[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

21 October 2018

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Mazmur 84

Mazmur 84:1-12

Spurgeon menyatakan Mazmur pasal 23 adalah Mazmur yang paling terkenal. Mazmur pasal 51 adalah Mazmur yang tersedih. Dan Mazmur pasal 84 adalah mutiara dari seluruh Mazmur. Pada pagi hari ini kita akan meneliti mengenai Mazmur pasal 84 dan apa yang Tuhan ajarkan untuk hidup kita. Mazmur pasal 84 boleh dikatakan adalah satu Mazmur meratap. Pemazmur meratap karena apa? Karena menginginkan sesuatu yang sudah hilang untuk kembali kepada dia. Tetapi apa yang hilang? Yaitu Bait Allah atau kehadiran Allah. Di dalam Perjanjian Lama maka Mazmur ini bisa dengan tepat diterapkan di dalam beberapa keadaan. Yang pertama adalah pada saat Israel dibuang ke Babel, jauh dari gunung Allah, yaitu Sion, tempat Bait Suci itu berada. Kejadian kedua di dalam Alkitab yang sangat mengenaskan adalah Daud setelah dia berdosa. Ketika hukuman Allah datang, dia harus keluar dari kerajaannya, menjadi pelarian dan tidak bisa mengunjungi Bait Allah di Yerusalem. Ratapan demi ratapan setiap hari. Daud tidak meratap untuk kembali mendapatkan kerajaannya. Dia meratap untuk bisa kembali beribadah kepada Allah di tengah-tengah jemaat-Nya. Di dalam Perjanjian Baru maka Mazmur ini boleh di-extend, diaplikasikan kepada anak-anak Allah yang merindukan sorga. Jikalau kita benar-benar mengenal Kristus dan bertumbuh, maka akan ada satu kerinduan yang dalam. Sama seperti yang Paulus katakan, aku ingin meninggalkan tubuhku ini untuk berjumpa dengan Allah.

Pada pagi hari ini saya akan mengeksposisi mazmur ini. Mazmur pasal 84 bisa dibagi menjadi empat bagian.

 Bagian pertama,Mazmur 84:1-5 (di dalam bahasa Indonesia). Pemazmur menyatakan ekspresi kerinduan yang dalam kepadatempat kediaman Allah. Tetapi ini bukan sekedar permanentbuilding, tetapi place of God's presence.

 Dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru kita menemukan satu poin yang sama. Kehadiran Allah ada di dalam persekutuan orang percaya yang beribadah di dalam gereja yang sejati, true church. Merindukan tempat kediaman Allah adalah merindukan pribadi Allah sendiri. Alkitab mengatakan pemazmur merindukan kehadiran Allah di dalam persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati, itu adalah God's dwelling place. Di dalam ayat ini saya akan menegaskan mengenai dua hal.

 Hal yang pertama, Alkitab berkali-kali menekankan bahwa kehadiran Allah ada di dalam community. Persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati adalah hal yang bernilai di mata Allah dan yang terindah di dalam dunia. Allah mengirim Musa untuk berbicara kepada Firaun, let my people go, untuk beribadah. Ini adalah panggilan agar sekelompok orang dikeluarkan. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya berdoa. Doa Bapa kamibukan Bapaku. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus mengatakan dua atau tiga orang berkumpul di dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka. Community, bukan solitude, bukan sendirian. Pemazmur merindukan kehadiran Allah dan kehadiran Allah di bumi ini, di dalam persekutuan umat Allah, di dalam gereja yang sejati. Bahkan ketika Allah memakai individu-individu tertentu seperti Abraham, Musa, Yesaya, Yehezkiel, seluruh nabi dan rasul, mereka dipakai oleh Tuhan karena concern Tuhan kepada umat-Nya

 Hal yang kedua, persekutuan umat Allah di dalam gereja yang sejati. Ini penting karena banyak gereja palsu. Di depannya ada nama gereja dan di dalamnya nama Kristus dikatakan tetapi pemerintahan Kristus tidak dijalankan di dalamnya. Ingat Mazmur 1 yang menjadi cara berpikir untuk 150 Mazmur yang lain, saya sudah menyatakan ada satu perbedaan antara orang fasik dan orang benar. Orang fasik suka akan Firman Tuhan yang berisi janji-janji Tuhan, tetapi orang benar menyukai seluruh Firman Tuhan, janji-Nya, perintah-Nya, teguran-Nya, hardikan-Nya. Apakah setiap gereja sama? Jawabannya adalah tidak. Pada zaman Yesus Kristus, ada Bait Allah tetapi juga ada mimbar yang lain yaitu Yohanes Pembaptis, di mana Allah yang hidup itu berada, di mana berada God's dwelling place. Pemazmur tidak menyukai hanya persekutuannya, suasana gerejanya atau musiknya atau persekutuan rekan seiman saja. Bukan. Pemazmur tidak menyukai itu, pemazmur tidak merindukan itu. Pemazmur mencintai satu tempat di mana dia mengalami dan mengetahui Allah itu hidup.

Pada gereja yang sejatilah kita dapat mengalami dan mengatakan Allah itu hidup. Jikalau saudara-saudara mempelajari secara sistematik teologi berkenaan dengan doktrin Roh Kudus, maka saudara akan menemukan ada prinsip permanentand conditional dwelling of Holy Spirit. Roh Kudus itu hadir terus menerus pada orang percaya dan dia tidak akan meninggalkannya. Allah itu hadir di setiap tempat dan Roh Kudus hadir pada setiap gereja. Tetapi Alkitab juga menyatakan secara conditional dwelling of the Holy Spirit, ada tempat-tempat di mana Holy Spirit itu kemudian meninggalkan gereja. Ada tempat di mana Holy Spirit itu menyatakan pekerjaan-Nya secara specific kepada gereja-gereja tertentu. Ada aspek conditional dwelling dari Holy Spirit yang harus dipenuhi aspek-aspek-Nya oleh gereja tersebut. Pemazmur merindukan tempat di mana Holy Spirit itu dwelling. Terhadap tempat itu dia menyatakan bahwa jiwaku hancur. Ini seperti teriakan seorang bayi yang lapar, kelaparan rohani, penderitaan karena sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan kembali. Di dalam Mazmur 84:4, jelas sekali ada kerinduan yang dalam dari Pemazmur. Dia membandingkan dirinya dan iri dengan burung pipit dan layang-layang. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus menyatakan burung pipit itu tidak ada nilainya dibandingkan kita, manusia. Tetapi di dalam bagian ini, pemazmur mengatakan burung pipit itu lebih beruntung daripada dia, karena burung pipit itu bisa dekat di rumah Tuhan tetapi dia tersingkir dari rumah Tuhan. Burung-burung ini keluar hanya untuk mencari makan lalu akan kembali lagi ke pelataran rumah Tuhan. Hidupnya ada di sana, di pelataran rumah Allah. Hidupnya, hatinya, keluarganya di dalam rumah Tuhan. Segala sesuatu yang lain adalah sampingan. Kalau kita adalah family man maka hati kita ada di dalam keluarga. Kita keluar sekali untuk mencari makan, mencari uang, kemudian kita kembali lagi ke dalam family. Kalau orang itu workaholic, hatinya ada pada pekerjaannya atau kantornya. Rumahnya itu hanya tempat singgah saja seperti hotel. Anggota keluarganya itu adalah sampingan, perhatiannya sangat sedikit kepada keluarganya. Tetapi kalau saudara-saudara melihat Mazmur 84 di dalam kacamata Mazmur 1, orang benar itu hatinya ada pada rumah Allah. Yang lain itu adalah sampingan. Hal ini adalah sesuatu yang asing pada zaman kita. Banyak orang pergi ke gereja hanya sebagai visitor saja. Tetapi apa yang ada pada saat ini adalah sesuatu yang asing di mata Allah. Kalau saudara-saudara mau melihat apa yang sesungguhnya ada di dalam gereja yang sejati, maka melihat pada gereja mula-mula. Seluruh aktivitas gereja mula-mula menggambarkan apa yang ada di dalam Mazmur pasal 84 ini, kumpulan orang yang hatinya ada pada rumah Allah.

Mari kita melihat satu bagian Alkitab, Kisah Para Rasul 2:42-47. Jelas sekali dari gereja awal adalah kumpulan orang yang memiliki hati seperti Mazmur pasal 84. Bagi orang yang sungguh-sungguh ditebus oleh Yesus Kristus, ada dua hal yang akan diperhatikan sepanjang hidupnya. Dua hal itu adalah Allah dan rumah-Nya, Kristus dan jemaat-Nya. Jikalau kita sungguh-sungguh mengasihi Allah, kita pasti mengasihi orang-orang yang ditebus oleh Allah. Bukan berarti bahwa orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak bekerja atau orang-orang yang tidak berkeluarga. Tetapi apapun saja yang dipunyainya, bahkan keluarganya akan dipakai untuk memuliakan Allah dan melebarkan pekerjaan pelayanan Allah di tengah-tengah dunia ini. Ayat yang kelima mengatakan berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela. Kumpulan umat percaya adalah kumpulan di mana takhta Tuhan berada. Kumpulan orang-orang yang berlindung kepada Tuhan. Tuhan menjadi pelindungnya satu-satunya. Tuhan menjadi pengharapan satu-satunya. Tuhan adalah masternya, tuannya. Mereka memanggil Allah, my Lord, my Master sehingga pemazmur mengatakan ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Kemudian pemazmur menutup seluruh uraian itu dengan satu kalimat. Orang yang bisa diam di rumah Tuhan, hadir di dalam persekutuan umat percaya dalam gereja yang sejati, yang memuji Tuhan setiap waktu adalah berbahagia. Pemazmur menuliskan Sela. Sela adalah sesuatu kata yang memang unik dan pemazmur menuliskan Sela itu. Ada dua kemungkinan yaitu pause, sesuatu yang sifatnya berhenti, hening. Atau yang kedua adalah sesuatu yang sifatnya keras seperti menyanyi ada crescendo. Ini mau menyatakan penekanan atau sesuatu refleksi yang dalam. Mungkin sekali dia memikirkan seluruh kalimatnya. Dengan seluruh air matanya merindukan satu tempat yang saat ini tidak dia jumpai lagi, tempat di mana persekutuan dengan umat Allah yang sejati di dalam gereja yang sejati.

 Saya akan memberikan sedikit aplikasi di sini. Gereja lokal harus sejati di hadapan Allah. Gereja haruslah menjadi tempat di mana manusia bertemu dengan Allah yang hidup, the living God. Orang-orang yang menemukan gereja tersebut serta berbagian di dalamnya, maka Mazmur ini menyatakan berbahagialah. Orang-orang yang bisa melihatnya, berbahagialah. Karena engkau adalah orang benar. Hanya orang benar yang bisa melihat gereja yang sejati. Hanya orang yang rendah hati mau berbagian di dalam gereja yang sejati. Dunia tidak akan bisa melihat tempat kehadiran Allah di bumi ini. Orang-orang sombong adalah orang-orang yang bisa melihat bahwa Allah itu hadir, tetapi dia tidak mau masuk di dalamnya. Ketika pergi ke gereja, apa yang menjadi fokus kita? Engkau datang untuk mencari apa? Alkitab mengatakan tetapkan hati pergi ke gereja untuk bertemu the living God, bertemu dengan Firman-Nya. Di situlah Allah yang hidup itu bertakhta di tengah-tengah kita.

Bagian yang kedua,Mazmur 84:6-8, tempat kediaman Allah adalah tempat yang dia tuju. Ini adalah ayat-ayat di mana pemazmur mengatakan kepada dirinya sendiri. Orang yang terbuang itu melihat tempat Bait Allah di Yerusalem. Dia berusaha dengan fisiknya, sekalipun seandainya tidak bisa, maka hatinya didekatkan kepada Yerusalem. Yang terbuang ini berusaha untuk menguatkan hatinya sendiri. Dia mengajarkan kepada kita dua hal.

Yang pertama dikatakandiberkatilah orang-orang yang berjalan menuju rumah Tuhan, pergi ke Sion. Sion adalah tempat Bait Suci, perwujudan kehadiran Allah di bumi. Pemazmur mengajarkan kepada kita berjalan, meskipun sambil menangis, terpisah, tetapi seluruh hati dan perjalanan hidup mendekati God's dwelling place. Pemazmur mengatakan akan ada penyertaan Tuhan. Lembah Baka. Itu diperkirakan adalah suatu lembah yang selalu dilewati musafir yang akan ke Yerusalem. Lembah itu adalah lembah kering dan akan terisi air hanya jika ada hujan. Jadi lembah ini benar-benar hanya tergantung kepada berkat Allah. Lembah Baka di dalam bahasa kita sehari-hari boleh diartikan sebagai lembah airmata. Weeping valley – lembah airmata. Orang yang menetapkan langkahnya mendekat kepada bait Allah yang sejati itu tidak mudah, akan ada air mata. Karena orang lain akan berjalan berlawanan arah dengan dia. Tetapi kekuatan Tuhan akan menopangnya. Ada berkat yang membuat dia penuh menjadi mata air. Banyak orang yang menetapkan hatinya kepada tempat kehadiran Allah yang sejati akan diejek oleh dunia. Berkali-kali orang bersaksi kepada kami. Bagaimana dia “diolok-olok” oleh orang lain. Orang dunia tidak mungkin akan melihat keindahannya. Sesuatu yang tidak mudah, kita dianggap orang yang tidak normal. Tetapi tempat di mana Allah sungguh-sungguh hadir, kita tidak akan rugi untuk berjuang bersama-sama di dalamnya, memberikan hati kita di dalamnya, memberikan seluruh uang dan seluruh waktu kita di dalamnya. Ada keindahan karena tempat itu, bukan saja pemazmur yang menyukainya, Allah sendiri menyukainya.

Yang kedua adalah berbicara mengenai kekuatan atau strength. Perhatikan ayat yang keenam: Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau. Dan ayat yang kedelapan: Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. Kekuatan berjalan sebagai musafir di bumi ini adalah kekuatan dari Allah dan kekuatannya itu akan bertambah dan bukan menurun. Kalau sungguh-sungguh menemukan gereja yang sejati, bahkan sejak hari Sabtu pun ada satu api di dalam hati kita.

Bagian yang ketiga, Mazmur 84:8-9, doa orang benar dihadapan Allah.O YAHWEH, God of Covenant, hear my prayer;give ear,O YAHWEH, God of Abraham, Isaac and Jacob. Sela. Dia mengeraskan suaranya dan kemudian dia pause. Mungkin saja dia berpikir apa hak dia didengar oleh Allah. Ada satu pribadi yang dimunculkan dari mulut Pemazmur, Pribadi yang paling penting. Dia mengatakan: Lihatlah perisai kami, ya Allah, pandanglah wajah orang yang Kauurapi! The Anointed One. Pribadi yang diurapi, yaitu Yesus Kristus. Allah oknum kedua yang hadir di tengah-tengah manusia. Alkitab mengatakan lihatlah perisai kami. Siapa perisai Pemazmur? Yesus Kristus. Mengapa dia mengatakan lihatlah perisai kami? Karena prinsip di dalam Alkitab, masalah utama kita adalah Allah yang suci itu murka kepada kita. Tidak pernah ada basis kita bisa berdamai dengan Allah kecuali ada pelindung kita yaitu Yesus Kristus.

Di dalam teologia sistematik. Di dalam doktrin penebusan – atonement, maka akan menemukan dua kata ini yang tidak bisa dipisahkan. Kata yang pertama adalah expiation, kata yang kedua adalah propitiation. Expiation harus terjadi dan kemudian propitiation terjadi. Apakah itu expiation?Expiation adalah satu penutup, menutup, melindungi. Dan propitiation itu adalah meredakan murka Allah. Jadi di sini, Yesus Kristus berada di tengah antara Allah yang murka dan manusia yang berdosa. Yesus Kristus meng-cover manusia yang berdosa dan seluruh murka Allah timpa kepada Yesus Kristus sehingga tidak menimpa manusia yang berdosa. Ketika murka Allah timpa kepada Yesus Kristus, maka murka Allah itu reda. Expiation harus mendahului propitiation. Itulah apa yang dikatakan oleh Alkitab berkenaan dengan “Pandanglah perisai kami, ya Allah”. Yesus Kristus itulah perisai kita. Apa dasar doa kita dijawab? Apa dasar bahwa doamu didengar? Apa dasar engkau dan saya berhadapan dengan Allah saat ini atau pada saat kekekalan nanti berada dalam pendamaian? Alkitab mengatakan tahta-Nya adalah tahta penghakiman. Dan kesucian-Nya seperti api yang menghanguskan. Apa yang bisa membuat kita bisa mendekat kepada Dia? Dia akan memancarkan seluruh panahnya untuk menembus dan mematikan kita. Jangankan berbicara berkenaan dengan permohonan kita didengar oleh Dia, bahkan hidup di depan Dia pun mustahil. Alkitab mengatakan Allah menyatakan: Aku muak kepadamu. Aku mau muntah. Tidak ada kemungkinan yang lain, kecuali engkau berada di dalam Kristus. Bukan di dalam gereja, bukan di dalam agama, bukan di dalam gerakan Reformed Injili, bukan di dalam setiap perbuatan manusia. Satu-satunya perisai kita adalah yang diurapi itu adalah Mesias Yesus Kristus. Dalam biografi Charles Spurgeon, dikatakan bahwa sebelum dia bertobat, dia masuk ke dalam suatu ruangan gereja. Pendetanya kemudian mengatakan kepada Spurgeon yang muda itu: Young man, you look very miserable. Apa yang menjadi remedy untuk engkau young man? Look upon Jesus Christ. Keselamatan itu apa? Dua hal ini akan terjadi pada orang yang diselamatkan. Orang yang berdosa - look upon Jesus Christ dan Allah disorga - look upon Jesus Christ. Hanya ketika Allah di sorga melihat Yesus Kristus dan kita ada di dalam Yesus Kristus, maka kita baru bisa diselamatkan dan teriakan kita di dengar. Dia adalah satu-satunya Juruselamat umat manusia.

Bagian terakhir,Mazmur 84:11-13. Di dalam bagian terakhir ini maka tempat kediaman Allah adalah tempat dibumi ini yang bersentuhan dengan kekekalan. Kata seribu dipakai di dalam Alkitab berbicara tentang multitude- sesuatu yang besar. Kekekalan itu beyond time and space. Semua yang kita kerjakan di dunia ini adalah sia-sia demikian kata Pengkhotbah. Alkitab menyatakan persekutuan umat percaya di dalam gereja yang sejati mendapatkan kekekalan. Berjumpa dengan kekekalan di dalam kesementaraan. Di dalam kitab Pengkhotbah, Salomo mengatakan segala sesuatu adalah sia-sia. Tetapi di dalam kitab Korintus, Paulus mengatakan: segala sesuatu yang aku kerjakan di dalam Kristus tidak akan sia-sia, kekal adanya. Bukan itu saja, penulis mengatakan lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku daripada diam di kemah-kemah orang fasik. Di dalam bahasa Inggrisnya adalah doorkeeper tetapi dalam bahasa aslinya bukan penjaga pintu yang official. Tetapi adalah seseorang yang berdiri di pintu Bait Suci. Pada masa perayaan besar, dia berdiri di sana, dia tidak bisa masuk ke dalam Bait Suci karena sudah terlalu banyak orang berada di sana. Dia sebenarnya memiliki kemampuan untuk keluar dan tidak lagi berada di sana, tetapi dia tidak mau keluar. Dia bisa pergi ke rumah temannya di tenda-tenda orang fasik, orang yang simply tidak pergi beribadah kepada Allah, orang yang lebih suka tinggal di rumah. Terhadap orang-orang itu, dibandingkan dengan tempat yang sangat tidak nyaman itu, maka pemazmur menyatakan lebih baik aku ada di sini, karena aku bisa memandang Allah-ku dan aku bisa melihat Dia hadir. Dia adalah Allah yang hidup. Dan ayat 12-13, pemazmur memuji kebaikan Tuhan. Orang benar tidak akan kekurangan sesuatu yang baik dari Allah. Allah akan mencerahkan dia. Allah akan melindungi dia. Allah adalah matahari dan perisai. Mereka akan menjadi milik-Nya seutuhnya. Mereka akan mengalami perkenanan dan akan diberikan kehormatan dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengandalkan Allah, yang tempat berlindungnya adalah Allah. Tidak seperti orang fasik, dia akan seperti sekam yang ditiup angin dan tidak akan kuat dalam penghakiman.

Saya akan akhiri semua ini dengan merefleksikan beberapa hal ini. Yang pertama adalah ratapan ini tidak dimiliki oleh dunia. Apakah engkau sungguh-sungguh sudah takluk di dalam Yesus Kristus atau tidak? Adakah Roh Kudus di dalam hatimu? Hanya orang-orang yang dilahirbarukan yang memiliki ratapan ini, yang mengenal the beauty of the Lord and the beauty of the Lord’s church. Hanya Roh Kudus saja yang bisa membuat kita jeli akan keindahan gereja, kehormatan gereja dan harga sebuah gereja. Gereja adalah isi hati Tuhan, rumah Tuhan, mempelai wanita Kristus. Orang Puritan mengatakan gereja disebut sebagai rumah Tuhan karena itulah tempat yang paling disenangi Tuhan dan tempat Tuhan hadir di atas bumi ini. Ada beberapa jenis orang berespon terhadap rumah Allah. Minimal 4 hal ini. Orang dunia tidak melihat dan mengalami kehadiran Allah dalam gerejanya. Kedua, Orang Kristen yang sombong melihat Allah hadir tetapi dia tidak merendahkan diri dan pergi ke sana. Dia hanya akan mau pergi ke tempat di mana dia dihargai, mukanya tidak pernah dicoreng, hatinya tidak pernah dilukai, di mana dia bisa mendapatkan tempat untuk dia dihormati. Kesombonganmu akan menghancurkan hidupmu. Orang yang ketiga adalah orang Kristen yang buta dan ignorant. Hanya pergi ke Bait Suci karena tugas, karena hari ini hari Minggu. Hanya untuk mengisi sense of divinity saja. Tetapi ada orang Kristen yang keempat. Meskipun orang ini mungkin tidak banyak jumlahnya. Orang yang sungguh-sungguh mengetahui Allah ada di mana. Dia mau merendahkan dirinya untuk pergi ke sana. Orang-orang ini adalah orang-orang pergi ke tempat Yohanes Pembaptis berkhotbah. Meskipun sulit, tidak ada uang, di padang belantara, khotbahnya sulit dan sangat keras menegur dosa tetapi Roh Kudus ada di sana. Dia mengetahuinya, menghargainya dan mau bersama-sama berjuang di sana.

Hal yang kedua. Apakah kita sudah kehilangan kerinduan seperti Mazmur 84 ini? Kehilangan sense ketakjuban akan gereja Tuhan sehingga tidak bisa lagi mengasihi dan memuji keindahan gereja Tuhan? Apakah hatimu mulai flat? Tidak ada kegairahan pergi ke rumah Tuhan? Jikalau itu terjadi, masalah utamanya adalah diri kita pribadi. Dosa yang ada di dalam diri kita pribadi. Pemazmur mengatakan hal terpenting yang menjadi kegairahan kita seharusnya adalah Allah dan bait Allah. Yang terakhir yang ketiga. Mazmur 84 ini mengingatkan kita tempat solemn kehadiran Allah di bumi ini. Mengantisipasi waktu di depan kita, di mana kita tidak lagi bisa bergerak, tidak bisa lagi pergi ke tempat Allah bertahta dan hadir di muka bumi ini. Hal ini akan terjadi. Mungkin kita sakit, mungkin kita tua, mungkin kita dibuang oleh Tuhan, mungkin saja tempat itu sudah dirusak oleh musuh-musuh Tuhan, mungkin kita berdosa dan kemudian pergi dari rumah Tuhan dan tidak bisa kembali. Mazmur 84 ini kita hanya akan baca dari kejauhan. Ketika ini belum terjadi, bertobatlah, datanglah, buka hatimu dan biarlah Tuhan Yesus Kristus menjadi rajamu, takluklah. Sehingga kita boleh menyatakan kepada Tuhan: Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, Ya TUHAN semesta alam. Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Hargailah Allah yang ada di tengah-tengah kita dan seluruh pekerjaan-Nya di dalam gereja-Nya. Kiranya Tuhan menaklukan hati kita. Jangan keraskan hati. Takluklah dan lihat bagaimana Tuhan memberkati. Mari kita berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^