompok yang kedua adalah orang yang seperti Daud, menyerah kepada Allah dan meminta Allah memeriksa dia dan mengarahkan dia ke jalan yang Allah kehendaki. Apa yang menjadi ciri paling puncak kejahatan orang fasik di dalam Alkitab adalah dia akan melawan tiga sifat Allah paling dasar ini. Dalam Mazmur 10:4, saudara akan menemukan apa yang menjadi perenungan orang fasik. Kita mengatakan kepada orang-orang, Allah itu hadir di mana-mana. Orang fasik mengatakan tidak ada Allah. Tetapi bukan saja menyangkal keberadaan dan kehadiran Allah, dia juga akan menyangkal bahwa Allah itu Mahatahu. Mazmur 10:11, orang fasik itu berkata dalam hatinya, Allah melupakannya, Ia menyembunyikan wajah-Nya dan tidak akan melihat untuk seterusnya. Orang fasik mengatakan Allah tidak akan melihat, kebenaran Alkitab mengatakan Allah itu melihat. Tidak mungkin ada satu hal apa pun saja yang bisa menghalangi atau meng-cover penglihatan Allah bagi kita. Apa yang menjadi jeritan orang fasik? Yang pertama adalah Allah tidak ada, Allah tidak hadir di sini. Yang kedua adalah Allah tidak melihat. Dan yang ketiga adalah Allah tidak Mahakuasa, aku tidak mengakui kekuasaan-Nya. Roma 1:19-23. Di dalam Roma 1, saudara akan menemukan orang fasik menyerang ketiga atribut Allah. Atribut pertama yang diserang adalah Allah itu hadir, atribut kedua adalah Allah itu Maha Melihat, dan atribut yang ketiga adalah Allah itu Mahakuasa. Saudara lihat seluruhnya adalah orang fasik, mereka tidak mengakui kekuasaan Allah dan kemuliaan-Nya. Ketika sifat Allah yang paling dasar ini, yang dikenal sejak jaman purbakala, yang kebenarannya secara nyata tanpa kita pelajari sekali pun, maka kalau itu ditekan, di-repress, disangkal, maka kefasikan tertinggi muncul di dunia ini. Mereka bukan sekedar orang fasik, tetapi mereka adalah penumpah darah, pendusta terhadap Allah, nama Allah dibuat sia-sia, nama Allah dinjak-injak, mereka melawan Allah, mereka membenci Allah, dan itu dilakukan mereka terus-menerus, sehingga Daud mengatakan aku muak, aku jemu dengan mereka. Apa artinya kalimat-kalimat ini? Daud tidak mau berurusan dengan evil atau dekat-dekat dengan orang-orang seperti itu. Daud membenci orang-orang itu, dan dia tidak mau setetes pun memikirkan apa yang ada di dalam pikiran orang-orang itu. Saya akan memberikan beberapa point untuk menegaskan apa yang ada di dalam dirinya Daud. Yang pertama, ketika membaca ayat-ayat ini, bukankah Tuhan menyuruh kita mengampuni musuh? Daud mengatakan aku membenci mereka, aku menginginkan mereka mati. Kita sering berpikir, Tuhan menyuruh kita mendoakan musuh, mengampuni mereka dan melakukan hal-hal yang baik kepada mereka, dan itu adalah musuh kita. Tetapi yang dikatakan di sini bukanlah musuhnya Daud, tetapi musuhnya Allah. Terhadap musuh kita, kita harus mengampuni, mendoakan dan berbuat baik kepada mereka, tetapi yang jadi masalah adalah kita sering berpikir orang yang membenci kita itu secara otomatis dia membenci Allah. Kita sering menganggap musuh kita adalah musuhnya Allah, dan kemudian kita bertindak seakan-akan kita adalah Allah. Kita playing God. Kita mesti hati-hati, Yesus sendiri mengatakan, kepada orang-orang yang membenci engkau, bersalah kepada engkau, ampuni. Bahkan jikalau saudara-saudara yakin 100% bahwa dia adalah musuhnya Allah, saudara boleh marah dengan kemarahan yang suci, menginginkan adanya hari penghakiman bagi mereka. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan, kita tidak boleh mengangkat pedang untuk membunuh mereka. Alkitab menyatakan, musuh-musuh kita adalah orang-orang yang nanti pada akhir jaman, Tuhan sendiri yang akan berhadapan dengan mereka. Kita tidak boleh mengangkat pedang dan mengangkat diri kita sebagai hakim, seumur hidup kita. Kita boleh berdoa, orang-orang tersebut begitu fasik ya Tuhan, aku membenci mereka, aku menginginkan mereka dihakimi, itu tidak salah. Tetapi di tempat yang lain, Tuhan meminta kita untuk memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka, karena kita juga tidak tahu sebenarnnya siapa sesungguhnya musuh Allah. Bahkan orang-orang seperti Saulus pun berpikir bahwa orang-orang Kristen itu adalah musuh Allah, kemudian dia membasmi, membunuh orang-orang Kristen dengan ketulusan, baru dia sadar kalau ternyata Saulus yang membunuh orang-orang Kristen yang dianggap musuh Allah. Saulus menjadi musuh Allah. Kembali ke point pertama, Yesus mengatakan berdoalah untuk musuhmu, berbuat baik untuk musuhmu, tetapi ayat ini bukan berbicara mengenai musuhnya Daud, ini adalah musuhnya Allah. Biarlah kita boleh hati-hati dan tidak langsung men-judgemental orang ini pasti musuhnya Allah. Bahkan Mazmur 139 sama sekali tidak memiliki referensi siapa orang itu. Hal yang kedua,kenapa Daud tidak membenci dosanya dan mengasihi jiwanya. Kita sering berpikir, biarlah kita membenci dosa seseorang dan mengasihi jiwanya. Dulu saya berpikir tidak bisalah, tidak mungkin kita bisa membedakan antara dosa orang dan jiwa orang tersebut. Kalau saya membenci dosanya, saya membenci orangnya. Sampai saya kemudian membaca C.S Lewis, mengatakan demikian, engkau hanya bisa menggunakan kalimat itu, ketika engkau menyadari yang perlu untuk dibenci dosanya dan dicintai jiwanya adalah engkau sendiri. Ketika kita berdosa dan minta ampun sama Tuhan, kita menginginkan, Tuhan bencilah dosaku dan cintailah jiwaku. Ini adalah sisi yang lain, karena kalimat ini tidak mudah untuk kita langsung membereskannya. Membenci dosanya, mengasihi jiwanya. Suatu hari, kebenaran ini muncul dari kalimat anak saya Timmy pada waktu kecil, dia bertanya kepada saya pertanyaan teologis. Papa, bukankah kita harus membenci dosa, dan kemudian mengasihi jiwa orang tersebut. Kalau begitu kenapa kita tidak membenci dosanya setan dan mengasihi setannya? Saudara perhatikan, kejahatan seseorang yang sudah pada tingkat tertinggi, di dalam Mazmur ini disebut sebagai orang fasik, di hadapan Allah sudah persis seperti setan. Ini tidak berbicara berkenaan dengan golongan atau kelompok agama. Sekalipun saudara orang Kristen, menurut definisi Alkitab, saudara tetap diperhitungkan sebagai orang fasikjikalau saudara tidak mengakui dan tidak menghormati dan tidak berjalan di dalam kesucian Allah. Hal yang ketiga, ayat 19-22, disebut sebagai Holy Zeal, membenci apa yang Tuhan benci, memiliki kebencian yang suci. Holy Zeal itu ada, menandakan orang tersebut berdiri di tempat sisinya Allah berdiri. Banyak orang Kristen tidak mengerti Alkitab, berpikir Yesus itu Mahakasih, begitu lembut, ke mana-mana kemudian memeluk, mengusap-usap saudara. Bahkan kalau kotbah seperti itu diteruskan, itu menjadikan Allah yang nampaknya sangat lemah. Itu bukan Allah yang di dalam Alkitab. Yesus memporakporandakan penjual di halaman Bait Suci. Dan itu dimunculkan karena adanya holy zeal, membenci apa yang Tuhan benci, memiliki kebencian karena kesucian Allah itu hadir di dalam hidupnya. Dan Daud memiliki ini, aku membenci orang-orang yang membenci Engkau, mereka itu penumpah-penumpah darah, pendusta, dan mengata-ngatai Engkau ya Tuhan. Hal yang keempat. Kebencian Daud ini bukan karena dia merasa benar. Ayat 19-22, Daud membenci orang-orang fasik. Kebencian ini tidak lahir karena Daud menganggap diri benar, lebih benar dari mereka. Kebencian ini lahir karena dua hal. Yang pertama adalah dia menyadari bahwa Allah itu Maha Melihat, Allah itu Mahahadir, dan Allah itu Mahakuasa. Hasil dari ketiga sifat Allah itu ketika berhadapan dengan Daud yang berdosa, harusnya Daud itu mati, tetapi Daud tidak mati, malah Allah mencintai dia di dalam Yesus Kristus. Saudara mungkin bingung, tidak ada kata Yesus Kristus di dalamnya. Tetapi di dalam Mazmur 139, ayat pertama mengatakan TUHAN di dalam huruf besar, itu adalah God of Covenant dan itu adalah Yesus Kristus. Daud menyadari seharusnya dia mati. Tetapi sebaliknya, sekarang dia dikasihi, dicermati, dilindungi oleh Allah. Tidak ada suatu pun yang bisa mencelakakan dia. Cinta Tuhan diberikan kepada dia di dalam Yesus Kristus, dan itu menimbulkan cinta dan pengabdian kepada Allah di dalam hatinya Daud. Itulah sebabnya Daud ingin membela Allah dan memiliki api berkobar-kobar untuk mengabdi kepada Allah. Itu bukan lahir karena aku lebih baik daripada mereka. Itu lahir karena melihat dan mengalami cinta Tuhan.Yang kedua, Daud mengatakan: selidiki aku, ya Allah, kenallah pikiranku, kenallah hatiku, lihatlah apakah hatiku itu berdosa. Daud mengerti dia tidak lebih baik daripada orang fasik. Dia membenci orang fasik. Dia menginginkan orang fasik tidak ada urusannya dengan dia. Pertanyaannya adalah kenapa? Pertama adalah karena Allah mencintai dia. Yang kedua, Daud tahu kalau dia bersekutu dengan orang fasik, dia sendiri menjadi fasik. Thomas Watson, seorang puritan, pernah mengatakan seperti ini: Association akan menjadi Assimilation. Ada satu bagian di dalam hidup kita yang kita tidak bisa percaya. Apa kebenaran dalam Alkitab, satu pribadi yang paling saudara dan saya tidak boleh percaya adalah diri kita sendiri. Jangan berpikir kita ini kuat berdiri, tidak akan menjadi pengecut, dapat kuat menjaga kesucian, tidak akan melakukan hal-hal kefasikan dan kejahatan yang mereka lakukan. Segala sesuatu dapat terjadi di dalam hidup kita, dan Daud menyadari itu. Aku tidak mau sama dengan mereka. Kemudian dia katakan selidiki aku Tuhan, kenallah hatiku. Dia tahu kalau ikut sama dengan mereka, dia akan sama seperti mereka. Beberapa waktu yang lalu Pdt.Stephen Tong mengumpulkan pengkhotbah-pengkhotbah yang akan berbicara di dalam Seminar Seri Pernikahan dan Keluarga Kristen. Kami merasa tidak sanggup untuk menjelaskan ini, lebih baik berbicara Dwinatur Kristus daripada pernikahan Kristen, lebih mudah karena itu adalah teologia sistematik, dan ini adalah kehidupan. Kemudian Pak Tong mengutip satu orang. Orang ini adalah seorang gembala Kristen dan konselor Kristen dan sudah menolong ratusan orang. Saudara perhatikan, ratusan orang itu akhirnya tidak jadi cerai tetapi akhirnya dia sendiri yang cerai. Kemudian dia menulis satu buku tentang perceraiannya. Ada satu kalimat yang dikutip oleh Pak Tong: Jangan pernah berpikir apa yang terjadi kepada orang lain tidak pernah terjadi pada kita. Ini menjadi sesuatu hal yang harus kita harus sadari. Daud menyadari itu. Aku membenci mereka. Aku tidak mau sama seperti mereka. Engkau lebih baik daripada mereka, Daud? Sama sekali tidak. Lalu kenapa engkau membenci mereka? Karena Allah telah mengasihi aku dan mereka itu membenci Allah-ku. Dan kedua adalah kalau aku mendekat kepada mereka, aku tidak lebih baik daripada mereka dan aku akan menjadi seperti mereka. (2) Mengetahui Allah Mahatahu, Allah Mahaadil dan Allah Mahakuasa membawa Daud untuk memiliki kerinduan yang dalam terus berjalan dan bertumbuh dalam jalan-Nya Tuhan. Kerinduan itu ditulis dengan satu doa yang sangat menakjubkan. Ini adalah salah satu dari tujuh doa besar di dalam Perjanjian Lama. Dia berdoa seperti ini: Selidikilah aku ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Ada 4 hal yang Daud minta dalam dua ayat ini. Yang pertama adalah minta Tuhan menyelidiki dia. Tetapi bukankah di dalam ayat pertama, Mazmur 139:1, TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Kenapa Daud minta Tuhan menyelidiki dia? Di ayat yang pertama dia sudah menyatakan Tuhan, Engkau menyelidiki aku. Tetapi di ayat-ayat yang terakhir dia mengatakan: Selidikilah aku, ya Allah. Minta Tuhan menyelidiki, apa point-nya? Tuhan menyelidiki Daud sejak pertama, tetapi Daud meminta Tuhan menyelidiki dia, supaya Daud tahu apa yang Tuhan lihat. Melihat diri seperti Tuhan melihat kita, itu adalah esensial sekali. Yang kedua, bukan saja minta Tuhan menyelidiki tetapi minta Tuhan menguji. Ini terlalu berani. Tetapi ini adalah lahir dari kerinduan ketulusan berjalan terus bersama Allah. Tanpa diuji oleh Tuhan, maka kita tidak tahu sebenarnya sampai dalam, sampai sadar, apa yang sebenarnya ada dalam hati kita. Kalau segala sesuatu berjalan dengan baik, kita berpikir kita mempercayai Allah dan kita berdoa, menetapkan diri kita untuk mempercayai Allah. Tetapi tiba-tiba misalnya saja, bos kita lupa menggaji kita, kemudian tabungan makin menipis. Di saat seperti itu, kita lihat diri kita, lihat hati kita, apakah ketenangan itu hilang? Apakah keraguan, kekuatiran mulai muncul? Itu adalah hal yang kecil, tetapi suatu test untuk mengerti sebenarnya hati kita seperti apa. Berkali-kali di dalam Alkitab, Daud diselidiki oleh Allah. Kadang dia gagal. Kadang dia bersukacita karena begitu diselidiki, dia tahu isi hati yang dalam adalah dia begitu mengasihi Allah. Daud bukan saja mau tahu apa yang Tuhan tahu tentang dia, tetapi minta Tuhan menguji untuk dia menyadari apa yang sebenarnya ada. Dalam bahasa Jawa, “tahu” dan “ngeh” itu berbeda. Dosen saya mengatakan: apa pekerjaan Roh Kudus? Membuat “ngeh”. Kalau dalam bahasa Indonesia, “menyadarkan” kita. Kita “tahu” Allah itu baik, dan suatu hari baru “ngeh”, iya Allah itu baik, dan itu dua hal yang sangat berbeda. Satu ada di dalam pikiran dan satu di dalam hati. Filsuf kuno mengatakan: jalan yang terjauh dan yang terpanjang adalah dari pikiran ke hati. Kita “tahu” tetapi belum tentu “ngeh”. Setiap minggu, kita memerlukan Roh Kudus untuk kita “ngeh”. Kalau Roh Kudus tidak bekerja dalam diri kita hari ini, saudara keluar bakal bilang begini: khotbahnya bagus. Cuma itu saja. Tetapi tidak akan ada perubahan. Kita memerlukan belas kasihan dari Roh Kudus membuat kita “ngeh”. Daud meminta 4 doa ini, Tuhan selidiki aku, Tuhan uji aku, Tuhan ampuni aku, dan yang terakhir Tuhan luruskan jalanku. Empat hal ini adalah seperti kita pergi ke dokter untuk diperiksa. Kemudian dokter meminta kita pergi CT-Scan, diteliti dan kemudian hasilnya diberikan kepada dokter itu lagi. Pada saat kita dipanggil, hati kita berdebar-debar apa hasilnya, kemudian dokter membukanya dan menjadwalkan operasi bedah buat kita. Menakutkan. Tetapi itu yang diperlukan oleh jiwa kita. Bedah rohani. Yang diperlukan oleh jiwa kita bukan balsam untuk kulit kita, bukan orang yang sakit kulit. Kita itu lepra. Kita itu kusta. Virus itu bukan di atas permukaan kulit. Virus itu masuk ke bawah permukaan kulit dan merusak sel-sel kita. Apa yang diperlukan oleh jiwa yang berdosa? Bedah rohani. Itulah sebabnya, berikan jiwa kita untuk mendapatkan Firman yang paling keras untuk masuk di hati kita. Terbukalah di hadapan Allah, katakan kepada Dia, selidiki aku ya Allah, kenallah hatiku, ujilah aku, kenallah pikiran-pikiranku, lihatlah apa jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal. Setiap orang Kristen yang berdoa seperti ini adalah orang Kristen yang berbahagia. Orang tersebut menempatkan dirinya di hadapan Allah yang Mahatahu. Di dalam Present of God, Allah itu menyelidiki dan mengelilinginya dengan mata yang teliti. Daud berdiri di dalam terang Allah yang Mahatahu itu. Benda itu diperhadapkan di depan mata Allah dengan kaca pembesar dan sinar yang memantul. Dan benda itu siap untuk diterangi dan dihakimi, dan itu adalah arti kata yang paling tepat dikatakan di dalam Alkitab: seseorang berjalan di dalam terang itu. Satu keinginan Daud, menyingkirkan keluar di dalam hidupnya, di dalam hatinya dan pikirannya, apa saja yang mendukakan Allah. Dan meminta Roh Kudus bekerja memimpin langkah hidupnya. Ayat 23-24 adalah ayat yang berbicara mengenai self-examination - menguji diri. Ini adalah satu seni atau pekerjaan Kristen yang sudah hilang. Sudah banyak kata yang penting di dalam pembendaharaan Kekristenan kita, dan salah satunya adalah self-examination. Orang-orang Puritan mengajarkan kepada kita, kita harus melakukan self-examination. Calvin menyatakan, yang membedakan antara orang yang binasa dan anak-anak Tuhan adalah apakah orang tersebut mau menguji dirinya. Anak-anak Tuhan yang sejati mau menguji dirinya. Tetapi orang-orang Kristen yang palsu tidak mau menguji dirinya. Orang yang tidak mau menguji dirinya akan mendapatkan kesalahan orang lain lebih banyak daripada dirinya. Dia akan merasa dirinya benar padahal jelas dia begitu salah. Ini berlainan dengan Paulus, dia menguji dirinya dan kemudian menyatakan: aku manusia celaka. Orang yang menguji dirinya, dia akan menyatakan dirinya: aku manusia yang celaka. Self-examination - menguji diri. Mengenal dan menikmati Allah yang Mahatahu, Allah yang Mahahadir dan Allah yang Mahakuasa membuat Daud membenci dosa dan Daud juga menginginkan berjalan bersama Tuhan. (3) Apa yang menjadi implikasi dari semua ini?Yaitu Daud aman di dalam pikiran dan tangan-Nya Allah. Ketika saudara-saudara melihat ketiga sifat Allah ini, maka ada satu hal pemikiran yang muncul di dalam diri saya. Kejadian seperti apa dalam hidup kita atau yang pernah kita lihat, di mana ada seseorang yang terus hadir, terus melihat dengan mata yang sangat peka, dan dengan kekuatannya, kapan pun saja, setiap detik siap untuk melindungi? Peristiwa apa? Kejadian apa? Suatu hari, kami pergi Bandung. Ivana masih bayi waktu itu, dipegang oleh istri saya dan kami masuk ke dalam village. Kemudian istri saya salah melangkah, tiba-tiba terpeleset dan dia memiliki satu gerakan yang tidak banyak orang bisa, latihan kungfu pun tidak. Naluri keibuannya langsung melindungi anaknya. Dia jatuh tetapi anaknya tidak kena lantai sedikit pun. Seluruh tubuhnya melindungi anaknya. Apa yang sebenarnya Daud mau katakan kepada kita? Allah yang Mahakuasa menganggap dia adalah anaknya. Daud aman di dalam pikiran-Nya Allah. Daud aman di dalam genggaman-Nya Allah. Allah tahu yang terburuk di dalam hati kita. Tetapi Dia tetap mencintai kita. Dia tidak pergi dari kita. Kalau saudara punya pacar, makin kenal makin buruk, saudara akan mencari pacar lain bukan? Tetapi Allah tidak, Dia tahu yang terburuk di dalam hidup kita tetapi Dia terus mengasihi kita. Dia terus hadir melindungi kita. Seberapapun kekuatan di luar, bahkan kekuatan setan sekali pun, Alkitab menyatakan, engkau dan saya tetap berada di dalam pelukan-Nya Allah. Di dalam Kristus Yesus yang mengasihi kita. Roma 8 menyatakan: Dalam semuanya ini kita lebih daripada orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa yang di atas, yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dia Maha Melihat, Dia Mahahadir dan Dia Mahakuasa. Dia menutup hidup kita dengan tangan-Nya. Ayat-ayat ini adalah ayat yang paling menghibur anak-anak Tuhan di dalam Problem of Evil. Ayat ini akan menunjukkan kedahsyatan ketika kita berada di dalam tempat yang paling gelap di tengah-tengah dunia ini. Allah tidak meninggalkan kita di dalam apa pun saja yang terjadi. Jika anda melihat cuplikan video Save in the Arm of God, saya mau saudara-saudara merenungkan kembali Mazmur 139 ini. Mazmur yang sangat indah ini. Allah yang Mahahadir, Allah yang Maha Melihat, dan Allah yang Mahakuasa. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^