Selama bulan pertama di awal tahun, melalui beberapa seri khotbah ini biar hati kita dipimpin melalui perenungan, bagaimana firman Tuhan mempersiapkan kita memasuki tahun 2012 yang Tuhan beri kepada kita. Apa yang ada di depan kita tidak tahu, bagaimana pergumulan, bagaimana perjalanan kita di depan, kita tidak tahu. Yang kita tahu, kita sudah melewati tahun-tahun sebelumnya dimana Tuhan sudah pimpin kita, dan kita tahu kita berada di dalam keadaan seperti sekarang ini, itu sudah cukup menjadi kekuatan yang memimpin kita. Yang pertama, kita tidak akan pernah boleh lepas melihat apapun yang terjadi, apapun yang akan kita kerjakan di tahun ini, pegang prinsip ini selalu “let Thy will be done,” kiranya kehendak Tuhan yang terjadi. Ada kesulitan, ada hambatan, ada tantangan, kita tidak boleh melihat itu sebagai sesuatu yang tidak baik terjadi di dalam hidup kita. Biar di situ kita sabar dan kita percaya, Tuhan mem-provide, Tuhan pelihara dan pimpin hidup kita. Yang kedua, kita fokus tahun ini kepada apa yang kita prioritaskan di dalam hidup kita. Nabi Hagai mengingatkan sesulit apapun, sesusah bagaimanapun, tetap kita dipanggil dan diminta untuk mengatur dengan urutan yang tepat dan benar. Hagai menantang orang Israel dengan pertanyaan, “Belum saatnyakah kita membangun Rumah Tuhan?” (Hag.1:2). Memang mereka punya banyak kesulitan, banyak kebutuhan, tetapi Hagai membawa mereka fokus kepada apa yang seharusnya menjadi prioritas hidup mereka, taruh Tuhan di depan, maka Tuhan akan mem-provide dan memelihara kita. Hidup ini tidak selalu berjalan lancar, maka firman Tuhan mengatakan, kuatkan hatimu, Tuhan beserta dengan kita itu sudah cukup bagi kita. Yang ketiga, kadang-kadang perasaan hati lebih besar daripada realita yang terjadi sehingga kita pikir kesulitan itu terlalu besar, padahal sebenarnya tidak. Pada waktu kita jalani, kita bisa lewati. Maka minggu lalu saya mengajak kita meneduhkan hati kita untuk tidak kuatir adanya. Kuatir berarti ada hal-hal yang disproportional dalam hidup kita. Ada hal-hal yang besar, mungkin kita kecilkan; namun ada hal-hal yang sebetulnya kecil, kita besar-besarkan. Itu penyebab kekuatiran muncul dalam hidup kita. Ketika kita meletakkan Tuhan yang besar itu pada posisi yang sepatutnya, meletakkan persoalan kita yang tidak lebih besar daripada Tuhan, pada posisi yang sepatutnya.
Hari ini saya mau mengajak saudara untuk mengintrospeksi ke belakang untuk melihat apa yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup kita, melalui tiga orang yang merefleksikan hidupnya ke belakang, biar itu menolong kita juga untuk fokus hati kita seperti mereka. Pertama, Daud dalam Mzm.40:5-6; kedua, Musa dalam Mzm.90:10-12; ketiga, Paulus dalam 2 Tim.4:6-8. Dari ke tiga orang ini saya ingin rangkumkan menjadi topik yang memimpin kita bagaimana merefleksikan kembali, melihat kilas balik apa yang terjadi di dalam perjalanan hidup kita.
Mzm.40 ditulis Daud, seorang yang mengalami berbagai tantangan dan kesulitan di dalam hidupnya. Perjalanan hidupnya penuh kesulitan namun itu tidak membuatnya melupakan ada hal-hal yang penting yang ingin dia syukuri kepada Tuhan. Mzm.90 adalah satu mazmur yang ditulis menjadi refleksi dari seorang yang sudah lanjut usia dan arif adanya, melihat perjalanan hidupnya sampai umur 80 tahun, melihat apa hidup itu sesungguhnya, apa yang sepatutnya dibanggakan darinya. Rasul Paulus menulis surat 2 Timotius sebagai suratnya yang terakhir. Dia mengatakan darahnya sudah mulai tercurah dan saat kematiannya sudah dekat, harinya sudah hampir selesai. Di tengah tetesan darah yang sudah makin sedikit itu, dia merefleksi apa yang sangat berarti dan bernilai yang sudah ia tinggalkan di dalam perjalanan hidupnya.
Mzm.40:17b menjadi satu proklamasi dari Daud, “Biarlah mereka yang mencintai keselamatan dariMu tetap berkata, ‘Tuhan itu besar!’” Setelah merefleksi semuanya Daud mengatakan, besarlah Allah, begitu ajaib Dia. Setelah menghitung-hitung apa yang telah Tuhan lakukan bagiNya, Daud mengakui dia tidak bisa menghitung satu persatu segala yang sudah Tuhan perbuat kepadanya. Perbuatan Tuhan, maksud Tuhan begitu agung, begitu misteri, begitu ajaib dan tidak mampu dia mengerti. Pada waktu sudah merefleksi hanya ada perasaan kagum dan wander terhadap Tuhan karena ‘speedometer’-nya tidak mampu menghitung dan mengejar datangnya anugerah Tuhan dibanding dengan banyaknya ucapan syukur yang keluar dari mulut bibirnya. Sikap dan perasaan hati seperti ini akan melahirkan hati yang selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Biar memasuki tahun yang baru kita merefleksi tahun yang sudah lalu dan seperti Daud kita berkata, “Banyaklah yang telah Engkau lakukan, ya Tuhan Allahku. PerbuatanMu yang ajaib dan maksudMu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau. Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.”
Bersyukur kepada Tuhan untuk Summer Book Club bagi anak remaja dan pemuda yang selama 3x hari Sabtu berturut-turut membahas buku “Do Hard Things” dari Alex dan Brett Harris. Begitu banyak hal-hal indah dari buku ini yang membuat saya amazed. Buku ini ditulis oleh dua anak kembar berumur 19 tahun, yang dibesarkan oleh orang tua yang mendidik mereka ‘homeschooling.’ Supreme Court judge menghormati dua anak muda ini; bintang film Chuck Norris menuliskan kata pengantar untuk buku ini. Mereka telah menjadi contoh inspirasional kepada anak-anak muda dan remaja di seluruh dunia. Ada di antara mereka yang sudah putus harapan, tetapi akhirnya kembali lagi kepada Tuhan melalui buku ini memberi kekuatan dan semangat kepada mereka yang membacanya. Itu sebab bagi anak-anak muda dan remaja yang ada di gereja ini, saya harap menyadari dan mengerti apa yang menjadi tugas dan panggilan Tuhan dalam hidupnya, itu akan menjadi satu kekuatan yang tidak ada habis-habisnya. Pada waktu mereka sadar ada hal-hal yang tidak boleh disia-siakan, ada anugerah yang tidak boleh di’take for granted’ sebagai pemberian Tuhan yang baik untuk mereka.
Sebagai anak-anak remaja yang dibesarkan ‘homeschooling,’ mari kita coba melihat kacamata mereka. Umumnya ‘sekolah dimana’ itu sudah menjadi satu kebanggaan identitas sekaligus menjadi sumber low self esteem mereka. Kalau bisa anak-anak itu mau masuk di sekolah private yang bergengsi dan terbaik. Apa kebanggaannya waktu ketemu anak-anak lain lalu ditanya sekolahmu dimana, di tengah pressure yang besar sebagai teenager, masing-masing mengatakan mereka sekolah di sini dan di situ, sekolah-sekolah terkenal, tetapi bagaimana perasaan hati anak yang tidak mampu bersekolah di situ, tidak mudah, bukan?
Tetapi betapa sedih dan terenyuh hati kita, ada banyak orang tua yang Tuhan beri privilege dengan kekayaan yang ada, tentu wajar memikirkan anaknya bersekolah di mana. Ada orang tua dari SD mengirimkan anak bersekolah di sekolah terbaik di Singapura. Sampai SMP masuk sekolah private yang paling elite. SMA, sekolah di Melbourne. Kuliah di USA. Ada banyak di antara mereka akhirnya terhilang, ada yang kemudian terlibat dengan obat-obatan. Orang tua hanya bisa menangis menghadapi hal seperti ini. Sudah bersekolah di sekolah terbaik, sudah dapat privilege yang begitu indah, tetapi kadang-kadang terlalu banyak anak yang tidak melihat itu sebagai pemberian dan anugerah yang baik yang sepatutnya mereka syukuri, hormat dan bahagia terhadap papa dan mama yang berjerih lelah membesarkan mereka. Tetapi kadang-kadang kita menemukan anak-anak itu tidak menyatakan syukur dan terima kasih kepada orang tua.
Tidak berarti saudara tidak boleh bersekolah di sekolah yang baik, tetapi point saya adalah apa yang ada di belakang dari seluruh aspek ini? Saya percaya salah satu aspek yang penting adalah kesadaran penuh bahwa semua itu adalah anugerah dan pemberian Tuhan yang tidak sepatutnya dan selayaknya kita terima; itu menjadi suatu syukur yang pada waktu kita menyadarinya kita amazed kepada Tuhan. Waktu itu kita hanya bisa seperti Paulus berkata, “Thanks be to God for His indescribable gift!” (2 Kor.9:15). Paulus mendorong jemaat Korintus untuk berbagian membantu jemaat Yerusalem yang lebih miskin daripada mereka, dan pada waktu memberi jangan dengan sedih atau rasa terpaksa. Berikan seturut dengan apa yang Tuhan telah beri. Pemberian itu akan melahirkan syukur kepada Tuhan; pemberian itu melimpahkan reward yang begitu banyak yang engkau tidak bisa pahami dan mengerti. Dan di bagian ini Paulus menutup dengan satu ayat yang indah, jangan lupa, setiap kali kita bisa dan sanggup bisa memberi, itu karena Tuhan terlebih dahulu memberikan ‘indescribable gift’ kepada kita. Kembali kepada satu rel yang penting: kesuksesan dari orang-orang Korintus jangan dilihat sebagai kesuksesan diri sendiri. Apa yang menyebabkan kadang-kadang kita tidak melihat itu sebagai pemberian dan anugerah Tuhan yang indah dalam hidup kita?
Miroslav Wolf menyebutkan ada 4 hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, the sense of the independence, satu sikap memutuskan tali dependensi ketika seseorang merasa bisa hidup independent. Dia lupa tali-temali yang bisa membuatnya independent sebab selama di dalam kandungan dia bergantung sepenuhnya kepada nutrisi dari ibunya. Tidak ada seorangpun di antara kita yang bisa berdiri sampai saat ini kalau tidak karena ada tali-temali kita bergantung kepada anugerah dan pemberian orang tanpa pamrih. Bukan saja kepada orang tua yang sudah membesarkan kita dengan susah payah dan tanpa pamrih memberikan semua yang perlu, kita juga kadang-kadang lupa di belakang ada tangan yang tidak kelihatan yang menopang begitu banyak dalam hidup kita yang tidak boleh kita lupakan. Paulus mengatakan, “Thanks be to God for His indescribable gift.” Pujilah Tuhan, bersyukurlah kepada Tuhan untuk begitu banyak gift yang Ia beri yang tidak terkatakan. Pemberianmu kepada orang lainpun itu juga datangnya dari Tuhan yang tidak bisa kita abaikan.
Kedua, penyebab tidak adanya rasa syukur dalam hati orang adalah the pride of the achievement. Sukses dan pencapaian bisa membuat orang berpikir bahwa dia itu besar dan Tuhan itu kecil. Sukses dan pencapaian bisa menyebabkan seseorang merasa bahwa semua yang terjadi padanya itu oleh karena diri mereka sendiri. Maka setelah the pride of achievement muncul, langsung hal ketiga dalam diri orang itu, yaitu the sense of the entitlement, perasaan “ini punyaku, ini hakku, ini milikku.” Sesudah seperti itu, maka muncul hal keempat yaitu the sense of the right to dispose with our good as we want, saya rasa berhak saya mau pakai dan gunakan seturut apa yang saya mau, itu kan sudah punyaku. Apalagi kalau Tuhan bilang itu adalah anugerah, pemberian, gift, kalau sudah kasih kok minta balik lagi? Kalau sudah kasih, lalu minta balik, itu bukan kasih, itu namanya loan. Kalau Tuhan sudah kasih, jangan atur-atur saya untuk bagaimana saya mau pakai dong. Terlalu banyak orang yang seperti ini, yang lupa mengucap syukur dan lupa melihat banyaknya anugerah Tuhan sebagai anugerah yang sungguh-sungguh tidak patut dia terima, sebab ke empat hal ini menutup matanya. Masukilah tahun ini, hiduplah dan penuhilah dengan perasaan syukur akan anugerah dan pemberian Tuhan yang betul-betul tidak layak didapatkan dalam hidup kita. Kosonglah hidup kita kalau kita hanya isi hidup kita dengan apa yang kita bisa capai dan raih; kosonglah hidup kita kalau kita hanya isi hidup kita dengan uang dan kekayaan belaka; kosonglah hidup kita jikalau tidak kita isi dengan Tuhan yang besar dan ajaib yang telah memberikan segala sesuatu dengan berkelimpahan dalam hidup kita.
Bersyukur bukan hanya menghargai Tuhan; bersyukur bukan hanya berbakti dan hormat kepada Tuhan. Bersyukur berarti saya juga bertanggung jawab mengembalikan seturut dan sepadan dengan apa yang sudah Tuhan beri kepada kita. Bukan itu saja, pemazmur sendiri berkata, pada waktu kita mau memberi kembali kepada Tuhan, terlalu besar dan terlalu banyak jumlahnya untuk dihitung di dalam hidup ini.
Apa yang menjadi kebanggaan hidupmu? Orang tua tentu merasa kebanggaaan hidupnya adalah kalau mereka melihat anak-anaknya sukses dan berhasil.Mzm.90:10-12 memakai kata yang menyentuh hati saya, “kebanggaanku adalah kesukaran dan penderitaan…” Sangat menarik karena kalimat ini membuat banyak penafsir bertanya-tanya, mengapa kesukaran dan penderitaan itu justru yang menjadi kebanggaan Musa? Terlalu banyak orang justru lebih suka menyimpan dan menyembunyikan kegagalan dan hal-hal yang tidak sukses dan tidak berhasil. Terlalu banyak orang naik ke mimbar membangga-banggakan segala pencapaian hidupnya dengan tameng “Tuhan bless… Tuhan bless…” sehingga jemaat yang duduk di bawah dengan mulut menganga terkagum-kagum sambil dalam hati bertanya-tanya, kenapa bless Tuhan selalu datang kepada dia, tetapi tidak pernah seciprat pun kepada saya? lalu rasa minder dan berpikir Tuhan tidak mengasihi dia. Itulah sebabnya Mzm.90 di dalam refleksi hidupnya selama 80 tahun yang panjang itu, apa yang menjadi kebanggaan hidupnya? Dia katakan, kebanggaan hidupnya adalah kesukaran dan penderitaan.
Soichiro Honda waktu awal membangun bisnisnya mengatakan kesuksesannya adalah kegagalan yang berulang-ulang plus introspeksi diri dari setiap kegagalan yang ada. Orang yang sukses tidak pernah tidak gagal dalam hidupnya. Tetapi yang membedakan dengan orang yang terus gagal adalah di dalam kegagalan itu apa yang kita pelajari, apa yang menjadi introspeksi kita, dan setelah introspeksi di situ saudara bisa bangga berkata di depan umum, ‘my failure, not my success menjadi hal yang paling penting.’ Itu sebab kenapa kita bisa mengerti pemazmur berkata, kebanggaanku adalah kesukaran dan penderitaan. Kita tambahkan list di situ, kebanggaanku adalah tidak naik kelas; kebanggaanku adalah kemarin ujian sekolah dapat “F” (failed); kebanggaanku adalah saya baru dipecat perusahaan; kebanggaanku adalah terbaring sakit keras satu tahun lamanya dan tidak bisa berbuat apa-apa; kebanggaanku adalah kemarin ditolak waktu wawancara cari pekerjaan. List itu bisa diperpanjang ‘and so on… and so on…’ tetapi itu tidak bisa kita banggakan selama kita tidak melihat itu sebagai sesuatu turning point di dalam hidup kita. Lihatlah ke belakang, refleksi apa yang ada, kita tidak akan melihat kesukaran, penderitaan, tantangan itu sebagai kata penghabisan. Pada waktu kita merefleksi ke belakang biar menjadi doa kita, Tuhan jangan itu semua menjadi moment-moment yang mau saya hapus dari ingatanku, tetapi justru catat itu sebagai kebanggaan hidupmu. Melewati hal-hal yang seperti itu, mengalami hal-hal seperti itu, kita bersyukur dan introspeksi, di situ menjadi satu turning point yang indah, satu pembalikan arah, sehingga kita melihat apa yang ada menjadi lebih berarti, lebih bernilai dan lebih indah di dalam hidup ini.
Dari situ kemudian saya mengajak saudara melihat apa yang Paulus katakan dalam 2 Tim.4:6-8 dan Kis.20:24 ”...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah…” Kita bersyukur kepada Tuhan kalau dalam perjalanan hidup kita, hari demi hari Tuhan tambahkan kepada kita, tahun yang baru Tuhan percayakan dan berikan kepada kita. Namun bukan soal berapa panjang hidup kita, bukan berapa pendek tahun-tahun yang ada di dalam perjalanan hidup kita, yang terpenting dan yang berarti di dalam hidup ini adalah apakah kita mempunyai sense kita sudah menyelesaikan ‘assignments’ yang Tuhan berikan kepada kita? Dan pada waktu assigments dari Tuhan itu sudah engkau selesaikan, saudara akan memiliki satu sense of worthiness bahwa hidup ini sudah kita jalankan selesai dan indah adanya. Paulus bilang, ini assignment yang Tuhan beri kepadaku. Aku mau selesaikan sampai garis akhir. Assigment bagi dia adalah pergi memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi. Assignment Paulus berbeda dengan assignment Petrus dan rasul-rasul lain yang Tuhan panggil untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi sendiri. Assignment yang kedua menjadi beban yang Tuhan berikan kepada Paulus adalah untuk pergi ke tempat yang belum pernah orang Kristen pergi, dan di situ ia beritakan Injil. Itu panggilan dan tugas bagi Paulus yang berbeda dengan Petrus dan hamba-hamba Tuhan yang lain. Itu bukan soal mana yang lebih penting, mana yang lebih berarti; yang lebih penting dan lebih berarti adalah assignment yang Tuhan berikan kepada kita adalah tugas yang Tuhan beri bagi kita kita kerjakan dan selesaikan dengan indah dan baik adanya.
Paulus merefleksi ke belakang dan dengan lega ia mengatakan ia sudah sampai kepada garis akhir, garis finish. Usia berapa panjang, berapa pendek, tubuh sehat atau sakit, itu tidak menjadi masalah. Tetapi berapa panjang berapa pendek usiamu, walaupun mungkin meninggal di usia muda, tidak berarti dia belum mencapai garis finish. Kita jangan pikir, kasihan orang yang meninggal di usia muda, belum mencapai garis finish, itu konsep yang keliru. Garis finish tidak berarti panjangnya umur orang. Paulus bilang, aku sudah selesai. Di dalam perjalanan itu dia mengatakan “I fought the good fight.”
Mari pulang ke rumah kita masing-masing selalu bawa pertanyaan ini di benak kita, Tuhan, apa yang Tuhan mau saya kerjakan dan lakukan dalam hidupku untuk bisa saya selesaikan? Pekerjaan kita berbeda, hidup kita perjalanannya berbeda, tetapi apapun yang engkau kerjakan dan lakukan, mari kita punya sense of worthiness. Setiap orang bernilai dan berarti di hadapan Tuhan pada waktu dia tahu yang dia kerjakan adalah apa yang Tuhan ingin dan Tuhan mau di dalam hidupnya. Miliki spirit untuk berjuang, miliki spirit untuk maju, spirit untuk mengerjakannya dengan suatu fighting spirit yang sehat di tahun ini, supaya kita boleh berkata, Tuhan, terima kasih untuk assignment yang Engkau berikan bagiku, aku sudah selesaikan dengan baik. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita.(kz)