GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
15
Mar

Uang, Kepemilikan dan Harta Surgawi (3)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: March 15, 2009
Nats: 1 Tim.6:8, 17-18

Di dalam 3 ayat ini ada tiga prinsip penting yang menjadi mutiara yang indah bagaimana sikap orang Kristen terhadap uang, kepemilikan dan sikap kita melihat harta yang sejati yang ada di surga. Saya ingin mencoba merangkai antara konsep contentment dari Paulus, rasa puas dan cukup, ‘asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.’ Nanti akan kita tanya lebih dalam seberapa cukupkah cukup mengenai pakaian dan seberapa cukupkah cukup mengenai makanan itu? Apa yang namanya ‘asal ada pakaian, asal ada makanan…’ itu? Apakah asal ada satu potong, itu cukup? Ataukah ada sepuluh potong pakaian, itu cukup? ‘Asal ada makanan cukup…’ maksudnya apakah makan dengan tempe dan tahu cukup? Kalau begitu buat apa Tuhan ciptakan lobster? Point kedua, segala sesuatu yang Tuhan beri kepada kita jangan merasa guilty dan takut. Paulus bilang segala yang Tuhan beri di dalam kelimpahan kepada kita boleh kita nikmati. Point ketiga, Paulus memakai kata ‘perintahkanlah kepada orang kaya…’, artinya sikap ini bukan pilihan, bukan nasehat, bukan preference pribadi bagaimana kita hidup, tetapi ini suatu perintah. Paulus tidak bilang ‘perintahkan orang kaya untuk berhenti menjadi kaya’ tetapi ‘perintahkanlah orang kaya supaya mereka kaya di hadapan Allah.’ Berarti kekayaan dan kelimpahan bukanlah hal yang salah dan berdosa. Tuhan tidak pernah memerintahkan orang kaya untuk berhenti menjadi kaya.

Sekarang kita akan kaitkan beberapa hal ini: Pertama, saya hidup cukup ada makan, cukup ada pakaian. Kedua, segala hal yang Tuhan kasih, meskipun itu berkelimpahan di dalam hidupmu, nikmatilah itu. Bisakah hidup cukup, sekaligus kaya? Bagaimana saya menikmati tidak berkelebihan, bagaimana saya mengatakan itu cukup dan tidak kekurangan? Ini merupakan aspek yang hari ini kita sama-sama pikirkan dari ayat-ayat ini. Seberapa tinggi standarnya kita kaya di hadapan Tuhan? Bolehkah kita memiliki harta yang berkelebihan? Saya pernah mengatakan sikap orang Kristen terhadap uang itu ada di dalam relasi “benci tapi rindu – love/hate relationship.” Di satu pihak kita takut menjadi orang kaya, karena kita pikir kalau kita terus minta Tuhan memberi kekayaan, kita takut dituduh orang tidak pernah puas di dalam hidup ini. Tetapi sebaliknya Tuhan juga tidak perintahkan engkau untuk menjadi orang miskin, Tuhan tidak panggil engkau untuk hidup di dalam kemelaratan. Bagaimana melihat dengan seimbang dua sisi ini?

Ada 5 pertanyaan yang ingin saya tanyakan hari ini. Saya rasa ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam hati orang Kristen yang kadang-kadang tidak berani diungkapkan:

  1. Apakah kita punya hak untuk mengumpulkan atau mencari uang sebanyak-banyaknya?
  2. Apakah Alkitab memanggil semua orang yang mengikut Kristus untuk menjual semua hartanya dan hidup dengan beriman kepada Tuhan saja?
  3. Apakah kita punya hak untuk memiliki asset dan property pribadi? Berapa banyak?
  4. Apakah dibenarkan oleh Tuhan kalau orang menjalani hidup yang sedikit lebih nyaman, punya kasur yang empuk, pasang AC, dsb?
  5. Apakah kita harus menjalani hidup sederhana? Apa arti ‘hidup sederhana’ itu?

Saya rasa ini 5 pertanyaan penting berkaitan dengan tiga prinsip tadi: belajar hidup asal ada makanan, ada pakaian, cukuplah; segala yang ada padamu, enjoy saja; Tuhan tidak larang engkau menjadi kaya, tetapi harus belajar hidup kaya di hadapan Tuhan. Bagaimana orang Kristen menjalani satu lifestyle yang mengandung seluruh prinsip kebenaran firman Tuhan ini?

Yang pertama, uang dan harta itu boleh datang secara akumulatif di dalam hidup kita karena tidak bertentangan dengan prinsip yang Alkitab sudah berikan: orang yang bekerja keras, orang yang sungguh-sungguh membanting tulang, orang yang berusaha dengan baik di dalam hidupnya, dengan sendirinya akan berkecukupan dan bahkan berkelimpahan. Alkitab tidak mengatakan itu hal yang salah, bahkan Alkitab dengan jelas menyuruh kita belajar dari semut yang rajin dan bijaksana tanpa perlu dikomando, keluar mencari makan dan mengumpulkan makanan untuk musim dingin. Paulus bilang di sini, bekerjalah dengan tangan sendiri, bekerja dengan keras.

Selanjutnya, Alkitab memberikan prinsip ke dua dimana Tuhan memberikan hak kepemilikan property secara pribadi dan melindungi hak itu. Di dalam hukum Taurat yang ke 10, jelas Tuhan melarang orang untuk mengingini hak milik orang lain. Itu adalah kepemilikan pribadi yang kita boleh jaga, pelihara dan lindungi. Orang yang ingin mengambilnya dengan paksa, itu adalah tindakan kriminal yang salah. Kita boleh memiliki sesuatu. Kita mendapatkannya dengan bekerja. Kita berusaha sungguh-sungguh. Ini merupakan hukum natural yang Tuhan beri kepada kita. Maka semua yang Tuhan beri kepada kita merupakan berkat dan anugerah yang boleh engkau dan saya nikmati.

Namun Alkitab juga mengajarkan kepada kita adanya suatu lifestyle yang bukan kita yang pilih, tetapi Tuhan sendiri yang memberikan hal itu berkaitan dengan sikap orang melihat harta yang di surga itu lebih penting daripada harta yang di bumi. Ini adalah satu analisa dari seorang hamba Tuhan bernama Randy Alcorn di dalam bukunya “Money, Possessions and Eternity” yang mengatakan di dalam Injil Yesus memberikan dua kategori murid yang mengikut Dia.

Tuhan memang memberi syarat kepada semua orang yang mengikut Dia untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Tuhan dengan setia. Kalau dia tidak menyangkal diri dan memikul salibnya, dia tidak layak menjadi murid Tuhan. Namun kepada murid-murid yang memang Tuhan panggil secara khusus untuk mengikuti Yesus terus-menerus, Tuhan menyuruh mereka untuk meninggalkan seluruh hartanya. Ke 12 murid melakukan hal ini, mereka meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan jala dan perahunya untuk mengikut Yesus sepenuhnya. Pada waktu Tuhan Yesus mengutus murid-muridNya, Ia melarang mereka membawa bekal, tongkat dan pundi-pundi uang karena Tuhan akan menjaga dan memelihara mereka. Ini adalah kategori pertama, orang yang memiliki panggilan hidup dari Tuhan menjadi misionari, pergi berkeliling seperti itu memang tidak perlu membawa segala sesuatu yang tidak diperlukannya untuk melayani Tuhan. Dalam surat 3 Yoh.5-8, Yohanes memuji beberapa orang Kristen yang dengan sukarela mendukung pelayanan para misionari yang berkeliling mengabarkan Injil. Ini adalah panggilan khusus kepada mereka, keluar dari pekerjaannya, tidak lagi hidup bersandar kepada harta milik dan usaha, pergi memberitakan Injil. Ini dilakukan oleh orang-orang Kristen di Gereja mula-mula di abad 1, para travelling missionaris yang berkeliling mengabarkan Injil.

Memang belakangan terjadi abuse dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di dalam surat 1 Tesalonika, kita menemukan satu situasi beberapa orang Kristen tidak mau kerja, lalu berkeliling ke rumah orang membesuk, lalu karena sungkan pemilik rumah mengajak dia makan. Lalu orang-orang ini tinggal menumpang di rumah orang lain berminggu-minggu. Paulus marah kepada mereka dan menegur dengan keras, “Yang tidak mau kerja, jangan makan.” Di dalam surat Didache yang dikirimkan oleh Bapa-bapa Gereja kepada Gereja Mula-mula untuk membedakan mana misionari yang palsu dan yang asli, misionari asli paling maksimal tinggal tiga hari. Kalau lebih dari itu, dia patut dicurigai. Dari sini sdr bisa melihat pola orang yang dipanggil Tuhan untuk meninggalkan segala sesuatu pergi memberitakan Injil bagi Tuhan, maka seperti kalimat Paulus “asal ada makanan dan pakaian itu cukup” boleh kita lihat karena dia mengambil lifestyle ini.

Namun Tuhan tidak panggil semua orang untuk mengikut Dia dengan lifestyle seperti itu. Kategori kedua ada di dalam Mrk.5:19 memperlihatkan ada orang yang Tuhan tidak ijinkan untuk meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Dia, melainkan Tuhan menyuruh dia tinggal di rumahnya, menjalani hidup sehari-hari bekerja dan menjadi berkat di tengah-tengah mereka. Dan tidak berarti orang yang menjalani lifestyle ini kemudian menjadi orang Kristen “second class” karena ini adalah panggilan Tuhan bagi dia. Tuhan tidak minta dia meninggalkan segala sesuatu. Dia tetap bekerja, dia tetap berusaha, dia tetap mencari nafkah untuk hidupnya, tetapi dia tetap hidup menjadi berkat dan menjadi murid Tuhan yang baik. Alcorn mengatakan, dari situ kita harus belajar melihat Alkitab dengan lebih comprehensive, tidak boleh kutip satu ayat lalu memakainya untuk menjadi satu lifestyle bagi semua orang Kristen. Tuhan menghargai orang yang tinggal, bekerja, bersaksi, sebagai muridNya juga.

Sekarang kita akan melihat beberapa prinsip Tuhan bicara mengenai hak milik dan properti orang Kristen. Mari kita melihat Ef.4:28 merupakan satu ayat yang penting lagi yang Tuhan beri kepada kita bagaimana sikap dan respons orang Kristen berkaitan dengan uang dan harta miliknya. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi. Tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

Kita tetap harus menjadi orang Kristen yang tidak mau menjadikan harta miliknya sebagai penghalang baginya di hadapan Tuhan. Maka di situlah artinya ‘menyangkal diri dan memikul salib,’ satu lifestyle dimana dia hidup tidak mau diikat oleh apa yang ada padanya. Maka lifestyle apa yang harus kita miliki? Berdasarkan ayat ini, mari kita lihat beberapa prinsip.Prinsip pertama, kita tidak boleh hidup bergantung kepada belas kasihan orang. Kedua, kita tidak boleh hidup merugikan orang. Ketiga, kita tidak boleh hidup mendapatkan kekayaan dan keuntungan dengan cara mencelakakan dan meng-eksploitasi orang. “Siapa yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi.” Ini sikap pertama kita mengenai uang dan harta milik. Prinsip kedua, ”...Baiklah ia bekerja dengan keras supaya dengan demikian dia bisa menghidupkan diri sendiri dan keluarganya.” Belajar mencukupkan diri dan kebutuhan keluarga. Ini adalah tanggung jawab kita. Prinsip ketiga, ”...supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Dengan membagikan sesuatu kepada orang lain, berarti ada kelebihan dari miliknya, yang dipakai untuk kemajuan kerajaan Allah.

Jadi lifestyle orang Kristen tidak boleh hanya berpikir pokoknya saya sudah mencukupkan kebutuhan anak isteri, lalu selesai. Ayat ini memberitahukan kepada kita, tidak salah orang Kristen punya berkelebihan. Tetapi waktu kita berkelebihan, bagaimana kita menaruh prinsip kebenaran dimana kelebihan yang ada pada kita itu demi kemajuan kerajaan Allah. Alcorn mengatakan, “The point is not merely say “NO” to money and things, but using money and things to say “YES” to God.”

Maka dari beberapa ayat ini kita mengharmonisasi prinsip-prinsip ini di dalam hidup Kristen yang benar. Tidak ada pola orang Kristen harus hidup seperti ini atau seperti itu, tetapi yang ada ialah kita berjalan tidak boleh melepaskan prinsip-prinsip ini. Kalau satu kali ada orang yang merasa dipanggil Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan dan mengambil keputusan untuk meninggalkan segala sesuatu, tidak menikah, dsb, itu adalah panggilan Tuhan bagi dia. Tetapi kalau Tuhan memberimu kesempatan bisa hidup secara berkelimpahan, bekerja dengan keras dan segala kesempatan muncul dengan tidak habis-habis, biarlah engkau juga berkelimpahan di hadapan Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup Kristen kita? Cara hidup kita mungkin berbeda-beda tetapi di dalamnya tidak boleh lepas dari kebenaran prinsip firman Tuhan yang sudah kita dapatkan. Orang Kristen harus belajar hidup puas dan cukup. Orang Kristen harus belajar berpikir setelah saya bekerja dengan keras, melakukan segala sesuatu demi kebaikan keluargaku, lalu saya memiliki kelimpahan kelebihan, maka saya bagaimana menggunakannya untuk memajukan pekerjaan dan kerajaan Allah. Karena itulah sebabnya, sekarang kita masuk kepada aspek selanjutnya. Seringkali orang Kristen mengatakan we have to live a simple life, so others can simply live. Ada orang-orang tertentu yang hidupnya begitu irit dan hemat. Ada kesempatan untuk beli baju baru, tetapi dia mau hidup sederhana beli baju bekas. Ada kesempatan punya mobil, tetapi dia pilih naik sepeda. Ada kessempatan makan di restoran, tetapi dia pilih makan indomie di rumah. Apakah ini yang dimaksud hidup sederhana? Randy Alcorn mengatakan mungkin lebih baik kita belajar bukan hidup simple life, tetapi hidup strategic life. Yang dimaksud dia, banyak orang berpikir hidup sederhana dengan membuang semua kemewahan, padahal bisa jadi dia juga perlu melihat banyak hal tidak perlu diukur hanya dengan ukuran materi. Yudas Iskariot pernah menegur seorang wanita yang memecahkan minyak narwastu ke kepala Yesus sebagai suatu pemborosan. Bagi dia, minyak yang mahal itu bisa dijual dan uangnya bisa diberikan kepada orang miskin. Tetapi Tuhan Yesus menerima persembahan wanita itu, menunjukkan tidak selamanya perhitungan materi seperti yang Yudas punya itu benar. Tidak selamanya kita beli barang yang lebih murah, makan indomie di rumah, hidup lebih hemat, itu benar karena hidup kita tidak bisa diukur dengan hal-hal itu saja. Pointnya adalah, strategic living memiliki beberapa prinsip:

  1. Orang Kristen tidak boleh “waste”, membuang-buang sesuatu dengan percuma. Waktu Tuhan Yesus memberi makan 5000 orang dengan 5 roti dan 2 ikan, Dia menyuruh murid-murid untuk mengumpulkan sisanya 12 bakul, tidak ada yang dibuang percuma. Kalau you dapat talenta dan berkat yang lebih banyak, tidak boleh ambil sikap sederhana, tidak berjuang dengan sungguh-sungguh mengembangkan kekayaan itu karena itu artinya you melanggar prinsip Tuhan. Itu yang namanya “waste”.
  2. Setiap kali kita mengambil keputusan harus mengangkat pertanyaan ini: apakah ini hal yang perlu dan patut saya lakukan dengan kemampuan dan resources yang ada? Dengan demikian kita tidak selalu memilih yang lebih rendah dan lebih sederhana. Maka yang disebut dengan strategic living bukan berarti tidak menerima apa yang ada, strategic living adalah dalam pengertian bagaimana saya menikmati apa yang Tuhan kasih tetapi sekaligus saya menyadari apakah ini perlu di dalam hidup saya atau tidak? Apakah saya bertanggung jawab memakainya di hadapan Tuhan? Dan yang terpenting, strategic living adalah hidup dengan selalu berpikir apakah yang saya kerjakan di dalam hidup ini, apakah yang saya miliki itu bisa memperkembangkan kerajaan Allah atau tidak? Kita tidak perlu takut untuk hidup secara berkelimpahan untuk kita nikmati, tetapi bagaimana segala sesuatu yang berkelimpahan di dalam hidup kita itu tidak kita pakai hanya untuk diri kita sendiri.

Saya ingin mengajak sdr memikirkan secara praktis bagaimana uang dan harta milik yang berkelebihan yang ada di dalam hidup kita sebelum kita mati mau kita jadikan seperti apa. Alcorn mengatakan, “I believe our treasures in Heaven will be in proportion to what we do and give before we die, not what we tell others to do with what is left after we die.” Waktu saya meninggalkan hartaku, baik itu untuk pelayanan gereja maupun untuk hal-hal lain bagi Tuhan, sesungguhnya itu bukan pemberian sebab sejujurnya kita tidak punya pilihan. Sdr setuju atau tidak setuju pernyataan dia, kita bisa diskusikan. Begitu kita mati semua harus kita tinggalkan, bukan? Pointnya adalah bagaimana selama kita masih hidup di dunia, kitapun memiliki sikap strategic living, semua yang ada di dalam diri saya yang sudah cukup dan berkelebihan itu saya jadikan sebagai suatu sumbangsih bagi pekerjaan Tuhan. Paulus bilang, kita tidak membawa apa-apa ke dalam dunia dan kita tidak bawa apa-apa keluar. Tetapi sebelum meninggal, selama kita masih hidup di dunia, kita masih punya kesempatan untuk “mengirim” harta itu menjadi harta milik kita selama-lamanya di surga. Yang kasih ke gereja itu anak, berarti yang dapat pahala adalah anak. Maka selama kita hidup, itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita mengelola. Kembali kepada prinsip ini: kerja jangan rugikan orang, kerja cukupkan kebutuhanmu dan kebutuhan keluargamu, kalau ada lebih bukan untuk diri. Ini adalah prinsip. Tidak salah, kalau ada kelebihan uang sdr membuat rumah yang lebih luas dan lebih nyaman. Tetapi kita tetap juga harus berpikir tidak selama-lamanya semua itu untuk diri sendiri. Maka bagaimana sdr meramu itu menjadi melodi yang indah di dalam hidup sdr. Bagaimana yang lebih di dalam hidup saya bisa saya pakai bagi pelebaran kerajaan surga. Kalau ada orang yang melayani dan membutuhkan dukungan supaya pekerjaan Tuhan berkelanjutan, biarlah kita mendukung mereka. Milioner Andrew Carnegie mengatakan, memberi uang berkelebihan kepada anak adalah kutuk yang sama beratnya dengan uang itu. Tidak ada seorangpun di dalam dunia ini yang boleh mencacadkan anak dengan beban yang terlalu berat dengan harta yang terlalu besar sekali ke pundaknya kalau dia tidak bisa pikul. Saya ingin semua orang sebelum meninggal dunia, di dalam kelimpahan hartanya coba memikirkan pertanyaan ini: Apakah kekayaanku akan aman di tangan anakku? Ataukah anakku aman di tangan kekayaanku? Memang sangat kontroversial sekali sikap orang Kristen terhadap semua warisan yang akan kita tinggalkan. Berapa bamyak yang harus mereka dapat supaya mereka bisa hidup? Carnegie mengatakan yang perlu kita wariskan kepada anak bukan “good inheritance” tetapi “godly heritage.” Good inherintance bisa habis. Sehingga pepatah ini berulang terus: generasi pertama kerja keras cari uang, generasi kedua foya-foya habiskan uang, generasi ketiga minta-minta uang. Good inherintance bisa berlalu, tetapi godly heritage itu yang tidak hilang.

Kita hidup masuk kategori apa hari ini? Jangan pikir ayat-ayat ini adalah untuk orang yang kaya sekali dan kita ini cuma kategori pas-pasan. Tetapi saya mengatakan, kalau sekeluar dari ruangan ini you bisa mengatakan, “Makan dimana kita hari ini?” you masuk kategori 15% orang kaya di dunia ini. Artinya, ada 85% orang di atas muka bumi yang ada di dalam kategori “Apa makan kita hari ini? Dan makan apa kita hari ini?” Kalau kita punya uang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar kita, itu sudah menempatkan kita dalam kategori orang kaya. Maka pikirkanlah satu hidup yang punya strategic living bagimu.(kz)