GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
03
May

A Journey of Faith (2)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: May 03, 2009
Nats: Yesaya 6:1-8, 2 Tawarikh 25-26

Minggu lalu saya sudah membahas latar belakang dari bagian Yesaya pasal 6 ini, yaitu Yesaya masuk ke dalam Bait Allah pada tahun matinya raja Uzia. Siapakah Uzia? Dia adalah raja yang mencari Tuhan dan mencintai Tuhan dengan sepenuh hatinya. Berbeda dengan ayahnya, Amazia. Raja Amazia masih separuh hati, syncretism, satu tangan pegang Tuhan, tangan yang satu lagi pegang berhala. Satu tangan cari berkat Tuhan, tangan yang satu lagi cari cadangan berkat dari berhala yang lain. Not wholeheartedly. Tetapi Uzia berbeda. Di usia 16 tahun mengambil keputusan untuk cinta Tuhan sepenuh hati dan minta seorang penasehat rohani untuk selalu menyertai dia, mengajar dia akan ketetapan firman Tuhan. Selama 25 tahun lamanya Alkitab mencatat sukses demi sukses terjadi. “Nama raja itu termasyur sampai ke negeri-negeri yang jauh karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat” (ayat 15). Demikian catatan Alkitab mengenai kesuksesan Uzia. Namun tidak berhenti sampai di situ, ayat 16 melanjutkan dengan kalimat ini, “Tetapi setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak.”

Maka, mengapa Tuhan perlu memperlihatkan tahta dan kesucianNya di hadapan Yesaya? Sebab Yesaya hidup melihat tahta raja yang menjanjikan masa depan yang cerah. Dua puluh lima tahun lamanya raja Uzia memerintah, sukses melahirkan sukses, sehingga ketenaran nama raja Uzia terdengar sampai ke negeri-negeri yang jauh. Alkitab mencatat sebelumnya ada satu raja lain yang ketenarannya juga sampai ke negeri-negeri yang jauh, yaitu raja Salomo. Memang pemerintahan raja Uzia tidak bisa mencapai masa keemasan dari raja Salomo. Tetapi setelah raja Salomo meninggal, kita menemukan kerajaan Israel declined, terus turun dan turun. Orang yang sudah pernah memiliki memori mengingat betapa indahnya masa keemasan itu, menanti dengan rindu kapankah masa keemasan seperti itu bisa muncul lagi, dan pengharapan itu ada di dalam diri seorang raja muda yang masih belia ini. Tiap tahun berjalan, pemerintahannya makin kuat dan makin besar. Tetapi sayang setelah dua puluh lima tahun, pemerintahannya kuat, kesuksesan dan kekayaan makin bertambah, dia melupakan kalimat yang dicatat dalam 2 Taw.26:15 ini: dia ditolong dengan sangat ajaib oleh ‘tangan yang tidak kelihatan’ itu di belakang hidupnya. Dia lupa. Ketika dia menjadi kuat akhirnya dia menjadi tinggi hati, sombong dan merasa itu semua adalah hasil usahanya sendiri.

Pada waktu Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Alkitab mencatat Tuhan berjanji membawa mereka ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Itu janji Tuhan. Namun pada waktu mereka sudah keluar, Tuhan tidak langsung memberi mereka mencicipi susu dan madu itu. Sebaliknya yang Tuhan kasih pertama kali waktu mereka sudah keluar dari Mesir adalah satu perayaan memori yang tidak boleh dilupakan sepanjang sejarah. Memori apakah itu? Memori akan hari Paskah. Hari itu Tuhan menyuruh mereka makan sayur pahit dan roti yang tidak beragi. Lalu di situ biarkan anak dan cucu bertanya, apa artinya semua ini? Mereka sudah tidak mengalami masa lalu itu. Yang ada pada mereka adalah memori yang ditinggalkan oleh ayah ibu mereka. Maka Tuhan menyuruh mereka menceritakan kepada anak dan cucu bagaimana tangan Tuhan yang kuat telah membawa mereka keluar dari kepahitan perbudakan Mesir. Itu artinya sayur pahit. Tidak ada salahnya satu tahun satu kali makan sayur pahit. Toh 364 hari engkau sudah hidup berlimpah susu dan madu, bukan? Tetapi mengapa satu hari itu begitu penting di dalam hidupmu? Sebab engkau tidak boleh pernah melupakan satu memory yang penting sepanjang sejarah, kalau sampai engkau bisa menikmati susu dan madu, itu diawali oleh tangan Tuhan yang kuat yang sudah melepaskan engkau dari perbudakan. Itu menjadi memori yang indah sekali. Sdr yang pernah hidup susah, alangkah baiknya satu waktu bawa anak cucu sdr pulang ke negeri asalmu, ke rumah dimana engkau pertama kali tinggal. Ceritakan dan ingatkan dia bagaimana susahnya hidupmu, perjuanganmu, usahamu. Semua yang mereka nikmati sekarang bukan turun begitu saja dari langit. Memori itu penting. Nostalgia itu penting.

Mengapa Tuhan perlu membawa Yesaya kembali melihat kesucianNya? Ini point yang penting. Ada banyak kali di dalam perjalanan gereja-gereja, kita melihat sejarah tragedi seperti ini bisa terulang kembali, hal yang saya sebut sebagai “Amnesia Sejarah.” Kita perlu belajar hati-hati dan peka dalam banyak hal. Saya pernah menemukan satu kasus yang sangat menyedihkan sekali, ada pendeta tua yang sudah berpuluh tahun lamanya merintis dan mendirikan satu gereja, saking melayani dengan sungguh dan setia, akhirnya dia lupa bagaimana memikirkan masa depan isteri dan anak-anaknya. Tiba-tiba keburu dia meninggal duluan. Sdr pernah dengar kasus isteri pendeta tua diusir dari pastorinya karena ada pendeta baru yang datang? Itu pastori mau dipakai pendeta yang baru, maka janda pendeta lama tidak boleh lagi tinggal di situ. Selama hidup, suaminya yang melayani dengan kerja keras, tidak pernah ingat untuk punya rumah sendiri. Setelah mati, isteri dan anak terbengkalai oleh gereja. Ada orang-orang yang seperti itu, lupa dengan jasa dan perjuangan hamba Tuhan dan tidak pernah memikirkan kehidupan mereka selanjutnya. Hal-hal seperti ini boleh menjadi satu peringatan, kadang-kadang kita melupakan masa-masa yang sulit sehingga kita take it for granted pada waktu menikmati semua kelancaran, as it is. Sdr yang sekolah di sini, ingat baik-baik, you bisa sekolah di sini jangan pikir ‘as it is.’ Pulang, coba tanya papamu, nanti sdr baru tahu mungkin mereka pernah punya kerinduan mau sekolah di luar negeri tapi tidak pernah kesampaian. Akhirnya tabung uang habis-habisan untuk engkau bisa sekolah di sini. Jangan hambur-hambur uang sembarangan. Kenapa Uzia jatuh? Selama 25 tahun dia tidak pernah belajar merefleksi tahun demi tahun ke belakang, memori yang penting untuk dipegang baik-baik: saya ada sampai hari ini sukses darimana? Bukankah ada air mata dan keringat di baliknya? Engkau bisa kaya hari ini, ingat ada kemelaratan dari orang tuamu melahirkan kekayaan ini. Semua itu bisa menjaga hati kita tidak menjadi lupa dan sombong. Hari ini kita sama-sama merayakan ulang tahun gereja kita, kita juga tidak boleh melupakan perjalanan sejarah kita. Bagi sdr yang baru datang dua tiga tahun, jangan pikir gereja ini ada ‘as it is.’ Itu sebab kita harus bersyukur kalau tangan Tuhan sudah memimpin dan memelihara kita. Kita harus berterima kasih ada kerelaan dan pengorbanan besar dari orang-orang yang terus-menerus boleh melayani bersama-sama kita. Itu membuat pelayanan kita menjadi lebih indah dan lebih solid.

Yang kedua, kenapa Tuhan memperlihatkan tahtaNya yang suci dan agung itu kepada Yesaya? Tuhan memperlihatkan tahta dan kesucianNya kepada Yesaya supaya melalui itu, sinar cahaya kesucian dan tahta Raja semesta alam menyinari Yesaya sehingga Yesaya jangan sampai silau melihat tahta seorang raja yang namanya Uzia. Tahta itu akan segera lenyap dan hilang. Dengan demikian, Yesaya baru sadar segala hal yang baik, yang hebat, bakat dan talenta dan pelayanan yang bisa kita bawa kepada Tuhan, semua itu tidaklah layak di hadapan Tuhan. Itu sebab respons Yesaya langsung tersungkur dan berkata, “Celakalah aku, aku seorang yang najis bibir!”

Tuhan kita adalah Tuhan yang “self sufficient.” Tuhan sebenarnya tidak perlu apa-apa dari kita. Tuhan kita adalah Tuhan yang self sufficient sehingga Alkitab mengatakan Tuhan tidak butuh persembahan dari manusia. Manusia bisa membawa persembahan kepada Tuhan karena itu semua diberi oleh tangan Tuhan yang baik kepada mereka. Tuhan tidak perlu persembahan kita kepadaNya. Kita yang perlu Dia. Tuhan tidak perlu dilayani, tetapi kita yang perlu melayani Dia. Dan pada waktu kita melakukan semuanya, kita selalu harus memiliki satu kesadaran apapun yang kita beri kepada Tuhan tidak bisa sempurna dan tidak mungkin bisa baik dan lengkap adanya. Tidak ada yang cukup layak dari kita yang kita bisa beri kepada Tuhan. Itu sebab melihat kesucian Tuhan perlu untuk menjadi sinar yang selalu mengintrospeksi hidup kita di hadapan Dia. Banyak hal yang kita bawa dan kita beri sesungguhnya tidak layak di hadapan Tuhan.

Kenapa Yesaya perlu melihat kesucian Tuhan? Supaya Yesaya sadar selama ini menjadi nabi, Tuhan sudah pakai mulutnya untuk melayani, pun mulut itu tidak layak untuk menjadi “container” firman Tuhan yang begitu suci dan indah. Itu sebab dia bilang, “Aku ini najis bibir.” Bukan firman Tuhannya yang najis, tetapi mulutku yang najis. Artinya “container” ini tidak layak dipakai menjadi penyambung lidah Tuhan. Sikap itu yang harus menjadi fokus di dalam hidup kita. Orang datang, lalu bilang apa yang bisa dia bantu? Saya tidak suka kalimat seperti itu. Sdr yang dekat dengan saya selalu tahu prinsip saya di dalam pelayanan. Saya tidak pernah ajak orang yang baru datang ke sini untuk langsung melayani, apalagi untuk mengikat dia dengan jabatan pelayanan. Saya hanya lihat orang yang sudah beberapa waktu rutin datang berbakti, baru saya tanya bagaimana hati dia. Kalau dia masih pegang pelayanan di gereja lain, biar dia bereskan baik-baik. Kalau hatinya ada di sini, saya minta dia baik-baik mendoakan kalau dia mau ambil bagian pelayanan, baru dia melayani di sini. Itu sikap saya. Kenapa? Karena kita tidak ingin merugikan dan menjadi bersalah kepada gereja lain. Setelah sdr tiga bulan datang, sdr mau menjadikan gereja ini sebagai rumahmu dan keluargamu, saya selalu welcome. Taruh hati baik-baik di sini, baru kita melayani sama-sama. Demikian juga kalau sdr sudah anggota di sini, lalu sdr pindah ke kota lain, saya selalu menganjurkan sdr cepat-cepat mencari gereja lokal di sana dan kalau bisa ambil bagian pelayanan di sana, bahkan kalau perlu pindah keanggotaan gereja di sana. Dengan demikian sdr punya rumah dan gereja dimana engkau bisa leluasa melayani Tuhan. Itu selalu dorongan saya. Dengan demikian kita bertanggung jawab dan berbagian di dalam kerajaan Allah. Kita sama-sama melayani, kita tidak datang untuk bantu-bantu.

Yesaya melihat kesucian Tuhan melahirkan respons ini: Tuhan, saya tidak layak. Tetapi sekaligus paradoks muncul. Paradoksnya adalah ketidaklayakan muncul sekaligus kerelaan muncul. Begitu sdr bertemu dengan kesucian Tuhan, paradoks ini akan terjadi, merasa najis bibir tetapi sekaligus memiliki keberanian. Maka, hanya bertemu dengan kesucian Tuhan, hanya bertemu dengan Tuhan yang sejati, yang kita layani bukan lagi diri, bukan lagi motivasi yang lain kita akan melahirkan paradoks ini. Setiap hari kita merasa tidak layak menjadi hamba Tuhan, tetapi di hari yang sama sekaligus kita rela melayani sampai mati untuk Tuhan. Setiap kali kita melayani Tuhan selalu merasa pelayanan ini terlalu berat dan kita tidak sanggup, tetapi sekaligus juga melahirkan hati yang minta kekuatan, saya tetap mau. Kesucian Tuhan menjadi fokus di tengah. Waktu kita ingin sungguh dan rajin namun kita kecewa tidak dihargai orang, kita bisa hilang selama-lamanya karena kita masih belum melihat Tuhan di situ. Kita hanya masih melihat diri di situ. Sudah melayani setengah mati tapi tidak ada yang hormati dan respek, mungkin membuat kita down. Tetapi sdr perhatikan mengapa kita perlu melihat kesucian Tuhan dan bukan melihat orang atau hal yang lain? Tidak ada cara lain lagi.

Saya percaya waktu Yesaya berada di dalam Bait Allah kira-kira yang ada di dalam pikirannya bagaimana sandar kepada raja Uzia, karena dengan “nebeng” reformasi dia pelayanan bisa lebih maju. Kalau raja yang perintahkan, semua pasti kumpul untuk dengar khotbah Yesaya. Bagus, bukan? Ini orang yang cinta Tuhan, raja yang begitu baik, raja yang sudah membawa reformasi, tapi sekarang tahu-tahu mati. Tinggal saya sendiri di sini. Bagaimana pelayanan ini bisa berjalan dengan baik, Tuhan? Kira-kira demikian hati dan pergumulan Yesaya. Maka Tuhan datang. Tuhan tidak kasih lihat apa-apa. Tuhan hanya kasih lihat keagungan Tuhan, keindahan Tuhan, kesucian Tuhan. Waktu engkau lihat, di situ engkau sadar dirimu tidak ada apa-apanya. Tetapi sekaligus engkau akan berani dan tidak akan pernah mundur. Selanjutnya Tuhan bilang kepada Yesaya, engkau pergi melayani tidak ada yang mau dengar apa yang engkau katakan. Engkau akan mengalami kesulitan dan tantangan. Tetap itu semua tidak membuat Yesaya mundur.

Kalau kita memurnikan hati melayani Tuhan, kita tidak akan pernah takut masuk ke dalam kesucian Tuhan. Banyak orang takut, lari bersembunyi karena tidak mau segala yang tidak baik di dalam hidup kita dilihat oleh Tuhan. Kita bodoh kalau kita lari dari Dia. Saya minta sdr, mari kita jujur dan terbuka di hadapan Tuhan. Jangan lari dari kesucian Tuhan. Karena pada waktu sdr menghampiri kesucian Tuhan hal-hal yang kotor yang tidak perlu ada pasti akan rontok, tetapi hal-hal yang berkualitas yang tidak bisa hancur dimakan api makin lama makin murni. Kalau sdr mengasihi dan melayani Tuhan, berani menghampiri kesucian Tuhan, jadilah seperti emas. Makin masuk ke dalam pembakaran, emas itu makin murni. Itu sebab Alkitab bilang emas yang paling murni adalah emas yang sudah masuk ke dalam pembakaran tujuh kali. Makin dibakar, yang kotor makin lepas. Yang tinggal adalah emas yang betul-betul emas. Tidak usah takut. Jika engkau rela berkorban bagi Tuhan, makin dibersihkan oleh kesucian Tuhan, hatimu makin berkorban bagi Tuhan. Itu kualitas yang tidak akan pernah hancur. Engkau cinta Tuhan, engkau akan semakin disucikan, engkau semakin cinta Tuhan. Miliki hati yang seperti itu.

Semua pengurus, semua guru Sekolah Minggu, semua yang ambil bagian melayani, saya harap sdr memiliki sikap hati seperti itu. Hari ini kita merayakan ulang tahun gereja kita yang ke 10, ada beberapa memori yang ingin saya angkat dan buka kepada sdr supaya kita boleh mengingat perjalanan gereja kita. Bagi saya secara pribadi, ada beberapa hal yang tidak pernah saya buka dan keluarkan, hari ini mau saya buka supaya menjadi sejarah yang tidak kita lupakan. Salah satunya, saya tidak pernah berpikir bahwa gereja ini akan menjadi seperti ini. Pertama kali datang ke Australia, visa saya adalah visa student. Beberapa keluarga yang bersama-sama memulai pelayanan punya visa PR (permanent resident). Saya sudah bilang kepada mereka, janji terus sama-sama dengan saya di sini. Artinya, saya takut someday visa student saya tidak bisa diperpanjang, siapa yang akan meneruskan pelayanan ini? Namun hati saya rasa tenggelam, dalam dua tahun semua keluarga yang memulai dengan saya pulang ke Indonesia lagi. Ini situasi yang tidak bisa dihindari sebab kehadiran mereka berkaitan dengan pekerjaan. Waktu saya tinggal sendiri, sdr tidak bisa bayangkan bagaimana hati saya. Saya hanya bilang kepada Tuhan, bagaimana ini? Bagi saya itu adalah fase gereja kita yang sangat kritikal dan sangat mengecewakan. Karena jujur, waktu itu tidak banyak orang yang saya kenal hatinya. Satu-satunya yang saya kenal hatinya hanya isteri saya. Jadi itu pergumulan yang saya simpan dalam-dalam.

Yang kedua, ini yang saya janji di hadapan Tuhan. Sejak mula saya sudah bilang kepada Tuhan, saya mau memurnikan motivasi saya. Maka enam bulan pertama, saya tidak ambil honor dari gereja ini. Setelah enam bulan, GRII Sydney baru bisa memberi saya honor. Di situ hati saya baru lega, karena dari pertama saya tidak punya motivasi apa-apa. Waktu itu kondisi keuangan juga susah sekali. Kebaktian yang hadir kira-kira 30 orang, persembahan hanya cukup untuk membayar sewa hall di Matraville $30 dan hanya sanggup membeli tiket saya Melbourne-Sydney dua kali sebulan. Tiket waktu itu sekitar $180-200. Keadaan terus begitu sampai Desember 1999. Waktu itu jemaat sudah 60-an. Lalu kita minta kalau bisa pak Tong datang ke Sydney, dan itu terjadi pada bulan Mei 2000. Waktu itu jemaat sudah 80-an orang. Persembahan pas $500. Saya lalu bilang kita harus pindah ke daerah City. Sewa tempat di Unilodge itu $500 per week, persis dengan uang persembahan yang dikumpul tiap minggu. Kalau tidak salah waktu itu semua pengurus tidak setuju untuk pindah. Tetapi bagi saya itu adalah perdebatan mana dulu ayam atau telur. Tunggu sampai orang datang lebih banyak baru persembahan bertambah baru pindah, atau pindah dulu nanti orang datang lebih banyak dan persembahan bertambah. Saya bisa saksikan dari pertama pindah ke Unilodge hingga sekarang tidak pernah sekalipun kita terima persembahan di bawah $500. Berarti benar, pindah dulu, pelayanan berkembang, jemaat lebih banyak mendukung pelayanan ini. Dari 80 orang, Pdt. Stephen Tong datang memimpin KKR dan meneguhkan gereja ini, sejak itu setiap minggu kebaktian dihadiri 120-an orang. Akhirnya akibat kesalahan double booking di Unilodge membuat kita buru-buru cari tempat dan dapat di UTS sini. Waktu itu harga sewanya malah lebih murah, $440. Kondisinya lebih besar dan lebih bagus daripada Unilodge. Sejak itu, bye bye Unilodge. Kalau tidak ada insiden itu, kita tidak pernah tahu UTS, bukan? Sudah lebih dari 8 tahun kita pakai tempat ini, dari sewa $440 sekarang sudah $980 per week, kita tidak pernah tekor. Itu adalah perjalanan kita.

Kembali kepada memori pertama itu menjadi kekuatan kita. Kita ada sampai hari ini sebab ada tangan Tuhan yang kuat yang sudah memimpin dan memelihara kita. Kita ada sampai hari ini sebab kita tidak pernah lupa memori bahwa tidak selamanya keberhasilan itu lahir dari keberhasilan tetapi berasal dari kesulitan dan jerih payah orang-orang yang semuanya mendatangkan penghargaan dan penghormatan bagi mereka yang mau melayani dan mengasihi Tuhan.

Apa yang bisa men-sustain hidup kita seperti ini? A good memory. Through all these things we see the mighty hands of our Lord behind them. I know I serve the holiest being in this universe, sehingga tidak ada yang bisa saya bawa boleh menjadi kebanggaanku. Aku tidak layak. Tetapi sekaligus karena aku melayani Tuhan yang memiliki segala sesuatu, maka aku tidak takut. Karena setelah aku melayani Dia, Dia pasti mencukupkan apa yang kurang di dalam pelayanan kita. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.(kz)