Mungkinkah kita memiliki dan menikmati paradise di atas muka bumi ini? Adakah kemungkinan di tengah dunia yang sudah berdosa ini kita bisa memiliki dan menikmati surga? Paradise seperti apa yang kita mau? Film “The Descendants”mengangkat pertanyaan yang sesungguhnya merupakan satu kerinduan yang paling hakiki dari manusia: hidup seperti apa yang engkau rasa adalah paradise, surga di atas muka bumi ini, semua digambarkan pada diri seorang pria yang memiliki isteri yang cantik dan dua anak gadis yang menanjak besar, karir sebagai lawyer yang sukses dan tanah berhektar-hektar luasnya di Hawaii. Semua simbol kesuksesan dan impian manusia ada pada diri pria ini. Bukankah ini yang engkau mau? Bukankah bangun pagi-pagi bekerja dari hari Senin sampai Jumat, engkau mimpi hidup seperti dia? Paling tidak, bukankah engkau merindukan entah kapan bisa pensiun menikmati hidup seperti itu? Tinggal di tempat yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas, supaya waktu musim dingin rematik tidak kambuh, waktu musim panas tidak terlalu kepanasan. Kalau sudah tua pulang ke Indonesia, kuatir hospital kurang bagus. Maka Hawaii jadi tempat impian hampir semua orang. Tetapi di tempat yang mungkin digambarkan sebagai surga dunia sekalipun, kehidupan rumah tangga yang nyaman, isteri yang cantik, tanah yang luas, karir yang sukses, air mata, brokenness, evil tetap ada di situ, yang memberitahukan kepada kita betapa kompleksnya kesulitan yang ada di dalam dunia ini. Maka ini menjadi pertanyaan yang menarik: Mungkinkah manusia mengharapkan surga tanpa salib Kristus? Ini menjadi satu pertanyaan yang penting dan boleh menjadi topik diskusi yang baik.
Rencana untuk menjual tanah ternyata ditemukan ada “udang di balik batu,” orang yang kita percayai, ternyata adalah pengkhianat yang backstabbing kita. Kebahagiaan punya isteri cantik ternyata menjadi satu tragedi ketika diketahui isteri menyeleweng dengan pria lain dan mendapat kecelakaan justru di saat sedang berpacaran dengan pria itu. Apa gunanya sekarang segala harta yang berlimpah itu? Kesulitan muncul bagaimana menerima penderitaan yang mendadak datang dalam hidupnya; kesulitan muncul bagaimana memberitahukan hal itu kepada anak-anaknya. Bagaimana memahami perasaan orang di dalam situasi seperti ini?
Intinya, surga yang diimpikan manusia di atas dunia di dalamnya penuh dengan brokenness, penuh dengan evil, ada injustice. Kita mau tolong orang yang kesusahan, ternyata dia justru “makan” semua harta kita; kita mengasihi dan berkorban setengah mati untuk orang yang kita kasihi, ternyata dia berbohong dan menyeleweng dengan orang lain; kita menginginkan harta yang banyak tetapi di baliknya ada neraka yang tidak ada habis-habisnya sebab hubungan suami isteri tidak ada trust dan faithfulness di dalamnya. Itu semua adalah kemungkinan yang tidak isolate bagi hidup engkau dan saya, di dalam derajat kadar yang berbeda-beda. Kita hidup di dalam dunia yang seperti itu. Tetapi apakah penyelesaian dari semua itu adalah sekedar satu perasaan hati menerima dan bereaksi penuh dengan pengampunan dan grace, lalu semua beres?
Film itu kekurangan satu hal, yaitu mencari sumber darimana datangnya kerinduan kita yang ingin punya paradise itu dirusak dan dihancurkan oleh kejahatan; dirusak dan dihancurkan oleh brokenness; dirusak dan dihancurkan oleh ketidak-setiaan; dirusak dan dihancurkan oleh keinginan yang ternyata merusak kehidupan kita. Darimana datangnya semua itu? Lalu bagaimana kita menyelesaikannya? Mengapa ada brokenness? Kita tidak bisa menjawab dan selesaikan semua itu hanya berdasarkan sikap ‘ya sudah, dia buat salah sama saya, saya ampuni dan maafkan.’ Kita harus tarik kepada akarnya, ini menjadi point yang penting. Saudara dan saya pulang, kita menghadapi brokenness yang sama. Bisa secara mendadak ada anggota keluarga kita yang sakit dan meninggal; bisa secara kita tidak sangka dan tidak duga kita tanda tangan kontrak untuk kerja sama dengan orang yang dekat dan kita percaya, tetapi ternyata kita ditipu habis-habisan dan semua harta milikmu habis diambilnya. Itulah brokenness yang bisa kita alami.
Siddharta Gautama mencoba mencari jawaban akan hal ini. Dari posisi sebagai anak raja yang agung dan besar, dan waktu dia keluar dia melihat prosesi orang mati, orang yang sakit dan menderita, hatinya yang baik dan penuh dengan perasaan empathy, memutuskan untuk meninggalkan segala kemewahan dan kenyamanan dan pergi bertapa. Itulah cikal bakal dari konsep meditasi dan bagaimana Eastern concept menyelesaikan soal brokenness, evil, keserakahan, dan semua misery yang terjadi di dalam dunia ini. Siddharta Gautama mengatakan semua kesusahan dan penderitaan di dalam dunia ini terjadi sebab adanya keinginan. Karena keinginan dan desire itulah tidak ada habis-habisnya kejahatan dan keserakahan muncul dan semua penderitaan melanda dunia ini. Kalau keinginan itu dihilangkan, disingkirkan dan dimatikan, maka dunia ini akan menjadi paradise. Tetapi Siddharta dan konsep Buddhism itu memiliki kelemahan dan kekurangan dan tidak mencapai akar sedalam-dalamnya memikirkan darimana datangnya, darimana sumber keinginan itu.
Mari kita kembali kepada awal mulanya. Kita muncul dan ada bukan pada diri kita sendiri. Kita muncul karena ada sumber sesuatu, dan kalau kita adalah orang Kristen dan kita faithful ingin mencari akar sumber darimana eksistensi keberadaan kita, maka kita harus kembali kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab karena Alkitab memiliki jawaban atas pertanyaan ini. Rom.5:12 “Sebab sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut dan kematian…” Hanya oleh perbuatan dosa satu orang kita melihat maut menjalar ke semua orang. Dan bukan saja maut telah menjalar ke semua orang, dosa juga akhirnya menjalar kepada semua orang, bukan karena satu orang itu yang berdosa, tetapi sebab karena kita semua juga berbuat dosa di dalamnya.
Kalau kita tidak mengerti dan membereskan lebih dalam semua akar dosa yang begitu dahsyat, kita tidak sungguh-sungguh mengerti dan menghargai betapa dalamnya konsep anugerah kasih di dalam Yesus Kristus yang luar biasa. Kita tidak akan sampai kepada rasa syukur yang sungguh, kesadaran dan pengertian yang dalam mengenai hal itu kalau kita tidak mengerti sungguh-sungguh mengenai betapa besar anugerah yang Tuhan beri kepada kita. Kita tidak bisa mengerti betapa besar anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus kalau kita tidak mengerti dengan dalam akibat yang dahsyat yang ditimbulkan dosa di dalam hidup kita.
Alkitab hanya menceritakan soal Adam dan Hawa memberontak kepada Tuhan dengan memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat yang Tuhan larang untuk tidak mereka makan. Dan konsekuensi di balik larangan itu adalah kalau mereka memakannya, mereka akan mati. Kalau kita baca sekilas, kita merasa itu adalah cerita yang biasa-biasa saja. Tetapi kalau kita membaca Kej.1-6, kita akan menemukan destruksi yang begitu dahsyat akibat dari dosa yang luar biasa, yang makin ke belakang makin memperlihatkan betapa dunia meski bertambah maju, manusia hanya mengakumulasi kejahatan demi kejahatan, brokenness demi brokenness.
Pertama, akibat dosa engkau melihat ketika Tuhan memberi hukuman kepada Adam, the curse upon the land. Tanah menjadi terkutuk dan dengan susah payah manusia bekerja – bukan dalam pengertian kalau manusia tidak jatuh dalam dosa maka bekerja tidak perlu berkeringat. Tetapi di sini terjadilah benih yang kita tanam, namun yang tumbuh dan keluar dari tanah itu adalah onak dan duri. Artinya selama-lamanya saudara dan saya tidak bisa hidup harmonis dengan apa yang kita kerja, dengan apa yang terjadi di dalam dunia ini, penuh dengan injustice dan unfairness. Ke mana saja saudara pergi, kerja dimana saja, kuatkan dan teguhkan hati, kita hidup di dalam dunia, tidak bisa kita bekerja dan mengharapkan ada ‘paradise on earth.’ You kerja baik-baik, you tidak dapat balasan yang setimpal. Bisa jadi benih mangga yang engkau tanam dimakan hasilnya oleh orang lain, oleh tetanggamu yang pura-pura baik kepadamu. Relasi broken dan hancur.
Alkitab mencatat Adam dan Hawa yang tadinya telanjang dan tidak merasa malu, tetapi akhirnya saling menutup diri dan sejak dari itu kita menyaksikan hubungan suami isteri broken adanya. Bahkan salah satu dari hukuman Tuhan kepada Hawa adalah “engkau akan birahi kepada suamimu dan dia akan berkuasa atasmu…” Artinya, ada keinginan yang tidak ada habis-habisnya dari perempuan untuk selalu ingin mengambil alih posisi dan leadership dari suaminya. Brokenness dalam relationship terjadi, pergulatan dan perebutan dominasi terjadi. Dan setelah manusia jatuh dalam dosa, selanjutnya tragedi satu persatu terjadi, pembunuhan, balas dendam, kebencian, dst. Juga terjadi brokenness dalam sexual relationship, akumulasi destruktif dalam relationship seksualitas antar manusia. Pernikahan yang suci dan eksklusif tidak lagi dihormati. Kej.6:2 menggambarkan hubungan relationship antara pria dan wanita hanya dilakukan sesuai dengan apa yang dilihat oleh mata dan keinginan hati belaka. Maka akhirnya sexual relationship seperti itu makin membawa dosa dan kejahatan makin berpinak. Brokenness di dalam relasi suami isteri dan keluarga dan sesama, merupakan akar dari dosa adanya.
Tetapi yang paling dalam sebenarnya adalah pada waktu mereka makan buah itu, mereka akan mati. Jelas mati di situ tidak berarti mati secara fisik belaka, tetapi satu mati yang sangat menakutkan, yaitu manusia terpisah dan separasi dari Tuhan. Dalam Ef.2 Paulus mengatakan akibat dosa kita terpisah dari Tuhan, dan bukan saja kita terpisah dari Tuhan, kita adalah musuh Tuhan. Itu adalah akar yang diakibatkan dosa di dalam hidup kita. Baru yang terakhir akar ini ditaruh sedalam-dalamnya, tidak dilihat oleh manusia tetapi baunya tidak bisa ditutup, yaitu kematian. Orang percaya Tuhan, orang yang tidak percaya, yang hidup di dalam dunia ini, semua pasti akan meninggal.
Rom.5:12-21 itu adalah fakta hidup kita di dalam dosa; lalu Rom.5:6-11 itu bicara soal cara Tuhan menyelesaikannya; lalu Rom.5:1-5 itu bicara bagaimana kita hidup setelah kita ditebus oleh Tuhan. Ayat 1, karena kita sudah dibenarkan, maka kita punya shalom dengan Tuhan. Kita bukan musuhNya lagi. Ayat 2, karena kita sudah ditebus, kita punya jalan masuk kepada Tuhan, dan someday kita akan menerima kemuliaan dariNya. Memang kita belum terima sekarang, namun kita beriman dan berharap. Dan pengharapan itu tidak pernah mengecewakan engkau, pengharapan kita kepada Tuhan tidak kosong, seperti pengharapan kepada janji manusia yang tidak bisa dipegang. Pengharapan kita itu ada isinya, yaitu ayat 6-11. Bukan karena apa yang bisa dan sudah kita kerjakan, tetapi waktu kita masih lemah, Kristus sudah mati bagi kita orang yang durhaka ini.
Ayat 7 penting, menunjukkan iman Kristen bukan soal menjadikan orang menjadi orang baik. Orang sering bilang, “Semua agama sama, semua agama bikin orang jadi orang baik, supaya hidup di dunia ini harmonis dan jangan jadi orang jahat. Yang penting, engkau baik sama saya, saya akan baik sama kamu. Tetapi kalau ni kurang baik sama wo, wo bisa lebih jahat sama ni…” Itulah dosa Lamekh (Kej.4). Anak muda itu pukul dia sampai luka dan bengkak, Lamekh balas pukul dia sampai mati.
Paulus bilang, untuk orang baik ada orang rela mati. Tetapi bikin orang menjadi benar, tidak ada orang yang mau mati. Maka ini ayat penting untuk memisahkan konsep di dalam Kristus bukan saja membuat kita menjadi lebih baik, tetapi Kristus membuat kita menjadi orang benar, orang yang punya hubungan benar dengan Tuhan. Itu soal penebusan, bukan soal memperbaiki kelakuan. Kristus mati untuk kita supaya membenarkan kita.
Untuk orang baik, banyak orang rela tolong; banyak orang bela dan backing; bahkan sampai mati pun rela. Tetapi tidak banyak orang yang rela mati untuk orang benar. Justru kita ketemu orang yang benar, kita jadi benci sama dia, sebab tiap kali ketemu orang benar, ketahuan kita tidak benar. Itu sebab mereka membunuh Tuhan Yesus.
Ayat 8, akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Ayat 8-9 muncul 2 aspek di sini berkaitan dengan dua titik kutub polarisasi yang tidak pernah bisa ketemu. Dia memberi Kristus bagi kita dengan menanggung murka Allah bagi kita. Inilah dua kutub yang saling berada di posisi berlawanan: kasih dan murka.
Ada seorang kolonel Nazi yang pada waktu berkuasa punya hobby tiap pagi menembak orang Yahudi yang sedang lewat bekerja di halaman rumahnya, seperti sedang ‘hunting’ bebek liar. Ratusan orang sudah menjadi korbannya. Lalu waktu tentara sekutu menaklukkan daerah itu, sang kolonel tertangkap waktu ia sedang bersiap lari dengan seorang wanita sambil mengumpulkan emas batangan. Wajar kalau keluarga korban minta kolonel ini diadili sesuai dengan kejahatannya, dihukum mati dengan sepatutnya. Tetapi kalau skenarionya berbeda, setelah tentara sekutu memasuki wilayahnya, ia bisa lari dengan membawa emas batangan sampai di Argentina, hidup dengan aman dan nyaman sampai usia lanjut. Waktu akhirnya tertangkap, kolonel itu sudah opa umur 90 tahun, dengan tubuh rentan duduk di kursi roda. What should you do? Haruskah dia dipenjarakan dan diadili dan mendapat hukuman sesuai dengan kejahatan yang diperbuatnya 50 tahun yang lalu? Bagaimana mempersatukan kasih dan murka di situ? Haruskah keluarga korban melupakan apa yang sudah dia lakukan? Orang sering bilang sudahlah, tidak usah menuntut balas, toh dia sudah celaka, itu karma buat dia. Di situ saya tidak setuju konsep karma, karena ada satu kekurangan dari konsep ini. Karma tidak bisa menyelesaikan kalau orang terus berbuat salah tidak habis-habis tetapi dalam hidupnya seolah tidak pernah ada kesusahan dan lancar sampai akhir, karma tidak terjadi di situ, something lacking di dalam aspek keadilan di situ.
Kenapa Yesus perlu mati di kayu salib? Rom.5 memberi jawabannya. Pertama, Allah tidak mau kita yang sudah berdosa dan mati oleh dosa menerima hukuman. Itu karena Dia begitu kasih kepada kita. Tetapi di dalam kasihNya memberi pengampunan dan penebusan, kasih itu tidak boleh melanggar dan menghilangkan murka keadilanNya. Kita seringkali memiliki kasih yang sentimentil. Ketika orang yang sudah bersalah dan berbuat jahat kepada kita sekarang dalam keadaan lemah dan sakit, kita tidak tega dan bilang, sudahlah… saya maafkan. Tuhan tidak demikian, karena kasih Tuhan bukan bersifat sentimentil seperti kita. Tetapi bagaimana di dalam menuntaskan murka dan keadilanNya kepadamu, Tuhan tetap mencintai dan mengasihimu?
Kekristenan mengatakan tidak ada anugerah diberi, tidak ada pengampunan diberi, kalau tidak melalui salib. Maka penebusan Yesus Kristus menjadi agung luar biasa karena hukuman yang Allah tumpahkan di dalam murkaNya Ia beri kepada AnakNya sendiri Yesus Kristus, bukan kepada siapa-siapa. Tangisan Yesus di atas kayu salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” adalah satu tangisan dan doa yang tidak dijawab. Di situ Allah silent, tidak ada jawaban. Waktu Paulus berdoa minta duri dalam tubuhnya dicabut, Allah masih memberi jawaban, “Cukuplah kasih karuniaKu kepadamu…” Doa dan tangisan Yesus di atas kayu salib tidak ada jawaban, sebab hari itu Anak Allah sedang menanggung dosa kita. Real, karena kita berdosa kepada Allah yang suci; kita melanggar hukumNya; Ia suci dan adil adanya. Mengerti akan pengampunan Tuhan di kayu salib dan mengerti cara Ia berkorban di kayu salib dengan mati bagi kita, itu menyebabkan saudara dan saya menghargai anugerah Tuhan yang luar biasa ajaib dan besar. Itu menjadi dasar kenapa kita bersyukur kepada Tuhan. Tidak ada yang kita bisa beri dan tidak ada pelayanan yang kita bisa beri dan bisa kita katakan cukup membalas dan mengganti apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Itu tidak mungkin bisa. Saya harap ini bisa menjadi satu dorongan bagi cara hidup dan pelayanan kita dan sukacita kita setiap kali kita menghampiri meja perjamuan Tuhan.
Mengapa banyak hamba Tuhan melakukan pelayanan exorcism pengusiran Setan, waktu persiapan untuk encounter dengan roh jahat, mereka berpuasa dan berdoa satu minggu lamanya. Itu tidak salah. Tetapi yang salah adalah, mengapa untuk encounter dengan evil spirit engkau berdoa dan berpuasa mati-matian seperti itu, tetapi encounter dengan Tuhan engkau tidak seperti itu? Padahal bertemu dengan Tuhan itu jauh lebih agung dan lebih ajaib. Encounter dengan Allah tidak ada jalan masuk untuk bertemu denganNya selain melalui kematian Anak Allah sendiri. Perjamuan Kudus mengingatkan kita tidak mungkin bisa masuk menuju kepada Allah, berdoa kepadaNya, berlutut kepadaNya, sebelum Anak Allah itu mati bagi kita. Setiap kali kita berbakti dan berdoa kepada Tuhan, ingat akan hal itu. Menyebut nama Tuhan Yesus bukan sebagai sesuatu yang sembarangan. Menyebut nama Tuhan Yesus dengan gentar sebab darahNya dikorbankan, engkau dan saya beroleh jalan masuk kepada Allah. Maka kita harus bertemu dengan Dia lebih dari sekedar berpuasa, lebih dari sekedar kita berdoa dan hal-hal yang lain.
Kita bersyukur diingatkan sekali lagi karena Kristus telah dikorbankan di kayu salib, darahNya mengalir mengampuni dosa kita, menyelesaikan murka Allah terhadap dosa pemberontakan kita. Di situ baru kita memiliki pengharapan dan janji mendapatkan kasih karunia dan kemuliaan Allah dan sejahtera dari surga di tengah-tengah hidup kita. Bukan perasaan saja tetapi Tuhan bekerja dengan nyata menebus dosa-dosa kita. Perjamuan Kudus mengingatkan kita sedang masuk menghadap tahta Allah yang besar dan dahsyat, yang sudah mengorbankan kematian AnakNya yang satu-satunya dengan agung dan mulia, yang tidak layak kita terima adanya.(kz)