GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
22
Mar

The Five Trustworthy Sayings

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: March 22, 2009
Nats: 1 Tim.1:15, 1 Tim.3:1, 1 Tim.4:9, 2 Tim.2:11, Tit.3:4-8

Ada satu artikel menarik di majalah TIME berjudul “Ten Ideas Changing the World Right Now!” Sepuluh ide yang sdr perlukan sekarang ini untuk merubah dunia ini. Beberapa hal menarik ditulis di sini, di antaranya “Your job is your new asset.” Ini adalah ide yang sudah dipegang oleh Reformed Theology sejak dulu, yang melihat pekerjaan adalah suatu vocation, tempat dimana Tuhan memanggil kita mengasihi dan melayani Tuhan. Banyak orang berpikir pekerjaan adalah sarana untuk menjadi kaya, tetapi kita dipanggil untuk mengembangkan bakat dan talenta di dalam bekerja dan menikmati pekerjaan itu sebagai anugerah Tuhan. Orang berpikir dengan bekerja keras kita bisa menyimpan asset berupa property, berupa saham, berupa bond, berupa tabungan. Sekarang terbukti semua asset itu bisa lenyap seketika. Bukankah rumah yang sekarang kita tinggali juga cuma pinjaman? Sesudah umur 70 tahun pinjaman baru lunas, tidak lama kita meninggal. Tidak ada hal yang benar-benar kita miliki di dunia ini. Minggu lalu saya sudah katakan semua harta milik itu tidak bisa kita bawa ke “sana” waktu kita mati. Yang ada ialah, bagaimana sekarang selama kita hidup harta yang bersifat sementara itu kita nikmati, dan jadikan itu semua sebagai harta surgawi yang tidak akan layu, itu yang Tuhan mau.

Selain itu, di antara sepuluh ide, di point ketiga berkaitan dengan Kekristenan “Kebangkitan New Calvinism” kebangkitan satu movement dari Gereja yang mementingkan teologi dan doktrin yang benar, ini yang akan menjadi arus kehidupan rohani yang akan merubah dunia. Ini berarti termasuk Gereja dimana engkau dan saya berbakti sekarang. Kita memegang teologi Reformed, kita mengerti dan mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat dan kita setia kepada firmanNya. Someday, gereja-gereja seperti inilah yang akan merubah dunia. Memang secara jumlah, gereja-gereja community church yang dipimpin oleh Rick Warren, dsb adalah gereja-gereja yang memiliki jemaat lebih banyak. Tetapi spirit anak muda, hati yang cinta Tuhan, diberi sepenuhnya kepada Tuhan, yang pergi sekarang melayani di kampus-kampus menjadi misionari adalah mereka yang berada di dalam arus New Calvinism ini, berjiwa teologi Reformed, berusia muda, aktif dan bersemangat. Salah satu tokohnya adalah Albert Mohler, mengatakan, ketika anak-anak muda sungguh-sungguh mempelajari firman Tuhan dan mendefinisikan Allah itu dengan benar, tidak mungkin tidak mereka akan dibawa kembali kepada teologi Calvinism. Hanya orang yang sungguh-sungguh ingin mengerti dengan tuntas dan jelas, dengan sendirinya orang-orang itu akan dibawa ke arah ini. TIME mengatakan ini adalah Gereja masa depan. Inilah kehidupan spiritual yang akan memimpin ke depan karena selama ini Gereja berada di dalam peperangan yang salah dan anak-anak muda ini sudah menyadari dan muak akan semua itu. Sepuluh dua puluh tahun yang lalu Gereja marak dengan “peperangan liturgi, peperangan musik,” sehingga Gereja mulai pecah. Anak-anak muda tidak mau pakai musik yang lama, tapi orang tua tidak menyetujui arus baru itu. Ini adalah suatu culture war yang terjadi di Gereja, sehingga anak-anak muda yang restless, yang ingin performance, yang hanya melihat hal-hal luar, dsb menimbulkan friksi seperti ini di dalam Gereja. Sekarang anak-anak muda mulai menyadari kita hanya berdebat dan ribut kepada kulit saja. Peperangan Kekristenan bukan soal performance, peperangan yang penting adalah bagaimana hati orang dibawa lebih cinta Tuhan. Anak-anak muda sekarang mulai menyadari inilah kalimat yang dikeluarkan oleh Calvin, “Tuhan, aku bawa hatiku di hadapanMu dengan jujur dan terbuka. Coram Deo.” In front of You, I bring my heart with integrity and openness. Itu yang penting. Hidup kita tidak perlu bawa apa-apa, cuma bawa hati yang dipersembahkan dengan tulus dan mutlak kepada Tuhan. Namun demikian ada beberapa suara mengingatkan kita harus menjadi Gereja yang sungguh-sungguh setia dan memegang kebenaran Tuhan dengan benar.

Yesus Kristus berkata, “Berjuanglah untuk masuk ke dalam pintu yang sempit sebab lebarlah pintu yang menuju kepada kebinasaan” (Mat.7:13). Demikian juga Paulus berkata, “Orang lebih rela mati untuk orang baik ketimbang untuk orang benar” (Rom.5:7). Di dalam surat Galatia, Paulus mengeluh, “Kenapa aku berkata kebenaran kepadamu tetapi engkau membenci aku?” (Gal.4:16). Di dalam surat Timotius sebelum Paulus meninggal sdr menemukan fakta ini bahwa Gereja yang sungguh-sungguh rindu ingin memegang kebenaran dan mementingkan kebenaran Tuhan, secara jumlahnya tidak banyak. Maka ada yang mengatakan, memang betul ‘ten ideas’ ini dibutuhkan untuk merubah dunia ini tetapi kadang-kadang kita harus hati-hati karena banyak pendeta yang sudah sungguh-sungguh berkhotbah dengan baik, mempersiapkan khotbah dengan sungguh, hati cinta Tuhan dan setia melayani, hidup sangat sederhana, tetapi mengalami confused karena melihat pelayanannya tidak maju. Tetapi kenapa justru pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mementingkan kebenaran firman Tuhan, yang tidak cinta kepada firman Tuhan dengan sungguh itu yang menjadi pelayanan yang lebih maju dan lebih bertumbuh? Maka dia mengatakan kita harus hati-hati, dalam sepanjang sejarah waktu kita menjadi orang Kristen yang berani menyuarakan kebenaran firman Tuhan, mungkin itu belum tentu menjadi suara yang ingin dinikmati dan diminati banyak orang.

Hari ini saya ingin mengajak sdr kembali kepada surat Paulus di dalam 1 dan 2 Timotius dan juga kepada Titus untuk melihat beberapa konsep penting, why truth is matter. TIME sudah mengatakan kebenaran doktrin, mengajarkan ajaran Reformed yang benar, itu semua adalah ide yang penting walaupun mungkin secara kuantitas tidak signifikan. Kita sudah menyaksikan itu di dalam agony yang dialami oleh Paulus di dalam surat-surat ini. Dalam 2 Tim.4:9ff Paulus mengatakan akan tiba masa terakhir orang lebih suka mengumpulkan guru-guru yang mengajar apa yang mereka suka dengar. Ada masanya orang datang berbakti tetapi sebenarnya mereka menolak rahasia dan keindahan kuasa dari ibadah itu. Paulus di dalam masa tua, di dalam penjara dan ketersendirian, dia sadar sebentar lagi dia akan mencurahkan darahnya. Mungkin ada rasa kuatirnya melihat bagaimana jadinya pekerjaan Tuhan kalau dia sudah mati, apakah akan berlanjut atau tidak. Tetapi sdr akan menemukan di dalam surat-surat ini Paulus memberikan mutiara-mutiara yang penting, no matter what, the truth is matter, kebenaran Tuhan itu lebih penting daripada apapun. Bukan soal berapa banyak yang ikut saya. Bukan soal berapa orang yang akan dengar. Bukan soal kuantitas seperti itu tetapi soal kita setia kepada Tuhan, kita sungguh-sungguh memegang kebenaran itu, itu yang paling penting.

Ada satu frasa kalimat yang lima kali diucapkan oleh Paulus di dalam surat-surat pastoral ini “This is a trustworthy saying…” (1 Tim.1:15, 1 Tim.3:1, 1 Tim.4:9, 2 Tim.2:11, Tit.3:4-8). Bagaimanapun, ini adalah kalimat benar dan akan dibuktikan benar selama-lamanya and no matter what harus dipegang selama-lamanya. Kita bicara soal apa yang benar, kita bukan bicara apa yang populer, kita bukan bicara soal bagaimana lebih banyak orang mengikut Tuhan. Kita bicara soal bagaimana orang yang ikut Tuhan mengalami perubahan transformasi yang sungguh di dalam hidupnya. Banyak penafsir setuju pelayanan Timotius ke Efesus itu gagal adanya. Satu pihak karena guru-guru palsu terlalu kuat pengaruhnya. Kedua karena Paulus sedang berada di dalam penjara, tidak sanggup pergi sendiri tetapi mengutus Timotius yang masih muda, akhirnya Timomius mengalami tantangan. Paulus terus meng-encourage dia meskipun Paulus menyadari pelayanan Timotius di Efesus mengalami kesulitan. Kesulitan itu bisa kita lihat di 1 Tim.1:3, ada di antara mereka yang mengajak doktrin yang salah, 1 Tim.1:19-20, banyak di antara orang Kristen yang kandas imannya, ini menjadi damage yang terjadi di gereja Efesus. Jadi waktu membaca surat ini sdr bisa sense the importance of messages yang Paulus berikan, ‘this is a trustworthy saying…’ hanya inilah yang boleh meng-guide engkau di dalam melayani Tuhan.

Paulus bilang, di dalam pelayanan, apakah aku mencari kesukaan orang ataukah kesukaan Tuhan? Aku lebih suka mencari kesukaan Tuhan. Kitab Amsal mengingatkan bahaya sekali kita terlalu takut sama orang akhirnya kita tidak melihat Tuhan itu besar di dalam hidup kita. Kita takut kepada orang sebab orang itu mungkin bisa mempermalukan kita. Kita takut kepada orang sebab orang bisa menolak kita, sehingga kita berusaha untuk pleasing them. Kita takut kepada orang sebab orang itu mungkin memberikan nafkah hidup kepada kita, akhirnya kita tidak melihat Tuhan itu besar. Tetapi bukan itu saja, kadang-kadang kebutuhan kita terlalu besar, ingin ini dan itu, sehingga seumur hidup kita bilang percaya kepada Tuhan tetapi kita tidak punya hati yang takut akan Tuhan. Ada satu ayat yang sangat menyentuh saya, 2 Raja 17:41a “Even while these people were worshiping the Lord, they were serving their idols…” Di satu pihak menyembah Tuhan tetapi di saat yang sama mereka menyembah berhala. Ini menakutkan, sebab secara lahiriah kelihatan sebagai orang percaya tetapi dalam hatinya punya banyak berhala. Di satu pihak kita datang berbakti kepada Tuhan tetapi hati kita bercabang dengan berhala-berhala yang kita simpan di situ. berhala itu bisa bermacam-macam. Berhala itu bisa berupa materi tetapi mungkin berupa liturgi gereja kita. Kita menyembah Tuhan tetapi tidak ada transformasi di dalam hidup kita. Bisa jadi kita bersandar kepada kekuatan diri, bersandar kepada kepintaran di dalam pelayanan, akhirnya kita tidak menjadikan Tuhan lebih utama di dalam hati kita. Banyak hal yang kemudian menggelitik did alam pikiran saya, itu sebab saya ingin membawanya kepada sdr pada hari ini. Puji Tuhan, kalau TIME mengatakan kehidupan Gereja yang sungguh-sungguh melihat kebenaran Tuhan yang lebih penting dan lebih utama menjadi satu arus yang akan terus bertahan dan menjadi jawab bagi kebutuhan dunia saat ini, yang memang menawarkan obat yang benar untuk persoalan yang benar.

Bagaimana kita terus mempertahankan ‘truth is matter’ kebenaran itu hal yang penting dan benar, yang harus kita pertahankan sekalipun kita menghadapi tantangan dan kesulitan di dalam pelayanan kita? Maka saya tarik kembali kepada apa yang Paulus katakan kepada Timotius dengan satu sikap: semua kita adalah anak-anak Tuhan, mari kita kembali kepada core kebenaran ini, kepada trustworthy sayings yang harus menjadi inti di dalam hati setiap kita.

  1. Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa dan di antara mereka akulah yang paling berdosa (1 Tim.1:15 bd. Tit.3:4-7). Ini bicara mengenai inti keselamatan kita yang tidak boleh dikompromikan, menghadapi guru-guru palsu yang salah di dalam mengajar mengenai salvation, salah mengajar bagaimana orang Kristen menikmati ciptaan Tuhan, maka Paulus memberikan beberapa penjelasan. Keselamatan itu berdasarkan kemurahan Allah semata-mata, bukan karena perbuatan kita. Keselamatan itu terjadi di dalam permandian dan regenasi yang dilakukan oleh Roh Kudus, melahirbarukan dan menyucikan hidup kita. Lahir baru adalah satu hal yang terjadi satu kali seumur hidup yaitu membangkitkan kita yang sudah mati rohani menjadi hidup, karena itulah kita bisa berespons kepada Kristus. Keselamatan itu bukan karena orang taat melakukan hukum Taurat, bukan karena orang itu baik dan hidup tanpa cacat cela. Lalu sesudah lahir baru itu, Roh Kudus tinggal di dalam hati kita, melakukan proses yang kedua, yaitu proses pengudusan. Roh Kudus itu bukan ada sedikit, tetapi diberi secara berlimpah kepada kita supaya kita dibenarkan oleh Tuhan dan nantinya kita berhak menerima hidup yang kekal. Inilah inti Injil. Mungkin kita mengalami konteks yang berbeda di dalam pelayanan kita berkaitan dengan ajaran-ajaran yang tidak benar yang muncul sekarang ini. Sangat menyedihkan sekali jikalau di dalam pelayanan gereja kita sama sekali take it for granted, kita tidak sungguh-sungguh berpikir apakah betul ajaran-ajaran yang solid diajarkan di mimbar kepada kita. Truth is matter. Konsep keselamatan tidak boleh salah. Orang selamat bukan karena dia mencari Tuhan tetapi Kristus yang datang mencari kita terlebih dahulu. Terima perkataan ini baik-baik. Iman kepercayaan Kekristenan memiliki dua hal yang penting. Pertama, iman Kekristenan bukanlah superstitious karena iman orang Kristen adalah iman yang bersandar kepada kebenaran fakta sejarah. Yesus pernah datang ke dalam dunia ini dan Dia pernah bangkit dari kematian. Tetapi waktu Yesus datang, mati di kayu salib untuk menebus kita, itu adalah penafsiran firman Tuhan mengenai fakta sejarah. Jadi, bagi orang yang tidak percaya Tuhan, dia mungkin bisa terima Yesus mati sebagai fakta sejarah tetapi tidak menerima apa yang dikatakan oleh firman Tuhan bahwa Dia mati untuk menebus dosamu. Mati untuk menebus dosamu, itu adalah apa yang firman Tuhan kasih tahu kepada kita dan bagaimana sikap kita berespons menerimanya.
  2. Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia. Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia. Jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita. Jika kita tidak setia, Dia tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya (2 Tim.2:11-13 bd. 1 Tim.4:9-10). Point ini penting sekali bagi Timotius, belajar jadi orang yang tekun dan berjerih lelah. Kalau kita tekun, someday Tuhan akan memberi hak kita bisa memerintah dengan Dia. Kalau kita tekun dan berjuang dengan jerih lelah, pengharapan kita tidak pernah sia-sia sebab pengharapan kita adalah kepada Allah yang hidup. Kita berjerih lelah, kita berjuang dengan sungguh sebab kita tahu pengharapan kita adalah pengharapan kepada Allah yang hidup. Saya percaya mungkin Timotius kecewa dan berada di dalam situasi dimana dia merasa sudah berjuang dengan sungguh, sudah melayani dengan baik, kenapa saya tidak melihat hasil yang indah di situ. Tidak gampang menerima perkataan Paulus “kita hidup bukan dengan melihat tetapi percaya, walk not by sight but by faith” karena iman Kekristenan secara benar memberitahukan kepada kita, tidak semua yang kita lihat pasti bikin orang percaya. Yesus sendiri mengatakan banyak orang melihat mujizat yang Ia lakukan, tetapi tidak tentu itu membuat mereka menjadi percaya. Tetapi sebaliknya apa yang kita percayai mungkin tidak kita lihat di dalam hidup kita. Trustworthy saying ini adalah bicara soal bagaimana orang Kristen seumur hidup terus menjadi orang Kristen yang tidak boleh kehilangan spirit dan semangat untuk berjalan tekun mengasihi dan mencintai Tuhan. Mungkin kita bisa lemah, mungkin kita bisa kecewa, mungkin kita bisa merasa down di dalam satu fase hidup kita, tetapi kita harus maju, tekun dan berjerih lelah di hadapan Tuhan. Ayat ini menjadi ayat yang indah bagi saya, bagi hamba-hamba Tuhan yang melayani, banyak kali mereka takut kepada orang ketimbang kepada Tuhan. Mungkin takut karena hidupnya ditopang oleh mereka atau mungkin karena takut kepada penolakan. Mungkin kita lupa kita ini melayani orang karena orang ini adalah milik kepunyaan Tuhan, bukan kepunyaan kita. Kita melayani orang bukan supaya orang itu baik sama kita atau kita mendapatkan manfaat darinya, tetapi kita harus ingat baik-baik waktu kita melayani orang, kita akan puas luar biasa kalau lihat orang itu berubah dan lebih cinta Tuhan. Bikin orang itu lebih mengasihi Tuhan, bikin orang itu menyadari Tuhan lebih besar di dalam hidupnya ketimbang segala sesuatu yang lain. Paulus mengingatkan para hamba-hamba Tuhan di dalam Kis.20:28 “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik yang menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri.” Protect your life, protect your teaching and protect the church you serve, not as your own but because it is His.
  3. Truth is matter. Ajaran yang sehat itu penting, ajaran yang sehat itu perlu dan ajaran yang sehat itu akan sekaligus mendatangkan kesungguhan kerinduan orang untuk melayani Dia. Maka kalimat trustworthy yang menjadi kalimat yang berkaitan dengan orang yang mengambil hati komitmen melayani Tuhan seumur hidupnya adalah orang yang ingin menjadi penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah (1 Tim.3:1). If you want to serve God as an overseer you pursue a noble task. Dalam bagian 1 Tim.3 ini ayat 1-13 merupakan prinsip kebenaran firman Tuhan yang meletakkan dua jabatan yang Tuhan taruh di gereja, yaitu diaken dan penilik, deacon and presbyters. Di dalam persyaratan menjadi deacon hanya ada satu yang tidak ada yaitu cakap mengajar orang, yang menjadi tuntutan bagi seorang presbyter. Saya mengambil sikap di sini Paulus bicara kepada mereka yang mengambil posisi menjadi hamba Tuhan dan pelayan. Memang di dalam gereja juga ada presbyter atau penatua yang bukan menjadi hamba Tuhan, tetapi kembali lagi harus diangkat dengan prinsip ini yaitu mereka memang diangkat untuk menjadi orang yang mengajar di gereja, menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Mengapa Paulus menjadikan hal ini sebagai trustworthy saying? Di sini kita bisa lihat Injil yang sejati dilayani oleh semangat yang luar biasa dan disertai dengan orang yang mengemban tugas itu juga seorang yang memiliki satu kriteria yang tidak boleh sembarangan karena itu adalah satu pelayanan yang mulia dan indah. Demikian Paulus mengingatkan Timotius mengambil sikap dan keputusan ini, mungkin dia mengalami kesulitan dan penolakan di Efesus, dia tidak boleh menolak dan tidak menghargai pelayanan yang sudah Tuhan berikan kepadanya. Trustworthy sayings membawa kebenaran yang penting bagi gereja. Trustworthy sayings juga membawa kesungguhan hati yang melayani Tuhan dengan semangat dan perjuangan yang tinggi. Trustworthy sayings juga membawa semua orang yang menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan menjadi orang yang sadar ini adalah panggilan Tuhan yang mulia dengan hidup yang suci. Itu sebab Paulus menitipkan mutiara-mutiara indah ini kepada Timotius sebelum dia meninggal menjadi harta gereja yang sejati adanya.(kz)