Kitab Mazmur membagi 150 mazmur di dalam 5 jilid dan banyak penafsir melihat bahwa pembagian ini memiliki maksud tertentu. Jilid 1 dan 2 yaitu Mzm.1-72 mengangkat satu konsep kepercayaan iman orang Israel yang dinyatakan di dalam Mzm. 1, “Diberkatilah orang yang benar. Dia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran sungai, hidupnya pasti akan bertumbuh indah. Tuhan betul-betul baik terhadapnya.” Ini adalah satu kredo, satu pengakuan iman. Allah itu Gembala yang baik. He is good. Blessed are those who are pure in heart. Apapun yang dia lakukan akan diberkati oleh Tuhan.
Begitu masuk ke dalam Mzm. 73 kita menemukan mazmur ini tetap mengangkat konsep kepercayaan iman yang sama: Truly, God is good to those who are pure in heart. Allah itu baik adanya kepada mereka yang hatinya tulus dan jujur. Tetapi Mzm. 73 mengangkat satu topik yang baru yaitu topik yang mempertanyakan mengapa kredo imanku kepada Tuhan ini memiliki gap yang besar di dalam realita dan kenyataannya? Saya pergi ke gereja. Saya menerima kredo yang diajarkan di gereja: God is good. Jadilah orang baik, jadilah orang yang hidup lurus, jadilah orang yang takut akan Tuhan maka hidupmu akan diberkati Tuhan, hidupmu akan bertumbuh di hadapan Tuhan. Itu yang saya terima di dalam gereja, itulah yang saya baca di dalam Alkitab. Tetapi begitu kakiku keluar dari gedung gereja, saya masuk ke dalam realita hidup sehari-hari, saya menemukan gap yang besar ini. Maka Mzm. 73 merupakan suatu penganalisaan tajam mengapa gap seperti ini terjadi. Ini adalah pergumulan iman yang real dan nyata. Saya percaya ini merupakan krisis iman yang ada di dalam hati banyak orang Kristen yang tersimpan dalam-dalam dan tidak diungkapkan keluar dari hati mereka. Seperti pemazmur Asaf berkata, saya tetap percaya kredo ini: truly God is good to those who are pure in heart. Tetapi saya hampir saja tergelincir jatuh dari kredo yang saya percaya ini. Kenapa? Karena saya iri, saya marah, saya bertanya-tanya dan tetap tidak mendapatkan jawabannya dari Tuhan, mengapa justru di dalam kenyataan dan realita hidup sehari-hari orang yang hatinya bersih dan baik hidupnya lebih susah? Mengapa orang yang tulus dan bersih dan mencintai Tuhan hidupnya tidak kaya? Malah banyak yang ditimpa bencana dan kesulitan dan sakit-penyakit yang tidak habis-habisnya? Sebaliknya saya melihat orang yang congkak dan tidak percaya Tuhan itu sehat, kaya, sukses. Kenapa realita begitu berbeda dari apa yang saya terima di dalam gereja?
Belakangan ini di Inggris ada sebagian bus disponsori oleh kelompok Ateis memasang kalimat “Probably God is not exist, so stop worrying and enjoy life.” Apakah percaya Tuhan itu akan menghambat saya menikmati hidup? Saya menjawab, kalau saya tahu Allah itu tidak exist saya malah worry lebih banyak. Ada dua hal yang menjadi argumentasi saya. Orang yang mengatakan “Stop worrying and enjoy life” hanya berpikir tujuan hidup kita di dalam dunia ini adalah bagaimana saya mendapatkan sukacita dan kenikmatan dan kepercayaan kepada Allah dan konsep-konsep agama yang melarang jangan ini dan itu bisa menghambat saya menikmati hidup. Ini adalah orang yang hanya melihat dari satu sisi tetapi melupakan aspek yang sebaliknya, bagaimana bagi mereka yang tidak pernah bisa menikmati hidup karena mengalami ketidak-adilan dan penindasan? Kalau Tuhan tidak ada, pertanyaan saya, kepada siapa manusia harus mendapatkan jawaban sepanjang hidupnya dia tidak pernah bisa enjoy life karena mengalami ketidak-adilan tetapi tidak ada orang yang menegakkan justice bagi dia? Mau minta siapa? Sesudah dia mati dan tidak ada Tuhan, habis selesai. You yang ditimpa ketidak-adilan itu bagaimana? Orang yang sudah melakukan hal-hal jahat kepadamu tinggal bilang “bye bye”. Ini adalah konsep yang bagi saya worrying sekali. Konsep orang ateis itu salah besar, karena hidup ini bukan saja bagaimana saya mendapatkan hal-hal yang baik tetapi juga bagaimana menjawab ketidak-adilan dan malapetaka yang terjadi. Kalau itu karena bencana alam, dsb kita hanya bisa mengatakan itu sesuatu yang tidak bisa saya hindarkan dan tolak terjadi. Tetapi kalau itu dilakukan oleh orang-orang yang jahat, orang-orang yang secara tidak adil terus menekan orang lain dan akibatnya mendatangkan kekayaan, kesuksesan dan kenikmatan bagi dia, kapankah keadilan bisa ditegakkan bagi orang yang tertindas itu? Kalau keadilan itu tidak bisa ditegakkan di sini, maka kita pasti memerlukan Tuhan someday bisa menegakkan keadilan itu bagiku. Karena saya tahu Tuhan ada, maka saya berhenti worry dan bisa menikmati hidup. Kedua, “Probably God is not exist, stop worrying and enjoy life” memiliki asumsi saya sanggup mengontrol dan menguasai hidup saya. Pada waktu kita kuat, kita mampu, kita hebat, kita pikir kita bisa menguasai hidup kita. Tetapi ada moment dan ada saatnya ketika banyak hal-hal peristiwa yang tidak bisa kita kontrol dan di luar kontrol kita terjadi, kita baru sadar betapa terbatasnya kita dan ada begitu banyak hal yang tidak bisa kita kontrol. Bukankah itu yang membuat saya worry? Lalu bagaimana saya bisa hidup tidak kuatir? Jawabannya adalah saya harus pergi kepada Dia yang sanggup mengontrol dan menguasai hidup saya. Justru saya percaya Tuhan ada, Tuhan yang mengontrol hidup saya, itu yang membikin saya tidak kuatir. Walaupun saya sendiri tidak bisa mengontrol hidupku, walaupun banyak hal-hal yang terjadi di luar dari pengetahuan saya, di luar dari kemampuan saya untuk bisa mencegahnya, tetapi saya tahu Tuhan sanggup mengontrol hidup saya.
Mzm.73 memunculkan satu pertanyaan, mengapa penderitaan datang kepada orang-orang yang mencintai Tuhan? Mengapa kesulitan datang kepada orang-orang yang hatinya bersih? Mengapa sakit-penyakit justru datang kepada orang-orang yang lebih mencintai dan mengasihi Tuhan? Mengapa kesusahan dan kemiskinan datang kepada anak-anak Tuhan? Mengapa hal-hal itu terjadi? Pertanyaan-pertanyaan itu sekaligus menyatakan krisis iman yang diangkat oleh mazmur ini. Karena gap yang begitu besar terjadi antara pemahaman iman dan realita, saya akhirnya mengalami satu krisis iman yang membuatku hampir-hampir tergelincir. Mengapa? Karena saya kesal, saya marah, saya kecewa, kenapa hal-hal itu terjadi dan kekecewaan itu sekarang ditujukan kepada Tuhan. Orang ateis bilang tidak usah kecewa, tidak usah marah kalau ketidak-adilan terjadi. Orang ateis tidak punya jawaban kepada siapa dia bisa menuntut keadilan.
John Calvin mengatakan saya percaya Tuhan menjaga dan menjamin hidupku, itu sebab apapun yang saya alami dalam hidupku saya percaya Tuhan yang berdaulat. Tetapi dia mengakui orang Kristen selama hidup di dunia tidak akanmengalami “a perfect assurance”. Kita percaya hidup kita sudah di tangan Tuhan dan kalaupun kita sewaktu-waktu mati, kita yakin kita akan ke surga. Itu adalah assurance yang pasti kita dapatkan. Tetapi kita tetap tidak akan menjalani a perfect assurance, jaminan yang sempurna selama kita hidup di dalam dunia ini. Perfect assurance itu hanya bisa kita alami waktu kita di surga, waktu kita bertemu dengan Allah. Ini menjadi satu paradoks. Kenapa dia sampai mengeluarkan kalimat seperti itu? Iman kita seharusnya adalah iman yang tidak boleh kuatir, iman yang seharusnya tidak boleh takut. Tetapi pada kenyataannya iman itu bisa kuatir, takut, gelisah, bahkan ragu-ragu kepada Tuhan. Mengapa? Calvin mengatakan apa yang kita imani seringkali tidak kita alami di dalam pengalaman hidup kita sehari-hari. Itulah yang menjadi dasar mengapa seringkali kita percaya dan yakin tetapi kadang-kadang timbul keraguan dan kekecewaan dan krisis iman di dalam hidup kita karena di satu pihak kita mau iman itu harusnya percaya tetapi waktu kenyataan terjadi, imanku seperti ini adanya. Inilah yang menjadi paradoks, di satu pihak kita yakin Tuhan pimpin tetapi kadang-kadang kita menjadi ragu. Calvin mengatakan paling tidak ada 4 hal kenapa kita sampai mengalami pergumulan iman seperti ini. Pertama, oleh karena di dalam hidup orang Kristen terjadi pertentangan iman v.pengalaman. Banyak kita jujur mengakui apa yang kita terima sebagai kebenaran, itu tidak terjadi di dalam realita pengalaman sehingga menimbulkan krisis bagi iman kita. Calvin mengatakan secara fisik kita adalah debu dan bayangan, itu sebab kematian selalu ada di depan mata kita. Kita terekspose kepada ribuan sengsara yang bisa datang secara tiba-tiba di dalam hidup kita. Itu sebab setiap orang Kristen sering menemukan ada “neraka” di dalam hidupnya. Calvin bukan seorang yang lemah iman, dia adalah seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Tetapi realitanya isteri dan anak-anaknya meninggal dengan menyedihkan. Dia tidak terlepas dengan kesulitan dan penderitaan. Yang kedua, ada faktor peperangan daging v. roh. Dalam Rom.7:20 Paulus mengatakan dosa yang ada di dalam akulah yang melakukan hal yang tidak kukehendaki. Para penafsir berdebat apakah pernyataan Paulus ini sebelum percaya Tuhan atau sesudah percaya Tuhan? Saya mengambil posisi di sini Paulus mengalami pergumulan ini sesudah dia percaya Tuhan, sudah bertobat dan sudah lahir baru. Karena Calvin sendiri mengatakan orang yang tidak percaya Tuhan dan belum lahir baru tidak mungkin mempunyai pergumulan seperti ini yang menyatakan hatinya cinta kepada hukum-hukum Tuhan tetapi yang kita lakukan adalah hal-hal yang tidak kita kehendaki. Orang yang belum lahir baru tidak punya pergumulan ini karena pada dirinya dia membenci Tuhan dan mencintai dosa. Tetapi justru orang yang sudah lahir baru dia cinta kepada Tuhan dan membenci dosa, namun yang terjadi adalah karena dia masih ditipu oleh dosa yang ada padanya akhirnya dia melakukan apa yang tidak dikehendakinya. Ini adalah pergumulan orang Kristen yang percaya Tuhan. Ada pergumulan daging melawan roh di dalam hidup kita. Daging kita yang lemah, yang selalu akan membawa hidup kita kecewa, kuatir dan ragu-ragu kepada Tuhan. Roh yang ada di dalam hati kita selalu membawa kita percaya, beriman dan bersandar kepada Tuhan. Peperangan itu menimbulkan gelombang yang tidak habis-habisnya di dalam hidup kita. Yang ketiga, puji Tuhan, Alkitab mencatat kita beriman kepada Kristus yang menyebabkan jaminan itu aman dan kuat. Bukan kitanya yang kuat beriman kepada Kristus, tetapi Kristus yang menjadi fondasi iman kitalah yang kuat. Ibr.6:19 mengatakan iman kita itu aman karena ditaruh seperti jangkar yang kuat kepada fondasi Yesus Kristus. Calvin mengatakan lemah iman itu seperti benih iman yang belum bertumbuh menjadi kecambah. Tetapi benih itu meskipun benih yang kecil, tetap berbeda besar dengan tidak ada iman. Maka saya bisa terombang-ambing, saya bisa kecewa, saya bisa kuatir, saya bisa ragu kepada Tuhan. Itu tidak masalah, kata Calvin, karena iman kita memang mengalami proses pertumbuhan. Kadang-kadang dia masih berupa benih, masih lemah, masih kecil di dalam hidup orang percaya. Itu sebab kita masuk point ke empat, bagaimana bisa menjembatani antara Tuhan memberikan assurance jaminan yang pasti di dalam engkau, tidak pernah berubah tetapi kadang-kadang di dalam perjalanan hidup kita tidak mengalami keyakinan yang sempurna itu, bagaimana mengatasinya. Ef.2:8 “sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman. Itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah…” Iman itu memang di posisi saya, saya beriman kepada Tuhan, tetapi pada waktu saya menyatakan imanku percaya kepada Allah, ayat ini memberitahukan kepada kita iman itu sendiri adalah pemberian Allah. Kita bisa beriman, punya kekuatan kemampuan berimanpun datangnya dari Allah. Sehingga walaupun saya punya iman bisa lemah dan kecil tetapi jaminanku beriman sampai akhir kepada Tuhan bukan ditentukan oleh diriku, bukan ditentukan oleh imanku kuat atau tidak, walaupun imanku sakit dan lemah, dia tidak akan pernah hilang sebab iman itu datangnya dari Allah. Dia yang memberi kepada kita. Krisis iman menjadi problem yang terjadi di dalam hidup kita. Mungkin kita bisa mengaku bisa tidak. Tetapi kita harus mengakui krisis iman akan terus berjalan terlepas dari kita mendapat jawaban atau tidak.
Yang menarik, Mzm.73:16 menyatakan pengakuan sampai menutup matapun pemazmur Asaf tidak bisa mengerti “why” dan dia tidak tahu jawabannya. Aku ingin mengerti mengapa krisis iman itu muncul, sebab apa yang saya percaya di dalam kredoku berbeda dengan apa yang kulihat di mataku. Anak Tuhan justru sengsara, sedangkan orang fasik kaya raya. Anak Tuhan lebih menderita sakit, orang fasik sehat wal afiat. Itu question mark, kenapa? Pemazmur bilang terus berusaha mencari jawabannya, terus pakai otak, pakai pikiran menganalisa, pakai filsafat apapun, dia mengaku tidak bisa mendapat jawabannya. Itu sebab bagaimana menyelesaikan krisis imanku, apakah dengan memberikan pengertian dan pengetahuan yang banyak bisa selesai? Dia bilang tidak. Itu sebab saya sangat mencintai mazmur ini sebab ditulis dengan kerangka yang sangat indah. Mzm.73 dibagi dalam 3 bagian yang ketiganya dimulai dengan kata “Sesungguhnya…” (ayat 1, ayat 12 danayat 18). Bagian pertama, tahap terjadi gap antara kredo kepercayaanku dengan pengalaman realitaku. Sesungguhnya Tuhan baik kepada orang yang cinta Tuhan, kenyataannya orang yang cinta Tuhan hidup di dalam ketidak-baikan. Bagian kedua, akibat dari problema yang dilihat, terjadi krisis yang lebih dalam pada diri pemazmur. Sesungguhnya ini fakta: yang tidak cinta Tuhan makin lama makin kaya. Kalau begitu, maka timbul pertanyaan ini: apa gunanya jadi orang benar? Apa gunanya terus berbakti? Apa gunanya jadi orang Kristen? Apa gunanya berdoa? Apa gunanya jadi orang baik? Apa gunanya menjaga hati bersih? Semua itu tidak berguna! Bukankah kita hidup seharusnya makin kaya, makin sehat, dsb? Justru itu semua didapatkan oleh orang yang tidak percaya. Jadi apa gunanya kita memegang semua itu. Puji Tuhan, pemazmur kecewa, marah dan mengalami krisis ini namun semua itu hanya ada di dalam pergumulan hatinya. Dia tidak bisa keluarkan dengan kata-kata karena dia sadar begitu dia mengeluarkan semua ini dia bisa merontokkan begitu banyak iman orang. Mau marah kepada Tuhan, mau mengatakan tidak mau lagi percaya kepada Tuhan, mau meninggalkan Tuhan, itu semua tidak bisa terjadi. Inilah yang membedakan ada benih ilahi pada diri seseorang. Adanya benih iman itu tidak berarti tidak ada keraguan. Keraguan membuktikan ada benih iman. Tetapi iman yang sejati akan selalu mencegah sdr jatuh lebih dalam. Pada waktu dia mau menyatakan tidak ada gunanya ikut Tuhan, tidak ada gunanya percaya Tuhan, kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya. Maka ada orang bilang dia tidak pernah ragu kepada Tuhan, dia tidak pernah kecewa sama Tuhan, dsb, itu mungkin karena dia tidak pernah menyatakannya. Tetapi pemazmur menyimpan semua itu di dalam private life-nya. Dia tidak pernah menyatakan hal itu publicly karena hal itu mungkin bisa berkonsekuensi merusak iman orang Kristen yang lain.
Krisis itu ditutup dengan kemana dia mendapatkan jawaban di bagian ketiga. Terjadi perubahan yang luar biasa dan kemenangan imannya. “Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah dan memperhatikan kesudahan mereka…” (ayat 17) maka sesungguhnya jalan orang-orang jahat yang tidak mencintai Tuhan dan melawan keadilan Tuhan, bagi mereka diberikan jalan yang licin berbatu-batu. Sampai pada waktunya mereka tergelincir jatuh dan habis lenyap.
Filsafat Yunani mengatakan segala kesulitan dan problema yang terjadi di dalam hidup kita itu sebenarnya disebabkan oleh emosi kita yang gampang berubah. Emosi yang gampang berubah itulah yang menyebabkan kita berespons kepada situasi kita. Situasi jelek membuat kita menjadi susah, dsb. Tetapi kita tidak bisa merubah situasi itu. Maka di dalam filsafat Yunani mengatakan yang paling penting adalah bagaimana hati dan emosimu itu dikontrol. Itu sebab tidak heran orang Yunani sangat memegang pikiran. Hati dan emosi gampang berubah tetapi pikiran yang tenang, pikiran yang berbijaksana, kalau itu yang mengontrol hati kita, barulah orang itu bisa berada di dalam keindahan, kenormalan dan bisa mengatur hidupnya dengan bijaksana dan teratur. Pertanyaannya, siapa yang mengontrol pikiran manusia? Emosi sangat berperan besar di dalam krisis iman kita. Mzm.73:21-22 menyatakan ketika jiwaku mengalami kepahitan dan hatiku terluka, aku menjadi masa bodoh dan berlaku seperti binatang di hadapan Tuhan. Artinya, betapa emosi dan hati yang sudah pahit dan sakit bisa bikin orang menjadi lupa ingatan dan kadang-kadang berprilaku tanpa bisa mengontrolnya. Pemazmur mengatakan menghadapi kesulitan dan realita seperti ini, kalau menuruti hati kita, perasaan kekecewaan dan kepahitan itu kalau diberi makan terus, maka dia akan menjadi binatang buas di dalam hidup kita. Pahit, terluka karena krisis situasi seperti ini. Siapa yang bisa kontrol? Seorang hamba Tuhan mengatakan ada kelemahan dari ilmu psikologi ketika mencoba memberi jawaban bagaimana manusia menghadapi kekuatiran dan anxiety. Psikologi mengatakan pertama: jangan kuatir, pokoknya kendalikan situasi hidupmu.Kedua: jangan kuatir, karena problem may not happen. Ketiga: buat apa kuatir, situasinya sudah terjadi, situasi tidak bisa berubah, jadi tidak perlu kuatir. semua jawaban untuk menyelesaikan anxiety itu hanya memperbaiki situasi tetapi tidak banyak orang mengerti dengan sungguh sebenarnya penyebab dari anxiety bukan karena situasi tetapi apa yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiran orang. Kita hanya bisa diminta untuk mengontrol situasi tetapi siapa yang kontrol hati dan pikiran kita? Pemazmur jujur, menghadapi krisis ini memakai pikiran, dia mengaku tidak punya jawaban. Terus-menerus dipikirkan akhirnya bisa mendatangkan kerusakan imanku. Terus-menerus dipikirkan membuat jiwaku menjadi pahit dan hatiku menjadi sakit dan terluka. Akhirnya itu bisa membuat saya tidak lagi berpikir dengan sehat dan saya menjadi orang yang terlalu dikontrol oleh emosi yang sudah terluka. Menghadapi itu, bagaimana? Fil.4:6-7 mengatakan biarlah damai sejahtera Tuhan yang mengontrol hati dan pikiran kita. Pemazmur mengatakan, saya boleh kehilangan segala sesuatu, yang penting saya tidak kehilangan Tuhan. Biarpun dagingku dan tulangku habis lenyap, Tuhan tetap muilik pusakaku selama-lamanya. Pada waktu kita mengalami kondisi dan krisis iman, ketika apa yang kita imani tidak ternyata dan tidak sesuai di dalam realita hidupmu, apa yang tersisa dalam hidup kita? Maka pemazmur mengatakan, ketika aku kembali lagi ke rumah Tuhan, saya berhadapan muka dengan muka dengan Tuhan, di situ saya baru tahu, Dia milikku selama-lamanya. And that’s enough for me. Puji Tuhan kalau kita melewati pergumulan dan krisis iman ini, sdr dan saya bertumbuh dan bisa mencintai Tuhan.(kz)