Dalam beberapa minggu di awal tahun yang baru ini saya ingin kita semua memasukinya dengan beberapa hal memimpin pikiran dan hati kita. Ada orang memasuki tahun yang baru dengan hati dan optimisme yang besar, menyusun perencanaan yang besar, menginginkan supaya tahun ini bisa meraih hal yang lebih baik, lebih banyak dan lebih besar lagi. Itu adalah hal yang lumrah di dalam perencanaan kita. Tetapi di tengah optimisme yang besar seperti ini, biar kita menjaga hati kita dengan satu koridor yang penting dari firman Tuhan, “jikalau semua itu Tuhan kehendaki…” (Yak.4:13-15). Ini merupakan koridor yang penting menjaga hati kita supaya kita tidak takabur, menganggap kita bisa mengatur dan mengontrol perjalanan hidup kita. Tetapi ada orang yang mungkin memasuki tahun ini dengan hati dan pesimisme yang besar, ketakutan yang berkelebihan akan menghadapi bencana. Mungkin ada orang yang memasuki tahun ini belum ada pekerjaan; mungkin ada orang yang memasuki tahun ini dengan kesulitan sakit-penyakit yang begitu berat. Banyak di antara kita mungkin berpikir kapan kita bisa mendapatkan rumah jika kita melihat ekonomi dan situasi yang tidak menentu seperti ini. Itulah juga gambaran dari orang-orang Yahudi yang baru kembali dari pembuangan, yang tidak punya apa-apa lagi, dari mulut mereka keluar kalimat yang begitu menyedihkan, “Tulang-tulang kami sudah kering, pengharapan kami sudah lenyap, hidup kami sudah tamat” (Yehezkiel 37:11). Kepada orang-orang seperti ini Tuhan mengatakan, be courage! Kuatkan hatimu, teguhkan hatimu, nantikan Tuhan. Kita perlu kekuatan seperti ini, dan tidak ada orang Kristen yang boleh berkata, kita tidak punya jalan keluar di dalam hidup ini sebab pada waktu kita mengeluarkan kalimat seperti itu, kita sudah lupa siapa Tuhan yang menjaga dan memelihara dan menyertai hidup kita. Kalau sampai hari ini kita bisa berjalan dengan tanpa kekurangan sesuatu apapun, engkau dan saya bisa amazed luar biasa, bagaimana Tuhan sudah menjaga, memimpin dan memelihara kita. Tuhan selangkah demi selangkah memelihara dan memimpin kita. Tuhan berjanji menjaga dan memelihara engkau. Kuatkan hatimu, teguhkan hatimu, berjalan dan berani kerjakan, maka engkau akan melihat Tuhan itu setia adanya.
Hari ini kita akan melihat aspek yang lain, bicara soal kondisi hati kita. Kadang-kadang ada hal-hal yang unconscious, hal-hal yang tidak real, hal-hal yang kita tidak bisa mengerti kenapa ada orang yang bersikap seperti itu. Di tengah-tengah hal yang lancar pun tetap masih kuatir; di tengah-tengah situasi yang berkelimpahan pun tetap orang itu merasa belum cukup dan terus saja mengeluh. Kenapa bisa begitu? Saya ajak saudara melihat aspek yang ketiga ini, bicara soal ‘the state of our emotion.’ Lepas dari ‘the state of our mind,’ lepas dari ‘the state of our planning.’ Ada orang yang begitu rational di dalam menyusun planning, ada orang yang begitu rational di dalam pikirannya, tetapi begitu irrational di dalam emosinya. Orang seperti ini akhirnya lumpuh di dalam hidupnya, tidak berani melangkah dan mengerjakan apa-apa. Kepada mereka secara khusus kalimat Tuhan Yesus ini diberikan memasuki tahun yang baru, “janganlah kamu kuatir.”
Ada dua bagian di dalam Alkitab yang bicara mengenai “janganlah kuatir” yaitu perkataan Tuhan Yesus di Mat.6:25-33 dan perkataan rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Fil.4:4-7. Apa artinya “jangan kuatir”? Bukankah pada waktu Paulus bilang janganlah kamu kuatir, di situ dia sendiri sedang mencetuskan kekuatirannya (Fil.2:25-30). Kalau hamba Tuhan khotbah ‘jangan kuatir,’ tetapi sendirinya terus saja kuatir, saudara jadi bingung. Sama seperti lihat tukang obat menjual obat penumbuh rambut, padahal dirinya sendiri botak. Paulus bilang, “biar semua anxiety-ku berkurang dan berkurang…” (Fil.2:30) berarti dia sendiri punya banyak kekuatiran, banyak kesusahan. Tetapi kenapa Paulus bisa bilang kepada jemaat Filipi, “janganlah kuatir, serahkanlah kuatirmu kepada Tuhan”?
Apakah arti kata “jangan kuatir” itu? Adakah hidup yang bisa lepas dari kekuatiran? Saya percaya tidak ada. Kalau begitu, bagaimana firman Tuhan ini berbicara kepada kita? Tidak ada orang normal yang bangun pagi tidak kuatir, dalam arti memikirkan sesuatu. Itu wajar, karena kita bukan robot atau mesin yang tidak punya perasaan dan emosi. Kuatir, stress, gelisah, cape, takut, lapar, haus, itu adalah bagian dari emosi kita. Kalau kita punya pikiran, punya keinginan, punya emosi, semua itu tidak akan lepas dari hidup kita karena itu adalah bagian yang hakiki di dalam hidup manusia. Sama halnya, kalau kita belum makan, reaksi tubuh kita akan menjadi lapar; kurang tidur, kita akan mengantuk; belum siap menghadapi sesuatu, pasti takut dan cemas; tidak mengerti apa yang akan terjadi di depan, kita kuatir. Seperti halnya dengan berpikir, pikiran itu adalah bagian dari diri kita; maka saya percaya pada waktu Tuhan Yesus mengatakan, janganlah kamu kuatir, Ia tidak menyuruh kita hidup tidak ada emosi; Ia tidak mengatakan kita menjadi careless terhadap hidup; Ia tidak mengatakan kita harus masa bodoh terhadap hidup kita. Seperti kata Paulus, “waktu engkau mendengar Epafroditus sakit, engkau menjadi kuatir…” Itu reaksi emosi yang lumrah dan wajar. Waktu seseorang sakit, dia pasti stress. Kita menghadapi hal-hal yang tidak kita tahu di depan, kita menjadi kuatir. Kita bukan mesin; kita perlu kebutuhan fisik makan,minum, istirahat; kita memiliki emosi sehingga kita bisa sukacita, menangis, tertawa, gelisah, takut, dsb. Namun kita bukan seperti binatang, karena kita mengerti soal nilai dan waktu sehingga kita bisa berencana dan memikirkan apa yang ada di depan, sehingga pada waktu kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, kita gelisah dan kuatir adanya. Saya percaya Tuhan tidak mengatakan kita jangan kuatir, berarti kita bersikap masa bodoh dan kurang empati kepada orang. Kita tidak boleh mengatakan kepada orang yang gelisah dan kuatir, “sudah… jangan pikirkan seperti itu.”
Apa yang menyebabkan kuatir itu muncul dan menghimpit hidup kita? Yang pertama, bagaimana saudara dan saya menempatkan posisi Allah yang sepatutnya; bagaimana saudara dan saya seharusnya menempatkan diri sepatutnya; bagaimana dan dimana saudara dan saya meletakkan posisi masalah yang sepatutnya. Kalau dia kita letakkan ada di atas kita, dia mengontrol kita, dan dia akan membuat kita menjadi gelisah dan kuatir adanya. Jadi ini bukan soal ‘the state of your emotion’ waktu Tuhan bilang jangan kuatir, tetapi ‘the position of your anxious coming from’ yaitu karena kita ‘messy’ di dalam meletakkan di mana posisi Allah, di mana posisi dirimu, di mana posisi masalah dan problem dalam hidupmu.
C.S. Lewis dalam bukunya “The Problem of Pain” mengatakan ketika ‘sorrow upon sorrow’ datang ke dalam hidup seseorang, kalau hingga akhir hayatnya orang itu tetap tidak mendapatkan kelepasan dari segala tantangan yang ada. Bagaimana seandainya hal itu tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah sampai akhir hayatnya ia tidak menemukan hal yang indah dan baik terjadi dalam hidupnya? Apakah Tuhan menjadi tidak baik di dalam hidupnya. C.S. Lewis menjawab, saya tidak punya hak menilai kebaikan Tuhan (God’s goodness) hanya karena di dalam umurku yang 70 tahun ini saya tidak melihat kebaikan Tuhan. Saya tidak bisa menilai Allah yang tidak terbatas hanya dari umurku yang terbatas ini. Paulus tidak menyembunyikan bahwa ia sendiri juga dalam keadaan kuatir, sangat-sangat stress adanya. Dan dia sendiri tidak bilang kuatirnya menjadi hilang, dia hanya bilang ‘less anxious’ berarti kuatir itu masih tetap ada. Dia tidak menjadi tidak peduli dan masa bodoh menghadapi semua itu. Jelas sekali, bagi saudara yang ada di dalam keadaan menderita dan sakit, di dalam mengalami kesulitan dan tidak ada pekerjaan, menghadapi situasi yang tidak menentu di dalam hidup, itu perasaan emosi yang beserta dengan keadaan itu.
Kalimat Paulus menggambarkan ‘sorrow upon sorrow’ yang dia alami bisa kita lihat bukan di surat Filipi tetapi di dalam surat 2 Kor.11:23-33 yang bukan saja penderitaan fisik tetapi juga mental dan spiritualnya. Saat menulis surat Filipi Paulus sedang terbelenggu di dalam penjara dan bukan saja itu, Paulus pasti kuatir karena memikirkan banyak hal berkaitan dengan kondisi jemaat Filipi yang dalam keadaan terancam hampir pecah karena ada perselisihan di dalamnya. Dan juga rekan kerjanya yang bernama Epafroditus sedang sakit keras hampir mati. Maka kalimat ‘sorrow upon sorrow’ menggambarkan tidak ada habis-habisnya, hari ini langit gelap, besok juga gelap dan lusa lebih gelap lagi. Kapan dia bisa melihat langit terang?
Maka biarlah kalimat firman Tuhan ini boleh menjadi kekuatan bagi kita. Ketika kita menghadapi hal-hal seperti itu, bagaimana situasi dan keadaan yang berat, penuh dengan kesulitan dan penderitaan, kekuatan dari janji firman Tuhan, penghiburan dari firman Tuhan boleh mengangkat hati kita melihat lebih indah. Jangan kuatir, kata Paulus. Kalimat ini menjadi indah dan bermakna karena keluar dari mulut seseorang yang sendirinya hidup di dalam ‘sorrow upon sorrow.’ Demikian Tuhan Yesus sendiri mengatakan, jangan kuatir akan hidupmu, Ia sendiri pernah berada di dalam taman Getsemani, bergumul sampai mengeluarkan keringat seperti tetesan darah di dalam keadaan hati yang sangat berat. Maka biar hari ini kita melihat apa keindahan dari kalimat jangan kuatir ini. Saya percaya kalimat ‘jangan kuatir’ di dalam pengertian mari kita letakkan dengan tepat di mana sebenarnya posisi permasalahan dan problem itu di dalam hidup kita. Saya percaya engkau dan saya tidak bisa mencegah dan mengontrol kapan persoalan itu datang ke dalam hidup kita. Yang bisa kita lakukan adalah tidak membiarkan persoalan itu mengontrol hidup kita. Bagaimana menjaga hati tidak kuatir? Tahu meletakkan posisi masalah, problem dan kesulitan yang datang dalam hidup, tidak memaksakan diri untuk mengontrol, kita mau atur, kita mau cegah apa saja yang datang. Jadi jangan kuatir akan hal itu karena itu adalah kekuatiran yang tidak perlu dan tidak usah mengganggu hati kita. Yang ada ialah kita tidak boleh melihat segala problem dan situasi yang datang melumpuhkan dan membutakan hidup kita.
Selain itu, jangan pikir kita sehat, kita lancar, itu jauh lebih baik daripada kita sakit dan dalam kesulitan. Ada satu peristiwa yang dicatat di Alkitab sangat menyedihkan mengenai raja Hizkia yang sakit keras dan hampir meninggal (2 Raja 20:1-3). Firman Tuhan sudah datang kepadanya, memberitahukan bahwa waktunya sudah selesai. Tetapi Hizkia kemudian menangis dengan sangat dan memohon Tuhan menyembuhkan dia. Tuhan berbelas kasihan dan menyembuhkan dia dan memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi. Tetapi Alkitab memperlihatkan dari dia sakit kemudian menjadi sehat, kerusakan yang terjadi justru lebih besar. 2 Taw.32:24-33 mengisahkan akhir hidup raja Hizkia, sesudah dia disembuhkan, what’s next? ”...Hizkia tidak berterimakasih kepada Tuhan atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, dia menjadi angkuh sehingga ia, Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah.” Kesembuhan yang Tuhan beri kepada Hizkia tidak boleh menjadi tujuan akhir dan yang terpenting. Yang perlu kita lihat adalah, kalau Tuhan memberi sesuatu kepada kita, melalui itu apa yang sepatutnya dan seharusnya menjadi reaksi sesudah Tuhan menyembuhkannya dengan ajaib. Pakai bahasa kita, kondisi Hizkia secara analisa ilmu kedokteran sudah tidak ada harapan. Tetapi dengan sedih dan dengan air mata dia memohon dan Tuhan menjawab doanya sehingga ia disembuhkan. Tetapi point yang paling penting adalah Tuhan memberi tubuh yang sehat dan kesembuhan kepada kita, itu bukan tujuan akhir; Tuhan memberi berkat kepada kita, itu bukan tujuan akhir.
Yesus Kristus berkata, jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum dan pakai. Yesus tidak mengatakan hal-hal itu tidak perlu, tetapi ada hal-hal yang lebih penting daripada itu.
Kepada Hizkia, bukan kesembuhanmu yang terpenting. Di belakang daripada Tuhan memperpanjang umurmu dan memberi kesembuhan bagimu, apa yang kita kerjakan dan lakukan sebagai respons kita atasnya? Tuhan Yesus mengatakan pakaianmu bukan yang paling penting, tetapi tubuh itu sendiri. Bukan kebutuhan hidup yang paling penting, tetapi hidup itu sendiri yang lebih penting. Mat.6:25 dimulai dengan kata “therefore…” karena itu, kata Tuhan Yesus. Kekuatiran bisa terjadi karena ada hal yang sebelumnya (Mat.19-24), yaitu ketika ada dua tuhan di dalam hidup seseorang, yaitu ketika ia menyembah Tuhan sekaligus menyembah mamon/uang. Firman Tuhan mengingatkan kepada kita pada waktu situasi dan kesulitan datang, itu ada di luar kontrol kita. Dia bisa saja mengganggu dan melumpuhkan hidup kita tetapi jangan biarkan itu terjadi. Jangan juga kita merasa bahwa semua itu akan ada selama-lamanya dalam hidup kita. Ada yang lebih penting daripada semua itu yaitu bagaimana engkau mencari arti yang paling bernilai, yang paling sejati dari hidup yang sementara yang Tuhan berikan ini.
Yang kedua, bagaimana kita meletakkan posisi Tuhan yang sebenarnya dan sepatutnya di dalam hidup kita. Tuhan Yesus mengatakan, jangan kuatir, sebab Allah sanggup menyediakan semuanya bagimu. Tuhan pasti, Tuhan sanggup, Tuhan bisa mengontrol, Tuhan bisa mengatur dan memimpin hidup kita. TanganNya tidak kurang panjang untuk datang kepada kita. Tidak ada hal yang kurang dari Allah untuk tidak bisa mengerjakan sesuatu melampaui apa yang kita doakan dan mohon kepadaNya. Tuhan sanggup mengerjakan dan melakukannya. Kita tahu siapa Dia. Dia adalah Tuhan yang maha kuasa, yang mengatur dan memimpin hidup kita. Paulus berkata, “Allah bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihiNya” (Rom.8:28). Jangan taruh posisi Tuhan di tempat yang lain yang tidak sepatutnya dan sebenarnya. Junjung Tuhan tinggi-tinggi di dalam hidup kita. Jangan jadikan Tuhan sebagai ban serep dalam hidupmu, yang hanya engkau cari waktu engkau membutuhkanNya. Tempatkanlah Ia selalu di dalam posisi yang paling utama, jadikan Tuhan selalu sebagai prioritas yang terpenting di dalam hidupmu. Jadikan Tuhan sebagai Allah yang leluasa bekerja di tengah tantangan dan kesulitan yang seolah mustahil dan tidak ada jalan keluar. Bersandar dan percayalah kepadaNya, nantikanlah Tuhan pada waktu kita berada di dalam situasi yang tidak bisa kita kontrol di dalam hidup kita. Sekaligus jangan takut, kecewa, gelisah dan marah kepadaNya sebab kita tahu dan percaya Ia memberikan yang terindah dan terbaik kepada kita. Sampai kita menutup mata untuk selama-lamanya kita tidak berhak mengatakan Tuhan itu tidak baik di dalam hidup engkau dan saya.
Yang ketiga, barulah kita taruh posisi kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. Fakta dan realita kita hadapi setiap hari, orang yang kita kasihi sakit, orang yang kita kenal akrab sakit, ada yang tertimpa bencana kesulitan yang kadang-kadang kita tidak bisa mengerti. Jangan sampai kita juga tidak memiliki kepekaan hati melihat hal-hal yang terjadi seperti itu. Dalam Fil.4:4-7 Paulus mengingatkan kita beberapa hal, bagaimana kita berelasi dengan Allah, bagaimana kita berelasi dengan orang lain, bagaimana kita berelasi dengan diri sendiri, kepada diri kita sendiri. Meskipun kita sendiri mungkin berada di dalam kesulitan, itu tidak membuat dirimu kehilangan kepekaan untuk memperhatikan orang lain yang juga punya kesulitan dan perlu pertolonganmu. Paulus mengatakan, biar kebaikanmu boleh dilihat oleh semua orang. Kepada Allah, tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain selain menempatkanNya sebagai Tuhan yang di atas, sedangkan kita manusia di bawah. Kita buka tangan berdoa di hadapanNya dengan permohonan dan ucapan syukur. Itu sebab di dalam doa-doa pribadi, jangan selalu memikirkan diri sendiri dan berdoa bagi kebutuhan sendiri. Ingatlah untuk berdoa bagi orang lain yang berada di dalam sakit, yang di dalam kesulitan yang perlu kita doakan. Di dalam kesulitan diri jangan sampai akhirnya menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Biar kita tetap memperlihatkan kebaikan dan keindahan hati kepada orang lain juga. Ini merupakan ayat yang indah luar biasa. Kalau ada kesempatan duduk di sebelah seseorang, jangan terus bicarakan diri sendiri, apa yang menjadi hal yang berat dan sulit bagi hidup kita. Beri kesempatan kepada orang lain sehingga kita bisa melihat mereka pun memiliki hal yang besar dan sulit. Pada waktu kita merasa susah dan beratnya persoalan hidup kita, pakai satu dua hari untuk membesuk orang yang lebih susah dan lebih sakit sehingga di situ kita sadar kita tidak sepatutnya kuatir dan mengeluh. Pada waktu kita melihat kesulitan orang lain kita akan mempunyai hati yang lebih peka kepada orang lain.
Kita manusia memiliki tubuh, jiwa yang bersentuhan dengan berbagai hal yang tidak mungkin terhindar dari luka waktu berbenturan, mengalami perih waktu tergores, mengalami gelisah waktu kekurangan, mengalami kuatir waktu tidak tahu apa yang ada di depan. Kita dicipta memiliki kebutuhan dan tidak mungkin bisa lepas dari kesulitan persoalan yang ada. Tetapi biar firman Tuhan menjadi kekuatan yang memimpin hidup kita. Bukan supaya kita menjadi seperti malaikat yang tidak mengalami segala sesuatu; bukan kita menjadi seorang manusia super yang terlepas dari persoalan. Tetapi kita dipanggil Tuhan untuk bagaimana melihat dari terang firman Tuhan kepada apa yang sedang kita alami. Kita tahu hidup kita ada di tangan Tuhan, Tuhan yang menjaga dan memelihara dan memimpin. Tuhan patut kita puji dan sembah karena Tuhanlah yang paling utama dan paling indah di dalam hidup kita. Pada waktu kita terus-menerus merenungkan kebaikan Tuhan, tidak henti-hentinya kebaikan itu datang kepada kita. Pada waktu kita menyerahkan pimpinan Tuhan beserta dengan kita, tidak henti-henti kita melihat tangan Tuhan memelihara kita pribadi lepas pribadi. Itu sebab baik di dalam keadaan lancar maupun tidak lancar; suka atau duka, bahkan ketika duka demi duka terus ada; itu semua tidak menyebabkan kita kehilangan sukacita kita beserta Tuhan dan tidak menyebabkan kita kehilangan hati untuk memberi kebaikan kepada orang dan tidak membuat kita putus asa membawa doa kita kepada Tuhan.(kz)