[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

7 October 2018

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Doa Bapa Kami (5)

Matius 6:8-9

Suatu hari murid Yesus datang kepada Yesus dan berkata, “Ajar kami berdoa!” Dan kemudian Yesus mengatakan, “Jikalau engkau mau berdoa, berdoalah demikian, ‘Bapa kami yang di sorga.’” Tetapi sebelum Yesus mengatakan hal tersebut Yesus mengatakan janganlah kamu sama dengan mereka, sama seperti orang-orang kafir yang tidak mengenal Allah, yang berdoa dengan bertele-tele. Karena Bapamu di sorga mengetahui sebelum engkau memintanya. Tetapi kalimat Yesus ini bukankah sesuatu yang unik? Mengapa saya harus berdoa jikalau Tuhan sudah tahu apa yang saya minta? Mengapa saya harus berdoa, jikalau Tuhan tahu apa yang saya butuhkan? Lebih lanjut lagi, mengapa saya harus berdoa, jikalau Tuhan sudah menetapkan sesuatu? Mengapa saya harus berdoa, jikalau Allah itu berdaulat? Hari ini saya akan berbicara mengenai kedaulatan Allah di dalam relasinya di dalam doa kita. Tetapi sebelum saya masuk lebih lanjut, saya mesti mengatakan pada saudara-saudara, saya tentu tidak bisa menyelesaikan seluruh pergumulan antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ini tuntas dalam satu kali khotbah. Dan lebih lanjut lagi, sebenarnya kalau saudara-saudara mengetahui pergumulan mengenai kedaulatan Allah dan kebebasan manusia itu adalah salah satu dari dua masalah teologia yang paling sulit yang ada. Para scholar mengatakan ada 2 masalah teologi yang paling rumit. Yang pertama adalah bagaimana kita menyelaraskan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Apakah saya memiliki kebebasan? Jikalau aku memiliki kebebasan apakah Allah berkehendak dan berdaulat? Jikalau Allah berdaulat apakah saya bebas? Jikalau Allah berdaulat apakah saya harus bekerja keras? Apakah pekerjaan keras saya itu akan mengubah nasib saya? Jikalau Allah sudah berdaulat apakah saya tidak bisa mengubah nasib saya? Akan banyak sekali pertanyaan yang terjadi. Di dalamnya ada misteri, di dalamnya ada paradoxical. Dan masalah kedua di dalam teologia adalah problem of evil. Dari mana evil? Jikalau pertama kali hanya ada Allah yang suci dan baik, dari manakah kejahatan? Jikalau Allah yang baik itu menciptakan semua yang baik termasuk malaikat, kenapa malaikat bisa menjadi setan? Siapa yang menipu dia? Dari mana dosa itu berasal? Dan juga dalam kasus Ayub kenapa orang benar itu menderita? Seluruh kalimat ini membutuhkan jawaban berbulan-bulan, tetapi tetap akan ada misteri dari Alkitab. Saya tidak bisa secara tuntas membereskannya di dalam khotbah. Meskipun saya menjelaskannya, tetap di dalamnya ada hal-hal yang misteri dan paradox. Tetapi di dalam urusan berdoa sebenarnya kedaulatan Allah tidak menghambat kerajinan dan ketekunan kita berdoa. Jikalau kita tidak rajin dan tidak tekun berdoa karena kita menganggap bahwa Allah itu berdaulat pasti ada sesuatu yang salah di dalam konsep kedaulatan kita.

Saudara-saudara, perhatikanlah sejarah. Bapak-bapak Reformasi dan orang-orang Puritan adalah orang-orang yang memiliki teologi kedaulatan Allah yang ketat. Tetapi mereka adalah orang-orang yang tekun berdoa. Martin Luther dikatakan bahwa dia memimpin seluruh gerakan reformasi dengan lututnya. John Calvin disebut sebagai man in fellowship of God. Jika saudara-saudara memperhatikan kehidupan John Knox, Bapak Reformasi dari Skotlandia. Lawan dari John Knox adalah Ratu Mary dari Skotlandia. Ratu Mary menyatakan saya lebih takut dengan doanya John Knox jika dibandingkan seluruh tentara Eropa bersatu menyerang saya. Kalau saudara-saudara melihat dari orang-orang Puritan yang lain, mereka adalah orang-orang yang terus menerus menjadi pendoa-pendoa yang ketat, yang tangguh. Anthony Birch misalnya mengkhotbahkan 145 kali khotbah mengenai doa Yohanes 17. Matthew Henry misalnya, dia mengkhotbahkan A Method of Prayer, bagaimana seorang Kristen berdoa. Belum lagi John Bunyan, belum lagi dari William Perkins dan John Owen. Suatu hari John Owen berlutut, dia mengambil kapur dan kemudian melingkari tempat berlututnya. Dan kemudian dia mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan berikan kebangunan rohani mulai dari lingkaran ini. Aku tidak akan berdiri sebelum Engkau memberikan api kepadaku.” Semua orang Reformed adalah orang-orang seperti ini. Mereka memegang kedaulatan Allah, tetapi mereka memiliki api untuk berdoa. Jikalau kita tidak berdoa, dan kita tidak tekun berdoa, dan dalam pikiran kita adalah karena Allah berdaulat, pasti ada sesuatu yang salah dalam pikiran kita. Suatu hari, ada seorang yang datang kepada Thomas Shepard, seorang scholar puritan yang ada di Amerika, meminta petunjuk untuk menggambar denah rumah. Thomas Shepard kemudian melihat dari gambar yang dibawa oleh orang tersebut dan kemudian dia bertanya, “Tuan, di mana kamar doanya di denah rumah ini?” Dan orang ini mengatakan, “Aku bisa berdoa di mana saja di dalam rumah ini. Dan Thomas Shepard orang puritan itu mengatakan, “Hari, di mana rumah di Amerika tidak ada kamar doa secara khusus, hari itulah permulaan kejatuhan dari Amerika.” Orang-orang besarnya Tuhan adalah orang-orang berdoa. Di mana orang-orang Reformed yang berdoa? Di mana orang Reformed yang melihat kedaulatan Allah, Allah yang duduk di atas tahta dan memiliki api di dalam doanya? Kita mewarisi teologia. Ketika saudara datang ke gereja Reformed, dan mengatakan khotbahnya bagus, itu bukan hal yang penting. Ketaatan kita itulah hal yang penting. Dan kalau saudara-saudara melihat di dalam Alkitab, siapakah yang mengajar kita konsep tentang kedaulatan Allah? Abraham adalah seorang pendoa. Musa adalah seorang pendoa. Nehemia adalah seorang pendoa. Mereka semua mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu berdaulat. Dan bukan itu saja, Yesus yang menyatakan kedaulatan Allah dan Dia adalah pemimpin/kepala dari gereja. Minggu yang lalu kita sudah melihat Dia adalah seorang yang di dalam segala keadaan berdoa. Kalau kita tidak berdoa, maka ada sesuatu kesalahan teologia di dalam diri kita. Hari ini saya akan membicarakan kedaulatan Allah, tentang apa yang diajarkan di dalam Alkitab. Dan saya berharap Roh Kudus mengajarkan kita dan mengoreksi kita ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah. Ada beberapa hal yang saya akan tegaskan dalam hal ini.

(1) Ketika Alkitab mengajarkan kita tentang bagaimana kedaulatan Allah maka itu sebenarnya adalah penghiburan bagi umat pilihan. Ketika Alkitab menyatakan tentang kedaulatan Allah, maka itu bukan sesuatu yang negatif, bukan sesuatu yang menyerang kita umat pilihan-Nya. Ketika kita berbicara tentang kedaulatan Allah maka itu adalah artinya penghiburan bagi kita umat pilihan. Saudara-saudara perhatikan satu kalimat di bawah ini, tempat yang paling aman bagi kita, umat pilihan Allah adalah ke dalam kedaulatan-Nya. Roma 8:28, ini adalah satu ayat Alkitab yang penting sekali. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu bagi mereka yang mengasihi Dia. Benarkah segala sesuatu, Paulus? Bahkan sesuatu yang evil? Bahkan sesuatu yang aku tidak suka? Paulus mengatakan iya. Karena hidup kita ada di dalam kedaulatan-Nya. Di dalam kedaulatan Alah, sejahat apapun akan dibuat menjadi kebaikan bagi kita umat pilihan. Ketika saudara-saudara bukan umat pilihan, saudara tidak bisa mengatakan akan janji ini. Jikalau engkau tidak bertobat akan dosamu, jikalau engkau tidak berada di bawah ke-Tuhanan dari Yesus Kristus, jikalau engkau hanya pergi ke gereja tetapi tidak menundukkan dirimu kepada keTuhanan-Nya, maka janji ini bukan menjadi milikmu. Tetapi jikalau seluruh hidup kita ada di bawah kedaulatan-Nya, di bawah kepimpinan-Nya, Alkitab mengatakan segala sesuatu, mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang berada di dalam pilihan.

Mari kita melihat dari satu peristiwa yang sebenarnya sangat tidak mengenakkan di dalam Alkitab, Lukas 2:1-7. Suatu hari Kaisar Agustus dari Roma membuat suatu sensus yang akhirnya membawa semua manusia di bawah pemerintahannya kembali ke kampung halamannya, termasuk Yusuf dan Maria. Saudara-saudara coba pikirkan, siapakah Yusuf dan Maria? Orang kecil. Kalau kita tidak membacanya di dalam Alkitab mereka bukan siapa-siapa. Tetapi siapakah Kaisar Agustus? Penguasa Roma. Dan Roma pada waktu itu adalah penguasa dunia. Kekuatan Roma lebih besar daripada Amerika pada saat ini. Kalau saudara-saudara melihat dalam sejarah, saudara-saudara akan memiliki enam kerajaan yang paling besar melebihi daripada kerajaan-kerajaan masa kini: Mesir, Asyur, Babilonia, Media Persia, Yunani, dan Roma. Dan pada saat itu Roma yang berkuasa. Dan suatu hari Kaisar Agustus mau mengadakan sensus. Ini bukan sekedar hanya mendaftarkan saja, ini adalah gerakan kesombongan. Dia mau menyatakan berapa banyak jiwa yang aku kuasai. Satu perintah keluar dari mulutnya, jutaan orang bergerak. Luar biasa kekuatannya. Dan pada akhirnya, Yusuf dan Maria harus bergerak ke Betlehem dari Nazaret. Berhari-hari jalan, tidak ada mobil, tidak ada pesawat. Tetapi yang lebih bermasalah adalah Maria sedang hamil tua. Ini cari perkara. Maria sedang hamil tua dan jalan dari kota Nazaret ke Betlehem. Jalan kaki, tidak ada rencana sebelumnya. Dipaksa oleh orang yang jahat. Dan kemudian dia masuk ke kota itu. Alkitab mengatakan kota itu sudah penuh dengan penduduk yang lain. Dia kemudian ketuk satu pintu demi satu pintu, bertanya apakah ada tempat untuk istrinya melahirkan? Tidak ada. Maria dan Yusuf saling berpandangan, kenapa hidup seperti ini? Kenapa kita harus diatur oleh orang yang tidak kita kenal? Kalau ini keguguran bagaimana? Dia ketok tempat lain lagi, dan orang tersebut mengatakan, “Tidak ada, kalau mau ya kandang sapi itu.” Kemudian Yusuf berpikir kenapa tidak? Istriku sudah mulai keluar air ketubannya. Dibawa istrinya cepat-cepat. Dia bersihkan semuanya sebisa mungkin, sebersih mungkin. Lalu Maria menengaduh, dia teriak, dan kemudian bayi itu keluar di Betlehem, di kandang sapi, di tempat yang bau. Apakah ini akibat Kaisar Agustus? Tidak, karena Alkitab mengatakan Allah berdaulat. Apakah engkau tahu Kaisar Agustus, engkau merancangkan yang jahat kepada umat-Ku tetapi Aku sudah merancangkan yang baik untuk dia? 600 tahun sebelumnya, aku sudah berkata-kata kepada nabi-nabi-Ku, “Hai Betlehem, kota yang kecil itu. Engkau tidak lagi kecil, karena Mesias akan lahir di kotamu.” Aku sudah merancangkan dan itulah kedaulatan Allah. Saudara bisa bayangkan jikalau Allah tidak berdaulat, Yusuf dan Maria akan menjadi permainan orang-orang di dunia ini. Hidup mereka akan diatur, diperintah sesuka-sukanya oleh pembesar dunia ini. Kedaulatan Allah membuat apapun yang terjadi pada Yusuf dan Maria sekalipun dilakukan oleh orang yang jahat akan memiliki nilai kekal. Dan itu adalah penghiburan kita.All things, segala sesuatu, bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan untuk umat pilihan-Nya

Sekarang saya membawa saudara-saudara kepada Kejadian 50:20. Dan saudara bisa melihat sekali lagi kedaulatan Allah begitu jelas. Ini adalah satu ayat yang menghibur. Yusuf di akhir dari seluruh kitab Kejadian ini menyatakan kepada saudara-saudaranya bahwa memang kamu merancangkan yang jahat bagi aku. Saudara -saudara bisa melihat, pasal demi pasal Yusuf dijahati oleh keluarganya. Dan dia begitu sangat menderita hidupnya. Dia terlepas dari orang yang dikasihinya, yaitu Yakub, papanya. Tetapi Tuhan memakai seluruh rancangan yang jahat untuk membawa Yusuf menuju ke Mesir. Sehingga seluruh anak-anak Yakub (Israel) diselamatkan dari kelaparan yang besar. Dan Yusuf mengatakan, “Engkau merekakan sesuatu yang jahat kepadaku. Tetapi Allah bekerja dan dengan tangan yang tidak terlihat.” Dengan kedaulatan-Nya membuat segala sesuatu yang jahat itu menjadi kebaikan. Perhatikan baik-baik, ketika saudara dan saya berbicara mengenai kedaulatan Allah, kita mesti bertobat. Kita berpikir Allah berdaulat sesuka-suka-Nya. Tetapi saudara-saudara lupa bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang suci, yang baik, dan yang benar. Ketika Alkitab menyatakan Allah itu berdaulat, ini adalah penghiburan bagi kita di dalam Kristus Yesus.

(2) Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu berdaulat maka itu menyatakan Allah yang baik, yang suci dan penuh kasih setia itu memegang sejarah. Dan pada saatnya, pada waktunya, maka orang-orang fasik tidak akan dapat terus bertahan. Ada satu bagian Alkitab yang begitu jelas sekali berbicara mengenai kedaulatan dan kefasikan itu kemudian dihancurkan. Di dalam Daniel 7, Daniel memiliki suatu penglihatan yang berbicara mengenai empat binatang yang buas. Dan empat binatang yang buas itu: binatang yang pertama rupanya seperti singa, yang kedua adalah beruang, yang ketiga adalah macan tutul, dan yang keempat itu tidak terkatakan, Alkitab mengatakan binatang yang sangat menakutkan. Dan keempat itu adalah mewakili sekali lagi: Babel, Media Persia, Yunani, dan Romawi. Tetapi Daniel tidak menutup mimpinya dengan empat binatang yang menakutkan itu. Alkitab mengatakan keempat binatang itu akan dihancurkan oleh satu Pribadi yang rupanya seperti Anak Manusia, yang ada di awan-awan. Daniel pasal yang ketujuh ini, menyatakan bahwa satu Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Dialah yang menjadi pemenang dari seluruh pertempuran dengan dunia ini. Mereka semua adalah orang-orang yang jahat, pemimpin-pemimpin dunia yang begitu jahat, mereka sudah menghancurkan dan sudah mengalirkan darah jutaan manusia. Tetapi Alkitab mengatakan, “Engkau bukan akhirnya, hai orang-orang yang jahat. Anak manusia itu yang berdaulat dan bukan engkau. Dan pada waktunya, Dia akan menunjukkan kedaulatan-Nya dan siapapun saja yang ada di singgasana, engkau harus turun.”

Ada satu bagian dalam Alkitab yang jelas sekali menunjukkan dua hal ini lagi. Mari kita melihat Yesaya pasal yang keenam. Dan saudara bisa melihat bagaimana Yesaya itu menyatakan kepada kita kedaulatan Allah, dan kesia-siaan manusia, raja sekalipun. Yesaya 6:1. Ada satu permainan kalimat di sini. Saudara apakah tidak terpesona dengan penglihatan ini? Yesaya dengan jelas sekali menyatakan kedaulatan Allah. Tetapi bukan itu saja, dia membandingkan dengan manusia. Dia mengatakan pada tahun raja itu mati, aku melihat Tuhan di atas tahta. Apakah artinya kedaulatan Allah yang diajarkan oleh Alkitab? Artinya adalah let God be God and let man be man. Hai semua orang fasik, hai semua orang berdosa, engkau bersenang-senang saat ini. Engkau berpikir bahwa engkau bisa mempermainkan sejarah. Engkau berpikir bahwa engkau dapat mempermainkan kehidupan. Hidupmu bukan milikmu. Allah itu berdaulat. Akan ada satu hari maka Allah yang berdaulat itu mengatakan cukup. Dan engkau akan melihat bagaimana seluruh jenderal dan penguasa dunia akan hancur pada hari mereka mati. Aku melihat Allah itu tetap di atas tahta tidak bergoncang. Itulah kedaulatan Allah. Itulah yang menjadi kekuatan seluruh hamba Tuhan. Itulah yang menjadi kekuatan seluruh misionaris. Itulah yang menjadi kekuatan hamba-hamba Tuhan yang diutus ke mana pun saja, ke tempat yang paling berbahaya sekalipun. Mereka mengalami kesulitan. Mereka mengalami air mata. Mereka mengalami kemiskinan. Mereka mengalami aniaya. Tetapi engkau akan melihat bahwa mereka tetap kuat. Kenapa mereka tetap kuat? Karena intinya rahasianya adalah satu, mereka melihat satu Pribadi di atas sana, duduk di atas tahta yang tidak bergoncang. Allah yang berdaulat. Itulah yang dilihat oleh Stefanus. “Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah Bapa” dan Stefanus tidak takut sama sekali menerima seluruh batu yang sampai ke kepalanya sampai dia mati. Saya sangat hancur hati ketika melihat satu tulisan ini. Orang Puritan adalah orang yang pernah memandang wajah Allah. Dan orang yang pernah memandang wajah Allah tidak akan peduli dengan wajah siapapun saja di dunia. Engkau mau sombong? Engkau ingin dihargai? Engkau berpikir bahwa engkau harus diperhitungkan? Jikalau engkau bertemu dengan hamba Tuhan yang palsu engkau bisa mengatakan itu. Dia akan takut kalau engkau pergi dari gereja. Tetapi hamba Tuhan itu sejati, dia pernah melihat wajah Allah. Dia tidak mempedulikan apapun saja. Yang dia pedulikan hanya satu. Apakah Allah itu berkenan atau tidak. Dimana orang-orang jahat itu? Mereka semua mempermainkan dunia ini. Mereka melakukan kejahatan dan kemudian menyiksa manusia. Alkitab mengatakan hanya satu Pribadi yang bisa mengatakan, "I am the Alpha and I am the Omega." Dan itu adalah Yesus Kristus yang berdaulat. Ketika saudara dan saya membaca kedaulatan Allah. Itu artinya adalah Allah yang memegang sejarah. Allah yang akan menundukkan orang-orang fasik pada waktunya.

(3) Ketika Alkitab berbicara mengenai kedaulatan Allah itu tidak berarti bahwa itu adalah sesuatu yang sempit, sesuatu yang fatalism. Banyak orang-orang Kristen yang melihat kedaulatan Allah seperti konsep takdir di dalam agama Islam. Tidak, bukan itu. Bahkan saudara-saudara sering sekali salah paham. Salah satu doktrin daripada Alkitab yang sulit dimengerti adalah predestinasi. Bahwa Allah itu memilih sebagian orang sebelum dunia dijadikan. Kemudian kita berpikir kalau Allah sudah memilih berarti ini seperti takdir. Tetapi Alkitab menyatakan Allah memilih untuk kita dikasihi oleh Dia. Kita dipilih untuk dikasihi. Kita dipilih untuk menjadi suci. Di dalam Roma 9, Alkitab menyatakan pilihan-Nya adalah berdasarkan kemurahan hati-Nya. Alkitab tidak mengatakan bahwa pilihan-Nya berdasarkan kesuka-sukaan-Nya Dia. Tetapi bukan itu saja. Ketika kita berpikir mengenai kedaulatan Allah, Alkitab mengajarkan kepada kita Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia memberikan kebebasan kepada manusia. Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa berkat-berkat-Nya diberikan kepada kita hanya dengan jalan berdoa, diberikan kepada orang-orang yang bertobat. Allah itu berdaulat dan dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa orang yang mencari Dia dengan sepenuh hatilah yang akan dikasihi oleh Dia.

Sekali lagi, Allah itu berdaulat dan di dalam kedaulatan-Nya Dia menentukan bahwa berkat-berkat-Nya diberikan melalui sarana umat-Nya itu berdoa. Jadi mengapa kita harus berdoa? Jikalau Allah berdaulat mengapa saya harus berdoa? Kalau Allah berdaulat saya tidak perlu berdoa. Bukankah kalau Allah berdaulat maka saya pesimis dan pasif saja? Saya tidak perlu melakukan apa saja. Tetapi tidak. Alkitab mengatakan ketoklah, mintalah, carilah, dengan tekun. Jikalau orang-orang di dunia yang jahat itu saja tahu memberikan yang baik bagi anak-anaknya, apalagi Bapamu di sorga tahu memberikan yang baik bagi kita. Tekunlah berdoa. Kenapa Tuhan? Kenapa saya mesti berdoa? Yesus Kristus mengatakan, “Berdoalah karena Bapamu di sorga itu mengerti apa yang engkau perlukan.” Jikalau Engkau sudah mengerti, jikalau Engkau sudah menetapkan, dan jikalau Engkau sudah berdaulat, kenapa saya mesti berdoa? Karena Allah yang berdaulat itu sudah menetapkan bahwa berkat-berkat-Nya bisa diterima oleh kita yang sungguh hati mencari Dia. Itulah sebabnya semua orang-orang Reformed yang mengerti kedaulatan Allah ini mereka rajin berdoa.

Dan saya akan akhiri khotbah ini dengan satu pemikiran ini. Jikalau Allah berdaulat, kenapa aku berdoa? Maka jawabannya adalah karena doa itu sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekedar meminta. Karena doa itu adalah sesuatu relation. Doa melebihi daripada permintaan. Banyak dari orang Kristen memberlakukan Allah seperti tukang listrik. Jikalau listrik itu tidak mati, saudara tidak pernah akan kepikir untuk mengundang tukang listrik itu. Saudara bahkan tidak tahu namanya siapa. Saudara tidak peduli dengan dia. Saudara tidak pernah berpikir tentang dia. Sampai kemudian listrik di rumah saudara mati. Banyak dari kita itu memperalat Allah. Ketika kebutuhan itu sudah mendesak maka kemudian baru kita itu berdoa. Jikalau itu belum dijawab, maka kemudian kita berdoa lagi. Saudara dan saya tidak pernah peduli dengan Allah kalau seluruh dari kehidupan kita lancar. Kita harus bertobat. Let God be God, let men be men. Alkitab mengajarkan kepada kita berdoa itu bukan cuma sarana meminta. Berdoa itu intinya adalah menjalin relasi yang intim dengan Bapa kita di sorga. Adalah tidak salah tentu kalau kita itu memiliki permintaan, kebutuhan dan kemudian kita meminta. Biasanya kita datang kepada Allah dengan permintaan sama seperti seorang anak kita meminta kepada kita bapanya. Dan kadang bapanya memberikan kepada dia, kadang menunda, kadang bapanya menolak memberikan, kadang bapanya itu men-setup kondisi yang lain untuk anaknya. Di dalam relasi anak dan bapa di mana anak itu meminta, ayahnya mungkin menolak permintaan anak itu karena itu bukan yang terbaik baginya, suatu hari anaknya bakal mengetahui bahwa permintaannya adalah permintaan yang konyol. Di lain pihak ayahnya mungkin menunda permintaan anaknya karena permintaan anak itu adalah sesuatu yang sebenarnya temporary, suatu hari dia tidak akan meminta itu lagi. Kadang bapanya menunda permintaan anaknya sehingga anak itu bisa belajar significancy apa yang dia minta. Atau mungkin papanya akan menahan sampai anaknya itu tahu bagaimana meminta secara appropriate. Tetapi lebih daripada itu sebenarnya, anak itu datang kepada bapanya dan tidak meminta apa-apa. Tetapi hanya terdiam dan hanya ingin berjalan berdua bersama dengan bapanya. Saudara-saudara, datanglah kepada Allah Bapa di sorga tanpa meminta. Katakan kepada Dia, “Bapa aku datang di hadapan-Mu. Hari ini aku tidak meminta apa-apa. Aku datang karena hanya ingin bersama-Mu. Aku datang karena aku ingin menikmati Engkau. Aku datang hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena dari seluruh berkat-berkat-Mu, Engkau sendirilah berkat terbesar itu.” Dan kemudian kita terdiam. Masuk di dalam the presence of God. Menghormati Dia, belajar akan kesucian-Nya dan disegarkan oleh kehadiran-Nya. Doa lebih dari sekedar meminta. Doa itu adalah sarana yang dipakai oleh Allah untuk kita menghampiri Dia untuk intim dengan Dia. Masuklah lebih intim kepada Bapa kita di sorga, melampaui seluruh daripada kebutuhan kita. Dan kiranya Dia menjadi penghiburan bagi kita.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^