GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
24
May

Decision Making in the Way of Wisdom (3)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: May 24, 2009
Nats: Kolose 1:9-14

Minggu lalu saya mengakhiri khotbah dengan satu ilustrasi mengenai seorang yang hendak pergi ke airport untuk berangkat dari Jakarta ke Banjarmasin untuk menghadiri satu bisnis meeting yang beromset milyaran rupiah. Di dalam perjalanan ke airport dia marah-marah kepada supir taxi karena memilih jalan yang sangat macet sehingga akhirnya terlambat 15 menit dari jadwal penerbangannya. Sampai di airport, ternyata pesawat yang harus dia tumpangi sudah terbang. Akhirnya karena ketinggalan pesawat, dia harus menunggu jadwal penerbangan yang berikutnya. Selama menunggu pesawatnya, dia bersungut-sungut mempersalahkan supir taxi kenapa memilih jalan yang macet dan mempersalahkan pilot Garuda yang kali ini berangkat on time sehingga dia ketinggalan pesawat. Sambil menggerutu, dia juga mulai bertanya-tanya mempersalahkan Tuhan kenapa Tuhan membuat dia menghadapi situasi seperti ini. Apakah Tuhan tidak mau bisnisnya lancar? Sambil menggerutu dan marah-marah, tiba-tiba dia mendengar satu announcement di airport yang menyatakan bahwa pesawat yang dalam perjalanan menuju Banjarmasin ternyata jatuh di tengah laut karena cuaca yang buruk dan kemungkinan besar tidak ada yang selamat. Ketika dia menyadari bahwa dia terluput dari maut, barulah dari marah-marah berubah menjadi haleluya dan mulai flash back. Puji Tuhan, untung jalanan macet, sehingga saya ketinggalan pesawat. Puji Tuhan, saya tidak naik pesawat itu sehingga tidak mati.

Illustrasi itu hanya ingin memberitahukan kepada kita di dalam perjalanan hidup ini kita bisa tahu bahwa Tuhan sungguh pimpin lebih bersifat retrospektif daripada bersifat dibukakan lebih dulu sehingga kita mengetahui sebelumnya. Jadi sesudah peristiwa lewat barulah kita tahu bagaimana Tuhan pimpin kita.Pada waktu peristiwa yang tidak baik dan tidak enak terjadi, mungkin kita bisa bersalah mempertanyakan kebaikan Tuhan di situ. Tetapi setelah lewat mungkin satu tahun, lima tahun, dsb lalu sdr retrospeksi sdr bisa melihat di situ ada tangan Tuhan memimpin dan menyertai. Tetapi persoalannya adalah banyak orang Kristen ingin Tuhan kasih tahu di depan supaya bisa mengambil jalan yang aman dan lancar. Orang paling mau kalau Tuhan memberi tanda-tanda sehingga dia bisa menghindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kita mau Tuhan pimpin kita seperti itu, kalau bisa langkah-langkah di depan Tuhan buka kasih tahu kepada kita, supaya kita bisa mencari jalan yang baik.

Yang kedua, seringkali cara yang kita pakai untuk mengetahui bahwa kita berjalan di dalam pimpinan Tuhan itu dengan dua cara, yaitu pertama kalau perasaan hati kita damai waktu mau mengambil satu keputusan, dan kedua kalau Tuhan buka jalan sehingga kesempatan terbuka lebar. Mengurus ini dan itu semuanya lancar maka kita ambil konklusi itu adalah pimpinan Tuhan. Kalau pakai patokan sepertiitu maka seumur hidup kita tidak akan berani mengambil keputusan-keputusan yang signifikan di dalam hidup kita. Tidak berarti karena takut lalu tidak ambil keputusan, bukan? Sdr mengambil keputusan yang penting untuk pindah kota, sdr mengambil keputusan penting untuk menikah, sdr mengambil keputusan yang penting mengambil satu pekerjaan, dsb pasti ada unsur takutnya di situ. Hati kita tidak tenang karena banyak hal di depan kita tidak tahu.

Itu sebab hari ini saya ingin mengajak sdr melihat Kol.1:9-14 menjadi satu rangkaian pikiran rasul Paulus yang membawa kita untuk mengerti konsep mengenal kehendak Tuhan dengan luar biasa. Di ayat 9 setelah Paulus mendengar bagaimana jemaat di Kolose menjadi percaya, dia tidak henti-henti berdoa untuk mereka supaya mereka menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Maka ini point pertama saya katakan the way of wisdom to understand God’s will. Orang sering gampang bilang ini kehendak Tuhan, tetapi pada waktu ditanyakan lebih lanjut bagaimana dia tahu dengan pasti dia pakai dua cara tadi, yaitu rasa damai dan ada kesempatan terbuka. Paulus mengingatkan bahwa Tuhan tidak selalu mengontraskan pikiran Dia dengan pertimbangan manusia. Tuhan tidak menganulir pertimbangan ratio kita, itu sebab Paulus bilang setelah kita percaya Tuhan, biarlah pikiran dan pertimbangan kita disucikan oleh firman Tuhan. Maka bagaimana caranya? Pakai pertimbangan bijaksana dan spiritual understanding sehingga kita bisa memilih yang terbaik dan yang paling urgent dan yang terindah di dalam hidup. Itu berarti setelah saya memakai ratio dan pertimbangan saya, saya mau berjalan di dalam kehendak Tuhan dan saya mau mengenal kehendak Tuhan itu dengan sempurna untuk hidupku. Namun bukankah kita sering pikir, keputusan yang saya ambil ini adalah keputusan hidupku, apa yang aku mau di dalam hidupku. Kalau pakai logika seperti ini, maka mestinya di ayat 10 Paulus bilang “sehingga semua yang engkau lakukan di dalam hidup ini menjadi berhasil dan sukses dan baik bagimu.” Tetapi Paulus tidak bilang seperti itu. Bukan berhasil, sukses dan prosper yang terpenting di dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya dia bicara 3 hal, yaitu biar setiap keputusan yang kita ambil itu: pleasing God, fruitful to others and increase the knowledge of God. Biar segala keputusan yang kita ambil itu berkenan kepada Allah, berbuah bagi orang lain dan biar relasi kita bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah yang lebih dalam. Sampai di sini, saya pikir dalam-dalam. Waktu kita bicara mengenai God’s will orang seringkali jatuh terjebak di dalam dua pertanyaan: Apa yang Tuhan mau bagi hidupku? Itu bicara mengenai WHAT. Lalu pertanyaan kedua: Bagaimana saya tahu pimpinan Tuhan di situ? Itu bicara mengenai HOW. Tetapi banyak orang lupa mengajukan satu pertanyaan yaitu WHY. Orang tiap kali datang kepada saya, dengan what dan how, lupa satu aspek mengenai why. Tidak salah kita bertanya what dan how, tetapi ayat 10 ini membawa hati kita pada waktu memilih sesuatu, bukan saja ada pertimbangan ratio, tetapi ada satu aspek yang tidak bisa dilihat di permukaan yaitu aspek motivasi hati kita di dalam mengambil satu keputusan. Ayat 10 bicara mengenai hal itu. Sigmund Freud setelah mengamati kejiwaan orang akhirnya berkesimpulan all human hearts are selfish. Hanya memikirkan diri sendiri. Dalam Yer.17:9-10 mengatakan akibat kejatuhan dosa ini adalah kesimpulan definitif Alkitab mengenai hati manusia. Hati manusia sudah begitu rusak, tetapi problemnya adalah no one can tell. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa Allah mengenal hati setiap orang.

Siapa manusia yang bisa mengetahui isi hati orang lain? Tidak ada yang bisa, bukan? Nabi Samuel saja bisa terkecoh. Waktu Tuhan menyuruh dia ke rumah Isai untuk mengurapi salah satu anaknya menjadi raja, Samuel langsung jatuh hati dengan anak sulungnya yang tinggi dan ganteng. Tetapi Tuhan tidak memilih dia. Tuhan memilih Daud yang kecil. Tetapi terbukti Daud memiliki ketulusan hati yang dikenal Tuhan. Maka aspek pertama ini biarlah selalu menjadi pertanyaan kita, apakah setiap keputusan yang kita ambil di dalam hidup kita itu always pleasing God? Maka di situ Paulus mengingatkan kita motivasi hati yang ingin mencari kesukaan Tuhan. Di dalam 1 Kor.13:3 Paulus pernah mengatakan orang bisa memberikan seluruh hartanya dan bahkan jiwanya bagi Tuhan, tetapi kalau tidak ada kasih tidak ada gunanya. Kita menjadi terkejut dan bingung dengan pernyataan Paulus ini. Masakah orang yang sampai menyerahkan nyawanya mati bagi Tuhan bukan karena dia mengasihi Tuhan? Tetapi yang Paulus katakan ini luar biasa dalam. Paulus sedang bicara mengenai prilaku yang bisa berbeda dengan motivasi. Keputusan-keputusan hidup kita itu berkaitan dengan prilaku, apa yang kita ambil, bagaimana proses yang kita ambil, orang bisa melihat itu bijaksana dan baik. Namun Paulus mengingatkan setiap kali kita mengambil keputusan, ada wilayah hati yang tidak kelihatan. Motivasi setiap orang Kristen, apapun yang kita ambil haruslah pleasing God. Motivasi tidak bisa dilihat. Kita hanya bisa menilai prilaku dan action yang kelihatan di luar, tetapi motivasi tidak bisa kelihatan.

Di dalam Bil.14:1-11kita melihat situasi bangsa Israel menghadapi kesulitan di padang gurun. Karena situasi ini maka muncul dua respons dari mereka yaitu mereka mengeluh dan bersungut-sungut. Mereka marah kenapa Musa membawa mereka ke padang gurun dan menghadapi kesulitan dan tantangan yang sangat besar di situ. Ini adalah dua respons yang terlihat dari luar yaitu words and deeds. Di atas permukaan motivasi yang kelihatan adalah personal desire mereka, keinginan untuk mendapat keamanan dan kebaikan. Secara logis keinginan ini adalah wajar dan normal, karena lebih baik kembali ke Mesir tetapi hidup daripada mati konyol di padang gurun. Namun lebih dalam lagi kita bisa menyelidiki motivasi dengan pertanyaan ini: are we for self or for others? Buat orang Israel, tindakan mereka seolah memperlihatkan mereka tidak mementingkan diri tetapi kepentingan banyak orang. Maka mereka meminta seorang pemimpin baru untuk menggantikan Musa yang mereka anggap tidak kompeten. Namun Allah melihat motivasi mereka yang terdalam yaitu mereka marah kepada Allah dan menolak Dia. Are we for self or are we for God? Mengaku atau tidak, inilah yang sebenarnya menjadi motivasi mereka yaitu mereka tidak mau ikut Allah. Maka pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang penting setiap kali kita menyelidiki hati dan motivasi kita sedalam-dalamnya, apakah yang kita ambil dan kerjakan di dalam hidup ini semata-mata untuk diri sendiri ataukah untuk pleasing God. Paulus langsung bicara kepada hal ini, biar segala sesuau yang kita lakukan itu menyenangkan hati Tuhan.

Berdasarkan ayat ini saya menggali kosep kata “godliness” dan “desire” dan “delight”. Apa perbedaan antara “desire” dan “delight”? Dalam bahasa Indonesia desire diterjemahkan dengan kata keinginan sedangkan delight dengan kata kesukaan. Di dalam kitab Mazmur kita banyak menemukan kata “delight” ini. Aku suka akan hukum Allah. Pleasing God memiliki konotasi ini. Dalam Ibr.11:5 penulis Ibrani mengambil contoh dari seorang yang bernama Henokh ingin berbicara mengenai inti dari hidup yang pleasing God. The whole of his life showed that he was pleasing God. Siapa yang pertama-tama memisahkan antara “obedience” dan “delight” kepada hukum Allah? Jawabnya ialah Hawa. Kej.3:6 pertama kalinya Hawa memisahkan antara obedience and delight ini, lalu selanjutnya kita melihat kitab Mazmur merestorasi kedua konsep ini: we obey God’s law and we find delight in Him. Hawa melihat larangan Allah untuk tidak makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat menjadi satu obedience yang tidak membawa delight. Ini yang sekarang terjadi, bukan? Setiap kali mau taat Tuhan, kita selalu punya asumsi berarti kita tidak boleh melakukan ini dan itu. Sehingga ikut Tuhan terasa sebagai hidup yang penuh dengan larangan dan tidak ada sukacita. Itu salah besar. Mazmur memperlihatkan obey God will find delight. Ketaatan kepada Allah akan membawa keindahan dan sukacita yang besar. Hawa hanya ingin melakukan apa yang menyukakan hatinya dan tidak menaati Tuhan. Kita mau jadi orang Kristen sesuka kita dan tidak mau diatur-atur. Maka dua konsep ini tidak akan pernah ketemu.

Kita bilang, “Ini ‘kan keputusan hidupku. Aku yang membuat decision.” Jangan lupa, di atas permukaan memang betul itu semua bicara mengenai keputusan hidup kita. Itu mengenai hidupmu, mengenai karirmu, mengenai masa depanmu, tetapi setiap kali keputusan kita ambil Paulus meminta supaya kita tidak dijerat oleh dosa biar motivasi hati kita semata-mata pleasing God. Barulah di situ kita menjadikan hidup kita sebagai Tuhan yang menjadi sentralnya. Orang tidak bisa melihat motivasi hati kita, tetapi Paulus mengingatkan kita dengan satu pagar, setiap kali kita ikut Tuhan pagarnya pleasing God. Kembali kepada kata “godliness” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai kesalehan. Saleh sering dikonotasi tidak banyak salah, hidupnya sederhana, hormat tunduk dan tidak suka marah. Sebenarnya makna godliness lebih berarti a life honoring God. Rom.1:21 menjadi kontras dua ciri orang yang tidak mengenal Tuhan yaitu tidak pernah memuliakan Allah dan bersyukur kepadaNya. Maka kembali kepada Kol.1 menjadi indah sekali, hidup yang honoring God, melakukan segala sesuatu dengan tekun dan sabar dan sukacita dan bersyukur. Balikkan kembali semua hal yang sudah dirusak oleh dosa. Dosa sudah merusak hidup manusia sehingga tidak lagi bisa sinkron mengkaitkan antara taat Tuhan di dalam apapun yang kita kerjakan, walaupun itu tidak enak dan tidak mendatangkan manfaat kepentingan diri namun kalau itu menyenangkan Tuhan, kita mau delight melakukannya bagi Dia. Jangan sampai sukacita itu hilang. Tuhan Yesus mengatakan barangsiapa yang melakukan hukum-hukumKu akan mendapatkan sukacita yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini. Itulah kata delight.

Hari ini saya mengajak sdr melihat aspek ini: hidup yang memuliakan Tuhan, a life honoring God. Dalam Kol.1:9-14 ada 4 point yang penting di dalam kita mengambil keputusan dimana kita menjalankan kehendak Tuhan dengan sempurna. Pertama, Paulus bicara mengenai spiritual understanding and spiritual wisdom. Tuhan tidak pernah mengabaikan dan membuang cara kita mempertimbangkan dengan bijaksana dan sebaik mungkin, tetapi di tengah-tengahnya bisa masuk motivasi yang tidak baik. Motivasi yang tidak kelihatan itu bisa membuat kita selfish. Maka muncul point kedua, yaitu di dalam segala hal jaga hati kita di dalam mengambil keputusan. Mungkin deeds dan behaviour bisa salah, namun punya hati dan motivasi cinta Tuhan itu jauh lebih baik daripada kita bisa memperlihatkan kepada dunia bagaimana kita pintar mengatur segala sesuatu tetapi motivasinya tidak pernah pleasing God. Rom.8:28 mengatakan Tuhan bisa merubah yang salahmenjadi kebaikan pada akhirnya. Tetapi kalau motivasinya sudah salah, percuma engkau melayani Tuhan sampai mati buat Tuhanpun tidak ada artinya. Sdr mau jadi orang Kristen yang memberikan seluruh harta buat Tuhan, tetap kalau tidak ada kasih, itu tidak ada gunanya. Itu adalah ayat yang sangat mengejutkan. Tetapi jelas Paulus sedang bicara mengenai aspek motivasi ini. Itu adalah hati kita di hadapan Tuhan. Di ayat 10 Paulus mengingatkan biar setiap kali decision kita buat, itu harus mempunyai tiga motif ini: satu, pleasing God; kedua, fruitful to others. Kenapa perlu aspek ini? Karena walaupun kita sudah menjaga hati motivasi kita di hadapan Tuhan, tetapi bagaimana supaya kita tidak selfish? Kembali lagi Paulus tambah pint yang lebih konkrit ini yaitu kalau kita ambil keputusan kita bukan melulu pikir diri kita yang pertama tetapi pikirkan Tuhan dan pikirkan orang lain. Mungkin dengan itu hati sdr dijaga agar tidak selfish. Ketiga, di dalam setiap keputusan itu bikin hubungan kita dengan Tuhan makin intim, increase in the knowledge of God.

Ketiga, kalau segala sesuatu di dalam jalan kita kadang-kadang tidak lancar, kadang-kadang menghadapi kesulitan, kadang-kadang ada hal-hal yang menyakitkan dan memberatkan hidup kita, di ayat 11 Paulus langsung bilang, tanggung semua itu dengan tekun dan sabar. Itu mungkin harus dilalui di dalam satu proses yang panjang, tetapi perseverance akan menghasilkan buah yang indah. Kadang-kadang di tengah jalan kita mungkin tidak sanggup untuk menanggungnya, darimana datang kekuatan untuk menolong kita? Paulus mengingatkan ada kekuatan dari kuasa Tuhan karena tidak bisa dari diri kita sendiri. Tetapi sekaligus ayat ini bilang tanggunglah semua itu dengan tekun dan sabar melalui kekuatan kuasa dari Tuhan. Tetapi di sini Paulus tidak bilang kuasa itu adalah kuasa Tuhan yang dahsyat atau kuasa Tuhan yang hebat atau kuasa Tuhan yang supranatural sehingga segala perkara dapat kita tanggung di dalam kuasa yang seperti itu. Paulus memakai kata “kuasa yang mulia.” Sdr akan bertanya mengapa Paulus pakai kata ini? Nanti point ini akan saya uraikan di minggu-minggu yang akan datang.

Keempat, di dalam segala hal, kalau itu lancar, kalau itu sukses, kalau itu indah di dalam hidupmu, jangan lepaskan respons yang benar ini: joy and thanksgiving. Empat hal ini akan saya tambahkan tiga point lagi yang kadang-kadang tidak kelihatan di dalam decision making. Tiga point ini antara lain soal motivasi. Kedua, saya akan bicara mengenai setelah sdr menilai satu decision making, sdr dan saya tidak bisa escape dari penilaian orang terhadap keputusan itu. Bagaimana menempatkan secara tepat kita menilai keputusan orang dan bagaimana kita menjaga hati agar jangan melakukan judgment yang salah terhadap penilaian orang. Bagaimana kita belajar bersikap sudah ambil keputusan, kita firm dengan keputusan itu, dan kita tidak terganggu dengan penilaian orang lain, mereka suka atau tidak. Tetapi sebelum kita mengambil keputusan dengan firm kita juga harus belajar bagaimana nasehat dan bijaksana orang lain. Terakhir, a proper place of our emotion di dalam pengambilan keputusan kita. Saya akan memberikan suatu pertanyaan untuk menggugah pikiran sdr: Ada orang bilang ‘hari ini saya tidak merasa siap hati untuk datang kebaktian.’ Maka daripada saya merasa ingin berbakti bukankah lebih baik saya tinggal di rumah daripada saya ke gereja? Sebab kalau saya ke gereja tetapi hati saya tidak di situ, kan itu namanya munafik. Jadi dosanya double. Tidak rasa mau ke gereja sudah dosa kan? Tetapi lalu datang ke gereja dengan hati yang tidak rasa ingin ke gereja, tidak rasa sejahtera waktu berbakti, akhirnya jadi munafik, itu kan dosa lagi? Sehingga mana yang lebih baik, rasa tidak mau ke gereja maka tinggal di rumah, ataukah rasa tidak mau ke gereja tapi memaksa diri datang ke gereja? Sekarang saya jawab untuk sdr, rasa tidak mau ke gereja itu kan aspek dari emosi. Bolehkah itu kita pakai menjadi satu kriteria? Namun seringkali kita ambil keputusan dengan kriteria itu, bukan? Tetapi kita “bungkus” di dalam bahasa rohani yang lebih indah, ”...daripada munafik, lho pak, duduk di sini tetapi hati melayang-layang, lebih baik tidak ke gereja.” Coba telusuri dalam-dalam, kenapa tidak rasa ingin ke gereja? Karena ada siaran sepakbola? Karena hati lagi dongkol dengan isteri, sebelum berangkat tahu-tahu bertengkar, maka ketemu Tuhan nanti sungkan karena hati masih marah. Maka bawa pertanyaan ini: where is the proper place for emotion in decision making? Saya akan membahas beberapa point ini lebih mendalam di minggu-minggu yang akan datang. (kz)