Akhir-akhir ini kita sering mendengar satu kata yang kita sering dengar di TV ataupun kita baca di koran, yaitu “unprecedented”, sesuatu yang sekarang terjadi dan tidak pernah ada sebelumnya. Terakhir di Sydney mungkin “unprecedented” ada badai debu beberapa hari. Di Victoria bulan Januari-Februari kemarin juga “unprecedented”, 46.4 derajat celcius. Kita tahu semua, sekitar 200 orang mati terbakar. Semua sudah jadi debu, terbakar hidup-hidup. Unprecedented. Hari ini saya mau mengajak kita melihat sesuatu yang juga unprecedented dalam Alkitab, di dalam peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya waktu membahas bagian ini di GRII Melbourne sudah 3 setengah tahun lebih dari mulai pertama kita membahas Injil Matius sampai sekarang pasal 26. Kira-kira 2 minggu yang lalu saya membahas di Melbourne, khususnya pasal 26 sampai 28 yang disebut sebagai “the Passion of the Christ”, penderitaan Kristus. Saya sudah sering membaca, apalagi Jumat Agung atau Paskah, kita pasti sering membaca bagian-bagian seperti ini. Tapi waktu di dalam beberapa bulan terakhir membaca lagi bagian ini, saya rasa begitu limpah mengerti, begitu dalam mengerti karena mengikuti mulai dari pertama mengerti perjalanan Tuhan, mengerti apa yang diajarkan, mengerti mujizat yang Dia lakukan, mengerti apa yang diajarkan dengan penuh otoritas, mengerti bagaimana Kristus dengan berkata, “Tenanglah!” kepada badai maka badai pun tenang. “Bangkitlah!” maka orang yang mati bangkit. “Sembuhlah!” maka orang yang sakit sembuh.
Begitu hebat dan berkuasa kalimat-kalimat yang juga ketika kita sampai pasal 23, ucapan celaka Tuhan Yesus kepada orang Farisi dan ahli Taurat, celakalah kamu. Masuk ke dalam bagian itu saya menjadi bingung mau khotbah apa, ada 7 ucapan celaka. Tapi saya rasa beberapa minggu itu menjadi waktu di mana kita bertumbuh. Saya sendiri juga bertumbuh mengerti lebih dalam lagi. Tuhan memimpin, mengerti waktu-waktu, mengerti keindahan yang belum pernah kita masuk sebelumnya. Hari ini saya mau membagikan pasal 26:33 mungkin hanya sampai ayat 39 saja. Beberapa ayat ini menjadi satu bagian yang begitu dalam, begitu indah. Saya menggambarkan sama seperti Charles Spurgeon mengatakan kita dibawa masuk ke dalam ruang maha suci. Dia mengatakan dalam bagian ini, “Here we come to the Holy of holiest of Lord’s life on earth, this is a mystery, no man can expound such a message like this. It is a subject for prayerful heart-broken meditation, more than for human language.” William Barkley mengatakan seperti ini, “Surely this is a passage we must approach upon our needs.” Kita masuk ke dalam ruang maha kudus, satu misteri yang tidak pernah kita bisa mengerti sepenuhnya, satu bagian yang kita harus approach dengan hati yang berdoa, dengan satu renungan hati yang hancur di hadapan Tuhan dan tidak bisa bahasa manusia menjelaskan seluruhnya. Tapi kita mau mengerti seberapa misteri, seberapa agungnya. Saya mengajak saudara sekalian pada hari ini masuk ke dalam ruang maha suci. Kenapa demikian? Karena saya merasa waktu saya bisa membaca, merenungkan, membagikan kepada saudara ada suatu privilege untuk bisa masuk ke dalam suatu yang begitu dalam, begitu intim khususnya dalam pergumulan Tuhan Yesus kepada Bapa di Surga yang tidak ada seorangpun tahu. Murid-murid tidur semuanya pada waktu itu. Tidak ada orang tahu kecuali Kristus. Kemungkinan Dia reveal pada waktu Dia bangkit dan menyatakan diri kepada murid-muridNya. Mungkin saat itulah Dia menyatakan kepada murid-muridNya what’s going on in the garden of Getshemane.
Kalau kita melihat di dalam bagian tadi yang kita baca, maka banyak hal yang unprecedented di dalam hidup Kristus. Di dalam bagian inilah kalimat ini muncul di ayat 38, “HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggalah di sini dan berjaga-jaga dengan Aku.” Ini adalah kalimat yang belum pernah muncul dari mulut Tuhan Yesus sebelumnya. Dia begitu berkuasa, begitu hebat, begitu berdaulat, begitu in control dalam segala sesuatu. Saya tidak katakan di dalam bagian ini Dia tidak in control, tetapi di dalam bagian ini kalimat murid-murid ketika melihat Tuhan Yesus begitu luar biasa, ketika murid-murid ketakutan mau mati di danau Galilea yang mengamuk pada hari itu Tuhan Yesus tidur di situ. Mereka membangunkan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus bangun dengan tenang dan berkata “Diamlah!” maka badaipun diam dan Dia bertanya kepada murid-muridNya, “Mengapa engkau begitu takut? Mengapa engkau tidak memiliki iman, o ye of little faith?” mereka kagum sekali. Memecahkan 5 roti dan 2 ikan memuaskan 5000 orang laki-laki kalau dihitung dengan isterinya dan anak-anaknya kemungkinan paling sedikit 20000 orang pada saat itu yang makan. Murid-murid menyaksikan itu, kemudian diutus oleh Tuhan Yesus juga mengalami kuasa dari Tuhan, menyembuhkan orang, mengusir setan. Mereka begitu kagum, begitu hormat. Tetapi di dalam momen ayat yang tadi kita baca, Matius mengatakan mulailah Ia merasa sedih dan gentar. “Hatiku begitu sedih seperti mau mati rasanya. TInggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” Belum pernah mendengar kalimat “watch with Me”, Ia seperti membutuhkan pertolongan daripada murid-muridNya. Tidak pernah kalimat itu muncul sebelumnya. Waktu kita merenungkan, khususnya saya mau memfokuskan berbagai aspek yang kita bisa lihat tentang penderitaan Kristus di taman Getsemani.
Kita masuk ke latar belakang sebelum pergumulan dan penderitaan Kristus. Ayat 36 dikatakan Yesus bersama muridNya ke suatu tempat bernama Getsemani, satu tempat yang mereka biasa kumpul, karena itu Yudas tahu, kalau kita baca perikop selanjutnya, Yudas akan datang ke taman itu dan akan mencium Gurunya. Itu menjadi tanda Yesus kemudian ditangkap. Getsemani juga menjadi simbolism di mana Kristus, Anak Allah yang tunggal akan berjuang, akan bergumul kepada Bapa di Surga dan di situ Dia akan diperas habis-habisan. Injil lain mengatakan keringatNya bercucuran seperti darah. Ayat 37-38 mengatakan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus, tiga murid dalam innermost circle yang paling dekat, mereka juga menyaksikan ketika Kristus dimuliakan di atas gunung (transfigurasi). Mereka juga adalah 3 orang yang kemudian menyatakan secara eksplisit, sebelumnya Yakobus Yohanes berkata, “Kalau Engkau dimuliakan nanti kami akan duduk di kanan dan di kiri”, Tuhan Yesus berkata, “bisakah kamu meminum cawan yang harus Aku minum?” Mereka bilang “Kami siap” menyatakan secara eksplisit mereka juga siap menderita bagi Tuhan. Petrus baru mengatakan, “Kalau yang lain meninggalkan Engkau, aku sekali-kali tidak akan meninggalkan Engkau”, tetapi di sini kita sekali lagi belajar dari kegagalan murid-murid. Kegagalan mereka mulai ketika mereka gagal untuk berdoa dan ketika pencobaan itu datang mereka gagal. Itu pergumulan yang penting sekali juga di dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan.
Pada waktu kita masuk ke dalam bagian pergumulan Kristus, saya rasa di sinilah kita masuk ke dalam suatu misteri, sangat sedih seperti mau mati rasanya. Bahasa Yunaninya memberikan gambaran seperti suatu anguish of righteousness, deeply grieved to the point of death. Kalau kita mengerti siapa Kristus itu maka kita akan tahu betapa misterinya kalimat ini. Karena kita tahu bahwa Kristus adalah sang Hidup itu. Di dalam Injil Yohanes Ia mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. Akulah sumber kehidupan. Tetapi Aku yang hidup itu sekarang seperti mau mati rasanya. Dia adalah Sang Firman. Yohanes mengatakan Firman merupakan paralel dari Kejadian 1 “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Allah dan segala sesuatu diciptakan oleh Sang Firman itu, dari Dia tidak suatupun yang ada yang tidak dijadikan oleh Dia”. Tetapi sekarang Dia harus mati. Saya percaya bukan kengerian secara fisik, yang lebih dalam adalah penderitaan karena pergumulan secara rohani karena kematian yang akan Dia tanggung itu melawan semua eksistansi diriNya. Dia adalah sumber hidup itu. Tetapi sekarang Dia harus menanggung kematian.
Saya membaca buku Michael Horton “The Christless Christianity” betul-betul membongkar kesalahan gereja-gereja di Amerika, salah satunya pengaruh Charles Finney, teologi Arminianism dan Pelagianism yang mengatakan kita boleh diselamatkan dengan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Kematian Kristus bukan menanggung dosa, hanya menjadi teladan atau contoh bagi kita untuk mengikuti Dia. Maka ketika kita mengikuti Kristus seperti demikian kita akan diselamatkan. 150 tahun lalu Jesse Rally mengatakan dia berperang dengan ajaran-ajaran yang mengatakan bahwa the Lord’s death was not a propitiation and an expiation for sin, but only a great example of self sacrifice. Kematian Kristus bukanlah menebus dosa kita, bukan menanggung murka Allah yang harusnya dilimpahkan kepada kita tapi hanya menjadi satu contoh dan teladan bagi kita. Jesse Rally mengatakan itu sebuah dishonoring to our Lord Jesus Christ and utterly unscriptural. Sangat tidak menghormati Kristus dan bertentangan dengan Alkitab. Kalau kita melihat sejarah reformasi kita juga tahu bahwa Martin Luther, John Calvin dan sebagainya berperang melawan pengajaran bahwa kita boleh diselamatkan dengan mengikuti misa, perbuatan baik, pengakuan dosa kepada pastur, dan membeli indulgensia atau surat pengampunan dosa maka engkau bukan hanya bisa menyelamatkan dirimu saja tapi juga nenekmu yang sudah mati, orang tuamu yang sudah meninggal. Maka ketika “when the coin rings, the soul springs to Heaven” ketika uang itu masuk maka jiwa ayah ibu kakek nenek kita dan sebagainya springs. Johanes Huss dibakar hidup-hidup karena ia mengatakan itu adalah pengajaran yang salah yang tidak sesuai firman Tuhan. Itu pengajaran yang tidak menghormati Kristus dan penderitaaanNya.
Kalau kita melihat surat Paulus kepada jemaat di Galatia maka kita mengatakan orang-orang di Galatia yang memberitakan Injil yang sebenarnya bukan Injil. Mereka tidak cukup percaya kepada Kristus, mereka mengajarkan harus taat kepada hukum Taurat, sunat dan sebagainya. Paulus berperang dengan orang-orang demikian. Paulus mengatakan kau memberitakan Injil yang bukan Injil, yaitu Kristus yang mati menebus dosa kau dan saya, karena itu terkutuklah kamu. Kita perlu belajar mengerti di tengah-tengah dunia ini berperang dengan segala ketidakbenaran yang kita harus kembali kepada kebenaran. Paulus berkata justru tidak adanya pengajaran yang benar, ketat dan sehat sesuai firman Tuhan, itulah yang menjadi sumber perpecahan, dengki, iri hati dan perselisihan di dalam jemaat Tuhan.
Ayat 39 dikatakan maka Ia maju sedikit lalu sujud dan berdoa. He fell on the ground, tapi dalam kengerian yang begitu besar Dia boleh datang kepada BapaNya. Kemudian Kristus melanjutkan jikalau mungkin biarlah cawan ini lalu. Persoalannya di sini bukan apakah Kristus ragu mau taat kehendak Bapa atau tidak, karena seumur hidup Dia selalu taat. Persoalannya adalah apakah kehendak BapaNya termasuk dalam cawan yang harus Dia minum. Apakah betul kehendakMu itu termasuk Aku harus minum cawan itu? Kita harus mengerti betapa paradoks, kenapa Kristus mengatakan seperti itu? Karena Dia adalah Anak tunggal Allah yang tidak pernah berdosa sekalipun. Kalau kita melihat PL cawan murka melambangkan Allah yang murka terhadap manusia berdosa. Salah satu display yang paling besar adalah ketika Musa turun dari gunung dan di bawah gunung bangsa Israel menyembah patung lembu emas. Tuhan mengatakan pada Musa akan membinasakan mereka, dan Musa berdoa syafaat bagi mereka. Akhirnya Tuhan menyesal, tidak jadi membinasakan mereka. Waktu Musa turun, ia melihat bangsa Israel begitu rusak, maka murka Allah menguasai hati Musa. Dihancurkannya lembu emas itu dan hari itu orang yang memihak Tuhan membunuh 3000 orang saudaranya sendiri, karena Tuhan murka terhadap manusia berdosa, seluruh hukum Allah diinjak-injak pada hari itu. Di sinilah kita boleh mengerti bagaimana Tuhan murka terhadap orang berdosa, sementara ini adalah AnakNya yang suci, yang tidak ada perbuatan dosa satu kalipun bahkan seluruh hatinya murni untuk memperkenan bapaNya yang di Sorga. Bagaimana mungkin AnakNya yang terkasih ini harus menerima murka Allah?
Saya percaya dalam bagian ini bukan hanya Anak bergumul, Allah Bapa pun bergumul. Kalau kita mengerti kesatuan antara Allah Bapa dan Allah Anak dengan Roh Kudus, maka satu hati satu esensi, bukan hanya Anak bergumul, Bapa juga bergumul. Anak yang begitu taat dan suci, bagaimana sekarang Dia harus menanggung murkaKu terhadap manusia berdosa. Pada waktu melihat anak kita menderita, kita pasti punya perasaan, “jangan dia, kalau bisa saya saja yang gantikan dia” Itulah kira-kira yang Bapa alami ketika AnakNya yang tunggal berkata kalimat itu. Pada waktu Dia berseru, “My God, why have You forsaken Me?” maka langitpun menjadi gelap gulita menggambarkan Bapa pun memalingkan muka melihat AnakNya yang tunggal berseru. Kalau ada jalan yang lain, Kristus pasti tidak perlu minum jalan itu. Itulah arti kalimat Kristus.
Kalau kita melihat Kejadian pasal 1 Tuhan menciptakan dunia ini dengan berfirman. Maka semuanya jadi. Itulah creation. Tapi pada waktu re-creation, menebus kau dan saya, Sang Firman itu turun menjadi manusia, dipaku di atas salib. Dia bukan hanya menjadi contoh. Dia harus mati, karena upah dosa adalah maut. Kita bersyukur bila Tuhan Yesus menyambun dengan kalimat, “bukan apa yang Kukehendaki tapi seperti yang Kau kehendaki.” Karena itulah maka engkau dan saya ada kemungkinan diselamatkan. Karena dari situlah kita terbuka jalan untuk menerima Kristus. Hanya percaya saja maka engkau diselamatkan. Hanya percaya, dan hati yang hancur datang kepada Tuhan. Percaya bahwa dosa kita telah ditimpakan kepada Kristus sehingga kebenaran Kristus boleh ditimpakan kepada kita. Sehingga kita datang kepada Allah yang suci bukan dengan kebenaranku, tapi kebenaran Kristus. Aku telah disalibkan bersama-sama Kristus, kata Paulus dalam Galatia 2, berarti aku telah mati bersama Kristus, namun aku hidup, tapi bukan aku lagi yang hidup, melainkan Kristus hidup di dalam aku. Kematian Kristus bukan supaya kita ikuti, tapi menjadi penebusan bagi kita. Kita boleh ditebus, menjadi manusia baru, hidup kita memancarkan hidup sebagai orang yang sudah diselamatkan. Tapi pertama-tama bukan perbuatan kita. Hanya melalui kematian Kristus kita boleh dibenarkan. Biarlah kebenaran ini mendorong hati kita bertumbuh percaya kepada Tuhan sungguh-sungguh bukan karena kehebatan kita tapi semata-mata karena kematian Kristus yang menggantikan kita.