GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
31
May

Hidup yang Mengucap Syukur

Pdt. Budy Setiawan MDiv.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: May 31, 2009
Nats: Rom.1:18-21, Mzm.30:1-13

Hari ini saya akan mengajak sdr untuk mempelajari satu hal yang sangat penting di dalam Alkitab walaupun mungkin kita sudah sering mendengarnya yaitu tentang hal bersyukur kepada Tuhan di dalam kehidupan yang masih Tuhan berikan sebelum waktu itu lewat. Kita perlu menjalani hidup yang bersyukur, namun pagi ini kita akan memikirkannya lebih mendalam lagi. Di dalam Rom.1 Paulus mengatakan bersyukur itu merupakan satu hal yang sangat penting di dalam kehidupan kita. Perbedaan antara orang Kristen dan yang bukan Kristen terletak di dalam hal ini, bukan karena kita mengenal Allah dan mereka tidak, tetapi mereka mengenal Allah dan tahu tentang Allah baik dari segala ciptaan, dari hati nurani namun demikian mereka tidak memuliakan Allah dan tidak mengucap syukur kepadaNya. Jadi perbedaannya bukan dalam hal tidak kenal Allah walaupun jelas mereka mengenal Allah secara common grace atau secara general revelation, mereka paling tidak tahu adanya sang Pencipta dari segala sesuatu, namun mereka tidak memuliakan Allah dan mengucap syukur kepadaNya. Ini menjadi hal yang sangat penting di dalam kehidupan kita, itulah yang membedakan orang Kristen dan orang non Kristen.

Kalau kita kembali ke dalam kitab Kejadian, pada waktu Tuhan menciptakan segala sesuatu, sebenarnya Tuhan sudah memberikan satu pola melalui apa yang sudah Ia kerjakan di dalam karya, satu pola yang sangat penting yang menekankan inti hal mengucap syukur kepada Tuhan. Di dalam kehidupan kita mengucap syukur adalah satu hal yang sering kita lakukan, baik kepada Tuhan melalui doa kita, maupun ucapan terimakasih kepada orang-orang lain. Sejak kecil kita tahu sebenarnya mengucapkan terimakasih itu tidak datang secara alamiah dari diri kita. Sdr yang punya anak pasti mengajarkan anak kita untuk bilang terimakasih. Kalau mereka mendapat sesuatu, mereka harus bilang terimakasih atas pemberian itu. Tetapi kita sebagai orang dewasa, kita memang bilang terimakasih , mungkin karena etika kesopanan, mungkin karena kebiasaan, namun bagaimana dengan hati yang sungguh-sungguh mengucapkan terimakasih dan syukur keluar dari hati kita yang paling dalam, itu menjadi hal yang sangat susah sekali terjadi.

Ada seorang gadis yang selalu bilang terimakasih dengan gampangnya kepada siapa saja dan terhadap apa saja. Sedikit-sedikit selalu bilang terimakasih. Bahkan waktu polisi memberi denda kepada dia karena speeding, dia bilang terimakasih. Akhirnya seorang temannya yang sangat sebal dengan kebiasaan itu menegur dia untuk tidak selalu bilang terimakasih karena perkataan itu akhirnya sama sekali menjadi tidak ada artinya lagi. Setelah mendengar teguran dia, gadis ini lalu berkata, “Wah… kamu sudah menegur saya, terimakasih ya.”

Kalau kita melihat Kejadian 1 di dalam karya penciptaan hingga pada puncaknya kita melihat satu pola yang ternyata dipakai di dalam ilmu management dan perencanaan bisnis. Waktu Tuhan menciptakan langit dan bumi satu demi satu hingga selesai, kita menemukan ada step-step yang sangat baik. Yang pertama, Allah merencanakan. Walaupun hal ini dinyatakan secara eksplisit di dalam kitab Kejadian, tetapi jelas kita percaya Tuhan tidak melakukan hal itu dengan sembarangan. Ada rencana di dalam hikmat bijaksana Tuhan yang tertinggi sebelum Dia menciptakan segala sesuatu. Ada rencana Tuhan di dalam kekekalanNya merencanakan. Lalu yang kedua, Dia mulai menciptakan dan membuat sistem. Dia menjadikan terang, cakrawala, dsb. Yang ketiga, Tuhan kemudian mengisi sistem ini dengan ciptaanNya Tuhan mengisi langit dengan bintang-bintang dan planet, mengisi lautan dengan ikan dan binatang laut, mengisi daratan dengan tumbuhan, mengisi semuanya. Dan terakhir Dia menciptakan manusia. Kalau kita melihat di akhir dari proses penciptaan itu maka Tuhan melihat semuanya amat baik adanya. Dia bersuka atas ciptaanNya, bersuka atas karyaNya yang besar, bersuka atas segala keindahan, kekompleksan dan keharmonisan yang Tuhan kerjakan. Ini kemudian menjadi pola dari hidup manusia dan dalam kehidupan kita sebagai orang di tengah-tengah dunia ini. Kita merencanakan, membuat sistem, mengisi sistem dan kemudian mengevaluasinya. Ada kekurangan, ada kesalahan, ada kelebihan, ada kebaikan, maka kemudian mengulang lagi dari atas, merencanakan, membuat sistem, menjalankannya dan kemudian mengevaluasinya. Tetapi kalau sdr melihat apa yang Tuhan kerjakan di dalam Kej.2 maka Tuhan tidak berhenti kepada evaluasi. Ketika Tuhan melihat semuanya, memang Tuhan kemudian mengevaluasi dan berkata, “Ini sungguh amat baik adanya.” Tuhan bersuka atas ciptaanNya. Namun Tuhan tidak berhenti sampai di sana. Ada satu point yang terakhir yang sebenarnya banyak kehilangan di dalam hidup kita dan juga di dalam kehidupan orang-orang di tengah-tengah dunia ketika Tuhan selesai menciptakan segala sesuatu Tuhan masuk ke dalam hari yang ketujuh, di situ Alkitab mengatakan Allah berhenti dari segala pekerjaan menciptakan. Allah memberkati hari ke tujuh itu dan mengkuduskannya. Di situlah kemudian di dalam hidup orang-orang Israel dan kita sebagai anak-anak Tuhan seharusnya menjadikan ini sebagai pola kehidupan kita. Setelah bekerja, setelah merencanakan, membuat, melakukan, mengevaluasi, kita tidak berhenti sampai di situ tetapi berhenti pada Sabat. Kita sudah bekerja selama enam hari, maka pada hari ke tujuh kita mengkhususkannya untuk beribadah kepada Allah dan mengkuduskannya. Ini menjadi hal yang sangat penting bahkan bagi seluruh kehidupan kita di dalam surat Ibrani dikatakan selama hidup di dalam dunia ini kita mengalami “Sabat kecil” namun secara global seluruh kehidupan kita menantikan Sabat yang terakhir, Sabat yang terbesar, ketika kita berhenti dari segala pekerjaan di dalam dunia ini dan mendapati hari ketujuh itu sebagai Sabat teragung dimana kita boleh bersekutu dan beribadah kepada Tuhan, boleh memuliakan Dia seumur hidup kita sampai selama-lamanya. Itu menjadi pola dari kehidupan kita. Mengucap syukur menjadi satu hal yang sangat penting yang tidak boleh tidak ada di dalam kehidupan kita, bahkan menurut penulis Ibrani, untuk itulah kita diciptakan, untuk hari ke tujuh itu, dimana kita boleh bersekutu dan memuliakan Tuhan selama-lamanya.

Mzm.30 mengajar kita bagaimana kita boleh bersyukur kepada Tuhan, bagaimana kita boleh menaikkan pujian kepada Tuhan, bagaimana kita boleh menaikkan syukur dari dalam hati kita yang paling dalam yang boleh berkenan kepada Tuhan. Di ayat 2-6 pemazmur memuji Tuhan karena melihat bagaimana Tuhan adalah Tuhan yang beranugerah di dalam kehidupan kita. Ini adalah dasar pertama mengapa kita mengucap syukur. Di dalam segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari pemazmur mengkaitkannya kepada Tuhan. Tuhan yang mengangkat dia, Tuhan yang menolong dia, Tuhan yang memberi kehidupan kepada dia, karena itu dia menyanyikan mazmur dan syukur kepada Tuhan. Ini adalah point yang sebenarnya sudah kita tahu, tetapi kita perlu diingatkan terus dan perlu memikirkan lebih dalam bagaimana kita boleh bersyukur kepada Tuhan, melihat Tuhan yang beranugerah, melihat kebaikan Tuhan begitu besar, yang kita jelas-jelas tidak boleh take it for granted di dalam kehidupan kita. Hidup kita singkat, hidup kita berharga di hadapan Tuhan. Biar kita melihat itulah anugerah Tuhan yang besar. Waktu kita melihat pekerjaan Tuhan, kesempatan yang Tuhan berikan, pertolongan yang Tuhan berikan, maka sesungguhnya kita boleh menghargai setiap waktu, setiap saat dan kita boleh bersyukur kepada Tuhan untuk segala hal yang baik yang Tuhan sediakan di dalam kehidupan kita. Yang kedua, pada waktu kita melihat Mzm.30 ini kita boleh mengerti bagaimana pemazmur tidak bicara dengan sembarangan. Kita tahu pada waktu pemazmur menyatakan ucapan syukur, menyanyikan mazmur bagi Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan, itu menjadi satu syukur yang keluar dari hatinya yang paling dalam, hati yang meluap melihat pekerjaan Tuhan dan anugerah Tuhan yang begitu besar. Bagaimana kita boleh mengekspresikan dan mengerti bagaimana pemazmur itu menyatakan satu heartfelt gratitude kepada Tuhan, kita bisa melihat hal itu melalui bagaimana dia menceritakan akan pekerjaan Tuhan dengan menceritakan pekerjaan Tuhan, karya Tuhan di dalam kehidupannya. Waktu dia berkata di ayat 7, pemazmur menceritakan karya Tuhan bukan sekedar dengan menyatakan terimakasih tetapi dia menceritakan secara detail pekerjaan Tuhan itu di dalam kehidupannya. itu menyatakan kepada kita hati yang bersyukur kepada Tuhan. Kalau kita membaca Mzm.18, kita melihat pemazmur sepanjang 42 ayat menceritakan HIS story, God story di dalam kehidupan dia, dikaitkan dengan pekerjaan Tuhan, khususnya dikaitkan dengan bagaimana Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, lalu dikaitkan dengan kehidupan yang dia alami sehari-hari. Dengan demikian kita menyatakan hati yang bersyukur kepada Tuhan.

Seorang pendeta mengatakan setiap kali dia mendatangi orang di rumah sakit, biasanya dia yang mendoakan si sakit itu, tetapi suatu kali dia bertemu dengan seorang ibu yang setelah sembuh lalu berdoa begitu indah, menceritakan segala pekerjaan Tuhan di dalam hidupnya begitu panjang di dalam doanya. Pendeta itu begitu berkesan sekali dengan doanya dan sekali lagi belajar bagaimana bersyukur kepada Tuhan. Dia tersentuh sekali hatinya mengerti bagaimana ibu ini betul-betul bersyukur kepada Tuhan, menyatakan dengan heartfelt gratitude kepada Tuhan, menceritakan segala pekerjaan Tuhan di dalam kehidupannya.

Demikian juga biarlah kita boleh menyatakan heartfelt gtatitude, hati yang bersyukur kepada Tuhan dengan menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Pada waktu kita bukan hanya menyatakan terimakasih atas apa yang sudah Tuhan lakukan, tetapi kita juga menceritakan dengan detail, maka di situ Tuhan berkenan melihat hati kita yang sungguh-sungguh bersyukur kepada Dia dan memuliakan Dia. Itulah tujuan dari kita menceritakan pekerjaan Tuhan, meninggikan dan memuliakan Dia dan Allah ditempatkan di tempat yang paling tinggi dan paling berharga di dalam kehidupan kita. Bagaimana kita menyatakan Dia yang paling tinggi? Salah satunya pemazmur mengajarkan kepada kita dengan menceritakan pekerjaan Tuhan. Saya rasa itu adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan kita karena kita terus hidup di dalam dunia dengan segala kesibukan sehari-hari kita seringkali tidak sadar hidup Kristen kita, bahwa kita benar-benar percaya kepada Tuhan, beriman kepada Dia. Tetapi betulkah seperti John Piper mengingatkan kita bahwa pertanyaan yang paling penting: Apakah kita bersuka di dalam Dia? Apakah Tuhan menjadi our most treasure in our life, yang paling utama dan paling penting dan paling berharga, yang menjadi sumber dari segala sesuatu? Ataukah kita menjadi orang Kristen yang sudah kehilangan sukacita dan syukur di dalam Tuhan. Itu adalah hal yang tidak boleh ada di dalam hidup kita. Kalau kita tidak bersuka, tidak bersyukur kepada Tuhan, maka sesungguhnya kita akan mencari kesukaan di tempat lain. C.S. Lewis juga mengatakan kalau kita menjadi orang Kristen yang tidak bersukacita di dalam Tuhan, kalau Tuhan tidak menjadi sumber dari sukacita dan ucapan syukur kita, maka sesungguhnnya kita menjadi seperti anak kecil yang suka main di lumpur yang kotor dan becek dan tidak pernah tahu berapa sukacitanya bermain dipantai yang berpasir putih. Itulah hidup orang Kristen yang tidak menjadikan Tuhan sumber sukacitanya. Kita ikut kebaktian, ikut persekutuan doa, membaca Alkitab, tetapi sesungguhnya kalau di dalam hati kita yang paling dalam itu semua tidak menjadi sukacita kita yang paling dalam.

Mzm.84 menyatakan betapa hati pemazmur yang menyatakan sedalam-dalamnya betapa indahnya tempat tinggal Allah, seperti tanah yang kering jiwaku merindukan Allah hingga terkapar karenanya. Bisakah kita memiliki hati yang seperti itu juga? Bisakah kita berkata seperti pemazmur, aku rindu sampai hampir mati untuk bertemu Engkau dan datang ke hadiratMu, menghampiri tahta Tuhan. Kalau itu tidak terjadi di dalam kehidupan kita, sesungguhnya kita pasti akan mencari sukacita di tempat lain karena manusia mengejar sukacita dan kebahagiaan. Tidak ada orang yang tidak mengejar kebahagiaan, tidak ada orang yang tidak mengejar sukacita. Blaise Pascal mengatakan semua orang melakukan itu, bahkan orang yang membunuh diri pun dalam konteks sedang mengejar sukacita. Kita pikir orang yang bunuh diri pasti orang yang depresi dan ingin lepas dari beban yang terlalu berat yang dipikulnya dan dia ingin mengejar sesuatu yang dia pikir lebih bahagia daripada apa yang dia alami sekarang ini. Tidak ada orang yang ingin melakukan sesuatu yang membuat hidupnya miserable. Apa yang kita rencanakan, kita pikir, kita lakukan, kita kerjakan, kita berjuang untuk membuat kita bersukacita di dalam hidup kita. Maka Alkitab mengajarkan biarlah sukacita kita yang tertinggi adalah bukan kepada sukacita apapun yang pada dirinya sendiri kita nikmati. Kita boleh menikmati makanan yang enak, menikmati keluarga, menikmati rumah yang Tuhan berikan, menikmati lingkungan yang baik, itu semua pada dirinya sendiri tidak bersalah. Tetapi biarlah sukacita dan ucapan syukur kita yang tertinggi dalam Alkitab bukan di dalam segala hal itu melainkan di dalam God, the Giver Himself. Westminster Catechism mengatakan, what is the achieve end of men? To glorify Him and to enjoy Him forever. Bersukacita, memuliakan Dia dan bersuka menikmati Allah untuk selama-lamanya. Itulah yang ingin saya ajak sdr merenungkan dan memikirkan, bagaimana kita didorong sekali lagi bersuka di dalam karyaNya yang begitu besar, bahkan bukan hanya bersuka di dalam segala hal yang boleh kita terima di dalam dunia ini, tetapi di dalam Tuhan, di dalam kehendakNya, di dalam kemuliaanNya.

Point yang terakhir, saya mengajak sdr boleh melihat sukacita kita pada waktu kita bersuka dan bersyukur kepada Dia, bukan hanya untuk menyenangkan Tuhan dan membawa kemuliaan bagiNya, tetapi sesungguhnya kita juga mendapatkan kebaikan di dalam kehidupan kita. Pada waktu kita bersyukur kepada Tuhan, itu bukan hanya untuk kemuliaan Tuhan tetapi juga untuk kebaikan kita. Kalau di dalam kehidupan kita mengalami banyak beban, kesulitan, sakit, penderitaan, kematian, dsb kita terlalu banyak mengalami hal-hal seperti itu, apalagi kalau kita melihat secara lebih luas lagi di dalam dunia ini dengan segala macam kesulitan, penyakit, perang, nuklir, dan begitu banyak penderitaan. Bagi kita orang-orang Kristen itu semua bisa membuat kita down dan overwhelm dengan segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi. Bersyukur kepada Tuhan membawa kita untuk boleh didorong dan dikuatkan untuk tidak jatuh dan tidak bisa berbuat apa-apa tetapi kita boleh terus bekerja di tengah-tengah segala kesulitan dan tantangan yang begitu besar yang kita hadapi di dalam dunia ini dan di dalam hidup kita sebagai orang-orang Kristen. Waktu kita sakit, waktu kita mengalami segala kesulitan, itu membuat dan mendorong kita untuk mengangkat hati kita, membuat kita menjadi seorang yang mendapat kekuatan yang baru, pimpinan yang baru, dorongan dari Tuhan. Kita bersyukur dan mengingat akan berkat Tuhan dan pertolongan Tuhan, akan berapa besarnya Tuhan itu di dalam kehidupan kita.

Lagu “Count Your Blessing” mengingatkan kita waktu kita mengalami kesulitan di dalam hidup, biarlah kita menghitung berkat Tuhan satu-persatu. Betul, ketika ada kesulitan dan gelombang kehidupan itu tidak membuat kita putus asa dan self pity ketika kita mengalaminya, tetapi kita bersyukur kepada Tuhan melihat pekerjaan Tuhan. Di dalam bagian ini pemazmur menceritakan juga bagaimana dia pernah merasa hebat dan tidak akan goyah, tetapi Tuhan menyembunyikan wajahNya membuat dia terkejut. Tetapi dia kembali kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan dan bersyukur kepadaNya. Apapun yang sedang sdr alami saat ini, baik kesulitan maupun penderitaan, kalau kita bersyukur menghitung pertolongan Tuhan, menghitung berkat Tuhan satu-persatu pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita, bukan hanya untuk memuliakan Tuhan tetapi jiwa kita, hati kita, roh kita, boleh tercengang akan karya Tuhan. Hati kita boleh terdorong untuk boleh taat dan terus bersyukur karena kita boleh mengingat pekerjaan Tuhan, kita boleh menghitung berkat Tuhan, kita boleh bersyukur untuk setiap karya Tuhan, untuk setiap penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Itu akan mendorong hati kita bersyukur sekali lagi kepada Tuhan.

Di Melbourne ada satu bapak sedang menjalani radiasi untuk mengobati kanker, satu proses yang panjang dan sulit bagi dia. Radiasi itu merusak kelenjar ludahnya, membuat dia susah makan dan minum. Saya terus menguatkan dia untuk tidak down, tetapi mengingatkan dia akan berkat Tuhan, boleh mengingat penyertaan Tuhan, boleh memuji Dia, boleh bersyukur kepadaNya. Maka itu bukan hanya berkenan kepada Tuhan tetapi juga membuat jiwanya bertumbuh dan bersyukur lebih dalam. Ada kekuatan yang baru. Ketika beban berat menimpa, ingat pekerjaan Tuhan dan ingat anugerahNya. Kita akan tercengang dan memuji Tuhan seumur hidup kita.

Maukah sdr menjalani hidup yang bersyukur kepada Tuhan? Biarlah sejak hari ini ke depan kita boleh terus mengingat dan bersyukur kepada Tuhan. Paulus berkata, bersyukurlah kepada Tuhan senantiasa, karena itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus. Mengucap syukurlah di dalam segala hal, bersukacitalah kepada Tuhan, sekali lagi kukatakan, bersukacitalah di dalam Tuhan. Ketika kita bersyukur maka hati kita akan penuh dengan sukacita yang melimpah. (kz)