GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
08
Aug

Count Your Blessings

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: August 08, 2010
Nats: Mzm.40:6, Mzm.116:12-14

Kebaktian Khusus Thanksgiving Day 2010

Bicara mengenai syukur, kita menemukan Mzm.40 ini bicara mengenai ‘counting your blessings.’ Pemazmur berkata, “Banyaklah yang telah Kau lakukan ya Tuhan, Allahku… terlalu besar jumlahnya untuk dihitung” (Mzm.40:6). Dalam Mzm.116:12-14, pemazmur berkata, “Bagaimanakah akan kubalas segala kebajikanMu kepadaku, ya Allah?” Ini merupakan satu ayat yang sangat indah dari pemazmur. Kepada orang yang berkelimpahan memiliki segala sesuatu kadang secara natural kita berpikir tidak perlu membalas kembali karena dia tidak perlu apa-apa lagi, bukan? Tetapi ayat ini merupakan satu ayat yang penting bicara salah satu aspek kenapa kita bersyukur itu menjadi penting di dalam hidup kita. Count your blessings, demikian pemazmur, dari situ melahirkan karakter indah kita, tahu kita bersyukur sebab setiap kali kita hitung kita tidak akan pernah bisa menghitungnya sampai habis. Selalu rasa diri berhutang, itu menyebabkan kita tahu bahwa apa yang kita terima tidak sepatutnya dan tidak selayaknya ada di dalam hidup kita. Saya percaya kita semua tahu sebagai orang Kristen kita sepatutnya dan seharusnya menyatakan syukur kita kepada Tuhan. Thanksgiving itu bagi saya merupakan satu ‘extended warranty.’ Rasa bahagia muncul ketika engkau dan saya mendapat kebahagiaan. Bersyukur memperpanjang rasa bahagia itu. Kita berbahagia karena mendapatkan anak, tetapi bersyukur mendapatkan anak memperpanjang kebahagiaan itu, karena tidak setiap tahun kita melahirkan tetapi bisa setiap tahun kita bersyukur untuk kelahiran anak itu. Kita mendapatkan rumah, rumah itu adalah kebahagiaan dan kita rasa bahagia oleh karena mendapatkan kebahagiaan itu. Tetapi rasa syukur memperpanjang rasa bahagia itu. Tidak setiap tahun kita dapat rumah, tetapi setiap tahun kita bisa bersyukur karena mendapatkan apa yang sudah lewat. Itu sebab kenapa saya mengatakan thanksgiving is an extended warranty. Dia merupakan perpanjangan dari rasa bahagia kita. Kita manusia yang terlalu gampang untuk menjadi boring. Kita manusia yang terlalu gampang menikmati segala sesuatu dengan sukacita tetapi terkikis habis sukacita itu ketika waktu sudah berjalan dalam hidup kita. Itu sebab mengapa kita harus memiliki hati yang terus-menerus mengucap syukur kepada Tuhan. Itu tidak perlu kita bayar karena itu merupakan sesuatu sifat yang Tuhan inginkan karena di dalamnya kita bisa menikmati kebahagiaan itu terus-menerus tanpa berkesudahan di dalam hidup kita.

Di dalam bahasa Inggris kita menemukan beberapa kata untuk menunjukkan derajat dari orang yang tidak memiliki sikap yang berterima kasih. Ada satu kata menyebut ‘ingrate person.’ Ada kata ‘grumpy person.’ Bagi saya itu derajatnya lebih rendah daripada ‘ingrate person.’ Tetapi ingrate sendiri adalah derajat yang begitu rendah dalam hidup seseorang yang tidak tahu bersyukur dan yang justru membalas kebaikan orang dengan ketidak-baikan. Dalam pribahasa Indonesia adalah “air susu dibalas dengan air tuba.” Orang yang sudah ditolong dari segala kemiskinan hingga dia bisa sukses tetapi di tengah kesuksesannya dia kemudian memakan habis harta dari orang yang sudah pernah menolong dia. Ketemu orang seperti itu, kita mengatakan dia adalah ingrate person, orang yang tidak tahu berterima kasih, orang yang betul-betul membalas segala kebaikan dari benefactor kepada dia dengan ketidak-baikan. Ketemu orang seperti itu kita mungkin akan bertanya apakah betul orang itu betul-betul orang? Tetapi ada semacam orang tidak bersyukur, tidak berterima kasih, tidak rasa itu anugerah, oleh sebab dia merasa itu sepatutnya dan selayaknya dia dapat. Ketemu dengan jenis orang kedua ini, kita tahu dia adalah juga orang yang tidak tahu berterima kasih. Tetapi berbeda dengan yang pertama, yang pertama itu memang tidak tahu berterima kasih tetapi dia juga merugikan orang lain. Orang yang kedua, kita ketemu dengan orang yang seperti ini kita bersikap sudahlah tidak apa-apa selama yang penting dia tidak merampas dan merugikan kita. Orang yang tidak pernah bersyukur, tidak pernah berterima kasih sebab merasa memang sepatutnya dia diperlakukan dengan baik. Kebaikan yang datang itu memang sepatutnya dan selayaknya. Orang yang ketiga, orang yang tidak pernah bersyukur oleh sebab dia tidak pernah melihat apa yang datang kepadanya itu adalah sesuatu yang baik dan patut disyukuri. Maka kita melihat jenis orang ini akan selalu menggerutu, menjadi a grumpy person. Dapat ayam mengeluh kenapa bukan mendapat sapi. Diberi ikan mengeluh kenapa bukan diberi lobster. Mendapat rumah mengeluh kenapa tidak mendapat mansion. Orang seperti ini adalah orang yang tidak pernah berterima kasih dan tidak pernah bersyukur sebab dia tidak pernah melihat apa yang datang di dalam hidupnya adalah sesuatu yang baik dan sesuatu yang membahagiakan dia. Lihat rumah tetangga lebih baik daripada rumahnya. Lihat apapun dari orang lain selalu rasa lebih baik daripada yang dia punya. Itu sebab dia tidak pernah mengucap syukur. Maka pada pagi hari ini biar kita belajar mengerti apa itu ucapan syukur. Bersyukur di dalam konsep Alkitab bagi saya bukan sekedar suatu ‘good feeling.’ Bersyukur bukan saja sebagai suatu perasaan senang tetapi bersyukur seharusnya menjadi suatu sikap dan respons positif kita kepada orang yang sudah memberi kepada kita. Alkitab mengajar kita bersyukur bukan saja merasa baik terhadap apa yang kita terima tetapi harus juga menghargai dan membalas kembali kepada siapa yang sudah memberi kepada kita. Itu sebab ketika orang memberi sesuatu kepada kita, tidak cukup kita merasa senang dan bahagia, misalnya diberi makanan, paling tidak ada gesture keluar paling minimal dari mulut kita adalah ucapan ‘terima kasih.’ You feel good atas pemberian itu, it’s not enough, harus ada lebih dari itu adalah menjabat tangannya berterima kasih dan yang lebih dalam lagi adalah bertanya, ‘how should I repay?’ Jadi kalau seseorang bersaksi dari mimbar atas apa yang Tuhan sudah lakukan kepada dia, it’s good tetapi itu baru hanya sampai kepada titik saya feel good terhadap apa yang saya dapat. Tetapi bagi saya Alkitab tidak hanya mengajar kita mengerti konsep bersyukur hanya sampai kepada perasaan diri tetapi harus lebih dalam daripada itu. Itu sebab paling tidak saya melihat ada tiga dimensi yang penting dari Alkitab. Yang pertama, seperti yang sudah saya katakan tadi, orang yang bersyukur pada dirinya sendiri akan menimbulkan perasaan good feeling, merasa senang, merasa sukacita, merasa bahagia, ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan karena sesuatu yang baik itu didapatkan dan dinikmati olehnya. Tetapi ketika dimensi yang kedua muncul seorang teolog bernama Immanuel Kant mengatakan kenapa orang jarang bersyukur? Sebab pada waktu seseorang bersyukur dia memerlukan satu sikap lain yaitu satu sikap pengakuan bahwa dia dependent kepada orang. Maka syukur baru bisa keluar kalau orang itu menghilangkan rasa kesombongannya. Jadi bersyukur itu sulit sekali, sebab di situ berarti orang merendahkan diri, sadar bahwa dia bergantung kepada orang lain, sadar bahwa dia tidak layak menerima itu, baru bisa membuat syukur itu muncul. Maka kita bisa mengerti kenapa Alkitab memberikan kepada kita sikap ini terhadap Tuhan. Tuhan, terlalu banyak yang Tuhan sudah beri kepadaku. Dengan apa aku bisa membayar kembali? Perasaan ingin membayar kembali itu berarti satu pengakuan yang saya dapat itu saya tidak layak terima adanya. Maka dalam kebaktian Thanksgiving hari ini sebelum kita memberi sesuatu kepada Tuhan, mari terlebih dahulu kita tanya, saya memberi itu berarti saya punya, tetapi lebih baik kita mundur selangkah bertanya, apakah mungkin ada hutang yang belum saya bayar kepada Tuhan? Sebelum kita bisa memberi, kita mencari jawab dulu kepada pertanyaan ini.

Di dalam tulisan rasul Paulus ada beberapa kali dia bicara mengenai hutang orang kepada Tuhan. Dalam surat Roma paling tidak ada dua kali Paulus memakai kata hutang, pertama dalam Rom.8:12 kita berhutang hidup kepada Tuhan. Memang menjadi orang yang berhutang itu tidak enak sekali. Tetapi sebenarnya yang lebih tidak enak lagi adalah orang yang memberi hutang kepada kita. Sdr perhatikan, kenapa di dalam gejala dunia yang berdosa orang yang datang untuk berhutang kepada kita, dia datang dengan mengiba-iba minta untuk ditolong. Setelah hutang itu diberi kepada dia maka giliran orang yang memberi hutang itu yang mengejar dia dengan mengiba-iba untuk dibayar. Dan kenapa kita manusia yang berdosa, setelah kita membayar hutang kepada orang itu, kita rasa kita berjasa kepada dia? “Sudah baik lho, saya bayar.” Aneh sekali, bukan? Kadang-kadang kita melupakan bahwa kita hidup itu berhutang. Paulus mengingatkan, jangan hidup lagi menjadi orang yang berhutang. Hutang apa? Hutang hidup kepada Tuhan. Ini hutang yang penting pada waktu kita memikirkan, merenungkan betapa besar anugerah keselamatan yang Tuhan sudah beri kepada kita, merenungkan dari hidup kita yang tidak ada artinya, hidup kita yang kita sia-siakan jikalau itu tidak ditebus oleh Tuhan kembali. Tuhan, apa jadinya saya jika saya tidak menjadi orang yang percaya Tuhan pada hari ini? Itu sebab Paulus bilang, engkau sudah ditebus dari hidupmu yang sia-sia, engkau dibawa kembali oleh Tuhan kepada Dia, jangan lagi pakai hidup yang sudah ditebus oleh Tuhan itu dengan satu hidup yang tidak memiliki arti. Maka pakai semua hidupmu menjadi senjata kebenaran Tuhan.

Yang kedua, Paulus memakai kata ‘hutang’ ini dalam Rom.13:7-8 di bagian ini Paulus berkata kita berhutang kasih kepada sesama. Hutang yang paling dekat yang perlu kita bayar adalah kepada keluarga kita. Tidak ada di antara kita yang lahir dan besar sampai hari ini tanpa berhutang kepada jasa orang tua kita, jasa dari guru SD kita, jasa dari guru-guru Sekolah Minggu yang mengajar kita dari kecil, dsb. Orang yang mengambil keputusan untuk menjadi guru adalah orang yang kita percaya tidak akan mungkin mendapatkan profesi dengan mendapatkan uang yang lebih banyak. Tetapi dedikasi menjadi guru itu menghasilkan begitu banyak murid-murid yang sepatutnya kita bersyukur kepadanya. Kita yang memiliki anak-anak di Sekolah Minggu, jangan kita lupa guru-guru yang mengajar dan mendidik mereka dari kecil dan membentuk karakter mereka. Saya percaya itu adalah satu pembentukan yang tidak akan pernah dilupakan oleh mereka. Sdr yang baru datang ke gereja ini, yang baru datang untuk studi di kota ini, jangan lupa akan orang tua yang membesarkan dan mendidikmu dan menyiapkan dana untuk engkau sekolah dengan sedikit menyisihkan kebahagiaan yang mungkin mereka dapatkan dari uang itu. Ada di antara orang tua kita yang mungkin makan lebih sedikit dan tidak memakai uang itu untuk kesenangan dia sendiri hanya demi supaya anak-anaknya bisa bersekolah. Itu sebab Paulus bilang kita jangan berhutang kasih kepada orang karena itu adalah hak dia. Kalau dia berhak dihormati, hormatilah dia. Kalau dia berhak mendapatkan sesuatu, beri itu menjadi hak dia. Kita tidak boleh menjadi orang yang merugikan orang lain tetapi kita juga tidak boleh menjadi orang yang pasif, tidak membalas kembali segala kasih yang diberi orang kepada kita. Dengan demikian kita impas, kata Paulus, jangan berhutang kasih.

Yang ketiga, Paulus memakai kata ‘hutang’ ini di dalam Fil.4:15 Paulus tidak minta balasan karena itu adalah bagian dari pekerjaan dan pelayanan dia, tetapi Paulus secara khusus berterima kasih kepada Tuhan dan memuji jemaat FIlipi karena jemaat ini membayar hutang-piutangnya dengan Paulus. Bagi saya ini adalah hutang orang Kristen yang ketiga, kita berhutang pelayanan kepada orang lain. Maka Paulus berkata kepada jemaat Filipi, setelah Paulus berkhotbah melayani di situ jemaat itu kemudian berpikir kita harus membayar hutang-piutang dengan Paulus. Maka dicatat oleh Paulus di dalam Fil.4 ini jemaat berulang kali mengirimkan uang kepada Paulus untuk mendukung pekerjaan dan pelayanan Paulus sebab Paulus pernah datang ke situ dan melayani mereka dan Paulus tidak pernah minta apa-apa. Tetapi yang menarik di sini Paulus tidak merasa sungkan, Paulus tidak merasa risih untuk membicarakan hal ini karena ini memang merupakan kewajiban kita sebagai orang Kristen. Kita patut membayar kembali hutang-piutang kita, dan tidak ada satu jemaatpun selain jemaat Filipi yang memiliki sikap membayar kembali. Ini merupakan hal yang indah dan penting sekali. Kita ada sampai di sini, semua karena anugerah dan pelayanan orang lain. Dengan sikap seperti itulah saya percaya kita semua bisa menjadi orang Kristen yang memiliki keindahan karakter. Kita tidak berpikir di dalam pekerjaan yang kita terima hanya menghitung keuntungan semata-mata. Mungkin ada di antara sdr yang bekerja di tempat orang dan pekerjaan itu kita dapat karena orang itu begitu iba kepada kita dan sekarang sdr sudah ‘jadi’ dan sudah besar, mari kita belajar membayar hutang budi itu. Kalau saya tidak ditolong oleh dia, saya tidak akan menjadi seperti ini. Ini merupakan satu sikap yang indah karena dengan membayar hutang kita kembali di situ bukan saja kita feel good akan apa yang kita terima tetapi kita sadar kita tidak layak memperolehnya sehingga kita berusaha membayar kembali. Yang ketiga, sesudah kita bayar kembali, muncul hal ini yaitu ‘count your blessing.’ Mzm.40 yang kita baca tadi memperlihatkan pemazmur menghitung semua yang sudah dia dapat, makin dia berusaha hitung makin dia temukan begitu banyak jumlahnya. Bersyukur terhadap apa yang ada di dalam hidup kita dan bukan melihat apa yang tidak ada di dalam hidup kita. Renungkanlah keselamatan yang Tuhan beri kepada kita dan betapa kayanya keselamatan itu datang kepada kita, di situlah kita bersyukur karena kita tidak layak menerima anugerah itu. Banyak orang tidak bisa bersyukur karena dia selalu melihat apa yang tidak ada di dalam hidup dia. Kita bersyukur kepada gereja kita karena kita bisa melihat begitu banyak hal yang kadang-kadang kita take it for granted pelayanan orang. Kita bersyukur pada waktu kita lihat ada begitu banyak hal yang Tuhan beri kepada kita. Kita belajar untuk selalu lihat apa yang ada di dalam hidup kita dan bukan kepada apa yang tidak ada. Namun lebih jauh lagi, count your blessing bukan saja melihat apa yang ada, tetapi mungkinkah kita bisa belajar bersyukur karena kita memperkembangkan imajinasi kita terhadap apa yang tidak kita lihat. Bersyukur membuktikan kita memiliki imajinasi yang tidak miskin. Ini point yang paling penting buat saya, karena saya percaya Paulus bisa mengucap syukur karena dia memiliki imajinasi yang begitu kaya. Kita mungkin bersyukur terhadap apa yang kita lihat, tetapi mari coba kita lihat dalam 1 Kor.2:9 Paulus bisa bersyukur terhadap apa yang tidak bisa kita lihat dengan mata kita atau yang tidak bisa kita dengar dengan telinga dsb. Kadang harus kita akui kita begitu poor dalam imajinasi, kita hanya lihat apa yang kita bisa lihat, kita hanya bersyukur terhadap apa yang ada di depan mata kita. Tetapi kita tidak pernah bersyukur terhadap apa yang beyond our senses, melampaui panca indera kita. Paulus bilang, ada yang tidak bisa dilihat oleh mata, ada yang tidak bisa diraba oleh tangan, ada yang tidak bisa dikecap, tetapi semua itu sudah disediakan Tuhan bagi hidup kita. Ada orang miskin secara makanan dan pakaian tetapi bisa kaya secara imajinasi sehingga lahirlah syukur kepada Tuhan.

Ada dua anak kecil yang begitu miskin makan makanan sederhana di kontainer plastik, duduk berdua di emperan restaurant. Kakaknya bisa bilang, “Enak sekali ikan ini ya… Nikmatnya rendang ini…” Seolah-olah itu yang mereka sedang nikmati, padahal yang ada di kontainernya hanya nasi dengan garam. Itulah yang bagi saya kekayaan imajinasi. Kita bisa beli makanan enak dan mahal tetapi kita bisa kehilangan syukur sebab kita poor in imagination. Kita tidak bisa bersyukur itu dari sesuatu yang tidak kita lihat, sehingga yang keluar dari mulut kita adalah, “Ya Tuhan, kenapa cuma ini saja yang saya punya?” Kita tidak pernah melihat kekayaan yang lebih kaya daripada itu. Count your blessing bukan saja melihat apa yang ada di depan mata kita, count your blessing terhadap apa yang tidak bisa dilihat oleh panca indera kita, semua itu Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mengasihi dan mencintai Dia. Kita sudah hidup di dalam lingkungan dan dunia yang kaya sehingga kadang-kadang kita take it for granted semua yang ada di dalam hidup kita. Kita kadang-kadang take it for granted terhadap pelayanan dari guru-guru Sekolah Minggu, koor dan team audio system yang melayani di gereja kita. Ketika semua itu hilang barulah kita sadar kita sudah kehilangan banyak hal di dalam pelayanan kita.

Hellen Keller yang buta, tuli dan bisu menulis kalimat, “I have often thought it would be a blessing if each human being were stricken, blind and dead for a few days at sometime during his early adult life. Darkness would make him more appreciative of sight. Silence would make him appreciate the joy of sound.” Saya seringkali berpikir mungkin adalah sebuah berkat kalau setiap kita manusia ditimpa kebutaan dan tuli hanya beberapa hari saja di dalam hidup kita. Di situlah baru kita sadar di dalam kegelapan kita baru bisa menghargai apa itu terang. Di dalam kesunyian kita bisa menghargai sukacita suara.

“Blessed Assurance” ditulis oleh Fanny J. Crosby yang juga seorang buta. Di ayat kedua lagu ini dia menulis “visions of rapture burst on my sight.” Bagaimana seorang yang buta bisa membayangkan begitu dia masuk ke surga matanya tiba-tiba pecah terbuka dan burst dari the joy of rapture bisa dia saksikan begitu indah. Itulah yang saya sebut sebagai kekayaan imajinasi, orang yang buta bisa melihat, orang yang tidak pernah mendapatkan sesuatu bisa bersukacita mendapatkan sesuatu. Itulah yang dikatakan Paulus di sini, apa yang belum pernah engkau lihat, yang tidak bisa engkau raba dengan tanganmu, apa yang tidak bisa engkau kecap, semua itu sudah Tuhan kasih kepadamu. Dengan memiliki hati seperti itu maka kita bisa bersyukur kepada Tuhan.

Ada begitu banyak anugerah yang datang kepada kita dan saya percaya anugerah itu datang dari orang-orang yang mengasihi kita dengan tidak pernah memperhitungkan itu kepada kita. Pada waktu kita membalas kembali kepada mereka, jangan sampai kita berhitung-hitungan. Satu saja yang perlu kita hitung yaitu kita hitung dengan seadil-adilnya. Seberapa saya mendapatkan kasih dari orang, sebegitu juga saya harus memberi kepada orang itu. Dengan demikian kita tidak menjadi orang Kristen yang berhutang apa-apa.(kz)