Hari ini saya mengajak kita semua merenungkan satu doa yang begitu agung dari rasul Paulus di dalam Kolose 1, satu doa yang menginginkan setiap kita yang sudah menjadi orang Kristen untuk setiap hari berlimpah-limpah di dalam pengenalan akan Tuhan. Saya percaya ini juga menjadi doa rasul Paulus untuk engkau dan saya. Dia meminta satu hal, biar perjalanan hidup kita mengikuti Tuhan, panjang atau pendek, sukar atau lancar, biarlah kita berjalan di dalam kehendak Tuhan yang sempurna dan berkenan kepada Tuhan di dalam segala hal. Ada beberapa point yang begitu penting di dalam doa ini.
Ayat 9, bagaimana saya mengerti kehendak Tuhan yang sempurna itu? Apa yang engkau dan saya perlukan di sini? Yaitu agar kita memiliki segala hikmat dan spiritual understanding. Melalui wisdom dan spiritual understanding yang benar, engkau pasti akan berjalan di dalam kehendak Tuhan yang sempurna.
Ayat 10 Paulus berdoa, biar apapun yang engkau kerjakan, keputusan hidup apapun yang akan engkau lakukan, jangan lupa tiga hal ini: pertama, biar decision yang kita ambil itu always pleasing God. Kedua, biar setiap keputusan hidupmu itu menjadi berkat bagi orang lain dan ada buah yang bisa dinikmati oleh orang. Jangan pernah bikin keputusan yang hanya bersifat egois dan hanya untuk kepentinganmu sendiri. Ketiga, biar setiap keputusan yang kita ambil di dalam hidup ini adalah keputusan yang membuat relasi kita makin closer dengan Tuhan, yaitu pengetahuan akan Allah makin bertambah. Jelas di sini Paulus bukan bicara mengenai pengetahuan doktrinal dan systematic theology karena semua itu bisa dibaca dari buku-buku teologi. Sejak dulu hingga sekarang doktrin akan Allah tidak pernah berubah, Allah kita adalah Allah Tritunggal, Allah mengirim PuteraNya Yesus Kristus mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia, dst. Tetapi Paulus meminta pengetahuan kita akan Allah makin bertambah bukan di dalam knowledge-nya tetapi di dalam relationship-nya.
Ayat 11, di dalam perjalanan hidup mengikuti Tuhan, kita mau goal tujuan hidup kita adalah kehendak Tuhan yang sempurna itu kita jalankan. Tetapi itu adalah satu perjalanan. Di dalam perjalanan itu terkadang kita tidak melihat apa yang kita percaya, kita tidak merasakan apa yang kita imani dan kita tidak membuktikan apa yang sudah kita percaya dari Tuhan. Itu bukan hal yang terpenting, kata Paulus, tetapi yang terpenting adalah di dalam segala hal biar ada kekuatan Tuhan yang membikinmu terus konsisten berjalan. Maka engkau perlu dua sifat ini, yaitu tekun dan sabar. Kita bukan anak-anak kecil yang tidak dewasa rohani, minta apa saja sama Tuhan langsung Tuhan kasih. Tuhan kadang-kadang pimpin dan didik. Yang akan Dia beri pasti Dia beri, tetapi mungkin kita harus tunggu. Paulus bilang, belajarlah tekun dan sabar, konsisten. Itulah panggilan hidup Kristen kita.
Ayat 12, biar hidup kita penuh dengan sukacita dan syukur.
Saya juga memiliki kerinduan yang sama, kalau gereja kita sudah berusia 10 tahun, apa yang menjadi keindahannya? Biarlah doa ini juga menjadi keindahan bagi setiap kita. Pada waktu sdr berjalan di dalam kehendak Tuhan, sdr tidak perlu takut dan tidak perlu gelisah. Tuhan itu terlalu baik. His will is good and perfect.
Hari ini saya ingin membahas mengenai “Finding God’s Will” tetapi dengan mengkontraskan antara “The Way of Wisdom” and “the Sense of Mysticism.” Saya menjadi orang Kristen berjalan mengikut Tuhan, mengerti kehendak Tuhan, jalannya apa? Biar Tuhan tambah hari memberi bijaksana dan spiritual understanding bagimu.
Namun dewasa ini kita masuk ke dalam era kengawuran dari orang Kristen. Banyak orang Kristen sekarang mengerti kehendak Tuhan dalam pengertian “the sense of mysticism.” Saya tidak pakai kata “the way of mysticism,” tetapi “the sense” karena banyak orang ingin mengerti kehendak Tuhan dengan “perasaan.” Kadang-kadang “perasaan-”nya cenderung berarah kepada mistik, sehingga setiap orang Kristen yang berada di dalam konsep melihat kehendak Tuhan di dalam “sense of mysticism” cara Tuhan memimpin hidupnya. Dalam bukunya yang berjudul “Prophecy Today,” Jim Thompson mengatakan hal ini. Saya pernah mengatakan kepada sdr ada satu kesalahan besar yang dibuat oleh beberapa teolog dari gerakan Pentakosta dan Kharismatik yaitu mendefinisikan kata “nubuat” dengan keliru. Alkitab dengan jelas mengatakan nubuat itu tidak datang dengan sembarangan melainkan dari dorongan Roh Kudus. Nubuat di dalam PL dan PB itu memiliki “revelatory content,” nubuat mempunyai isi bersifat pewahyuan. Jadi tidak boleh sembarangan. Tetapi dewasa ini di dalam beberapa gereja Kharismatik dan Pentakosta, nubuat itu dianggap seperti orang sedang meramal apa yang akan terjadi di dalam kehidupanmu di depan. Itu berdasarkan definisi keliru yang dibuat oleh seorang teolog yang bernama Wayne Grudem, yang –sayangnya- sebenarnya seorang teolog yang baik sekali. Dia mengatakan di dalam nubuat bisa bercampur antara pimpinan Tuhan dan kesalahan manusia, sehingga menjadi mix between false and truth. Paulus bilang tidak seperti itu. Aku berdoa supaya Tuhan memberimu hikmat dan pengertian spiritual yang benar untuk bisa mengenal kehendak Tuhan dengan sempurna dan supaya engkau berjalan di dalam kehendakNya.
Maka sekarang saya mengajak sdr melihat “the Way of Wisdom” yang Paulus katakan di atas. Berarti sdr perlu melihat bagaimana natur dari wisdom itu lebih dulu. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan memberi kita pikiran dan bijaksana supaya kita boleh memakai pertimbangan dan our mind untuk mengenal kehendak Tuhan. Jelas Paulus bilang seperti itu. Aku minta supaya hikmatmu makin bertambah sehingga bisa mengenal kehendak Tuhan dengan sempurna.
Maka kita masuk ke dalam beberapa prinsip dari “the way of wisdom.”
1. The Nature of the Faculty of Your Mind. Dimana posisi pikiran sdr di dalam mengerti kehendak Tuhan? Kita letakkan pikiran kita dengan memberikan pertimbangan yang bijaksana. Saya memebri beberapa contoh decision making yang diambil oleh rasul Paulus di dalam Alkitab. Rom.1:13 dalam terjemahan bahasa Inggris lebih tepat, “I already make a plan…” Paulus sudah sejak lama berniat untuk datang ke Roma. Ada rencana, ada pertimbangan. Langkah kedua, Rom.1:8-10 sesudah membuat rencana maka Paulus bilang “aku berdoa” menyerahkan rencana itu kepada Tuhan. Sesudah itu “I submit to God” aku berdoa semoga kehendak Tuhan yang jadi. Saya berencana, saya bawa dalam doa, lalu saya berserah kepada Tuhan. Maka hidup di dalam tangan Tuhan menjadi tenang luar biasa. Ayat 13, rencana untuk datang ke Roma itu belum kesampaian, there is a time delayed. Belum waktunya Tuhan. Masih ada hambatan, masih ada halangan tetapi itu tidak apa. Kapan waktu Tuhan itu sudah diluar kekuatan saya.
Di dalam 1 Tes.3:1 dalam terjemahan bahasa Inggris ”...I thought it best…” ayat ini memperlihatkan decision di dalam pelayanan Paulus yang memperlihatkan dia mempertimbangkan keputusan mana yang terbaik. Fil.2:25 dalam terjemahan bahasa Inggris “I thought it is necessary…” Di sini memperlihatkan keputusan di ambil berdasarkan mana yang prioritas, mana yang lebih penting. Di dalam hidup ini kita akan mengambil banyak keputusan. Kalau bisa mungkin kita akan ambil semua option yang the best. Tetapi kadang-kadang mungkin kita hanya harus memilih salah satu. Maka Paulus bilang, aku ingin engkau berjalan di dalam kehendak Tuhan dengan “the way of wisdom.” Tuhan sudah memberi firmanNya untuk menuntun pikiranku, lalu submit pertimbangan dan rencanamu kepada Tuhan dengan hati yang takut akan Tuhan, mempertimbangkan dengan sebijaksana mungkin semua keputusan yang engkau ambil, mana yang the best dan yang paling necessary. Sesudah itu committed di dalam doamu, berserah kepada Tuhan dan jalani.
2. The Use of Freedom.
Dimana pemakaian kebebasan orang Kristen? Dalam Gal.5:13 Paulus bilang, kita dipanggil untuk bebas, tetapi jangan memakai kebebasan itu sebagai kesempatan untuk berbuat dosa. Paulus memberikan perbedaan antara orang-orang percaya di PL dan PB. Bedanya dimana? Bedanya adalah orang-orang di dalam PL dikategorikan oleh Paulus secara kematangan rohani mereka adalah “anak-anak.” Tetapi orang percaya di dalam PB dianggap sudah “akil balik.” Karena mereka masih “anak-anak” maka hukum Taurat diberikan secara detail sekali. Jangan lakukan ini dan itu, dsb. Tetapi di PB tidak lagi seperti itu. Sdr memberi guidance yang jelas berbeda kepada anak sdr yang sudah teenager dengan anak sdr yang masih balita, bukan? Tetapi sayang, kadang-kadang kita lupa anak kita sudah remaja sehingga kita masih melakukan hal yang sama seperti kepada yang balita. Kalau dia sudah remaja, tidak perlu lagi orang tua bicara seperti waktu dia masih kecil. Begitu lihat wajah papa mama, dia sudah tahu orang tua maunya apa. Ini prinsip yang penting untuk mengerti bagaimana mencari pimpinan Tuhan. Tetapi banyak orang Kristen tidak mengerti akan hal ini. Orang Kristen masih terus memakai pola PL di dalam hidup mencari pimpinan Tuhan. Kita mengeluh, kenapa Tuhan memimpin orang menjadi hamba Tuhan jauh lebih spesifik di dalam PL daripada PB? Musa jelas sekali dipanggil Tuhan dalam peristiwa semak yang tidak terbakar. Gideon minta tanda panggilan Tuhan dengan sangat jelas dan akurat. Demikian juga waktu pembantu Abraham mencari calon isteri untuk Ishak, begitu spesifik dan begitu akurat Tuhan pimpin. Sekarang sudah jungkir balik doa minta tanda dari Tuhan, kok tidak pernah terjadi? Ini karena prinsip sdr salah di dalam mencari pimpinan Tuhan. Bukan karena di PL Tuhan lebih intim kepada umatNya daripada sekarang, tetapi karena Tuhan menganggap kita sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Kata Paulus justru kita sekarang lebih bahagia daripada orang di PL karena Tuhan tidak memperlakukan kita seperti anak kecil yang diatur sampai hal sekecil-kecilnya. Tetapi Paulus mengingatkan kita untuk memakai kebebasan itu bukan untuk berbuat dosa. Jadi ini menjawab kenapa Tuhan tidak memimpin kita seperti kepada orang-orang di PL yaitu bukan karena Tuhan sudah menjauh, atau bukan karena Tuhan sudah tidak lagi berbicara, bukan Tuhan tidak pimpin lagi. Justru sekarang kita diperlakukan sebagai orang yang dewasa oleh Tuhan. Artinya Tuhan hanya diam, engkau sudah tahu kira-kira isi hatiNya bagaimana. Menikahpun seperti itu, bukan? Isteri tidak perlu ngomong apa-apa, suami kira-kira tahu apa yang ada di dalam hatinya. Kalau dia tiba-tiba pakai bajunya yang sudah 10 tahun, berarti sudah waktunya belikan dia baju baru. Jangan coba-coba bilang, “Kenapa tidak minta dibelikan?” Itu pertanyaan salah besar. “Apa you tidak tahu isi hati saya?” “Lho, saya kan bukan Tuhan, mana saya tahu isi hatimu?” Maka keluar kalimat isterimu, “Sudah dua puluh tahun kita menikah, you masih belum tahu isi hati saya?” Maka kira-kira demikian kita menggambarkan relationship yang seharusnya terjadi antara kita dengan Tuhan. Kita sudah akil balik, kata Paulus. Menggunakan kebebasan di dalam PB memiliki pengertian seperti itu.
Di sinilah saya ingin mengajak sdr melihat dua ayat lagi. Pertama, Yoh.21:21-22 Yesus menubuatkan bagaimana Petrus akan mati bagi Tuhan. Dia agak sedikit “terganggu” dan melihat kepada murid yang dikasihi Yesus yaitu Yohanes. “Tuhan, saya memang akan mati bagi Tuhan, tetapi bagaimana dengan dia ini?” Yesus menjawab dia, “Jika Aku menghendaki dia tetap hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi kamu, ikutlah Aku.” Ini adalah satu prinsip panggilan Tuhan yang begitu indah. Melayani Tuhan itu paradoks antara ketidaklayakan dan keberanian. Melayani Tuhan itu paradoks antara ketaatan total dan keunikan panggilan hidup yang berbeda-beda. Kita semua dipanggil untuk taat secara total kepada Tuhan, tidak ada yang beda. Semua engkau dan saya sama di hadapan Tuhan, we have to obey totally to Jesus Christ. Namun panggilan untuk mengikut Kristus itu berbeda satu sama lain. Itu adalah keunikan panggilan hidup yang berbeda-beda antara engkau dan saya. Mengerti seperti ini maka kita bisa memahami konsep mengapa Tuhan mengatakan gunakan kebebasan seperti ini. Tuhan tidak menyamakan semua orang Kristen. Maka bagaimana kita berjalan di dalam kehendak Tuhan? Sdr dan saya ikut kehendak Tuhan, setia di situ dengan total kepadaNya. Tetapi mungkin di tengah perjalanan itu Tuhan memberikan keunikan yang berbeda-beda antara engkau dan saya. Dengan keunikan itu kita menghargai keunikan orang lain dan kita tidak perlu cemburu atau curiga kepada keberhasilan ataupun keunikan yang Tuhan berikan kepadanya karena Tuhan memiliki panggilan dan rencana perjalanan hidup yang unik pada engkau dan saya. Aku mau bagaimana dengan orang itu, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau, ikutlah Aku. Itu panggilan hidupmu yang terindah dan terbaik menurut Tuhan bagimu. Jangan compare dengan orang lain.
Yang kedua, Rom.14:1 dalam terjemahan bahasa Inggris “Don’t passing judgment to each other concerning disputable matters…” Ada dua hal di situ yang ingin saya jelaskan. Pertama, jelas di sini Paulus melarang kita untuk men-judge decision orang. Tetapi dalam hal apa kita tidak boleh men-judge? Kita tidak boleh men-judge orang lain di dalam wilayah freedom di dalam decision making, yaitu wilayah disputable matters. Hati-hati di dalam kita men-judge decision orang, jangan sampai kita melihat selumbar di mata saudara kita tetapi balok di mata kita sendiri tidak kita lihat. Kita tidak boleh men-judge decision orang karena itu adalah wilayah hubungan orang itu dengan Tuhan. Bagaimana hidup dia, bagaimana masa depan dia, bagaimana perjalanan dia ikut Tuhan tidak ada kaitannya denganmu. Tuhan mau membuatmu menderita, itu urusanmu dengan Tuhan. Tetapi Tuhan mau dia hidup selama-lamanya, itu bukan urusanmu.
Kenapa Tuhan mengijinkan kita menggunakan bijaksana pikiran sebisa mungkin dengan kebebasan yang Tuhan beri, memperlakukan engkau sebagai orang dewasa. Bikin keputusan sebagai orang dewasa, bertanggung jawab di hadapan Tuhan, pakai kebebasan itu dengan bijaksana sebaik mungkin karena memang Tuhan juga buka wilayah disputable matters, yaitu satu wilayah yang tidak secara spesifik Tuhan bicara banyak di situ. Mungkin sdr bertanya, bolehkah saya memakai mobil yang lebih mewah? Tuhan tidak bicara spesifik di situ, bukan? Apakah saya membeli rumah yang lebih besar atau lebih kecil? Tuhan tidak bicara di situ. Keputusan-keputusan seperti ini berkaitan dengan bagaimana kita berhubungan dengan bertanggung jawab kepada Tuhan. Apakah Tuhan memanggil saya menjadi seorang misionari atau melayani sebagai hamba Tuhan di kota kecil atau di kota besarkah? Tuhan tidak bicara spesifik akan hal itu. Paulus bilang di Rom.14, kalau ada orang Kristen yang merasa lebih rohani kalau tidak makan daging dan hanya makan sayur, silakan. Tetapi jangan orang yang hanya makan sayur lalu menghina orang yang makan daging, karena itu adalah wilayah disputable matters, bukan wilayah yang Tuhan jelas beri perintah atau laranganNya.
Bolehkah saya pacaran dengan wanita yang usianya lebih tua daripada saya? Ada pendeta bilang, tidak boleh, karena itu tidak Biblical. Menurut Alkitab, Adam diciptakan lebih dulu daripada Hawa, berarti Hawa lebih muda. Maka tidak boleh menikah dengan isteri yang lebih tua. Buat saya, itu bukan bicara soal umur, tetapi Tuhan melakukan seperti itu ada beberapa hal. Satu, ada konsep kepala manusia cuma satu yaitu Adam. Dua, di situ ada peran yang berbeda karena yang disuruh menjadi perwakilan representatif manusia bukan Hawa tetapi Adam. Kalau dua-duanya berposisi sama, bingung. Maka tidak ada kaitan dengan soal umur. Itu adalah wilayah disputable matters. Waktu kita berada di dalam wilayah disputable matters mari kita lihat kata apa yang dipakai Paulus dalam 1 Kor.7:40 Paulus memberi pertimbangan kepada janda yang mungkin sudah berumur lanjut untuk tidak menikah lagi. Di sini Paulus memakai kata, “I counsel you…” Paulus tidak bilang “I command you…” Di sini Paulus sadar itu bukan wilayah yang dia boleh masuk karena itu wilayah pribadi orang. Dia hanya bisa kasih pertimbangan dan nasehat. Maka pendeta yang sudah masuk ke dalam wilayah pribadi orang dan ikut campur menentukan hidupmu, dia sudah pasti mengarah kepada bidat dan sesat.
Hari ini kita melihat beberapa aspek. Pertama, kita berjalan di dalam kehendak Tuhan, berjalan di dalam pimpinanNya yang sempurna, Tuhan meminta kita untuk menjadi orang Kristen yang dewasa. Dewasa bertumbuh dengan kematangan rohani, bijaksana kita di dalam pengenalan firman Tuhan harus bertumbuh. Maka pertimbangkan semua keputusan yang terbaik di dalam hidupmu. Pertimbangkan semua keputusan mana yang prioritas yang lebih penting. Pakai bijaksana yang Tuhan beri dengan bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Yang ketiga, kita adalah orang Kristen yang dewasa, maka kita berlaku dewasa di dalam hubungan kita dengan Tuhan. Ada hal-hal yang mungkin Tuhan tidak bicara maka baik-baik pikirkan di situ dengan sebijaksana mungkin, dan ambil keputusan yang benar. Harapan saya hari ini sdr mengerti dengan jelas dan permintaan saya hanya satu, sdr dan saya tidak boleh menjadi orang Kristen yang terus menjadi dangkal dan tidak bertumbuh secara rohani sebab Tuhan memperlakukan engkau sebagai orang-orang dewasa dan bukan anak kecil. (kz)