GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
27
Sep

Manusia yang Melupakan Tuhan

Pdt. DR. Daniel Lukas Lukito
Download Print a- A+ r
 
 
Date: September 27, 2009
Nats: Luk.12:16-21

Bulan Desember 2002 di negara bagian Virginia, atau tepatnya di West Virginia ada seorang bapak menjadi seorang instant celebrity, namanya Jack Whittaker. Dia menjadi terkenal karena memenangkan hadiah Powerball sejumlah 315 juta dollar. Tidak terbayang uang sejumlah itu. Berbahagiakah Jack Whittaker dengan uang yang diterimanya? Bahagia untuk permulaannya. Hampir 5 tahun kemudian, bulan September 2007 Jack Whittaker berbicara lagi kepada wartawan sebab lima tahun sudah berlangsung, apa yang dia habiskan dalam lima tahun itu dengan uang 315 juta itu? Dia melakukan 460 kasus pelanggaran hukum, lalu dia yang tadinya seorang yang setia ke gereja perlahan-lahan meninggalkan kepercayaanya. Isterinya tidak tahan dengan dia dan akhirnya bercerai. Anak perempuannya sakit kanker dan meninggal dunia karena kecanduan alkohol dan drugs. Dan cucu yang paling dikasihinya berumur 17 tahun karena mendapat banyak uang dari kakeknya, akhirnya hidup berkeliaran dan juga terlibat obat bius dan akhirnya meninggal. Jack Whittaker tidak tahan dan mengatakan demikian, “Jika ada yang bisa mengembalikan cucu saya, saya akan mengembalikan seluruh uang yang saya menangkan.” Adakah yang bisa mengembalikan cucunya?

Kebahagiaan manusia itu mestinya tidak sejajar dengan kelimpahan materi yang dimilikinya. Itulah sebabnya perumpamaan yang Tuhan ajarkan di dalam bagian ini menjadi point pertama yang akan saya sampaikan yaitu kepuasan jiwa seseorang itu tidak dapat diisi oleh kelimpahan materi yang dimilikinya. Salah sekali kalau sdr dan saya yang menjadi orang Kristen kalau kita pikir materi, kenikmatan banyaknya barang-barang, terutama barang-barang mahal dan mewah itu membuat jiwa sdr dipuaskan. Dalam perumpamaan ini Tuhan berbicara mengenai orang kaya. Jangan sdr pikir Tuhan Yesus anti orang kaya. Itu tidak terlalu tepat. Memang ada satu dua kali di dalam Injil Yesus menegur orang kaya. Tetapi tidak selalu seperti itu. Di dalam bagian lain juga dicatat ada perempuan-perempuan dari kalangan pejabat dan orang kaya yang menyertaiNya. Juga salah kalau sdr mengatakan orang kaya di dalam perumpamaan ini bodoh karena dia tidak bisa berusaha. Kalau kita baca dengan teliti ayat-ayat ini, orang kaya ini membuat perencanaan, dia bisa planning, bahkan untuk tahun-tahun berikutnya dia ada planning akan membuat ini dan itu. Dia bukan orang bodoh secara intelektual. Kalau demikian, bodohnya dimana? Saya kira bodohnya terlihat yang pertama yaitu di ayat 19 dia mengatakan , “Jiwaku, ada padamu banyak barang…” Tuhan Yesus seakan hendak mengajarkan kepada semua manusia termasuk kita orang Kristen salah sekali kalau kita pikir bahwa jiwa kita itu compatible dengan barang-barang yang ada di dalam dunia ini. Jiwa kita itu yang sifatnya immaterial, tidak keliahtan, itu tidak sepadan dengan benda-benda di dunia ini yang sifatnya material. Berapa banyak orang kaya tetapi unhappy? Tetapi itu tidak membuat orang berhenti membeli barang, memuaskan keinginannya untuk mencari barang. Jujur kalau dapat handphone baru, senang atau tidak? Di Indonesia sekarang lagi demam Blackberry. Dapat rumah baru, mobil baru. Ibu-ibu dapat tas baru. Tas itu simbol status. Harganya tidak ketulungan. Jam tangan bisa ratusan juta. Semua itu simbol status. Orang Kristen juga seperti itu, bukan? Mereka merasa dikenyangkan oleh benda-benda. Tuhan mengajarkan di sini, itu tidak betul. Keliru sekali kalau kita orang yang percaya kepada Tuhan Yesus terjebak dengan hal-hal seperti itu.

Sekarang di Amerika orang semakin banyak pergi ke tempat belanja daripada pergi kebaktian. Di Indonesia sekarang saya lihat juga hari Minggu itu begitu banyak orang yang pergi ke tempat rekreasi, belanja, dsb. Bahkan sekarang di Jakarta dan di Surabaya sedang tren “Midnight Shopping” yang mulai dari jam 9 – 12 malam dan biasanya discountnya bisa mencapai 75%. Itu membuat orang yang punya banyak uang meskipun belum tentu membutuhkan barang- barang itu terus belanja. Antara kebutuhan dan keinginan itu bedanya jauh sekali. Tetapi untuk mengerem yang namanya keinginan untuk belanja itu adalah sulit sekali. Itu adalah keinginan yang irresistible bagi sebagian orang. Mereka tidak bisa tahan tidak berbelanja. Berapa banyak kita di sini yang seperti itu? Hidupnya hanya terfokus kepada barang, benda. Berapa banyak waktu yang sdr sediakan untuk Bible study, saat teduh pribadi dibandingkan dengan waktu yang sdr pakai untuk chatting atau masuk ke Facebook, browsing internet, ngobrol di handphone dengan orang di seberang sana. Sdr hanya mengisi waktu dengan hal-hal yang sifatnya sementara.

Orang di dalam perumpaan ini salah karena dia tidak melihat ada sisi yang kekal dalam hidup ini. Bisakah sdr melihat sisi yang kekal di dalam hidup ini? Bisakah sdr mementingkan hal yang immaterial itu yaitu jiwa? Kalau tidak bisa, barangkali kita tidak terlalu beda dengan orang ini. Kita hidup di jaman modern, kita punya segala sesuatu alat-alat teknologi maju, maka pertanyaannya adalah: puaskah jiwa kita? Tahun lalu tepatnya tanggal 8 Juni pada hari Minggu di Tokyo ada seorang bernama Tomohiro Kato seorang salesman. Orang ini pergi ke toko membeli beberapa barang, salah satunya sebilah belati. Lalu dia pergi ke tengah kota Tokyo dengan mengendarai sebuah truk dan dia serudukkan di tengah-tengah keramaian orang lalu dia turun dan menusuk orang . Orang sedang ramai berbelanja dan makan siang di tengah kota Tokyo yang padat. Orang yang tidak tahu menahu panik, tujuh orang tewas di tempat dan 11 orang terluka. Kato ditangkap dan di kantor polisi waktu ditanya kenapa dia melakukan perbuatan seperti itu, jawabannya cuma kalimat pendek, “Life is boring.” Hidup ini membosankan. Itu saja jawaban dia. Di negara Jepang yang sedemikian makmur, kaya, tersedia semuanya, ada yang orang yang bilang ‘life is boring.’ Apakah cuma dia satu-satunya yang merasa seperti itu? Jepang adalah negara yang maju sekali tetapi paling banyak orang yang membunuh diri karena hidup ini membosankan. Mengapa di negara maju dengan teknologi tinggi banyak orang seperti itu? Karena mereka salah mengartikan hidup ini. Orang Kristen tidak boleh mengulangi kesalahan seperti orang kaya yang bodoh di dalam perumpamaan ini. Orang ini tidak bisa melihat sisi yang kekal, dia tidak bisa melihat aspek immaterial jiwanya itu. Itulah sebabnya yang terfokus hanya satu yaitu barang-barang dan itu tidak bisa mengisi jiwanya.

Yang kedua, Tuhan Yesus di dalam perumpamaan ini hendak mengajarkan bahwa salah sekali, keliru sekali kalau ada orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri saja. Ayat 21, Tuhan Yesus bilang, ”...demikianlah jadinya bagi orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri.” For himself. Dalam perumpamaan ini dalam bahasa Inggris kira-kira hanya 70 kata saja, tetapi kata yang dipakai oleh orang ini bicara mengenai dirinya, I, myself, mine banyak sekali. Dia hanya bisa melihat dirinya sendiri, dia tidak bisa melihat Tuhan dan melihat orang lain. Di sini juga tidak diceritakan ada keluarganyakah, dsb. Orang ini cuma bisa melihat satu entitas saja, satu eksistensi saja, yaitu himself. Sayang sekali kalau ada orang Kristen yang hidupnya persis seperti orang ini, karena kita tidak ada bedanya dengan orang dunia sekarang. Coba lihat dimana-mana, begitu banyak orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri. Lingkaran kehidupannya setiap hari kepentingannya atau fokusnya hanya dirinya sendiri. Dan ini sebetulnya menjadikan orang itu tidak bisa melihat yang lain dan tidak bisa melihat Allah yang tidak kelihatan itu. Sebetulnya dalam hidup ini banyak hal yang tidak bisa kita lihat. Misalnya, Tuhan yang tidak kelihatan, mujizat, malaikat, dunia roh dan banyak yang kita percaya itu belum terjadi, misalnya kebangkitan tubuh, surga yang mulia, kehidupan nanti. Kita sudah mendapat hidup kekal waktu kita percaya Yesus, tetapi itu sekarang ini baru kita terima ‘deposit’-nya, tetapi yang sepenuhnya belum kita alami dan banyak yang tidak bisa kita lihat dengan mata jasmani ini, kita harus terima itu by faith. Tetapi setiap hari hidup kita diisi oleh yang kelihatan. Kita lebih percaya kepada yang kelihatan dan kita lebih percaya kepada segala sesuatu yang ada dalam dunia ini. Jikalau seperti itu, apalagi kalau kita adalah orang Kristen yang hidup ‘for myself only’ kita tidak ada bedanya dengan orang kaya ini. Banyak yang tidak kelihatan. Ini ladang Tuhan, pekerjaan Tuhan sekarang ini, percayakah kita bahwa itu adalah bagian dari tanggung jawab kita dan artinya saya harus keluar dari diri saya dan kepentingan diri saya untuk terlibat di dalam pelayanan ini. Berapa banyak waktu yang sdr sediakan untuk pelayanan? berapa banyak bakat yang sdr pakai untuk pelayanan, untuk kerajaan Surga? Berapa banyak uang yang sdr spend untuk diri sendiri dan untuk pekerjaan Tuhan? Saya duga lebih banyak orang yang spend bagi dirinya sendiri saja dan sedikit sekali untuk pekerjaan Tuhan. Kita harus belajar melihat sisi yang tidak kelihatan itu. Tuhan Yesus saja mengajarkan untuk kita menyimpan harta yang di surga. Tentunya maksudnya bukan benar-benar harta ditransfer ke sana. Tentu dengan cara yang berbeda, misalnya berbuat kebaikan, memakai waktu kita untuk pelayanan, dsb. Mampukah kita hari ini belajar melihat sisi yang tidak kelihatan itu khususnya hal-hal yang di luar diri kita sendiri. Sayang sekali kalau kita tidak bisa melihat ‘the miracle of life out of myself,’ melihat keindahan pada diri orang lain, keindahan pada pelayanan di ladang Tuhan, keindahan pemelihaaan Tuhan, mujizat di dalam kehidupan ini.

Bulan Juni yang lalu sebuah pesawat Airbus 330 milik Air France tadinya menuju ke Paris dari Rio de Janeiro, jaraknya 9200 km dan jatuh di tengah laut dengan korban 200 orang lebih. Sampai hari ini tidak jelas kenapa pesawat yang baru 5 tahun itu jatuh. Yang menarik adalah majalah TIME menulis “the miracle of flight can seem routine until the tragedy happens. Tragedies can often highlight the significance of that which we have come to consider commonplace. Ini majalah sekuler tetapi bisa menulis seperti ini. Kalau sdr sekarang bisa bernapas, kita rasa itu hal yang biasa saja. Kita tidak rasa itu adalah mujizat di dalam pernapasan, sampai suatu hari sdr terkapar di rumah sakit dan dikasih oksigen yang harus sdr bayar. Tiap hari kita bernapas dan kita tidak bersyukur untuk oksigen. Itu barus atu contoh sederhana. Kita tidak pernah bersyukur mengenai kemampuan kita bisa makan, bisa berpikir, tidur nyenyak. Dan tidur itu mahal. Buktinya orang yang tidak bisa tidur harus makan obat. Obat itu harus bayar dan kalau sudah kecanduan bertahun-tahun, mahal sekali. Di Amerika dan mungkin juga di Australia ini banyak sleep clinic. Untuk orang Indonesia kurang laku karena banyak orang Indonesia hobby tidur, dimana saja bisa tidur. Di kolong jembatan, di pinggir jalan, di atas becak, dimana saja bisa tidur. Barangkali apakah life is beautiful buat orang Indonesia? Tidak tahu. Menurut saya sih itu karena kebanyakan karbohidrat, makan nasi sebakul, makan ubi. Tetapi tidur itu mahal, sdr pernah bersyukur atau tidak? The miracle of life itu banyak sekali, kalau sdr bisa melihat di luar diri kita sendiri, terutama bisa melihat ada Tuhan, ada mujizat. Sdr akan hidup melampaui diri sdr sendiri. Mulai hari ini berdoalah supaya kita bisa melihat Tuhan dan pemeliharaanNya, mujizat demi mujizat di dalam hidup kita supaya kita tidak hidup untuk diri kita sendiri saja. Jika tidak, kita tidak beda dengan orang yang disebut di dalam perumpamaan ini. Dan barangkali orang ini bukan orang percaya, padahal kita adalah orang percaya kepada Kristus.

Yang ketiga, Tuhan Yesus hendak mengajarkan bahwa ada waktunya segala sesuatu bisa saja menjadi terlambat. Di ayat 20 dikatakan, “Hai orang bodoh, malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu.” Bagi orang ini sudah terlambat, padahal di ayat sebelumnya dia bilang, “Jiwaku, ada tersedia bagimu banyak barang untuk bertahun-tahun lamanya.” Dia pikir bertahun-tahun ke depan, tetapi Tuhan mengatakan “Malam ini juga…” tidak ada waktu lagi. Barangkali kalau orang ini menawar, saya ingin kasih tahu bahasa Yunaninya kata yang dipakai adalah “sudah jatuh tempo” tidak bisa ditunda lagi, tidak bisa dimundurkan lagi, tidak bisa ada tenggat waktu lagi. Kalau orang ini menawar, tunggu sampai anak saya menikah, tunggu sampai saya siap tahun depan, tunggu sampai saya bertobat, tunggu sampai saya mempersiapkan anak cucu saya. ‘Tidak. Malam hari ini juga…’ Maksudnya bukan membuat sdr merasa terancam dengan hidup yang rapuh ini. Maafkan kalau saya mengatakan itu agak menteror sdr, saya tidak bermaksud begitu. Ini firman Tuhan sendiri yang bilang. Mari kita berpikir mengenai kesempatan yaitu kesempatan melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup kita yang satu kali ini. Jangan tunda. Kalau hari ini sdr mau berbuat baik untuk Tuhan, jangan tunda. Menginjili seseorang, jangan tunda. Melakukan satu pekerjaan Tuhan, kita betul-betul harus fokus. Kalau firman Tuhan bilang “hari ini adalah hari keselamatan itu,” demikian juga kita di dalam pekerjaan Tuhan kita harus lakukan secepatnya hari ini. Kalau sdr ingin mendoakan seseorang, untuk pekerjaan Tuhan, lakukan hari ini, jangan tunda. Kesempatan itu bisa saja tidak akan kembali lagi.

Saya ingin menutup khotbah saya dengan sebuah kisah yang terjadi pada seseorang yang saya kira sdr kenal, yaitu bintang film yang terkenal Jet Lee. Pada tahun 2004 dengan isteri dan dua orang anaknya yang berusia kecil, hari Natal hampir tengah malam mendarat di sebuah resort di kepulauan Maldives. Mereka tinggal di hotel Four Seasons. Pagi-pagi tgl 26 Desember anaknya sudah merengek minta ditemani ke pantai dan kolam renang. Kira-kira jam 7.50 pagi dia merasakan ada gempa bumi. Karena dia sering tinggal di San Francisco dan juga di Cina yang sering kena gempa,maka dia merasa tidak masalah dan terus main di pantai. Kira-kira jam 10 tiba-tiba gelombang besar datang melanda. Itu adalah gelombang tsunami yang datang karena gempa besar di Aceh dan sekitarnya. Belasan negara kena dan setelah beberapa jam baru sampai ke Maldives dengan kecepatan 500 km/jam, bahkan sampai tsunami ini ke Afrika Timur. Jet Lee waktu itu dengan reflek membawa anak-anaknya, tetapi segera ombak menelan mereka. Akhirnya beberapa staf hotel berhasil menolong mereka. Peristiwa dahsyat ini merubah hidup dia. Malam harinya mulai memikirkan hal yang lebih dalam akan hidupnya. Dua tahun kemudian dia mengumumkan berhenti main film dan mendirikan satu lembaga bernama One Foundation. Untuk apa? Dia mendirikan organisasi itu untuk menolong orang lain yang tertimpa bencana alam. Dan waktu terjadi gempa yang sangat besar di Se Chuan tahun lalu, Jet Lee langsung turun. Sebelumnya dia mengumpulkan dana sampai 17 juta dolar. Ngomong-ngomong, Jet Lee ini bukan orang Kristen.

Siang hari ini kita belajar satu hal, jika orang yang bukan Kristen seperti ini saja dengan satu kejadian luar biasa seperti itu bisa mengubah jalan hidupnya, berhenti dari segala kemewahan kenikmatan, tempat mencari uang sebagai bintang film, lalu melakukan sesuatu yang berguna buat orang lain. Kenapa sdr dan saya yang punya Tuhan Yesus yang adalah kebenaran dan hidup kekal yang diberikan olehNya kepada sdr dan saya, mengapa kita tidak mulai berpikir mengenai hidup ini? Jet Lee mengatakan philanthropy is my passion and my life now. I wake up and eat and I am thinking about it. I’m still thinking about it in the bath. Menolong orang lain itu menjadi satu dorongan di dalam hidup dia sekarang dan dia betul-betul melakukannya.

Apakah kita lebih mirip dengan orang yang dikatakan di dalam perumpamaan ini ataukah kita lebih dekat dengan Tuhan dan firmanNya dan kita mau mengubah sesuatu yang tidak baik dalam hidup kita. Tinggalkan kebiasaan kita yang hanya mementingkan barang-barang yang kelihatan, kehidupan yang mewah. Tinggalkan kebiasaan kita yang hanya ingin hidup untuk diri kita sendiri saja. Dan marilah kita lihat Tuhan dan kehendakNya dan kita pakai kesempatan hidup kita yang satu kali ini sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Dalam perenungan kita mari kita mulai memikirkan berapa banyak waktu yang kita pakai setiap hari untuk diri kita sendiri saja, bahkan kita begitu mementingkan benda-benda yang kelihatan di dalam hidup ini padahal kita tahu itu semua tidak bisa memuaskan jiwa kita. Mari kita pikirkan mengenai kesempatan, bila betul kita adalah orang Kristen yang percaya kepada Tuhan di dalam Kristus, biar kita berpikir dari sudut Tuhan dan kehendakNya bagi kita yang hidup hanya satu kali dalam dunia ini supaya hidup kita setelah ini menjadi hidup yang berubah dan sekaligus hidup yang berarti bagi kerajaan Surga.(kz)