GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
05
Apr

Dosa, Penyakit dan Tanggung Jawab Moral (2)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: April 05, 2009
Nats: Kel.14:10-14, Kol.1:10, Mzm.130:4, 2 Pet.1:9

Minggu lalu dan minggu ini saya berbicara mengenai permasalahan yang sedang muncul dewasa ini dimana Teologi ingin kembali lagi memimpin kepada praktek psikoterapi. Ini adalah hal yang memang seharusnya terjadi. Sebelum science muncul dan berkembang di abad 17 dan 18, Teologi adalah ratu dari ilmu. Segala sesuatu dilihat dari bagaimana Alkitab berbicara. Tetapi lama-lama Alkitab ini dianggap bukan lagi firman Tuhan melainkan hanya buku agama manusia belaka. Lalu akhirnya Alkitab disingkirkan dan dianggap sebagai satu pelajaran sejarah yang mencoba membahas bagaimana manusia ingin mengenal Tuhan belaka. Bagi mereka Alkitab tidak bicara soal science, Alkitab juga tidak banyak bicara mengenai psikologi, dan akhirnya melepaskan bagaimana firman Tuhan berbicara di dalam hidup kita, itu berarti kita mungkin bisa menawarkan obat yang salah di dalam menyelesaikan permasalahan seseorang.

Inilah perjuangan dari beberapa hamba Tuhan muda orang Kristen yang berteologi Reformed dan yang belajar psikologi dengan mendalam, salah satunya seorang psikoterapist yang sangat baik sekali, namanya Edward Welch menulis buku berjudul “Addiction: A banquet in the Grave: Finding the Hope in the Power of the Gospel.” Selama 40 tahun terakhir ini psikoterapi tidak mendatangkan perubahan yang signifikan terhadap orang, melainkan psikoterapi hanya mendatangkan pengobatan yang bersimpati kepada orang, khususnya terhadap mereka yang mengalami kecanduan. Apakah kecanduan atau addiction itu? Psikoterapi mengatakan addiction itu adalah soal penyakit, satu desease, sama seperti virus atau kanker yang datang kepada diri seseorang. Maksudnya, kita tidak bisa menolak addiction itu datang ke dalam hidup seseorang. Kita hanya bisa simpati kepada dia. Orang yang kecanduan alkohol, kecanduan judi, kecanduan seks, dsb dianggap sebagai orang yang terjangkit satu penyakit yang tidak bisa dia hindari. Beberapa teolog Reformed ini mengatakan kita mesti membawa kembali persoalan itu kepada bagaimana terang Alkitab berbicara. Karena pada waktu kita hanya melihat addiction itu sebagai satu persoalan kejiwaan seseorang, atau kalau itu soal kerusakan fungsi otak seseorang, bahkan kalau itu soal genetic keturunan, maka addiction dilihat bukan kesalahan dari orang itu.

Kalimat Tuhan Yesus yang saya kutip minggu lalu menyatakan satu kalimat yang dalam luar biasa, “Barangsiapa berbuat dosa, dia adalah hamba dosa.” Alkitab tidak menolak bahwa kejatuhan orang ke dalam dosa pasti akan membuat orang itu diperbudak oleh dosa, menjadi hamba dosa. Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan sesuatu hal yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Yesus mengatakan orang yang dari awal berbuat dosa akibatnya dia akan menjadi hamba dosa. Martin Luther di dalam bukunya “The Bondage of Sin” mengatakan bagaimana dosa itu mencengkeram dan membelenggu hidup seseorang mulanya dilakukan orang itu dengan sadar tetapi akhirnya dosa memperbudak dia. Martin Luther memakai istilah “voluntarily slavery” manusia diperbudak dan memperbudak diri dengan sukarela. Dengan melihat kecanduan bukan sebagai desease tetapi sebagai voluntarily slavery kepada dosa, maka kecanduan bukan persoalan kejiwaan, kecanduan itu persoalan spiritual matter di hadapan Tuhan. Maka bagaimana kita melihat kecanduan? Kecanduan bukan hanya dosa, tetapi kecanduan dilihat secara spiritual berarti kita menjadikan suatu substance di dalam hidup ini menjadi tuhan kita, dia menjadi berhala yang menguasai kita. Orang yang kecanduan seks, bukan seksualitasnya tidak bisa dikontrol tetapi seks itu sudah menjadi berhala di dalam hidupnya. Orang yang kecanduan alkohol dan drugs, alkohol dan drugs itu sudah menjadi berhala di dalam hidupnya.

Bagaimana menyelesaikannya? Saya mengakui realita orang yang terlibat di dalam kecanduan, orang yang terlibat di dalam perbudakan dosa itu luar biasa berat sekali. Sampai sekarang data khusus mengenai orang homoseksual sukses menjadi heteroseksual persentasinya kecil sekali. Karena itu maka orang berpikir ini pasti penyakit yang tidak bisa ditolong. Orang tidak mungkin bisa lepas dari homoseksualitasnya. Homoseksual itu sudah menjadi satu hal yang lebih besar daripada orang itu sehingga dia terikat di dalamnya dan tidak bisa lepas darinya. Orang terus berusaha mencari bukti bahwa homoseksual itu soal genetic. Sampai sekarang itu tidak terbukti. Apakah homoseksual hanya persoalan dunia modern? Alkitab memperlihatkan praktek homoseksual sudah ada dari dulu. Alkoholic bukan hanya masalah dunia modern, di Alkitab jelas itu disebutkan sebagai kemabukan (drunkenness). Itu sebab saya ingin mengajak sdr melihat ini sebagai sesuatu yang begitu serius di dalam hidup kita dan melihat bagaimana Alkitab mengajar kita untuk mendapatkan kelepasan.

Saya mengajak sdr melihat satu ayat yang sangat menyentuh saya dan menjadi perenungan saya selama seminggu ini Kol.1:10 ”...sehingga hidupmu layak di hadapanNya dan berkenan kepada Tuhan di dalam segala hal dan bertumbuh di dalam pengetahuan yang benar akan Allah…” Ini adalah suatu doa dari Paulus bagaimana kita bertumbuh di hadapan Tuhan di dalam pengetahuan yang benar akan Dia. Sebagai seorang Kristen, bukankah kita sudah punya pengetahuan tentang Allah? Bukankah saya menjadi orang percaya sebab saya punya pengetahuan akan Allah? Lalu selama saya mengenal Allah, di dalam hal apa pengetahuan saya akan Allah harus bertumbuh? Bukankah dari saya mulai percaya Tuhan hingga hari ini saya terus berpegang kepada Allah yang saya kenal, Allah yang Tritunggal, Allah yang kasih, Allah yang adil, suci dsb. Saya percaya semua kita akan menyatakan pengenalan kita akan Allah demikian, bukan? Tetapi saya sangat tertegun dengan kalimat Paulus ini, sesudah menjadi orang percaya Paulus berdoa supaya hidup kita makin memiliki pengetahuan akan Allah yang makin bertumbuh. Saya percaya doa ini adalah doa untuk saya juga, maka saya bertanya kepada diri saya, dalam hal apa saya harus bertumbuh? Itu berarti pengetahuan saya akan Allah yang saya peroleh dari text book buku-buku teologi itu tidak sama dengan pengetahuan sejati saya mengenal Allah. Di dalam sekolah teologi saya belajar akan segala hal mengenai Allah, tetapi bagaimana pengetahuan saya akan Allah itu bisa bertumbuh di dalam hidup saya? Kita mungkin memiliki konsep dan pengetahuan akan Allah tetapi mungkin pengetahuan kita tidak sempurna dan murni. Itu sebab seperti doa Paulus biarlah hidup kita makin hari makin bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah.

Edward Welch membuka satu hal yang sangat penting karena dia mengatakan seringkali kita di dalam Gereja sudah belajar, kita bersentuhan dengan dunia, kita kadang-kadang tidak sadar bisa jadi teologi yang kita ajarkan di gereja adalah teologi yang tidak terlalu murni mengenal Tuhan dengan sempurna. Ini kalimat yang sangat menarik. Salah satunya adalah konsep kita mengenai pengampunan Tuhan. Kita tahu Allah itu mengampuni, tetapi konsep itu tanpa sadar sudah diterobos dan dimasuki oleh konsep dari psikologi dan psikoterapi yang tidak sesuai dengan Alkitab. Hari ini pengaruh psikologi dan psikoterapi sudah masuk ke dalam Gereja akhirnya Gereja hanya mengerti konsep Allah hanya sebagai Allah yang mengampuni. The forgiveness of God make you feel good. Saya tidak menerima konsep ini sebab kalau kita membaca di dalam Alkitab, konsep yang benar adalah the forgiveness of God make you fear. Gereja menawarkan pengampunan dosa, tetapi itu hanya membuatmu feel good. Feel good itu bukan hal yang salah. Allah mau mengampuni kita, itu juga bukan hal yang salah. Allah bisa mengampuni dosa yang sebesar apapun, kita percaya akan hal itu. Tetapi menaruh konsep pengampunan tidak secara benar seturut dengan konsep Alkitab mungkin seperti menawarkan obat yang salah di dalam menyelesaikan persoalan addiction orang sehingga dia tidak pernah benar-benar lepas dari persoalan dosa. Forgiveness is not about feel good. Forgiveness is about fear to the Lord. Dengan mengaitkan konsep forgiveness dengan takut akan Tuhan itu yang bisa menjadi jalan keluar bagi seseorang untuk lepas dari kecanduannya. Mzm.130:4 menulis “PadaMu ada pengampunan supaya Engkau ditakuti orang…” Memang ada ayat-ayat yang mengatakan pengampunan Tuhan memberi keberanian kepada kita untuk datang menghampiri Tuhan. Pengampunan Tuhan membuat kita merasa aman berada di dekat Tuhan. Pengampunan Tuhan membuat dosaku menjauh seperti timur dari barat. Tetapi semua hasil akibat saya bisa tenteram dan nyaman di kaki Tuhan bukan karena feel good-nya yang menentukan, tetapi karena takut akan Tuhan. Pemazmur mengatakan Tuhan penuh dengan pengampunan, itu membuat kita menjadi takut akan Dia.The more He gave you forgiveness, the more you fear Him. Ini konsep yang penting karena sejujurnya kita manusia berdosa sudah punya konsep yang berdosa. Di dalam hidup sehari-hari mana yang lebih kita takuti, guru yang ‘killer’ atau guru yang lembut dan baik? Kelas yang paling ribut adalah kelas yang diajar oleh guru yang penuh dengan pengampunan. Guru yang killer membuat kita jadi takut. Tetapi pemazmur mengatakan Tuhan yang penuh pengampunan membuat kita jadi takut.

Dosa sudah menipu. Sistem teologi yang keliru bisa membuat kita melepaskan dua aspek yang harus sejajar: Tuhan itu sayang kepadamu, tetapi Tuhan itu juga Tuhan yang harus kita hormati dan takuti. Tuhan sayang kepadamu, itu tidak untuk membuatmu feel good lalu kita bisa sembarangan dengan hidup kita. Tuhan sayang kepadamu, itu tidak berarti Tuhan tutup mata dan terus memberkati apapun yang kau perbuat. Berangkat dengan konsep takut akan Tuhan yang mengkaitkan dua aspek ini sehingga pada waktu kita menghampiri orang yang kecanduan dan jatuh di dalam dosa, dua aspek ini tidak bisa lepas. Banyak orang lari dari Tuhan dan tidak mau datang mendapatkan pertolongan dan pelepasan karena kita pikir Tuhan tidak maha pengasih dan maha pemurah. Tetapi orang yang setiap kali datang terus minta ampun kepada Tuhan namun tidak sanggup bisa keluar dari kesalahannya sebab dia tidak ditopang oleh kesadaran dan ketakutan akan Tuhan di dalam hidup dia. Itu sebab pengampunan yang ditawarkan oleh Gereja menjadi pengampunan yang impotent. Pengampunan yang ditawarkan Gereja akhirnya menjadi pengampunan yang sama dengan psikologi yaitu just membuatmu feel good tetapi tidak menjadi kekuatan kuasa yang memberikan perubahan di dalam hidupmu. Memang tidak gampang dan itu menjadi perjuangan seumur hidup tetapi dasar ini harus dipegang.

Apa itu takut akan Tuhan? Pertama, takut akan Tuhan berarti sdr dan saya berespons kepada kesucian Tuhan. Allah itu suci dan Allah tidak akan pernah bisa melihat dosa sekecil apapun. Tetapi karena itu sekaligus Dia memiliki mata yang penuh kasih dan pengampunan, dosa sebesar apapun bisa Dia ampuni. Kedua, takut akan Tuhan berarti hidup kita di hadapanNya adalah jujur dan terbuka. John Calvin menyebutnya “Coram Deo” terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada bagian yang tersembunyi. Inilah bahaya dari addiction, kita menemukan fenomena addiction yang mempengaruhi hidupmu, seperti yang ditulis dalam 2 Pet. 1:9 ”...tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik karena ia lupa bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapus.” Kalau sdr bertemu dengan orang yang sudah terjerat di dalam slavery of sin, sdr akan menemukan penipuan dosa seperti ini yaitu mereka sadar ada hal yang salah tetapi sekaligus mereka merasa tidak berdaya. Akibatnya, banyak di antara orang Kristen yang seperti itu menjadi guilty, merasa bersalah, tetapi bukannya justru mendekat kepada Tuhan dan minta kekuatan, malah dia lari menjauh dariNya. Waktu dia lari dari Tuhan, kebanyakan orang yang addiction mematikan guilty feeling itu dan umumnya mereka mencari ‘juruselamat’ palsu. Orang yang kecanduan heroin akan merasa guilty. Sesudah merasa bersalah, dia tidak lari mencari pertolongan di dalam Tuhan tetapi dia lari menjauh. Tetapi persoalannya, guilty feeling itu terus ikut. Maka dia akan lari kembali kepada heroin untuk melupakan rasa guilty-nya. Semua addiction memiliki pola seperti itu.

Bagaimana menerobosnya? Kita sadar addiction adalah masalah yang begitu sulit dibereskan. Tetapi aspek yang pertama yang tidak boleh kita lepas adalah kita tidak boleh lari menjauhi Tuhan. Kalau hari ini engkau sedang bergumul dengan addiction tertentu, hari ini saya memberitahukanmu, engkau bisa mendapatkan kekuatan dan keselamatan dan pembebasan dari addiction itu. Namun kenapa orang Kristen bisa terus jatuh dan jatuh lagi? Rasul Petrus mengatakan ada dua kemungkinan, pertama dia mungkin orang Kristen yang belum sungguh-sungguh mengaku percaya dan menerima kelepasan dosa dari Tuhan Yesus Kristus. Atau yang kedua, dia orang Kristen sejati, sudah percaya Tuhan, tetapi menjadi orang Kristen yang terjatuh di dalam addiction sebab dia jatuh kepada kesombongan diri yaitu setelah percaya Tuhan dia merasa sanggup bisa berjalan sendiri tetapi akhirnya jatuh lagi. Maka Petrus bilang kalau kita lupa semua anugerah Allah, itu akan membuat kita menjadi buta dan tidak ingat dosa-dosa kita yang lalu sudah ditebus. Petrus mengingatkan jemaat karena ada di antara mereka yang mengalami kejatuhan yang tidak bisa lepas. Mereka bukannya datang mengaku dan minta pengampunan Tuhan tetapi mereka lari. Petrus mengingatkan mereka jangan lupa akan dosa-dosa yang dulu sudah Tuhan hapus.Memasukkan Tuhan ke dalam persoalanmu, takut akan Dia, selalu hidup terbuka di hadapanNya, bagi saya ini merupakan jalan keluar dan pertolongan yang engkau butuhkan.

Kedua, kecanduan memiliki aspek “self deception.” Kecanduan selalu mendatangkan kebohongan dan selalu memberikan penipuan diri. Yes.28:15 ”...sebab kami telah membuat bohong menjadi perlindungan kami dan di dalam dusta kami menyembunyikan diri.” Orang itu terus bersembunyi di dalam lubang kebohongan. Orang yang terus-menerus terjerat di dalam dosa kecanduan akan mendatangkan aspek penipuan diri ini. Kej.3:11 akibat dosa, ada dua pertanyaan Tuhan yang Adam tidak jawab. Apakah engkau makan buah itu? Adam tidak memberikan confession di situ. Darimana engkau tahu engkau telanjang? Adam juga tidak menjawabnya. Mestinya dia mengakui tetapi sebaliknya Adam mempersalahkan Tuhan memberikan Hawa kepadanya sehingga dia makan buah itu. Saya percaya di dalam hati sedalam-dalamnya Adam tahu jawaban apa yang seharusnya dia berikan kepada Tuhan tetapi dia tidak mengeluarkan jawaban itu. Dia menolak untuk memberikan jawabannya. Dia tahu jawabannya tetapi dia tetap menyembunyikan hal itu di dalam dirinya. Kalau ada orang yang tidak memberitahu jawaban tidak berarti orang itu tidak tahu. Inilah dosa. Di dalam hati kecil manusia sedalam-dalamnya manusia mengaku ada Tuhan. Di dalam hati kecil manusia sedalam-dalamnya manusia sadar dia adalah orang berdosa. Di dalam hati kecil sedalam-dalamnya terusik pertanyaan apa betul sesudah mati dia bisa masuk surga. Tetapi banyak manusia tidak mau menyatakan kalimat itu, tidak mau mencari jawabannya sebab seperti Adam, dosa menciptakan self deception.

Ada orang yang kecanduan dosa, tidak sanggup bisa lepas. Ada orang yang tidak pernah sadar dia kecanduan sebab dosa mendatangkan penipuan diri sedalam-dalamnya meskipun di dalam hati kecilnya dia tahu, itu sebab terlalu banyak orang akhirnya menangis terhadap dosa pada waktu dia ketangkap basah. Semua addiction akan memiliki pola seperti itu. Kita ditipu dan dibutakan, baru sadar pada waktu ketangkap basah. Sesudah kita takut akan Tuhan dan tahu kita perlu penebusan Tuhan, kita perlu aspek ketiga ini: belajar bilang “NO” dan belajar untuk “violent” kepada diri sendiri. Tuhan Yesus pernah bilang, kalau matamu menyesatkan engkau, cungkil dan buanglah itu. Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggal dan buanglah itu. Dengan demikian sdr bisa lihat itu bukan hal yang mudah namun itu yang kita perlu di dalam hidup kita. Tidak ada orang yang melihat, kita tetap hidup terbuka dan jujur di hadapan Tuhan. Karena aspek ‘tidak dilihat orang’ itu adalah aspek penipuan dosa yang selalu bikin self deception. Belajar say “No” berarti kita memerlukan hidup yang punya self control. Self control berarti sdr dan saya berani menaruh batasan yang jelas mana yang tidak boleh saya langgar. Kasih batasan yang jelas. Dalam hidup kita harus seperti itu. Kita bertindak sebelum berpikir. Sebelum ambil keputusan, pikir sebentar. Inilah self control. Belajar untuk stay violent for yourself. Paulus menangkap apa yang Tuhan Yesus katakan dengan mengatakan hidup Kekristenan kita adalah suatu peperangan. Kita berperang bukan melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa-kuasa kegelapan di angkasa. Hidup kita adalah satu peperangan artinya tidak ada habis-habisnya kita menjadi orang Kristen yang dengan tegas menolak godaan. Mengapa? Inilah kelemahan dosa kita. C.S. Lewis bilang kita jadi orang Kristen seringkali menjadi half-hearted Christian. Yesus membebaskan kita dari perhambaan dosa supaya kita menjadi orang bebas lalu memperhambakan diri kepada kebenaran. Tetapi kita mau Tuhan membebaskan kita dari perhambaan dosa tetapi tidak banyak yang violently want to surrender menjadi hamba kebenaran. Kita masih mau berdiri sendiri dan bebas. Maka apa namanya hamba kebenaran? Artinya tidak ada aspek di dalam hidup kita dimana kita tidak sungguh-sungguh berjuang meletakkan seluruh hidup kita di bawah kebenaran Tuhan. Baru kita akan menemukan paradoks dari ucapan Yesus “My truth will set you free.” Ketika kita menjadi hamba kebenaran, di situlah kita menjadi orang bebas. Biar firman Tuhan hari ini membuka pikiran kita secara teologis karena ini persoalan kita hari demi hari. Ini persoalan yang kita alami di dalam hidup kita. Kita menghadapi dunia dengan kemajuan teknologi yang amat pesat. Kita menghadapi serangan pencobaan dari addicition yang luar biasa banyak. Kita memiliki internet yang terbebas dan terbuka. Kita hidup di negara ini tidak ada papa mama yang mengontrol hidup kita. Tetapi kita hidup dimana saja selalu tahu ada Tuhan yang melihat hidup kita. Itu sebab pegang hal yang pertama, takutlah akan Tuhan. Kalau engkau dan saya sudah ditebus oleh Tuhan, biarlah hidup kita menjadi hidup yang memperkenan Dia.(kz)