Learning from the past, facing the future. Tahun 2011 sudah lewat; tahun itu tidak bisa kita balik kembali. Tahun itu sudah menjadi sejarah bagi hidup engkau dan saya, dan tahun yang baru, tahun 2012, Tuhan percayakan kepada kita untuk kita boleh masuki. Tahun itu boleh lewat, namun tidak berarti pelajaran yang bernilai dan berarti yang diberikannya tidak kita bawa memasuki tahun ini. Justru ada banyak hal yang tidak boleh kita tinggalkan dari sejarah supaya kita tidak mengulang kembali apa yang sudah terjadi di dalam sejarah menjadi derita dan nestapa yang tidak ada habis-habisnya.
Empat ayat pertama dari 1 Kor.10 ini diberikan oleh Paulus sebagai satu intisari memperlihatkan betapa orang Israel adalah orang yang hidupnya penuh dengan berkat dan privilege yang terbesar yang tidak terulang lagi di dalam sejarah hidup manusia.
Saya percaya musim panas yang kita alami di sini tidak sepanas yang dialami oleh orang-orang yang tinggal di daerah gurun di Timur Tengah. Kalau tidak salah ingat pernah beberapa tahun yang lalu di tahun baru suhu mencapai 45 derajat Celcius. Bunga mawar putih yang saya bawa pulang, taruh di bagasi mobil, tahu-tahu sudah kering berwarna coklat.
Saudara yang pernah pergi ke Timur Tengah tahu bahwa orang-orang yang tinggal di sana hampir sepanjang tahun sudah lumrah menjalani hari-hari yang sangat panas, 40 sampai 50 derajat panasnya. Berjalan beberapa hari saja di tengah terik seperti itu, siapa yang tahan dan kuat? Bayangkan orang Israel berjalan selama 40 tahun lamanya. Namun Paulus berkata, mereka berjalan di padang gurun dilindungi dengan tiang awan sehingga tidak kepanasan di bawah matahari yang terik.
Yang kedua, pada waktu mereka sudah berada di ujung dari laut, di tengah kejaran tentara-tentara Mesir, sudah tidak bisa mundur kembali, maju tidak mungkin karena laut akan menenggelamkan mereka, di tengah-tengah situasi seperti itu seolah-olah tidak ada jalan keluar, Tuhan membelah laut. Ada proteksi perlindungan Tuhan, ada hal-hal yang mustahil yang dengan ajaib dan tepat pada waktunya terjadi di dalam hidup mereka.
Kebutuhan sehari-hari, makan dan minum, itu semua tercukupi oleh Tuhan. Umum dan lumrah semua yang kita makan dan minum dari hasil kerja dan jerih payah kita. Itu baru terjadi setelah bangsa Israel settled di tanah Kanaan. Mereka membangun rumah, mereka menggarap ladang, mereka bekerja melakukan irigasi dan pertanian. Tetapi itu tidak mereka kerjakan selama berjalan empat puluh tahun mengembara di padang gurun dan itu adalah era hidup mereka dimana Tuhan memberikan the most privilege, mereka tidak perlu bekerja. Bangun pagi-pagi mereka tinggal memungut manna untuk dimakan. Apa itu ‘manna’? Sebenarnya kalau mau diterjemahkan arti kata ‘manna’ adalah ‘apa itu?’ Jadi orang Israel keluar dari kemah, melihat dan bertanya, “What’s that?” Akhirnya jadilah makanan itu disebut ‘manna.’ Manna adalah makanan yang turun dari langit, bukan makanan yang dihasilkan dari tanah di bumi. Food from heaven. Semua makanan yang kita makan sekarang semua adalah hasil tanah, hasil dari jerih lelah kita bekerja. Kita mungkin tidak memiliki pengalaman seperti orang Israel di padang gurun, empat puluh tahun lamanya tidak menanam dan tidak bekerja, namun Tuhan memberi mereka makan dengan berkecukupan.
Air minum di tempat yang begitu kering dan gersang seperti itu, mereka tidak perlu gali sumur, mereka tidak perlu cari minum. Saking karena air itu Tuhan kasih keluar dari batu dengan cara yang begitu ajaib, maka beredar legenda di antara mereka, batu itu mengikuti kemana saja mereka pergi. Luar biasa, bukan? Mereka tidak akan pernah kekurangan air dan tidak pernah dahaga. Kapan saja, dimana saja, air itu tersedia. Di tengah tempat yang sangat kering, Tuhan bekerja dengan ajaib sehingga dari batu air memancar keluar. Paulus menafsir dengan lebih indah lagi, batu itu adalah Kristus sendiri. The rock that followed them wherever they go is Christ.
Jadi semua bagian ini dicatat oleh Paulus hanya untuk menjadi kesimpulan bangsa Israel memiliki privilege, blessing yang terbaik, yang pernah ada di dalam hidup mereka. Tetapi sayangnya justru di tengah-tengah blessing di era waktu yang terbaik dan terlimpah mereka miliki, Tuhan tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka. Kalau sampai Paulus memakai contoh sejarah bangsa Israel kepada jemaat di Korintus, saya percaya ada hal-hal dan situasi yang ada di kota Korintus dan di jemaat Korintus yang nampaknya memiliki kemiripan dengan orang Israel sehingga Paulus mengeluarkan contoh sejarah itu menjadi peringatan supaya anak-anak Tuhan di Korintus jangan sampai mengulang sejarah yang sama.
Yang pertama, di 1 Kor.7 kita bisa melihat betapa bebasnya dan terbukanya relasi pergaulan yang ada, memungkinkan sebagian jemaat tidak terlalu menganggap betapa bernilai dan berartinya eksklusifitas sebuah pernikahan sesama anak-anak Tuhan. Bukan itu saja, situasi yang bebas terbuka seperti ini memungkinkan mereka terjerumus jatuh ke dalam kehidupan seksualitas yang tidak benar.
Yang kedua, di 1 Kor.6:7-8 sebagian jemaat nampaknya menjadikan kesuksesan usaha dan uang menjadi segala-galanya, sehingga pada waktu ada transaksi bisnis di antara sesama orang percaya, yang mungkin mereka rasa ada hak yang harus mereka pertahankan, akhirnya mereka membawa jemaat masuk ke pengadilan. Maka Paulus menegur mereka, kenapa kamu tidak mau rugi sedikit? Mengapa kamu tidak suka menderita ketidak-adilan? Mereka kamu tidak suka dirugikan? Di dalam 2 Kor. saudara dan saya bisa melihat sebagian besar di jemaat Korintus adalah orang yang kaya-raya. Akibat yang terjadi adalah karena ada yang kaya dan ada yang miskin, perjamuan kudus menjadi kurang bagus. Yang kaya datang membawa banyak makanan, yang miskin tidak mampu bawa apa-apa. Tetapi yang kaya makan saja makanan sendiri di antara mereka, yang miskin akhirnya tidak dapat. Maka akhirnya Paulus marah kepada mereka karena perjamuan kudus yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Kedua, karena mereka terlalu kaya dan merasa semua hak mereka harus diistimewakan dan tidak memperhatikan orang lain, Paulus mengkontraskan jemaat Makedonia yang begitu miskin memberi lebih banyak melampaui kemampuan mereka memberi. Semua ini menjadi latar belakang yang membantu kita memahami kenapa Paulus memakai contoh kehidupan sejarah bangsa Israel untuk menjadi peringatan membawa jemaat untuk tidak melupakan apa yang terjadi di dalam sejarah supaya mereka jangan mengulang lagi. Kenapa? Sebab jemaat Korintus memang memperoleh privilege yang cukup banyak daripada jemaat yang lain. Jemaat Korintus memiliki karunia rohani yang lebih banyak daripada jemaat yang lain. Dibandingkan dengan jemaat yang lain, jemaat Korintus memiliki jumlah kekayaan yang lebih banyak. Tetapi kondisi dan keadaan seperti itu bisa berbahaya bagi mereka. Maka Paulus ingatkan privilege dan blessing yang Tuhan berikan jangan sampai justru menjadi hal yang lebih penting daripada Tuhan yang memberi.
Tahun 2011 kita sudah tinggalkan. Jangan lupakan berapa besar anugerah dan pemberian Tuhan yang baik kepada engkau dan saya. Kalau Tuhan kasih kesehatan yang baik, itu anugerah yang patut kita syukuri. Walaupun mungkin kita memasuki tahun ini tidak lebih banyak daripada tahun yang lalu, tetapi jangan biarkan itu akhirnya membuat kita tidak melihat berapa banyak blessing yang Tuhan sudah beri kepada kita.
Ada empat kata “jangan” yang muncul di 1 Kor.10:6-10 karena inilah yang terjadi berulang-ulang di tengah anugerah pemberian Tuhan yang begitu banyak kepada bangsa Israel empat puluh tahun di padang gurun ini. Ayat 7, “janganlah kita menjadi seorang penyembah berhala.” Ayat 8, “janganlah kita jatuh kepada percabulan.” Ayat 9, “janganlah kita mencobai Tuhan.” Ayat 10, “janganlah kita bersungut-sungut.”
Di dalam kondisi jemaat Korintus ini menjadi kebahayaan besar sebab banyak jemaat memiliki konsep tidak apa, saya sudah percaya Yesus, yang penting saya sudah selamat, saya makan daging berhala, itu tidak mempengaruhi iman saya, saya tetap percaya Tuhan. Itu yang terjadi pada sebagian jemaat, mereka ikut berpesta pada festival dari orang-orang kafir, mereka ikut makan di tempat penyembahan berhala. Mereka memang tidak masuk ke kuil untuk menyembah dewa, tetapi Paulus ingatkan, hati-hati, mungkin dengan kebebasan yang kita kerjakan dan lakukan, tanpa sadar dan tanpa kita duga itu bisa menjerumuskan dan menjatuhkan kita.
Tetapi mengapa Paulus mengangkat aspek ini? Konsep idolatry dalam PB lebih luas daripada PL. Dalam PL kita menemukan penyembahan berhala dengan patung-patung, tetapi begitu sampai di PB kita melihat perluasan aspek dari penyembahan berhala. Ada dua ayat yang penting berkaitan dengan hal ini, Kol.3:5 dan Ef.5:5 “Karena itu matikanlah di dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala…” Keserakahan adalah satu bentuk penyembahan berhala. Paulus menyebut kebahayaan penyembahan berhala tidak lagi berupa sesuatu yang kelihatan; tidak lagi berupa sesuatu yang konkrit; tidak lagi berupa patung; tidak lagi berupa hal yang kelihatan di depan mata kita, tetapi bisa menjadi ‘liquid’ dan tidak kelihatan, yang tersamar dan bahkan mungkin kita tidak pernah menyadarinya sebagai bagian dari penyembahan berhala kita yaitu ketamakan. Janganlah kita sama seperti mereka menyembah berhala. Paulus tidak bilang kita masih membuat lembu emas seperti bangsa Israel waktu Musa naik ke gunung Sinai. Mereka bikin lembu emas dan menyembahnya. Tetapi Paulus mengingatkan bukan saja mereka meyembahnya, tetapi ditambah dengan kalimat “pada waktu mereka duduk makan dan minum…” Berarti Paulus memiliki pikiran, jemaat yang kaya raya, situasi hidup mereka yang sukses dan makmur, perjalanan hidup yang lancar bisa menjadi kebahayaan kita jatuh ke dalam penyembahan berhala seperti itu, dalam arti ketamakan, keinginan untuk memiliki lebih, kita melayani uang, memakai waktu lebih banyak bagi kekayaan dan lebih bersandar kepadanya daripada bersandar kepada Tuhan. Itu adalah tanda awas bagi setiap kita memasuki tahun yang baru ini.
Yang kedua, berhati-hatilah dengan segala bentuk percabulan. Orang bilang prostitusi adalah bisnis yang paling tua di atas muka bumi ini. Alkitab terlalu banyak mencatat hal-hal yang terlarang adanya dan hal-hal terlarang itu kebanyakan ketidak-beresan di dalam hal-hal seksualitas dan Alkitab secara gamblang bicara akan hal itu. Kalau kita membaca kitab Kejadian, kita akan menemukan setelah kejatuhan manusia di dalam dosa, Alkitab mencatat dengan teliti kerusakan di dalam hal seksualitas. Pada waktu peristiwa Sodom dan Gomora, begitu nyata ketidak-beresan dalam dosa seksual mereka, dst.
Memasuki tahun yang baru ini jaga dan pelihara hidup seksualitas kita. Cintailah isteri dan suamimu dengan penuh kasih. Jadikan hubungan seksual dengan pasanganmu sebagai hal yang indah dan eksklusif yang Tuhan karuniakan kepada engkau. Di depan matamu, di dalam kantormu, di dalam perjalanan menuju ke tempat kerja, di mana-mana, godaan seksualitas gampang bisa masuk ke dalam hidup engkau dan saya. Bukan saja kepada orang yang kaya, juga kepada orang yang tidak mampu; bukan saja kepada jemaat yang biasa, juga kepada hamba-hamba Tuhan. Itu sebab peringatan ini peringatan yang sudah tercatat di dalam sejarah, dan peringatan ini bukan saja tinggal sejarah, dia harus menjadi contoh peringatan yang tidak boleh lepas dari hidup kita. Sedih dan kasihan jikalau orang menjadi kaya dan sukses akhirnya uang yang ada dipakai untuk melampiaskan hidup seksualitas yang tidak benar adanya.
Yang ketiga, jangan mencobai Tuhan. Jangan mencobai Tuhan di dalam pengertian terlalu banyak yang Tuhan sudah kerjakan dan lakukan kepada mereka tetapi mereka tetap tidak pernah melihat itu sebagai hal yang tidak sepatutnya dan selayaknya mereka terima. Yang ada mereka pikir sudah sepantasnya mereka dapatkan, sudah selayaknya mereka memiliki, itu sebab di situ mereka mencobai Tuhan, muncullah sungut-sungut yang tidak ada habis-habisnya.
Kita bisa complain dan mengeluh waktu kita rasa ada hal-hal yang sulit dan berat terjadi di dalam hidup kita sebagai satu cetusan fakta, kenapa hal ini terjadi di dalam hidupku. Sebagai hamba Tuhan saya tidak boleh mengatakan jangan complain, lupakan semua itu, tidak boleh mengeluh, dsb karena itu adalah fakta yang terjadi di dalam hidup mereka. Tetapi itu akan berubah menjadi sungut-sungut ketika mereka mengatakan, aku tidak sepatutnya dan sepantasnya mendapatkan hal itu.
Tahun yang lalu banyak orang-orang yang kita kenal dan kasihi sakit dan meninggal dunia. Di dalam perenungan saya beberapa minggu yang lalu, saya sempat mengutip kalimat dari Yoh.11 pada waktu Yesus berjalan, datanglah utusan Maria dan Marta kepadaNya menyampaikan satu kalimat yang sangat menyentuh, “Tuhan, dia yang Kau kasihi, sakit.” Ini adalah kalimat yang sangat menarik dan begitu menyentuh. Apakah orang yang Tuhan sayang bisa sakit? Kita sering pikir kalau Tuhan sayang, tidak boleh ada sakit. Kalau kita sakit, kita mungkin akan bertanya, dimana sayangnya Tuhan kepadaku? Kalimat ini merobohkan dua konsep ini, karena dikatakan “Dia yang Tuhan kasihi, sakit.” Ada orang yang tidak sayang Tuhan dan melawan Tuhan bisa sehat dan panjang umurnya; Ada orang yang sayang Tuhan sakit keras; bukan itu saja, ada orang yang disayang Tuhan, pun sakit. Sakit menjadi persoalan yang umum dan wajar terjadi, tetapi itu bisa berubah menjadi berkat namun bisa menjadi sungut-sungut. Ketidak-lancaran adalah hal yang wajar terjadi di dalam hidup kita. Dia boleh menjadi kesempatan untuk maju, namun bisa juga menjadi sungut-sungut yang merugikan. Semua itu berpulang kepada sikap kita, kalau kita merasa tidak sepantasnya, tidak sepatutnya, tidak selayaknya itu terjadi di dalam hidup kita.
Dalam 1 Kor.10:12-13 Paulus meminta jemaat memiliki dua attitude yang penting ini bagaimana mereka menghadapi hidup, menjalani hari-hari di depan. Pertama, jangan sampai kita berpikir kita sanggup dan bisa; over confidence can destroy our life. Jangan sampai kita bilang itu tidak mungkin kita alami, hanya orang lain yang mengalaminya. Saya orang yang cinta Tuhan, orang lain boleh mengalami tetapi aku tidak akan. Itu yang Petrus bilang kepada Yesus, orang lain boleh meninggalkan Engkau, tetapi aku tidak akan. Berhati-hatilah, kata Paulus, barangsiapa menyangka dia teguh berdiri, jangan sampai dia jatuh. Banyak hal kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan akan kita hadapi di depan, sehingga dengan bijaksana biarlah apa yang menjadi pelajaran sejarah boleh menjadi pelajaran yang berarti dan bernilai bagi kita. Paulus meminta kita tidak over confidence, terlalu bersandar kepada pengalaman kita, kesuksesan kita, kemampuan kita, semua plan kita, jangan akhirnya itu menjadi bumerang kepada kita. Selalu berpikir masih ada hal yang kita bisa belajar, selalu berpikir masih ada hal yang kita bisa sempurnakan, selalu berpikir masih banyak hal yang kita kurang di situ. Tidak boleh kita berpikir kita sudah hebat; tidakboleh berkata aku tidak mungkin gagal; tidak boleh angkuh mengatakan hal-hal seperti itu tidak akan terjadi kepadaku; tidak boleh berkata aku sudah punya cukup banyak simpanan, aku bisa menghidupkan anak cucuku beberapa generasi sehingga takabur memasuki tahun yang baru ini. Semua itu tidak bisa kita pegang dan genggam. Itu sebab biar tahun ini kita masuki dengan hati yang humble. Paulus mengingatkan, kalau engkau merasa berdiri teguh, hati-hati jangan sampai jatuh. Kalau engkau berdiri teguh, itu karena Tuhan yang topang engkau. Berhati-hati dan berjaga-jagalah supaya jangan engkau tergelincir dan jatuh.
Yang kedua, sebaliknya kita tidak boleh terlalu pesimis memasuki tahun ini, kita pikir tidak ada jalan keluar. Kita rasa kesulitan dan pencobaan yang datang terlalu besar dan berat, maka di ayat 13 Paulus minta attitude yang kedua ini kita pegang baik-baik. Pencobaan-pencobaan yang kita alami sesungguhnya adalah pencobaan yang umum, orang lain juga mengalaminya. Tetapi bedanya adalah meskipun hal yang sama kita alami, kita punya Tuhan yang setia. Sehingga tidak boleh ada orang Kristen yang bilang tidak ada jalan keluar di dalam hidup kita. Mungkin saat ini kita merasa situasi tidak menentu, apakah pekerjaan kita safe, apakah kesehatan kita membaik, dsb. Mungkin kita memasuki tahun ini dengan air mata penyesalan karena kegagalan tahun lalu; mungkin kita merasa putus asa dan kecewa dan merasa tidak ada harapan. Tetapi dengarkan kalimat firman Tuhan ini, tidak boleh ada kata ‘tidak ada jalan keluar’ sebab Tuhan berjanji, Tuhan itu setia dan Ia akan memberikan jalan keluar kepada kita. Mungkin engkau sekarang ini merasa tidak ada jalan keluar sebab pilihan yang engkau mau ambil sudah tidak ada tetapi terus ngotot di situ. Atau mungkin engkau rasa tidak ada jalan keluar sebab apa yang engkau pegang dan usaha sekarang tidak jalan tetapi engkau tidak berani melangkah mengambil sesuatu yang baru karena takut menghadapi resiko.
Memasuki tahun yang baru ini jangan takabur, selalu waspada, peristiwa yang lewat menjadi guru yang bijaksana, refleksi firman Tuhan menjadi pelita yang membimbing hidup kita; percaya Tuhan memberikan jalan keluar, memimpin dan menyertai engkau dan saya. Tidak boleh ada kata, tidak ada harapan di dalam diri orang yang percaya Tuhan. Biar firman Tuhan hari ini meneguhkan hati kita melangkah dengan hati yang berani sebab kita tahu Tuhan tidak akan meninggalkan kita.(kz)