Kita sudah melihat dua ekstrem di dalam sikap orang terhadap uang dan materi yang ada di dalam hidupnya. Yang pertama Asketisisme, sikap yang menganggap semua barang yang materi itu jahat, materi dianggap pasti akan menghambat dan merusak hidup rohani mereka. Maka lebih baik materi dibuang jauh-jauh. Tetapi di pihak lain kita menemukan ekstrem yang kedua yaitu Materialisme, yang menganggap tidak ada yang bersifat rohani di dalam hidup ini. Hidup hanyalah semata-mata soal apa yang kita makan dan minum berkaitan dengan kebutuhan jasmani saja. Banyak orang Kristen tidak menyadari dan tidak melihat betapa bahayanya Materialisme sebab Materialisme mungkin merupakan pencobaan yang jauh lebih besar bagi Kekristenan dewasa ini dibanding dengan Asketisisme. Prosperity theology yang mengatakan makin kaya seseorang berarti dia makin diberkati, makin disukai dan makin dicintai Tuhan. Ini adalah ajaran yang mengagungkan Materialisme di dalam bahasa yang bersifat rohani. “God loves you and has a wonderful plan for your bank account.” Mari kita coba belajar baik-baik, dimana letak kebahayaan Materialisme yang tidak kita sadari.
Yesus Kristus di dalam Matius 6 ini memberikan peringatan yang sangat jelas kebahayaan yang pertama muncul di sini, Materialisme bersifat menipu dan membutakan hidup seseorang. Itu yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di dalam perumpamaan mengenai benih yang ditabur di dalam kerajaan Allah. Benih yang jatuh di antara semak duri adalah seperti orang yang hidup di tengah kekuatiran dan ketamakan di dalam hidupnya. Penipuan yang paling sering kita dengar adalah hidup kita memerlukan uang sebab uang sanggup bisa membeli segala-galanya di dalam hidup ini. Apa betul? Nampaknya memang betul, karena apa yang kita perlu nampaknya hanya bisa kita peroleh kalau kita punya uang, bukan? Jangankan benda, waktupun kelihatannya bisa dibeli dengan uang sehingga ada pepatah mengatakan “time is money,” bukan? Tetapi apakah betul segala sesuatu bisa kita beli dengan uang? Banyak barang dan materi, hal-hal yang mahal mungkin hanya bisa dibeli dengan uang tetapi paling tidak, Kidung Agung sudah mencatat ada satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang yang banyak yaitu cinta (Kid.8:7). Uang bisa membeli isteri, tetapi uang tidak bisa membeli cinta isteri. Uang bisa menipu, kekayaan bisa menipu, menganggap kita bisa mendapatkan dan meraih apa saja. Mari kita mengingat ada bagian di dalam hidup ini yang lebih bernilai dari sekedar materi, ada bagian di dalam hidup ini yang tidak bisa diukur dengan uang dan ada bagian di dalam hidup ini yang jauh lebih berharga dari sekedar uang. Uang bisa membeli tempat tidur yang empuk tetapi uang tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Uang bisa membeli buku tetapi uang tidak bisa membeli kepintaran. Uang bisa membeli makanan tetapi uang tidak bisa membeli napsu makan. Uang bisa membeli taman yang indah tetapi uang tidak bisa membeli keindahan. Uang bisa membeli obat tetapi uang tidak bisa membeli kesehatan. Uang bisa membeli hidup yang baik tetapi uang tidak bisa membeli hidup kekal. Uang bisa membeli passport untuk pergi ke mana saja tetapi cuma satu tempat yang dia tidak bisa pergi yaitu surga.
Materialisme itu berbahaya, kata Tuhan Yesus. Materialisme memiliki kuasa yang terselubung yang bisa membutakan dan menipu orang . Uang memberi penipuan. Kita pikir dengan uang kita bisa mendapatkan segala sesuatu tetapi ada banyak hal yang kita tidak bisa raih dengan kekayaan. W.H. Vanderbilt mengatakan, “The care of $200.000.000 is enough to kill anyone. There is no pleasure in it.” Kalau sdr me-manage uang dua juta dollar, tidak heran nyawa orang itu terasa murah sekali. Artinya orang bisa membunuh dia karena uang dua juta dollar. Tetapi kemarin ada berita menyedihkan ada orang pukul orang sampai mati hanya karena uang lima puluh sen.
Yang kedua, Materialisme memiliki kuasa yang sanggup bisa mengeksploitasi dan men-destroy hidup orang. Uang sangat berbahaya, dia bisa menghancurkan rumah tangga dan hubungan yang baik satu dengan yang lain. Minggu lalu kita menemukan ada satu orang berseru kepada Tuhan Yesus di antara ribuan orang yang berdesak-desakan, “Guru, suruhlah saudaraku berbagi harta dengan aku” (Luk.12:13). Berapa sering kita menyaksikan hanya karena uang hubungan keluarga, hubungan suami isteri, anak dan orang tua, bisa hancur dan berantakan. Padahal dengan hanya mendapatkan uang yang tidak seberapa banyak sdr bisa menyaksikan terlalu banyak contoh di sekitar kita kehancuran yang lebih besar yang ditimbulkan oleh uang.
Saya tidak habis mengerti bagaimana orang bisa terpesona dengan segala ramalan ke depan, prediksi masa depan, orang pergi ke dukun, pergi ke gunung Kawi untuk bisa mendapat kekayaan. Apa benar orang bisa kaya dengan cara itu? Kisah yang kita baca dari Kis.16:16-19 ini membuktikan benar itu bisa terjadi. Wanita budak ini bisa melihat ke masa depan, dan karena itu sdr bisa lihat tuannya mendapat keuntungan besar. Ramai-ramai orang pergi ke tempat-tempat keramat, pergi ke tukang ramal, pergi ke dukun, minta kesembuhan dan kekayaan. Tetapi adanya kesembuhan, adanya kemampuan meramal ke masa depan tidak otomatis berarti itu datangnya dari Roh yang benar dan bersih adanya. Kekayaan bisa diberikan, kuasa bisa diberikan, tetapi darimana datangnya? Ketika Paulus mengusir roh jahat itu, tuannya tidak melihat satu jiwa diselamatkan tetapi yang dilihatnya sumber penghasilannya lenyap. Materialisme bisa memiliki kuasa yang mengandung kejahatan di dalamnya. Itu sebab kita perlu berwaspada akan hal ini. Tuhan Yesus mengatakan setiap orang harus menjaga hatinya sebab ada bahaya dari ketamakan karena hidup kita tidak diukur oleh berapa banyak harta yang kita miliki. Maka sekarang, bagaimana kita bersikap terhadap harta? Apakah kita tidak boleh mengumpulkan harta? Apakah kita tidak boleh memiliki uang yang lebih banyak? Apakah kita harus membuang semua yang kita miliki? Saya rasa kalimat-kalimat itu keliru besar karena Tuhan Yesus tidak berkata seperti itu. Sebaliknya Yesus meminta kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diinvestasikan ke tempat yang benar.
Di dalam Mat.6:19-24 Tuhan Yesus memperlihatkan ada tiga hal yang sangat penting bagaimana orang bersikap di dalam hidupnya. Yang pertama, Dia meminta kita segera mengerti dengan jelas dua jenis harta, mana harta dunia dan mana harta surga. Mana yang namanya kaya di dunia dan kaya di surga. “Kumpulkanlah hartamu di surga, ngengat dan karat tidak dapat merusak dan pencuri tidak dapat mencurinya.” Kemudian di ayat 22-23 bicara mengenai mata, bicara mengenai dua perspektif bagaimana fokus kita melihat dan memandang segala sesuatu di dalam hidup ini. Jika mata kita terang, semua yang kita lihat akan menjadi terang. Kalau mata kita gelap, semua yang kita lihat menjadi gelap. Ayat 24 bicara soal dua tuan. Manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, kepada Allah dan kepada uang. Yesus bukan mengatakan “it is wrong to serve God and money,” dan Dia juga tidak mengatakan ,”It is difficult to serve God and money.” Tetapi dengan jelas Dia mengatakan, “It is impossible to serve God and money.” Sama seperti seorang isteri tidak mungkin bisa memiliki dua suami atau seorang hamba memiliki dua tuan.
David Livingstone, seorang misionari yang pergi ke Afrika mengatakan saya tidak pernah menaruh nilai kepada apa yang saya miliki kecuali itu bisa dikaitkan dengan kerajaan Allah. Tuhan minta engkau menjadi kaya. Tuhan minta engkau sungguh-sungguh mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Tetapi ingat baik-baik, Dia akan mengukur kekayaan kita berdasarkan berapa kayanya kita bukan di dalam dunia ini tetapi berapa kayanya kita di dalam kerajaan Allah.
John Piper di dalam bukunya “Desiring God” menceritakan suatu kisah nyata bagaimana sebuah kapal terbang dari Amerika jatuh di perairan Jepang dan kira-kira ada 269 orang di kapal itu tewas. Dia mengatakan, di dalam kapal itu ada seorang milioner, ada seorang politikus, ada seorang corporate executive dari perusahaan Amerika yang besar, di dalamnya ada seorang playboy dan playmate-nya, di dalamnya juga ada seorang anak misionari yang baru kembali dari Amerika melihat kakeknya. Saya percaya mereka semua berdiri di hadapan Allah, tidak mungkin lagi bisa membawa kopor dan kartu kredit dan segala surat-surat berharga di tangan mereka. Apa yang mereka bawa di hadapan Tuhan? Mereka hanya membawa hati mereka di hadapan Tuhan, maka Tuhan tidak bisa menilai berapa banyak harta yang mereka miliki. Yesus bilang, kumpulkanlah harta baik-baik, tetapi harta itu adalah harta yang ada di surga. Kalau Tuhan memberi kita lebih banyak dan berkelimpahan, bukan berarti kita boleh pakai hanya untuk diri kita sendiri. Selama kita masih hidup di dalam dunia ini mari kita baik-baik memakai uang itu dan menginvestasikannya di surga.
Dalam 1 Tim.6:7 Paulus mengingatkan ”...sebab kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kitapun tidak membawa apa-apa keluar.” Jelas kita tidak bisa membawa uang kita waktu kita mati, siapapun dia, kaya atau miskin. Ini adalah prinsip kebenaran yang tidak bisa ditolak. Orang ateis, orang Kristen, semua akan mengakui kebenaran ini. Maka taruh baik-baik hal ini di dalam pikiran sdr. Tetapi hari ini saya ingin memberitahu sdr satu rahasia: sdr bisa mengirim uang itu sekarang, selagi sdr masih hidup. Peringatkanlah kepada orang kaya supaya tidak bersandar kepada kekayaannya yang tidak menentu, kata Paulus, tetapi bersandar kepada Tuhan yang di dalam segala kekayaannya memberi kita di dalam kelimpahan untuk bisa kita nikmati. Beritahu mereka supaya kaya di dalam kelimpahan dan kaya di dalam memberi. Dengan demikian mereka sedang menyimpan harta itu untuk satu hidup yang sebenarnya. Itulah your REAL life.
Alkitab mencatat pertobatan yang sejati selalu akan mendatngkan perubahan perspektif orang terhadap kekayaan. Itu bisa kita lihat pada waktu Zakheus si kepala pemungut cukai bertobat, bukan? Dia bukan saja mengaku dirinya orang berdosa dan Tuhan tidak layak tinggal di rumahnya, tetapi sekaligus dia memperlihatkan perubahan sikap terhadap materi. Dia mengatakan sebagian uang hasil memeras orang dan cara yang tidak benar semua akan dia kembalikan kepada mereka. Maka Tuhan Yesus mengatakan hari ini terjadi sukacita di surga karena orang ini adalah juga anak Abraham. Kita juga melihat pertobatan yang sungguh-sungguh dari beberapa orang di Efesus yang rela membakar kitab-kitab sihir yang begitu mahal di depan mata semua orang. Nilai buku-buku itu ditaksir lima puluh ribu uang perak (Kis.19:19).
Ada banyak orang mungkin tidak senang, tetapi jelas Martin Luther sendiri mengatakan pertobatan sejati harus merubah 3 hal di dalam hidupnya, merubah pikiran dia untuk lebih cinta Tuhan, merubah hatinya untuk lebih mengasihi Tuhan, dan ketiga, merubah dompetnya. His mind, his heart and his purse. Ini prinsip yang sederhana. Selama kita hidup Tuhan memberi berkat, cepat-cepat rubah value-nya dengan kirim untuk hidup kita yang akan datang melalui bagaimana kita merubah apa yang kita punya sekarang memiliki nilai kekekalan di dalamnya. Saya harap sdr sungguh-sungguh melihat dan memperhatikan hal ini. Pada waktu sdr diberi lebih banyak oleh Tuhan, biarlah sdr belajar mencintai Tuhan dan memberi persembahan dengan lebih baik. Lihat dan dukung pekerjaan Tuhan. Ada yang membutuhkan pelayanan sdr, biar sdr memberi di sana. Sebab dengan melakukan hal itu sdr sedang mengumpulkan harta yang bersifat kekal di hadapan Tuhan. Ingat sekali lagi, kita tidak bisa membawa apa-apa keluar dari dunia ini. Coba selidiki hati sdr baik-baik di hadapan Tuhan, seberapa banyak sdr sudah memberi kepada Tuhan selama ini? Seberapa banyak sdr sudah mendukung pekerjaan Tuhan? Seberapa setianya sdr belajar memberi kepada Tuhan? Sdr dan saya tidak dilarang Tuhan menjadi kaya, tetapi sdr dan saya harus belajar kaya di hadapan Tuhan.
Yang kedua, soal perspektif. Dalam 1 Pet.4:1-3 menghadapi penderitaan selama di dunia ini hanya sementara adanya, just for a little while. Jangka waktunya hanya pendek saja. Menderita tidak usah terlalu merasa berkepanjangan. Tetapi waktu engkau mengalami pertobatan, jangan lagi hidup seperti dahulu, sudah terlalu banyak waktu terbuang. Pakai sisa waktu yang ada sekarang demi untuk Tuhan. Inilah yang saya sebut dengan perspektif. Maka waktu Paulus bicara mengenai buah pertobatan, salah satunya bicara mengenai perubahan perspektif. Orang yang bertobat akan selalu berpikir dia sudah menyia-nyiakan hidupnya untuk hal-hal yang tidak berguna. Itu umumnya yang terjadi. Sisa waktu yang ada jangan lagi disia-siakan.
John Calvin mengingatkan kita hidup di dalam dunia hanya seperti musafir. Dunia ini bukan tujuan akhir kita. Hidup kita di dalam dunia ini adalah satu perjalanan. Maka semua yang ada dan kita perlukan, itu adalah menjadi perlengkapan yang diperlukan di dalam perjalanan, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir dari perjalanan kita. Tetapi berapa banyak orang Kristen menjadi kuatir dan gelisah sebab yang diraih dan dicapai bukan menjadi tools, instrument pelengkap tetapi menjadi tujuan akhir. Uang bukan tujuan akhir hidup, uang hanyalah alat untuk kita hidup. Kekayaan bukan tujuan akhir hidup tetapi kekayaan hanya menjadi alat bagaimana kita hidup, menjadi instrumen kita menikmati hidup ini. John Wesley suatu kali diundang makan oleh seorang Kristen yang sangat kaya dan memiliki perkebunan yang sangat luas. Sebelum makan, pengusaha ini membawa John Wesley berkuda melihat seluruh perkebunannya. Dia mengatakan, sejauh mata memandang ini semua plantations saya. What do you think? tanyanya. Reaksi yang umum, kita terkagum-kagum dengan kekayaan yang begitu banyak, bukan? Tetapi John Wesley dengan prihatin memandang dia dan berkata, “Saya kuatir kamu pasti susah meninggalkan itu semua nanti…” Hidupmu itu hanyalah satu perjalanan. Kita hanya musafir di dalam dunia ini. Kita hanya berjalan.
Dalam 2 Pet.2:14 ”...hati mereka telah terlatih di dalam keserakahan.” Orang tidak pernah sadar bahwa dia serakah. Yang selalu dilihat adalah orang lain yang punya problem terhadap uang dan bukan dirinya. Petrus mengatakan serakah itu tidak datang seketika tetapi lewat satu proses training. Kenapa Petrus memakai kata ini “terlatih dalam keserakahan.” Berarti sifat serakah itu tidak datang tiba-tiba, tetapi sejak kecil tidak pernah puas. Dikasih satu minta dua, dikasih dua minta tiga. Kalau begitu, bagaimana kita juga belajar waspada terhadap keserakahan ini? Mulai dari keluarga, kita melatih anak-anak kita sejak kecil belajar memiliki perspektif yang benar terhadap uang dan barang. Dari kecil latih mereka, pertama, tidak semua yang dia mau selalu bisa dia dapat. Tidak semua barang-barang yang mewah harus kita kasih. Latih bagaimana sejak kecil mereka memberi persembahan kepada Tuhan. Biar baru umur satu dua tahun, tetap ajar dia untuk memberi persembahan di sekolah minggu supaya dia terlatih dan mengerti. Belajar mengerti berkat dan anugerah Tuhan juga perlu latihan. Melatih diri memberi kepada Tuhan. Saya selalu meminta orang belajar memberi kepada Tuhan, khususnya waktu sdr dibaptis menjadi orang Kristen pertama kali, memberi persembahan sulung kepada Tuhan. Jangan merasa rugi dan hitung-hitungan kepada Tuhan, karena dari situ kita melatih hati kita untuk tidak ditipu oleh keserakahan.
Samuel Storm di dalam Journal Discipleship 1991 menulis satu artikel berjudul “Is Jesus really enough?” yang sangat menyentuh karena itu adalah pengalaman sejati hidup dia. Waktu itu dia masih menjadi seorang mahasiswa teologi, dan tanggal 5 Januari 1976 malam apartemennya di Dallas mengalami kebakaran hebat dan tidak bisa menyelamatkan apa-apa selain dirinya dan isterinya. Tetapi pada malam itu juga dia mendapatkan pelajaran yang sangat penting baginya. Api itu bukan saja membakar habis seluruh harta yang dia miliki, tetapi dia juga sekaligus membersihkan hatinya karena selama ini dia sadar dia terlalu bersandar kepada apa yang dia miliki dan semua itu ludes habis. Malam itu dia menangis, menangisi apartemen yang habis terbakar tetapi sekaligus menangis bahagia karena menyadari benar-benar ‘hanya Yesus itu cukup’ bagi dia. Kita tidak akan bawa apa-apa keluar dari dunia ini, tetapi selama kita masih hidup kita bisa kirim uang itu ke surga dari sekarang. Mari kita belajar memiliki sikap hati yang tidak terikat kepada barang milik kepunyaan kita yang sementara itu.(kz)