GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
29
Nov

The Meaning of Serving

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: November 29, 2009
Nats: Mat.20:26-28, 2 Kor.4:1, Gal.4:19, Fil.3:13, 2 Kor.8:1-15, Luk.6:36

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah dia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu hendaklah dia menjadi hambamu. Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat.20:26-28). Ini adalah kalimat Tuhan Yesus bicara mengenai prinsip pelayanan di dalam rumah Bapa. Kalimat ini keluar sebab ada dua pertanyaan di dalam hati murid-murid, yang satu dari Petrus di dalam Mat.19:27 “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau, apakah yang akan kami peroleh?” dan yang satu lagi muncul ibu dari Yakobus dan Yohanes, kali ini bukan berbentuk pertanyaan, tetapi langsung meminta. “Yesus, kalau Engkau menjadi Raja di dalam kerajaanMu, aku minta anakku yang satu duduk di sebelah kananMu dan yang satu di sebelah kiriMu.” Dua renspons ini datang bukan dari orang luar tetapi datang dari diri dan lingkungan Yesus sendiri. Maka kemudian Yesus memberi prinsip pelayanan ini kepada murid-murid. Organisasi sistem di luar caranya memerintah dengan rule dan otoritas, tetapi tidak demikian dengan prinsip pelayanan di dalam kerajaan Allah. Bukan diperintah dengan otoritas dan aturan hukum yang menindas orang tetapi diperintah dan dilakukan dengan example. “Sama seperti Aku sudah melayani, kiranya engkau juga melayani seperti itu.”

1. To Serve is a Privilege. Tuhan Yesus menginginkan walaupun ada di atas dunia, organisasi gereja dan sistem pelayanan yang dikerjakan oleh anak-anak Tuhan tidak boleh mengikuti cara dari dunia ini. Pemerintah dan penguasa-penguasa di dunia melakukan pemerintahan dengan tangan besi, dengan aturan dan otoritas tetapi tidak demikian dengan kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar…, kalimat ini memberi indikasi Tuhan tidak pernah melarang kita memiliki ambisi untuk menjadi besar, memiliki keinginan menjadi orang yang agung di dalam pelayanan Tuhan, orang yang mulia di dalam pelayanan Tuhan. If you want to be great, jadilah hamba dengan contoh melayani.

Maka point pertama dalam khotbah ini adalah ‘to serve is a privilege.’ Melayani Tuhan itu berarti sesuatu hak khusus yang indah yang Tuhan beri kepada setiap kita. Kenapa? Sebab Kristus di sini menaruh prinsip pelayanan murid-murid menjadi hamba bukan sebagai sesuatu yang Dia paksa inginkan tetapi Dia sendiri telah memberi contoh. Yang kedua, mereka sanggup bisa melayani sebab Tuhan terlebih dahulu sudah me-ransom hidup mereka, membayar balik, menjadikan hidup mereka ditebus dari dosa.’ Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani…’ ini adalah contoh teladanNya. Selanjutnya Dia mengatakan, ’...dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi engkau dan saya.’ Artinya, kita melayani karena kita ‘sudah’ memiliki segala sesuatu. Tidak boleh dibalik. Pertanyaan Petrus salah, sebab dia melayani ‘untuk’ mendapatkan sesuatu. Permintaan ibu dari Yohanes dan Yakobus juga salah, sebab ingin melayani ‘untuk’ mendapatkan kedudukan dan jabatan. Ini salah besar, kata Tuhan Yesus. Aku sudah menebus hidupmu, sudah membeli engkau dengan harga yang mahal, sudah merubah hidupmu, sudah memberikan segala kepenuhan keselamatan di dalam hidupmu. Engkau sudah memiliki segala sesuatu, maka itu sebab pakai hidupmu untuk melayani. Waktu kita melayani, Kristus memberikan contoh. Waktu Dia menebus hidup kita, Dia memberikan keagungan, kebesaran, kemuliaan tahta Tuhan Yesus datang melalui penderitaan dan salib yang Dia tempuh. Tidak ada kemuliaan tanpa melalui jalan salib. Tidak ada orang yang menjadi agung dan besar tanpa dia memberikan contoh terlebih dahulu menjadi pelayan di dalam melayani. Itu sebab ‘to serve is a privilege.’

Masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus dalam Mat.20:1-16? Perumpamaan itu intinya sederhana, orang-orang yang bekerja di ladang itu masuk hanya dengan satu syarat: Tuan itu yang cari dia. Kalau tuan itu tidak panggil dia masuk ke dalam ladang, orang itu tidak bisa bekerja dan tidak mendapat apa-apa. Cuma celakanya, setelah ada di dalam, yang menggerutu dan complain itu merasa itu menjadi hak dan jasa dia. Dia rasa dia berhak mendapat lebih banyak dan orang lain tidak boleh mendapat lebih banyak daripada dia. Maka muncul peringatan Tuhan Yesus, “Hati-hati, jangan sampai yang terdahulu menjadi terkemudian dan yang terkemudian menjadi terdahulu.” You yang masuk duluan, kalau mulai dengan starting point yang tidak pernah berubah: ‘Tuhan, kalau saya bisa ada di ladang Tuhan, ini adalah satu privilege, ini adalah satu hak khusus, ini adalah sukacita yang saya boleh kerjakan bagi Tuhan,’ maka seumur hidup kita, kita bukan mencari apa yang akan Tuhan kasih tetapi seumur hidup kita mengatakan kepada Tuhan, saya melakukan segala sesuatu bagaimana saya bisa membalas kembali apa yang Tuhan sudah beri kepada saya? Maka tidak heran Yesus pernah memberi satu perumpamaan, ada dua orang yang berhutang banyak, ketika dua-dua hutangnya dibebaskan, mana yang lebih mengucapkan terima kasih, yang hutangnya dihapus lebih banyak atau yang hutangnya lebih sedikit? Jawabnya, orang yang hutangnya dihapus lebih banyak. Hidup kita tidak akan merasa memberi lebih banyak, melayani lebih banyak, jikalau kita juga berangkat dengan posisi, Tuhan saya mau membalas kembali apa yang Tuhan sudah beri kepada saya yang begitu banyak, saya kembalikanpun tetap tidak sanggup untuk membalas apa yang Tuhan sudah beri kepada saya. Titik berangkatnya to serve is a privilege. Berangkat dengan sikap ini, memang betul saya melayani orang, memang betul saya melayani gereja, memang betul saya memberikan sesuatu dalam hidup saya, tetapi berangkat dengan hati Tuhan telah melayani saya terlebih dahulu, itu sebab saya melayani Tuhan.

2. To Serve with a Courageous Spirit. Dalam 2 Kor.4:1 bagi saya ini adalah salah satu prinsip pelayanan yang penting dari rasul Paulus yang dalam terjemahan lain mengatakan, “This is by grace of God, this is by His kindness to me…, saya bisa ambil bagian di dalam pelayanan karena ini adalah anugerah kebaikan dari Tuhan, saya terima dengan berani, dengan courageous spirit. Pertama, ini bicara soal datangnya pelayanan, datangnya berkat itu dari Tuhan. Kedua, waktu Paulus terima ini adalah anugerah Tuhan, dia membalas dengan satu respons yang seimbang dengan apa yang Tuhan beri kepada dia, saya berani mengerjakan, saya mau melakukannya. Tuhan berjanji memberikan tanah Kanaan bagi orang Israel. Tetapi kalau sdr membaca Yos.1 ketika Yosua mengganti posisi Musa sebagai pemimpin, berkali-kali Tuhan mengulang kalimat ini, “Joshua, be brave.” Bukan saya engkau setia melayani Tuhan, tetapi Tuhan minta Yosua untuk berani. Datangnya dari mulut Tuhan sendiri kepada dia.

Dalam Bil.13 saya tertegun waktu membaca bagian itu karena Tuhan mengatakan, Aku akan memberikan tanah perjanjian itu kepadamu tetapi engkau harus maju berperang untuk mendapatkannya. Tanah perjanjian diberi Tuhan, itu adalah anugerah Tuhan. Kalau Tuhan tidak kasih, kita tidak bisa mendapatkannya. Tetapi bisakah tanah itu datang kepada kita secara ‘take it for granted’? Bisakah datang seperti satu hadiah jatuh dari langit?

Kita tidak boleh abaikan dua prinsip ini: bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita itu datangnya sebagai berkat dan anugerah dari Tuhan. Kedua, setiap kali anugerah itu datang, dia selalu datang bersamaan dengan respons berani. Menerima pelayanan Tuhan itu sebagai kepercayaan, jangan terima dengan pasrah. Terima pelayanan Tuhan sebagai anugerah dan berkat Tuhan, jangan terima secara terpaksa. Terima pelayanan Tuhan sebagai anugerah Tuhan, jangan terima dengan malas. Terima berkat anugerah Tuhan datang ke dalam hidupmu jangan terima sebagai sesuatu yang begitu saja datang. Maka Paulus bilang, ketika pelayanan itu datang kepadaku, I know this is God’s grace and I accept it with courageous. Kalau anugerah Tuhan datang kepadamu, jangan terima dengan pasif dan pasrah. Tuhan tuntut respons dan reaksi dari sisi kita. Karena kemurahan Allah saya terima pelayanan ini dan saya terima dengan spirit berani. To serve is a privilege and to serve with courageous spirit.

3. To Serve until the Goal is Completed. Gal.4:19 “Karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu…” Gal.6:9 “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.” To serve until goal’s happening di dalam hidup kita. Saya melayanimu seperti seorang ibu yang terus-menerus sakit melahirkan sampai rupa Kristus terbentuk di dalam dirimu. Saya selalu simpati dengan ibu yang baru melahirkan. Saya ingin mengerti penderitaannya tetapi tidak sampai. Paulus memakai gambaran ini untuk menyatakan bagaimana pelayanannya bagi Tuhan, bagaimana sakit bersalin sampai muka Tuhan Yesus muncul di hadapannya. Inilah goal dan tujuan pelayanan Paulus. Kenapa kita bisa jemu, kenapa kita kecewa, kenapa kita gampang berhenti di tengah jalan? Hal ini lumrah bisa terjadi di dalam spirit kita karena dua hal. Satu, karena kita punya goal cita-cita ingin seperti ini sempurnanya tetapi tidak tercapai lalu kita menjadi kecewa dan putus asa dan tidak mau melanjutkan. Atau yang kedua, kita tidak menerima pemahaman bagaimana itu perlu dikerjakan dengan konsisten, dengan telaten, dengan pelan, dengan sabar dan di dalamnya ada painful experience yang setengah mati. Seperti seorang ibu yang sakit bersalin sampai wajah Kristus nyata di dalam dirimu. Memulai sesuatu itu gampang, tetapi konsisten berada di dalam perjalanan itu bukan hal yang gampang. Hati kita gampang jatuh bangun, kemudian kecewa, pudar, tawar, hal itu lumrah di dalam hidup kita. Tetapi di tengah-tengah seperti itu kita tidak boleh mengabaikan dua hal ini. Satu, memang ada cita-cita dan goal, mungkin ada hambatan untuk ke situ, tetapi setiap kita melayani Tuhan tidak boleh tidak harus berani jalan terus maju.

Waktu saya menjadi hamba Tuhan, papa saya bilang ‘you tidak lagi menjadi anak saya.’ Dan hampir sembilan bulan lamanya saya di SAAT dia tidak berkomunikasi dengan saya. Tetapi saya memegang kalimat dari seorang pendeta dari Mzm.126:5-6, “Orang yang menabur benih sambil mencucurkan air mata pasti pulang dengan sorak sorai membawa berkas-berkasnya.” Berjalan maju dengan air mata tetap tabur benih, pasti pulang membawa berkas-berkasnya. Banyak orang mau tabur benih, mau lekas-lekas dapat berkas-berkasnya tetapi tidak mau dua hal ini: berjalan maju dan dengan air mata.

Paulus bilang ini goal. Setiap kita melayani, kita punya goal. Kita harap ingin terus maju. Keinginan punya tempat ibadah sendiri tetap ada di dalam hati kita. Pelayanan tetap harus berjalan. Kalaupun belum tercapai tetap hati kita harus ada goal. Di dalam proses ini akan muncul painful labour, proses harus kembali lagi memecahkan apa yang sudah dibikin. Begitu pecah mesti bentuk lagi. Tidak sesuai dengan yang kita mau, kita hancurkan lagi. Kira-kira demikian ilustrasinya. Aku mau engkau bertumbuh, kata Paulus, tetapi begitu lihat tidak seperti Tuhan Yesus, dibentuk lagi terus-menerus.

4. To Serve and Leave the Past. Fil.3:13 “Aku mengejar apa yang di depan…” Prinsip pelayanan yang penting, kita tidak boleh berhenti untuk hanya kagum atas apa yang kita capai di masa-masa yang lampau. Kita harus terus berjalan, kita sadar pekerjaan Tuhan masih belum selesai, masih belum lengkap, masih banyak yang bisa kita kerjakan. Tidak bisa kesuksesan masa lalu itu menjadi penghalang di dalam pelayanan setiap kita. Melayani dengan tidak melihat apa yang kita sudah kerjakan itu sudah sempurna. Tidak juga merasa apa yang sudah kita capai menjadi sesuatu kebanggaan dan kesuksesan kita.

5. To Serve and Enjoy the Satisfaction. Melayani dengan menikmati kepuasan tersendiri di dalam melayani. Dua ayat yang saya suka pakai Kis.20:35 kalimat Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia orang yang memberi daripada menerima.” Dan 2 Kor.8:1-15 Paulus bicara mengenai pelayanan jemaat di Makedonia. Ini menjadi prinsip pelayanan mereka: ‘find a kind of satisfaction in serving others than to be served.’ Bukan soal melayani atau tidak melayani, tetapi pada waktu kita melayani temukanlah satu kepuasan di dalamnya. Itu akan membuat pelayanan kita lebih stabil, lebih konsisten seumur hidup kita. Pelayanan jemaat Makedonia bersifat satu pelayanan yang bukan diminta baru dikerjakan melainkan mereka meminta Paulus supaya mereka bisa berbagian di situ. Mereka mestinya dilayani karena mereka jemaat miskin, tetapi mereka bersedia memberi uang kepada jemaat di Yerusalem, padahal belum tentu jemaat di Yerusalem itu lebih miskin daripada mereka. Tetapi yang pasti Paulus mengatakan jemaat Makedonia telah melayani melampaui kemampuan mereka memberi. Mereka memberi dengan rela dan bahkan mendesak Paulus supaya membawa pelayanan ini kepada mereka.

Pelayanan kita perlu selalu mencari a kind of satisfaction yang bisa kita dapatkan di dalamnya. Itu yang memberikan kepada kita suatu konsistensi dan kesungguhan dan sukacita melayani di situ. Ada kerelaan hati, ada sukacita, ada cinta yang muncul sehingga waktu kita mengerjakannya kita bisa menikmati keindahan di dalamnya. Sebagai hamba Tuhan, pulang ke satu daerah yang pernah kita layani, lalu bertemu dengan seorang yang mengatakan, “Waktu bapak datang ke sini saya masih pemuda dan setelah mendengar khotbah bapak saya mengambil keputusan untuk menjadi hamba Tuhan,” itu sukacita yang bisa diceritakan kepada orang lain. Tidak berarti pelayanan itu gampang dan mudah, tetapi bagaimana pelayanan itu ditopang dengan hati seperti ini. Cari dan temukan kebahagiaan dan sukacita yang tidak bisa diganti dengan apapun yang sudah kita kerjakan melebihi keindahan sukacita lain. Ibu yang susah setengah mati membesarkan anak, akhirnya semua kesusahan hilang waktu melihat hasil pendidikan itu menghasilkan buah dan sukacita yang indah.

6. To Serve with Hospitality. Luk.6:36 “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Melayani dengan hospitality. Kalau kita melayani orang yang melayani kita, itu kata Tuhan Yesus tidak ada bedanya dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Orang yang tidak percaya Tuhan juga seperti itu. Kalau kita hanya memberi kepada orang yang memberi kepada kita sebagai balasan, itu tidak lebih hebat daripada orang yang tidak percaya Tuhan. Itu hal yang lumrah. Tetapi tidak demikian dengan kamu. Hendaklah engkau murah hati seperti Bapa yang murah hati kepada orang yang tidak berterima kasih kepadaNya, tetap Bapa itu memberikan hujan yang sama, matahari yang sama, benih yang sama. Hendaklah hidupmu penuh dengan kemurahan. Konsep hospitality ini penting sekali karena bagi saya salah satu keindahan yang Tuhan mau ada di dalam hati orang Israel itu ada tiga: pertama, perhatikan kebutuhan janda dan anak yatim. Kedua, jangan perlakukan budak dengan sembarangan karena dahulu mereka adalah budak di Mesir. Ketiga, selalu perhatikan orang asing. Konsep hospitality ini indah di dalam PL. Waktu ada orang asing lewat, Abraham menjamu mereka. Itu sebab melalui peristiwa itu penulis surat Ibrani mengingatkan jemaat juga melakukan pelayanan seperti itu di dalam Ibr.13:2 “Janganlah kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang yang tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Orang lain berbeda dengan saudara sendiri. Orang lain berbeda dengan jemaat sendiri. Orang lain berbeda dengan anggota gereja sendiri. Kita gampang melayani ‘sesama’ tetapi sulit buat ‘others.’ Sesama berarti kemungkinan mutual timbal balik, others berarti sdr memberi jangan harap mendapat balasan karena dia orang asing yang numpang lewat saja. Konsep hospitality ini muncul. Itu sebab Tuhan Yesus mengatakan kalau kita sebagai anak-anak Tuhan hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita, melayani kepada orang yang sudah melayanimu, memberi kepada orang yang sudah memberi kepadamu, itu tidak berbeda jauh dengan orang yang tidak percaya Tuhan. Kemurahan hati orang Kristen itu seperti Bapa di surga, satu sikap hidup yang ingin membahagiakan orang lain. Itu adalah kemurahan hati. Pelayanan seperti ini tidak gampang. Itu berarti membuka rumah lebar-lebar. Orang selesai makan, piring kotor kita cuci sendiri. Kalau kita bersungut-sungut, “Sudah dikasih makan, setidak-tidaknya bantu cuci piring kek…” Itu bukan anak yang kita kasih makan, bukan teman yang datang bertandang, yang memiliki mutuality seperti itu. Yang kita jamu adalah orang lain. Maka dari sini pelayanan akan melelahkan, pelayanan mungkin akan memerlukan langkah ini sebab kita melakukannya sebagai bagian dari hospitality kita.

Injinkan saya berkata, mulai jadikan hari Minggu adalah hari kita memberi untuk orang lain dan hari-hari yang lain menjadi hari milikmu. Jadikan ada hari di dalam hidupmu, waktu di dalam hidupmu, bagian di dalam hidupmu bagi orang lain. Artinya, itu memang keluar dari hidup kita dengan tidak menuntut balas kembali. Itu namanya hospitality. Beri tumpangan dengan sukarela, dengan cape, dengan susah, dsb. Sesudah itu, apakah dia akan memberi balik kepada kita atau tidak, tak usah ditunggu. Tetapi di mana sukacita dan terhiburnya? Siapa tahu engkau melayani malaikat-malaikat Tuhan. Kalau semua sudah dikasih Tuhan kepada saya, maka wajar saya bilang kepada Tuhan, ‘Tuhan, ada bagian di dalam hidupku memang bukan untuk saya’. Itu sebab saya percaya pelayanan gereja akan memiliki jiwa sifat dan spirit seperti ini kalau kita datang bilang ini adalah hari dimana saya menjadikan bagian hidupku untuk orang lain. Kalau kita datang ke gereja dengan pikiran, ‘apa yang bisa saya dapat, apa yang bisa saya dapat?’ kita akan kehilangan aspek hospitality ini. Sampai di gereja, kesulitan orang lain, beban orang lain, tolong itu bisa menjadi kerinduan kita melayani mereka.(kz)