[simple_crumbs root="Home" /]
kembali

26 August 2018

Pdt. Agus Marjanto, M.Th

Doa Bapa Kami (1)

Matius 6:1-9

Matius 5-7 adalah tentang pengajaran kotbah di bukit. Sebagian besar dari pengajarannya adalah Yesus Kristus memberikan pengajaran-pengajaran yang dalam berkenaan dengan apa yang menjadi prinsip hidup di dalam kerajaan Allah. Dan itu selalu akan berseberangan dengan apa yang diajarkan oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Di dalam pasal keenam maka saudara-saudara menemukan ada tiga pengajaran Yesus yang menentang pengajaran dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Dan itu seluruhnya adalah tindakan luar agamawi dari orang-orang Yahudi dan ini adalah elemen dasar dari seluruh religion. Tiga hal ini yaitu memberi sedekah, berdoa, dan juga berpuasa. Orang Yahudi memiliki pikiran ketika engkau berdoa, engkau menjalani setengah dari perjalanan ke Surga. Ketika engkau memberikan puasa maka engkau menjalani setengahnya lagi sampai di depan pintu Surga. Tetapi ketika engkau memberikan sedekah dengan generous maka engkau membuka pintu Surga. Ini adalah prinsip dari pikiran orang-orang Yahudi. Apapun saja agama saudara, saudara pasti akan mendapatkan pengertian dari tiga bagian ini. Hal yang pertama adalah bicara mengenakan relasi dengan Tuhan itu adalah doa, yang kedua bicara tentang relasi dengan sesama manusia yaitu memberi dan ketiga adalah berelasi dengan diri sendiri yaitu berpuasa.

Hari ini kita akan berbicara mengenai apa yang Yesus katakan berkenaan dengan berdoa. Kalau Tuhan memimpin, maka ini akan menjadi seri yang cukup panjang karena ini akan bersangkut-paut dengan doa Bapa kami. Tetapi pada hari ini saya tidak akan masuk lebih detail terlebih dahulu berkenaan dengan eksposisi ayat 5-8, tetapi saya akan mengambil prinsip dari ayat kelima dan kedelapan dan kemudian saya akan meluaskannya. Saudara-saudara, saya akan memakai jalan sedikit memutar untuk membukakan kepada saudara-saudara apa yang Alkitab katakan berkenaan dengan doa yang tidak dijawab oleh Allah. Di dalam ayatnya yang kelima sampai kedelapan saudara akan menemukan dua jenis manusia, yaitu orang Farisi dan gentile. Yesus mengatakan jikalau engkau berdoa jangan seperti mereka dan orang-orang yang berdoa seperti mereka pasti Bapa di Surga tidak akan mengabulkannya. Tetapi kalau saudara-saudara melihat dari seluruh prinsip total dari Alkitab, maka Alkitab mengajarkan kepada kita bukan cuma dua saja keadaan manusia yang berdoa kepada Allah yang tidak dijawab oleh Allah. Di dalam hari ini dan mungkin minggu depan kalau Tuhan pimpin, saya akan memberikan satu tema hal-hal yang membuat Allah tidak menjawab doa kita.

(1) Allah tidak akan menjawab doa seorang manusia jikalau orang itu berdoa tidak di dalam Yesus Kristus. Allah Bapa di Surga tidak mengijinkan seorang manusia pun menghadap kepada Dia di dalam tahta kasih karunia tanpa Yesus Kristus. Allah Bapa di Surga hanya memberikan berkat-berkat rohani-Nya, dan pertolongan khusus-Nya hanya kepada orang-orang di dalam Kristus (in Christ). Saya tidak berbicara berkenaan dengan anugerah umum. Bapa di Surga dikatakan oleh Alkitab memberikan hujan kepada orang yang jahat dan orang yang benar, saudara akan bisa melihat bahwa orang yang jahat pun yang tidak mengenal Yesus Kristus pun akan mendapatkan kesembuhan, akan mendapatkan pekerjaan, akan mendapatkan segala berkat-berkat. Tetapi ketika saya berbicara berkenaan dengan Bapa di Surga tidak memberikan berkat selain di dalam Yesus Kristus, saya berbicara berkenaan dengan anugerah khusus, penyertaan-Nya, pertolongan-Nya secara spesifik, pengertian jalan-jalan-Nya, mengerti Firman-Nya, mengerti salvation keselamatan, mengerti isi hati-Nya. Kalau saudara-saudara perhatikan orang-orang yang ada di dalam Kristus semakin dia takut akan Allah dan menyerahkan serta mendedikasikan hidupnya bagi Allah, saudara akan melihat bahwa Allah itu hidup. Alkitab mengatakan, prinsip umum anugerah khusus hanya diberikan kepada orang-orang yang ada di dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya orang Kristen berdoa di dalam Kristus. Kalau saudara-saudara berdoa selalu menutupnya di dalam Kristus. Itu bukan mantera tetapi artinya adalah ketika kita berdoa, kita berdoa di dalam pribadi Kristus. Saya sendiri ada di dalam pribadi Kristus, hidup saya tersembunyi di dalam Kristus, saya adalah milik Kristus Yesus. Saya sudah dibeli oleh Kristus itulah sebabnya orang-orang seperti ini adalah orang yang bisa mengatakan kepada Allah yang suci itu adalah Bapa kami yang di Surga. Lihat apa yang Yesus katakan di dalam doa ini, murid-murid-Nya datang kepada Dia dan bertanya, “Yesus ajar kami untuk berdoa.” Dan kemudian Yesus Kristus mengatakan, “Jikalau engkau mau berdoa berdoalah demikian, Bapa kami yang di Surga.” Saudara-saudara perhatikan, Dia tidak berbicara berkenaan dengan Allah, Dia berbicara berkenaan dengan satu sebutan yang Dia kenal sendiri sejak dalam kekekalan. Yohanes 1:18 menyatakan hal itu. Dan Dialah yang menyatakan nama Bapa itu kepada murid-murid-Nya. Ini adalah sesuatu yang paling khusus yang Yesus Kristus sendiri nyatakan sendiri kepada kita.

Apapun agama saudara, saudara tidak mungkin dan tidak punya hak untuk menyatakan Allah itu adalah Bapa kita. Saudara-saudara juga akan menolak di dalam hati bahwa Allah itu adalah Bapa saudara. Satu-satunya dari manusia yang bisa mengatakan Allah itu Bapa adalah yang memiliki Roh Kristus. Jikalau ada Roh Kudus di dalam hati kita, Alkitab mengatakan maka baru kita bisa mengatakan ya Abba, ya Bapa. Jikalau ada Roh Kudus di dalam hati kita maka kita itu artinya sudah diadopsi. Prinsip dasar dosa di dalam Alkitab adalah doktrin adopsi. Central biblical view of prayer is doctrine of adoption. Hanya yang diadopsi yang bisa memanggil Allah itu Bapa. Hanya yang diadopsi yang bisa memiliki jaminan bahwa Allah di Surga akan mengabulkan doa. Saudara, kita harus hati-hati disini, bukan karena saudara ada di dalam gereja lalu saudara sudah diajarkan berulang-ulang oleh gereja memanggil Allah itu Bapa maka saudara kemudian mengatakan bahwa saya sudah diadopsi. Saudara harus menguji diri saudara sendiri apakah sungguh-sungguh saudara adalah orang yang diadopsi? Kalau saudara-saudara adalah orang yang hanya di dalam gereja tetapi saudara adalah bukan orang yang diadopsi, saudara akan menyadari bahwa Allah itu tidak real di dalam hidup saudara. Saudara tidak memiliki sesuatu pergumulan dan sesuatu interaksi yang intense dengan Allah yang hidup. Malah saudara-saudara mungkin akan berpikir bahwa apakah sungguh-sungguh Allah itu ada? Saudara-saudara sama sekali tidak ada takut akan Allah. Saudara tidak melihat kemuliaan-Nya, tidak pernah merasakan kegentaran berhadapan dengan Dia. Saya tanya satu hal saja, apakah engkau memiliki satu kehidupan doa secara private? Apakah pernah engkau berhadapan dengan Allah, engkau sadar bahwa Allah yang tidak terlihat itu ada di depanmu dan seluruh dari tulangmu itu gemetar? Dan engkau kemudian bertiarap di hadapan Dia? Saya tanya pada saudara-saudara pernahkah saudara memiliki pengalaman seperti itu? Saudara mengatakan, Allah Allah, Bapa Bapa, tetapi saudara-saudara mungkin bukan orang-orang yang diadopsi. Alkitab mengatakan jikalau engkau mau berdoa, berdoalah Bapa kami yang di Surga. Ini adalah satu nama yang tadinya hanya dikenal oleh Yesus Kristus dan itu diajarkan kepada murid-murid-Nya di dalam Dia. Apa hal-hal yang membuat Allah tidak menjawab doa-doa kita? Sederhana, yaitu jikalau kita bukan anak-Nya, dan kalau kita menjadi anak-Nya itu adalah karena kita di dalam Kristus. Thomas Watson menyatakan bahwa kita yang diadopsi oleh Kristus kita memiliki dua hal ini, yaitu status adopsi yang akan menghasilkan doa kita itu akan diterima (accepted by Him), dan kedua adalah spirit of adopsi menghasilkan doa yang spiritually. Apa yang membuat seseorang berdoa tidak didengar oleh Allah? Apa yang membuat Allah tidak menjawab doa seseorang? Jawabannya adalah apakah orang itu di dalam Yesus Kristus atau tidak.

(2) Allah tidak menjawab doa kita ketika kita berdoa memiliki pikiran liar yang tidak terkontrol. Perhatikan baik-baik ketika kita masuk di dalam ruang doa dan ketika kita mulai berdoa maka pikiran kita biasanya dipenuhi oleh segala sesuatu yang membuat kita tidak bisa fokus kepada Bapa di Surga. Ini adalah perjuangan titik pertama bagi anak-anak Tuhan dan jangan pikir ini adalah sesuatu yang sederhana karena prinsip di dalam Alkitab adalah ketika seseorang itu datang kepada Allah maka seseorang itu harus serius datang kepada Allah. Alkitab mengatakan cari wajah-Ku, cari kekuatan-Ku, dan jikalau seseorang mencari Aku dengan sungguh-sungguh pasti Aku akan mendengarkannya. Saudara-saudara tidak bisa sembarangan untuk datang kepada Allah, tidak bisa hanya menyisakan waktu yang seadanya untuk datang kepada Allah dan berharap Allah akan mendengarkannya. Memang di dalam kehidupan kita, Allah memberikan begitu banyak kasih karunia melebihi daripada kesalahan-kesalahan kita. Tetapi Alkitab dengan jelas menginginkan ketika kita berhadapan dengan Allah kita harus ready. Kita harus men-set hati kita lurus di hadapan Dia. Pikiran liar yang tidak terkontrol tidak bisa ada ketika kita berhadapan dengan Allah. Apa itu pikiran liar yang tidak terkontrol? Mungkin adalah kekuatiran, mungkin saudara-saudara sakit hati, mungkin itu adalah marah, mungkin itu adalah dendam, atau mungkin tugas-tugas yang menumpuk. Saudara-saudara, saya akan membagi dua hal ini untuk saudara-saudara bisa mengerti apa yang biasanya kita hadapi. Di dalam 1 Petrus 4 dikatakan, “Jadilah tenang supaya engkau dapat berdoa.” Banyak dari kita tidak tenang dan kemudian kita langsung berdoa. Dan kemudian ketika kita berdoa, kita berdoa dengan seadanya, dan kemudian kita sendiri tidak lagi bisa mengontrol kalimat-kalimat kita karena pikiran kita ada di tempat-tempat yang lain. Lalu kemudian tanpa kita menyelesaikan, kita keluar dari ruang doa kita. Sudah berapa banyak kita lakukan ini berkali-kali? Ini adalah sesuatu yang mendukakan hati Allah, kita mesti minta anugerah daripada Tuhan untuk bisa membuat kita tenang supaya kita bisa berdoa.

Sekali lagi saya akan membagi menjadi dua. Yang pertama adalah sering sekali bahwa pikiran kita dipenuhi dengan tugas-tugas sehari-hari. Dan kita selalu menjadi tergesa-gesa, kita memulai pagi kita dengan berdoa pada Tuhan. “Bapa di Surga, saya datang kepada-Mu, saya mengucap syukur kepada-Mu,” tetapi ketika saudara-saudara mau mengucapkan kalimat selanjutnya, saudara baru teringat bahwa kunci mobil saudara belum ditemukan. Dan kemudian pikiran saudara memikirkan mengenai kunci mobil saudara yang tertinggal entah kemana. Atau saudara-saudara adalah seorang ibu dan kemudian saudara menghadap Tuhan dan kemudian saudara berdoa, setelah menghantar anak-anakmu, lalu kemudian ketika berdoa engkau mengatakan, “Bapa yang baik, saya mengucap syukur untuk kebaikan Engkau menjaga keluargaku dan juga anak-anakku,” dan kemudian saudara teringat container makanan anak saudara tertinggal belum dibawa ke sekolah. Mungkin saudara adalah seorang dari pemuda, saudara kemudian mengatakan kepada Tuhan di dalam pagi saudara, “Tuhan aku mengucap syukur kepadamu, terima kasih karena saya sudah boleh kuliah, terima kasih untuk orang tuaku,” dan kemudian saudara baru sadar bahwa salah satu jawaban saudara di ujian itu salah. Apapun saja bisa men-distract pikiran kita. Di dalam hal yang pertama ini maka, kalau saudara-saudara melihat orang-orang yang dipakai Tuhan, beginilah cara untuk menyelesaikannya. Saudara berdoalah dengan bersuara. Ketika saudara bersuara di dalam ruang doamu, maka dengan sendirinya saudara mau tidak mau akan berkonsentrasi. Saudara akan lebih mudah berkonsentrasi daripada saudara hanya merenung di dalam doa. Yang kedua, orang-orang Puritan mengajarkan kepada kita bagaimana mendisiplin pikiran adalah berdoa dengan membaca firman. Ketika saudara-saudara membaca firman, mungkin satu perikop atau satu pasal, maka saudara-saudara akan melihat ada prinsip atau ada permohonan yang bisa diungkapkan seturut dengan firman itu. Matthew Henry menuliskan sebuah buku mengenai doa, prinsipnya adalah berdoalah dengan mengembalikan kalimat-kalimat Tuhan kepada Tuhan. Itu akan membuat kita untuk tidak pergi kemana-mana dalam pikiran ketika kita berdoa. Tetapi ada pikiran yang lebih sulit lagi yang biasa kita jumpai yaitu jikalau kita berada di dalam ketakutan, kekuatiran, pergumulan, kesedihan yang dalam. Kita datang kepada Tuhan dengan beban pergumulan yang begitu besar. Dan kemudian seluruh kekuatiran, ketakutan, dan seluruh masa depan yang kelihatan begitu suram itu menghantui pikiran kita, dan kita tidak bisa menikmati Allah, tetapi di situ kita menikmati pergumulan kita. Ini adalah sesuatu yang mematikan, kita sulit sekali menang dalam keadaan seperti ini. Ketika kita berada di dalam pergumulan yang besar, kekuatiran, atau ketakutan dan problem-problem yang lain maka itu akan memenuhi pikiran kita dan kemudian membuat kita tidak bisa berdoa. Dan kita melihat seluruh kehidupan kita jungkir balik, segala sesuatunya tidak ada yang stabil. Adalah mudah untuk berdoa dalam keadaan yang stabil, tetapi sangat sulit berdoa dalam pergumulan demi pergumulan yang tidak selesai. Dan jikalau itu terjadi kepada diri saudara, apa yang harus kita kerjakan? Karena jangankan berbicara kepada Tuhan, bahkan untuk mengatur pikiran ini sulitnya luar biasa. Alkitab memberikan satu jalan keluar. Ada satu ayat Alkitab yang harus kita sama-sama ajarkan kepada jiwa kita. Mazmur 46:11 mengatakan, “Diam dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Mari kita melihat Mazmur 46 dan bawa ayat ini ke rumahmu dan baca ayat ini malam ini dan biarlah itu boleh menentramkan jiwa kita. Kita mesti belajar mendidik jiwa kita dengan ayat ini. Mendidik jiwa kita untuk mengetahui bahwa apapun saja yang terjadi dalam hidup kita, Allah tetap memegang kontrolnya. Diam dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.

Ketika saya mendengarkan kalimat ini pertama kali adalah pada waktu itu saya ada dalam konferensi penginjilan. Saya tidak akan lupa masa itu. Satu persatu dari orang-orang penginjil jalanan itu diundang ke depan dan men-sharing-kan bagaimana pekerjaan-pekerjaan penginjilan mereka. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang dianiaya di Tiongkok, ini sudah terjadi 20 tahun yang lalu. Ada satu orang yang bahkan harus memakan tikus di penjara di Tiongkok. Dan dia menceritakan bagaimana pekerjaannya itu terhambat oleh komunis. Ada orang yang menjelaskan bagaimana masih banyak hal yang belum bisa dikerjakan karena begitu banyak tantangan dari negara-negara. Ada orang-orang yang mengabarkan Injil khusus untuk remaja, ada yang khusus untuk pemuda. Ada orang yang mengabarkan Injil khusus untuk membawa Alkitab masuk ke dalam dataran Tiongkok. Sebagian daripada orang-orang itu keluarganya ada yang dibunuh. Mereka mengalami aniaya demi aniaya. Ketika mereka menceritakan satu persatu, mungkin ada 7 sampai 8 orang. Setiap orang kurang lebih satu setengah jam mereka menyatakan firman dan menyatakan kesulitan-kesulitan mereka tentu dengan Tuhan menolong. Tetapi ada satu orang yang maju ke depan dan kemudian menyatakan apapun saja yang kita hadapi, apapun saja keinginan kita untuk terus bisa maju untuk Tuhan dan ketidak-puasan kita akan segala pekerjaan kita, apapun saja kegagalan ataupun keberhasilan yang sangat sedikit itu, diam dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.

Hidup di dunia ini pergumulannya bisa mematikan hati kita, jangankan untuk berdoa, bahkan kita tidak sanggup untuk masuk ke dalam ruang doa. Tetapi Alkitab mengatakan kepada kita, “Diam, diamlah jiwaku, dan ketahuilah bahwa Allah adalah tetap Allah di Surga.” Itu akan menstabilkan jiwa dan membuat kita bisa berdoa karena kita mau menundukkan diri kita kepada kedaulatan-Nya. Itu akan membuat jiwa kita kuat dan pikiran kita mulai jernih sehingga kita boleh berdoa dengan terfokus kepada Bapa di Surga. Saya teringat akan satu ilustrasi yang Pak Tong katakan, “Biarlah orang kristen itu makin mengenal Allah dan orang yang mengenal Allah memiliki jiwa yang stabil seperti singa.” Lalu kemudian saya pikir, jiwa yang stabil seperti singa maksudnya apa? Kemudian Pendeta Stephen Tong mengatakan, “Engkau lihat dari seluruh binatang, begitu ada thunder storm, begitu ada halilintar maka kemudian ayam itu pergi semuanya, lalu kucing itu pergi ketakutan, burung itu pergi kemana-mana, semuanya kaget dan semuanya pergi berlari-lari. Tetapi singa itu jiwanya tenang. Ketika dia itu sedang beristirahat, dan petir itu menyambar, maka dia hanya membuka matanya melihat ke langit dan menutupnya lagi.” Tenang, diam dan ketahuilah bahwa Akulah Allah. Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi, dan pe-mazmur mengatakan: Tuhan semesta alam menyertai aku. Kota benteng kita adalah Allah Yakub. Tenangkan hatimu dan luruskan pikiran kita, ingatlah ayat ini untuk kita bisa berdoa.

Alamat

556 - 558 Botany Road, Alexandria, NSW, 2015
sekretariat@griisydney.org
0422690913
0430930175

Social Media

Facebook GRII Sydney Instagram GRII Sydney Twitter GRII Sydney


Google Play Store
App Store

^