GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
17
May

Decision Making in the Way of Wisdom (2)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: May 17, 2009
Nats: Kolose 1:9-14

Dari minggu lalu saya sudah membahas satu topik yang saya percaya merupakan topik yang sangat penting dan sangat esensi bagi kita semua karena ini bicara mengenai decision making di dalam hidup kita. Hari ini saya ingin membahas beberapa dimensi di dalam decision making yang saya harap akan membukakan banyak hal bagi sdr di dalam pergumulan mengambil keputusan penting di dalam hidupmu. Saya sangat senang melihat dan mengamati bagaimana pertumbuhan kerohanian sdr sejak datang berbakti di sini dan saya luar biasa bersukacita melihat ada orang-orang yang mengalami perubahan dan pertumbuhan yang luar biasa. Waktu memulai pelayanan mimbar di kota ini sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah berpikiran mau menjadikan gereja ini menjadi gereja besar, bahkan jujur saya tidak punya pikiran mau mendirikan satu gereja. Waktu itu pikiran saya hanya satu yaitu saya hanya mau melayani Tuhan dan berkhotbah dengan sebaik-baiknya. Kerinduan saya adalah bagaimana membuat orang Kristen melalui firman Tuhan, melalui pertumbuhannya di dalam gereja, mereka keluar menjadi terang dan saksi Tuhan bagi dunia ini.

Doa Paulus di dalam Kol.1:9-14 ini adalah satu doa yang indah sekali. Setelah Paulus mendengar bagaimana orang-orang di Kolose menjadi percaya dan mengikut Yesus, sekarang mereka sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka Paulus berdoa untuk mereka di dalam bagian ini. Paulus berdoa supaya mereka bisa ikut Tuhan makin ikut Dia mereka makin memiliki pengenalan yang benar akan Dia. Paulus berdoa supaya hidup mereka berkenan kepada Tuhan, mengalami pertumbuhan terus-menerus, hidup hari demi hari makin mengenal Tuhan. Ini juga menjadi kerinduan saya, setiap kali sdr berbakti sdr juga mengalami pertumbuhan seperti itu, mengenal Tuhan dengan benar, mengerti firman Tuhan dengan benar, menjadi orang Kristen yang belajar mengenal kehendak Tuhan dan bertumbuh.

Minggu lalu saya sudah mengangkat satu point yang penting sekali, saya berharap pengertian orang Kristen mengerti kehendak Tuhan harus betul-betul menyingkirkan konsep “the sense of Mysticism.” Kita tidak terima orang mengerti kehendak Tuhan dengan dua cara, yaitu yang satu dengan cara seperti “gua mia,” main random buka Alkitab lalu tunjuk dan baca kehendak Tuhan dari situ. Cara yang kedua, kita tidak menerima konsep pengertian bahwa Tuhan memberitahukan kehendakNya bagimu secara pribadi dengan subjective. Ini adalah konsep mysticism yang tidak kita terima. Sebaliknya kita pakai prinsip yang penting dari “the way of wisdom” di dalam mengambil keputusan. Di dalam pengalaman kita, saya menemukan pasti ada satu unsur feeling di dalam pengambilan satu keputusan. Maka pertanyaannya adalah: Where is the proper place of feeling in decision making? Banyak orang baru ambil keputusan kalau feelingnya enak, bukan? Namun apakah perasaan “feel good” itu menjadi aspek yang penting di dalam mengambil keputusan? Kita tidak meletakkan feeling sebagai unsur utama di dalam mengenal kehendak Tuhan karena Tuhan tidak pernah mengabaikan proses pikiran yang disucikan oleh kebenaran firman Tuhan menjadi cara kita mengenal jalan Tuhan di dalam hidup kita. Maka Paulus berdoa supaya spiritual wisdom and understanding kita terus bertambah. Kita tidak mengabaikan pikiran yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita untuk berpikir dan mempertimbangkan keputusan kita. Beberapa ayat yang sudah saya angkat minggu lalu memperlihatkan prinsip Paulus yang jelas, prinsip memakai pikiran di dalam mengenali kehendak Tuhan. Pertama, “I thought it best…” pikir apa yang terbaik, selalu pikirkan opsi-opsi yang terbaik. Yang kedua, “I thought it is necessary…” banyak decision making yang mesti kita ambil mungkin tidak bisa kita pegang semuanya sekaligus di dalam waktu yang berbarengan, maka Paulus putuskan mana yang lebih penting, mana yang lebih utama.

Sampai di sini, saya mau mundur selangkah dulu. Banyak orang Kristen sudah confused di dalam menggunakan frase mengenai kehendak Allah. Maka saya akan menjelaskan beberapa point mengenai kehendak Allah ini karena umumnya kehendak Allah di dalam Alkitab berbicara di dalam tiga aspek.

1. God’s will of decree.

Dalam Ef.1:5 Paulus bilang ”...dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula untuk menjadi anakNya…” ini adalah salah satu contoh dari God’s will of decree. Di bagian lain, misalnya di dalam Kis.2:23, Petrus berkata, “Yesus yang kamu salibkan itu adalah Yesus yang kamu bunuh tetapi itu seturut dengan kehendak Allah.” Artinya tindakan menyalibkan dan membunuh Yesus adalah keputusan dan tanggung jawab manusia, tetapi kematian Yesus itu adalah jelas kehendak Allah. Mereka yang membunuh Yesus tidak bisa lepas tangan berpikir karena itu adalah kehendak Tuhan, tetapi sebaliknya tidak boleh berpikir dirimu sebagai aktor yang berperan di situ. Rencana kematian Yesus di atas kayu salib adalah rencana Bapa di surga. Di bagian lain di Alkitab dikatakan, engkau menjadi anak-anak Allah, engkau sudah dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan, untuk mendapatkan segala berkat karunia yang begitu bernilai di surga, bukan engkau yang pilih Tuhan tetapi Tuhan yang pilih engkau berdasarkan kerelaan kehendakNya. Tuhan Yesus berkata, Allah Bapa di surga yang mengatur segala sesuatu. Tidak ada hal yang terjadi di atas muka bumi ini tanpa sepengetahuanNya. Rambut di kepalamupun dihitungNya. Lihatlah burung-burung di udara. Tidak ada satu ekorpun yang jatuh di luar pengetahuan dan kehendak Bapa. Di dalam kitab suci kita akan sdr temukan frase “His will” muncul beberapa kali, berarti ayat-ayat itu sedang berbicara mengenai God’s will of decree, kehendak Allah yang bersifat ketetapan. Kehendak Allah yang bersifat ketetapan adalah kehendak Allah yang sudah Ia tetapkan dari kekekalan. Di dalam rencanaNya yang sempurna maka ketetapan itu pasti akan terlaksana. Tidak ada orang yang bisa mencegah dan melawan ketetapan itu. Allah yang menetapkan di dalam penciptaan, Allah yang mengatur dan mengontrol segala sesuatu, semua itu akan terlaksana. Itu adalah ketetapan yang berdaulat, yang tidak pernah akan gagal dilaksanakan atas ciptaan, atas dunia ini dan atas segala bangsa.

2. God’s will of desire.

Maksudnya adalah kehendak Tuhan yang Ia nyatakan kepada kita sebagai hal-hal itu adalah hal-hal yang disukai oleh Tuhan sebab hal-hal itu bersesuaian dengan sifat dan karakter Tuhan. Allah suka engkau menjalankan keadilan, sebab sifat Allah adalah adil adanya. Allah benci dengan segala korban bakaran yang dipersembahkan oleh orang yang hidup di dalam kelaliman dan tangan yang menumpahkan darah. Allah menyukai keadilan, kebenaran dan damai sejahtera. Kehendak Allah yang Ia sukai adalah kehendak yang Ia nyatakan melalui firmanNya terhadap apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang. Allah suka dan mau kita kudus, sebab Ia adalah Allah yang kudus adanya. Allah mau kita hidup benar, sebab Ia adalah benar adanya. Ini yang kita sebut sebagai God’s will of desire. 1 Yoh.2:15-17 berbicara mengenai God’s will of desire ini. Ayat ini langsung mengkontraskan dua hal yang berbeda. Ada “Desire of Flesh” ada “Desire to do His Will”. Kata God’s will di sini jelas bukan berkaitan dengan kehendak Allah di dalam ketetapanNya tetapi kehendak Allah yang bertentangan dengan the desire of flesh yang melawan Tuhan, yang tidak mencintai dan tidak taat kepada kebenaran firman Tuhan. Pada waktu kita bicara mengenai God’s will of desire, ini berbeda dengan God’s will of decree. God’s will of decree tidak mungkin ditolak oleh manusia sedangkan God’s will of desire bisa ditolak dan bisa dilawan oleh manusia. Allah menginginkan manusia itu kudus, namun manusia berdosa. Allah menginginkan manusia itu hidup setia, namun manusia bisa tidak taat kepadaNya. Maka God’s will of desire sudah Ia berikan di dalam firmanNya namun kita bisa keluar dari kehendakNya itu dengan memberontak kepadaNya.

3. God’s will of direction.

Saya percaya Tuhan menciptakan engkau dan saya itu unik adanya. Engkau dan saya menjadi pribadi-pribadi yang Tuhan hargai. Kita ikut Tuhan sebagai pribadi, maka masing-masing kita memiliki satu hubungan yang unik dan pribadi kepada Tuhan. Tentunya panggilan Tuhan kepada engkau dan saya adalah panggilan yang unik dan berbeda-beda. Sehingga waktu sdr bertanya kepada saya apakah Tuhan memiliki keinginan dan kehendakNya secara pribadi kepada masing-masing kita? Jawabannya adalah “Ya.” Kalau begitu, waktu saya mengambil keputusan untuk hidup saya di depan, masa depan saya, pilihan pekerjaan saya, jodoh, dsb, lalu kita bertanya kepada Tuhan, apakah Tuhan memiliki kehendakNya kepadaku di situ? Jawaban saya, “Ya.” Tetapi perhatikan kesalahan yang selalu muncul di sini ketika orang berbicara mengenai God’s will bagi kita secara pribadi, seringkali menempatkan God’s will di dalam pengertian God’s will of decree. Inilah yang timbul di dalam konsep banyak orang Kristen yang berpikir seperti ini: kita harus mencari kehendak Tuhan dan kehendak Tuhan itu sangat spesifik kepada setiap orang seperti satu blueprint. Seumur hidup sdr harus mencari kehendak Tuhan itu dan kalau sdr “missed” maka seumur hidup sdr tidak berjalan di dalam kehendak Tuhan yang sangat indah dan sempurna bagimu. Ini adalah konsep yang salah namun banyak orang pegang konsep ini. Maka sdr sungguh-sungguh berdoa, di dalam pengertian sdr di dalam kekekalan, Tuhan sudah menetapkan satu orang menjadi suami atau isterimu. Maka tidak boleh sembarangan pilih. Kalau you pilih yang tepat maka seumur hidup engkau akan menjalani satu pernikahan yang bahagia, maka jangan sembarangan dengan hidupmu. Kalau Tuhan sudah tetapkan si A menjadi suamimu tetapi kamu pilih si B, maka seumur hidup pernikahanmu tidak akan bahagia. Maka tidak heran dengan konsep seperti itu ada orang yang sudah menikah 20 tahun karena banyak cekcok lalu berpikir mungkin dia salah pilih. Lalu akhirnya dia konseling dengan isteri tetangga yang sangat bersimpati dengan dia, lalu dia merasa kenapa dengan isteri tetangga bisa ngobrol lama dan nyaman rasanya. Lalu dia pikir kayaknya ini mungkin pilihan Tuhan cuma saya salah pilih. Akhirnya kita akan jatuh kepada subyektifitas kita, yaitu kalau hidup pernikahan enak dan lancar, kita bilang itu karena kita pilih yang benar. Lalu kalau sudah mulai ribut, kita pikir mungkin bukan. Makin pikir ini bukan kehendak Tuhan, makin mencurigai keputusan yang sudah diambil. Salahnya dimana? Kalau sdr bertanya, apakah Tuhan punya kehendak pribadi bagiku? Jawabnya, Ya. Tetapi apakah Tuhan menaruh itu sebagai satu blueprint yang harus kau cari jawabannya? Tidak. Maka mengerti pimpinan Tuhan di dalam hidupmu, God’s will of direction, Tuhan punya will bukan destination-nya melainkan direction-nya. Sdr tangkap bedanya? Bagi saya tidak ada yang tahu destination itu. Bukan saja tidak tahu, Tuhan juga tidak pernah buka seperti itu. Yang Tuhan sudah tetapkan adalah direction-nya. Artinya kalau sdr jalan di dalam direction itu, pasti destination-nya sampai. Jadi sekali lagi, tidak ada blueprint yang harus kau cari seperti itu.

Dengan mengerti seperti ini maka kita akan terhindar dari banyak kesalahan di dalam memahami God’s will. Kesalahan yang pertama adalah kalau sdr mengatakan bahwa Tuhan memiliki rencana yang khusus dan spesifik yang harus kita cari, kebahayaannya itu berarti sdr memiliki konsep mengenai Allah yang “usil” seperti seorang bapak yang suruh anaknya tebak-tebak mana yang dia sudah tentukan. Kalau ternyata kita salah tebak, hidup jadi susah. Jadi, Tuhan ingin kamu cari kehendakNya tetapi Dia sendiri sembunyikan dan minta kamu tebak-tebak, sesudah salah tebak lalu Dia bilang, ‘rasain lu, salah pilih.’ Illustrasi kedua, banyak orang cari kehendak Tuhan untuk pribadinya seperti sedang main “maze” yang ada di tengah, lalu ada banyak jalan masuk yang harus dipilih. Yang bikin maze itu sudah atur ada satu jalan yang akan sampai ke tengah, kalau kita salah pilih maka seumur hidup kita tidak akan sampai ke situ.

Kesalahan kedua, mencari kehendak Tuhan seperti itu membuat hidup orang Kristen tidak pernah melangkah dengan iman, tetapi selalu menjadi orang Kristen yang pengecut. Kenapa banyak orang Kristen selalu mau cari dan minta pimpinan Tuhan? Kevin DeYoung mengatakan, di dalam dunia sekarang banyak orang Kristen tidak memakai pikirannya sebelum memutuskan sesuatu. Cepat-cepat memutuskan tanpa pakai pertimbangan dan otak. Tetapi sebaliknya ada banyak orang yang sudah pikir segala sesuatu tetapi tidak mau jalan. Kita terus minta Tuhan menyatakan kehendaknya, minta Tuhan buka jalan dan minta pimpinanNya artinya mau semua jalan itu lancar, bukan? Minta Tuhan selalu kasih yang baik-baik sehingga membuat banyak orang Kristen tidak berani melangkah dengan iman. Justru kadang-kadang jalan susah dan berat tapi kita berani ambil keputusan itu bukan karena ngotot atau tidak mengerti, tetapi dengan prinsip di dalam kondisi apapun saya tahu Tuhan pimpin dan take control. Jangan terbalik, pikir Tuhan kasih kelancaran, itu berarti jalan dari Tuhan. Kita ingin Tuhan pimpin dan buka jalan di depan supaya kita bisa jalani dengan “safety first”.

Kesalahan ketiga kalau mengerti pimpinan Tuhan supaya memberikan hal yang spesifik, bahayanya terlalu banyak orang Kristen salah mencari kehendak Tuhan, terlalu fokus kepada non-moral decision instead of moral decision. Contoh, banyak anak muda doa sampai jungkir balik pilih jodoh tapi missed the point, kita minta pimpinan Tuhan tapi ada lima nama kita ajukan di dalam doa kita lalu minta Tuhan pimpin. Kalau bisa minta pencerahan lewat mimpi, mana yang dari Tuhan karena kita tidak mau menjalani hidup di depan menikah dengan orang yang salah. Ini missed the point di dalam meminta pimpinan Tuhan bagi jodohmu, siapa dia, itu non-moral decision. Tetapi banyak orang tidak berdoa minta apa yang Tuhan mau di dalam menjalani proses pacarannya. Banyak orang doa minta pimpinan Tuhan untuk pilih pekerjaan A atau B, tetapi tidak banyak yang doa bilang Tuhan pekerjaan yang mana saya bisa bekerja dengan benar. Jadi dapat jodoh A atau B, minta pekerjaan A atau B, yang dianggap lebih penting A atau B, bukan kepada aspek moralnya. Kalau sdr memilih pekerjaan A karena di situ ada kebenaran, melalui pekerjaan ini hidup Kristen saya tidak dikompromikan. Itu hal yang lebih penting. Mau memasuki masa pacaran dan menikah, minta Tuhan memberi hati yang sungguh bisa berpacaran memperkenan Tuhan, itu lebih penting daripada doa minta A atau B. Kalau kita minta melalui pacaran kita bisa menjadi pasangan yang mempersiapkan satu keluarga yang mengasihi Tuhan, itu doa lebih penting.

Kesalahan keempat, kalau kita bilang kepada Tuhan, biarlah itu menjadi kehendakMu yang aku jalani, orang yang suka ngomong seperti ini memiliki satu kesalahan yang subyektif karena Tuhan tidak ada berbicara spesifik seperti itu. Tetapi karena sering pakai kalimat itu, kebahayaannya adalah banyak orang berusaha menghindar dari tanggung jawab pribadi di dalam mengambil keputusan. Ke sana atau ke sini, dua-dua adalah pimpinan Tuhan. Tetapi waktu kita pilih, pegang itu sebagai keputusan yang kau ambil berhubungan dengan Tuhan.

Kelima, kalau kita bilang Tuhan punya kehendakNya secara spesifik lalu minta engkau cari, kebahayaannya kita bisa jatuh ke dalam subyektifisme. Banyak orang Kristen bilang dia akan jalan kalau Tuhan kasih tanda dengan kelancaran, tidak ada halangan. Kalau itu menjadi syarat kita mengambil keputusan, tidak ada keputusan penting dalam hidup ini yang tidak ada unsur anxiety, unknown aspect di dalamnya. Kalau tunggu semua jalan Tuhan buka, baru hati saya tenang mengambil keputusan, jujur saya katakan kepadamu, tidak ada keputusan yang tidak memiliki faktor seperti itu. Ambil keputusan mau kerja di perusahaan A, apakah tidak ada perasaan takut? Itu adalah satu hal yang wajar karena kita tidak tahu apa yang ada di depan. Maka sekali lagi, bukan destinasinya tetapi direction-nya yang kita cari.

Ada dua ayat yang bicara mengenai kesempatan yang Tuhan beri sebagai “open doors” lalu bagaimana Paulus ambil keputusan di situ, 1 Kor.16:8-9 Paulus memutuskan untuk tinggal di Efesus –ini decision making yang dia ambil- dengan alasan di situ Tuhan buka jalan untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting sekalipun banyak penentang. Kalau kita ambil decision waktu jalan lancar dan baik, semua smooth, kita tidak ambil keputusan seperti Paulus karena jelas di situ banyak penentang. Tetapi pointnya adalah ada kesempatan pintu terbuka, lalu Paulus bilang ini hal yang penting di dalam pelayanan sehingga dia make decision untuk tinggal. Dalam 2 Kor.2:12-13 Paulus memutuskan untuk tidak tinggal di Troas meskipun Tuhan membuka jalan untuk pelayanan di sana, sebaliknya dia pergi mencari Titus. Saya percaya Paulus ambil keputusan dengan pertimbangan yang matang dan bertanggung jawab. Paulus perlu untuk bertemu Titus karena dia membawa satu message yang penting sekali berkaitan dengan kebahayaan yang terjadi di gereja Korintus. Tetapi kalau dia tinggal di Troas, Paulus tidak bisa ketemu dengan Titus. Jaman itu komunikasi tidak gampang. Maka pilihan Paulus memperlihatkan prinsip ini: baik di Efesus maupun di Troas, dua-dua Tuhan buka kesempatan. Jadi bukan unsur “open doors” yang menjadi penting melainkan bagaimana pekerjaan Tuhan lebih penting. Ada tantangan, ada kesulitan, tidak menjadi unsur penting.

Maka bagaimana Tuhan pimpin, kita melihat langkahnya benar atau tidak, dua-dua pilihan ini berkenan di hati Tuhan atau tidak. Kalau kita tahu Tuhan berkenan kepada pilihan kita, maka pakai bijaksanamu baik-baik, taruh di dalam doamu, renungkan sebaik-baiknya, kelola dan ambil keputusan. Sesudah ambil keputusan, bersyukur kepada Tuhan dan bilang kepadaNya ini keputusan yang sdr ambil dari pilihan yang berkenan kepadaMu. Jalani itu. (kz)