Mengawali tahun ini banyak berita disebarkan lewat BBM yang mengatakan kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Bagi saya berita-berita seperti itu adalah berita kecil dan remeh yang tidak sepatutnya menggelisahkan kita. Kemarin pagi di surat kabar dikatakan 700 pekerjaan di ANZ akan hilang, yang kerja di ANZ tidak usah kuatir dengan berita seperti itu. Kalau pun engkau sampai dipecat, itu tidak akan mempengaruhi dan merubah hidpmu terlalu besar dan dratis. Tiga tahun yang lalu kota Christchurch di New Zealand mengalami gempa bumi yang dahsyat dan rumah-rumah banyak yang ambruk. Tahun lalu mereka coba membangun rumah yang baru, tidak lama ambruk lagi oleh gempa, dan tanah disekitarnya tidak bisa lagi dijadikan fondasi karena tanah yang solid itu berubah menjadi lumpur. Habis total, mau dijual tidak bisa. Mereka bertanya, bagaimana kami bisa membangun hidup kami karena tidak ada tanah yang solid untuk kami berpijak lagi? Itu adalah berita yang cukup besar mempengaruhi hidup orang. Ada orang tahun lalu ditimpa kesulitan dan bencana, belum selesai dan belum lewat, datang menyusul penyakit yang tidak ada habis-habisnya. Itu adalah berita yang besar yang patut kita prihatinkan.
Bagaimana kita ingin menjelaskan, karena kita tidak terlalu tahu situasi dan kondisi bangsa Israel yang pernah jaya itu pulang dari pembuangan di tanah penjajah, melihat reruntuhan kota-kota mereka? Tanah itu dahulu subur, kota-kota itu ramai dan modern, penuh dengan kesibukan dan tawa ria. Setelah ditinggalkan 70 tahun, yang tertinggal hanya reruntuhan, kesunyian, kekeringan yang tandus. Tidak ada resources, tidak ada hasil bumi, tidak ada minyak di daerah itu. Saudara dan saya mungkin sulit untuk membayangkan apa yang ada di pikiran dan hati mereka. Tetapi kita patut kagum melihat bangsa ini memang luar biasa, menghadapi tantangan kesulitan seperti itu mereka bisa bangkit kembali.
Tahun 1968, sebagian orang Israel kembali ke negaranya. Tidak ada minyak di tempat itu; tidak ada berlian di situ. Kalau saudara mau ketemu berlian, datang saja ke Botswana, jalan di tempat bebatuan sambil iseng-iseng tendang tanah, siapa tahu ketemu satu dua berlian di situ. Tetapi patut kita kagum, negara pengasah berlian terbesar di dunia adalah Israel. Tanah mereka kering dan tandus waktu mereka kembali, tahun 1968 bahkan Indonesia lebih modern daripada mereka. Bagaimana bisa mereka sekarang merubah tanah yang tandus itu menjadi berlimpah-limpah dan subur menghasilkan tumbuhan dan buah-buahan?
Tetapi sejarah memperlihatkan hal itu terus-menerus. Bangsa ini kembali dari pembuangan kira-kira tahun 500-an BC, karena Tuhan menghukum mereka akibat mereka telah meninggalkan Tuhan dan jatuh ke dalam penyembahan berhala. Tuhan menghukum dan menghapus satu generasi itu ke pembuangan. Tuhan mengirim mereka ke Babel dan Persia, mereka menangis selama hampir 70 tahun, baru Tuhan membawa mereka kembali. Dan dari kelompok remnant yang tersisa itu Tuhan berjanji akan membangun kembali umatNya. Waktu mereka balik, tembok kota Yerusalem sudah hancur dan runtuh. Hanya ilalang dan bebatuan yang tersisa. Bagaimana bisa menanam gandum di situ? Waktu mereka kembali, Bait Allah sudah hancur dan runtuh. Dengan kekuatan apa mereka bisa membangunnya kembali? Dahulu ketika negara ini jaya dan besar, Salomo hanya keluar satu kalimat, seluruh raja-raja di sekitarnya ramai-ramai mengirim upeti dan sumbangan, emas, berlian, gading dan kayu, sehingga Bait Allah dibangun dengan megah luar biasa. Tetapi sekarang semua hancur dan tidak tersisa. Apa yang bisa dilakukan oleh mereka? Sulit untuk bisa merasakan dan mengerti perasaan mereka. Ada satu ayat dari Yehezkiel 37:11 menggambarkan perasaan hati mereka dengan sangat jelas, “Tulang-tulangku sudah kering, pengharapanku telah lenyap, hidup kami sudah tamat.” Tuhan menyuruh Yehezkiel mengatakan kepada mereka, Tuhan akan membangkitkan tulang-tulangmu, demikianlah firman Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan orang itu menyerah di dalam hidupnya. Tidak pernah kita temukan di dalam catatan Alkitab di tengah situasi yang paling berat dan paling sulit yang pernah dialami manusia, Tuhan meninggalkan dan melupakan mereka. Tuhan berjanji akan membangkitkan tulang-tulang mereka, Tuhan akan memberi kekuatan kepada mereka, Tuhan akan memberi semangat kepada mereka untuk berjuang. Berulang kali kalimat-kalimat janji Tuhan muncul.
Hagai hidup di tengah-tengah bangsa yang mengalami kondisi itu. Kalau seperti itu kondisi kehidupan mereka, lumrah dan wajar dan normal kalau kita mengatakan biarlah mereka dengan sekuat tenaga membangun dahulu hidup mereka, kebutuhan mereka, memasang atap untuk menaungi kepala. Normal dan wajar kita pikir mereka mencari sesuap nasi dengan susah payah memenuhi kebutuhan sendiri, bagaimana kita bisa menuntut mereka memperhatikan yang lain lagi?
Pelajaran yang paling indah yang saya dapat adalah Tuhan tidak pernah membuat orang-orang itu mencari excuses terhadap situasi hidupnya sehingga tidak bisa berkarya bagi Tuhan. Ini point yang ingin kita belajar. Tidak berarti Tuhan tidak tahu kondisi mereka; tidak berarti kondisi itu remeh dan tidak patut ditolong; tetapi jangan sampai kondisi itu menjadi hal yang membikin kita excuses terlalu banyak dan menghambat hidup kita melayani.
Hagai menantang pemimpin-pemimpin dari orang yang kembali ini, Zerubabel sebagai pemimpin politik dan Yosua sebagai pemimpin agama mereka, dengan pertanyaan ini, “Mengapa engkau berpikir sekarang belum waktunya membangun kembali Rumah Tuhan? (Hag.1:2). Kalimat ini tidak berarti bahwa mereka tidak mau membangunnya; kalimat ini memberitahukan kita bahwa bagi mereka belum waktunya, belum saatnya. Kenapa ‘belum waktunya, belum saatnya’? Karena kita sendiri masih belum cukup, pengharapan kami masih belum ada, hidup kami belum stabil, waktu tidak ada, uang belum banyak. Itu yang di-challenge oleh Hagai, sampai kapan kamu rasa kamu cukup? Hagai tidak berkata, hidupmu itu tidak susah; Hagai tidak berkata, kondisimu tidak patut ditolong; Hagai tidak bilang dia tidak tahu keadaan mereka. Tetapi Hagai ingin mengajak bangsa Israel itu untuk berpikir dengan lebih dalam, kondisi itu telah menyebabkan mereka excuse adanya. Mereka terus-menerus sibuk sebab mereka mau kaya dulu, baru bisa lakukan sesuatu. Tunggulah kita cukup dulu, baru kita pikir membangun Rumah Tuhan yang sudah runtuh itu. Bukan kami tidak mau, tunggulah dulu. Ini point yang pertama, Hagai men-challenge perasaan dan pikiran ‘saya belum cukup’ itu.
Di dalam tantangan itu ada dua hal yang indah diangkat oleh firman Tuhan di sini. Yang pertama adalah: sampai kapan engkau rasa cukup? Sampai kapan? Sebab yang terjadi adalah ini yang terus tidak ada selesainya, ”...kamu menabur banyak, tetapi membawa hasil sedikit; engkau makan, tetapi tidak pernah kenyang; engkau minum, tetapi terus dahaga; engkau berpakaian, tetapi terus menggigil kedinginan; engkau kerja keras kumpul uang, tetapi kantongmu bolong…” (Hag.1:6). Intinya adalah waktu engkau rasa belum cukup, sampai kapan engkau akan bilang sudah cukup dan baru bisa mengerjakan dan melakukan hal yang penting bagi Tuhan? Tunggu saya kaya dulu, Tuhan; sampai kapan kita rasa sudah kaya? Sampai kapan kita tahu kita sudah cukup? Tunggu sampai saya punya waktu; sampai kapan kita rasa kita punya waktu? Tunggu sampai saya sudah bisa atur dan kontrol hidup saya dengan baik; sampai kapan itu? Selama-lamanya engkau tidak akan sampai kepada “saat itu” kalau selalu rasa belum cukup, selama-lamanya engkau juga tidak akan pernah sampai kepada “saat itu” sampai kapan pun.
Yang kedua, engkau bilang, “tunggu sampai saya kaya dulu…” Perhatikan baik-baik, di dalam hal kita menjadi kaya, ada faktor-faktor yang bisa kita kontrol. Yang pertama, engkau dan saya bisa beli tanah lebih banyak. Faktor yang kedua, engkau dan saya bisa beli benih lebih banyak. Faktor yang ketiga, engkau dan saya bisa mempekerjakan orang lebih banyak untuk menggarap sawah dan ladangmu. Tetapi tunggu dulu. Ada faktor-faktor yang engkau dan saya tidak bisa kontrol untuk menjadi kaya. Sesudah mempunyai tanah, sesudah mempunyai benih, sesudah mempunyai pekerja, siapa yang menurunkan hujan dan embun bagimu? Firman Tuhan berkata, “Oleh karena RumahKu tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan sendiri, itulah sebabnya langit menahan embun dan hujan dan bumi menahan hasil tanahnya…” (Hag.1:9-10). Kekeringan terjadi. Itu adalah faktor yang tidak bisa kontrol adanya.
Saudara dan saya mungkin bisa mengontrol planning apa yang mau kita lakukan di dalam waktu, tetapi maafkan, harus kita akui kita tidak bisa kontrol berapa panjang waktu yang diberi kepada kita. Kita bisa berencana sepuluh dua puluh tahun ke depan, dan kita mungkin punya segala resources untuk mengatur apa yang kita planning di dalam waktu, tetapi mari kita belajar mendengarkan apa yang Tuhan katakan hari ini: ada yang engkau tidak bisa kontrol di situ. Engkau tidak bisa kontrol hujan turun; engkau tidak bisa kontrol berapa panjang waktu yang Tuhan beri kepadamu. Kalau sudah seperti itu, biar hari ini kita bawa pertanyaan penting ini bagi hidup kita masing-masing. Saya rindu firman Tuhan ini juga men-challenge hidupmu. Mari kita tanya kepada diri kita sendiri, berapa standar cukup kita di hadapan Tuhan? Kenapa kita selalu katakan, ‘belum waktunya, belum saatnya mengerjakan sesuatu’ tetapi jujur selama-lamanya kita tidak akan pernah kerjakan dan lakukan hal itu.
Tuhan bukan tidak mengerti kondisi yang desperate dari orang Israel itu. Tuhan hanya ingin meng-counter mereka, dalam kondisi mereka seperti itu jangan dipakai sebagai excuses untuk kemudian menunda-nunda hal yang lebih penting di dalam hidupmu di hadapan Tuhan. Akhirnya karena sikap yang merasa belum cukup, seberapa banyak pun kita berusaha kerjakan, selalu tidak akan ada kecukupan dan satisfaction di dalamnya. Satisfaction dan contentment itu berbeda dengan enough. Terus-menerus mereka sibuk dan mau menjadi kaya, tidak ada sukacita dan satisfaction di dalamnya, malah menjadi berbahaya adanya. Orang tidak peduli berapa harga yang harus dia bayar supaya kaya, sukses dan mendapatkan segala-galanya. Adakah kita juga menjadi orang yang sibuk terus-menerus dan rasa tidak pernah cukup, kita juga menjual hidup kita kepada hal yang tidak bernilai dan berarti?
Tuhan tahu engkau susah, Tuhan tahu rumahmu belum terlalu bagus, Tuhan tahu ladangmu belum menghasilkan apa-apa. Tetapi kalau engkau tunggu sampai berhasil, sampai banyak berlimpah, baru engkau memikirkan yang lain, tunggu dulu. Ada hal-hal yang tidak bisa engkau kontrol di dalam hidupmu. Firman Tuhan bertanya, kenapa engkau tidak bisa maju? Sebab ada aspek-aspek yang tidak bisa engkau kontrol di dalam hidup ini. Yang mengontrol itu adalah Tuhan. Dan selama engkau terus-menerus tidak memprioritaskan Tuhan di dalam hidupmu, selama-lamanya engkau berada di dalam lingkaran yang tidak ada ujungnya.
Yang kedua, ada satu frase yang empat kali diulang oleh Hagai dalam kitab ini, “perhatikanlah keadaanmu” (1:5, 1:7, 2:16 dan 2:19), consider your thought, consider what your priority is, consider caferully. Dengan pengulangan seperti itu kita tahu bahwa ada penekanan khusus dan penting. Hagai bertanya, apa prioritas yang engkau letakkan dalam hidupmu? Apakah engkau pernah pikir baik-baik dan letakkan dengan urutan yang tepat dan dengan prinsip yang benar? Kalau ya, maka hidup kita akan menjadi indah dan bahagia adanya.
Tuhan Yesus bertanya, kenapa engkau kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan pakai? Kekuatiran itu tidak akan menambah sesuatu apapun di dalam hidupmu, malah yang pasti ia akan mengurangi sesuatu. Ia mengurangi tidurmu, ia mengurangi kebahagiaanmu, ia mengurangi umurmu. Kita kuatir tubuh kita pendek, bangun tiap pagi juga tidak akan membuat kita jadi lebih tinggi. Kita kuatir uang kita kurang, bangun pagi itu juga uang kita tetap sama. Maka kata Tuhan Yesus, apakah dengan kekuatiranmu engkau bisa menambah sehasta saja jalan hidupmu? Tidak. Apakah dengan kekuatiranmu itu bisa mendapatkan lebih daripada itu? Tidak. Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semua akan ditambahkan kepadamu (Mat.6:25-33). Seperti Tuhan Yesus, message dari Hagai juga sama, consider carefully what is your priority. Prioritas di sini adalah membangun Rumah Allah, tetapi tidak boleh ditarik kepada konteks sekarang lalu kita harus bangun gedung gereja sebelum membangun rumah sendiri. Kenapa tidak sama? Sebab Bait Allah waktu itu adalah simbol penting dan sentral penting di dalam hidup orang Israel, kepada bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Maksud dari prioritas membangun Rumah Allah terlebih dahulu adalah apakah sentralitas hidup mereka adalah Tuhan yang diutamakan daripada segala yang lain? Itulah yang ingin diangkat oleh Hagai. Maka Tuhan minta bangun Bait Allah lebih dulu. Apakah kekuatan sudah ada? Tidak ada. Semua susah dan sulit, tidak gampang dan tidak mudah. Kenapa saya katakan tidak gampang dan tidak mudah? Sebab bangunan Bait Allah yang dibangun oleh Zerubabel itu ada dua hal yang terjadi. Pertama, waktu dilakukan peletakan batu pertama, upacaranya besar, semangatnya luar biasa. Dalam Ezr. 3 mencatat peristiwa ini dengan begitu clear. Mereka berpesta, bersukacita, bersorak sorai. Di ayat 13, mereka tidak bisa lagi membedakan mana bunyi sorak-sorai kegirangan dan mana bunyi tangis rakyat, karena rakyat bersorak-sorai dengan suara yang nyaring sehingga bunyinya kedengaran sampai jauh. Ada sukacita, ada perayaan, tetapi perayaan sukacita, sesudah selesai semua pulang, balik ke tempat masing-masing, tidak ada yang mengerjakan pembangunan selanjutnya. Masing-masing pulang mengurus urusannya sendiri, masing-masing menunggu pihak lain yang mengerjakannya. Sampai akhirnya pembangunan itu terbengkalai dan Hagai menegur mereka.
Kenapa sikap mereka seperti demikian? Berbeda dengan pembangunan Bait Allah jaman Salomo, Salomo bisa menegakkan peraturan yang mengharuskan rakyat bekerja rodi, tetapi hal seperti itu tidak bisa lagi dilakukan di jaman Zerubabel. Pekerjaan ini tidak bisa dipaksakan, semua hanya bersifat sukarela. Sehingga setelah mereka kembali ke tempat masing-masing, tidak ada yang keluar memiliki keinginan seperti itu.
Itu sebab terjadi Hagai memberi kalimat yang diulang beberapa kali, ketika Tuhan menggerakkan semangat Zerubabel, Tuhan menggerakkan semangat imam besar Yosua dan Tuhan menggerakkan semangat selebihnya dari bangsa itu untuk melakukan pekerjaan pembangunan Rumah Tuhan semesta alam (1:14), Hagai menyampaikan firman Tuhan kepada mereka, “kuatkanlah hatimu hai Zerubabel, kuatkanlah hatimu hai Yosua, dan kuatkanlah hatimu hai segala rakyat negeri. Bekerjalah, sebab Aku akan menyertai kamu, demikianlah firman Tuhan semesta alam (2:5). Mereka sadar, semangat mereka tumbuh, tetapi itu harus dibarengi dengan tiga kali pengulangan ini, “take courage!” God stirred up their spirit and God said, take courage. Tidak mungkin pekerjaan terjadi kalau para pemimpin tidak memiliki spirit dan semangat yang sama. Maka Zerubabel sebagai pemimpin politik dan Yosua sebagai pemimpin agama dan seluruh rakyat ambil bagian di dalamnya. Kalau seluruh rakyat mau, tetapi pemimpinnya tidak memiliki keinginan dan arah, maka hal itu tidak akan terjadi. Demikian sebaliknya, kalau pemimpinnya mau, tetapi rakyat tidak mau, hal itu pun tidak bisa terlaksana. Hanya memiliki semangat dan keinginan, pun tidak cukup. Maka Hagai memberi dorongan dari Tuhan, take courage. Allah beserta dengan kita di tahun ini, namun tidak berarti perjalanan kita akan gampang dan mulus adanya. Tetapi janji Tuhan, kalau Ia beserta dengan kita, jangan pernah putus asa, jangan pernah patah semangat. Tuhan akan stirrup semangat kita. Take courage and do it. Seberapa kecil peluang yang ada, ambil saja. Daripada saudara tinggal diam dan mengeluh mengapa peluang itu begitu kecil adanya. Seberapa susah dan sulitnya mereka, Tuhan tidak mau mereka jadikan itu excuses. Sebab kita akan lihat begitu akhirnya Bait Allah itu selesai didirikan, kemegahannya secara fisik jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Bait Allah yang dibangun oleh Salomo. Tetapi kenapa Tuhan berkata bahwa Rumah yang akan mereka dirikan ini akan melebihi kemegahan yang sebelumnya (2:10)? Tuhan tidak melihat hasil fisik yang kelihatan, tetapi kepada kerelaan hati dan sukacita mereka bekerja bagi Tuhan. Tidak ada emas dari Hiram, tidak ada kayu aras dari Lebanon, tidak ada gading yang datang dari Afrika seperti yang diperoleh Salomo untuk membangun Bait Allah. Semua itu tidak ada di Bait Allah Zerubabel. Mereka membangun dengan apa yang ada, mereka membangun prioritas hidup mereka dengan apa yang ada di dalam diri mereka, mereka membangun dengan semangat dan keberanian yang ada di dalam hati mereka.
Tahun ini saya harap dan saya rindu kita masuki dengan sikap berani, stirrup satu dengan yang lain dengan kekuatan dan semangat yang Tuhan berikan. Janji berkat Tuhan atas hidup kita ya dan amin, sebab Allah yang berjanji itu berkuasa mengontrol segala sesuatu. Cuma kadang-kadang, janji memang diberi saat itu, tetapi mungkin penggenapannya terjadi tidak sekejap mata, bahkan mungkin janji itu tidak digenapi di dalam hidup kita, melainkan di dalam hidup anak dan cucu kita. Itu bukan karena Allah lalai, itu bukan karena Allah tidak bisa, tetapi persoalannya adalah karena kita yang terbatas oleh waktu. Kiranya Tuhan memberkati setiap kita. Bersyukur untuk firmanNya, bersyukur untuk janjiNya, bersyukur untuk penyertaan Tuhan. Itu sudah cukup bagi kita di tahun ini. Bersyukur untuk segala berkat dan anugerah Tuhan, untuk segala kecukupan bagi hidup kita di tahun ini. Biar kiranya Tuhan memimpin kita supaya kita boleh menjalani tahun ini dengan sukacita, semangat dan hati yang bersandar kepada Tuhan yang beserta dengan kita, yang berjanji bagi hidup kita. Kita percaya sebab Ia adalah Tuhan semesta alam, Allah Zebaoth, yang menguasai perjalanan hidup kita dan mengontrol dunia ini.(kz)