“Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa…” (Yoh.8:34).
Khotbah saya minggu lalu menyebut satu arus gerakan dari anak-anak muda yang disebut “New Calvinist” yang berani mempertahankan kebenaran teologi yang benar dan firman Tuhan yang benar menjadi satu arus yang mulai mempengaruhi aspek-aspek yang lain. Sebagian dari mereka ini juga belajar dan sekolah baik-baik dan belajar psikologi dengan mendalam. Ilmu jiwa harus menyadari ada kesalahan besar selama 40 tahun terakhir ini yang sebenarnya harus mengakui psikologi dan psikoterapi tidak menolong orang menjadi lebih baik. Maka tibalah saatnya bagi kita untuk berani kembali sungguh-sungguh mengerti apakah firman Tuhan itu adalah firman yang menjadi jawaban bagi kebutuhan hati dan problema hidup manusia.
Budaya kita sekarang adalah budaya yang mulai pelan-pelan mengajak orang menyingkirkan satu bijaksana yang dulu merupakan satu bijaksana yang indah yaitu setiap prilaku kita yang bersifat amoral dan asusila itu harus dipertanggungjawabkan sebagai pertanggungjawaban pribadi kita. Namun karena psikoterapi menganggap bahwa orang melakukan prilaku amoral dan asusila karena dia sendiri sebenarnya tidak bisa kontrol dan sebenarnya tidak mau melakukannya, akhirnya melempar tanggung jawab kepada pihak-pihak lain. Belakangan ini mereka sedang mempelajari suatu teori bahwa orang yang kecanduan alkohol itu mungkin berkaitan dengan gen. Jadi kalau sdr tidak suka minum alkohol, itu mungkin karena gen sdr adalah gen kopi atau teh. Inti risetnya adalah orang yang lahir dari keluarga yang alkohol cenderung bisa jatuh kepada alkohol. Mereka memperbandingkan dengan anak-anak yang diadopsi oleh keluarga yang alkoholik ternyata kebanyakan tidak jatuh kepada kecanduan alkohol. Padahal juga ada anak-anak yang lahir dari keluarga yang alkoholik tidak jatuh kepada kecanduan alkohol karena melihat ayahnya hidup tidak beres lalu ambil keputusan seumur hidup tidak mau jatuh kepada alkohol, bukan? Intinya, ini semua mau dibawa kepada gen dan brain function sebagai penyebab dari segala prilaku itu oleh psikoterapi yang mencoba mencari cara dan jalan keluar untuk orang bisa lepas darinya. Akhirnya pelan-pelan orang yang melakukan kesalahan tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahannya karena penyebab tindakannya adalah kesalahan di dalam brain function. Gereja-gereja banyak juga akhirnya tidak menyadari dan jatuh kepada hal ini tanpa sungguh-sungguh memegang bahwa firman Tuhan itu merupakan jawaban satu-satunya menyelesaikan dan membereskan problema hidup manusia.
Namun sampai di sini saya mesti memberi sedikit note jangan sampai kita jatuh kepada kesalahan Scientology yang menganggap semua yang bersifat psikologi adalah hal yang salah. Scientology melarang jemaatnya pergi ke psikolog atau makan obat-obat depresi. Buat saya tidak semua persoalan amoral, tindakan kecanduan dan addiction itu berkaitan dengan fungsi otak, tetapi juga tidak berarti adanya kesulitan-kesulitan yang muncul itu memang karena kelainan di dalam fungsi otak seseorang. Contohnya, Alzheimer itu jelas adalah kerusakan otak. ADD (Attention Deficit Disorder) ada kemungkinan adalah persoalan otak. Tetapi sampai sekarang kecanduan alkohol dan prilaku homoseksual tidak ada bukti bahwa itu berkaitan dengan kelainan fungsi otak. Kalau itu semua mau ditarik ke sana lalu dimana kita melihat tanggung jawab pribadi seseorang terhadap semua tindakan yang terjadi di dalam hidup dia? Akibat pengaruh dari psikoterapi ini terlalu banyak Gereja akhirnya tidak sadar terhadap keindahan firman Tuhan sehingga ada problema datang di dalam hidup jemaat seringkali pendeta tidak berani lagi mengangkat firman Tuhan dan menjadikannya sebagai otoritas di dalam menyelesaikan persoalan orang itu. Akhirnya cepat-cepat kita refer dia ke psikolog dan psikoterapis tanpa kita melihat bagaimana sebenarnya Alkitab membicarakan hal itu. Banyak orang akhirnya kompromi dengan prilaku amoral yang sesungguhnya harus disebut dosa di dalam hidup mereka. Ada dua penyebab mengapa kita salah memahami aspek di dalam doktrin Alkitab kita. Salah satu penyebab karena orang berpikir bahwa psikoterapi itu bisa menyelesaikan problema orang. Problema orang itu adalah bukan dosa tetapi problema kelainan. Itu bukan suatu dosa yang harus ditegur, dimana orang itu harus bertobat kepada Tuhan, tetapi kita harus simpati kepadanya sebab itu adalah penyakit yang datang mengontrol hidup mereka. Apa penyebabnya?
Yang pertama, saya percaya salah satunya disebabkan karena doktrin manusia yaitu munculnya satu ajaran yang disebut Trikotomi, yaitu teologi memiliki konsep bahwa manusia terdiri dari tiga unsur yaitu tubuh, jiwa dan roh. Ajaran ini timbul dari teologi yang berusaha mengadopsi pikiran dari psikologi bahwa manusia memiliki tiga unsur ini, tubuh berkaitan dengan materi, berkaitan dengan kebutuhan fisik, makan dan minum. Roh itu adalah kebutuhan yang bersifat vertikal, kepada hal-hal yang spiritual dan rohani. Tetapi di tengah-tengah itu ada satu aspek yang tidak ada kaitannya dengan persoalan rohani tetapi berkaitan dengan persoalan kejiwaan saja. Trikotomi mengambil tiga ayat di dalam Alkitab untuk menjadi ayat-ayat yang mereka pakai mendukung ajaran Trikotomi. Dalam 1 Tes. 5:23 Paulus berkata,”...semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara…” karena disebutkan sejajar seperti ini maka dianggap sebagai tiga hal yang berbeda.
Ibr.4:12 ”...sebab firman Allah lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun… sampai memisahkan jiwa dari roh…” Maksud dari ayat ini sebenarnya hanya ingin memberitahukan kepada kita kadang-kadang tidak bisa membedakan pikiran dan hati karena sebenarnya ini adalah dua hal yang sama, namun betapa dalamnya firman Tuhan itu sehingga di dalam terang firman Tuhan bisa menembus lebih dalam.Roh dan jiwa itu satu, tetapi firman Allah bisa memisahkannya untuk menekankan betapa tajamnya firman Tuhan itu.
1 Kor.14:14 “Jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa tetapi akal budiku tidak turut berdoa…” terjadi perbedaan di sini, kata Trikotomi. Di sini roh berkaitan dengan hal spiritual, akal budi berkaitan dengan kejiwaan seseorang. Tentu akal budi berbeda dengan tubuh. Maka dengan tiga ayat ini trikotomi mengatakan inilah tiga komponen yang membentuk manusia. Akibatnya Trikotomi mengatakan tidak semua problem hidup manusia berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual. Ada hal-hal yang bersifat kejiwaan sehingga kita tidak boleh menegur semua tindakan amoral orang itu berkaitan dengan spiritual hubungan orang itu dengan Tuhan, tetapi mungkin itu berkaitan dengan kejiwaannya.
Kita tidak memegang ajaran Trikotomi melainkan Dikotomi. Kita percaya manusia terdiri dari dua komponen, yaitu tubuh dan roh. Alkitab menyatakan hal ini dengan jelas sekali. Pada waktu Allah menciptakan Adam, dua komponen ini muncul. Pertama Allah menciptakan manusia itu dari debu tanah, itu komponen tubuh kita. Lalu Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam diri manusia, maka jadilah dia mahluk hidup, ada roh dan tubuh. Tubuh itu akan mati dan menjadi debu kembali tetapi roh itu adalah roh yang kekal yang akan kembali ke sana.
2 Kor.7:1 ”...marilah kita menyucikan diri kita dari pencemaran jasmani dan rohani…” Dua hal yang harus kita lakukan di dalam hidup kita, membersihkan our bodily life and our soul di hadapan Tuhan. Yak.2:26 “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati demikian juga iman tanpa perbuatan…”
Demikian juga waktu Yesus berada di atas kayu salib ia berkata, “Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan rohKu.”
Pada waktu sdr membaca pujian Maria untuk memberitahukan memang kata ‘roh’ dan ‘jiwa’ memakai kata yang berbeda tetapi di sini keduanya dipakai secara bergantian, berarti jiwa dan roh adalah sama. Luk.1:46-47 “jiwaku memuliakan Tuhan dan rohku bergembira kepadaNya…” Ini adalah suatu puisi yang bersifat paralel, artinya keduanya memiliki makna yang sama, hanya yang belakang mempunyai makna yang lebih progresif. Ayat-ayat seperti ini memberikan kita indikasi bahwa manusia memiliki dua komponen. Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, jangan takut kepada orang yang bisa membunuh tubuhmu tetapi takutlah kepada Allah yang bisa membunuh tubuh dan jiwamu.
Tuhan Yesus juga berkata, “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu dan segenap kekuatanmu” tidak berarti manusia memiliki empat komponen. Maksudnya adalah hidup kita secara total mengasihi Tuhan. Berarti dengan konsep ini kita menafsir 1 Tes.5:23 tadi, maksudnya adalah totalitas hidupmu, pikiranmu dan hatimu seluruhnya diberikan kepada Tuhan. Mengapa Trikotomi menjadi salah satu penyebab sehingga teologi mengencerkan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia itu sebenarnya berkaitan dengan soal spiritual problem kita di hadapan Tuhan. Trikotomi menyebabkan ada wilayah-wilayah di dalam hidup manusia itu tidak perlu dibereskan seperti bagaimana kita membereskan hubungan kita dengan Tuhan melainkan hanya persoalan kejiwaan. Ini berbahaya sekali. Bahayanya, kita tidak lagi melihat semua problem amoral dan asusila di dalam hidup manusia itu berkaitan dengan sifat dosa kita memberontak kepada Tuhan tetapi hanya melihatnya sebagai kelemahan jiwa manusia. Sama seperti tubuh memiliki kelemahan, ketika sdr keluar di udara dingin dan kena virus, akhirnya jadi sakit flu. Maka sdr tidak perlu guilty dan marah-marah sama tubuh karena tubuh itu sedang lemah. Maka disebutnya “virus caught you.” Demikian juga dengan kejiwaan, jiwa itu lemah dan tidak ada unsur moralnya sehingga bisa jadi maka alkohol datang sebagai ‘virus’ yang menyerangmu. Engkau sebenarnya tidak mau minum, tapi tahu-tahu minum. Engkau sebenarnya tidak mau berjudi tetapi jiwa lemah sehingga terkena virus judi. Maka ini menjadi desease. Alkoholik, sex addiction, workaholic, substance abuse, semua kalimat-kalimat ini memperlihatkan konsep seperti ini. Hari ini saya ingin mengajak sdr melihat hal itu, pointnya hanya satu yaitu bagaimana kita kembali kepada firman Tuhan. Waktu seorang sakit datang minta disembuhkan oleh Tuhan Yesus, sdr lihat bukan saja Yesus menyembuhkannya tetapi sebelumnya Ia mengatakan “dosamu sudah Kuampuni.” Maksud Tuhan Yesus, bisa jadi orang itu memang pure sakit secara fisik, tetapi kita harus memiliki kepekaan ini orang yang sakit fisikpun bisa disebabkan karena faktor spiritual problem dia. Maka waktu seseorang jatuh kepada persoalan alkoholik, maka ini soal penyakitkah, atau ada unsur spritual problem? Mari kita balik supaya kita peka dan hati-hati, banyak problem di dalam hubungan suami isteri, banyak problem di dalam mendidik anak, kembali kepada dasar teologinya, actually there is a spiritual problem. Kita bawa hidup kita takut kepada Tuhan, saya percaya itu memberikan keindahan. Banyak problema kekuatiran, axiety dsb itu mungkin persoalan jiwa tetapi itu persoalan spiritual orang.
Yang kedua, psikoterapi sudah tidak ingin aspek teologi masuk ke dalam persoalan manusia dengan doktrin dosa. Kita mesti kembali membawa kata ini. Orang tidak suka mendengarnya, orang menganggap ini kata yang tidak enak didengar, bahwa segala sesuatu itu adalah problem dosa. Dosa adalah satu tindakan perbuatan manusia kita sadar kita tidak mau taat kepada firman Tuhan. Tetapi perhatikan kalimat-kalimat yang muncul menjadikan kita tidak bertanggung jawab kepada tindakan kita dan mempersalahkan faktor-faktor di luar. Kita mempersalahkan our upbringing, kita mempersalahkan our environment, kita mempersalahkan kita di-abuse oleh substance itu, dsb. Kembali kepada kalimat Tuhan Yesus di dalam Yoh.8:34, ini firman Tuhan, “barangsiapa yang berbuat dosa, dia adalah budak dosa.” Perbuatan itu, tindakan itu diambil atas voluntarily act, tindakan secara bebas, aktif dan sukarela dari seseorang melakukan sesuatu. Saya tidak berkata bahwa orang itu tidak mengalami kecanduan. Saya hanya ingin mengatakan bagaimana kita bisa melepaskan orang dari kecanduan, bagaimana kita bisa melepaskan seseorang yang secara sistematis jatuh di dalam perbuatan dosa. Kita harus memberikan penjelasan dan penerobosan teologi yang benar, sebab pada waktu psikoterapi menjelaskan orang yang mengalami kecanduan karena dia terjangkit oleh desease seperti virus maka mungkin penelesaian yang dilihat adalah bagaimana membereskan faktor luarnya tanpa menyuruh orang itu mengambil tanggung jawab dan responsibility terhadap perbuatan yang dia ambil. Tuhan Yesus mengatakan engkau dikontrol, diperbudak, dan tidak bisa keluar dari dosa, engkau menjadi budak dosa sebab engkau berbuat dosa. Saya mengakui faktor-faktor kecanduan itu begitu kompleks sehingga orang sulit lepas darinya. Sdr bisa melihat siklus itu, dia ingin lepas, ingin keluar tetapi tidak sanggup sehingga dia menjadi hopeless dan frustrasi, lalu dia menemukan diri di dalam kecanduan itu lagi. Kemudian dia menjadi putus asa lagi sebab kecanduan itu tidak mendatangkan sukacita dan kelepasan seperti yang dia alami sebelumnya, itu sebab kecanduan selalu menambah dosisnya. Di dalam kecanduan, bukan saja siklus itu akan terus muncul tetapi juga satu pikiran saya dikontrol tidak habis-habis oleh perbuatan amoral itu, bukan saja endtangkan guilty dan blaming tetapi mendatangkan aspek yang tidak disadari yaitu berbohong kepada diri sendiri. Kalau sdr ketemu teman atau anak terlalu banyak berbohong, sdr bisa tebak mungkin dia sedang menyimpan satu addiction. Itu adalah siklus yang akan muncul.
Bagaimana kita menolong dia membereskan hal itu? Tuhan Yesus mengatakan, orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Waktu sampai kepada tahap hamba, kita setuju di situlah dosa itu menguasai dan mengontrol hidup seseorang sehingga dia merasa tidak berdaya untuk lepas. Maka kenapa teologi mengatakan satu-satunya yang bisa melepaskan dia bukan psikoterapi, bukan simpati, tetapi jawabannya adalah orang itu bertobat dan menerima anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang bisa melepaskan dia kecuali Kristus. Tetapi tidak boleh hanya bilang saya dikontrol oleh dosa, sebab orang itu terjebak dikontrol oleh perbudakan dosa sebab dia voluntarily slavery, memasukkan diri secara sukarela di bawah perbudakan dosa. Kalimat ini dikatakan oleh Martin Luther di dalam bukunya “The Bondage of Sin.” Banyak orang merasa tidak berdaya, banyak orang tidak mau datang kepada Tuhan karena dijebak oleh konsep itu. Hanya Kristus yang bisa melepaskan dia dari slavery itu. Tetapi kita tidak akan mungkin mendapatkan pertolongan dari Tuhan kalau kita tidak sadar dan mengakuinya sebagai my responsibility. I have to come to You, o Lord.
Hati-hati sekali pada waktu kita berjalan di dalam hidup kita, karena tindakan dosa yang akhirnya menyebabkan seseorang jatuh ke dalam dosa dan addiction dan ikatan dosa itu akan terjadi bersifat menurun secara perlahan-lahan. Kalau kita dari sekarang tidak melatih dan mendidik anak kita memiliki kecintaan kepada hal-hal yang bersifat rohani, sdr dan saya sedang membawa step-nya ke bawah. Pelan-pelan. Kalau kita tidak rindu membawa anak kita ke gereja, kalau kita tidak rindu supaya dia sungguh-sungguh memiliki rutinitas berbakti kepada Tuhan, kita sedang membawa anak kita kepada descent step. Pada waktu hidup rohani kita mandeg, sebenarnya itu bukan mandeg tetapi menurun. Dari situ saya ingin mengajak sdr melihat seluruh aspek hidup kita berkaitan dengan hubungan kita di dalam takut akan Tuhan dan cinta Tuhan. Sedih sekali kalau mendengar hamba Tuhan akhirnya jatuh ke dalam perselingkuhan. Sedih sekali melihat orang tidak sadar akhirnya jatuh ke dalam suatu dosa yang menjebak dia. Semua itu tidak kita sadari kalau kita tidak mengutamakan hubungan kita dengan Tuhan sebagai hal yang terutama. Biasanya pencobaan itu datang pada waktu kita tidak prepare. Jadi sekali lagi persoalan rohani itu bukan persoalan yang netral. Persoalan cinta Tuhan itu bukan soal yang netral. Waktu kita dalam posisi tidak siap saja, itu sudah the first step of going down. Ini semua adalah analisa dari orang-orang yang belajar teologi dan psikologi, yang melihat seluruh aspek ini secara integratif mengapa orang jatuh dimulai dari kita bukan bawa dia kepada dosa tetapi dimulai dari kita tidak prepare dia kepada hal yang bersifat rohani. Kita ingin dia baca Alkitab, kita ingin dia berdoa, kita ingin dia selalu prepare. Itu step pertama. Step yang kedua, dia mulai bersahabat dengan perbuatan dosa itu. Step ketiga, ada yang namanya fase infatuation, masa dia kepincut sehingga akhirnya seseorang jatuh dan terjebak. Intinya dimana? kembali ke atas, be prepare. Tidak boleh ada aspek di dalam hidup kita dimana kita katakan ini adalah wilayahku, tidak ada kaitannya dengan soal rohani. Setiap pagi bangun, setiap kali kita mau menjalankan sesuatu, kita selalu bilang Tuhan, hidupku jujur terbuka di hadapanMu. Saya mau takut kepada Tuhan. Itu hanya bisa kembali kalau kita melihat dengan konsep teologi yang benar seperti ini. Kecanduan bukan persoalan kejiwaan, bukan persoalan kelemahan tetapi persoalan rohani. Kenapa dia menjadi persoalan rohani? Sebab pada waktu seseorang jatuh kepada kecanduan, kecanduan itu bukan soal perbuatan amoral, bukan soal ada hal yang tidak baik yang sedang mengontrol orang, tetapi kalau kita tarik kepada konsep Alkitab, itu adalah konsep penyembahan berhala. Kecanduan itu menjadi berhala seseorang. Kalau itu menjadi berhala seseorang di dalam hidupnya, maka persoalan ini hanya bisa beres dan bisa selesai oleh aspek rohani, kita berbalik dan bertobat di hadapan Tuhan. Pada waktu kita berbalik dan bertobat,itu merupakan responsibility kita di hadapan Tuhan, kita dibawa kepada satu kesadaran kita tidak bisa lepas darinya. Tuhan, ini adalah perbuatan saya, ini adalah tanggung jawab saya. Saya datang kepadaMu, ya Tuhan.(kz)