[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

2 December 2018

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 63

Mazmur 63

Ketika saya pertama kali membaca Mazmur ini saya tidak menyadari sampai saya membaca dan membacanya lagi akhirnya saya tersadar satu poin ini. Ini adalah nyanyian cinta, Mazmur cinta. Aku mencintai Engkau Tuhan dan aku merindukan-Mu. Perasaan cinta, rindu, mendambakan, seperti sepasang manusia yang bersedang berpacaran dari jarak jauh. Daud jatuh cinta kepada Allah. Dia mengatakan seperti orang berpacaran atau mengejar seseorang yang sudah menawan hatinya. Daud mengatakan dengan kalimat-kalimat seperti ini. Aku mencari Engkau. Di dalam bahasa aslinya dia mengatakan Allahku ya Allahku, kepada-Mu dari terbitnya sinar matahari aku mencari, memperhatikan. Kapan Engkau datang kepadaku? Di tempat yang lain dia mengatakan jiwaku haus kepada-Mu ya Allah. Tubuhku rindu kepada-Mu. Seperti tanah yang tandus, tanah yang kering, ingin dekat, ingin diisi, ingin diserap, ingin dekat. Aku memuji Engkau ya Tuhan. Oh kalau saudara-saudara memperhatikan ini seperti seorang yang ingin memuji pacarnya. Aku menaikkan tanganku demi nama-Mu. Dia ingin menjulurkan tangannya untuk memegang orang yang dikasihinya. Bahkan dia mengatakan aku memikirkan Engkau di tempat tidurku sepanjang hari. Pada pagi hari dia bangun dia memikirkan dia mencari Allah. Pada malam hari sebelum tidur dia memikirkan merindukan Allah. Dan di dalam ayat yang kesembilan, dia mengatakan jiwaku melekat kepada-Mu. Satu Mazmur akan kerinduan kepada Allah. Daud merindukan dengan seluruh dirinya, dari segenap hatinya sampai keseluruh panca inderanya, dia merindukan Allah. Saya akan menyatakan Mazmur cinta ini di dalam empat hal.

Yang pertama adalah konteksnya. Daud mengekspresikan kerinduan kepada Allah ini di padang gurun. Ketika dia berada di dalam pelarian, mungkin sekali bahwa Daud sedang dikejar-kejar oleh Saul atau dikejar-kejar oleh Absalom, sehingga dia harus meninggalkan Yerusalem. Dan padang gurun itu menceritakan tentang keadaan apa? Padang gurun adalah tempat ketiadaan. Ketiadaan teman. Ketiadaan penyediaan. Ketiadaan air. Ketiadaan makanan. Ketiadaan penghiburan. Ketiadaan jalan keluar. Semua di padang gurun itu terjadi ketiadaan. Lebih lanjut bahwa padang gurun itu sering digambarkan oleh Alkitab sebagai tempat setan berada. Evil. Yesus dicobai di padang gurun. Ini adalah tempat yang menakutkan. Perhatikan bahwa Daud terpisah dari umat Allah, terpisah dari bait Allah, terpisah dari tempat kudus-Nya Allah, di mana dia biasa memandang kemuliaan dan kekuatan Allah. Daud sendirian, dia kesepian dan merindukan Allah secara mendalam di tempat itu. Seperti sepasang kekasih yang terpisah jauh dan untuk sementara tidak bisa bertemu. Tuhan kadang mengizinkan anak-anak-Nya terpisah dari bait suci-Nya, agar anak-anak-Nya mengetahui betapa berharganya kehadiran-Nya kehadiran Allah di dalam bait suci-Nya. Persekutuan orang-orang kudus-Nya Allah adalah sesuatu yang berharga sekali yang mulia sekali di bumi ini. Gereja asal itu bukan sembarang gereja tetapi adalah gereja yang sejati, maka Allah itu hadir di tengah-tengahnya. Allah menyatakan kehendak-Nya, Allah memerintah dengan Firman-Nya. Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Allah menyentuh bagian terdalam di dalam hati anak-anak-Nya, di dalam gereja yang sejati. Dan di dalam gereja yang sejati tersebut, anak-anak Allah akan bisa memandang kebesaran Tuhan. Dan ini adalah kebesaran Tuhan dan kebesaran-Nya adalah sesuatu yang paling berharga di dalam diri umat-umat pilihan, umat-umat tebusan Allah. Yang paling penting di dalam sebuah gereja bukan bangunan tetapi adalah kehadiran Allah. Kehadiran Allah melalui Firman-Nya yang kita bisa melihatnya dengan mata rohani kita. Dan jikalau kita terpisah jauh dengan keadaan seperti itu atau gereja yang seperti itu, maka anak-anak Allah itu akan merasa tersendiri. Dia akan merasa tersendiri. Dia merindukan kembali di mana Allah itu menyatakan Firman-Nya di dalam gereja yang sejati. Tetapi di tempat yang lain, di padang gurun itu kemudian Daud bisa bernyanyi nyanyian cinta. Ini adalah Firman yang keluar dari padang gurun yang tandus. Mazmur pasal 63 mau membuktikan bahwa Allah itu menyertai Daud di tempat yang menakutkan itu. Ada Allah yang berbicara kepada dia. Ada Roh Kudus yang menuntun dia untuk menuliskan nyanyian cinta ini yang kemudian semua daripada gereja sepanjang masa kita itu membacanya. Dalam masa-masa yang sulit dan gelap, pertolongan Tuhan itu nyata kepada anak-anak-Nya.

Bagian yang kedua, prinsip teologis dari Mazmur pasal 63. Kalau saudara-saudara melihat secara keseluruhan prinsip Alkitab, maka kesatuan dengan Kristus, union with Christ-lah yang membuat Daud dapat mengutarakan Mazmur cinta ini. Ini adalah bentukan Allah di dalam jiwa Daud untuk dilekatkan di dalam Kristus. Dan kelekatan di dalam Kristus, kita akan makin lama makin bertumbuh. Yesus Kristus menyatakan dengan jelas jikalau engkau mau menjadi murid-Ku, engkau harus membenci bapanya, ibunya, anaknya, isterinya. Bahkan dia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya untuk mengikuti Aku. Alkitab mengajarkan bahwa union with Christ, kesatuan kita dengan Kristus Yesus, pekerjaan Allah Bapa yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk menyatukan kita di dalam Yesus Kristus, itu bukan pekerjaan yang sekali dan di masa lalu saja, tetapi itu adalah pekerjaan yang memiliki initial sesuatu yang terjadi di masa lalu dan continue terus sampai kita mati. Dan ada pertumbuhan-pertumbuhan rohani yang terjadi di dalam hidup kita. Dan pertumbuhan rohani itu akan membawa kita makin mengasihi Kristus melebihi daripada kita mengasihi orang-orang di dalam keluarga kita. Itu tidak berarti bahwa kita membenci keluarga kita. Tetapi ini mau menggambarkan bahwa kesatuan kita di dalam Kristus akan membuat satu pertumbuhan secara emosi dan seluruh eksistansi diri kita jauh lebih dalam dibandingkan dengan keluarga kita. Para teolog menyatakan itu adalah mystical union with Christ. Kenapa disebut sebagai mystical? Karena tidak ada gambaran yang cukup memadai untuk menyatakannya. Gambaran kelekatan di dalam dunia yang paling intim itu adalah keluarga. Tetapi Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa seseorang yang disatukan dengan Kristus bisa memiliki cinta kepada Kristus jauh melebihi daripada dia mencintai isteri atau anaknya. Jangan kuatir, karena orang yang makin mencintai Kristus, dia akan makin mencintai isteri, anaknya, papanya, mamanya, lebih daripada sebelumnya. Ini adalah perkataan C.S. Lewis. Saudara-saudara kesungguhan cinta suami isteri atau orang tua anak adalah jikalau setiap pribadi itu mencintai Kristus, dia akan sadar, dia akan mencintai anaknya, isterinya dan orang tuanya lebih daripada sebelumnya. Itulah sebabnya di dalam tulisan Paulus, Paulus itu berdoa supaya jemaatnya bisa mengenal dan mengalami betapa dalam, lebar, luas, tinggi, dan panjangnya kasih Kristus. Ketika seseorang mengalami kasih Kristus, maka dia akan makin mengasihi Kristus. Dan ketika dia makin mengasihi Kristus, dia akan makin mengasihi orang-orang yang terdekat dengan dia.

Bagian yang ketiga, yaitu inti biblika dari Mazmur ini. Sekali lagi Mazmur ini adalah Mazmur cinta. Ya, Daud jatuh cinta kepada Allah. Ini adalah the heart of religion. Kekristenan bukan pembahasan hukum-hukum atau pembahasan mengenai mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Bukan pembahasan mengenai Taurat, tetapi ketika bicara mengenai kekristenan adalah bicara mengenai relation. Dan Alkitab memang menyatakan bahwa Yesus mengatakan bahwa kalau engkau mencintai Aku engkau mentaati Firman-Ku. Maka ketaatan kita memang itu dituntut di dalam Alkitab, tetapi ketaatan kita adalah ketaatan yang hanya berdasarkan relasi cinta. Jikalau itu tidak terjadi maka itu adalah legalism. Dan itu sangat-sangat dibenci dan memuakkan Allah. Perhatikan sekali lagi, Daud disebut oleh Allah sebagai orang yang melakukan segala sesuatu yang Tuhan perintahkan. Semua raja-raja hidupnya selalu harus dievaluasi dengan titik referensi yaitu Daud. Tetapi dalam Mazmur pasal 63 kita sekarang mengerti bahwa seluruh ketaatan Daud itu dilakukan dengan dorongan kasih. Seluruh ketaatannya bukan dengan dorongan take and give dengan Allah. Daud taat kepada Allah bukan karena mau masuk ke sorga atau mau mudah jalannya atau supaya Allah memberikannya berkat, atau karena takut. Tidak. Mazmur pasal 63 menyatakan hal yang paling dasar di dalam hidupnya Daud, di dalam inti isi hatinya yang menggerakkan seluruh panca inderanya dan seluruh DNA-nya itu berteriak, dan itu yang paling dalam adalah dia mencintai Allah.

Suatu hari Yesus itu berkata kepada para murid-Nya, jikalau hidup keagamaan tidak lebih baik tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, engkau tidak dapat masuk Kerajaan Allah. Oh saya jamin jikalau engkau mengerti kalimat Yesus dan engkau mengerti ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, engkau akan sangat-sangat jatuh dengan kalimat ini. Bagaimana mungkin aku bisa lebih baik daripada mereka? Setiap hari, dari pagi sampai malam mereka meneliti hukum-hukum. Dan Taurat Yahudi itu dari sepuluh dibuat lebih dari enam ratus dan kemudian dibuat ribuan secara detail. Dan mereka meneliti dan melakukannya seumur hidup mereka. Bagaimana mungkin aku bisa lebih baik hidupnya daripada mereka? Bagaimana aku bisa Tuhan, Engkau mengatakan bahwa jikalau aku hidup keagamaan pun tidak lebih baik daripada mereka, aku tidak bisa masuk Kerajaan Allah? Jawabannya adalah satu hal. Kita bisa lebih baik daripada mereka adalah kalau kita itu memiliki kasih kepada Allah. Setiap orang yang memiliki cinta dia akan melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang dituntut. Kasih akan membuat kita melakukan lebih daripada sekedar tuntutan-tuntutan. Kasih bersifat mengabdi dengan sukacita seumur hidup, seluruh hati dan seluruh sel.

Di tempat yang lain saudara akan melihat bagaimana Allah menginginkan kita itu taat kepada Dia dengan cinta. Wahyu 2 dikatakan kepada jemaat Efesus aku tahu segala pekerjaanmu dan kemudian Yesus Kristus mengatakan bagaimana mereka sudah bekerja keras berjuang untuk gereja Tuhan. Tetapi Yesus Kristus memberikan sesuatu hajaran kepada mereka. Engkau sudah meninggalkan kasih yang semula. Dan saudara-saudara lihat apa yang terjadi di dalam jemaat Efesus. Saya yakin saudara-saudara akan terkejut dengan kalimat Yesus ini lagi. Ini adalah jemaat yang kecil yang berada di dalam kota yang sangat-sangat tidak mempercayai Allah. Dewi Diana ada di sana dan itu adalah dewi kesuburan sensualitas. Kekayaan dan kebebasan seks ada di mana-mana. Ini adalah kota yang sangat-sangat metropolitan. Dan jemaat itu adalah jemaat yang kecil yang berjuang dan mereka itu mengerti doktrin, mereka bukan orang sesat. Mereka bisa membedakan mana pengajaran yang benar dan yang salah dengan tepat. Dan mereka melakukan seluruh apa yang Firman Tuhan katakan dalam ketaatan. Tetapi seluruhnya yang mereka lakukan Yesus mengatakan engkau harus bertobat. Kenapa Tuhan? Karena engkau melakukan semuanya tanpa kasih yang semula kepada-Ku. Oh Tuhan, itu cuma satu bagian kan, yang lain aku sudah lakukan. Aku sudah taat dalam ibadah, aku sudah taat dalam mengabarkan Injil, aku sudah taat dalam doktrin, aku berjuang aku mau disiksa, masuk penjara untuk Engkau. Aku sudah taat semuanya bukan? Engkau menegur aku untuk satu bagian ini? Hanya satu bagian, Tuhan. Tuhan mengatakan; ‘Tidak, engkau harus bertobat. Aku akan menarik kaki dian-Ku jika engkau tidak mengembalikan kasihmu.’ Seluruh ketaatan kita tanpa cinta kita kepada Tuhan, nothing. Allah meminta hati kita untuk mencintai Dia. Kalau engkau adalah suami dan istri. Dan istrimu melakukan segala sesuatu apa yang engkau minta. Memasakkan bagimu, menjahit bagimu, melakukan segala sesuatu tetapi tanpa cinta. Apakah engkau mau menerimanya? Tuhan tidak menghendaki kita hanya sekedar taat pada hukum-hukum-Nya. Dia menghendaki kita mentaatinya karena cinta. Tetapi bagaimana mungkin aku bisa mencintai Tuhan?

Sekarang saya akan masuk ke dalam inti biblika. Daud mengatakan, “Aku pernah memandang-Mu di tempat kudus sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Oh Tuhan, kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup.” Dari mana cinta satu manusia itu bisa muncul untuk Tuhan? Tidak mungkin manusia itu bisa mencintai Allah. Kita adalah orang yang berdosa, tidak ada yang baik di dalam hidup kita. Jangankan bicara mengenai saya mencintai Tuhan. Ketika saya membaca tulisan ini. Saya sadar sekali saya bahkan tidak layak untuk mengkhotbahkannya. Ini orang besar. Ini adalah pembahasan yang sangat sulit. Apakah saudara tahu salah satu penderitaan seorang pengkhotbah adalah harus mengkhotbahkan suatu kebenaran tetapi dirinya sendiri belum sampai kepada kebenaran itu? Tetapi itu kebenaran. Bagaimana aku bisa mencintai Engkau, Tuhan? Siapa dari kita yang mencintai Dia? Tuhan, Engkau menuntut ketaatan dari aku, tetapi ketika aku taat, Engkau tahu, aku terpaksa taat. Aku tidak suka, Tuhan. Aku terpaksa taat. Daud menyatakan kepada kita rahasia dari bentukan kasih di dalam hatinya untuk Allah. Dari mana engkau bisa mengasihi Allah seperti ini? Dan Daud mengatakan karena aku mengenal Allah. Karena anugerah Allah aku bisa mengenal Dia, aku pernah melihat kekuatan-Nya dan kemuliaan-Nya. Allah yang kuat itu yang perkasa itu, Allah yang suci itu, Allah yang mulia itu, Allah yang tidak mungkin aku bisa datang kepada Dia, Allah yang tidak mungkin aku bisa menjamah Dia. Tetapi Allah yang besar itu mau untuk memalingkan wajah-Nya dan melihat personal kepadaku. Dia mengasihani aku. Dia menyatakan diri-Nya sehingga aku boleh mengenal Dia. Dia melakukan hal-hal yang baik kepadaku. Dia melepaskan aku. Dia mengenyangkan jiwaku. Hidupku berkali-kali ditolong oleh Dia dan bahkan Dia mengampuni aku ketika aku berzinah. Dia menunjukkan kasih setia-Nya kepadaku. Dari sana, maka kasih itu ada. Sekali lagi, kalimat penting di dalam ayat ini adalah kasih setia Tuhan. Kasih setia Tuhan itu adalah satu kalimat yang hanya diberikan kepada orang-orang pilihan-Nya di dalam Yesus Kristus.

Saya pernah menyatakan apa itu kasih setia Tuhan dan saya akan nyatakan pada pagi hari ini. Kasih setia Tuhan adalah ketetapan Allah untuk memiliki seseorang untuk dicintai-Nya. Allah menetapkan hati-Nya untuk memperhatikan orang itu, untuk memberikan belas kasihan-Nya (mercy) kepada orang itu, untuk memberikan cinta-Nya (love) kepada orang itu. Apapun saja keadaan orang tersebut, dia akan diperhatikan, dia akan dicintai dan dia akan diberi belas kasihan. Dan Allah akan melakukan semua itu berapa pun harganya dari pihak Allah. Dan Allah akan terus menyatakan kasih-Nya kepada orang tersebut sampai orang tersebut sungguh-sungguh mengenal bahwa dia dicintai oleh Allah. Dan Allah tidak akan berhenti. Allah akan mengejar orang itu untuk menyatakan bahwa Dia mencintai orang tersebut. Orang tersebut akan melihat bahwa Allah itu tangan-Nya menolong secara personal. Kadang orang tersebut adalah orang yang berteriak kepada Allah. Kadang kita bisa melihat di dalam Alkitab bahwa Allah mengejar orang itu tanpa alasan. Kadang, saudara-saudara bisa melihat Yunus itu dikejar-kejar oleh Allah. Dan saudara tanya kepada Allah, kenapa Engkau mengejar Yunus? Apa bagusnya Yunus? Berkali-kali dia memberontak kepada Engkau tetapi di mana pun saja dikejar untuk dicintai, dikejar untuk dipakai. Kadang seorang itu seperti Paulus yang kejamnya seperti itu. Tidak ada satu elemen di dalam dirinya untuk layak dicintai. Berapa orang sudah disiksa, berapa orang sudah dibunuh oleh dia? Berapa orang sudah dibuat dengan kesulitan di dalam hidup oleh kehidupan Paulus? Berapa orang sudah difitnah oleh Paulus? Tetapi entah mengapa, Allah mengejar dia, menyatakan diri-Nya, mencintai dia, memeluk dia dan memakai dia. Kasih setia-Mu kekal untuk selama-lamanya. Saudara akan kebingungan dengan cerita-cerita seperti itu. Ada orang yang dikejar-kejar oleh Allah untuk dinyatakan kasih setia-Nya. Ada orang-orang yang berada di dalam tempat yang tersudut dan sebentar lagi dia mati. Seperti Bartimeus yang buta itu atau seperti perempuan Siro-Fenisia itu yang anaknya hampir mati, dan tidak punya apapun saja di dunia ini untuk diandalkan. Dan kalimatnya pun tidak perlu didengar, dia bukan presiden. Dan dia berkali–kali berteriak kepada Tuhan ‘have mercy on me, have mercy on me the Son of David, have mercy on me.’ Alkitab mengatakan bahwa dia berteriak seperti binatang berteriak. Atau seperti perempuan Siro-Fenisia tidak bisa berteriak, habis semua air matanya bahkan. Dan dia tertunduk di bawah kaki Yesus Kristus dan satu kalimat saja yang dia bisa katakan selanjutnya dia tidak memiliki apapun saja. ‘Have mercy on me. Seperti Engkau mencintai Abraham, Ishak, Yakub, Daud. Have mercy on me.’ Dan kemudian Allah bertindak dengan belas kasihan-Nya kepada mereka. Seluruhnya adalah cerita kasih setia Tuhan. Di dalam Yesus Kristus, Dia membentuk cinta mereka kepada Allah. Semua adalah cerita bagaimana Allah mengejar orang-orang ini. Dia melihat orang ini, kadang Dia bersembunyi untuk melihat. Dia hanya melihat dari pintu yang terbuka sedikit tetapi dengan cinta-Nya Dia melihat anak-Nya untuk mengajar kepada kita bagaimana anak-anak Tuhan melihat Allah begitu mulia dan satu-satunya harapan. Daud menyatakan; ‘Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup.’ Maka dia bisa mengatakan; ‘Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari di pagi hari, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu. Seperti tanah yang kering dan tandus tidak berair. Aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam. Jiwaku melekat kepada-Mu Tuhan. Tangan kanan-Mu menopang aku.’ Seluruh kalimat cinta ini, kerinduan kepada Allah yang terdalam ini muncul karena dia pernah melihat Allah dan merasakan/mengalami kasih setia-Nya. Allah yang mengejar dan tidak pernah lelah, dan tidak pernah menyerah untuk mengejar seseorang untuk dicintai-Nya padahal orang tersebut sama sekali tidak memiliki arti.

Francis Thompson lahir di Northwest England (1859-1907), melihat masa mudanya, maka itu adalah dari satu kegagalan ke kegagalan yang lain. Ia belajar menjadi pendeta tetapi tidak bisa menyelesaikannya, dia bergabung dalam militer dan kemudian dipecat, dia belajar di kedokteran tetapi kemudian gagal. Sampai akhirnya dia kecanduan ganja. Namun hidupnya menyatakan bahwa dia tidak pernah lepas dari Allah yang mengejar dia. Digambarkan bahwa Allah itu adalah Sang Pemburu yang penuh inisiatif, karena Tuhan mengasihani dia. Di tengah-tengah keputusasaan hidupnya, dia berteman dengan seorang yang melihat bakat puisinya dan membawa Thompson untuk mampu menuangkan pengalamannya di dalam tulisan-tulisan puisi. Dialah yang menuliskan The Hound of Heaven. Satu puisi yang disebut salah satu puisi terindah di dalam bahasa Inggris. Dan ketika kita melihat puisi tersebut, itu menggambarkan tentang Allah yang tidak pernah menyerah untuk mengejar dia. Thompson itu menuliskan seperti ini; ‘Lalu aku melarikan diri dari-Nya setiap malam dan setiap hari. Aku melarikan diri dari-Nya melewati gerbang tahun demi tahun. Aku melarikan diri dari-Nya melewati jalan-jalan berliku di dalam pikiranku. Dan di dalam kabut air mataku dan di bawah tawa yang terus menerus aku bersembunyi dari-Nya. Di atas, memandang harapan aku melesat dan tertembak, terbanting jatuh ke bawah kegelapan, jurang yang menakutkan yang dahsyat. Dan kaki-kaki-Nya yang kuat itu terus mengikuti aku, terus mengikuti aku.’ Pada hari ini saya mengatakan kepada saudara-saudara, Allah kita di dalam Yesus Kristus adalah Allah yang mengejar kita. Sebenarnya Dia tidak memerlukan kita. Saya harap saudara-saudara tidak salah untuk seakan-akan bahwa kita itu sangat berharga di mata Dia. Sama sekali tidak ada harganya. Kita bahkan tidak layak. Dipandang oleh Dia pun kita tidak layak tetapi Alkitab mengatakan; Di dalam Kristus Yesus, Dia mengejar kita. Lihatlah apa yang terjadi di dalam hari-hari ini, ribuan tahun yang lalu. Dia mengejar kita dari Surga ke Betlehem, ke hati kita. Dia mengejar orang-orang yang dicintai-Nya. Dia menetapkan hati-Nya untuk mencintai kita, untuk memperhatikan kita, untuk menolong kita, untuk mengajar kita, untuk melampiaskan seluruh cinta kasih-Nya kepada kita. Alkitab mengatakan bahwa kita adalah umat yang kudus dari Allah. Dan apakah saudara-saudara mengerti apa arti yang kudus? Kita adalah umat yang kudus itu artinya kita dipisahkan untuk dikasihi, dipisahkan untuk diperhatikan. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan; Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup.

Hal yang terakhir di dalam aplikasi. Apa aplikasi yang bisa kita dapatkan dari puisi cinta seperti ini? Sekali lagi, kita tidak layak, tidak layak untuk membahasnya bahkan. Jangankan kita tidak layak bertemu dengan Tuhan, kita bahkan tidak layak bertemu dengan orang kudus Allah seperti Daud ini. Siapa dari antara kita yang menginginkan Allah setiap pagi? Siapa yang merindukan Dia setiap saat? Atau siapa yang sungguh-sungguh mencintai Dia? Mungkin tidak. Dan saya harus mengakui bahwa itu juga tidak ada dalam diri saya. Bagaimana saya musti berespon dengan kalimat-kalimat Daud seperti ini? Saya hanya teringat akan satu kalimat daripada Teresa Avila, dia mengatakan demikian; ‘Oh Tuhan, saya tidak mencintai-Mu bahkan saya juga tidak ingin mencintai-Mu. Tetapi Tuhan, aku mengingini untuk ingin mencintai-Mu.’ Ini adalah satu doa yang mengerti apa artinya manusia yang berdosa menginginkan sesuatu hal yang berharga. Katakan kepada Tuhan apa yang ada di dalam doa Teresa Avila ini. Kita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh berdosa, yang sungguh-sungguh celaka karena kita tidak mencintai Tuhan. Kalau kita berkata kepada Tuhan; Aku mencintai Engkau. Maka itu adalah suatu kebohongan bagi kita. Tetapi bahkan kita mengatakan; Aku ingin untuk mencintai Tuhan maka itu juga adalah suatu kebohongan bagi kita. Maka doa ini adalah doa yang tepat bagi kita; Berikan kepadaku keinginan untuk aku ingin mencintai Engkau sehingga suatu hari aku sungguh-sungguh mencintai Engkau. Alkitab dengan jelas menyatakan; Seorang yang mencintai Tuhan adalah orang yang mengalami kasih setia Tuhan. Kiranya Tuhan mendengarkan doa kita. Kiranya kita bisa melihat cinta-Nya. Cinta di dalam diri Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^