GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
27
Dec

The Purpose of Life

Ev. Kezia Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: December 27, 2009
Nats: Efesus 5:15-21

Di dalam bagian ini rasul Paulus mengatakan, orang yang sudah ditebus oleh Tuhan memiliki perspektif yang baru akan hidup ini, melihat dari sudut pandang yang berbeda dengan orang dunia. Melihat bahwa hidup ini bukan hanya di sini, tetapi ada hidup yang lebih panjang dan kekal. Melihat dengan seksama, bijak dan arif bagaimana menjalani hidup yang seharusnya. Orang yang sudah menjadi manusia baru memiliki kepekaan akan waktu dan moment di dalam hidup ini. Di tengah hari-hari yang jahat, berusaha mengerti kehendak Tuhan baginya, mengisi hari-hari itu dengan bijaksana.

Di dunia ini, ada hidup yang diakhiri dengan bahagia, ada hidup yang diakhiri dengan tragis dan kesedihan. Ada hidup yang dijalani sampai lanjut usia, ada hidup yang hanya beberapa tahun saja. Saya percaya, umur tidak menentukan nilai hidup seseorang. Bukan umur panjang yang paling penting, tetapi apa yang kita buat, apa yang kita isi di dalam umur dan hari-hari yang kita jalani, itu yang paling penting. Orang bilang semakin usia bertambah, semakin bijaksana itu bertambah. Tapi saya rasa itu tidak otomatis terjadi seperti demikian. Sdr bisa lihat ada banyak orang semakin tua, kenakalannya semakin bertambah. Kadang-kadang saya geli sendiri melihat kakek-kakek tua bertattoo, rambutnya gondrong, diikat pakai bandana, jenggotnya panjang, naik Harley Davidson dan masih aktif jadi bikie. Siang-siang seperti berandalan, malamnya mengeluh sakit pinggang. Tubuh di luar kelihatan gagah, tapi di dalam tulang sudah keropos dan rematik. Lihat saja penyanyi Rolling Stones. Mick Jagger, Ronnie Wood, gayanya 40 tahun tidak berubah. Usia fisiknya sudah 70 tahun tetapi usia mentalnya stop di umur 30 tahun. Tidak heran, cari isteri yang umur 20 karena dia rasa dirinya masih seumuran.

Seorang filsuf Yunani bernama Socrates di akhir hidupnya mengatakan, “The unexamined life is not worth living.” Hidup yang tidak pernah diuji adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Tetapi di dalam dunia yang hectic dan super sibuk ini, siapa yang punya waktu untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apa arti semua ini, kemana aku sedang berlari? Kita tidak punya waktu untuk berhenti dari segala kesibukan kita dan mulai memikirkan apa makna dari hidup ini? Apa yang akan saya isi di dalam hidup saya di dunia ini?

What is the chief end of man? What is man’s main purpose? Apa yang menjadi tujuan hidup manusia sesungguhnya? Ini satu pertanyaan yang sangat esensial. Sdr google dan ketik pertanyaan ini di komputer, dia akan memberi jawaban yang panjang lebar, dari berbagai kelompok dan jenis orang yang juga di dalam pencaharian mereka mencoba menemukan jawabannya. Namun the Westminster Shorter Catechism memberi jawaban yang begitu singkat: to glorify God and enjoy Him forever. Why did God make you? The Baltimore Catechism mengatakan God made me to know Him, to love Him and to serve Him in this world, and to be happy with Him forever in heaven. Tuhan menciptakan aku supaya aku bisa mengenalNya, mencintaiNya dan melayaniNya di dalam dunia ini. Mengenal bukan sekedar tahu siapa Tuhan itu. Mengenal berarti bergaul karib denganNya, mengetahui apayang Dia pikirkan, sukai dan inginkan terjadi bagi dunia ini. MencintaiNya berarti setiap saat dan setiap waktu selalu memikirkan Dia, ingin melakukan sesuatu yang menyenangkanNya, mendahulukan Dia daripada yang lain.

Paulus mengatakan di dalam Ef.2:10: “For we are His workmanship, created in Christ Jesus for good works which God prepared beforehand, that we should walk in them” (Ef.2:10). “What do you have that God hasn’t given you? And if all you have is from God, why boast as though you have accomplished something on your own?” (1 Kor.4:7)

Alkitab menggambarkan hidup ini sebagai a trust. Waktu kita selama di dalam dunia ini, energi, inteligensi, kesempatan, relasi dan resources yang kita miliki, semua merupakan pemberian Allah yang dipercayakan kepada kita untuk diolah dan dikembangkan. Kita adalah penatalayan Allah, mengelola apa saja yang Allah percayakan kepada kita. Sesungguhnya kita tidak betul-betul memiliki apapun di tangan kita di dalam hidup yang sementara di dunia ini. Rick Warren bilang, God just loans the earth to us while we’re here. It was God’s property before you arrived, and God will loan it to someone else after you die.

At the end of your life on earth you will be evaluated and rewarded according to how well you handled what God entrusted to you. The more God gives you, the more responsible He expects you to be.

Ada beberapa jenis orang menanggapi pembicaraan mengenai topik the purpose of life ini.

1. Orang tidak suka bicara akan hal ini.

Banyak orang merasa tidak nyaman berbicara akan hal ini. Banyak orang menghindari pembicaraan yang mendalam tentang makna hidup dan lebih suka bicara mengenai hal-hal yang artificial di permukaan saja. Bicara soal cuaca, bicara soal politik, bicara soal resesi. Bicara soal-soal yang remeh sehari-hari. Banyak relasi seperti itu, antara suami dan isteri, antara anak dan orang tua, antara teman dan sahabat. Tetapi mau tidak mau, suka tidak suka, suatu hari kita harus berhenti dan bicara dengan serius akan hal ini, apa makna hidup ini bagimu? Apa yang menjadi cita-cita dan hal yang ingin kau capai dalam hidup ini? Bukankah akhir tahun menjadi waktu yang terbaik untuk merenung dan memikirkan jawaban akan hal ini?

Hidup di dalam dunia adalah satu periode yang pendek. Kita mesti bertanya kepada Tuhan, purposeNya apa? baru kita mengerti. Orang Kristen hidup bukan untuk cari harta, hidup dalam kenyamanan, dapat keselamatan, lalu tunggu masuk surga. Kita tahu sejak kita mendapatkan keselamatan di dalam Kristus, hidup ini bukan milik kita lagi. Hidup ini milik Tuhan dan bagaimana kita mengisinya, satu waktu kelak harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan pengadilan Tuhan. Dalam buku “The Purpose Driven Life,” Rick Warren mengatakan,” The way you see your life shapes your life. Bagaimana definisimu tentang hidup akan menentukan jalan yang akan kau ambil, how you invest your time, spend your money, use your talents and value your relationships. Bagaimana kita melihat hidup ini akan menentukan ekspektasi, nilai, tujuan dan prioritas hidup kita. Maka, waktu sdr melihat hidup ini seperti satu pesta, nilai utama hidupmu adalah berhura-hura. Waktu engkau melihat hidup ini sebagai satu pertandingan, engkau akan selalu terburu-buru dalam segala hal. Waktu sdr melihat hidup ini sebagai satu permainan, menang adalah tujuan terpenting bagimu

2. Orang tidak tahu bagaimana menjalani hidup yang punya tujuan.

Sdr katakan, betul, saya tahu yang terpenting di dalam hidup ini adalah mencari tahu apa yang menjadi tujuan hidup. Tetapi, masalah yang sebenarnya bukanlah mencari tahu tujuan hidup ini. Dalam bukunya “Long Journey Home,” Os Guinness mengatakan, the real problem is many people have such poorly detailed mental “maps” to follow, we don’t know how to pursue an examined life. Rev. Martin Lloyd Jones mengeluh dari mimbarnya, orang sekarang bukan saja meragukan dan mempertanyakan hal-hal spiritual, tetapi malah mengejek dan membuangnya. Tujuan hidup semata-mata hanya mengejar hal-hal lahiriah, materi, kesuksesan, ketenaran, kuasa, pengakuan dan penghormatan orang. Kita gelisah kalau yang kita punya lebih sedikit daripada yang orang lain punya. Kita gelisah kalau tidak mendapat respek dan pengakuan orang, yang sering diukur dengan kekayaan dan kesuksesan karir. Kita gelisah kalau anak kita kurang daripada anak lain. Jika hidup kita terus dijalani dengan membanding dan meng-compare orang lain, jika hidup kita terus dijalani dengan mengejar hal-hal seperti ini, kita akan kehilangan fokus dan hari-hari hidup ini kita jalani dengan berbagai hal negatif: kuatir, gelisah, iri hati, sedih, bosan, depresi, dsb. Kita jalan berputar-putar di dalam semua itu dan tidak pernah sampai kepada tingkat hidup yang lebih berarti.

Bangsa Israel memulai perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir dengan berbagai mimpi dan pengharapan. Lepas dari perbudakan, mereka berharap hidup di tanah perjanjian, dimana mereka bisa menjadi tuan atas milik sendiri, hidup menjadi lebih baik. Tetapi akhirnya hidup mereka berputar-putar empat puluh tahun di padang gurun, sampai mereka mati di sana. Tragis, tetapi itu banyak terjadi di sekitar kita. Jika kita tidak tahu kemana kita berjalan, kata Rick Warren, life is a motion without meaning, activity without direction, and events without reason. Life is become trivial, petty and pointless.

3. Orang merasa yang namanya tujuan itu terlalu besar dan terlalu sulit dicapai.

Apa yang menghambat seseorang menjalani hidup yang bernilai? Itu semua bermula dari pikirannya. Banyak orang merasa hidupnya “biasa-biasa saja” dan tidak punya kapasitas seperti orang lain yang bisa melakukan hal-hal yang hebat dan agung dan bersumbangsih besar bagi dunia ini. Ini adalah satu pikiran yang berbahaya dan sangat ampuh untuk melumpuhkan hidup seseorang. Biasa-biasa saja. Kelas menengah. Mediocre.

Dunia kita sudah membuat posisi yang seperti ini. Sejak kecil, di dalam kelas guru hanya memperhatikan dua jenis murid. Kalau bukan yang paling pintar, pasti yang paling nakal. Yang sedang-sedang saja pintarnya atau yang sedang-sedang saja nakalnya itu kelompok yang tidak perlu mendapat perhatian khusus. Sampai dewasa, di dalam dunia pekerjaan hal yang sama terjadi. Kalau sdr bukan seorang yang sangat pintar, sangat rajin, sangat gesit, sdr tidak diperhatikan oleh boss, bukan? Tetapi kalau sdr seorang yang sangat malas, sangat bodoh, sangat lamban, hanya kepala bagian HR yang memperhatikan sdr untuk segera di PHK. Lalu bagaimana dengan kelompok yang sedang-sedang ini? Perumpamaan Tuhan Yesus dalam Mat.25 mengejutkan kita. Di situ jelas dikatakan pertanggungan jawab diminta kepada setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Tuhan tidak menuntut kita bertanggungjawab atas kuk dan beban orang lain. Tuhan menuntut kita atas berapa talenta yang Dia percayakan untuk kita kelola. Tuhan marah kepada orang yang mengubur talentanya, bukan karena dia hamba yang bodoh, bukan karena dia hamba yang berat rejeki, tetapi Tuhan bilang dia adalah hamba yang malas dan jahat. Ketimbang bersyukur karena sudah diberi kepercayaan, hamba ini bersungut-sungut menuduh tuannya tidak adil dan jahat.

Orang lebih mudah melihat apa yang dia tidak punya daripada melihat apa yang sudah ada padanya. Orang yang hanya melihat apa yang tidak ada padanya, menghambat dia melakukan apa saja. Seolah-olah kalau dia tunggu sampai dia punya semua, baru dia bisa melakukan segala sesuatu. Itu adalah pikiran yang keliru dan melumpuhkan. Kalau semua orang tunggu sampai dia punya semua, sampai kapan dunia ini mengecap kebaikan? Kalau semua orang tunggu sampai dia mampu, sampai kapan dunia ini mendengar Injil keselamatan? Alkitab bukan hanya bicara dan menonjolkan orang-orang yang hebat, pemimpin-pemimpin yang besar dan berkarisma. Alkitab juga mencatat wanita sederhana seperti Dorkas, yang dengan kemampuannya menjahit sudah menjadikan hidupnya memuliakan Allah. Allah menghargai orang-orang yang mau dan memampukan mereka melakukan hal-hal yang indah bagi kerajaanNya. Jikalau sdr tidak terpanggil untuk menjadi pemimpin dunia, pikirkanlah sesuatu yang sdr bisa lakukan bagi dunia sekitarmu. Jikalau sdr tidak terpanggil menjadi pembicara KKR massal, carilah kesempatan untuk mengabarkan Injil dan Yesus Kristus kepada tetanggamu. Itu bukan hal yang mustahil untuk kita lakukan, bukan?

Saya tidak terlalu setuju ada hamba Tuhan mengatakan orang terhambat menggenapi panggilan Tuhan karena profesi pekerjaannya. Kalau dia guru, pendeta, psikolog, dokter, dia bisa lebih bersumbangsih daripada orang yang bekerja sebagai pedagang, olah ragawan, atau yang paling rendah tingkatannya tukang becak. Saya tidak terlalu setuju pendapat itu. Bagi saya, seorang tukang becakpun bisa melayani Tuhan dengan baik ketika dia menggenjot becaknya dengan kecepatan sedang, mengantar penumpangnya sampai ke tempat dengan selamat, dan kalau memungkinkan menjalin persahabatan dengan langganan sampai ada kesempatan mengabarkan Injil kepadanya. Itu yang dilakukan oleh tukang becak Kristen di kota Malang.

Yang disayangkan banyak orang terhambat justru karena terlalu banyak berkat dan blessings yang dia dapat, membuat dia terlalu “sibuk” menikmati berkat itu dan tidak melayani Tuhan lagi. Banyak yang waktu masih pemuda, masih bujangan belum ada pacar, rajin melayani bukan main. Begitu Tuhan kasih dia berkat, kasih pacar, kasih pekerjaan yang baik, kasih isteri, kasih berbagai fasilitas dan kenyamanan, kasih anak-anak yang lucu dan sehat, jangankan pelayanan, ke gereja saja jarang. Terlalu banyak excuse yang bisa dibuat untuk tidak memenuhi panggilan Tuhan di dalam hidup ini.

C.S. Lewis melihat ini adalah satu tipuan yang Setan lakukan untuk menjadikan orang Kristen pasif dan tidak berbuah di dalam hidupnya. Beri mereka kelancaran, limpahi mereka dengan kesenangan, biarkan mereka sibuk dengan segala leisure dan kenyamanan. Biar mereka lupa bahwa panggilan mereka bukan untuk semua itu. Biar mereka menjadi pasif di dalam segala hal baik yang mereka punya. Tahun ini akan segera berlalu. Saya percaya di awal tahun kita selalu memulai dengan komitmen dan janji kita untuk hidup lebih baik, lebih rajin melayani, lebih suci dan hidup di dalam kebenaran. Waktu kita menoleh ke belakang, lihat dan teliti berapa banyak janji dan komitmen yang terpenuhi dan berapa yang masih belum terpenuhi. Sebelum kita menutup tahun 2009 ini, biarlah kita dedikasikan sekali lagi hidup kita, setiap individual, untuk mencintai dan mengasihi Tuhan lebih sungguh lagi.

Paulus mengatakan, ”...perhatikan dengan saksama, bagaimana kamu hidup. Janganlah seperti orang yang bebal tetapi seperti orang bijaksana. Gunakan setiap kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin karena dunia di sekitar kita sudah didistorsi dengan segala hal yang jahat dan tidak ada kebenaran di sana. Carilah kehendak Tuhan. Berusaha mengerti apa yang menjadi kehendakNya dan hidup di dalamnya.” Masuki tahun yang baru dengan semangat seperti ini. Berapa panjang waktu yang Tuhan berikan, biar itu menjadi kesempatan bagi kita mengenal Dia, mengasihi Dia dan melayani Dia di dunia ini. Amin.(kz)