GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
28
Jun

Roh Membedakan 'roh' (3)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: June 28, 2009
Nats: 2 Tim. 3:10-17

2 Tim.3:16 merupakan ayat yang sangat penting di dalam konsep Bibliologi mengenai doktrin Alkitab, karena ayat ini memberitahukan kepada kita seluruh kitab suci yang kita terima ini ditulis oleh Allah sendiri. Memang benar, Alkitab kita ditulis oleh kurang lebih 40 orang penulis di dalam jangka waktu yang panjang mulai dari era Musa hingga sampai kepada rasul Yohanes tetapi diikat oleh satu konsep yang penting: memang ditulis oleh tangan manusia yang berbeda-beda, jaman dan rentang waktu yang panjang, tetapi “Penulis-”nya hanya satu. Paulus mengatakan ”...segala tulisan diilhamkan Allah” yang di dalam bahasa aslinya hanya memakai satu kata “Theos-pneostos” yang diterjemahkan dengan kata “dinafaskan Allah.”

Dengan ayat ini Gereja membangun konsep doktrin Bibliologi yang ketat bahwa semua yang ditulis di dalam Alkitab kita ini adalah firman Allah. Cara penulisan bisa berbeda, ada nabi yang menuliskan kitabnya dengan kesadaran bahwa yang dia tulis adalah firman Tuhan. Tetapi berbeda dengan misalnya Lukas, di dalam Luk.1:3 dia memberikan kita satu kesan bahwa penulisan Injil Lukas seolah-olah adalah inisiatif Lukas sepenuhnya karena dia mengatakan, ”...karena itu aku menyelidiki dengan seksama segala peristiwa ini dari asal mulanya dan aku mengambil keputusan untuk membukukannya secara teratur…” Dari kalimat ini kita menemukan Lukas menulis kitabnya 100% dari kesadaran dia. Tidak ada kesan secara supranatural itu adalah Roh Kudus yang menyuruh dia. Bagaimana dengan kitab-kitab yang seperti ini? Kitab Kisah Para Rasul memberikan kepada kita satu indikasi yang sangat baik. Dalam Kis.2:25-28 kita melihat kutipan mazmur Daud, dimana penulis Kisah Rasul mengatakan “Daud menulis…” dan kita bandingkan dengan Kis.4:25 mengatakan “oleh Roh Kudus Daud menulis…” Maka Daud waktu menulis mazmur-mazmurnya pasti pada waktu hatinya tergerak untuk menuliskannya sebagai ekspresi jiwanya. Tetapi Kis.4:25 mencatat bahwa dibalik tulisan Daud, yang menggerakkan hatinya, yang memimpin semua tulisannya sehingga menjadi kitab suci adalah Roh Kudus sendiri. Maka melalui ayat ini kita kembali kepada Luk.1:3, dibalik dari kerinduan keinginan penyelidikannya ada campur tangan Roh Kudus di situ. Itu sebab apakah “derajat” firman Tuhan di dalam kitab Yesaya sama “derajat” dengan kitab Mazmur dan Injil Lukas? Jawabannya adalah “YA,” berdasarkan apa yang dicatat oleh Paulus di dalam 2 Tim.3:16 semua tulisan itu diwahyukan oleh Allah. Itu dasar yang penting.

Lalu minggu lalu saya sudah mengambil dua ayat yang penting mengenai prophecy, dua konfirmasi penting di dalam PB, baik oleh Paulus maupun oleh Petrus bahwa penulisan kitab suci oleh para rasul dan para nabi dengan kesadaran Tuhan memberi wahyu ataupun tanpa kesadaran itu, tetap dua-duanya firman Tuhan. 2 Pet.1:21 mengatakan “sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus manusia bicara demi nama Allah…” Ayat ini dan 2 Tim.3:16 menjadi dasar dalam doktrin Alkitab teologi Reformed yang ketat, karena semua kitab suci diilhamkan Allah maka kitab suci harus menjadi otoritas tertinggi dan satu-satunya bagi orang percaya. Itu sebab waktu Paulus menulis surat 1 Tim, dia mengeluarkan kalimat ini, ”...hai Timotius pegang baik-baik apa yang sudah kamu terima daripadaku. Engkau sudah mengikuti kesaksianku, ajaranku, dsb” tidak ada indikasi bahwa apa yang dia ajarkan nanti juga akan Tuhan wahyukan langsung kepada Timotius. Dengan kalimat itu Paulus memiliki kesadaran bahwa tulisannya berotoritas dan Timotius dan hamba-hamba Tuhan sesudahnya harus mengajarkan dan mengikuti apa yang dia ajarkan. Ini yang kita sebut sebagai the authority of the Bible, karena konsep Alkitab sebagai otoritas firman Tuhan yang tertinggi maka dengan sendirinya lahirlah konsep yang kita sebut sebagai “the sufficiency of the Bible.” The sufficiency of the Bible artinya Alkitab ini sudah cukup, tidak perlu lagi ditambahkan apa-apa karena ini sudah merupakan standar yang tertinggi kita menilai segala sesuatu, menilai etika dan ajaran orang.

Minggu lalu saya sudah mengutip perkataan dari Wayne Grudem –walaupun dia mengaku seorang Reformed- tetapi ada beberapa konsep dia terutama mengenai prophecy saya pertanyakan dan perdebatkan. Dia mengatakan Tuhan masih bisa memberi prophecy tetapi prophecy itu harus dijaga, dipelihara dan diteliti oleh firman Tuhan. Tetapi bagaimana Grudem menganalisa apakah kalimat prophecy itu based on kitab suci? Bagaimana dia memakai ayat-ayat kitab suci sebagai ayat untuk menilai prophecy itu?

Itu sebab hari ini saya mengajak sdr melihat bagaimana konsep prophecy baik di dalam PL maupun PB dengan teliti. Yang pertama, kita melihat peristiwa “pertarungan” dua nabi yang sama-sama mengaku nabi Tuhan, bukan antara nabi Baal dan nabi Yahweh, tetapi dua pihak sama-sama melayani Tuhan tetapi kita akan melihat kepada siapa Tuhan memang berbicara dan siapa yang hanya mengaku-ngaku saja. Dalam 1 Raj.22 kita melihat nabi Zedekia menampar pipi nabi Mikha dan mengatakan ”...mana boleh Roh Tuhan pindah dariku untuk bicara kepadamu?” Tetapi ternyata apa yang dikatakan nabi Mikha terbukti benar sedangkan prophecy nabi Zedekia terbukti salah. Dari ayat ini kembali lagi kita melihat konsistensi PL seorang nabi Tuhan itu betul-betul nabi asli kalau dia memiliki dua kriteria penting ini: pertama, nabi itu setia menyampaikan firman Tuhan. Tidak peduli tekanan dari luar, politik, orang suka atau tidak suka kepada beritanya, tetap dia harus menjadi penyambung lidah Tuhan. Ciri yang kedua, yaitu apa yang dia katakan tidak ada satupun yang tidak terjadi. Jadi ini kriteria yang konsisten dengan Ul.18 yang diberikan oleh Musa. Kalau ada sedikit saja yang dia katakan tidak benar, pasti dia adalah nabi palsu. Sehingga di dalam PL sdr tidak akan pernah menemukan seorang nabi berkata, “This is what I believe God said to me…” tetapi kalimatnya adalah “Thus saith the Lord…”

Kedua, saya memberikan patokan ini: the quality of prophecies are equal among prophets but the quality of relationship of the prophets and God are not equal. Dan yang kedua, the quality of prophecies among prophets are equal but the quality of instrument of prophecies are not equal. Prophecy di dalam PL semua equal karena datangnya dari Tuhan tetapi tidak berarti semua harus sama rata karena Alkitab memberikan indikasi dimana relationship antara satu nabi dan Tuhan itu tidak equal dan instrumen yang Tuhan pakai di dalam memberikan wahyunya tidak equal tetapi content dan nature dari prophecy-nya equal. Itu adalah hak Tuhan di dalam relasiNya dengan seorang nabi tetapi tidak berarti firman yang disampaikan berbeda.

Dalam Bil.12:6-8 Tuhan mengatakan, ”... Aku menyatakan diriKu kepada para nabi dalam penglihatan, berbicara kepada mereka melalui mimpi. Namun bukan demikian dengan hambaKu, Musa, seorang yang setia. Aku berbicara muka dengan muka kepadanya.”

Ada tiga instrumen yang dipakai Tuhan di PL untuk menyatakan firmanNya, melalui penglihatan, melalui mimpi dan yang ketiga, Dia berhadapan muka dengan muka berbicara dengan hambaNya. Ini konsisten dengan perkataan penulis surat Ibrani dalam Ibr.1:1 Alkitab memberitahukan kepada kita isi prophecy-nya sama tetapi relationshipnya tidak equal karena instrumennya tidak sama. Sampai di sini sdr tidak boleh bilang, karena ada nabi yang mendapat prophecy lewat mimpi maka beritanya menjadi samar-samar ketimbang yang mendapatkannya langsung. Itu kesimpulan yang keliru, karena kita di sini bicara soal instrumennya, tetap firman yang diperoleh itu equal karena sumbernya dari Tuhan.

Ketiga, ada bentuk-bentuk pelayanan khusus yang Tuhan percayakan kepada nabi-nabi di PL yang berbeda-beda. Itu adalah panggilan Tuhan dan hak Tuhan sepenuhnya. Ada nabi yang dipanggil Tuhan untuk melayani seluruh bangsa Israel secara global, tetapi ada nabi yang dipanggil Tuhan cuma untuk sekelompok kecil atau bahkan hanya kepada satu orang saja, seperti nabi Nathan yang dipanggil untuk menegur raja Daud, atau nabi Yunus melayani kepada Niniwe, dsb.

Keempat, ada perbedaan besarnya jumlah materi prophecy yang Tuhan beri kepada masing-masing nabi. Contoh, nabi Yesaya mendapat prophecy dari Tuhan sampai 66 pasal, tetapi ada nabi yang cuma beberapa pasal saja. Maka kita menemukan ada yang disebut sebagai “Major Prophets” ada yang disebut “Minor Prophets” bukan berarti nabi yang satu lebih besar daripada nabi yang lain, tetapi berkaitan dengan berapa banyaknya prophecy yang datang kepada mereka. Tetapi tidak berarti nabi yang ini prophecy-nya lebih hebat daripada nabi yang lain.

Personal prophecy yang muncul dewasa ini mengatakan prophecy di PB itu kualitasnya lebih rendah daripada prophecy di PL. Ini yang ingin saya diskusikan dengan sdr hari ini baik-baik. Khususnya Grudem mengatakan prophecy itu adalah spontaneous direct revelation from Holy Spirit yang tujuannya untuk membangun jemaat. Dia membedakan ini dengan preaching yaitu hal yang sudah di-prepare oleh pengkhotbah sebelumnya. Maka spontaneous direct revelation bisa muncul tiba-tiba di tengah-tengah seorang hamba Tuhan menyampaikan preachingnya. Interupsi itulah yang Grudem katakan sebagai prophecy. Ayat yang dipakai sebagai dasar dari konsep ini adalah 1 Kor.14:30. Namun Grudem juga menambahkan bahwa isi prophecy ini bisa mix antara firman Tuhan dan fallible human interpretation ketika penerimanya tidak mendengar isi prophecy itu secara tepat. Itu sebab dia bilang mengapa kalau ada prophecy yang muncul seperti itu kita harus meneliti dengan baik-baik karena bisa jadi message-nya ada yang benar, ada yang salah. Kita diminta untuk meneliti baik-baik berdasarkan kebenaran Alkitab, terima yang benar, buang yang salah. Dari semua kesimpulan yang dia buat, Grudem memakai beberapa ayat menjadi dasar. Pertama, 1 Tes.5:19-21 “Janganlah padamkan Roh. Jangan anggap rendah prophecies. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Grudem mengkaitkan kalimat “ujilah segala sesuatu” dengan kalimat sebelumnya yaitu “jangan anggap rendah prophecies.” Maka menurut Grudem Paulus meminta kita menguji prophecies, lalu kalimat “terima yang baik,” berarti ada prophecy yang baik, ada yang tidak baik. Dari kesimpulan dia terhadap ayat ini Grudem mengatakan bisa jadi prophecy itu mix dengan kesalahan penerimanya. Buat saya, ayat itu tidak harus ditafsir seperti itu. Kalimat Paulus di dalam bagian ini merupakan perintah dia secara pendek dan tidak harus saling dikaitkan. Kalimat “ujilah segala sesuatu” bukan kepada prophecy tetapi di sini Paulus mengingatkan jemaat untuk tidak menerima segala sesuatu apa adanya. Belajar untuk teliti segala sesuatu, uji segala sesuatu. Setelah engkau uji, belajar mempunyai spiritual discernment. Mana yang baik, engkau ambil bagi hidupmu. Maka bagi saya, ayat ini memiliki pengertian yang luas yaitu menguji segala sesuatu di dalam hidup kita, bukan bicara bahwa prophecy itu ada yang benar dan ada yang salah sehingga perlu diuji. Yang kedua, pada waktu Paulus menekankan “jangan anggap rendah prophecies” maksudnya adalah bagaimana jemaat harus bersikap pada waktu mendengar firman Tuhan disampaikan. yaitu untuk rendah hati menerima tetapi juga waspada dengan apa yang diajarkan. Kapankah karunia itu selesai? 1 Kor.13:8 jelas menyatakan spiritual gift itu akan berakhir ketika yang sempurna itu datang. Apa yang dimaksud dengan kalimat “ketika yang sempurna itu tiba”? Di dalam sejarah Gereja hanya ada dua penafsiran besar terhadap ayat ini. Pertama, ‘yang sempurna itu tiba’ yaitu ketika wahyu Tuhan sudah selesai ditulis. Sebagian teolog Reformed seperti B.B. Warfield mengatakan begitu Alkitab sudah selesai ditulis maka spiritual gift tidak ada lagi. Saya tidak mengambil posisi itu dan banyak orang Reformed juga tidak mengambil posisi itu. Kenapa? Karena kita tetap percaya karunia memimpin, karunia mengajar, karunia menggembalakan, karunia menyembuhkan dsb tetap ada sampai sekarang. Kedua, ‘yang sempurna itu datang’ adalah kedatangan Yesus Kristus kali kedua. Paulus meminta kalau bisa semua orang bisa memperoleh karunia sebanyak-banyaknya untuk melayani, terutama karunia prophecy. Dan karunia baru akan selesai waktu Yesus datang kali kedua. Maka Grudem mengambil kesimpulan itu berarti karunia prophecy masih ada sampai sekarang dan baru berhenti waktu Yesus datang kembali. Sampai disini saya tidak menerima kesimpulan dia. Ada dua penjelasan saya, pertama, saya pinpoint dengan tegas karunia prophecy dan glosolalia –yaitu berbicara di dalam bahasa asing yang tidak pernah dia pelajari sebelumnya- tidak muncul lagi sekarang sebab kedua hal ini bukan saja berupa karunia tetapi juga merupakan ‘the mode of revelation.’ Yang kedua, Paulus mengatakan ‘ketika yang sempurna itu tiba maka semua yang tidak sempurna ini akan lenyap,’ buat saya memberi patokan pokoknya batas akhirnya adalah the second coming of Jesus Christ. Yang tertinggal hanya satu yaitu kasih. Kita tidak perlu lagi iman dan pengharapan sebab semuanya sudah terealisasi. Jadi karunia itu berjalan, tetapi bisa sampai waktu tertentu dia berhenti muncul dan tidak melanggar ayat itu. “Until the second coming of Jesus Christ” tidak berarti pada waktu itu baru berakhir tetapi bisa jadi sebelumnya juga. Buat saya dua karunia ini –prophecy and glosolalia- sudah tidak berlanjut saat ini karena keduanya bukan saja merupakan spiritual gift tetapi juga memiliki signifikansi yang berbeda dengan karunia-karunia yang lain karena dua karunia ini merupakan “the mode of revelation” yang Tuhan pakai untuk menyatakan wahyunya. Paulus menginginkan kalau bisa semua orang percaya bisa memperoleh karunia prophecy sebab pada waktu itu wahyu Tuhan belum selesai. Itu bukan permintaan Paulus terhadap semua orang percaya sepanjang jaman. Sekarang kita buka kepada 1 Kor.14:2 ada tiga kata penting yang memberitahukan kepada kita bahwa prophecy dan glosolalia itu memiliki signifikansi sebagai “the mode of revelation” atau instrumen bagi Allah menyampaikan firmanNya, yaitu kata “misteries, revelation, dan firman Allah.” Bandingkan dengan Ef.1:9 dan 1 Kor.14:30.

Maka sdr akan mengerti mengapa Paulus berharap kalau bisa sebanyak-banyaknya orang mendapatkan karunia prophecy karena di situ berarti mereka mendapatkan revelation dari Tuhan. Tetapi di pihak lain Pauluspun menyadari karena ini adalah karunia, tidak semua orang bisa memperolehnya. Maka di ayat 1 Kor.14:32 Paulus memberi pagar: karunia prophecy hanya belongs to the prophets, tidak kepada semua orang. Kenapa saya mengatakan prophecy itu sekarang tidak ada lagi? Karena Alkitab memberitahukan kita dengan jelas prophet atau nabi itu sudah tidak ada lagi. Itu sebab kalau prophet sudah tidak ada lagi, maka saya percaya prophecy as the mode of revelation itu Tuhan tidak pakai lagi. Ef.2:20 mengatakan ”...Gereja dibangun di atas dasar paa rasul dan nabi dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru.” Ini adalah Gereja. Fondasinya dibangun atas ajaran para rasul dan para nabi dan Yesus Kristus sebagai cornerstone. Apakah fondasi terus menerus muncul sepanjang sejarah Gereja? Tidak. Fondasi hanya terjadi satu kali di depan. Maka kita melihat konsistensi ini, begitu kitab Wahyu selesai, tidak ada orang yang berani menambahkan lagi.

Sekarang mari kita bandingkan Fil.1:1 dan Kol.1:1 memberikan kepada kita satu indikasi bahwa Paulus memiliki kesadaran yang penuh bahwa jabatan rasul itu tidak bisa ditransmisi dan jabatan rasul itu tidak bisa muncul lagi setelah dia mati. Dalam Fil.1:1 Paulus mengatakan ”...dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus” artinya dia menaruh posisi yang sama dengan Timotius yaitu sama-sama hamba Tuhan. Tetapi di dalam Kol.1:1 Paulus menulis ”...dari Paulus, rasul Yesus Kristus dan dari Timotius, saudara kita…” di sini dia jelas membedakan posisinya sebagai rasul sedangkan Timotius bukan rasul. Sedekat-dekatnya hubungan dia dengan Timotius, tetap jabatan rasul tidak bisa diteruskan kepada Timotius. Tidak bisa di-transfer. Itu adalah satu kesadaran bahwa jabatan kerasulan itu tidak akan continuous. Maka kembali lagi kepada Ef.2:20, Gereja dibangun di atas fondasi para rasul dan para nabi. Prophecy di PL itu penting karena itu adalah wahyu Tuhan melalui nabi-nabi yang menyatakan firman Allah. Maka Paulus mengatakan kepada Timotius, teruskan dan ajarkan apa yang sudah Paulus sampaikan kepadanya. Maka semua Gereja yang berdiri di atas fondasi ini memegang Alkitab sebagai firman Tuhan yang lengkap, kita hanya boleh mengkhotbahkan dan tidak lagi menambahkan karena Alkitab ini sudah cukup. Personal prophecy mengandung unsur yang berbahaya karena buat mereka berarti Alkitab ini tidak cukup.

Saya harap sdr memperhatikan mengapa kita memakai ‘the way of wisdom’ di dalam kita berjalan mengikut Tuhan, seperti Mazmur 119 mengatakan biar pikiran kita dipenuhi oleh kitab suci. Merenungkannya dan menjadi bijaksana. Pertimbangan yang berdasarkan firman Allah menjadikan kita lebih bijaksana daripada orang tua. Firman Tuhan menjadi otoritas tertinggi yang kita baca dan renungkan. Itu cukup menjadi cara Tuhan memimpin hidup kita, tidak perlu ditambah lagi dengan yang namanya personal prophecy. Saya prihatin karena banyak orang Kristen di dalam mengambil keputusan di dalam hidupnya tidak memiliki konsep yang tepat. Kebanyakan orang mengambil keputusan berdasarkan feeling perasaan, rasa senang, damai, lalu baru ambil keputusan. Ada orang tunggu Tuhan “buka pintu,” kalau jalannya lancar itu berarti dari Tuhan. Kalau terus pakai cara seperti ini kita tidak akan pernah berani ambil keputusan yang beresiko di hadapan Tuhan. Lalu ditambah lagi dengan konsep personal prophecy, orang mau melanjutkan sekolah, menikah, memilih pekerjaan, dsb perlu tunggu personal prophecy. Itu tidak benar. Yang benar adalah bagaimana Tuhan memimpinmu dengan firmanNya, merenungkannya, mencari dan menemukan prinsip-prinsip kebenaran dan ambil keputusan di hadapan Tuhan dengan bertanggung jawab. Dengan demikian berarti kita meninggikan Alkitab sebagai kebenaran yang paling tertinggi di dalam hidup kita.(kz)