GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
01
Mar

Uang, Kepemilikan dan Harta Surgawi (1)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: March 01, 2009
Nats: Lukas 12:1,13-21

Bagaimana sikap orang Kristen menghadapi harta dan barang milik kepunyaan yang ada di dalam hidupnya? Lukisan yang dikatakan oleh Philip Yancey di dalam bukunya “Money,” mungkin bisa melukiskan bagaimana perasaan hati orang Kristen berkaitan dengan uang dan harta milik yang ada di dalam hidupnya. Yancey mengatakan, “Saya merasa di dalam hatiku saya ditarik kepada dua arah yang berlawanan ketika saya berhadapan dengan soal uang. Pada satu sisi saya ingin menjual semua hartaku, saya ingin hidup sederhana di antara komunitas orang Kristen yang saling mendukung satu sama lain. Tetapi di sisi lain ada satu perasaan yang selalu muncul dan menekan rasa bersalah terhadap masalah uang karena ada keinginan menikmati secara berlimpah apa yang ditawarkan oleh prosperity dari dunia ini. Itu sebab kalau ditanya kepada saya, bagaimana sikap saya soal uang saya ingin sekali tidak mau pikir apa-apa soal uang tetapi Alkitab justru banyak berbicara dengan gamblang dan terus-terang mengenai uang.” Memang benar, perumpamaan dan khotbah Tuhan Yesus secara prosentasenya justru lebih banyak bicara mengenai bagaimana kita bersikap terhadap uang dan materi di dalam hidup kita ketimbang bicara mengenai hal-hal lainnya. Maka tidak heran ada orang berkata, sikap orang Kristen terhadap uang adalah di dalam relasi “benci tapi rindu, hate and love relationship.” Di satu pihak orang Kristen merasa guilty bagaimana bersikap dengan uang dan barang milik. Kita tahu kita tidak boleh menimbun terlalu banyak karena Tuhan tidak menginginkan hal itu, tetapi di pihak lain kita rasa bahwa kita sangat dan memerlukan barang materi dan uang berkelebihan supaya merasa lebih terjamin. Kita mengaku, uang bukanlah segala-galanya di dalam hidup kita tetapi kita juga harus mengaku dengan jujur uang hampir menjadi segala-galanya di dalam hidup kita.

Martin Luther mengatakan di dalam sepanjang sejarah sikap orang Kristen terhadap uang seperti orang mabuk yang sedang naik kuda, selalu jatuh di sisi sana atau di sisi sini. Tidak pernah duduk di atas kuda dengan baik karena mabuknya. Memang di sepanjang sejarah orang Kristen jatuh ke dalam dua ekstrim, yaitu di sisi pertama banyak yang jatuh kepada Asketisisme dan di sisi yang lain jatuh kepada Materialisme.

Apa itu sisi Asketisisme? Yaitu satu cara berpikir dan cara hidup yang selalu melihat uang atau materi adalah hal yang jahat. Paling tidak hal seperti ini bisa kita lihat contohnya dari Yohanes Pembaptis yang tinggal di padang gurun, berpakaian bulu unta dan hanya makan belalang dan madu hutan seumur hidupnya. St.Francis of Asisi bukan saja di dalam cara hidup tetapi dia juga mengambil sikap tidak mau membaca hal-hal yang lain selain Alkitab. Maka dia tidak mau membaca buku-buku yang ditulis oleh orang meskipun itu adalah buku-buku rohani sebab buat dia itu semua adalah pikiran manusia, bukan pikiran Tuhan. Luther mengatakan gambaran itu sebab dia menyadari salah satu bagian dari kehidupan Roma Katolik yang memiliki pandangan yang ekstrem dimana ada monastery yang menjalani hidup hanya dengan makan roti dan minum air putih sepanjang hidup dan tinggal di dalam kamar yang ukurannya 1×1m. Inilah sisi Asketisisme yang melihat uang dan materi semuanya jahat di dalam kehidupan orang Kristen. Umumnya orang yang memegang konsep ini berangkat dari konsep Dualisme yaitu yang menganggap materi itu evil dan rohani itu good, yang kelihatan itu jahat dan yang tidak kelihatan itu adalah hal yang baik. Namun Alkitab tidak meminta kita mengambil sisi ekstrem terhadap uang seperti itu, menganggap semua materi adalah hal yang jahat. Di abad 1 kita sudah melihat cikal-bakal Asketisisme ini ditegur oleh Paulus di dalam 1 Tim.4:1-5, dan Paulus mengingatkan bahwa semua yang Allah ciptakan itu baik jika diterima dengan ucapan syukur sebab semua itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. Ini adalah dasar yang penting sekali mengapa kita bersyukur, mengapa kita menikmati dan mengapa kita menghargai apa yang Tuhan beri. Tetapi Asketisisme adalah satu konsep “super spiritual” yang muncul pada waktu itu yang menganggap orang yang tidak kawin itu lebih rohani daripada orang lain dan orang yang tidak makan makanan ini dan itu lebih rohani daripada orang lain. Paulus dengan tegas mengatakan itu semua adalah ajaran yang sesat. Asketisisme memiliki kesalahan karena kita tidak dipanggil untuk menolak segala sesuatu di dalam jangka waktu yang panjang. Pada waktu Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke atas gunung dan mereka menyaksikan transfigurasi dimana Yesus di dalam kemuliaan bertemu dengan Musa dan Elia (Mat.17:1-4). Petrus kemudian mengatakan untuk mereka tinggal di sana selama-lamanya menikmati suasana indah seperti itu. Namun sebaliknya Tuhan Yesus mengajak mereka turun, menghadapi orang-orang dan melayani mereka. Kita boleh berpuasa, kita dipanggil Tuhan untuk sementara waktu mungkin tidak makan makanan yang banyak dan enak, tetapi Asketisisme menjadi salah karena mencomot ayat-ayat dengan sembarangan dan tidak melihat keseluruhan kebenaran firman Tuhan. Asketisisme salah karena mereka tidak menghargai bahwa Tuhan menciptakan kita memiliki roh dan tubuh. Kita memiliki tubuh materi yang mungkin sementara waktu bisa tidak makan, tetapi tidak mungkin tidak makan selama-lamanya sebab kita perlu makan dan perlu minum.

Kesalahan ketiga adalah Asketisisme salah karena mereka langsung menyamakan orang miskin identik dengan orang saleh atau suci. Alkitab tidak bicara seperti itu. Alkitab hanya bicara dengan jelas Allah kita adalah Allah yang penuh perhatian, Allah yang care kepada orang miskin dan tertindas. Memang betul firman Allah dengan tegas menegur orang-orang kaya sebab kekayaan menjadi penghalang terbesar manusia datang kepada Tuhan tetapi tidak boleh salah tafsir, bukan Allah tidak mencintai orang kaya tetapi yang terjadi adalah banyak orang kayalah yang tidak cinta Allah. Paulus mengatakan bukan kemiskinanan yang menjadi akar menyebab kejahatan, bukan juga kekayaan yang menjadi akar kejahatan, tetapi cinta akan uanglah yang menjadi sumber kejahatan (1 Tim.6:10). Kesalahan keempat, Asketisisme menganggap kerohanian itu berkaitan dengan apa yang ada di sekitar kita. Alkitab tidak bicara seperti itu. Alkitab bicara kerohanian adalah soal hati orang, bukan soal apa yang ada di sekitarnya. Kita tidak boleh cepat-cepat menghakimi orang melihat penampilan orang dari luar, walaupun seringkali kita tergoda berpikir pendeta yang lebih gemuk pasti kurang rohani dan sebaliknya pendeta yang kurus pasti ditekan oleh majelisnya. Kita selalu melihat apa yang di luar sehingga melihat penampilan pendeta bertubuh gemuk dan perlente di televisi,kita bilang pasti dia kurang rohani. Mungkin bisa menjadi indikasi dari penampilan orang bagaimana hati dia, tetapi jelas kita harus mengambil sikap apa yang ada di dalam hati orang tidak bisa ditentukan oleh luarnya. Asketisisme mengajarkan dengan menjadi miskin, dengan meninggalkan segala sesuatu, ini menjadi sarana untuk mendapatkan pahala dan reward dari Tuhan. Namun jelas Alkitab mengatakan bukan karena kemiskinan dan pengorbanan kita meninggalkan segala sesuatu maka Tuhan akan membalasnya nanti di surga.

Mengapa kita tidak mengikuti pola Asketisisme bersikap terhadap uang? Sebab memang Tuhan kita Yesus Kristus sendiri tidak mengambil sikap hidup seperti itu. Yesus memang mengambil sikap hidup sederhana, hidup simple tetapi tidak hidup secara asketik dan berkekurangan. Yesus memang berkata, serigala punya liang untuk tinggal tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tilam untuk meletakkan kepalaNya, namun Yesus bukan hidup asketik. Sehingga tidak heran dibandingkan dengan Yohanes Pembaptis, tampaknya Yesus sedikit “enjoy life” sehingga orang Farisi menuduhNya sebagai pelahap dan peminum (Mat.11:19). Ini persepsi orang Farisi dan ahli Taurat terhadap Yesus.

Asketisisme bukan menjadi cara hidup orang Kristen supaya kita merasa lebih rohani kalau kita miskin, dengan meninggalkan segala sesuatu kita berharap Tuhan akan membalas dengan pahala yang besar. Tuhan memberi apa yang ada di dalam dunia ini supaya sdr dan saya bisa makan dan nikmati. Semua ciptaan Tuhan baik adanya, Alkitab jelas mengatakan hal itu, namun di dalam Kejadian 1-2 di tengah-tengah segala keindahan dan kebaikan ciptaan itu, Tuhan menempatkan pohon pengetahuan yang baik dan jahat dan melarang manusia memakannya. Kita tahu kemudian Setan menggoda manusia sehingga makan buah yang dilarang itu. Itulah yang menyebabkan sekarang kita hidup tidak lagi menilai segala ciptaan Tuhan dengan netral.

Apakah uang itu netral? Apakah sdr menerima pandangan bahwa uang itu netral, tidak baik dan tidak jahat, tetapi tergantung siapa yang pakai, bagaimana memakainya dan apa yang kita lakukan dengan uang itu menjadi evil atau good? Richard Foster mengatakan uang memiliki tendensi yang jahat adanya. Saya rasa mungkin lebih tepat kita mengatakan bukan uangnya yang jahat tetapi hidup kita sudah tidak netral lagi karena kita berada di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa. Itu sebab tidak heran Martin Luther mengatakan sikap orang Kristen terhadap uang adalah sikap yang kadang-kadang sulitmenyeimbangkan bagaimana kita bereaksi, sehingga ada guilty feeling yang menyebabkan kita jatuh kepada ekstrem ke kiri atau ke kanan.Yang satu pihak Asketisisme mengatakan tidak perlu uang, uang itu jahat, materi itu tidak benar.Di pihak lain orang terjatuh kepada Materialisme. Mungkinkah kita tidak sadar sudah terjatuh di dalam Materialisme dan tidak sadar akan hal itu?

Di dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, saya sangat tertarik kepada orang muda yang ada di situ. Di tengah kerumunan orang banyak berdesak-desak, dia bisa berteriak, “Guru, mintalah kepadaku supaya dia berbagi warisan dengan aku.” Yang menjadi pertanyaan di sini, yang serakah itu saudaranya ataukah dia sendiri? Yang punya problem dengan uang itu saudaranya ataukah dia? Mungkin dia bisa membela diri dan mengatakan tidak ada problem dengan dia, yang menjadi problem adalah saudaranya tidak mau memberi warisan itu. Kalimat orang ini membuat saya tertegun karena sdr akan menemukan jawaban Tuhan Yesus sangat menarik, “Take care, brother.” Kenapa Tuhan Yesus berkata seperti itu? Kalimat ini memberitahukan kita bahwa orang ini datang kepada Yesus sama sekali tidak menyadari bahwa problem itu ada di dalam diri dia. Yesus melihat yang serakah adalah dia. Atau mungkin dua-duanya serakah. Kalau ditanya kepada kakaknya, mungkin dia akan berkata, “Saya tidak berkewajiban memberi warisan ini dengan dia.”

Ini yang sering terjadi pada orang, melihat Materialisme dan keserakahan bukan problem dia tetapi problem orang lain. “Take care,” kata Yesus. Kalimat ini langsung memberitahukan kita satu indikasi, selama-lamanya jujur harus kita akui manusia tidak pernah sadar ketamakan diri sendiri, lebih sering melihat ketamakan orang lain. Kita tidak pernah merasa kita berkelebihan tetapi selalu merasa berkekurangan. Dari itu kita harus mengaku dan menyadari betapa benar kalimat Tuhan Yesus, “Take care.” Covetness, keserakahan, keinginan mengingini milik orang lain yang tersembunyi di dalam hati kita itu adalah kebahayaan materialisme yang banyak orang tidak menyadarinya. Mari kita belajar sama-sama melihat dimana letak kehidupan kita yang kadang-kadang kehilangan sukacita, rasa bahagia, rasa puas dan syukur kita yang dalam kepada Tuhan. Pikir baik-baik, kadang-kadang perasaan terjerat di dalam Materialisme dan diam-diam mengingini milik orang lain itu ada di dalam hati kita dan itu harus kita waspadai.

Selanjutnya Yesus memberi kalimat ini, “Waspadalah terhadap segala keserakahan, sebab hidup kita tidak tergantung kepada kekayaan kita.” You are not what you have. Who you are is not measured of how much money do you have. Artinya, ukuran yang ktia ukur berbeda sekali dengan ukuran Tuhan. Kita mungkin mengukur berapa banyak yang kita miliki, tetapi Tuhan bilang ukuran itu kosong adanya. Kalimat ini menjadi peringatan bagi kita, hati-hati, jangan sampai kita jatuh menjadi orang Kristen yang memiliki keserakahan itu karena hidup ini tidak diukur oleh berapa banyak kekayaan yang engkau miliki. Yesus kemudian memberi perumpamaan mengenai seorang kaya yang berlimpah-limpah hartanya. Orang kaya ini merasa lumbungnya terlalu kecil, maka dia memperbesar dan memperbanyak tempat penyimpanannya. Dia melihat hartanya bisa dia nikmati hingga bertahun-tahun lamanya. Maka dia berkata kepada dirinya sendiri, “My soul, eat, drink and be merry.” Apa indikasi peringatan Yesus di dalam perumpamaan ini? Paling tidak ada empat indikasi yang muncul dari perumpamaan ini.

Yang pertama, kenapa kita sering berpikir kita perlu memiliki lebih banyak uang dan barang materi akhirnya terjerat kepada keserakahan ini? Karena kita berpikir kita akan hidup bahagia kalau kita punya lebih banyak. Itu yang dikatakan orang kaya ini, “Eat, drink and be merry.” Kalimat ini mengasosiasikan hidup bisa dinikmati jika saya memiliki harta berlimpah-limpah. Kita akan jatuh terjerat kepada kesalahan yang sama, jatuh kepada Materialisme yang tidak habis-habisnya waktu kita berpikir kalau kita punya rumah lebih besar, kalau kita punya pekerjaan yang lebih secure, kalau kita punya gaji lebih tinggi, maka kita akan hidup lebih happy. Bahagia kita tidak diukur dengan berapa banyak yang kita miliki.

Greg Easterbrook menulis satu buku yang bagus, “The Progress Paradox: How Life’s get better while people feel worse?” Terlalu banyak orang kehidupannya makin lama makin terjamin tetapi perasaannya makin worse. Makin makmurnya tingkat kehidupan mayoritas orang Amerika dan dunia barat membuat mereka lebih kaya, lebih sehat, lebih nyaman, lebih bebas, lebih tidak takut mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, tetapi pada saat yang sama tidak membuat mereka lebih bahagia daripada orang yang tinggal di gubuk yang bisa tidur nyenyak dengan mimpi sedang tidur di mansion.

“I have made many millions but they have broke me no happiness,” kata John Rockefeller. “I was happier when doing a mechanic job,” kata Henry Ford. “Millionaires seldom smile,” Andrew Carnegie, seorang milioner mengaku orang kaya jarang ketawa. Pengakuan orang-orang ini membuktikan harta yang banyak tidak membuat hidup lebih bahagia. Riset Easterbrook membuktikan orang yang lebih nyaman, lebih kaya, lebih sehat, dsb justru memiliki perasaan worse dari hari ke sehari. Itulah paradoks. Hidup bahagia tidak tergantung dari berapa banyak hartamu. You bisa bersukacita, hidup bahagia dan penuh syukur sekarang ini walaupun tidak punya apa-apa.

Inidikasi kedua, kita bisa terjebak kepada Materialisme waktu kita menjadikan diri kita sebagai pusat dan sentral dari segala-galanya. Dilihat dari konteksnya, beribu-ribu orang sedang mengerumuni Yesus, begitu berdesak-desak hingga sebagian ada yang terinjak-injak. Lalu di tengah kerumunan itu tahu-tahu ada satu orang mendesak hingga sampai di depan Yesus hanya untuk bicara mengenai problem dia, minta Yesus menjadi perantara dengan saudaranya untuk berbagi warisan. Di tengah orang banyak, muncul orang ini, orang yang hanya melihat problem dia sendiri dan minta solusi untuk problemnya segera. Materialisme cenderung membuat orang hanya berpusat kepada dirinya sendiri, cenderung menginginkan semua harta dan uang berputar kepada dirinya sendiri. Kita hanya berpikir itu punyaKU, itu milikKU, itu kepunyaanKU. Itu yang jelas terlihat di dalam perumpamaan Yesus mengenai orang kaya tadi, bukan? Hanya AKU, AKU dan AKU. Kalau kita hanya selalu berpusat kepada diri kita sendiri, melihat kepada diri kita sendiri, maka kesadaran itu terlalu kuat sehingga tidak bisa melihat dia punya lebih banyak daripada orang yang di bawah dan selalu merasa lebih sedikit daripada orang yang di atasnya. Kalau itu yang terjadi padamu, maka akan ada satu musuh yang mengganggu hatimu tidak habis-habisnya yaitu rasa tidak puas. Rasa tidak puas akan melahirkan anak yang namanya iri hati. Rasa tidak puas selalu menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Namun iri hati bukan saja menginginkan apa yang dimiliki orang lain tetapi tidak ingin orang lain mendapatkan apa yang aku miliki.

Indikasi yang ketiga, dengan memiliki banyak harta dan kekayaan kita menemukan security and safety di situ. Ini yang dikatakan orang kaya kepada jiwanya, “Hai jiwaku, ada padamu banyak harta, maka aman dan nyamanlah engkau…” Tetapi Tuhan berkata, “Hai orang bodoh, kalau malam ini jiwamu diambil, apa yang tersisa padamu?” Kisah Ayub di PL bagi saya merupakan kisah yang indah sekali. Di situ Allah ingin membuktikan kepada Setan, kalaupun semua yang ada pada Ayub, kekayaannya, anak-anaknya, kesehatannya, semua itu terenggut darinya, Ayub tetap merasa aman bersama Tuhan. Kita akan terjebak jatuh kepada materialisme kalau kita menganggap security dan keamanan hidup kita ada di dalam harta dan uang yang kita punya.

Indikasi keempat, semua uang dan harta milik tidak otomatis kita menjadi kaya di mata Tuhan karena ukuran yang engkau dan saya pakai tidak sama dengan ukuran yang Tuhan pakai. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan hal ini, hidupmu tidak diukur dari berapa banyak yang engkau miliki. Please measure the richness of your life dengan satu ukuran yang dipakai oleh Tuhan. Pada hari ini biarlah sekali lagi kita mengevaluasi sikap kita terhadap harta milik kita sehingga kita memiliki respons dan sikap yang benar di hadapan Tuhan. Biarlah kita take care dengan hati kita masing-masing. Buang jauh-jauh keinginan yang akhirnya mendatangkan ketidak-puasan. Buang jauh-jauh perasaan ingin memiliki lebih banyak yang akhirnya membuat kita tidak memiliki sukacita dan bahagia di hadapan Tuhan. Kata Yesus, “Take care. Jangan sampai kita tidak sadar akan semua hal itu.”(kz)