Karunia membedakan merupakan karunia yang penting di dalam hidup orang Kristen. Panggilan kita untuk bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah merupakan panggilan yang membuktikan apakah iman kita dewasa atau tidak. Itu yang dikatakan oleh penulis surat Ibrani ini. Seorang Kristen yang dewasa adalah seorang Kristen yang memiliki panca indera yang terlatih untuk bisa membedakan mana yang benar dari yang salah.
Dalam hidup kita sehari-hari kita sendiri juga harus peka akan hal-hal seperti itu. Bukankah sdr dan saya “cerewet” waktu memilih siapa yang pantas menjadi suami atau isteri kita, bukan? Itu wajar, karena itu merupakan pilihan yang paling penting di dalam hidup kita. Kita tidak bisa bilang kawin sama siapa saja terserah. Semua itu harus kita pilih dan harus kita pilih dengan bijaksana. itu adalah tuntutan realita hidup kita sehari-hari. Cuma sayangnya begitu banyak orang Kristen masuk ke gereja, dengar khotbah, baca buku, sama sekali tidak memiliki tuntutan seperti itu. Ada orang mengatakan tidak boleh menjadi orang Kristen yang suka mencari-cari yang salah seperti itu, karena itu berarti dia memiliki roh pemecah. Buat saya kalimat itu bodoh sekali. Di dalam hidup sehari-hari kita sudah menggunakan prinsip dengan teliti memilih sesuatu karena kita tahu tidak semua barang itu sama dan kita tidak mau membeli barang palsu dengan harga semahal barang asli. Kalau di dalam kehidupan rohani kita tidak memiliki sikap seperti itu, maka saya katakan itu bukan soal bodoh atau pintar tetapi itu adalah soal ignorance seseorang di dalam Kekristenan dan itu tidak boleh ada di dalam hidup kita. Dalam 1 Tim.6:20 Paulus mengingatkan Timotius bahwa kita dipanggil Tuhan sebagai “the guardian of God’s treasure.” Kita dipanggil oleh Tuhan sebagai ‘satpam-satpam’ rohani dan kita akan bersalah kepada Tuhan kalau kita menjadi satpam yang tidak baik-baik menjaga harta itu sehingga dicuri dan dirusak orang. Penulis surat Ibrani mengatakan orang Kristen dewasa harus bisa membedakan mana yang benar dari yang salah. Kenapa kita tidak suka melakukan hal itu? Minggu lalu saya sudah menyebutkan dua point yang penting. Pertama, karena tidak semua orang Kristen ingin menjadi orang Kristen yang tidak populer. Mau membedakan itu berarti kita bersiap hati untuk mengatakan ini benar dan itu salah. Orang Kristen lebih suka menjadi orang baik ketimbang menjadi orang benar. Maka banyak yang tidak ingin mengambil sikap seperti itu.
Kedua, karena kita memiliki ajaran Kekristenan yang tidak bersifat netral. Alkitab mengatakan ada si Jahat yang bersifat aktif mendatangkan counterfeit kepada iman Kristen, menciptakan yang palsu untuk mengecoh orang Kristen. Paulus bilang, Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang. Itu sebab kita dipanggil bukan untuk memecah-belah di antara orang Kristen tetapi kita dipanggil untuk tidak ingin membiarkan si Jahat masuk menciptakan pemecahan di antara orang Kristen. Pada waktu Petrus mengatakan suatu kalimat melarang Tuhan Yesus ke Yerusalem, seolah-olah sayang kepada Tuhan Yesus, Tuhan Yesus langsung berbalik memarahi Petrus dan menegur dia “Enyahlah engkau Iblis…” Yesus tetap sayang kepada Petrus tetapi pikiran dan pendapat Petrus itu adalah pikiran dan pendapat yang disusupi oleh si Jahat, itu yang Yesus tidak mau.
Yang ketiga, kenapa kita sulit melakukan spiritual discernment di dalam Kekristenan? Sebab Gereja berdiri di atas dunia yang juga tidak netral adanya. Maka Yesus berdoa di dalam Yoh.17 ”...Bapa, mereka bukan berasal dari dunia ini tetapi mereka masih tinggal di dalam dunia ini…” Inilah yang menjadi suatu hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Maka doa Tuhan Yesus kepada Bapa mengingatkan kita, Dia tahu kita sudah ditebus sebagai anak-anakNya tetapi kita masih tinggal di dalam dunia ini sehingga kita menghadapi tantangan dan bisa terinfeksi dari kuman dunia ini. Kita bisa terpengaruh oleh budaya dunia, kita menghadapi pikiran-pikiran yang tidak percaya Tuhan, kita juga menghadapi pikiran-pikiran yang mungkin bisa men-twist kebenaran Tuhan dengan cara yang halus dan semua itu berseliweran di tengah-tengah kehidupan kita. Maka bagaimana Gereja berdiri, dipanggil oleh Tuhan menjadi terang bagi dunia ini tetapi sekaligus bisa mawas diri terhadap infiltrasi dari bahaya dunia. Tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Maka panggilan untuk membedakan juga adalah satu panggilan meminta Gereja tetap bisa suci dan murni tetapi hati-hati terhadap segala tantangan budaya.
Beberapa waktu yang lalu ada satu gereja di Amerika mengiklankan satu kebaktian dengan judul “30 minutes Sunday Service: this service is just for you because your time is so valuable.” Bagi saya, memulai satu kebaktian atau memakai satu jenis musik untuk beribadah, bukan berangkat dari siapa yang akan datang berbakti di situ. Kita harus kembali kepada konsep theology of worship yang bagaimana. Ibadah itu adalah Tuhan memanggil kita datang menyembah dan berbakti kepadaNya. Ibadah itu bukan kita yang punya waktu yang di-spare buat Tuhan. Ibadah berarti God summoned you to come to worship Him. Kebaktian minggu artinya Tuhan memanggilmu datang berbakti. Ini adalah kebaktian-nya Tuhan, maka Tuhan yang set up kebaktian ini. Salahlah kalau kita bilang ”...waktumu begitu berharga, itu sebab kami men-set up kebaktian yang singkat ini.” Saya sedih luar biasa begitu membaca hal seperti itu terjadi, karena di situ kita menemukan konsep yang tidak tepat di dalam menyiapkan suatu kebaktian. Bolehkah kita set up satu kebaktian yang mirip dengan diskotik supaya anak-anak muda yang biasa datang ke diskotik jadi familiar dengan gereja? Bagi saya, kembali lagi sdr mesti punya konsep yang benar mengenai the theology of worship. Ibadah itu bukan soal apakah kuno atau modern. Anak muda harus hati-hati bicara konsep ini. Seringkali kita terjebak di dalam mendiskusikan soal etika benar atau salah dengan konsep kuno dan modern. Anak muda selalu berasumsi yang kuno pasti salah dan yang modern pasti benar. Itu keliru. Konsep ‘benar’ itu melintasi dimensi jaman dan waktu, bukan bicara soal kuno atau modern. Etika kita bukan soal kuno atau modern. Etika itu soal benar atau salah.
Kalau orang bilang “Wah, gerejamu ibadahnya sudah terlalu kuno seperti abad 17…” Hati-hati di dalam mendiskusikan hal seperti ini. Apakah kalau ibadah di gereja semuanya pakai gaya modern berarti semuanya benar? Kalau gedungnya modern, mimbarnya transparan, apakah berarti firmannya lebih ‘afdol’? Kalau gereja pakai gedung tua, bangkunya masih yang kayu semua, itu berarti salah? Itu adalah cara berpikir yang keliru dan tidak pernah dipikirkan dengan matang.
Bagi saya, di dalam sepanjang sejarah Gereja, ada hal yang benar dan yang benar itu melintasi dimensi waktu. Lagu-lagu hymn yang kita nyanyikan adalah lagu-lagu yang indah yang melintasi dimensi waktu. Orang bilang lagunya bikin ngantuk, persoalannya mungkin cara nyanyinya yang tidak benar, itu saja. Atau mungkin yang perlu kita perbaiki adalah beberapa kata yang tidak lagi dikenal oleh kita sekarang. Misalnya lagu “Rajakanlah Yesus” yang pakai kata “Domba di arasy-nya” orang sudah tidak tahu lagi apa itu “arasy” maka kita ganti menjadi kata “tahta.” Jadi lagu itu tetap menjadi lagu yang indah dan tetap relevan dinyanyikan.
Kenapa lagu jaman dulu tetap harus kita nyanyikan? Saya mempunyai beberapa argumentasi mengenai hal ini. Pertama, sdr kalau menyatakan Pengakuan Iman Rasuli ada satu kalimat “Aku percaya akan persekutuan orang kudus” berarti kita mengaku kita adalah part of fellowship of the believers yang berarti kita berbagian dengan orang percaya di masa lampau dan yang di masa yang akan datang. Itu pengakuan kita. Waktu kita mati nanti, di surga dan di langit dan bumi yang baru kita adalah bagian dari satu persekutuan orang percaya. Pertanyaan saya: dalam hal apa engkau dan saya menjadi bagian dari persekutuan orang-orang percaya itu? Saya punya penafsiran hanya ada dua hal yang penting dimana kita menjadi bagian dari persekutuan orang-orang percaya yaitu pertama, sampai kapanpun our confessions of faith are still the same, tidak pernah boleh berubah: we believe in God the Father, Son and Holy Spirit; dua ribu tahun yang lalu, seribu tahun yang lalu, lima ratus tahun yang lalu dan sekarang dan seratus tahun yang akan datang, ini adalah pengakuan iman yang tidak berubah. Kalau kita tidak mengaku akan hal itu, kita bukan bagian dari persekutuan orang-orang percaya. Yang kedua, kita menjadi bagian dari persekutuan orang-orang percaya adalah karena kita menyanyikan lagu-lagu yang sama. Maka bagi saya lagu-lagu lama tidak boleh dibuang dan lagu-lagu yang baru kita tidak boleh alergi. Maka kita harus melihat model ibadah yang lama yang theologically sound tidak boleh dibuang dan model ibadah yang baru mesti diadopsi dengan baik-baik dan teliti. Keduanya dipikirkan dengan baik-baik. Ibadah yang benar adalah ibadah yang God-centered bukan human-centered. Apa bedanya lagu Kristen dengan lagu yang bukan Kristen? Sdr harus punya theology of Church music yang benar. Semua ini hanya bisa ada di dalam hati kita kalau kita menjadi orang Kristen yang ingin bertumbuh dewasa. Tantangan ketiga, budaya bisa merembes masuk ke dalam Kekristenan sehingga ini menjadi tidak gampang dan perlu kehati-hatian di dalam menjaga Gereja Tuhan tetap mempertahankan identitasnya. Apa itu Gereja? Gereja adalah kumpulan orang-orang yang dipanggil Tuhan keluar dari dunia ini tetapi tidak boleh tidak relevan karena kita bukan tinggal di dalam satu ruangan yang steril dan tidak bersentuhan dengan pengaruh dari luar. Kita dipanggil untuk menjadi garam bagi dunia, tetapi kita tidak sama dengan dunia. Jangan pikir untuk menjadi sama dengan dunia supaya orang dunia bisa terima engkau, mungkin mereka malah mentertawakan orang Kristen yang seperti itu.
Seorang hamba Tuhan yang bernama James Montgomery Boyce sebelum meninggal dunia mengeluarkan satu kalimat yang bagi saya merupakan kalimat yang sangat penting dan terbukti kalimat dia benar sedang dialami oleh Kekristenan sekarang ini. Boyce mengatakan, “Inerrancy is not the most critical issue facing the Church today, it is the Bible’s sufficiency.” Maksudnya adalah Gereja sekarang tetap mengaku Alkitab ini firman Tuhan tetapi pada saat yang sama Gereja merendahkan Alkitab sebagai firman Tuhan. Gereja sekarang adalah Gereja yang menerima Alkitab ini sepenuhnya adalah firman Tuhan tetapi sekaligus Gereja sekarang boleh dikatakan merupakan Gereja yang paling minim memiliki pengetahuan akan Alkitab dibandingkan dengan orang Kristen di masa lalu. Mengapa? Salah satu gejala yang bagi saya kita hadapi pada masa kini adalah gejala begitu banyak orang Kristen yang kena pengaruh dari Post Modern yang sangat bersifat subyektif, sehingga pada waktu kita membaca Alkitab dan mencari kebenaran di dalam firman Tuhan, mereka mengatakan itu adalah hal yang tidak boleh kita lakukan. Kita tidak boleh melihat firman Tuhan seperti itu, karena itu adalah ‘Bibliolatry’ penyembahan kepada Alkitab. Bagi mereka, relasi kita dengan Alkitab itu harus seperti surat cinta yang Tuhan beri seperti dari pacar kita, maka yang terpenting adalah relasi kita dengan Tuhan sendiri. Sampai di sini kita harus hati-hati berpikir seperti ini. Tetapi realita gejala Kekristenan dewasa ini sudah banyak masuk ke dalam konsep ‘personal prophecy’ yang seolah mementingkan relasi kedekatan pribadi dengan Tuhan yang dimanifestasi dengan bagaimana Tuhan bicara secara pribadi kepada kita dan bukan lewat Alkitab lagi. Mereka mengatakan kalau engkau mencari kehendak Tuhan hanya dengan membaca Alkitab itu sama seperti engkau menghalangi Tuhan yang mau berbicara langsung kepadamu. Sekarang Tuhan mau bicara langsung kepadamu, secara personal Tuhan mau bilang ‘I love you’ tapi sdr lebih suka dengan suratNya saja, itu tandanya sdr lebih cinta Alkitab daripada cinta kepada Tuhan. Nampaknya seolah-olah dengan ilustrasi ini konsep mereka benar adanya. Tetapi ini adalah konsep yang keliru dan berbahaya. Dimana bahayanya? Saya percaya Tuhan sanggup berbicara dan berkomunikasi dengan kita dengan cara apapun, tetapi Tuhanpun memberikan patokan bagaimana Dia ingin berbicara kepada kita. Dalam Ibr.1: 1-2 Tuhan yang sejati sekarang mengatakan sarana Dia berbicara kepada umatNya adalah melalui hal-hal ini. Di luar cara itu, itu pasti bukan berasal dari Dia. Di dalam PL Tuhan datang berbicara kepada umatNya melalui para nabi dan dengan berbagai cara, melalui mimpi, penglihatan, dsb. Tetapi sekarang Tuhan memberi firman melalui AnakNya karena Dia adalah firman yang menjadi manusia. Dia adalah nabi yang terakhir dan yang terbesar karena Dia adalah firman yang menjadi manusia. Maka sekarang Tuhan berbicara kepada kita melalui Kristus dan sejak PB Tuhan Yesus mempersiapkan para rasul untuk menjadi orang-orang yang meneruskan apa yang Yesus ajarkan. Sebelum naik ke surga Yesus mengatakan Dia akan mengutus Roh Kudus untuk mengingatkan kita akan apa yang sudah Dia ajarkan kepada kita. Dengan cara seperti ini maka Tuhan membatasi dan memberi patokan yang jelas. Dia tidak akan datang dengan cara yang lain daripada itu. Artinya, kalau ada orang yang mengatakan sekarang Roh Kudus bicara kepada dia langsung mengenai ini dan itu, sdr mesti cek baik-baik, karena itu bukan cara yang sudah Tuhan berikan. Mengapa Tuhan harus memberi kita kitab suci? Karena ini harus menjadi otoritas yang tertinggi, yang absolut, yang mengukur segala sesuatu. Kalau saya datang kepada sdr dan mengatakan saya membawa tali yang panjangnya satu meter dan sdr juga membawa tali yang sdr bilang panjangnya satu meter, dan kalau ternyata panjang tali kita berbeda, maka kita berdua harus datang kepada standar meteran yang asli untuk melihat salah satu dari kita atau mungkin dua-dua kita salah. Kalau kita mengatakan ajaran ini dari Tuhan, dsb maka pertanyaan saya: bagaimana Gereja bisa membuktikan ajaran ini benar atau tidak, sdr perlu menghormati dan menjunjung tinggi otoritas kebenaran Alkitab sebagai standar satu-satunya yang mutlak.
Maka hari ini saya secara khusus membahas mengenai hal ini karena bagi saya kesalahan terbesar yang dibuat di dalam konsep mengenai prophecy diangkat oleh beberapa orang teolog Injili di dalam mendefinisikan prophecy, khususnya seorang hamba Tuhan yang bernama Wayne Groodem menulis buku Systematic Theology. Ada beberapa hal yang saya tidak setuju darinya. Pertama, konsep dia mengenai akhir jaman yang berbeda dengan konsep Reformed secara umum. Kedua, konsep dia mengenai Roh Kudus. Dan yang ketiga, konsep dia mengenai prophecy. Mengapa? Karena Groodem mengatakan prophecy adalah cara Tuhan bicara secara direct memberikan fresh word kepada hidupmu, tetapi di dalamnya bisa terjadi mixture antara God’s fresh direct revelation dengan human interpretation. Kebahayaannya dimana? Mereka percaya Tuhan berbicara kepada orang-orang tertentu memberikan fresh prophecy melalui mereka tetapi prophecy itu bisa menjadi kontradiksi karena penerima prophecy itu salah dengar. Itu adalah natur dari prophecy. Salah seorang di antara mereka sendiri mengatakan, ”...He only prophecies what he hears even if it is contradict of what God supposely said through another prophet.” Jadi pointnya kesalahan itu bukan kepada Tuhan yang memberikan fresh revelation itu melainkan kepada ketajaman telinga prophet yang mendengarnya dan interpretasi dia akan suara Tuhan itu.
Di sini ada tiga hal yang berbahaya. Pertama, orang make decision untuk hidupnya based on personal prophecy. Kedua, orang make decision based on perasaan. Kalau hati tenang dan damai baru ambil keputusan. Ketiga, orang make decision based on ‘open doors’ atau tidak. Ada orang baru ambil keputusan kalau jalan di depan lancar, berarti Tuhan mau. Begitu jalan tertutup, begitu ada kesulitan, kita pikir Tuhan tidak mau kita jalan di situ. Seumur hidup orang Kristen seperti itu tidak akan pernah mengambil keputusan yang beresiko dan kadang tidak kelihatan jalan di depan di dalam hidupnya karena selalu ‘play safe’. Apakah Tuhan kita seperti itu? Jawabannya, tidak. Itu sebab saya mengatakan jalan yang benar di dalam mengerti kehendak Tuhan adalah the way of wisdom. Tuhan tidak pernah mengabaikan pertimbangan ratio kita yang kita taklukkan kepada firman Tuhan dan takut akan Tuhan. Dalam Ul.18:15-22 dikatakan nabi adalah penyambung lidah Tuhan dan dia selalu hanya mengatakan “Thus saith the Lord…” dan tidak boleh bilang “I THINK this is God wants me to say to you…” Tidak pernah nabi di PL ngomong seperti itu. Nabi itu –pakai bahasa kita sekarang- dia adalah tape recorder Tuhan, dia harus bicara tepat sesuai yang Tuhan katakan kepadanya. Orang yang tidak mau mendengar firman yang diucapkan nabi itu, Tuhan akan menuntut pertanggung-jawaban dari dia. Tetapi Tuhan memberi warning, seorang nabi yang terlalu berani mengucapkan demi nama Tuhan perkataan yang Tuhan tidak katakan kepadanya, nabi itu harus mati. Bagaimana umat Tuhan punya patokan nabi itu bicara yang tidak sesuai dengan firman Tuhan? Ini kriterianya, bila perkataan nabi itu tidak terjadi dan tidak sampai, itu berarti bukan datang dari Tuhan.
Dalam 2 Pet.1:21 Petrus mengatakan sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah. Tidak pernah propechy itu keluar dari kehendak manusia.
Kesalahan Wayne Grudem adalah prophecy di PL itu punya “higher authority” karena itu diucapkan oleh nabi dengan otoritas “thus saith the Lord…” tetapi di PB kata Grudem propechy itu lebih “lower” karena di situ ada unsur kesalahan manusia. Hati-hati. Dua ayat yang baru saja kita baca di atas tidak memberi indikasi seperti ini. Alkitab tidak memberi indikasi ada perbedaan derajat otoritas di dalam konsep prophecy. Bedanya nabi asli dan nabi palsu jelas, nabi asli mengeluarkan prophecy maka semua yang dia ucapkan pasti tergenapi. Tidak ada konsep “salah sedikit” karena sedikit saja salah, itu berarti dia nabi palsu. Sekarang, kalau ada pendeta mengaku mendapat prophecy dan terjadi mix kesalahan di situ, saya akan kejar lebih dalam kepada dia, bukankah Petrus bilang prophecy itu adalah dorongan dari Roh Kudus? Bagaimana you berani mengatakan ‘it’s OK kalau ada detail yang salah…’? Kalau memang ada yang salah, itu membuktikan you bukan nabi asli. Lalu bagaimana you tanggung jawab di hadapan Tuhan? (kz)