GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
04
Oct

Pimpinan dan Penyertaan Tuhan

Pdt. DR. Peter Wongso
Download Print a- A+ r
 
 
Date: October 04, 2009
Nats: Mazmur 23

Firman Tuhan terambil dari kitab Mazmur 23. Saya yakin di tengah-tengah kita ada beberapa yang dapat menghafal kitab ini. Jikalau saudara bisa menghafalnya saudara tidak perlu melihat Alkitab kembali. Jikalau saudara kurang begitu menghafal silakan saudara membuka Mazmur 23. Saya masih ingat pada umur sekitar 6 sampai 7 tahun mama saya mengajar saya untuk menghafal kitab Mazmur pasal 23 ini, tapi saya tidak tahu apa artinya. Kemudian pada tahun 1951 ketika saya dipanggil menjadi hamba Tuhan saya kembali merenungkan isi Mazmur 23. Kitab Mazmur 23 ini bukan hanya menjadi hafalan saja., tapi seumur hidup kita kita dapat memperoleh berkat dari Mazmur 23. Yang bisa menghafal kita membaca sama-sama, yang tidak bisa kita melihat Alkitab masing-masing.

Kitab Mazmur ini ditulis oleh raja Daud. Ada yang mengatakan ia menulis kitab ini pada masa dia muda dan pada saat dia menjadi seorang gembala. Ketika dia menjadi raja orang mulai berpikir bagaimana Tuhan menyertai Daud. Di sini Daud mengatakan bahwa Tuhan adalah gembala. Di dalam bahasa Ibrani kata ‘adalah’ ini adalah present continuous tense. ‘Adalah’ ini bukan hanya ‘adalah’ saat ini tapi terus sampai selama-lamanya. Di dalam kehidupan kita masing-masing kita mempunyai teman tapi ada waktunya. Kedua orang tua kita mempunyai waktunya juga. Kita punya kekasih, suami, atau isteri juga punya waktunya. Pada saat kita membutuhkan orang yang kita kasihi dan orang itu tidak ada, kita tidak menginginkan tapi orang itu ada di sisi kita. Ini adalah satu kesulitan yang dihadapi oleh manusia. Di dalam kehidupan manusia kita banyak kebutuhan dan banyak rintangan. Kita mempunyai kebutuhan sendiri sehingga kita perlu materi untuk memenuhi kebutuhan. Kita kekurangan pengetahuan dan kita perlu belajar, sehingga kita terus belajar. Kita telah belajar beberapa puluh tahun dan apakah engkau sudah merasa cukup? Sekarang saya merasakan pengetahuan saya semakin lama semakin berkurang. Banyak yang ingin diketahui yang saya tidak tahu. Banyak orang berkata kepada saya, “Pendeta Wong, engkau sudah berumur, engkau mempunyai pengalaman yang lebih banyak” , tapi saya mengatakan banyak pengalaman yang belum saya hadapi. Saya kekurangan pengalaman. Tapi Daud mengatakan, “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”. Engkau perlu apa, Tuhan memberikan, dan setiap saat Tuhan selalu memberikan yang kita butuhkan, yang kita tidak dapat sediakan.

Pada saat orang Israel keluar dari Mesir di padang belantara, mereka membutuhkan kebutuhan hidup sehari-hari. Sekitar 2 juta orang kita coba pikirkan berapa kebutuhan yang diperlukan: gandum, beras untuk memenuhi kebutuhan itu. Tapi Tuhan mengatakan kepada Musa, “Engkau setiap pagi harus keluar untuk mengambil makanan”. Tuhan mengatakan kepada bangsa Israel, engkau dapat makan berapa, engkau ambil seberapa. Kalau engkau tidak makan habis, maka akan rusak. Orang Israel hampir sama seperti orang Asia, sehingga mereka berpikir besok mungkin tidak ada lagi, mari kita ambil lebih banyak sehingga lebihnya kita sisakan untuk besok. Keesokan harinya, semua telah rusak. Tuhan mengatakan, sebelum matahari terbit engkau harus keluar mengambilnya. Dalam 40 tahun mereka di padang belantara, tidak kekurangan apapun. Di saat mereka berada di padang belantara tidak ada mobil tapi Tuhan memberikan kekuatan. Pada saat mereka memasuki Kanaan ada hal yang sangat istimewa: baju mereka tidak rusak. 40 tahun memakai satu baju. Apakah engkau mau memakai satu baju selama 40 tahun? Ada lagi, sepatu mereka tidak rusak, kaki mereka tidak bengkak. Ini berkat Tuhan yang sungguh istimewa. Di dalam kehidupan kita, Tuhan kita selalu memberikan kekuatan dan mencukupi kebutuhan kita. Siapa yang dapat memenuhi kebutuhan kita selain Tuhan?

Pada saat saya diselamatkan dan dipanggil untuk menginjili orang lain, pada hari kedua saya memberitakan Injil kepada sesame orang bisnis saya. Saya tidak memikirkan yang lain, saya hanya memikirkan Tuhan Yesus, sungguh bahagia, saya harus mengatakannya. Mengapa engkau tidak membicarakan bisnis, mengapa engkau membicarakan Yesus? Saya bilang, Yesus lebih penting daripada bisnis. Kemudian kita berbicara tentang yang lain. Saya berbicara kurang dari setengah jam, teman ini berkata Yesus ini sungguh baik, mengapa engkau tidak dari dulu mengatakannya? Saya berkata, kemarin malam saya baru mengetahuinya. Yesus begitu baik, maka saya akan mengenalNya juga. Saya merasa sangat terhibur. Saya mendengarkan firman Tuhan semalam dan saya boleh memberitakannya keesokan harinya. Dengan demikian saya terus memberitakan kepada teman-teman saya. Ada beberapa teman yang tidak begitu gampang. Ia menanyakan beberapa hal. Saya bilang, saya tidak tahu, tanya pendeta saya dulu. Pendeta saya sungguh terpelajar, pengetahuannya tentang Alkitab sangat baik. Saya menanyakan beberapa hal, dia terus menjawabnya. Saya ingat, kemudian saya memberitakannya kepada teman saya. Saya tidak tahu ternyata masalah masih banyak. Kemudian saya tanya lagi pendeta saya. Dia bilang, engkau jangan tanya terlalu banyak. Alkitab adalah jawabannya. Engkau berdoa, engkau buka Alkitab, itulah jawabannya. Kemudian saya membawa Alkitab kecil dalam kantong saya. Berbicara tentang Yesus, orang menanyakan saya, saya bilang tunggu saya buka Alkitab dulu. Tuhan sungguh menyertai saya. Setiap membuka Alkitab, selalu ada jawabannya. Ketika membuka sana sini tidak ada jawaban, saya tanya pendeta, bagaimana ini? Pendeta mengatakan, engkau baca dan hafal. Puji Tuhan sejak Juli 1951 hingga sekarang Tuhan tidak hanya memberikan kesempatan saya untuk menginjili, maka Tuhan memberikan Tuhan adalah gembalaku sehingga saya dapat memberitakan injil kepada orang lain. Saya terus berdoa supaya Tuhan memberikan ingatan yang baik sehingga ketika saya belajar saya dapat mengingatnya, mengerti dan membicarakannya dengan benar. Puji Tuhan. Tuhan adalah gembalaku. Firman Tuhan yang disampaikan tidak akan kekurangan. Banyak orang menanyakan kepada saya, sudah umur berapa? Saya bilang, jangan tanya. Otak saya masih baik, saya masih bisa menyampaikan firman Tuhan. Ini adalah pengalaman saya bahwa Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ayat 2 mengatakan Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau. Orang yang suka bekerja akan selalu merasa saya tidak akan berhenti bekerja.

Pada saat saya kecil, saya meneliti mama saya memelihara ayam. Di rumah saya ada ayam, bebek, babi, kambing. Suatu hari mama saya bertanya, di antara binatang-binatang mana yang paling engkau sukai. Saya jawab saya tidak suka. Dari empat binatang ini mana yang akan kau kerjakan? Saya bilang saya akan jadi manusia, saya tidak akan menjadi binatang. Dari 4 binatang ini, apa yang paling engkau benci? Saya paling benci babi. Kenapa tidak suka? Babi bisa dijual. Babi makan tidur tunggu mati, betul tidak? Saya jadi orang tidak mau jadi babi. Dan sejak kecil saya mempunyai begitu banyak dan suka mengerjakan banyak hal. Tahun 1949 saya berada di Indonesia ingin menjadi orang kaya. Ketika sampai di situ saya berpikir bagaimana menjalankan bisnis. Biasanya orang bekerja 8 jam, saya bekerja 16 jam, pada hari-hari tertentu 20 jam. Pada saat tidur saya juga memikirkan bagaimana bisnis. Saya bukan tipe orang tidur. Otak harus bekerja mengejar kesempatan bagaimana bisa menjadi kaya. Tapi Tuhan mengatakan, engkau tidak perlu bekerja. Saya mempersembahkan diri menjadi hamba Tuhan untuk mengabarkan Injil. Saya pergi ke tempat di mana tidak ada orang menginjili.

1965 saya naik mobil dari Medan ke Padang karena saya tahu di Padang banyak orang Tionghoa karena saya melihat sejarah. Padang dinamakan Minangkabau, engkau tahu kenapa? Nama suku orang padang adalah kabau. 1000 tahun lalu ada orang Hokkien naik kapal menangkap ikan. Pada saat terjadi gelombang besar dan kapal pecah dan nelayan itu tinggal di daerah itu. Orang itu adalah orang Minang, lalu menikah dengan orang Kabau. Anaknya menjadi orang Minangkabau. Ketika saya mendengar sejarah ini, saya pergi ke sana untuk mengabarkan Injil. Ada teman mengenalkan saya kepada seorang principal high school lalu saya datang ke rumahnya. Dia tanya, untuk apa datang ke rumah saya? Saya datang memberitakan Injil kepada kalian. Dia berkata, engkau datang kepada orang yang salah. Meskipun saya adalah principal, saya ada 2 kelenteng. Saya tidak mungkin percaya Tuhan. Saya hanya menceritakan tentang Yesus saya tidak mengajak engkau percaya. Saya tidak mau dengar. Dengarkanlah saya untuk beberapa menit. Baik saya beri 10 menit. Maka saya berbicara selama 10 menit menceritakan Yesus. Ketika berbicara selama 2 jam, tidak masuk ke rumah hanya berbicara di luar. Pimpinan Roh Kudus dia tidak mengusir saya. Setelah 2 jam ia berkata saya harus mengerjakan sesuatu. Saya tidak akan mendengarkan anda lagi. Ketika saya pulang saya berdoa. Saya tinggal di satu losmen, kemudian hari kedua saya mengerjakan beberapa hal. Sore harinya kembali ke rumah tersebut. Orang itu berkata, saya sudah beritahu tidak perlu datang, kenapa datang lagi? Saya bilang cerita kemarin belum selesai, saya lanjutkan lagi. Baik saya beri 10 menit lagi. Puji Tuhan, 2 jam lagi. Engkau besok tidak perlu datang lagi. Saya pulang, saya berdoa. Hari ketiga saya datang lagi. Dia berkata mengapa engkau datang lagi, mengapa engkau datang. Saya bilang yang terpenting belum dibicarakan. Saya mau bicarakan lagi. Anda tahu apa yang terjadi? Isterinya datang dan berkata, seharusnya engkau mempersilakan untuk masuk ke dalam rumah untuk membicarakan tentang Yesus karena saya pernah mendengar tentang Yesus. Sejak menikah denganmu saya percaya kepada Buddha dan kelenteng, saya tidak mendengar tentang Yesus. 2 hari ini saya mendengar pak Wong memberitakan firman Tuhan saya sangat tergerak. Kemudian mereka mempersilakan saya untuk ikut makan malam, dan melanjutkan menceritakan tentang Tuhan Yesus. Kemudian kita mengirim penginjil-penginjil dan memulai sekolah kalam kudus dari 1965 sampai sekarang. 3 hari lalu di Padang gempa. Ketika mendengarnya, hati saya sangat susah. Ada 200 orang anggota kita di sana. Ada 700 murid sekolah, bagaimana mereka? Saya berdoa untuk mereka. Sorenya ketua sinode menelepon saya, semua murid, gereja berada dalam keadaan baik. Meskipun ada kerusakan tapi Tuhan menyertai kita. Meskipun banyak kesulitan datang tapi Tuhan membimbing kita. Kita tidak perlu takut apa-apa. Ketika kita menghadapi bencana alam, kita dapat melakukan apa? Kita menyerahkan semuanya kepada tangan Tuhan. Ketika kita menghadapi banyak hal dan tak ada yang dapat kita lakukan, dengar firman Tuhan kita menyerahkan ke dalam tangan Tuhan dan Tuhan yang kerjakan.

Ayat berikutnya mengatakan Ia membimbing aku ke air yang tenang. Kita perlu air untuk hidup. Kita perlu firman Tuhan untuk menguatkan. Bukan hanya berbaring saja, kita perlu firman Tuhan untuk menyegarkan jiwa kita. Kemudian kita melanjutkan perjalanan kita. Kita di Sydney boleh dikatakan cukup tenang. Tapi waktu sesuatu terjadi kita tidak tahu mesti bagaimana. Mazmur 23 menyertai kita. Pada saat bencana datang engkau tidak perlu panik lari sana sini. Kita berbaring tenang, biar Tuhan mengerjakan. Kita akan belajar firman Tuhan, menjadi kekuatan kita. Kemudian melanjutkan kembali. Tuhan kita selalu menuntun kita ke jalanNya, di dalam jalan kebenaran. Ayat 4 mengatakan sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman tapi Tuhan beserta dengan kita. Pada saat kita menghadapi kesulitan jangan lupa Tuhan kita selalu beserta dengan kita. Ini sangat penting.

Saya seumur hidup jarang sakit, tapi begitu sakit, sakitnya berat. Tahun 1999 saya tiba-tiba pingsan sampai 4 hari. Saya berada dalam ICU. Saya juga tidak tahu apa yang saya lakukan. Ketika saya siuman, dokter mengatakan, oh engkau sudah bangun, 4 hari engkau sudah tidak sadar. Saya kira engkau tidak akan bangun kembali, tapi engkau sudah siuman kembali. Kemudian dia mengatakan apa penyakit saya. Bila ada satu hal yang gawat datang, bagaimana kita menghadapinya? Engkau harus ingat Tuhan beserta engkau. Saya ingat saya kekurangan tidur, begitu tidur 4 hari, tapi engkau jangan melakukan demikian. Tahun lalu saya juga menghadapi penyakit yang sama. 2 hari saya tidak tahu apa yang terjadi. Tahun ini bulan Juni terjadi hal yang sama, hanya 24 jam. Tapi saya tahu Tuhan tetap beserta saya. Penyertaan Tuhan inilah yang sungguh berharga. Pada saat engkau perlu istirahat, engkau istirahat. Pada saat engkau perlu bangun melakukan perkerjaan, engkau bangun melakukan pekerjaan. Pada saat saya sakit saya boleh kembali mengajar dan lain-lain. Pada saat saya sembuh teman mengatakan engkau tidak perlu melakukan ini itu lagi. Tapi Tuhan terus menyertai saya. Dia mau saya mengerjakan segala sesuatu dan Dia akan memberikan kekuatan.

Di ayat 6 dikatakan kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku. Kebajikan dan kemurahan Tuhan akan selalu menyertai kita. Dan kita akan diam dalam rumah Tuhan. Rumah di dunia sementara, tapi rumah Tuhan kekal. Daud memiliki pengalaman ini, kita juga boleh memiliki pengalaman ini. Tidak hanya kita menghafal Mazmur 23 ini, tapi kita mempunyai pengalaman. Pengalaman ini kita sharing kepada teman-teman kita sehingga pada saat mereka kesulitan kita mengingatkan Tuhan selalu menyertai kita.