[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

4 November 2018

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 51

Mazmur 51

Mazmur 51 berisi pertobatan Daud setelah dia berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria. Ini adalah Mazmur yang paling sedih demikian kata Charles Spurgeon. Ini adalah Mazmur ratapan akan seluruh dosanya. Sebelum saya masuk ke dalam satu bagian demi satu bagian dari Mazmur ini, saya mau menegaskan beberapa hal yang penting secara teologia di dalam membaca Mazmur ini. Mazmur 51 adalah bicara mengenai pertobatan Daud dan semua itu bereferensi kepada tulisan Samuel. Melihat apa yang menjadi kejatuhan dari orang-orang sucinya Tuhan, maka sering sekali setan memberikan suatu pikiran yang tidak benar dalam hidup kita dengan mengatakan tidak apa-apa berdosa, karena orang-orang sucinya Tuhan seperti Daud, Nuh, dan Petrus itu berdosa. Tetapi setan tidak pernah menyatakan kepada kita bagaimana mereka itu bertobat dan menanggung seluruh dosa yang kejam itu. Setan tidak pernah menyatakan kepada kita sesuatu ratapan dan juga tangisan yang ada di dalam hati mereka. Sehingga banyak orang ketika berbicara berkenaan dengan Daud, hanya mengingat akan dosanya tetapi tidak mengingat akan ratapannya. Apa yang Alkitab nyatakan dengan menyatakan dosa-dosa orang-orang sucinya Allah adalah untuk membuat kita belajar bahwa hidup manusia yang sehebat apapun itu adalah fragile. Yang kedua adalah untuk menyatakan bagaimana strategi setan yang licik dan juga temptation yang kuat. Hal yang ketiga adalah menyatakan bagaimana Tuhan memberikan sesuatu remedy, jalan keluar. Ketika membahas Mazmur 1, bahwa ada dua orang, orang benar dan orang fasik. Perbedaan antara orang benar dan orang fasik bukan orang benar tidak pernah berdosa, tetapi orang benar itu bertobat akan dosanya. Daud itu bertobat. Orang-orang yang dipakai oleh Allah itu bertobat. Banyak dari kita yang mencibir Daud. Kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa lebih daripada Daud. Itu bukan point-nya. Allah tidak menyatakan bahwa kita itu harus tidak berdosa. Tetapi Tuhan menyatakan bahwa ketika kita berdosa, cepat-cepat harus bertobat. Perhatikan, Daud memiliki dua hati ini yang harus kita miliki. Yang pertama adalah humble heart dan yang kedua adalah repentant heart. Dan dalam Mazmur 51, keseluruhan keinginannya adalah aku ingin bersih dan aku ingin menjadi milik-Mu seutuhnya ya Allah.

Di dalam ayat 1 dikatakan, “Kasihanilah aku ya Allah menurut kasih setia-Mu. Hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” Kemudian kita bisa bayangkan Allah mengatakan kepadanya: “Berdasarkan apa Aku mengasihi engkau?” Maka Daud tidak mengatakan karena aku sudah berkorban banyak kepada-Mu Tuhan. Dia tidak membuat sesuatu pertimbangan antara kejahatan dan kebaikan atau jasanya. Daud mengajarkan satu prinsip ini, pelanggaran manusia hanya dapat diampuni jika dan hanya jika belas kasihan Allah diberikan kepada dia. Dan belas kasihan itu, mercy itu, diberikan bergantung kepada kasih setia Tuhan. Poin utama disini adalah kasih setia Allah. Kalau saudara mau studi konkordansi, maka saudara akan melihat kasih setia Allah itu di dalam seluruh kitab Mazmur itu luar biasa dalam. Mata Daud berfokus kepada kasih setia Allah. Daud bersorak-sorai karena kasih setia Allah. Ketika dia menangis, dia mengatakan kasih setia-Mu. Ketika dia bergembira, dia menyatakan aku bersukacita dalam kasih setia-Mu. Ketika dia berhadapan dengan musuh-musuhnya, dia minta protection karena kasih setia-Mu. Dan ketika dia berdosa, dia menyatakan kasih setia-Mu. Dia dealing dengan Allah langsung kepada satu titik yaitu kasih setia-Mu. Apa itu kasih setia Allah? Di dalam bahasa aslinya, di dalam nuansa teologianya, Allah yang memiliki kasih setia adalah Allah yang memilih seseorang dan Dia bersumpah kepada orang itu,menetapkan hati-Nya untuk mencintai orang itu, Dia akan commit diri-Nya kepada orang itu berapapun saja harganya untuk tetap mencintai orang tersebut, untuk menyatakan cinta-Nya kepada orang tersebut apapun saja circumstances orang tersebut. Maka ketika Daud itu berdosa, dia langsung menghadap Tuhan mengatakan, “Have mercy on me oh Lord berdasarkan kasih setia-Mu.” Itu artinya ‘Tuhan, ingatlah bahwa Engkau sudah berjanji kepadaku, Engkau sudah bersumpah kepadaku untuk terus mencintai aku, untuk berkomitmen kepada aku dengan apa pun saja harganya, apapun saja yang aku sudah lakukan di hadapan-Mu.’  Dia menyebut hal ini bukan take it for granted, tetapi dengan air mata bercucuran. Daud ingin mengatakan bahwa tidak ada yang dapat dia lakukan untuk membayar dosanya, korban bakaran tidak akan membereskan dosanya, binatang-binatang tidak akan bisa menebusnya. “Satu-satunya yang dapat membereskan pelanggaranku hanya Engkau ya Tuhan, yaitu jikalau Engkau mau terus mencintai aku. Engkaulah yang memiliki jalan untuk membereskan pelanggaranku ya Tuhan. Dan Engkaulah yang akan bertindak untuk aku.” Oh ini adalah sesuatu teriakan untuk berharap total kepada Allah. Ini adalah teriakan orang benar, orang yang diurapi oleh Tuhan.

Dan di dalam ayat-ayat selanjutnya, Daud bergumul dengan multi-faceted character and degree of sin. Dosa adalah sesuatu tindakan yang tidak tepat pada sasaran yang Tuhan sudah nyatakan. Di dalam ayat 5 dikatakan, “Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.” Dosa itu adalah suatu pelanggaran. Di dalam bahasa aslinya adalah tindakan melawan Allah, rebel, perlawanan terbuka terhadap Allah. Sebagai contoh saya tetap membuang pen walaupun Darmawan dengan jelas sudah bilang jangan buang pen. Saya melawan yang dikatakannya, dia mau apa? Dan itu adalah dosa. Dosa adalah pelanggaran terbuka di hadapan wajah Allah. Allah itu adalah Allah yang suci. Allah itu adalah Allah yang berdaulat. Dan dosa itu menyerang kedaulatan Allah. Itulah sebabnya maka Daud menyatakan, “Biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorai kembali. Sembunyikan wajah-Mu terhadap dosaku.” Karena dia tahu Allah akan menyerang dia, Allah akan menghancurkan dia seperti seluruh tulang yang akan dihancurkan. Daud kemudian menyatakan, “Aku senantiasa bergumul dengan dosaku.” Multi-faceted character of sin di dalam kalimat Ibraninya itu artinya my sin is in front of me continually. Di dalam Kejadian 4:7, Tuhan berbicara kepada Kain, dosa sudah mengintip di depan pintu, dia sangat menggoda engkau tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Mari kita pikirkan diri kita. Mari kita pikirkan dosa yang terus menerus kita lakukan. Bukankah kalimat ini begitu jelas, my sin is in front of me continually. Engkau harus berkuasa atasnya. Karakter dosa itu bukan penggodaan yang sifatnya one-off, tetapi bersifat continue, sampai kita itu mati. Di tempat yang lain, dosa dikatakan seperti singa yang berkeliling yang siap untuk menerkam engkau jika engkau lengah.

Kemudian Daud mengatakan: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Engkau anggap jahat.” Meskipun dosa yang dilakukan menyerang Uria, maka sebenarnya itu menyerang Allah. Setiap dosa yang kita lakukan terhadap sesama kita, secara ultimate sebenarnya melawan Allah. Di dalam ayat 7 dikatakan, “Sesungguhnya dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung oleh ibuku,” dan itu bicara berkenaan dengan satu karakter dosa, dosa sudah ada dalam hidup kita meskipun kita belum bertindak apapun saja. Setelah Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa, kehidupan setiap manusia tidak sama lagi dengan Adam dan Hawa sebelum jatuh di dalam dosa. Ketika manusia itu lahir, di dalam hatinya sudah ada sesuatu kecondongan terhadap dosa. Ini adalah state of sin di dalam diri manusia sejak dia ada, lahir sekalipun.

Di dalam ayat 6 dikatakan, “Supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Ini adalah sesuatu yang luar biasa yang Daud itu nyatakan. Ingat bahwa Mazmur 51 ditulis setelah Natan menegur Daud di dalam dosanya dan untuk menyatakan kutuk-kutuk dari Allah menghukum dosa Daud. Di dalam 2 Samuel 12:10-14, saya akan menyatakan empat kutuk yang Allah sudah berikan kepada Daud. Di dalam ayat yang ke-10, Allah menyatakan pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya. Ayat yang ke-11, menyatakan malapetaka akan Aku timpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Ayat 12, Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan istri-istrimu di siang hari. Dan ayat yang ke-14 pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati. Ini adalah penghukuman yang dilakukan Allah kepada Daud. Pada waktu itu Natan datang kepada Daud dan menyatakan ada orang kaya dan orang miskin dan kemudian orang yang kaya itu mau berpesta dan dia mengambil domba orang yang miskin itu; satu-satunya domba, Natan kemudian tanya kepada Daud apa yang harus dilakukan dengan case seperti ini? Maka dikatakan bahwa orang yang kaya itu harus dihukum mati dan domba itu harus dibayar empat kali. Kata empat kali itu yang merupakan sesuatu keadilan dari Daud sekarang diberikan Allah kepada dia dengan empat kutuk. Daud sudah mendengar hal ini, tetapi perhatikan Mazmur 51:6: “Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Dia sama sekali tidak mengeluh dengan penghukuman yang luar biasa besar ini. Dia agree, dia menerima. Dan ini adalah ciri orang benar dalam bertobat, dia tidak complain kepada Tuhan, dia tidak menawar-nawar dengan Tuhan. Dia sama sekali tidak mengajukan kasusnya untuk mendapatkan pembelaan di hadapan Tuhan. Kalau saudara-saudara pernah melihat TV berkenaan dengan seorang drug dealer yang ditangkap lalu kemudian polisi bertanya siapa orang yang men-supply-nya, yang menjadi boss-mu? Lalu kemudian selalu orang yang ditawan ini mengatakan kalau saya mengaku, saya mendapatkan keringanan hukuman apa? Di situ dia bargain, tawar menawar, dia merasa ada jasa. Tetapi lihat pertobatan Daud, perhatikan urutannya, kutuk sudah diberikan di depan dan kalau Daud kemudian mengatakan saya sudah berdosa, itu artinya dia harus membuka pintu untuk seluruh kutuk itu jadi dalam hidupnya. Dan terhadap seluruh itu, dia mengatakan Engkau adil, Engkau bersih Tuhan. Luar biasa.

Sebenarnya, seluruh masalah manusia akan bisa dibereskan dengan satu kata kunci ini, yaitu bertobat. Jika keluarga saudara mulai banyak masalah, gereja mulai retak, apapun masalah dunia ini, maka pertobatan akan membereskan banyak hal bahkan seluruhnya karena Allah berkenan akan hidup kita. Perhatikan apa yang dikatakan oleh Thomas Brooks: pertobatan itu satu kunci yang membereskan seluruhnya, tetapi pertobatan adalah hal yang paling sulit di dunia ini. Adalah lebih mudah menghancurkan batu karang daripada sebuah hati yang sudah membatu. Dan bagaimana cara Allah untuk membereskan hati yang membatu? Thomas Brooks mengatakan ini bukan pekerjaan manusia tetapi ini adalah pekerjaan Allah yang bisa membuat seseorang bertobat. Bagaimana Daud disucikan oleh Dia? Daud bertobat adalah dengan pelayanan Firman, with the ministry of Word. Natan datang kepadanya dan berbicara. Kalimat-kalimat Tuhan akan dipakai oleh Roh Kudus untuk menusuk seluruh hati manusia, menghancurkan hati yang keras. Dan itu adalah pekerjaan Tuhan. Ayat 8, “Sesungguhnya Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam memberitahukan hikmat kepadaku.” Kalau saudara-saudara melihat di dalam ayat ini, Daud mengakui sebenarnya Allah sudah berbicara kepada dia. Mari kita introspeksi, bukankah Allah sudah berkali-kali berbicara kepada kita? Ada bisikan yang lembut, ada Firman yang menegur, ada orang-orang atau kejadian yang Tuhan kirimkan sebelumnya untuk mencegah kita di dalam dosa. Ada pengertian-pengertian rasional yang Tuhan berikan untuk dosa tersebut. Sebenarnya dosa selalu sesuatu yang kontra-rasional. Kalau kita tanya kepada Daud, maka dia tidak akan bisa menjawab. Pada waktu itu Tuhan mengijinkan Daud memiliki banyak selir, banyak istri, asal dia mengambil seorang gadis saja, yang tidak bersuami, itu tidak akan menjadi masalah. Jangan berpikir Tuhan memperbolehkan poligami, ini adalah karena ketegaran hati manusia. Kenapa Daud harus berzinah dengan istri orang lain? Perhatikan dosa itu selalu kontra-rasional.

Sekarang kita akan masuk ke dalam ayat-ayat selanjutnya yang jauh lebih penting. Ayat 9-15 menyatakan apa yang Daud pertahankan di dalam keadaan seperti itu meskipun semua hancur. Ini menyatakan hal yang terpenting, value di dalam hidupnya. Di sini Daud meminta untuk Tuhan membersihkan dosanya dengan hisop supaya menjadi tahir. Di dalam kitab Keluaran, hisop adalah tanaman yang dipakai untuk dicelupkan dalam darah domba dan kemudian dioleskan di palang pintu rumah orang-orang Israel dan kemudian Tuhan berjanji jikalau Aku melihat darah itu maka Aku akan melewati rumah itu, tidak akan ada kematian di dalamnya. Itu adalah Paskah Israel.  Dan di dalam Perjanjian Baru, Paskah Israel itu menjadi Paskah Yesus Kristus yang mati dan bangkit. Jadi ayat ini berbicara mengenai ada satu Pribadi yang akan dikorbankan untuk menghapus dosaku yaitu Yesus Kristus. Jadi apa yang bisa membersihkan seluruh pelanggaran kita? Yaitu kasih setia Tuhan yang memberikan mercy kepada kita dan itu dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Selain daripada Yesus Kristus tidak ada yang bisa menebus dosamu dan dosaku, tidak ada yang membereskan murka Allah yang timpa kepada kita karena kita sudah berdosa.

Di dalam ayat 10 dikatakan, “Biarlah aku boleh mendengar kegirangan dan sukacita biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorai kembali sembunyikan wajah-Mu terhadap dosaku.” Hapuslah segala kesalahanku karena hisop itu, karena darah itu, karena darah Kristus kita terhindar dari murka Allah.

Ayat 11 sangat menyentuh saya, “Sembunyikan wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku.” Dalam kitab Yehezkiel, maka Yehezkiel itu diminta oleh Allah membuat suatu peragaan mengenai bagaimana Allah yang murka itu menghukum Israel. Yehezkiel diminta berbaring berhari-hari dengan kepalan tinju dan dengan mata memandang “kota Yerusalem” dan itu adalah tepat seperti ini, dosa membuat Allah memandang seseorang tepat di wajahnya dengan mata-Nya dan kepalan tinju-Nya. Hanya darah Yesus Kristus yang bisa memyembunyikan wajah Allah terhadap dosa kita.

Sekarang ayat 12-13, “Jadikan hatiku tahir ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, jangan mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!” Dikatakan create in me a pure heart, kata yang dipakai dalam bahasa aslinya adalah bara dan itu adalah seperti Allah pertama kali menciptakan Adam. Maka ini adalah suatu penciptaan kembali, re-creation. Daud ingin benar-benar hidupnya di hadapan Allah itu bersih seperti sediakala dan kemudian di dalam ayat 14 dikatakan lengkapi aku dengan roh yang rela, lebih tepat adalah reliable heart, hati yang bisa dipercaya. Hanya Allah yang dapat menciptakan di dalam hati kita, hati yang rela, hati yang bisa dipercaya. Ini bukan berarti bahwa manusia itu robot, tetapi maksudnya adalah kita selalu harus ingat segala sesuatu yang baik pasti merupakan anugerah Tuhan dan pada akhirnya jika hidup kita bisa suci, itu pun adalah karena karya Allah yang hidup di dalam hidupku. Di dalam ayat ini Daud meminta Tuhan membuat dia menjadi seorang yang keinginannya hanya mentaati perintah Allah. Maukah kita meminta Tuhan membuat kita menjadi seorang yang keinginannya hanya mentaati perintah-Nya? Tuhan mungkin akan mengirimkan banyak peristiwa hidup yang kita sendiri tidak suka atau tidak nyaman. Tuhan mungkin menciptakan relasi-relasi yang selama ini membuat engkau berada di dalam dosa kemudian diputuskan. Tuhan mungkin mengirimkan kegagalan-kegagalan kepada kita sehingga kita akhirnya mencari Dia dan akhirnya bisa hidup suci. Dikatakan jangan mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku. Daud menyatakan ketakutannya karena dosanya Tuhan mungkin mengambil roh-Nya. Di dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus diberikan kepada orang-orang tertentu untuk tugas tertentu dan sering sekali ditarik kembali. Kasus yang paling jelas itu adalah Saul. Di dalam 1 Samuel 16 ada sesuatu yang sangat ironi di dalamnya, dikatakan bahwa Allah itu mundur daripada Saul dan pada saat yang sama Allah mengurapi Daud. Di dalam Perjanjian Baru para pemercaya menikmati permanent dwelling of the Holy Spirit. Roh Kudus akan menjadi meterai sampai kita mendapatkan segala sesuatu yang dijanjikan demikian kata Alkitab dan apa pengertian doa Daud ini di dalam konteks Perjanjian Baru jangan membawa Roh-Mu yang kudus dari padaku. Roh Kudus tidak akan ditarik lagi dari dalam hidup kita tetapi di dalam Alkitab dikatakan biarlah kita orang Kristen jangan mendukakan Roh Kudus Allah. Di dalam masa sekarang, doa Daud itu menyatakan kerinduan yang dalam Roh Kudus tetap beraktifitas, bergaul dengan dia, meskipun Daud itu sudah berdosa. Memiliki pergaulan dengan Roh Kudus adalah hal yang paling berharga bagi gereja kita dan diri kita. Tetapi sekali lagi jangan take it for granted, jangan mendukakan Roh Kudus karena suatu saat Dia akan makin lama makin diam dan itu tidak berarti Dia tidak hadir, tetapi itu artinya adalah kita tidak bisa mengenali kehadiran-Nya. Saudara akan kebingungan apa menjadi kehendak Allah, apa yang menjadi tuntunan Allah dan kemudian berusaha untuk merasionalisasikan atau merohanisasikan seluruhnya padahal itu bukan pekerjaan Roh Kudus.

Ayat 14 dikatakan, “Bangkitkanlah kembali kepadaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu.” Perhatikan kalimat ini, the joy of your salvation. Dosa membuat kita menjadi suatu kejijikan di hadapan Allah yang suci menjadikan hidup kita tidak mudah, menjadikan kita tidak mendapat lagi memiliki lagi kesukaan dalam communion with God. Maka hasil dari penerimaan Allah, pengampunan Allah, adalah munculnya kembali kesukaan hidup di dunia ini di hadapan-Nya. Perhatikan, Daud menginginkan bukan saja restore of your salvation tetapi restore the joy of your salvation, ‘the joy’. Ini bicara berkenaan dengan hidup di hadapan Allah di dunia ini. Kesukaan, joy, dari orang-orang yang dipilih oleh Allah itu bukan uang, bukan penghargaan dari manusia, melainkan satu relation dengan Allah sehari-hari. Ada sukacita, ada kegembiraan, ada tepuk tangan, ada kebahagiaan dan itu seluruhnya adalah joy of God’s salvation. Relasi dengan Allah saat ini, di sini.

Sekarang ayat 15. Daud adalah orang yang sudah mengalami kebaikan dari Tuhan. Ketika seseorang sudah merasakan the taste of the sin dan kemudian dia mengalami kebaikan Tuhan, maka dia akan memiliki passion yang besar untuk orang-orang yang berdosa itu bertobat. Daud mengerti satu kata ini, grace/anugerah Allah. Daud memiliki passion yang besar agar kemuliaan Tuhan itu ditegakkan di muka bumi. Orang-orang berdosa kembali bertobat, dan menemukan kehidupannya kembali, Daud menginginkan sebanyak mungkin orang mengalami grace of God.

Selanjutnya, “Lepaskan aku dari hutang darah ya Allah, Allah keselamatanku maka lidahku akan bersorak-sorak memberitakan keadilan-Mu.” Saya akan jelaskan hal ini. Ketika seseorang berdosa, maka dia harus menanggung dua hukuman, yang pertama adalah temporal punishment dan yang kedua adalah eternal punishment. Eternal punishment sudah diampuni di dalam Yesus Kristus. Tetapi yang temporal punishment di dunia ini, terkadang Allah di dalam anugerah-Nya meluputkannya, terkadang Tuhan tetap memberikan punishment ini. Misalnya saja seorang pembunuh. Ketika orang itu bertobat, karena darah Yesus Kristus, pasti dia akan diterima oleh Allah, maka eternal punishment itu akan ditiadakan karena darah Kristus Yesus, tetapi Allah akan memberikan orang ini kepada pemerintah untuk dihukum di dalam penjara dan itu adalah temporal punishment, kekristenan tidak mengajarkan kita bisa melepaskan temporal punishment. Tetapi memang benar, di dalam banyak hal, maka Allah itu sering di dalam anugerah-Nya tidak menghukum kita seberat dari pelanggaran kita. Di dalam ayat ini Daud mengatakan lepaskan aku dari hutang darah. Di sini Allah dealing dengan dia tetap hutang darah itu harus dibayar. Anak Daud itu harus mati, tetapi itu belum akhir dari semuanya, di dalam kasih sayang Tuhan yang besar, ditulis di dalam 2 Samuel 12, bayi yang mati itu akan diselamatkan di surga. Karena Daud mengatakan bukan dia yang akan pergi ke tempatku tetapi aku yang akan pergi ke tempat dia.

Ayat 18 dan 19, di dalam bahasa aslinya sebenarnya ada satu kata yaitu certainty, ini menekankan kepastian pentingnya rendah hati dan bertobat. Ini adalah dasar fundamental ketika kita berelasi dengan Allah. Daud menyatakan kepada kita bukan korban sembelihan yang diinginkan oleh Allah, tetapi hati yang patah dan remuk. Ini bukan berarti kita tidak perlu memberikan persembahan atau juga tidak berarti Tuhan tidak memperhatikan korban yang kita berikan, tetapi Tuhan menginginkan bahwa semua korban pelayanan yang kita lakukan dengan satu hal yang paling fundamental yaitu kerendahan hati dan pertobatan. Sekali lagi kerendahan hati bukan sopan santun melainkan ketaatan. Matthew Henry mengatakan orang yang sungguh-sungguh bertobat tidak akan malu dengan pertobatannya. Daud tidak bisa mempertahankan nama baiknya, bahkan pengikut Saul kemudian mencerca dia, menghina dia, tetapi dia tetap dianggap orang benar di hadapan Allah karena pertobatannya. Daud mengajarkan kepada kita kehormatan pertobatan.

Ayat terakhir, 20 dan 21. Para scholar menyatakan bahwa ayat 20 dan 21 kemungkinan sekali ditambahkan oleh orang-orang dari pembuangan. Orang-orang dari pembuangan, the exiles dapat disamakan, direlasikan dengan pengalaman Daud.  Mereka adalah orang-orang yang berdosa di hadapan Tuhan dan melihat pertobatan Daud seharusnya menjadi pertobatan mereka. Demikian juga kita adalah orang-orang yang berdosa, tidak lebih baik dari siapapun saja, siap sedialah dan selalulah memiliki hati yang rendah dan bertobat dan mintalah apa yang diminta oleh Daud fokuskan hati kita kepada kesucian Allah yang Dia memiliki anugerah dan Dia memiliki kasih sayang karena kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya di dalam Yesus Kristus kiranya kasihan Tuhan memberikan kepada kita hati yang rendah dan pertobatan.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^