GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
22
Feb

Contentment and Hidup Memberi

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: February 22, 2009
Nats: Mazmur 23, Fil.4:10-19

Mazmur 23 adalah mazmur yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam adanya. Rata-rata hampir 80% orang Kristen bisa menghafal mazmur ini karena kesederhanaan kalimatnya. Ini merupakan syair pujian yang datang dari hati manusia yang berespons kepada Tuhan. Saya pernah mengutip kalimat John Calvin, doktrin mengajar bagaimana kita berpikir benar tentang Allah, tetapi kitab Mazmur diberikan kepada kita supaya kita di dalam segala keadaan, di dalam realita kehidupan kita mengalami jatuh dan bangun, gelombang dan keteduhan, bagaimana kita berespons dengan benar kepada Tuhan. Hari ini saya mengajak sdr melihat melalui Mzm.23 bagaimana kita berespons kepada Tuhan dengan benar ketika kita melihat terlalu banyak berkat dan anugerah Tuhan datang kepada kita. Tidak ada mazmur yang lebih indah bagi saya bicara mengenai respons contentment di hadapan Tuhan, berespons dengan kecukupan, selain Mzm.23 ini. Daud berkata, “The Lord is my shepherd, I shall not be in want…” Tuhan menjadi gembalaku, itu sudah cukup bagiku. Tidak ada hal lain yang kuingini selain Engkau Tuhan menjadi gembalaku dan milik pusakaku. Ini adalah satu respons orang yang merasa cukup dan puas di hadapan Tuhan.

Derek Kidner yang menafsir kitab Mazmur mengeluarkan beberapa kalimat yang indah sekali, “Depth and strength underlie the simplicity of this psalm. Its peace is not escape; its contentment is not complacency…” Kekayaan mazmur ini terletak di dalam nadanya yang sederhana. Kedalaman mazmur ini terletak di dalam simplicity-nya. Kedamaian kitab mazmur ini terletak di dalam keteduhan kepuasannya. Engkau mau memiliki damai? Lihat di dalam mazmur ini dimana dia mendapatkan kedamaiannya, yaitu di dalam contentment-nya. Engkau mau hidup kaya? Lihat mazmur ini terletak di dalam simplicity-nya. Karena dua hal ini, contentment dan simplicity-nya, pemazmur siap sedia walaupun kekelaman datang menyerang, musuh berada di sekitarnya, dia tetap bisa melihat ada pemeliharaan Tuhan di situ. Itu sebab karena kesederhanaan dan contentment ini, Mzm.23 memberitahukan kepada kita apa yang menjadi tujuan hidup orang Kristen, bukan kepada materi tetapi kepada Allah sendiri.

Apa itu contentment? Apa itu cukup? Waktu pertanyaan ini diberikan kepada cucu dari Rockefeller, dia mengatakan “Enough is a little bit more…” Tambah sedikit lagi, tambah sedikit lagi… karena merasa tidak pernah cukup. Karena tidak pernah merasa cukup ini kita selalu akan memiliki sikap hidup selalu berusaha mendapatkan sesuatu sebagai cadangan melampaui apa yang kita perlukan.

Saya mengajak sdr melihat rahasia dari contentment di dalam Mzm.23 dan kalimat dari Paulus, hidup contentment bukan terletak pada apa yang kita dapat, seberapa banyak yang kita raih, tetapi sdr bisa melihatnya terletak di dalam saya memiliki Tuhan yang menjadi bagian dan milik pusakanya selama-lamanya. Itulah yang membuat Daud maupun Paulus hidup contentment. Contentment tidak bisa diukur dengan standar tertentu, tetapi tidak berarti dia tidak bisa dinilai di dalam hidup ini. Standar bersifat relatif, standar orang lain berbeda dengan standar kita. Saya baru puas kalau saya mencapai suatu standar seperti ini, tetapi mungkin pada waktu kita sudah sampai kepada standar itu, ketika kita sudah ada di situ ternyata kita merasa tidak cukup sebab kita lihat ternyata masih ada yang di atas kita. Mahatma Gandhi pernah mengeluarkan kalimat yang sangat agung, “Seluruh isi dunia ini sebenarnya sanggup memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia. Tetapi seluruh isi dunia ini tidak sanggup memenuhi keinginan satu manusia.”

Dalam artikel terbaru saya di Radix, saya membawa sdr memikirkan satu hal, benarkah Tuhan itu cukup memberikan kepuasan sepenuhnya bagi kita? Tuhan menjadi gembala, Tuhan menjadi pusaka kita dan selain Tuhan tidak ada hal lain yang kita ingini di dalam dunia ini apakah itu sesuatu konsep teologi yang bersifat palsu dan hanya menina-bobokkan kita? Apakah betul hal itu bisa menjadi bagian di dalam hidup kita menjadi kepuasan di dalam hidup kita? Bukankah kita perlu yang lain? Benar kita perlu God as the giver tetapi kita juga perlu gift dariNya, bukan? Benar kita perlu Tuhan sang Pemberi berkat tetapi kita juga perlu berkatNya untuk kita hidup, bukan? Tetapi mengapa keluar kalimat ini, “The Lord is my shepherd, I shall not be in want…”?

Saya mengajak sdr melihat 2 Kor.9, sdr perhatikan dari ayat 1-5 Paulus bicara mengenai pengumpulan uang yang dilakukan oleh jemaat di Makedonia dan Korintus. Uang itu mereka kumpulkan untuk membantu jemaat Yerusalem yang miskin. Itu konteksnya. Tetapi tidak berarti jemaat Makedonia adalah jemaat yang kaya dan tidak berarti jemaat Korintus juga adalah jemaat yang kaya. Cuma bedanya, jemaat Makedonia di dalam kemiskinannya tidak merasa itu sebagai halangan untuk mengumpulkan uang bagi Yerusalem.

Kalimat Paulus di dalam bagian ini sangat menarik sekali, “Kamu akan diperkaya di dalam segala kemurahan hati yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami, sebab pelayanan kasih yang engkau berikan itu bukan saja mencukupkan keperluan orang-orang kudus tetapi melimpahkan ucapan terima kasih orang itu kepada Allah…” Yang memberi adalah saya, tetapi yang menerima ucapan terima kasih adalah Allah, apakah itu fair?

Satu ayat lagi Gal.6:10 “Karena itu selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang..” Mari kita menjadi berkat, mari kita rajin memberi dan bersumbangsih kepada semua orang. Tetapi di ayat 9 di dalam kita berbuat baik, di dalam kita menjadi berkat, di dalam kita memberi, ada satu kendala yang mungkin bisa menghalangi kita akhirnya tidak bisa berbuat baik yaitu hati yang jemu. Maka Paulus mengingatkan ”...janganlah jemu-jemu berbuat baik.” Paulus minta jemaat untuk belajar memberi kepada semua orang selama ada kesempatan di dalam hidup kita menyalurkan sesuatu kepada orang lain. Tetapi bisa jadi kita berhenti melakukannya sebab kita jemu.

Saya rasa ada beberapa faktor, dari faktor si pemberi. Saya sebagai pemberi mungkin akhirnya jemu menjadi berkat dan tidak memberi kepada orang lain karena dua alasan. Pertama, saya berpikir yang saya beri ini tidak mendatangkan efek dan perubahan apa-apa, seperti membuang setitik air ke lautan, jadi buat apa memberi? Yang kedua, kita sendiri menyadari kita memiliki sumber daya yang terbatas adanya. Sebanyak-banyaknya yang kita miliki kita tetap terbatas. Itu bisa ditandai pada waktu ada prahara dan kesulitan menimpa hidup kita, kitapun tidak terlepas dari kesulitan itu. Akibat keterbatasan itu maka orang kadang-kadang memikirkan bagaimana untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu, baru memikirkan orang lain. Sekarang dari sisi si penerima, salah satu faktor yang menyebabkan kita akhirnya menjadi jemu berbuat baik kepada orang yaitu karena dia tidak berterima kasih kepada kita.

Kita kembali ke Fil.4:10-20, kita melihat jemaat Filipi sudah mengirim uang membantu Paulus lewat Epafroditus. Sebenarnya di ayat 14 Paulus ingin mengucapkan terima kasih kepada jemaat Filipi yang sudah membantunya, cuma kenapa perlu ayat 10-13 dulu bicara soal contentment sebelum bilang terima kasih? Terima kasihnya pun indirectly. Saya percaya dia melakukan ini bukan karena sungkan. Dari sini saya hubungkan kepada 2 Kor.9, you mengumpulkan uang memberi dan dari itu engkau diperkaya dan ucapan terima kasih diberikan mereka kepada Tuhan. Salah satu faktor yang menyebabkan orang mungkin terkendala akhirnya tidak lagi berbuat baik, tidak lagi memberi, sebab yang menerima tidak berespons dengan baik kepada kita. Tetapi kenapa sampai seperti ini?

Saya menemukan jawabannya pada waktu di surat Filipi Paulus menasehati dua orang yang sedang berselisih paham, “Hendaklah engkau sehati sepikir seperti pikiran Kristus…” Artinya, pikiran saya mungkin bisa berbeda dengan pikiran saudara, karena perbedaan itu mungkin menyebabkan kita tidak bisa “ketemu.” Kalau semua orang punya pikiran yang berbeda, jadi sampai kapan bisa ketemu? Ketemunya kalau dua orang itu menaruh pikiran mereka di bawah pikiran Kristus. Maka saya bisa jemu berbuat baik kepada orang kalau relasi saya dengan orang itu hanya bersifat relasi horisontal, yaitu saya memberi kepada dia tergantung kepada apa yang ada pada diri saya. Kalau saya suka, kalau saya mau, kalau saya berkelebihan, baru saya memberi. Dan pemberian itu juga bergantung kepada dia yang saya beri. Kalau dia baik, kalau dia say ‘thank you’, kalau dari pemberian saya mendatangkan perubahan, baru saya kembali memberi. Relasi yang terus seperti itu akan membuat kita menjadi jemu karena di dalamnya saya bisa berhenti memberi, karena saya terbatas adanya, saya perlu pikir diri saya dulu, masih ada yang saya perlu cukupkan. Saya bisa berhenti oleh karena saya melihat respons dia kurang baik kepada saya, tidak ada terima kasihnya, jadi buat apa saya memberi kepada dia? Itu semua tidak akan terjadi kalau kita mengerti konsep ini: menaruh Allah di tengah-tengah relasi kita sehingga semua relasi itu menjadi relasi segitiga. Mengapa Paulus perlu mengatakan, “Aku sudah belajar mencukupkan diri di dalam segala hal. Aku mengerti apa itu kekurangan, aku mengerti apa itu kelebihan…”

Jangan kita pikir kalau kita punya banyak otomatis kita bisa memberi kepada orang, dan tidak berarti orang yang kurang tidak memiliki hati yang memberi. Sampai sekarang kita menemukan statistik orang yang kurang memberi lebih banyak daripada orang yang berkelebihan. Saya memberi bukan karena ada sesuatu di dalam diri saya, tetapi karena saya tahu semua yang ada pada saya adalah pemberian Tuhan. Itu sebab Yesus pernah mengatakan jangan sampai tangan kirimu mengetahui tangan kananmu memberi. Bagaimana tangan kiri bisa tidak tahu kalau tangan kanan memberi? Pointnya adalah saya bisa memberi sebab Tuhan adalah yang memberi dulu kepada saya. Tuhan bukan boss yang membayar kepada saya karena saya melakukan sesuatu untuk Dia. God is the Giver. And God is a pure giver. Artinya Dia memberi tidak ada klausal dan embel-embel, apakah saya sudah melakukan sesuatu untuk Dia. God is love. God is a pure love. Dia mengasihi kita bukan karena kita sudah mengasihi Dia. Semua itu, kasih dan pemberianNya semata-mata datang dari Tuhan, saya hanya instrumenNya. Saya memberi kepada orang sebab Tuhan sudah kasih kepada saya. Itu sebab saya boleh tidak mengingat-ingat saya sudah memberi, karena itu bukan dari saya. itu artinya tangan kanan memberi, tangan kiri tidak usah tahu. Sehingga saya tidak akan jemu-jemu memberi meskipun orang akhirnya tidak berespons sesuai keinginan saya. Maka kita bisa mengerti sekarang mengapa dalam 2 Kor.9 Paulus tidak mengatakan jemaat Yerusalem berterimakasih kepada Makedonia dan Korintus, tetapi mengucapkan terima kasih itu kepada Allah. Konsep ini yang ada di dalam diri Paulus, mereka bisa memberi, itu adalah anugerah Tuhan di dalam diri mereka. Waktu jemaat Yerusalem menerima, tentu mereka tidak lupa itu adalah pemberian dari Tuhan maka mereka mengucap syukur kepada Tuhan.

Kembali kepada pernyataan Daud, “The Lord is my shepherd, I shall not be in want…” sungguh-sungguh merupakan suatu jawaban yang indah bagi kita hari ini karena dari situ kita tahu bahwa bukan situasi dan bukan apa yang kita miliki yang menciptakan suatu kerinduan, kebanggaan, atau kemampuan kita untuk memberikan sesuatu kepada orang, tetapi karena kita sadar Tuhan sudah menjadi bagian hidup kita. Tuhan ada di dalam hidup kita. Dia adalah the pure giver, menjadi milik kita sehingga kita berkelimpahan. Itu sebab di dalam keadaan yang kurangpun, tidak menutup kemungkinan hati kita bisa puas. Di dalam segala hal yang berlimpah tersedia di dalam hidup kita, belum tentu bisa menjamin hati saya puas.

Maka contentment itu apa? Ada orang mengatakan contentment adalah suatu suasana hati atau sikap hidup yang independent dari faktor eksternal, tidak bergantung kepada keadaan. Keadaan kita kaya atau miskin, sikap kita yang bersyukur dan contentment kepada Tuhan tidak bergantung kepada keadaan itu. Karena itulah kita bisa belajar menjadi berkat. Kalau kita menaruh Allah sebagai segitiga di dalam segala relasi kita, maka hal ini akan menjawab kenapa Daud di dalam keadaan susah dan sulit bisa berespons dengan kalimat ini, “Sekalipun dagingku habis lenyap, aku hanya ingin tinggal di dalam rumah Allah dan Dia menjadi milik pusakaku selama-lamanya.” Kepuasan itu terjadi jika kita selalu menaruh Tuhan di dalam segala keadaan dan realita hidup kita. Ini memang tidak gampang. Paulus sendiri bilang untuk mencapai ke sana dia harus belajar . “I’ve learned to be content…” (Fil.4:11). To be content itu tidak ada kaitannya dengan faktor ekternal, itu sebab Paulus menyatakan dalam keadaan lapar maupun kenyang, dalam keadaan kelimpahan maupun kekurangan, itu semua tidak mempengaruhinya karena Tuhan adalah milik dia satu-satunya. Yang kedua, Paulus memakai kata ‘belajar’ berarti ini satu proses. Berarti waktu menulis ayat-ayat ini dia sudah hampir “lulus” di dalam mengerti konsep hidup yang content bersama Tuhan. Jangan lupa, surat Filipi ditulis bukan di dalam rumah mansion, bukan di dalam rumah yang indah, tetapi di dalam penjara yang kumuh. Paulus menunjukkan betapa di awal-awal ketika dia menulis surat Korintus, dia pernah meminta Tuhan mencabut duri dari dagingnya tetapi Tuhan menolak (2 Kor.12:7). Di sini Tuhan mengajar dia untuk tidak bergantung kepada kekuatan diri sendiri, merasa bisa mengatur, mengontrol, mengerjakan dan melakukan segala sesuatu. Sekarang Tuhan membawanya kepada satu situasi yang dia tidak bisa kontrol, tidak bisa dia ubah, bahkan dia tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali. Kadang-kadang kita berada di dalam situasi seperti itu. Tetapi saya percaya waktu kita berada di dalam situasi yang tidak bisa kita kontrol, bukan supaya kita kita menjadi putus asa dan kecewa tetapi supaya kita belajar di situ ada kuasa yang lebih besar yang mengatur dan mengontrol hidup kita. Semua orang, baik dia Kristen ataupun tidak, pasti akan sampai kepada situasi seperti itu. Tetapi orang-orang Kristen yang mengalami hal-hal seperti itu tidak akan menjadi putus asa dan tidak mempunyai pengharapan karena dia tahu ada Tuhan yang mengontrol hidupnya. Tuhan memberi kesulitan yang banyak kepada orang baik, tetapi Dia memberikan pertolongan pada waktunya (Mzm.34:20). Ada duri di dalam dagingnya yang Paulus minta Tuhan cabut. Tetapi Tuhan membiarkan duri itu tetap ada di situ supaya justru pada waktu dia merasa lemah, orang bisa melihat ada kuasa Tuhan yang luar biasa di situ.

Mzm.23 menyebutkan inilah pengalaman hidup kita. Kita mungkin berada di dalam lembah yang subur, tetapi mungkin kita juga berada di dalam lembah kekelaman. Di ayat 2-3 sdr melihat Daud mengatakan Tuhan memberkati dia dengan segala kebaikan, memberikan segala yang dia perlukan di dalam hidupnya. Tetapi apakah sdr melihat ada reaksi balik dari Daud di sini? Bukankah di situ seharusnya dia menyatakan reaksi bersyukur? Tetapi kemudian di ayat 4 Daud mengatakan, sekalipun aku dibawa oleh Tuhan melewati lembah kekelaman, sdr akan menemukan dua reaksi balik darinya, dia tidak takut akan kebahayaan itu dan dia tahu Tuhan membimbing dia di sana. Mazmur ini mengingatkan kita pada waktu hidup ini lancar kita mungkin take it for granted dan tidak bersyukur kepada Tuhan. Makanya orang yang lancar hidupnya paling susah diajak berdoa, tetapi waktu berada di dalam kesulitan, dia yang paling rajin ikut persekutuan doa. When your life is smooth, lancar, tenang, seringkali kita jadi melempem. Jangan heran orang justru sering ketiduran waktu ada di freeway, tetapi paling melek waktu jalannya belak-belok dan berbatu. Ketika kesulitan itu tiba kepada kita, baru kita sadar dan melek, reaksi apa yang kita berikan kepada Tuhan? Di situ baru dia sadar kehadiran Tuhan yang memimpin dan membimbingnya. Yang kedua, sebelumnya di ayat 2-3 pemazmur menyebut Tuhan sebagai “Dia” kata ganti orang ketiga. Tetapi sdr perhatikan begitu di ayat 4, Tuhan bukan lagi menjadi “Dia” tetapi sekarang menjadi “Engkau.” Tadi sebelumnya hubungan dengan Tuhan secara indirectly, tetapi sekarang menjadi directly. Di dalam lembah yang subur dan lancar, dia mengenal Tuhan sebagai “Dia,” tetapi pada waktu dia berada di dalam lembah kekelaman, the relationship with God is getting closer. Situasi itu membangkitkan kesadaran dan reaksi kerohanianku kepada Tuhan dan membangkitkan satu kesadaran relasiku lebih dekat kepada Tuhan, itu lebih baik daripada kita berada di dalam kelancaran. Melalui pengalaman ini kita bisa melihat baik Daud maupun Paulus menemukan esensi hidup yang bersyukur dan content di hadapan Tuhan bukan kepada apa yang datang, bukan kepada situasi yang ada, tetapi karena mereka tahu Tuhan sudah menjadi milik pusakanya. Mereka tahu God is the pure giver and the pure love. Segala sesuatu yang datang dariNya itu cukup. Apalagi yang bisa kita dapat dari ayat-ayat ini? Saya belajar hidup content di hadapan Tuhan karena saya tahu hidup kita sekarang ini hanya sementara adanya. Kelak aku akan bertemu dengan Dia, itu keindahan dan kemuliaan yang tidak ada taranya. Ini bukan teologi yang menina-bobokan sdr. Ini bukan ajaran agama isapan jempol. Kekristenan berbeda dengan yang lain sebab apa yang kita katakan ini berdasarkan fakta sejarah kebangkitan Kristus. Kebangkitan itu yang memberikan jaminan kepada kita kelak kita ketemu dengan Tuhan, kita hidup di dalam kemuliaan, kita akan mendapatkan hidup yang sama sekali diperbaharui oleh Tuhan. Yesus yang sudah bangkit menjadi jaminan kita tidak perlu kuatir hidup kita nanti di sana. Maka Paulus menutup tema bicara mengenai contentment ini dengan mengkaitkannya kepada hidup kemuliaan bersama Kristus dengan kebutuhan hidup ini di dalam Fil.4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan Tuhan kita Yesus Kristus…”Dia tahu kita masih hidup di dalam dunia ini, kita manusia yang perlu apa-apa untuk hidup. Tetapi kalau kita tidak mendapatkan banyak, tidak berarti Allah kita “kere” karena Dia kaya dan mulia dan tidak berarti bahwa Dia tidak mengerti apa yang kita perlukan di dalam dunia ini. Dia tahu apa yang kau perlukan, tetapi jangan lupa ada hal yang lebih daripada itu yaitu kemuliaan dan kekayaan Kristus someday akan menjadi milik kita.(kz)