[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

24 February 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 139 (1)

Mazmur 139

Kalau membaca Mazmur 139, saudara akan bisa menarik benang teologia yang sangat tua, yang paling mendasar. Siapa yang tidak tahu bahwa Allah itu Maha Tahu? Allah itu hadir? Allah itu Maha Kuasa? Kita semua tahu. Tetapi Daud bukan saja tahu, dia menikmati apa yang dia tahu, Pribadi yang dia tahu. Apa yang menjadi tujuan hidup manusia? Adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya. Dalam Mazmur, khususnya Mazmur 139. Daud sedang menikmati sifat-sifat Allah. Dia terpesona, terkesima dan sangat menikmati Allah. Dia menikmati dan terpesona dengan kemahatahuan-Nya, dealing dengan kemahahadiran-Nya. Daud adalah orang-orang yang mengalami teologi yang benar itu. Dia bukan saja belajar teologia, dia mengalami teologia. Ada perbedaan yang besar antara mengetahui Allah (knowing about God) dan mengenal Allah (knowing God). Jikalau kita tidak mengenal Allah, tidak bergerak untuk mengenal pribadi Allah, hanya mengerti teologia yang benar tetapi tidak memiliki pengalaman-pengalaman bersama dengan Allah, maka teologia itu akan menjadi sesuatu yang dingin, membosankan dan kering. Kita akan menjadi seorang Farisi. Yesus mengatakan murid-murid-Ku dengar dan belajar dari apa yang dikatakan mulut mereka tetapi jangan contoh hidup mereka. Dengan seluruh contoh ini saya tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa saudara jangan belajar teologia. Belajar teologia yang benar itu adalah kemutlakan, starting point untuk menuju kepada sesuatu, itu bukan ending point. Kemarin saya berada di satu tempat, kemudian saya menulis dalam WhatsApp grup Tim Kerja, mengatakan, “Biarlah orang-orang yang di dalam Tim Kerja ini terus menerus berdoa agar pengertian teologia kita menjadi sesuatu yang sifatnya experiential.” Ini adalah kalimat-kalimat yang dinyatakan oleh orang-orang Puritan. Teologi yang sungguh-sungguh dialami, dan itulah Reformed Theology. Teologi Reformed memiliki kekuatan dari pikiran, bisa dipertanggungjawabkan. Bagi orang-orang Reformed, iman Kristiani adalah iman yang paling rasional, tetapi tidak hanya sampai di kelas-kelas akademisi saja. Melainkan masuk ke dalam keseharian. Apa yang ada di dalam pikiran dan apa yang ada di dalam hati itu menjadi satu. Orang-orang Puritan menyatakan teologi adalah doctrine for life. Orang Kristen, Reformed sejati, akan memiliki kekuatan di dalam doctrinal dan juga orang yang paling rajin, paling bersemangat, paling sensitif, yang berdoa, yang berapi-api dengan pengertian yang jelas.

Lihatlah Paulus, dia orang yang paling berapi-api dan dia mengatakan “I know whom I believe.” Lihatlah Yesaya, suatu hari dia bertemu dengan Allah. Hatinya yang remuk, air matanya turun. Kegentarannya nyata. Dia sadar sekali dia hampir mati. Tetapi ketika saudara tanya mengapa engkau memiliki perasaan seperti ini? Dia kemudian mengatakan dengan tepat. Dia bertemu dengan Allah yang Suci dan Allah yang Suci itu dinyatakan oleh para Serafim, suci, suci, suci, tiga kali. Itu menyatakan Allah Tritunggal, menyatakan kedalaman sifat Allah. Perasaannya dihancurkan, tetapi rasionya dengan tepat menyatakan bahwa Allah itu suci dan Allah itu Tritunggal. Dia direndahkan Allah Tritunggal. Perasaannya keluar dari teologianya yang benar.

Sekarang banyak orang memiliki perasaan yang kelihatannya begitu dekat sama Tuhan dan mengatakan “Allah itu baik” karena baru saja menyanyi Allah itu baik. Ada keterpisahan yang besar. Perasaannya aktif, tetapi orang tersebut tidak mengerti mengapa dia menangis atau bergembira, meloncat-loncat, bukan dari teologi yang benar. Dalam Alkitab, akan menemukan semuanya itu tidak ada. Kecuali oleh orang-orang yang menyembah Baal. Mereka menoreh-menoreh, mereka berteriak-teriak. Tetapi mereka tidak memiliki teologia yang sejati.

Lihatlah Mazmur 139, Daud sangat terpesona akan Allah, begitu takjub. Di dalam dirinya ada adoration,confession/pengakuan iman, ada teologia di dalamnya, dan ada ketaatan. Keempat hal ini adalah gabungan dari worship. Pertama adalah ketertakjuban kepada Allah. Yang kedua adalah penyembahan, lutut yang bertelut. Satu perendahan diri ketika Allah menyatakan diri, pada saat yang sama kita direndahkan oleh Allah. Orang-orang sucinya Tuhan berdoa, rendahkan diriku ya Tuhan, rendahkan hatiku ya Tuhan. Itu artinya dia menginginkan Tuhan untuk menyatakan diri-Nya. Kalau Dia memunculkan diri-Nya maka pemazmur akan dengan sendirinya rendah. Yang pertama adalah ketertakjuban. Yang kedua adalah perendahan karena penyataan diri Allah. Ketiga adanya confession, ada pengakuan yang dipertanggungjawabkan.Dan terakhir adalah ketaatan. Setiap ibadah mengandung 4 unsur utama ini.

Dalam Mazmur ini menyatakan bagaimana Daud menikmati sifat-sifat Allah yaitu Allah yang Maha Tahu, Allah yang Maha Hadir dan Allah yang Maha Kuasa. Ahli-ahli dari Perjanjian Lama pada masa kini, bahkan doktor-doktor Rabi Yahudi mengatakan Mazmur ini di-compose secara brilliant. Mazmur 139 memiliki 4 bait dan setiap baitnya memiliki 6 ayat. Di dalam 6 ayat selalu akan ada 4 ayat deskripsi dan 2 ayat refleksi. Bait pertama ayat 1-6 mengenai kemahatahuan Allah. Bait kedua ayat 7-12 adalah kemahahadiran Allah. Bait ketiga adalah 13-18, kemahakuasaan Allah. Dan ayat 19-24 menemukan 2 jenis manusia berespon kepada sifat-sifat Allah itu. Saya tidak mungkin mengutarakannya dengan satu kali khotbah. Kalau Tuhan pimpin minggu depan kita akan bisa melanjutkan bait yang kedua. Tetapi hari ini kita akan masuk ke dalam bait yang pertama.

Mari kita lihat ayat 1-6 dan melihat pemilihan kata-kata yang dipakai oleh Daud. Kata-kata yang menyatakan tindakan dan kemampuan Allah yang sempurna di dalam mengetahui kita. Ayatnya yang pertama. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.Bahasa Ibraninya chaqar, artinya investigasi. ‘Mengenal’ di dalam bahasa Ibraninya pakai kata yada, satu kata yang dipakai suami dan istri berhubungan intim. Itu menyatakan relasi yang amat sangat intim dari dua orang yang berbeda. Kita semua tahu bahwa keintiman itu tidak ada yang menandingi di tengah-tengah dunia. Di sini Daud mengatakan, “TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.” Kata TUHAN seluruhnya huruf besar itu, Yehova, God of covenant berbicara tentang Yesus Kristus. Sekarang masuk ke ayat kedua: Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri. Kata ‘mengetahui’ di sini adalah yada. Kemudian Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Kata yang dipakai untuk mengerti adalah bin, artinya mau mempertimbangkan hati-hati. Bin di dalam Ibrani artinya juga membedakan dengan teliti. Jadi Allah itu melihat seseorang, mempertimbangkan hati-hati dan membedakannya dengan teliti. Suatu objek yang memiliki jarak, sekarang dibawa mendekat untuk dikontemplasikan oleh pikiran Allah. Di dalam bahasa aslinya, jikalau Allah misalnya melihat Widjaja. Dia bukan sekedar melihat, tetapi dibawa ke dalam pikiran Allah dan dipikirkan terus, digali terus sampai sedalam-dalamnya. Allah mengenal Widjaja seperti itu. Allah mengkontemplasikan Widjaja.

Ayat yang ketiga: Engkau memeriksa aku. Kata memeriksa dalam bahasa Ibrani adalah zarah, artinya membawa sesuatu yang sebelumnya seakan-akan tidak diketahui untuk ditempatkan di bawah terang dan diselidiki. Allah membawa kita kepada terang untuk dilihat dan diterangi.Di dalam ayat yang ketiga juga dikatakan: segala jalanku Kaumaklumi. Di dalam bahasa Ibrani kata ‘maklum’ adalah sakan. Sakan dipakai untuk pengertian (sangat tahu, sangat familiar sampai lapisan yang tertipis). Allah mengerti setiap lapisan hidup kita. Ayat yang keempat: Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Ketahui, sekali lagi yada. Sekarang ayat yang kelima: dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku. Kata mengurung dalam bahasa aslinya adalah tsur, artinya menyandera. Daud menggunakan kata ini, Allah menyandera dia sebagai tawanan, dilihat secara berkeliling dari semua sisi. Tidak bisa lari satu incipun. Ayat yang kelima juga: Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Calvin menyatakan dalam hal ini, Allah memegang Daud di dalam pengamatan-Nya yang ketat sehingga tidak ada satu rambutpun yang jatuh dari kepala Daud yang tidak terlihat oleh Allah. Luar biasa! Seluruh kata yang dipakai menyatakan Allah bukan sekedar tahu. Dia mengamati setiap DNA kita setiap waktu. Itu adalah kemahatahuan Allah dalam hidup kita.

Alkitab jelas mengatakan Allah itu mengetahui dengan sendirinya tanpa usaha mengetahui segala hal dan setiap hal. Dia mengetahui semua pikiran dan setiap pikiran. Dia mengetahui semua pribadi dan setiap pribadi. Dia mengetahui semua ciptaan dan setiap ciptaan. Dia mengetahui semua perbedaan dan setiap detail perbedaan. Dia mengetahui semua hukum-hukum dan setiap hukum-hukum yang ada. Allah mengetahui semua dan setiap penyebab. Semua dan setiap pertimbangan. Semua dan setiap misteri. Semua dan setiap perasaan. Semua dan setiap rahasia yang tidak terbongkar sekalipun. Dia mengenali seluruh tahta, seluruh penguasa. Dia mengetahui seluruh personality, baik yang terlihat atau tidak terlihat oleh mata manusia. Dia mengetahui segala sesuatu dan setiap yang ada di langit dan yang ada di bumi. Bahkan sorga dan neraka sekalipun. Setiap gerakan, setiap ruangan. Setiap hidup, setiap mati. Setiap kebaikan, setiap kejahatan. Dia mengetahui segalanya. Allah tidak mungkin terkejut. Dia tidak mungkin terkesima. Dia mengetahui segala sesuatu, semua kejadian, semua ciptaan, masa lalu (past), present, dan future. Secara sempurna mengetahui setiap detail kehidupan. Tidak ada yang dapat melarikan diri dari perhatian-Nya. Tidak ada yang dapat disembunyikan dari-Nya. Dia tidak mungkin berubah. Dia tidak mungkin terlewatkan sesuatu. Kemahatahuan-Nya adalah sempurna. Dia mengetahui seluruh hidup kita, rancangan kita, tindakan kita, cara yang dipakai, proses yang dipakai untuk kita maju ke dalam tujuan. Dia juga mengetahui seluruh perkataan yang muncul dari motif sampai tujuan. Maka Paulus menyatakan: O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Roma 11:33. Siapa yang mengetahui pikiran-Mu ya Tuhan? Dan siapa yang pernah menjadi penasehat-Mu? Dan terhadap Allah yang Maha Tahu ini saudara dan saya harus merespon.

Saya akan berbicara sekarang pada aplikasi.

Respon pertama kita di hadapan Allah adalah kita semua akan merasa terancam. Kita semua diancam dengan kemahatahuan-Nya, akan muncul ketakutan demi ketakutan seperti apa yang biasa muncul dalam hidup kita, yang muncul di tengah-tengah manusia. Jikalau Allah itu menyatakan diri-Nya dan Roh Kudus memberikan pengertian di dalam dirinya mengenai kemahatahuan Allah maka akan muncul ketakutan-ketakutan seperti apa?

Pertama adalah takut untuk diamati. Kita harus sadar dan mendidik jiwa kita. Allah itu lebih dari CCTV. Dia ada di semua ruangan kita bergerak dan selalu mengamati kita. Tidak pernah melepaskan pandangan-Nya dari kita. Pada hari ini, saat inipun apa yang tersembunyi dalam hati saudara dan saya. Dia memperhatikannya dan Dia tahu, Dia akan membawa semuanya di hari penghakiman. Ibrani 4:13 mengatakan segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Dia mengerti, Dia tahu persis apa yang kita pikirkan saat ini. Apa yang saudara dan saya lakukan ketika sendirian. Dia mengerti dengan tepat. Dia mengamati seluruh gerak bibir kita, mengamati seluruh tingkah laku kita, gerakan kita. Manusia berkomunikasi tidak dengan tulisan saja, bisa dengan bahasa tubuh, membuat kita bisa mengerti orang tersebut mau menyatakan apa. Maka seseorang harus peka mengamati. Yang paling menyakitkan adalah kalau seluruh bahasa tubuhnya sudah begitu jelas tetapi lawan bicaranya tidak tahu. Itu namanya tidak sensitif. Intinya adalah kita mesti peka untuk mengamati seseorang dari semua sisi termasuk bahasa tubuhnya dan dia juga mengamati kita untuk mengerti artinya. Tetapi tidak boleh lama. Bayangkan kalau misalkan saya melihat Wylie, saya lihat terus. Dia pertamanya diam, ketika dia merasa dilihat, senyum dia. Dan ketika dia senyum, saya senyum. Tetapi saya lihat terus, dia lihat saya, saya lihat terus. 30 detik pertama dia bisa enjoy, tetapi setelahnya akan menjadi sesuatu yang menakutkan. Ketika dia menuju ke sana, dia lihat saya dan saya masih lihatin terus, itu tidak lagi menjadi menakutkan, itu terror! Sungguh! Allah itu 24 jam, setiap jam, setiap menit, setiap detik memperhatikan! Buat orang berdosa, Allah itu terror.

Ketakutan kedua adalah ketakutan kehilangan privacy. Kita membuat pintu, tirai untuk memberi kita ruangan privacy, artinya kalau saya sudah masuk melalui pintu ini dan saya tutup, engkau tidak boleh mengikuti saya. Ini adalah tempat private buat saya. Tetapi kita tidak bisa membuat ruangan privacy di hadapan Allah yang Maha Tahu. Tidak ada privacy di dalam hidup kita. Dia ada di manapun kita bergerak. Dia ada di depan kita untuk menghukum kita atau untuk memperhatikan kita dengan cinta-Nya.

Hal yang ketiga adalah takut ketelanjangan. Setelah dosa masuk, kita tahu semua bahwa Adam dan Hawa menyadari ketelanjangannya. Kemudian dia berusaha untuk menutup ketelanjangannya dengan daun-daunan. Setiap manusia, gerakannya selalu untuk menutupi sesuatu. Secara psychological, ini menjadi satu area psychology yang sangat diteliti oleh banyak ahli. Bagaimana manusia itu secara alamiah menutupi ketelanjangannya. Ada orang yang menutupi ketelanjangan dengan ketelanjangan fisik. Ada orang lain lagi yang menutupi ketelanjangan dengan membongkar-bongkar isi hatinya. Amsal mengatakan, “Orang ini adalah orang bebal”. Ada orang yang menutupi ketelanjangan dengan rasionalism. Ada orang yang menutupi ketelanjangannya dengan aktifitas-aktifitas agama. Kita sebenarnya takut tampil apa adanya dari depan. Kita menyimpan sesuatu untuk menjadi senjata kita, tidak pernah bisa terbuka. Itu sebabnya salah satu doa, salah satu Mazmur yang saya suka sekali adalah Mazmur 139 ayat yang terakhir mengatakan, “Selidikilah aku ya Allah”.

Orang yang lain ketika berespon dengan Allah yang Maha Tahu adalah dia takut akan panggilan Allah. Hanya Tuhan yang tahu sebenarnya apa yang kita paling perlukan. Lihatlah bagaimana cara Yesus Kristus atau Allah membentuk orang-orang. Bagaimana Dia selalu mengatakan kepada orang lain dengan tuntutan yang berbeda. Ada orang yang datang kepada Yesus Kristus dan mengatakan, “Aku ingin mengikuti Engkau.” Terhadap orang itu Yesus mengerti isi hatinya, Yesus tahu kebutuhannya. Maka Dia mengatakan, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20) Apa yang dipegang oleh orang tersebut adalah dia akan mengikuti Kristus tetapi untuk kepastian, kenyamanan hidupnya, hidupnya harus nyaman. Dia tidak punya masalah dengan papa mamanya. Dia mau mengikuti Yesus sekarang bukan nanti. Yesus tidak mengatakan setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah. (Lukas 9:62) Yesus tidak mengatakan hal itu untuk dia. Untuk dia secara khusus, Yesus mengatakan, “Engkau tidak bisa mengikuti Aku dan memastikan ada kenyamanan” Yesus tahu apa yang diperlukan untuk pertumbuhan rohaninya. Tetapi orang tersebut akhirnya pergi dengan kesedihan, karena itu adalah ilahnya. Maka Yesus Maha Tahu mengerti apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang. Kalimat-Nya menghancurkan dosa, membebaskan orang tersebut menjadi orang merdeka. Kepada orang yang lain, Dia katakan “Ikut Aku”. Dan kemudian orang tersebut mengatakan, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.” (Matius 8:21) Yesus mengatakan, “Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.” (Matius 8:22) Apakah Yesus Kristus itu kejam? Jawabannya adalah tidak. Lihatlah Elisa, pada waktu dipanggil oleh Elia. Elisa berpamitan dulu dengan orangtuanya dan Elia mengijinkannya. Tetapi Yesus tahu bahwa orang ini perlu dibebaskan dari ilahnya. Ilah yang ditunjuk oleh Tuhan adalah yang paling menyakiti hati kita. Mungkin itu orangtua, anak, karir, rumah dan muka kita. Tidak semua perkataan Yesus untuk orang itu. Ilahnya adalah keluarganya, orangtuanya, Dia berbicara menunjuk hal itu.

Banyak orang Kristen sebenarnya adalah orang Kristen hanya sampai tahap estetika saja seperti yang Kierkegaard katakan, yaitu orang-orang yang menemukan kebenaran Firman Tuhan, menggumulinya, mempelajarinya, menikmatinya dan menemukan sesuatu yang indah dalam Firman Tuhan tetapi sampai di situ saja. Hanya pengamat Firman Tuhan saja. Kita tidak mengaplikasikan Firman itu. Firman tidak masuk ke dalam hidup kita, ke dalam hati kita, menembus seperti pedang yang memisahkan pertimbangan antara pikiran dan hati kita, antara tulang dan sumsum kita. Tetapi mata Allah itu melihat dan menjelajah sampai dalam. Dia melihat apa yang menjadi kelemahan, dosa, pertimbangan, ilah kita. Kita mungkin menikmati keindahan Firman Tuhan; strukturnya dan seluruhnya, tetapi kita takut ketika Allah menunjuk sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak sadari.

Tadi saya sudah katakan tentang dealing dengan Allah yang Maha Tahu mengandung suatu ketakutan. Ada ancaman-ancaman dari kemahatahuan Allah. Tetapi lihatlah Daud berseru kepada Allah yang adalah Yehova. Jadi ini adalah puji-pujian kepada Allah di dalam Yesus Kristus. Kita tahu bahwa Alkitab dengan jelas menyatakan Allah di dalam Yesus Kristus mendekati kita untuk mengasihi kita. Di dalam Yesus Kristus, maka kemahatahuan Allah adalah kemahatahuan untuk mencintai kita. Ada satu ayat Alkitab ketika saya membacanya hati saya remuk dan ayat itu mengatakan, “Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai,” (Matius 9:9) Matius adalah pemungut cukai dan bagi orang Yahudi pekerjaan pemungut cukai itu adalah sama hinanya dengan pelacur. Dia sedang menghitung-hitung penghasilan, cukai yang tidak halal itu. Itu persis dengan Yesus Kristus melihat pelacur yang sedang berhubungan seks dengan yang bukan suaminya. Bukankah itu memalukan? Sesuatu yang ingin dihindarkan? Matius melihat apa di mata Yesus? Cinta. Panggilan “Ikutlah Aku.” Engkau tidak ditempatkan, ditakdirkan seperti itu, Matius. Aku mencintai engkau. Mata-Ku melihat engkau. Aku tahu apa yang menjadi isi hatimu. Aku tahu apa yang menjadi motivasimu di belakang, apa yang engkau sudah lakukan. Dosa-dosamu tidak terhindar dari mata-Ku dan Aku mengetahui apa yang engkau akan lakukan di depan. Alkitab mengatakan, mata Yesus melihat Matius. Dan Matius melihat mata Yesus. Kemudian Matius berdiri lalu mengikuti Yesus. Dari pemungut cukai menjadi murid Yesus Kristus, dipakai oleh Dia. Oh, itu adalah kemahatahuan Allah di dalam Yesus Kristus. Mata-Nya memperhatikan kita untuk kebaikan kita, kesejahteraan kita dan cinta kasih diberikan kepada kita.

Hal yang lain. Di dalam Yesus Kristus maka mata-Nya memperhatikan kita untuk melindungi dan membela kita. Mata-Nya yang Maha Tahu itu mengatakan kepada seluruh gereja di Wahyu, “Aku tahu pekerjaanmu.” Kepada Laodikia, “Aku tahu bahwa engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas,” Kesucian-Nya menghardik kepada gereja-gereja Tuhan yang tidak sungguh-sungguh. Tetapi Smirna lain. Smirna adalah satu gereja kecil yang dianiaya. Pengikut-pengikutnya itu banyak sekali yang dibunuh. Darah mengalir di mana- mana. Gereja yang kecil, yang dianiaya, yang hampir dihabiskan berisi orang-orang yang tertunduk, mengalirkan air mata, menangis. Suami istri itu kemudian dikorbankan, mereka saling berpelukan, tidak tahu harus bagaimana, harus mengadu kepada siapa. Tetapi pada akhir zaman, Yesus Kristus datang dan Dia mengatakan, “Smirna, Aku tahu apa yang terjadi kepadamu.” Jangan takut. Aku menyertai dan membela engkau. Kemahatahuan Allah adalah satu-satunya yang menghibur hidup kita ketika kita berada di dalam air mata. Ada orang-orang yang tiba-tiba terkena penyakit cancer atau penyakit-penyakit apapun saja yang kita tidak tahu. Kemudian kita tanya, kenapa engkau? Apa sebabnya engkau bisa sakit cancer? Aku tidak tahu. Aku makan biasa seperti orang makan. Aku tidak tahu di mana keracunannya, polusinya. Aku juga baru tahu melihat cancer ini dari tempat ini tetapi sekarang sudah menjalar dan orang itu pergi ke Tuhan untuk berdoa, “Tuhan, di tempatku ada cancer, di dalam tubuhku ada cancer Tuhan, aku gemetar Tuhan, ada sesuatu yang aku tidak bisa kendalikan dari diriku.” Tetapi Omniscience of God mengatakan, “Jangan takut, Aku tahu”. Aku memperhatikan. Aku mengijinkan itu untuk sesuatu yang baik. Setiap sel yang bertumbuh hari ini, Tuhan tahu.

Terakhir ketiga, kemahatahuan Allah meminta untuk kita menguji diri kita di hadapan Allah. Mari kita melihat ayat ke-23-24. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah Aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! Daud di dalam Yesus Kristus, tidak menghindari kemahatahuan Allah. Dia malah mengundang Allah yang Maha Tahu menyelidiki hatinya. Bukankah Allah menyelidiki segala sesuatu? Di dalam ayat yang pertama, Tuhan itu menyelidiki segala sesuatu, Tuhan mengenal aku. Tetapi kenapa ayat ke-23-24, selidikilah aku Tuhan? Daud mau tahu apa hasil penyelidikkan Allah kepada dia. Mintalah kepada Tuhan, “Tuhan, aku mau melihat sebagaimana Engkau melihat aku.” Aku tahu aku orang berdosa, tetapi aku tidak puas dengan mengatakan “aku orang berdosa”, aku mau tahu dosaku itu apa saja dan bereskan ya Tuhan. Hal yang terbaik di hadapan Allah yang Maha Tahu adalah bukalah dirimu, hatimu dan tidak ada satu pun yang dipertahankan di hadapan Dia. Di hadapan Allah yang Maha Tahu, berlututlah, sadarlah bahwa Dia meneliti kita dan angkatlah tangan saudara dan mengatakan, “Aku orang berdosa, tidak ada yang baik. Kasihani aku. Bereskan hidupku. Ampuni aku. Engkau Maha Tahu yang menyelidiki hidupku, nyatakan seluruhnya.” Kiranya Tuhan memimpin kita. Mari kita tundukkan kepala.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^