Berbeda dengan manusia, Tuhan memberi binatang kemampuan ekstra untuk memakai naluri dan instingnya yang ada sehingga mereka bisa survive hidup, tetapi binatang tidak mempunyai kemampuan untuk berencana ke depan. Binatang tidak punya kesadaran akan waktu dan kesadaran diri mengenai hidup mereka. Hanya manusia yang memiliki kemampuan berencana, kemampuan menata masa depan, kesadaran akan hidup, kesadaran akan waktu dan nilai kekekalan. Itu sebab memasuki tahun yang baru ini saya percaya kita punya program dan rencana yang kita sudah atur baik-baik. Saudara sudah planning tahun ini apa yang akan Saudara lakukan dan apa yang akan Saudara raih dan capai hingga akhir tahun nanti. Itu merupakan bagian hakekat yang menunjukkan kita sebagai seorang manusia yang diberi kesadaran diri akan soal waktu, soal nilai. Ada hal yang patut kita rencanakan di depan supaya hidup kita menjadi lebih baik, menjadi lebih berarti, mendapatkan sesuatu yang lebih berarti daripada tahun yang lalu.
Yakobus dalam Yak.4:13-16 sedang berbicara soal rencana dan planning. Dan di dalamnya jelas sekali Yakobus sama sekali tidak menegur atau mencela orang yang membuat rencana dan planning di dalam hidupnya. Yang ditegur oleh Yakobus di situ adalah orang yang mengatur dan merencanakan segala sesuatu di depan dengan penuh self confidence dan seolah bisa mengatur dan merencanakan segala sesuatu di dalam kontrolnya seturut dengan apa yang mereka pikirkan dan itu pasti akan terjadi. Yakobus menegur sikap self confidence, self sufficient, sanggup dan mampu. Di dalam Rom.1:8-15 Paulus mengatakan kepada jemaat di Roma, di dalam doaku, aku sudah berencana lama dan berkali-kali, aku ingin sekali untuk datang ke kotamu dan berjumpa dengan kalian semua. Tetapi di dalam doaku aku meminta kehendak Tuhan, kalau Tuhan kehendaki aku akan pergi sesuai dengan waktu Tuhan dan rencana keinginanku biar ada di dalam pimpinan Tuhan. Di sini muncul konsep penaklukan diri Paulus terhadap rencana dan kehendak Tuhan di depan. Mengerti dan tahu semua itu seturut dengan rencana dan waktu Tuhan itu merupakan hal yang penting dan perlu ada di dalam diri kita sebagai anak-anak Tuhan di dalam merencanakan sesuatu di tahun ini. Tetapi di sisi lain kita juga perlu memiliki balance di dalam konsep pengertian kita akan kehendak Tuhan ini, yaitu kita tidak menerima konsep takdir dan nasib. Orang yang tidak percaya Tuhan pergi ke kuil dan kelenteng, tukang quamia mengatakan apa nasib yang ada pada hidup mereka, berapa panjang umur mereka, apakah sehat atau sakit mereka tahun ini, sukses atau gagal. Kita tidak terima konsep takdir dan nasib. Artinya, orang yang takluk di bawah konsep takdir dan nasib mengatakan kalaupun engkau sudah bersusah-payah bekerja berat, bersusah-susah, engkau tidak bisa menghindari dan merubah takdir dan nasibmu. Kita tidak memiliki konsep seperti itu. Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, namun yang kita tahu adalah Tuhan kontrol dan atur semua itu, tetapi bukan seperti konsep Tuhan menciptakan satu takdir bagi kita. Alkitab berkata 100% ada kehendak dan pilihan bebas yang Tuhan berikan kepada manusia sebagai freedom dan di dalamnya Tuhan bekerja di dalam kita merencanakan dan mengatur semua itu. Tetapi sebaliknya kita juga tidak terima konsep bahwa kitalah yang atur dan rencana, kita yang tentukan semuanya. Maka baik Yakobus maupun Paulus menulis surat membantu kita memahami bagaimana berencana dan tetap berada di dalam kehendak Tuhan.
Yang pertama, kata Paulus bicara mengenai dirinya, di dalam berencana kita menyerahkan segala sesuatu di dalam doa, biar kehendak Tuhan yang jadi adanya. Demikian Yakobus memberikan warning kepada sebagian orang Kristen yang sukses di dalam bisnis usaha, yang sudah mengatur dan merencanakan segala sesuatu, dia mengingatkan jangan kita melupakan satu approaching yang penting di dalam hidup ini, ‘if God’s willing.’ Alasannya simple dan sederhana, kata Yakobus, karena hidup kita itu seperti uap atau rumput. Hidup kita betapa gampang berubah. Hari ini kita sehat, mungkin besok kita sakit; hari ini kita bisa mem-planning segala sesuatu tetapi bulan depan bisa saja semua yang kita plan tidak bisa terwujud. Hidup itu rentan, hidup itu singkat, kita tidak bisa atur semuanya di dalam kontrol kita.
Maka memahami kata ‘jika Tuhan menghendaki’ memasuki tahun yang baru ini biar kita memiliki the right attitude towards the future and a proper approach towards the future. Ini adalah dua hal yang penting. Kita tidak dipanggil Tuhan untuk mencari-cari dan mereka-reka apa kehendak Tuhan di depan. Banyak orang tergoda untuk mencari tahu apa kehendak Tuhan di depan baginya; banyak orang tergoda minta Tuhan buka rencana Tuhan di depan mereka. Maka waktu mereka mau mengambil keputusan, membeli ini dan itu, mereka mau Tuhan memberi sign dan tanda yang jelas, memberi warning supaya tidak gagal dan jatuh. Tetapi kita tidak dipanggil Tuhan seperti itu. Yang Tuhan panggil adalah biar kita melangkah setapak demi setapak. Itu yang menjadi right attitude kita di dalam kita menghadapi masa depan, pada waktu kalimat ini muncul “jikalau Tuhan menghendaki.” Kalimat ini berarti Saudara dan saya tahu Tuhan itu yang kontrol; kalimat ini berarti Saudara tahu dan mengakui Tuhanlah yang berkuasa atas masa depan kita. Namun ‘jikalau kehendak Tuhanlah yang terjadi’ keluar dari mulut kita, saya harap itu tidak hanya menjadi “rubber stamp” kita minta dari Tuhan padahal kita sudah atur sendiri, sudah rencanakan semua, lalu kita bawa kepada Tuhan minta stempel approval. Dan pada waktu rencana itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan Tuhan tidak berkenan, kita bisa marah dan kecewa.
Tetapi bagaimana saya tahu? Dimana saya dapatkan pengertian secara konkrit itu kehendak Tuhan di dalam hidup kita? Maka kalau ada orang bilang, “Yang in kehendak Tuhan, yang itu bukan kehendak Tuhan,” Saudara harus kritis mempertanyakannya lebih dalam lagi, bagaimana dia tahu? Darimana bisa aku dapatkan apa itu kehendak Tuhan di dalam hidupku?
Beberapa poin ini saya berikan menjadi prinsip kita. Yang pertama, firman Tuhan mengajar kita prinsip kehendak Tuhan itu bukanlah sesuatu yang tersembunyi dan misteri. Prinsip firman Tuhan yang secara moral sudah Ia wahyukan kepada kita di dalam Alkitab. Sehingga hal-hal, wilayah-wilayah yang Tuhan sudah wahyukan di dalam firmanNya secara jelas bagi kita, yang kita lakukan hanya satu: saya taat mengerjakan dan melakukannya. Saudara jangan terus berpikir mencari kehendak Tuhan itu sebagai sesuatu yang misterius, yang seperti puzzle yang harus kita cari-cari. Allah sudah wahyukan firmanNya. Hal-hal yang penting dan yang perlu bagi hidup kita sudah nyata dan jelas di dalamnya. Maka di dalam kita mencari dan mengenal kehendak Tuhan, prinsip yang pertama ini terjadi: kalau Tuhan sudah bicara dengan jelas di dalam Alkitab, biar kita taat kepadanya, biar kita lakukan apa yang firman Tuhan katakan kepada kita.
Yang kedua, mungkin ada wilayah-wilayah di dalam hidup kita Alkitab tidak bicara dengan jelas. Tidak ada perintah Tuhan atau larangan Tuhan yang jelas di situ. Saya percaya prinsip Alkitab yang berlaku adalah Tuhan memberikan kepada kita kebijaksanaan, Tuhan memberikan kepada kita kebebasan sebagai orang Kristen yang dewasa menggunakan kebebasan itu dengan bertanggung jawab, memilih tindakan dan keputusan yang sebaik mungkin dengan pikiran kita yang sebijaksana mungkin di dalam kebebasan yang Tuhan kasih.
Dalam Fil.3:15 Paulus bicara soal pekerjaan Tuhan yang pasti akan menyatakan sesuatu, memberikan kepada kita apa yang tadinya tidak jelas menjadi jelas. Ada hal-hal yang sudah engkau pikirkan, tetapi kalau pikiranmu lain, artinya mungkin itu masih kabur dan samar, kita belum dapat dengan jelas, God will show you, God will make it clear for you. Tuhan bekerja, Tuhan pimpin kita, Tuhan membuka jalan ke depan bagi hidup kita. How? Nanti akan jelas waktu kita jalani meskipun kita belum tahu bagaimana Tuhan melakukannya. Saya percaya dengan melihat perjalanan hidup kita, pengalaman kita setelah kita menjalani, kita makin jelas melihat hal itu. Tapi yang paling penting sebenarnya adalah kalimat Paulus di depan, “Marilah kita yang sempurna…” kita yang sudah mature dalam iman. Dia sedang berbicara soal yang penting kita bertumbuh, yang penting kita mature, memiliki the right attitude, a proper approach menghadapi sesuatu. Apa yang ada di depan, bagaimana mengambil keputusan, dsb, Paulus bilang, kalau akhirnya Saudara pernah punya cara pikir yang beda, mungkin waktu kita menganalisa keliru, someday God will show it.
Ada 4 bagian firman Tuhan yang akan saya ajak Saudara lihat untuk menjadi satu perbandingan bagaimana di dalam situasi-situasi yang dipertimbangkan oleh Paulus di dalam mengambil keputusan, muncul beberapa point untuk kita pelajari.
Pertama, 1 Kor.16:3-4 ada prinsip “kalau ternyata penting,” atau dalam terjemahan bahasa Inggris, “if it is fitting.” Jemaat Korintus sudah mengumpulkan uang bantuan jemaat untuk disampaikan kepada jemaat di Yerusalem, dan Paulus mengutus orang untuk mengurus akan hal itu. Lalu muncul satu kalimat, ‘kalau ternyata penting, kalau ternyata cocok, kalau ternyata tepat, kalau memang itu merupakan hal yang appropriate dan pas’ Paulus juga akan pergi. Maka, pergi atau tidak? Boleh pergi, boleh tidak pergi. Lalu bagaimana keputusan itu diambil? Firman Tuhan tidak larang, pun firman Tuhan tidak perintahkan. Di sini Paulus memikirkan bagaimana memilih keputusan dengan tanggung jawab dan dengan kebebasan yang ada, maka pertanyaannya: apakah itu cocok, apakah itu pas. Jadi dia bicara soal prioritas, right timing, saya harus ambil atau tidak.
Kedua, Kis.6:2-4 ada prinsip “kami tidak merasa puas,” atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan “it is not desirable.” Di sini terjadi satu kondisi dimana jemaat melalaikan pelayanan diakonia dan ini adalah satu kondisi yang tidak ‘desirable,’ satu kondisi yang tidak maksimum, sesuatu yang perlu dan masih bisa kita improve di situ. Firman Tuhan tidak bilang kondisi ini salah atau dosa, tetapi merupakan sesuatu yang bisa di-improve. Bagaimana kita meng-improve? Mari kita pikirkan sama-sama, demikian kata para rasul di situ. Ada hal-hal yang tidak bisa mereka kerjakan sendiri, maka kemudian cari orang yang pintar, yang bijaksana, yang tanggung jawab, yang baik dan yang penuh dengan Roh, biar mereka bisa memikirkan hal itu supaya keputusan di depan apa yang akan diambil lebih baik dan lebih baik lagi.
Ketiga, 1 Tes.3:1-2 dikatakan “kami tidak dapat tahan lagi,” atau dalam terjemahan Inggris “we thought it is best.” Tentu jemaat Tesalonika berpikir alangkah baik dan indahnya kalau Paulus datang ke tempat mereka. Itu adalah hal yang paling ideal yang diinginkan mereka. Tetapi bagaimana Paulus memikirkan dan memutuskan dengan sebaik-baiknya. Paulus memutuskan tetap tinggal di Atena, dan mengutus Timotius ke Tesalonika. Paulus tidak bisa di dua tempat sekaligus. Dari sudut pandang mereka tentu semua mau yang paling baik, tetapi Paulus harus memikirkan sesuatu, memutuskan sesuatu, proyek, rencana, decision making yang ada di depan. We thought it is best, Paulus sudah pikir matang-matang, sudah timbang baik-baik, dan keluar prioritas keputusan dari situ, mana the best outcome-nya. Paulus memakai pertimbangan pemikiran yang dalam mencari mana outcome yang terbaik, yang bisa diberikan dalam situasi seperti itu.
Keempat, Fil.2:25-26 “sementara itu ku anggap perlu” atau dalam bahasa Inggris “it is necessary.” Paulus mengirim Epafroditus bersama Timotius karena ada perselisihan di antara pengurus jemaat di Filipi. Dalam sel penjara, Paulus tersendiri, dan bukan itu saja, dia harus memikirkan kondisi jemaat Filipi, tetapi di pihak lain, Paulus perlu Timotius, perlu Epafroditus, itu kira-kira situasi Paulus. Maka bagaimana dia memutuskan sesuatu, Paulus gambarkan, hatinya tidak tenang memikirkannya. Tetapi di pihak lain Paulus juga mengatakan dia penuh dengan dukacita, terlalu berat situasi yang dia hadapi, dan akhirnya dia memutuskan sesuatu dan dia mengatakan, “ku anggap perlu…” atau “I thought it is necessary.” Maka prinsip “I thought it is best” dan “I thought it is necessary” membicarakan dua aspek, yang ke satu: mana pilihan yang paling baik; yang kedua: mana pilihan yang harus ditaruh lebih dulu dan mana yang harus ditaruh belakang.
Banyak hal pada waktu kita bicara pengambilan keputusan, kita mau atur, kita mau rencanakan sesuatu, hal yang menjadi program, hal yang kita inginkan tahun ini, saya harap di dalam semua itu firman Tuhan hari ini berkata kepada kita, mari kita taruh semua itu dengan sikap berdoa kiranya kehendak Tuhan yang terjadi dan ‘if God’s willing.’ Semua ini merupakan prinsip-prinsip yang penting dari seorang yang dewasa di dalam rohani yang memiliki sikap yang benar, pendekatan yang benar.
Amsal 3 mengingatkan setiap kali kita mengambil keputusan jangan selalu kita pikir kita lebih pintar dan lebih bersandar kepada pengertian kita sendiri. Akuilah Tuhan dalam segala laku dan keputusan yang akan engkau ambil. Kita dipanggil Tuhan memikirkan dengan bijaksana, memiliki wise decision, dan itu tidak bisa tidak lepas dari hidup seorang yang bertumbuh dewasa. Amsal selalu bicara orang yang dewasa adalah orang yang bijaksana, dan orang yang dewasa dan berbijaksana itu memiliki berbagai macam karakteristik dan ciri attitude yang benar dan baik.
Yang pertama, kita harus committed di tahun ini apapun keputusan yang kita ambil, kita makan, kita minum, kita mengerjakan sesuatu, marilah kita kerjakan itu untuk memuliakan Tuhan. Kita committed di dalam hidup kita untuk memuliakan Tuhan di setiap aspek hidup kita, di setiap keputusan yang kita ambil, di setiap hal yang kita kerjakan dan lakukan, baik yang menjadi keputusan besar dan penting dalam hidup kita, maupun dalam hal-hal yang kecil yang rutin setiap hari kita lakukan dan kerjakan di dalam hidup ini, kita mau memuliakan Tuhan.
Yang kedua, Ams.3:7 mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita memang cenderung untuk merasa kita itu pandai dan pintar menurut ukuran kita sendiri. Maka kalimat “if God is willing” dan doa kita supaya “kehendak Tuhan yang terjadi bagiku” merupakan suatu sikap surrender kita, rendah hati dan tidak congkak di hadapan Tuhan. Itu yang diingatkan juga oleh Yakobus. Yakobus tidak larang kita membuat rencana, tetapi hendaklah kita mengatur rencana kita dengan mengatakan jikalau Tuhan menghendaki, supaya kita tidak menjadi seorang yang congkak.
Yang ketiga, the right attitude dari seorang yang bijaksana dan mature adalah menjadi seorang yang teachable di dalam hidup ini, sedia diajar. Itulah yang saya tafsir dari Fil.3:15 tadi. Maka biarpun Alkitab tidak katakan secara detail bagaimana Tuhan membukakan dan menjelaskan hal-hal yang masih belum kita mengerti, biar kita belajar dari pengalaman hidup kita, belajar dari sejarah hidup kita menjadi pelajaran yang indah dan baik dan di dalamnya kita memiliki satu attitude yang teachable. Kita dididik, kita diberi instruksi oleh firman Tuhan, melalui pengalaman dan sejarah hidup, kita dididik, kita dinasehati secara bijaksana oleh orang-orang Kristen yang lain dan di situ kita terbuka dan rela melihat segala sesuatu karena kita seorang yang mau belajar.
Yang keempat, seorang yang bijaksana juga sorang yang peka melihat bukan saja lembaran Alkitab tetapi juga lembaran konteks situasi hidup mereka. Tidak heran Martin Luther pernah mengatakan seorang hamba Tuhan yang baik, di tangan yang satu pegang Alkitab, di tangan yang satu lagi pegang surat kabar. Maksudnya, kita tidak boleh lupa konteks hidup kita. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan prinsip barangsiapa hendak membangun menara, jangan lupa kalkulasi baik-baik berapa biayanya. Barangsiapa hendak berperang, jangan lupa hitung tentaranya, kalkulasi bisa menang atau tidak. Kalau di atas kertas terlihat memang tidak bisa menang, hal yang paling bijaksana adalah tidak usah perang, datang pergi berdamai dengan musuhmu. Tidak boleh kita terlalu gegabah lalu bilang “bersama Yesus kita lakukan segala perkara.” Yesus sendiri bilang, lihat situasimu, pertimbangkan baik-baik.
Yang terakhir, bagaimana jikalau seperti yang Paulus katakan, aku sudah ingin, aku sudah doa, aku sudah bawa ke dalam kehendak Tuhan, tetapi aku selalu terhalang? Aku sudah berulang kali berencana ingin ke Roma, sudah bawa di dalam doa minta supaya ini bisa terlaksana, tetapi selalu terhalang. Terhalang, berarti tidak sesuai dengan yang dia inginkan, tidak sesuai dengan yang dia rencanakan dan tidak sesuai dengan yang dia mau. Dan di dalam hal ini Paulus tidak menganggap halangan itu sebagai sesuatu yang menjengkelkan, sebagai sesuatu yang menyedihkan dan membuat dia kecewa dan marah. Yang ada di situ dia keluarkan fakta, belum waktunya, masih terhalang. Dia tidak tanya, ‘mengapa, Tuhan?’ dsb. Padahal secara situasi kota Roma adalah kota yang sangat strategis dan penting bagi pelayanannya. Di situ Saudara dan saya belajar apa arti kata ‘perseverance’, perlu sabar, perlu tunggu waktu Tuhan bekerja di dalamnya.
Itu sebab hari ini di awal tahun yang baru yang Tuhan percayakan kepada kita, baik bagi Gereja kita, baik bagi kehidupan pribadi kita, semua apa yang ada di dalam rencana, pikiran dan planning yang ada, mari kita bawa dengan kalimat, “biar kehendak Tuhan yang terjadi,” sehingga kita bisa teduh, tenang melewati perjalanan kita di tahun 2012 ini. Kita bawa hati kita kepada Tuhan dengan percaya rencana dan kehendak Tuhan biar ada memberkati di tengah rencana dan perjalanan hidup kita. Kita bersyukur karena tidak ada satupun yang Tuhan kerjakan dan rencanakan bagi kita yang tidak akan tergenapi secara indah bagi hidup kita. Ada hal yang mungkin kita sudah rencanakan belum terjadi dan masih memiliki hambatan dan halangan, jangan sampai kita menjadi kecewa dan marah, tetapi kita percaya dan tahu Tuhan memimpin dan menyertai semua dengan baik.(kz)