Khotbah saya pagi ini adalah suatu doxological sermon, suatu khotbah yang ingin membawa kita kembali kepada Tuhan, kita memuji dan membesarkan Tuhan yang sudah memimpin pelayanan saya secara pribadi maupun pelayanan kita bersama-sama. Biar nama Tuhan saja yang ditinggikan dan dimuliakan. Selama satu bulan ini hati dan pikiran saya terfokus kepada bagian firman Tuhan di dalam Yesaya 6 ini. Ada dua hal yang penting sekali muncul di dalamnya. Bagian yang pertama adalah bagaimana seorang nabi Tuhan yang sudah melayani Tuhan kembali memiliki hati yang dibawa kepada Tuhan. Saya percaya, Yesaya 6 bukan panggilan pertama Tuhan kepada nabi Yesaya untuk melayani Dia. Yesaya 6 ini boleh dikatakan adalah re-dedikasi pelayanan Yesaya bagi Tuhan. Tuhan bertanya, “Siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka Yesaya menjawabnya dengan kalimat yang sangat indah ini, “Tuhan, ini aku.” Saya sangat tersentuh dengan jawaban Yesaya ini. Itu hati saya. Saya juga pernah berkata, “Tuhan, ini saya. Here I am, Lord. Pakai saya.
Mempersiapkan khotbah hari ini, jujur hati saya gentar. Sepuluh tahu sudah saya mengerjakan pelayanan di tempat ini, sekarang saya harus mengkhotbahkan bagian firman Tuhan ini. Tujuannya cuma satu, kalau Yesaya kembali diarahkan kembali melayani Tuhan, kembali mempunyai hati yang berdedikasi sepenuhnya untuk Tuhan karena dia berjumpa dengan kesucian Tuhan, itu juga yang menjadi keinginan hati saya bagi kita semua. Tidak ingin saya ulang tahun gereja kita tidak diawali dengan konsep ini: Tuhan, kami bersyukur. Kami mau mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada Tuhan. Yang kedua yang sangat penting di dalam bagian ini adalah Tuhan membukakan kepada kita konsep kesucian Tuhan tetapi sekaligus ada implicitly memperlihatkan Tuhan yang bertahta di surga itu adalah Allah Tritunggal. Kita melihat para malaikat berseru tiga kali kata “kudus, kudus, kuduslah Tuhan.” Kemudian waktu Tuhan berkata, “Siapakah yang akan KUutus? Siapakah yang mau pergi untuk AKU?” (ay.8)itu boleh menjadi salah satu ayat penting secara tidak langsung di dalam PL yang menjadi bukti Allah yang kita sembah itu adalah Allah Tritunggal. Mengapa? Karena di dalam terjemahan Indonesia ada yang kurang terlalu tepat, ayat itu seharusnya diterjemahkan “Whom shall I (kata pertama singular)send? And who will go for US?” (kata pertama plural) Jadi pertama Tuhan memakai kata singular, kemudian Tuhan memakai kata plural. Dari situ menjadi bukti tidak langsung Allah yang kita sembah adalah Allah yang Tritunggal adanya.
Satu pikiran menarik muncul, mengapa Tuhan memanggil Yesaya bukan dengan memperlihatkan beban pelayanan? Mengapa Tuhan bukan memperlihatkan ada hal yang harus Yesaya layani? Mengapa Tuhan justru memperlihatkan kepada Yesaya ujung jubah dan kesucianNya memenuhi Bait Allah yang akhirnya menjadi kekuatan yang dahsyat bagi Yesaya untuk merededikasi hidupnya melayani Tuhan,karena sesudah itu di ayat 9 sdr lihat Tuhan bilang, “Aku akan mengutus engkau kepada bangsa yang tidak mau mendengar apa yang engkau katakan.” Tetapi Yesaya tidak menjadi takut dan gentar, karena peristiwa berjumpa dengan Tuhan itu sudah menjadi api dan kekuatan yang membakar pelayanannya.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, muncul satu pertanyaan lagi, kenapa Yesaya masuk ke dalam Bait Allah yang suci? Indikasinya yang paling penting ada di ayat 1, yaitu kalimat “Pada tahun matinya raja Uzia…” Ini yang menjadi latar belakang yang sangat penting untuk mengerti bagian Yesaya pasal 6 ini. Kira-kira beberapa bulan sebelumnya, raja Uzia masuk ke dalam tempat maha suci di dalam Bait Allah, tempat yang seharusnya tidak boleh dia masuki. Saat Yesaya masuk ke dalam Bait Allah, saya tidak tahu apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Kita hanya bisa menebak dan mereka-reka. Mengapa Tuhan harus datang dan mengapa event itu menjadi re-dedikasi Yesaya untuk melayani Tuhan. Kenapa Yesaya masuk ke dalam Bait Allah? Apakah Yesaya masuk untuk meratapi kematian seorang rajakah? Apakah Yesaya masuk ke Bait Allah karena sedang memikirkan kenapa ada raja yang sebenarnya baik, tetapi berani masuk ke dalam ruang maha suci Bait Allah dengan segala kecongkakannya, sehingga sayang sekali akhirnya Tuhan menghukum dia dengan begitu kerasnya? Saya akan mengajak sdr melihat kepada konteks latar belakangnya di dalam 2 Tawarikh 25-26. Di pasal 25 kita bertemu dengan ayah dari raja Uzia yang bernama Amazia. Ayat 2 mengatakan raja Amazia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, hanya tidak sepenuh hati. Dia seorang raja yang cinta Tuhan, tetapi satu kelemahannya yaitu dia tidak sepenuh hati. Pegang Allah kalau Dia bisa tolong. Pegang dewa-dewa lain, kalau mereka bisa bermanfaat buat dia. Campur baur agamanya. Menyembah Tuhan dan menyembah dewa-dewa. Ini politisi sejati. Yang penting semua aman, damai, sejahtera. Berbeda dengan Uzia, setelah menggantikan ayahnya menjadi raja di usia 16 tahun. 2 Taw.26 menceritakan bagaimana riwayat raja Uzia. Dia mencari seorang mentor rohani yang bernama Zakharia untuk mendampingi dia untuk mencintai Tuhan sepenuh hatinya (ay.5). Inilah raja Uzia. Boleh dikatakan Uzia adalah raja yang memberi pengharapan karena dia sukses di dalam peperangan militer mengalahkan Filistin (ay.6). Dia adalah seorang yang memiliki kapabilitas di dalam membangun bangsanya. Dia mendirikan menara-menara. Dia menggali banyak sumur karena ekonomi dan peternakannya maju. Bukan saja demikian, dalam bidang militer kemajuannya luar biasa (ay.11). Dia mempunyai 2600 prajurit kopassus yang pandai berperang dan 307.500 orang tentara (ay.12) dan bukan itu saya,kalau pakai bahasa kita sekarang, dia sudah berhasil menemukan senjata nuklir (ay.14). Dia memperlengkapi tentaranya dengan perisai, tombak, ketopong, baju zirah, busur panah dan batu umban. Ingatkan baik-baik pada jaman itu bisa membuat perisai dan tombak adalah suatu teknologi yang sangat tinggi. Sdr tahu kenapa pada jaman Daud bangsa Israel terus-menerus kalah melawan Filistin? Karena Filistin menguasai komoditi besi dan logam berat, sedangkan Israel belum bisa bikin tombak. Maka prestasi yang dicapai oleh Uzia sangat tinggi. Ayat 15 ia membuat alat-alat perang yang bisa menembakkan anak panah dan batu besar ke pihak musuh. Sdr yang pernah nonton film “Red Cliff” pasti bisa mengerti teknologi itu. Ayat ini mencatat alat-alat perang ini hasil penemuan seorang ahli, itu kira-kira “Albert Einstein-”nya Uzia. Dia bisa menciptakan senjata yang belum ada pada bangsa-bangsa lain. Baru tiga abad kemudian, teknologi itu kembali ditemukan padahal sebelumnya sudah dibikin oleh Uzia. Tidak ada yang bisa menandingi masa kejayaan di dalam sejarah kerajaan Israel seperti pada waktu masa pemerintahan raja Salomo. Setelah Salomo mati, kerajaannya terpecah dua, Israel dan Yehuda. Kerajaan Israel makin lama makin jahat, sedangkan kerajaan Yehuda kadang-kadang punya raja yang sedikit agak baik, tetapi juga punya raja jahat. Itu adalah masa kerajaan Yehuda yang makin lama terus menurun. Tetapi puji Tuhan, ada seorang raja muda, umur 16 tahun maju dan berdiri dan wholehearted cinta Tuhan. Banyak orang menaruh pengharapan yang besar kepada dia. Ekonomi maju. Militer hebat. Selama 25 tahun pemerintahannya dia sudah mencapai prestasi yang begitu tinggi. Namanya begitu termasyur sampai ke negeri-negeri yang jauh. Apakah Yesaya merasa sayang sekali raja yang begitu baik akhirnya mati dalam usia muda? Ini seorang raja yang kami harapkan bisa memimpin kerajaan Yehuda paling tidak mendekati kejayaan kerajaan kita dahulu. Mungkin itu yang ada di dalam hati Yesaya sehingga dia masuk ke dalam Bait Allah untuk meratapinya. Siapa lagi yang bisa kami harapkan membawa bangsa ini lebih cinta Tuhan? Masa depan begitu suram. Ataukah Yesaya masuk ke dalam Bait Allah untuk bertanya, mengapa orang yang dari awalnya begitu cinta Tuhan, dua puluh lima tahun memimpin dan mencapai sukses yang luar biasa, tetapi akhirnya berakhir dengan tragis dan menyedihkan? Setelah Uzia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati dan melakukan hal yang destruktif. Betapa sayangnya.
Ayat 15 mengatakan, Uzia menjadi berhasil dan termasyur ”...karena ia ditolong dengan ajaib…” Kita percaya yang menolong Uzia adalah the Almighty Hand. Hidupku dan kesuksesanku terjadi sebab ada tangan yang kuat menolong aku. Itulah yang mesti keluar dari mulut kita. Bahaya sekali kalau kita bilang hidupku dan kesuksesanku adalah hasil kerja kerasKU. Apa yang aku dapat sekarang adalah karena kehebatanKU. Kepintaranku, kesuksesanku, kehebatanku. Itulah Uzia. Sayang sekali,dia tidak sanggup bisa mempertahankan konsistensi hidup sampai akhir dengan hati yang rendah di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya mengapa bertemu dengan kesucian Tuhan itu sangatlah penting bagi nabi Yesaya. Kenapa sampai perlu penyataan itu? Salah satunya adalah karena kita harus melihat semua hal yang terjadi di dalam hidup kita sebab hidup kita ini bersandar kepada “tangan yang kuat” yang menolong kita. Bukan uangMU, bukan kekuatanMU, bukan apa yang engkau miliki.
Itu sebab memasuki ulang tahun gereja kita yang ke10 mengapa saya merefleksi baik-baik akan hal ini, karena inilah yang terpenting di dalam hidup kita. Kita mendapatkan sesuatu, kita berhasil melakukan sesuatu, kita tidak boleh lupa untuk bersyukur, ada tangan yang tidak kelihatan itu yang menolong kita. Dalam satu minggu ini saya mengingat kembali apa yang sudah Tuhan kerjakan di dalam hidup saya dan hari ini saya akan menyatakan banyak hal yang tidak ngomong kepada sdr.
Hari Rabu malam, paman saya meninggal dunia pada usia 67 tahun. Saya ingin sekali pulang ke Jakarta. Kenapa? Karena saya sadar, saya ada sampai hari ini adalah jasa paman saya. Bagaimanapun, saya ingin mengapresiasi dia. Karena tidak ada kesempatan, paling tidak saya membawa sedikit cerita dari kehidupan dia supaya boleh menjadi berkat. Orang yang sudah pernah dipakai Tuhan membesarkan dan mengarahkan saya, saya tidak akan pernah lupa. Sejak muda dia sudah berjuang begitu keras, lulus SMP merantau ke Jakarta sampai akhirnya menjadi sukses. Dia membiayai saya melanjutkan studi ke Jakarta karena papa saya saat itu sudah sakit keras dan tidak mampu. Satu kali dia mengajak saya ikut SPIK dari Pdt. Stephen Tong selama tiga hari. Di sanalah Tuhan kemudian memanggil saya untuk menjadi hambaNya sepenuh waktu. Ini adalah satu keputusan yang sangat sulit karena saya menyadari sebagai anak pertama, orang tua mengharapkan sayalah yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Itu pergumulan yang tidak gampang. Papa dan paman saya sangat menentang keputusan saya. “Jadi pendeta, mau makan apa?” Sampai satu tahun Papa saya tidak mau bicara dan tidak menganggap saya anaknya lagi. Anak pendeta mau jadi pendeta, papanya bersyukur. Tetapi waktu anak majelis mau jadi pendeta, papanya tidak rela karena dia tahu jadi pendeta hidupnya susah, suka disiksa sama majelisnya. Waktu mau masuk SAAT, paman saya mengatakan, “Kamu kan dipanggil Tuhan menjadi hamba Tuhan, biar seluruh hidupmu bersandar sama Tuhan. Kalau saya ada uang, kapan-kapan saya kasih. Tapi kamu kan tahu Tuhanmu lebih besar daripada saya, bersandar sama Dialah…” walaupun akhirnya dia memberi uang sebelum saya berangkat ke Malang. Saya harus mengaku saya studi menjadi hamba Tuhan karena didukung sama dia, tetapi di pihak lain hati sedikit sakit karena kadang-kadang orang memberi bantuan lalu merasa lebih hebat. Saya hanya bisa doa, “Tuhan, Engkau sudah panggil saya dan saya taat kepadaMu. Saya tahu Engkau Allah yang hidup, saya bersandar kepadaMu.” Satu tahun pertama hidup saya di SAAT itu adalah masa dimana saya tahu tangan Tuhan menolong dan itu adalah masa saya penuh dengan air mata. Hidup saya betul-betul dibentuk untuk belajar bersandar kepada Tuhan. Pernah satu waktu, uang untuk beli odol dan sabunpun sampai tidak ada. Maafkan, saya pernah mencuri odol teman supaya bisa gosok gigi. Tetapi Tuhan luar biasa. Pas hari itu ada seseorang memberi amplop isinya uang Rp.5.000 di meja saya. Sampai sekarang saya tidak tahu siapa yang kasih. Ada tiga kali orang secara rahasia memberi uang kepada saya. Itu yang saya sebut “burung-burung gagak” di dalam kehidupan kita, seperti burung gagak yang memelihara nabi Elia. Bagaimana sampai dia tahu saya sangat perlu uang waktu itu, misteri yang tidak pernah ada jawabannya. Yang saya tahu Tuhan yang menyediakan pada waktunya. Bicara soal bagaimana tangan Tuhan memimpin, kira-kira itu pengalaman saya.
Engkau bisa sukses,engkau bisa berhasil, hai Uzia, kenapa perlu menyatakan kemuliaan Tuhan? Karena engkau harus sadar baik-baik ada tangan yang kuat yang menolong hidupmu. Kalau itu tidak kita pegang baik-baik, kita akan jatuh seperti Uzia, kita menjadi arrogant dan congkak. Bahaya sekali. Tidak boleh hidup kita, pelayanan kita, kita anggap itu semua dari kita. Pada saat kita merasa seperti itu, maafkan, kita sudah jatuh persis sama seperti Uzia. Itu yang membikin nabi Yesaya masuk ke Bait Allah. Kehadiran kesucian Tuhan memurnikan banyak hal di dalam hidup kita. Salah satunya, memurnikan hati kita untuk tidak berani untuk merebut apa yang menjadi kemuliaan Tuhan yang sudah memimpin dan memelihara hidup kita.
Papa saya bilang, “You mau jadi pendeta, mau makan apa?!” Saya sadar saya anak pertama, adik saya ada lima. Bagaimana saya bisa membantu keluarga? Tetapi saya bisa membuktikan nama Tuhan tidak dipermalukan. Selama studi di SAAT saya tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi sesudah saya melayani, saya melaksanakan tanggung jawab saya terhadap orang tua dengan menyekolahkan dua adik saya yang terakhir sampai selesai. Saya praktek satu tahun di Pematang Siantar, gaji saya RP.350.000. Tiap bulan dipotong Rp.160.000 untuk membayar kuliah adik saya, sampai selesai. Selesai praktek di Siantar, saya melayani di Bandung. Tidak pernah bicara soal gaji, baru tahu mereka memberi lebih rendah daripada gereja di Siantar. Saya tidak bisa mengerti bagaimana melalui semua proses ini akhirnya kita bisa membuktikan Tuhan itu pemelihara yang setia. Yang kedua, pada waktu Tuhan memberikan penglihatan tahta Tuhan yang begitu suci, membawa Yesaya sadar bahwa hidup ini tidak boleh bersandar kepada orang seperti Uzia. Engkau pikir dia bisa melakukan perubahan itu? Bukan dia. Engkau tidak bisa bersandar kepada kesuksesan yang dia capai. Kita hanya bersandar kepada kesucian Tuhan. Kenapa Tuhan perlu memperlihatkan kesucianNya kepada Yesaya? Supaya kita sadar sesadar-sadarnya di hadapan Tuhan apa yang kita bawa semua tidak layak. Begitu melihat kesucian Tuhan, Yesaya langsung menutup mulutnya dan mengaku, “Tuhan, aku seorang yang najis bibir…” Dia bukan seorang tukang bohong. Dia adalah seorang nabi Tuhan yang sungguh-sungguh benar menyampaikan firman Tuhan. Namun sesungguh-sungguhnya dia, sebenar-benarnya dia, begitu di hadapkan kepada kesucian Tuhan baru sadar diri ini tidak layak. Terlalu dahsyat kesucian Tuhan itu.
Dari awal saya tidak pernah akan bilang saya merintis GRII Sydney. Sdr baca di website, saya memakai kata “saya bersama-sama dengan beberapa keluarga memulai pelayanan di Sydney.” Sampai kapanpun saya tetap menggunakan kalimat itu. Apakah saya pernah berpikir bahwa pelayanan saya akan sampai seperti ini? Tidak pernah. Kami memulai dengan 26 orang. Minggu kedua jadi 18 orang. Dari Mei sampai Desember 1999, pengunjung kebaktian berkisar 60-70 orang. Sampai satu tahun kemudian, waktu Pdt. Stephen Tong datang, jemaat menjadi 120 orang. Saya tidak pernah berpikir pelayanan mau seperti apa. Awalnya , tahun 1999 saya pergi ke Melbourne setelah sebelumnya dua kali memimpin camp pemuda di situ yang kira-kira hanya 20 orang. Melihat mereka, hati saya tergerak luar biasa. Saya mau mencoba melakukan sesuatu. Waktu itu isteri saya sedang mengandung. Saya mengatakan kepada dia beban hati saya untuk melayani di Melbourne, dia taat untuk pergi. Tiga tahun melayani di sana, jemaat yang berbakti mencapai 180 orang. Kita ke Melbourne tidak tahu apa-apa, hanya membawa tabungan pribadi yang tidak besar jumlahnya. Saya jujur memberi tahu, waktu pergi ke Melbourne, Pdt. Stephen Tong diam-diam kasih uang untuk kami. Juga ada beberapa “burung gagak” memberi. Uang tabungan kami waktu itu hanya ada $2500,karena waktu itu harga dollar sangat tinggi. Sampai di situ baru sadar, perlu biaya yang sangat besar untuk melahirkan. Sampai Melbourne isteri sudah mengandung 4 bulan, baru ikut private insurance, sdr tentu tahu ada waiting period policy yang menolak untuk men-cover persalinan sebelum satu tahun. Akhirnya isteri saya dianjurkan oleh dokternya untuk tinggal hanya satu hari di rumah sakit supaya tidak membayar terlalu mahal. Sore melahirkan, besok paginya pulang. Itu satu-satunya cara untuk berhemat. Puji Tuhan tidak ada komplikasi apa-apa. Sewa rumah cuma bisa yang model “perumnas”, $720/bulan. Maka pengeluaran tiap bulan untuk sewa tempat, listrik, dsb harus kami tanggung dari uang sendiri. Saya sudah memberi tahu isteri saya, kalau situasinya terus seperti ini, uang tabungan kita akan habis dalam delapan bulan dan kita harus kembali ke Indonesia.
Saya menceritakan semua hal ini tujuannya hanya satu, untuk memperlihatkan bagaimana tangan Tuhan setia memelihara kami. Itu menjadi kebanggaan yang tidak bisa direbut oleh siapapun. Setiap orang yang melayani, setiap hidup kita yang diberkati Tuhan, kita tidak boleh merebut kemuliaan yang punya Tuhan. Itu prinsip. Kita hanya bilang ini semua terjadi karena ada tangan Tuhan yang pimpin. Namun orang lain tidak boleh merebut kehormatan yang Tuhan berikan kepada orang itu. Ini harus balance. Tetapi orang yang sudah melayani Tuhan akan menjadi lebih sungguh, lebih giat, lebih cinta Tuhan kalau kita kembali kepada Tuhan, mengembalikan kemuliaan itu kepadaNya. Hari ini saya juga mengapresiasi setiap sdr yang berjuang sama-sama di dalam pelayanan kita. Sepuluh tahun tidak terasa namun itu juga bukan waktu yang singkat. Kita mau ibadah kita, persekutuan kita, syukur kita membawa kemuliaan kembali kepada Tuhan. Kita bersyukur dan menghargai setiap orang yang sudah berjerih lelah melakukan pelayanan karena itu adalah kehormatan yang Tuhan berikan kepada dia. Dengan demikian maka itu menjadi satu keindahan yang kita nikmati sama-sama.(kz)