Ada banyak hal yang menarik dari kitab Ibrani ini. Yang pertama menarik, kalau kita melihat dari namanya, kitab Ibrani, semua orang pasti bisa menebak ini untuk orang Ibrani atau Yahudi. Tetapi walaupun ini ditulis untuk orang Yahudi, orang Ibrani, tetapi kondisi semua orang adalah sama, kita adalah sinner, orang yang berdosa, dan keadaan zaman pada waktu kitab Ibrani ditulis tidak jauh berbeda dengan keadaan kita sekarang. Ibrani kira-kira ditulis tahun 70. Saat itu jemaat Kristen sudah memasuki second generation, orang-orang Yahudi yang percaya itu sudah second generation. Kita tidak tahu kita orang Kristen generasi keberapa, mungkin ada yang sudah lahir di keluarga Kristen tetapi ada juga yang baru menjadi Kristen setelah dewasa. Ada satu perbedaan antara orang yang lahir di dalam keluarga Kristen dan orang yang harus bergumul untuk bagaimana bisa percaya, bagaimana bisa mengenal Yesus. Saya kira itu sesuatu yang berbeda. Pada zaman itu generasi kedua orang-orang Kristen kelihatannya ok. Ibrani ditulis tahun 70 berarti sebelum bait Allah diruntuhkan oleh jenderal Titus. Saat itu ok. Mungkin kalau kita lihat keadaaan kita sekarang pun Kekristenan ok. Gereja banyak. Di kota Melbourne gereja berbahasa Indonesia ada 26, saya tidak tahu di sini ada berapa gereja. Di Sydney mungkin lebih atau kurang lebih sama. Begitu banyak orang bisa mengatakan Kekristenan bertumbuh dengan subur. Kalau kita lihat, tidak ada masalah. Apalagi gereja penuh. Gereja banyak orang, artinya ok. Banyak orang datang mencari Tuhan. Orang semua beribadah. Kalau dilihat secara mata manusia, kelihatannya ok. Zaman itu pun demikian. Pada saat surat Ibrani ditulis, kelihatannya ok. Tetapi benarkah ok? Jujur. Kalau kita sekarang berani ngomong Kekristenan ok, dari sudut mana kita lihat? Surat Ibrani ini kita bisa lihat dari bermacam segi. Saya hanya lihat dari satu segi.
Orang datang ke gereja, apa yang dicari? “Gereja saya penuh. Banyak orang datang.” Tidak ada yang salah, cuma satu hal coba kita pikir orang datang ke gereja mencari apa? Orang datang ke gereja mencari sesuatu dan pertanyaan berikutnya adalah apakah orang itu mendapatkannya di dalam gereja? Kalau dia mendapatkannya, tentu dia akan datang lagi, artinya ok. Kalau kita tidak mendapatkannya, mungkin kita cari gereja lain yang aku bisa mendapatkan. Masalahnya cari apakah orang ke dalam gereja? Orang tidak bisa melihat, gereja penuh, ibadah ramai, berarti ok. Yesuskah yang dicari? Yesuskah yang ditemukan di dalam gereja? Ataukah ada yang lebih utama dari Yesus? Ataukah ada yang lebih menarik dari Yesus, yang dicari orang di gereja? Misalnya, adanya satu kebutuhan untuk bersosialisasi di dalam lingkungan. Kalau pergi ke gereja-gereja Indonesia, semua orang Indonesia datang. Kalau saya tanya, “Bagaimana, senang di sini?” jawabnya “Senang, ketemu banyak orang Indonesia” Betul. Kamu tidak ketemu orang Amerika. Tetapi kamu bertemu dengan orang Indonesia, perlu terus datang ke gereja? Apakah keperluan beribadah hanya untuk sekedar memenuhi tuntutan budaya? Pada saat itu tentunya budaya Yahudi, orang Yahudi kalau sebelum jadi Kristen hari Sabat ibadah, tidak bisa ditolak. Setelah jadi Kristen jemaat mula-mula, ibadah hari minggu mereka juga ibadah. Tapi benarkah yang dicari itu Yesus? Perlu direnungkan. Apakah ke gereja cuma sekedar fun? Kalau saya lihat gereja di sini, ok. Nyanyinya ok. Tapi saya pernah ke satu gereja, sampai bingung. Cuma kurang birnya saja. Kalau sudah ada bir, bukan gereja lagi. Saya tidak kuat kakinya 2 jam berdiri. Apakah ke gereja hanya untuk fun? Perlu direnungkan apakah figur Yesus sudah tidak menjadi yang menarik untuk orang mau datang berbakti di gereja. Apakah seperti itu? Rupa-rupanya keadaan jemaat Kristen pada zaman Ibrani ditulis, sudah ada kecenderungan bahwa Yesus bukan menjadi fokus utama di dalam ibadah. Sudah ada hal-hal lain yang dianggap lebih berbobot dan bernilai dan lebih perlu daripada figur Yesus.
Bukankah keadaan zaman itu mirip dengan kondisi Kekristenan secara umum di Indonesia ataupun di Australia? Ada hal lain yang dianggap lebih penting daripada figur Yesus. Ke gereja tetap beribadah kepada Yesus, tetapi fun. Ada hal-hal lain yang dianggap perlu, cukup signifikan sehingga bisa dijadikan suatu standard di dalam ibadah, berbagai pola pikir Kristen sehingga bisa dianggap sebagai satu budaya. Kalau orang melakukan sesuatu yang dianggap budaya, orang tidak bisa mengatakan salah atau dilarang. “Ini memang sudah seharusnya seperti itu.” Kalau hal-hal seperti itu dimasukkan ke dalam budaya, persoalannya di situ. Tapi dalam situasi seperti itu Tuhan berfirman dalam kitab Ibrani. Kitab Ibrani ini apa isinya? Mostly menunjukkan the superiority of Jesus Christ. Yesus Kristus adalah sentral dari Kekristenan, figur utama yang tidak tergantikan di dalam Kekristenan, pusat Kekristenan. Kalau kita lihat, malaikat-malaikat, nabi-nabi semuanya tetap berada di bawah Yesus. Kalau kita lihat budaya Yahudi, mereka sangat bangga dengan Abraham, Musa, bangganya luar biasa. Sudah menjadi satu budaya. Musa berkata bapa Abraham tidak bisa dikutik sedikit pun. Mereka sangat patuh. Mengapa? Itu sudah menjadi bagian dari budaya Yahudi. Sejak kecil mereka sudah terpola seperti itu. Kalau kita lihat Ibrani, “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi” itu yang penting. Jadi Ibrani ini mau menjelaskan figur Yesus dengan memakai pola pikir yang sudah ada waktu itu, yaitu mereka menganggap nabi sebagai hal yang luar biasa dalam budaya Yahudi. Nabi adalah figur penting karena mereka juru bicara Allah. Maka di ayat 2, pada zaman akhir ini (setelah Yesus naik ke surga, berarti zaman akhir) Allah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak… dan seterusnya. Pada zaman akhir ini Tuhan berbicara sudah tidak melalui nabi-nabi tetapi melalui Yesus. Kalau kamu menghormati nabi-nabi begitu rupa karena nabi adalah juru bicara Allah, maka sekarang ganti: Juru bicara Allah adalah Yesus.
Allah mau menyampaikan sesuatu yang penting melalui pola pikir yang sudah ada. Yesus harus dijadikan bagian yang penting dalam hidup seluruh orang Yahudi, di dalam ibadah maupun kerohaniannya. Itu yang mau disampaikan supaya jemaat Kristen generasi kedua dengan background Yahudi itu tetap konsisten dengan apa yang sudah ada dalam budaya Yahudi, cuma tinggal ganti orangnya. Yesus tetap yang utama, karena Yesus juru bicara Allah oleh sebab itu Yesus harus memiliki pengaruh yang lebih dari siapa pun juga. Kalau kita pikir sekarang betulkah Yesus mempengaruhi orang Kristen begitu rupa? Jika orang percaya mencoba menawarkan hal lain yang lebih berbobot, lebih punya pengaruh besar, issue-issue yang lebih menarik dari figur Yesus, apakah bisa dibenarkan?
Lebaran kemarin saya telpon ke Indonesia dengan teman. Dia muslim. Saya telpon untuk memberi selamat lebaran. Saya bicara bahasa Jawa, karena teman sejak kecil. Dia berkata, tahu tidak sekarang lebaran beda dengan dulu waktu kita masih sama-sama main. Sekarang saya sholat lebaran, saya mesti di luar, mesjid penuh luar biasa. Setiap tahun jumlahnya selalu naik, sampai daya tampung mesjid tidak cukup menampung. Saya tanya kenapa bisa begitu? Dia menjawab karena sekarang ini sudah begitu banyak orang yang ingin tahu AlQuran. Kamu ketinggalan. Saya tanya lagi, apakah kamu kalau sholat lebaran ada edisi khusus? Waktu ONH ada standard ada plus. Yang plus istimewa. Apakah kamu sholat plus? Dia bilang tidak ada yang seperti itu di Islam. Setiap hari sholat islam biasa. Yang beda kalau di Istiqlal paling yang khotbah. Saya pikir benar juga, tidak ada ajaran khusus. Tidak ada acara khusus yang memanfaatkan sesuatu untuk menarik orang. Berbeda dengan orang Kristen. Orang Islam tidak pernah memanfaatkan artis. Saya jujur mengakui mereka sangat percaya diri. Mereka klaim kami beriman, AlQuran adalah kitab yang paling berkuasa, paling utama, memenuhi kebutuhan orang sehingga banyak orang datang ke mesjid. Dia cerita lagi, mesjid di jalan Lau-tze ada CR islam, kita sudah berhasil mengislamkan 1000 orang Tionghoa. Kalau kamu lihat sholat di sana, banyak yang sipit. Mesjid bukan hijau, tapi merah seperti kelenteng. Saya berpikir, di mana gereja? Setelah itu saya telpon teman lain. Dia pendeta. Sangat kontras dan sangat berbeda. Teman yang muslim itu dengan bangga menceritakan orang sampai luber di mesjid. Yang ini berbeda. Dia bilang kamu tahu gak, saya berhasil booking artis A, artis B yang ngetop. Artis itu akan tampil di bulan Desember untuk menarik banyak orang ke gereja. Saya tanya, jadi orang ke gerejamu tertarik artis, bukan tertarik Yesus? Dia jawab saya buat planning supaya tidak dikalahkan gereja yang lain.
Saya senang dengan planning. Tapi apa yang diplanning? Itu yang menjadi salah. Mereka ingin di hari Natal orang berbondong-bondong datang ke gerejanya lalu berkata, “Puji Tuhan banyak orang datang.” Apakah gereja penuh hanya karena artis-artis? Apakah artis-artis itu yang mempunyai kuasa menarik banyak orang datang? Apakah artis-artis dianggap orang yang mempunyai daya tarik? Sehingga kalau tidak ada artis tidak confident orang akan datang. Apakah berita Natal sudah tidak cukup menarik orang? Apakah berita natal sudah kehilangan kuasanya? Apakah kelahiran Anak Allah sudah tidak mempunyai daya tarik? Di manakah superiority of Jesus Christ? Apakah yang namanya iman Kristen seperti itu? Dan hal-hal itu dilakukan oleh orang Kristen yang mengklaim bahwa dirinya sudah dipenuhi Roh Kudus? Saya tidak mengatakan setuju atau tidak, boleh atau tidak. Artis sama dengan kita, manusia berdosa. Bukan boleh atau tidak. Permasalahannya adalah jika orang datang ke gereja hanya untuk artis bukan untuk Yesus. Kita harus fair. Yang perlu dipikirkan adalah apa yang harus dilakukan gereja dan pendeta. Apakah gereja dan pendeta justru menyediakan fasilitas, menjadi pendukung terjadinya motivasi yang salah, ataukah gereja melakukan hal yang sebaliknya, berusaha membenarkan? Misal saudara waktu kecil bandel dan tidak mau sekolah, lalu orang tua berkata pergilah saya kasih 5000. Kemudian saudara pergi ke sekolah. Besok malas lagi. Saya ingin tanya, sebagai orang tua melakukan hal seperti itu, orang tua macam apa? Kalau pendeta undang artis supaya orang mau ke gereja, macam apa? Kasih terus orang sogok.
Orang berargumentasi yang penting gereja penuh. Saya berpikir kenapa terjadi seperti itu? Ibrani ayat 3, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah” Maksudnya melalui seluruh hidup Yesus orang bisa melihat dan menemukan kemuliaan Allah. Seluruh hidup Yesus bersinar merepresentasikan kemuliaan Allah. Gambar dan wujud Allah bisa ditemukan dalam diri Yesus, artinya dapat juga diketemukan di dalam tubuh Kristus, yaitu gereja. Apakah itu masih kurang menarik? Apakah orang Kristen dan gereja sudah tidak confident bahwa di dalam dirinya ada cahaya kemuliaan Allah? Sekali lagi bukan boleh tidak boleh, tapi masalahnya motivasi. Apakah masih kurang menarik, sehingga perlu hal-hal yang lain, seolah sudah tidak ada superiority of Jesus Christ , Yesus tidak layak, kurang mampu menarik orang? Surat Ibrani ditulis zaman itu sudah memiliki tendensi seperti ini. Selalu ditekankan superiority nya. Yesus adalah central daripada Kekristenan. Yesus dikatakan “menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kuasa”. Apakah gereja tidak confident bahwa Firman Allah yang Hidup, yaitu Yesus, menopang dengan kuasa? Oleh sebab itu gereja yang mengerti prinsip ini, firman dijadikan bagian inti dalam Kekristenan. Doktrin menjadi bagian yang penting, karena doktrin adalah kristalisasi firman yang sudah di summary kan. Saya percaya gereja reformed, firman dianggap sebagai fondasi. Mengapa? Karena di dalam firman ada suatu kuasa. Tetapi kalau kita lihat jalan-jalan ke gereja-gereja, mana yang lebih sering terdengar: Allah menopang dengan firmanNya yang penuh kuasa atau Allah menopang dengan kuasaNya? Yang kedua lebih enak toh? Ngomong firman susah, mesti belajar, ngomong doktrin apalagi. Orang berusaha mengeliminir doktrin. Saudara harus sadar firman dan kuasa Allah bekerja bersama-sama. Tidak ada yang bekerja sendiri-sendiri. Oleh sebab itu jelas di sini dikatakan, “menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kuasa”. Artinya pada saat firman diberitakan di situ kuasa Allah bekerja. Firman dan kuasaNya bekerja bersama-sama, tetapi itu sudah bukan menjadi bagian yang menarik bagi orang-orang tertentu. Yang menarik itu yang dijual.
Kalau gereja seperti itu, pendeta atau pemimpin jemaat apakah mengerti? Saudara bisa menilai orang yang berkhotbah, sampai berapa jauh orang itu mengerti akan keutamaan Yesus Kristus. Caranya gampang, lihat berapa persen firman Tuhan yang disampaikan. Apakah 90% firman Tuhan, 5% pengalaman pribadi, guyon sedikit? Atau hanya 20% firman 80% ngobrol sana sini, cerita lucu? Kalau mereka memahami Yesus adalah figur yang penuh kuasa, pasti 90% khotbahnya memberitakan Yesus. Kalau hanya 20% berarti orang itu mungkin orang itu punya prinsip Yesus sudah tidak di tempat yang utama lagi. Mungkin yang utama ceritanya, guyonannya. Oleh sebab itu mereka yang punya konsep cerita pengalaman seperti itu, saudara bisa menilai. Saudara punya dua pilihan. Mendengarkan 20% atau 90% firman Tuhan. Pilih yang mana? Menurut hati terdalam saudara, Tuhan lebih senang mana, jemaat memilih 20% firman atau 90% firman? Saudara tidak perlu menjawab. Saya kasih tip saja. Kalau happynya saya bukan happynya Tuhan, berarti happy saya berlawanan dengan Tuhan. Berart saya happynya sama dengan Setan. Kalau happy saya sama dengan setan, itu sudah warning. Kita harus introspeksi. Mau dibawa kemana Kekristenan? Berapa banyak Kekristenan saat ini sudah kehilangan track? Tadi saya bilang di Melbourne ada 26 gereja. Mungkin hanya 5 gereja yang setia. Minoritas. Saya tidak tahu di Sydney. Tapi satu hal, garam dan yang mau digarami, minoritasnya adalah garam. Walaupun kita minoritas, kita tetap confident. Kita tidak bisa kehilangan kebanggaan akan Yesus Kristus. Saya sering sharing dengan teman, kau mau jadi garam apa digarami? Tidak usah ikut-ikut.
Saudara mempunyai lebih banyak teman daripada saya. Di uni berapa banyak orang yang hadir? Jadilah garam. Berilah tanda. Yesus adalah central dari Kekristenan, itu yang menopang. Kalau orang islam dengan bangga mengatakan orang datang ke mesjid karena Quran, orang Kristen bangga orang datang ke gereja hanya karena artis. Itu gila. Karena itu mari dengan satu semangat yang sama di manapun kita berada, kita lakukan kewajiban kita.