[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

10 February 2019

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 141 (1)

Mazmur 141

Di dalam kitab Mazmur kita melihat nyanyian-nyanyian kehidupan. Ada nyanyian kepada Tuhan ketika pemazmur dalam keadaan takut, ada nyanyian di dalam penderitaan, ada nyanyian di dalam kesukaran yang besar. Ada nyanyian bahkan di dalam kegelapan, ada nyanyian di dalam pengakuan dosa yang baru saja di perbuat, atau nyanyian-nyanyian tentang kehidupan dengan penuh ucapan syukur. Ada nyanyian tentang bagaimana merindukan Bait Suci, ada nyanyian kerinduan kepada Allah yang mengasihi Dia, serta ada nyanyian memuji Firman Allah. Mazmur 141 adalah nyanyian tentang doa. Setiap kehidupan orang Kristen apapun saja konteksnya, apapun saja situasinya, apapun saja yang dihadapinya, maka Allah akan membuatnya menjadi nyanyian. Allah akan membuatnya menjadi puji-pujian bagi Dia. Karena bagi anak-anak Tuhan, apapun saja yang terjadi, di dalam seluruh aspek kehidupan dan dimensinya, Allah intervensi. Allah memiliki kehendak, Allah memiliki rencana yang kekal yang baik bagi kita. Bahkan ketika pemazmur tidak bisa melihatnya, dia tetap akan bernyanyi karena tahu bahwa akhir dari seluruh hidupnya adalah nyanyian pujian bagi Allah. Mazmur 141 berbicara mengenai doa, kita akan belajar apa yang Daud itu doakan kepada Tuhan. Hidup kita harus sinkron dengan apa yang Alkitab katakan dan pikirkan. Kalau saudara melihat ada satu orang yang dipakai oleh Tuhan di dalam Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan bagaimana mereka itu hidupnya berkenan kepada Allah, belajarlah apa yang dia minta, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka memutuskan sesuatu, bagaimana mereka menilai apa yang bernilai dan apa yang hina. Maka hidup kita disebut sebagai hidup yang sinkron dengan Firman. Tentunya hal yang paling utama belajarlah dari Yesus Kristus sendiri. Apa yang Daud minta dan harapkan? Apa yang menjadi point-point doa dari Daud? Biarlah itu kita boleh mencontoh, kita boleh berseru untuk hal itu karena hal itulah yang merupakan isi hati Tuhan. Tuhan senang mendengarkan doa-doa seperti ini. Di dalam Kristus, Dia akan mengabulkan orang-orang yang berdoa seperti ini. Misalnya saja, kalau saudara-saudara melihat dari Mazmur 90, maka Musa mengatakan kepada Tuhan, berdoa demikian, “Katakan kepadaku Tuhan kapan aku mati, sehingga aku beroleh hati yang bijaksana.” Saudara, kita selalu akan meminta kepada Tuhan bukan seperti yang Alkitab minta. Berikan panjang umur, Alkitab tidak mengajarkan hal itu. Saudara mau untuk sinkron kepada Alkitab? Saudara mau untuk hidup kita itu diberkati? Kalau saudara mengatakan ya dan amin, maka lihat apa yang mereka minta. Musa tidak meminta umur yang panjang, tetapi Musa minta supaya Tuhan mengatakan kapan dia mati sehingga dia bisa memiliki hati yang bijaksana mengatur hidupnya. Panjang atau pendeknya hidup itu bukan hal yang penting di hadapan Allah, tetapi kepenuhan hidup, hidup yang berkenan setiap hari di hadapan Allah, itu adalah sesuatu yang penting. Di dalam Alkitab, bahkan umur yang panjang itupun adalah pemberian anugerah Tuhan. Alkitab mengatakan, kalau engkau berjalan dalam takut kepada-Ku, aku akan berikan umur yang panjang kepadamu. Saudara-saudara, tidak perlu untuk meminta sesuatu yang sudah dijamin oleh Allah, tetapi biarlah mata kita melihat apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita di dunia ini. Alkitab penuh dengan janji-janji Allah kepada kita. Allah itu setia, kita yang tidak setia. Jangan mempertanyakan itu terus kepada Tuhan, Dia akan marah kepada kita, dan akan menghajar kita. Kita bertingkah laku seperti seakan-akan Allah itu tidak setia dan melupakan janji-janji-Nya. Saudara tidak perlu untuk meminta berkat-berkat Allah setiap waktu, karena Dia, Allah yang siap memberkati kita. Tetapi, ingat akan tanggung jawab kita, apa yang seharusnya kita kerjakan di dalam ketaatan. Gereja yang baik, hamba Tuhan yang baik, akan mendidik jiwanya, dan mendidik jemaatnya untuk mengerti tanggung jawabnya. Hamba Tuhan yang buruk, gereja yang buruk, akan terus akan mendidik atau menyatakan kepada saudara-saudara tentang janji-janji Allah, dan saudara disuruh untuk menuntut janji-janji Allah, dan bahkan meng-claim janji-janji Allah. Allah itu bukan petugas asuransi! Jangan memperhitungkan Dia seperti itu. Biarlah kita boleh sungguh-sungguh takut kepada Tuhan.

Apa yang Daud ajarkan di dalam Mazmur 141 ini? Apa yang dia minta? Hal yang pertama: Daud meminta untuk dia bisa mengalami Allah di dalam Yesus Kristus. Mengalami bergaul dengan Allah di dalam Yesus Kristus. Dia berkata, “Ya Tuhan, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku, berilah telinga kepada suaraku, waktu aku berseru kepada-Mu.” Ini adalah permohonan untuk Allah mendekat kepada Daud. Ini adalah panggilan untuk Allah datang kepadanya. Maka di dalam ayat yang pertama ini, saudara bisa melihat bahwa Daud di dalam doanya sedang mendekat kepada Tuhan. Doa adalah bentuk kita mendekat kepada Tuhan. Tetapi Daud berteriak. Daud memanggil Allah datang mendekat kepada dia. Dan saya sekarang akan masuk ke dalam hal-hal pokok yang penting di dalam poin ini:

(1) Dari permohonan ini artinya Daud seakan-akan meminta Allah mengatasi adanya jarak yang terjadi antara dia dengan Allah. Kalau saudara-saudara melihat dari ayat ini, kita bisa bertanya kepada Daud, hei Daud, engkau berpikir Allah itu seperti apa sih? Engkau memperlakukan Allah itu seakan-akan bahwa Allah memiliki masalah jarak atau masalah space. Apakah ini masalah jarak? Apakah ini masalah spatial, space, ruangan? Jawabannya adalah tidak. Bukankah Allah itu omnipresence? Allah hadir di mana-mana. Tidak ada sesuatu yang bisa untuk menyatakan bahwa Allah itu tidak hadir. Di tempat yang paling gelap pun Allah selalu hadir. Kalau begitu, mengapa Daud minta Allah mendekat kepadanya? Bukankah Allah itu dekat dengan dia? Jawabannya adalah ini permohonan agar Allah itu memanifestasikan diri-Nya sampai Daud sungguh-sungguh menyadari, sungguh-sungguh mengenali bahwa Allah itu hadir di depan dia. Saya tanya pertanyaan yang sederhana, Allah itu hadir di mana-mana, bukan? Dan Allah hadir di ruangan kebaktian ini, bukan? Tetapi siapa yang menyadari, sungguh-sungguh merasakan dan mengalami bahwa sesungguhnya Allah hadir? Hanya segelintir orang, hanya orang-orang yang diberikan anugerah. Dan banyak orang masuk ke gereja sekalipun, mereka tidak pernah mengalami Allah. Di tempat yang lain, ada seseorang yang mendengarkan Firman, dia sadar sekali Allah bicara dengan dia. Begitu dengar Firman itu langsung diambil, langsung dimasukkan ke dalam hatinya, dan hidupnya itu berubah. Saudara bisa melihat ini ada dua orang berbeda sama sekali, ya Allah itu hadir di mana-mana, omnipresence. Tetapi Elizabeth Browning mengatakan, “Semak yang terbakar itu ada di mana-mana, tetapi hanya orang yang bisa melihatnya yang melepaskan kasutnya.” Apa yang Daud minta? Bukankah Allah itu hadir di mana-mana? Oh tidak, aku tidak minta itu. Aku tahu Allah hadir tetapi aku tidak pernah merasakan Allah itu hadir, aku ingin merasakan, mengalami. Ini adalah permohonan agar Allah itu memanifestasikan diri-Nya, menolong dia, intim kepada dia, melimpahkan kuasa-Nya kepada Daud, sampai Daud mengenal Dia ada di sini.

Kenapa hidup kita tidak berubah? Kenapa dosa terus menerus dilakukan? Kalau saudara dan saya itu menyadari bukan saja secara pikiran, tetapi sungguh-sungguh mengalami Allah itu omnipresence, maka perbuatan dosa itu tidak semudah yang kita lakukan sekarang. Apakah saudara akan mudah melakukan perbuatan dosa jika ada orang lain di dekat saudara? Kalau kita mengatakan God isomnipresence, Dia hadir di mana-mana, tetapi kita kenapa terus melakukan dosa? Karena kita tidak pernah mengalami-Nya. Kekristenan bukan bicara mengenai teologi yang benar saja, kekristenan adalah bicara berkenaan dengan pengenalan akan Allah, satu relation yang real. Allah itu hadir di mana-mana, tetapi siapa yang mengalaminya? Maka saudara-saudara akan lihat bagaimana Daud ini berteriak, “Ya Tuhan, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku. Berilah telinga kepada suaraku, aku berseru kepada-Mu.” Ini bukan bicara berkenaan tentang knowledge of God, ini adalah bicara mengenai pengalaman dengan Allah, kalau saudara-saudara mau sungguh-sungguh kehendak Tuhan, di dalam ayat ini saya akan bisa mengatakan kepada saudara-saudara, ini yang disukai oleh Allah. Ini yang menjadi kehendak Allah. Apa itu? Allah sangat menyukai anak-anak-Nya yang berseru mencari Dia dengan sungguh hati. Katakan kepada Dia, “Tuhan, hadirlah di sini. Datanglah kepadaku. Tolonglah aku. Saat ini kasihani aku.” Saudara-saudara akan menemukan ratusan ayat Alkitab yang berseru seperti ini. Ayat-ayat yang menyatakan Tuhan datanglah, manifestasikan dirimu, intervensi di dalam hidupku. Ini bukan bicara mengenai ruangan, ini adalah bicara mengenai experience. Ini bicara mengenai keintiman, yang sungguh-sungguh dirasakan, dialami.

(2) Di dalam ayat yang pertama ini, point yang kedua yang saya mau masuk lebih dalam lagi adalah: pengalaman dengan Allah, kesadaran Allah hadir adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga di dalam hidup sekarang ini. Dan bukan itu saja, ini tidak bisa di terima dengan take it for granted. Saudara-saudara, bagi anak-anak Allah, bahkan keberhasilan itu tidak berarti. Uang itu tidak berarti, tetapi kehadiran Allah, penyertaan Tuhan, kesadaran bahwa Allah yang memberikan uang itu, itu yang berarti. Apakah ketika saudara mendapatkan uang, saudara akan memuji Allah? Bagi orang-orang dunia itu akan terjadi, tetapi bagi anak-anak Allah itu tidak berarti. Kalau aku bisa tahu bahwa dari tangan-Mu, dari kehendak-Mu Engkau memberikan uang itu, aku bersukacita, Tuhan. Pengalaman dengan Allah, kesadaran Allah berintervensi dengan hidup kita, itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Allah itu pribadi yang mulia. Allah yang adalah pribadi yang paling bernilai. Allah melebihi daripada semua yang kita kasihi, semua yang kita hormati dan semua yang kita harapkan. Maka kehadiran Dia, kalimat-kalimat-Nya, relasi dengan Dia, itu yang paling berharga.

Saya ambil contoh, saya memandang pak Tong adalah seorang yang Tuhan sungguh-sungguh berkati. Tentu manusia pasti ada salah dan kelemahan. Kita bisa melihat kesalahan dan kelemahannya. Setiap hamba Tuhan, nabi atau rasul dari Alkitab, pasti ada kesalahan dan kelemahannya. Tetapi Tuhan tidak mengajar kita melihat kelemahannya, Tuhan mengajar kita bagaimana Allah berkenan kepadanya. Di tengah-tengah seluruh kelemahannya, saya memandang pak Tong adalah seseorang yang sungguh berhikmat dan dipakai oleh Tuhan. Orang yang penuh dengan pengalaman bergaul dengan Tuhan dan dipakai oleh Tuhan untuk mempertobatkan orang-orang. Dan dia adalah orang yang sangat sibuk. Maka bagi saya, menelpon dia itu sangat-sangat sungkan. Saya ingin berbicara kepadanya. Saya ingin dia menceritakan pengalaman-pengalaman pelayanannya, meminta arahannya, saya ingin selalu untuk meminta kalimat-kalimat dia sampai kepada saya, tetapi saya tahu bahwa dia adalah orang yang lain pada kelasnya tersendiri. Saya tidak bisa mengangkat telepon dan kemudian saya mengatakan, “Bagaimana PakTong hari ini? Saya mau ngobrol-ngobrol sama engkau.” Dan dia memang tidak pernah punya telepon, jadi saya selalu akan telepon kepada orang yang sedang berada dengan dia dan biasanya itu adalah istri PakTong. Dan saya selalu akan text message seperti ini, “Shemu, maaf merepotkan, jikalau PakTong ada waktu, bolehkah saya menelpon dia?” Saya tidak sedang bersopan santun karena saya orang Jawa, tetapi karena saya tahu betapa sibuknya dia dan banyak sekali masalah yang jauh lebih besar daripada masalah saya yang harus dia selesaikan. Kalau dia mau berbicara kepada saya, kalau dia mau mengangkat telepon saya dan kemudian menyediakan waktu bagi saya, itu adalah inisiatifnya, itu adalah keputusan hatinya. Apa yang membuat pembicaraan itu bisa terjadi adalah bukan inisiatif kita. Itu bisa terjadi adalah bukan karena saya berseru, seberapapun seruan saya dengan air mata sekali pun, komunikasi itu terjadi adalah karena jikalau dia yang di atas kita itu rela menyatakan dirinya kepada kita. Dia yang di atas kita itu rela untuk mendekat kepada kita. Dia yang di atas itu membuka salurannya bagi kita. Maka saudara-saudara, pengalaman dengan Allah itu kesadaran bahwa Allah itu hadir, inisiatif Allah untuk berintervensi kepada kita, itu sungguh-sungguh adalah kerelaan hati Allah kepada kita. Itu haruslah Allah yang berinisiatif dan di dalam teologia Kristen, itu disebut sebagai anugerah. Anugerah adalah kita mendapatkan sesuatu yang secara inisiatifnya bukan dari kita. Saudara, ada sisi bagian ini yang orang Kristen itu selalu kehilangan. Saudara selalu berpikir pokoknya saya mau berdoa kapanpun saja, nanti Tuhan akan mendengarkan saya. Ada bagian Alkitab yang mengatakan di dalam Yesus Kristus ya dan amin, tetapi ada paradoks yang lain, Alkitab mengatakan, “Dengarlah suara-Ku, bertobatlah sekarang, bertobatlah pada waktu Allah masih berkenan kepadamu!” Ini semua adalah inisiatif Allah, ini adalah belas kasihan Allah.

Suatu hari perempuan dari Siro Fenisia datang kepada Yesus Kristus sambil berlutut, terus menerus meminta kepada Yesus Kristus, “Have mercy on me, the Son of David!” Saya beritahu kepada saudara-saudara, dia mau teriak seperti apa, dia akan tetap seperti itu kalau Yesus itu tidak melihatnya dan memberikan anugerah-Nya. Bartimeus ada di jalanan di Yerikho, orang yang buta, teriak-teriak terus karena dengar Yesus lewat. “Kasihanilah aku, Anak Daud.” Dia mau teriak seberapapun saja, dia akan tetap di jalanan itu, dia tetap di titik itu sampai dia mati, kecuali Yesus Kristus memalingkan wajah-Nya dan rela untuk membuka diri-Nya menemui Bartimeus. Saudara dan saya akan terus berteriak di kamar kita, dengan air mata sekalipun dan akan mati di sana tanpa ada perubahan apapun saja kecuali Tuhan mau memandang kita. Pengalaman ini adalah hal yang paling berharga dan tidak bisa kita terima dengan take it for granted. Kalau saudara-saudara mengerti ini, saudara akan tahu bahwa hidup kita itu benar-benar penuh dengan anugerah Tuhan demi anugerah Tuhan. Bahkan banyak sekali berkat yang Tuhan berikan kepada kita sebelum kita meminta kepada Dia. Bahkan banyak sekali anugerah yang Tuhan berikan kepada kita pada saat kita itu masih berdosa. Tetapi itu adalah sesuatu stage di mana kita masih kanak-kanak, jikalau Tuhan mengangkat hidup kita, memberikan pertumbuhan rohani, saudara dan saya akan dididik oleh Tuhan untuk mengerti bahwa Allah menjawab doa kita itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Pengalaman bersama dengan Allah adalah sesuatu yang paling mulia di dunia ini. Untuk itu Tuhan sering sekali menghajar kita membuat hidup kita itu terpojok, sampai kita itu memiliki satu bentukan hati yang terus menerus berharap kepada Allah. Kita disudutkan oleh Allah sampai mulai menyadari bahwa saya tidak lagi punya apapun saja. Dan kemudian baru berteriak ayat ini, “Tuhan, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku, berilah telinga kepada suaraku waktu aku berseru kepada-Mu.” Menjadikan suara Tuhan sesuatu yang berharga dalam hidup kita.

(3) Hal yang ketiga di dalam permohonan pertama yaitu Daud meminta Tuhan. Kalau saudara-saudara perhatikan TUHAN (huruf besar), bukan hanya Allah saja, bukan God tetapi LORD (huruf besar), maka ini adalah God of Covenant. Daud tidak sekedar berteriak meminta Allah hadir dalam hidupnya, Daud meminta Allah, di dalam Kristus Yesus hadir mendekat kepada dia. Saudara perhatikan, ini adalah suatu teologia yang penting sekali. Karena Allah, di luar Kristus akan hadir di dalam murka-Nya. Jikalau saudara panggil Allah di luar Kristus, dan saudara-saudara tidak memiliki Kristus, Dia datang akan mematikan kita. Sejak manusia jatuh di dalam dosa, siapapun manusia itu, sesuci apapun manusia itu, bahkan Daud sekalipun ketika dia berhadapan dengan Allah, harus ada korban. Itulah sebabnya Daud mengatakan, “Biarlah doaku adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan dan tanganku yang terangkat, seperti persembahan korban pada waktu petang.” Saya akan jelaskan saudara-saudara. Banyak komentator mengatakan bahwa Daud berada di tengah-tengah pengejaran Saul. Tentu karena dia berada di dalam pengejaran seperti itu dia tidak mungkin bisa memberikan persembahan di Tenda Pertemuan. Bait Suci belum ada saat itu. Bait Suci dibangun oleh Salomo, anaknya. Tetapi sebelum Bait Suci itu dibangun, maka Tenda Pertemuan dari Musa menjadi sesuatu hal yang simbolikal bagi Allah untuk bertemu dengan manusia. Apapun saja yang terjadi, entah Tenda Pertemuan maupun Bait Suci, tempat pertemuan Allah dan manusia, maka di situ harus ada korban. Dan dia sedang berada di dalam pengejaran, sehingga tidak mungkin bisa membuat ritual seperti itu. Tetapi dia memerlukan pertolongan Tuhan dan Daud mengerti bahwa dia tidak mungkin menghadap Tuhan mendapatkan pertolongan dari-Nya, kecuali dengan korban. Dia berteriak dengan air mata, “Ya Tuhan, God of Covenant, in Christ, Tuhan di dalam Kristus, datanglah mendekat kepadaku.” Saudara-saudara, perhatikan pentingnya hal ini. Dia tidak sekedar memanggil, “Tuhan, datanglah kepadaku.” Maka itu akan menjadi kecelakaan bagi dia. Masalah terbesar dari seluruh masalah di dunia adalah Allah itu sendiri. Setiap kali kita punya masalah, saudara dan saya akan meminta dan berusaha untuk membereskan masalah dengan sesuatu yang lebih tinggi yang saudara harapkan untuk membereskan masalah saudara. Jikalau ini tidak bisa diharapkan, maka saudara akan mengharapkan yang paling tinggi. Dan jikalau saudara sudah tidak bisa membereskan masalah itu, maka saudara akan menuju yang paling tinggi yaitu Allah. Saudara salah tujuan! Karena hal yang paling bermasalah di dalam seluruh hidup kita adalah Dia. Kemurkaan-Nya lebih besar daripada semua orang yang membenci saudara di tengah-tengah dunia. Siapa yang mengatakan kalau saudara-saudara sampai di sana masalah semuanya selesai? Siapa yang mengatakan kalau ada orang mati itu rest in peace? Kalau orang itu tidak di dalam Kristus, dia tidak mungkin peace sampai selama-lamanya.

Ketika Daud datang dan minta Allah mendekat, maka dia tahu kuncinya adalah Allah di dalam Yesus Kristus. Di luar Kristus, Allah akan datang dengan murka-Nya, Dia akan datang dengan pembalasan dengan dosa-dosa kita, Dia akan datang dengan api kemarahan yang begitu besar kepada umat manusia. Saudara mungkin tidak mempercayainya tetapi Firman Allah tidak pernah mungkin gagal. Lihatlah apa yang terjadi di akhir zaman, kalau Dia tidak datang sekarang, Dia akan datang di akhir zaman dengan kemarahan-Nya yang memuncak, kecuali di dalam Yesus Kristus, karena Kristus sudah mati untuk dosa Daud, karena Kristus sudah dimurkai oleh Allah, murka yang seharusnya datang kepada Daud, maka di situ ada pendamaian. Di dalam Kristus, Allah mendekati Daud dengan kasih sayang. Di dalam Yesus Kristus, Allah datang kepada Daud dengan cinta dan kelembutan. Di dalam Yesus Kristus, maka seluruh janji-Nya yang baik kepada kita menjadi sesuatu kenyataan. Di luar Kristus, Allah tidak pernah menjanjikan apapun saja yang baik bagi kita. Dia akan menghancurkan manusia. Dia akan membuang kita sampai selama-lamanya. Mari kita lihat 2 Korintus 1: 20-23. Saudara perhatikan ayat ini begitu jelas, ini adalah ayat emas untuk keselamatan saudara dan saya di dalam kekekalan dan dunia ini. Hanya di dalam Yesus Kristus, seluruh janji Allah yang baik itu ya dan amin.

Saya ringkas apa yang menjadi poinnya, hanya di dalam Kristus kita mendapatkan pertolongan Allah. Allah bergerak mendekati kita, mendengarkan suara kita, menolong kita, melimpahkan kekuatan-Nya pada kita, bukan berdasarkan kerasnya doa kita, tetapi berdasarkan kepada Kristus yang mati dan bangkit bagi kita. Jika kita tidak di dalam Kristus, maka teriakan kita tidak akan didengar oleh Allah. Jika seseorang tidak di dalam Kristus, maka Allah yang mendekat akan menjadi Allah yang mematikan bagi dia. Jikalau kita tidak di dalam Kristus, maka Allah datang dengan kesucian-Nya dan setiap orang yang melihat kesucian-Nya pasti akan akan mati untuk selama-lamanya. Yesaya 59 menyatakan, “Sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu adalah segala kejahatanmu. Dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar kamu adalah dosamu.” Itulah sebabnya Daud berteriak, “Ya Tuhan, Allah di dalam Yesus Kristus, aku berseru kepada-Mu, datanglah segera kepadaku. Berilah telinga kepada suaraku waktu aku berseru kepada-Mu.” Ini adalah pelajaran yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Memohon untuk mengalami Allah di dalam Kristus Yesus. Bukan saja mengetahui, tapi sungguh-sungguh mengenal, mengalami Allah, mengalami intimacy dan pertolongan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dan itu adalah sesuatu yang paling berharga di dalam hidup kita, dan kita tidak bisa menerimanya dengan take it for granted.Dan kita mendapatkannya karena pekerjaan Kristus di atas kayu salib. Dan pada hari ini kiranya yang mendengarkan kalimat-kalimat ini, engkau mengerti betapa berharganya Kristus bagi kehidupan umat manusia. Hanya di dalam Dia, Allah menolong kita. Hanya di dalam Dia, Allah bergerak mendekati kita. Hanya di dalam Dia, Allah menyempurnakan kita. Hanya di dalam Dia, Allah memeluk kita dan dengan kasih-Nya yang lembut, mencintai kita dan mendengarkan suara permohonan kita. Kiranya kita semua mengenal Dia.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^