GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
08
Feb

Bersikap Benar terhadap Allah

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: February 08, 2009
Nats: Mazmur 25

Bapa Reformator John Calvin menafsir kitab Mazmur dengan begitu teliti dan dalam porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan tafsirannya terhadap kitab-kitab lain. Kenapa? Calvin memberikan penjelasan yang sangat indah mengenai hal ini. Dia mengatakan, pengetahuan kita akan firman Tuhan itu adalah soal bagaimana saya berpikir benar akan Allah. Belajar teologi, belajar doktrin, ikut katekisasi, ikut Bible Study, itu semua adalah untuk menambah knowledge kita, pengetahuan kita akan firman Tuhan. Dan the knowledge of God’s word itu adalah bagaimana saya berpikir dengan benar tentang Allah. Tetapi, Calvin mengatakan, kitab Mazmur adalah kitab syair pujian kepada Allah dari anak-anak Tuhan yang mengalami pergumulan dalam realita hidup, ditulis untuk kita supaya melaluinya sdr bukan saja mendapatkan the knowledge of God, tetapi sdr menemukan the Godliness of God. Jadi itu bukan sekedar pengetahuan, tetapi kesalehan. Apa itu kesalehan? Apa itu godliness? Apa itu hidup saleh? Hidup saleh di hadapan Tuhan adalah bagaimana saya bersikap dengan benar kepada Tuhan. Teologi adalah bagaimana saya berpikir benar mengenai Tuhan, tetapi kesalehan adalah bagaimana saya bersikap benar kepada Tuhan. Banyak orang memiliki pengertian dan pengetahuan yang tidak salah mengenai Allah, tetapi seringkali di dalam hidupnya dia berespons dengan keliru kepada Tuhan. Maka kitab Mazmur menyatakan pergumulan orang-orang percaya bagaimana bersikap benar terhadap Tuhan. Salah satunya adalah Mazmur 25 ini, mazmur yang ditulis oleh Daud.

Kalau sdr baca pengalaman hidup Daud di dalam kitab 1 Raja-Raja dan 1 Samuel di situ kita bisa tahu ceritanya dari sejak dia muda hingga menjadi raja di dalam berbagai pengalaman dan pergumulan hidup, di dalam peperangan, di dalam pelarian dikejar dan hendak dibunuh oleh raja Saul, dsb. Itu pengalaman realita hidupnya. Tetapi kitab-kitab itu hanya mencatat kronologi kehidupan, apa yang terjadi di dalam hidup Daud, bagaimana dia dibuang, bagaimana dia lari, bagaimana dia gagal, bagaimana dia mengambil keputusan yang salah. Itu semua dicatat dalam cerita kronologi ini. Tetapi kitab-kitab ini tidak mencatat apa yang ada di dalam hati Daud. Puji Tuhan, kitab Mazmur menjadi catatan hati orang-orang seperti Daud yang menjalani hidupnya hari demi hari.

Kita mungkin bisa menjalani hidup yang sama seperti Daud. Ada masanya kita sukses, ada masanya kita gagal, ada masanya orang ingin menjatuhkan, dsb. Tetapi di tengah segala pengalaman, realita, tantangan kehidupan seperti itu, timbul pertanyaan yang sangat menarik, bagaimana pengenalan kita akan Allah itu menjadi nyata di dalam bagaimana kita berespons kepadaNya. Waktu ada kesempatan berkali-kali bagi Daud untuk membunuh Saul, dia tidak melakukan. Semua bawahannya mengatakan ini adalah tangan Tuhan yang menyerahkan Saul kepadamu. Betapa mudah, tinggal tebas kepalanya, Saul pasti mati. Tetapi Daud mengatakan, orang ini adalah orang yang diurapi Tuhan. Saya tidak punya hak untuk melakukan tindakan seperti itu. Artinya, secara pikiran manusia ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan eksekusi tetapi kalau bukan waktunya Tuhan untuk dia mati, Daud tidak mau mendahului Tuhan di dalam hal itu. Namun itu adalah cerita yang kita baca yang tidak kita tahu pergumulan hati Daud di belakangnya. Kita tidak tahu bagaimana malam harinya waktu dia berdoa Daud mengalami pergumulan yang tidak dicatat di dalam kitab 1 Samuel ini. Apa yang terjadi di dalam doa pribadi Daud, apa yang terjadi pada Daud ketika dia sedang bersembunyi sendiri di dalam gua, mengalami pergumulan diincar dan hendak dibunuh, melalui mazmur-mazmurnya semua itu bisa kita baca bagaimana besar dan dahsyat pergumulan rohani yang ada di dalam hati Daud itu. Mulutnya mungkin membisu tetapi tangannya menuliskan syair-syair mazmur ini, dan kita bersyukur tulisan dia bisa kita baca hari ini.

Dalam Mazmur 25 Daud berada tersendiri di dalam gua, berada di dalam kesulitan dan kegagalan, lari jauh-jauh karena mengalami mara bahaya, tetapi yang menjadi kekuatannya adalah dia percaya Tuhan pimpin hidupnya. He guides me. He walks beside me. Itu yang juga menjadi kekuatan bagi kita.

Minggu lalu saya katakan salah satu kekayaan orang Kristen yang tidak boleh kita abaikan meskipun banyak di antara kita kehilangan materi dan finansial dan pekerjaan, ini adalah masa dimana orang mungkin melihat banyak hal yang terhilang di dalam hidupnya, tetapi kita tidak boleh kehilangan kekayaan rohani di dalam hidup kita. Kita adalah anak-anak Allah. Paulus mengatakan di dalam surat Roma, kalau engkau adalah anak Allah maka hidupmu dipimpin oleh Roh Kudus. Berapa banyakkah orang Kristen menyadari setiap langkah yang kita ambil di dalam perjalanan hidup kita Tuhan menyertai dan memimpin di situ? Banyak kali yang terjadi adalah di saat-saat kritis mengambil keputusan-keputusan penting baru mereka mencari pimpinan Tuhan. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa setiap saat Tuhan itu memimpin dan mengarahkan hidup mereka. Mari hari ini saya mengajak sdr belajar menjadi orang Kristen yang mengerti Tuhan memimpin hidup kita dan itu sudah cukup menjadi kekuatan yang indah. Jalan di depan terang ataukah gelap, lancar ataukah tidak lancar, lurus ataukah berkelok-kelok, itu semua tidak lagi menjadi problem yang kita pikirkan ketika kita tahu Dia sertai dan pimpin hidup kita. Ini menjadi pengakuan Daud di dalam Mzm.25 yang kita lihat. Daud mengatakan, Tuhan, beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku. Tunjukkanlah itu kepadaku. Tuhan mengajar orang-orang yang rendah hati untuk berjalan di dalam jalan Tuhan dan aku tahu jalan Tuhan itu baik dan benar adanya. Itu adalah pengakuan yang muncul di dalam mazmur ini.

Kapankah kita benar-benar dan sungguh-sungguh mencari pimpinan Tuhan di dalam hidup kita? Mungkin waktu kita hendak mencari jodoh, atau waktu mau mencari pekerjaan, atau waktu mau mencari rumah. Sesudah mendapat rumah, kita berhenti doa dan baru berdoa lagi waktu mau membeli rumah yang lebih besar. Sesudah dapat jodoh, kita berhenti doa dan baru berdoa lagi waktu mau putus. Sama dengan pekerjaan, sesudah dapat, kita berhenti doa dan baru berdoa lagi waktu mau di PHK atau waktu mau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Banyak dari kita seperti itu. Kita memiliki pengetahuan akan Allah, kita percaya Allah memelihara kita. Tetapi kita tidak memiliki godliness di dalam pengetahuan itu, yakni bagaimana pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan itu kita nyatakan sungguh-sungguh di dalam hidup kita. Jika kita memiliki godliness itu, kata Calvin, kita belajar hidup berespons dengan benar kepada Tuhan. Apapun yang terjadi di dalam hidupku, aku dituntut oleh firman Tuhan belajar berespons dengan benar kepada Dia. Maka kematangan kehidupan rohani kita akan dilihat dari sejauh mana kita berespons kepada Tuhan di dalam hidup kita. Salah satunya adalah bicara bagaimana Tuhan memimpin hidupmu.

Daud di dalam Mzm. 25 ini tidak memberikan indikasi latar belakang mazmur ini di dalam kasus apa, maka kita hanya bisa menebak kenyataan dan realita hidup seperti apa yang sedang dialami oleh Daud ketika dia menulis mazmur ini. Kita melihat dia sedang tersendiri dan lonely. Musuh-musuhnya sedang mengincar dan mencarinya. Lalu ada indikasi dia meminta ampun untuk dosa masa mudanya. Kalimat-kalimat itu memberikan indikasi bahwa Daud mungkin menulis mazmur ini pada masa dia sudah beranjak tua. Mungkin dia tersendiri waktu dia sedang dikejar oleh Saul atau bisa jadi waktu dikejar oleh anaknya sendiri Absalom yang ingin membunuh dan mengkudeta dia. Kira-kira itu yang bisa kita tebak. Tetapi saya suka sekali di dalam Mzm.25 ini Daud sama sekali tidak memberikan indikasi kepada kita apa yang menjadi problem yang spesifik di dalam hidup dia. Banyak kali kita baru datang dan baru minta pimpinan Tuhan pada waktu kita sedang mengalami specific problems. Daud tidak seperti itu. Setiap momen hidupnya dia percaya Tuhan yang pimpin. Sebagai seorang Kristen yang memiliki kesalehan hidup, biarlah kita tahu Tuhan pimpin dan kita tahu Tuhan beserta dalam hidup kita walaupun mungkin di dalam kenyataan dan realitanya kita mengalami tantangan, kesulitan dan situasi hidup yang tidak baik. Apa yang menjadi kekuatan yang sangat indah di dalam Mzm.25 ini, yang kita belajar di dalamnya? Daud mengatakan Tuhan pasti pimpin langkah orang percaya, apapun yang kita ambil, perjalanan hidup kita di depan bagaimana, kita percaya Tuhan pimpin hidup kita. Apa yang harus menjadi dasar kekuatan kita di situ? Ayat 6, ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Terjemahan Inggris mencoba mencari padanan kata “hesed” dengan kata “the steadfast love of the Lord.” Kata ini begitu jelas digambarkan dalam Rat.3:22-23 “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tak habis-habis rahmatNya, selalu baru tiap pagi. Besar kesetiaanMu.” PL memiliki konsep yang kental mengenai kata ‘hesed’ ini. Hesed memiliki pengertian teologis yang begitu dalam, yaitu kesadaran bahwa Allah sudah berjanji dan sudah mengikatkan diri di dalam perjanjian dengan umatNya bahwa Dia akan menjadi Allah mereka. Allah sendiri mengingatkan orang Israel, jangan pikir dirimu hebat. Di antara bangsa-bangsa yang ada di sekitarmu, engkau adalah bangsa yang paling kecil dan tidak dianggap. Tetapi Aku mengadakan perjanjian mau menjadi Allahmu di dalam kehidupan. Sehingga dengan konsep ini walaupun mungkin bangsa Israel tidak mengalami anugerah pemeliharaan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya, hesed menjadi penghiburan dan pengharapan yang kuat bagi mereka. Kalau sdr baca kitab Ratapan, sebagian besar penafsir setuju ditulis oleh Yeremia pada waktu berada di dalam pembuangan. Mereka sudah dibuang, dihina, tidak ada pengharapan, situasi hidupnya tidak baik, dsb. Di tengah-tengah ratapan itu, muncul ayat ini menjadi titik baliknya. The steadfast love of the Lord never ceases. Itu yang dikatakan oleh Daud juga, waktu saya lonely, saya dibuang, saya menghadapi situasi hidup seperti ini, saya bertanya-tanya apakah betul Tuhan memimpin hidup saya? Apakah betul di sini ada anugerah Tuhan yang baik? Apakah betul di tengah jalan yang suram dan gelap ini Tuhan sertai dan pimpin hidupku? Tidak ada jawaban. Tidak ada penyertaan yang jelas. Tetapi menghadapi semua itu maka Daud mengeluarkan kalimat ini, saya tahu Tuhanku hesed. Dia memiliki kasih yang tidak berubah dan tidak berkesudahan. Yang kedua, Dia selalu berfirman dan ini menjadi hal yang indah sekali. Ayat 9, Allah membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukumNya dan Ia mengajarkan segala jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati. Dia berfirman, Dia mengajar. Tuhan memimpin hidup kita bergantung kepada kesetiaan telinga kita untuk terus-menerus mendengar apa yang Ia katakan dengan firmanNya.

Salah satu akibat dari keberdosaan kita adalah kita tutup telinga kita tidak mau mendengar jawaban Tuhan walaupun di dalam hati kecil kita tahu itu jawaban yang benar.

Minggu lalu dalam kebaktian sore saya sudah menyinggung akan hal ini, berkaitan dengan sikap Adam setelah memakan buah yang Tuhan larang, ada dua pertanyaan Allah yang Adam tidak jawab. Allah bertanya kepada Adam, siapa yang memberitahukan bahwa engkau telanjang? Apakah kamu makan buah itu? (Kej.3:11). Adam tidak menjawab dua pertanyaan ini meskipun jawabannya jelas ada, dan sebaliknya Adam justru mempersalahkan Tuhan. Orang kalau sudah terpojok dan dalam hatinya tahu dia salah, dia akan balik menjadi singa yang luka yang akan menerkam siapa yang ada di dekatnya. Dosa bukan saja sekedar action, tetapi dosa sebenarnya adalah juga self deception, penipuan diri. Adam tahu dia bersalah dan Adam tahu dia sudah makan buah itu tetapi dia tidak mau mengakuinya.

Dalam Rom.10:2-3 di sini Paulus bicara mengenai kehidupan orang Yahudi, mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah tetapi tanpa pengertian yang benar. Inilah bahayanya agama seperti ini. Punya desire and zealous, mau sungguh-sungguh beribadah tetapi the knowledge and understanding keagamaannya salah. Mereka tidak bisa mengenal kebenaran Allah karena mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri dan tidak mau takluk kepada kebenaran Allah. Waktu mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri, apakah mereka sadar akan hal itu? Apakah mereka sadar bahwa yang mereka dirikan itu bukan kebenaran sejati tetapi mengakui itu kebenaran sejati? Tidak mengaku tidak berarti tidak menyadari. Dan ini adalah self deception yang sama seperti Adam.

Maka saya tahu pimpinan Tuhan karena saya belajar takluk mau dengar suara firman Tuhan. Singkirkan suara-suara yang lain, singkirkan suara-suara yang memberikan penipuan kepada kita. Kita harus tunduk di dalam ketaatan kita kepada firman Tuhan. Sebab sebelum manusia mendirikan kebenaran diri padanya selalu akan disertai dengan self deception terlebih dahulu. It is not a truth, it is a lie, but they make it as a truth. Sikap kita yang benar menerima pimpinan Tuhan bergantung kepada sikap kita apakah sungguh-sungguh mau takluk mau mendengarkan suara firman Tuhan. Kita menemukan Daud di dalam Mzm.25 bicara aspek yang kedua di dalam mengenal kebenaran dan pimpinan Tuhan adalah berkaitan dengan diri kita. Darimana kita tahu Tuhan pimpin hidup kita? Mari kita tidak belajar lagi meminta Tuhan buka jalan persoalan demi persoalan di dalam hidup kita, tetapi bagaimana ktia meresponi pimpinan Tuhan itu dengan bagaimana kita menyambut pimpinan Tuhan di dalam firmanNya. Maka ada beberapa kualitas hidup yang dibicarakan di dalam Mzm.25 bicara mengenai orang yang dipimpin oleh Tuhan. Inilah yang dikatakan Calvin sebagai sikap godliness dari orang yang berespons dengan benar kepada Tuhan melalui sikap ini.

Pertama, di ayat 9, “Dia membimbing orang yang rendah hati…” Humbleness. John Bunyan di dalam bukunya yang terkenal “The Pilgrim’s Progress” bicara mengenai pertumbuhan hidup orang Kristen yang bagus sekali. Di sana diceritakan seorang Kristen berjalan menuju ke satu gunung yang tinggi disertai dengan teman-temannya Faith, Prudence, dsb. Lalu terjadi dialog, menanjak di dalam pertumbuhan rohani kita itu tidak gampang, tetapi menuruni lembah jauh lebih sulit karena bisa jadi saya jatuh dan tergelincir di situ. Maka kata Christian, menuruni lembah itu adalah “the valley of humiliation” lembah kehinaan, sangat terjal dan sangat licin sekali. Lembah kehinaan adalah lembah dimana Tuhan ijinkan masuk ke dalam hidup kita supaya kita belajar bukan untuk menghina diri atau dihina orang tetapi supaya kita belajar apa artinya rendah hati. Ratapan mengatakan, “adalah baik bagi selagi muda saya pikul beban yang berat…” Dalam Mzm.25 ini Daud menyatakan pengakuan yang menarik, “Tuhan, ampunilah dosaku pada masa mudaku…” Atau diterjemahkan lebih baik ‘my youthful sins’- tidak berarti orang muda paling banyak dosanya- tetapi mempunyai pengertian sifat-sifat masa muda kita yang memang merupakan sifat-sifat bisa dikategorikan inilah yang menyebabkan kita akhirnya berdosa kepada Tuhan: gampang ambil keputusan dengan gegabah, terlalu bersandar kepada kekuatan dan kemampuan diri, kesombongan karena merasa mampu dan hebat. Itu adalah sifat dari kecongkakan hidup. Tuhan pimpin hidupku, biar saya belajar rendah hati di hadapan Tuhan. Rendah hati di dalam pengertian belajar menerima pendidikan dan pengajaran Tuhan dan mengalami perubahan. Kedua, di ayat 12-14, takut akan Tuhan. Bagaimana kita bisa mendapat pimpinan Tuhan yang baik? Orang selalu mau seperti Gideon, mendapat tanda yang jelas dari Tuhan untuk mengambil keputusan. Hal-hal seperti itu yang kita mau, tapi Daud tidak bicara seperti itu. Daud bicara hidup yang rendah hati di hadapan Tuhan, yang diajar dan dipimpin oleh firman Tuhan dan hidup bergaul karib dengan Tuhan. Bagaimana sdr bergaul karib dengan Tuhan? Bagaimana kita mempertumbuhkan persahabatan kita dengan Tuhan? Itu hal yang paling penting sekali di dalam hidup ini, karena dari situlah kita bisa mengenal apa yang menjadi isi hati Tuhan. Bahkan tanpa Tuhan berkata kepada kita, kita bisa mengenal isi hati Dia sebab kita bergaul karib dengan Tuhan. Dengan demikian engkau dan saya mungkin tidak perlu mengeluarkan kata-kata kepada Tuhan, Tuhan sendiri sudah tahu isi hatimu sebab Dia bergaul karib dengan kita. Saya minta kita belajar dari kebenaran firman Tuhan yang begitu dalam ini. Di situlah kita bertumbuh secara godliness di hadapan Tuhan, berespons dengan benar kepada Dia.

Yang terakhir, di dalam bagian ini Daud berkata Tuhan tetap pimpin hidupku walau di dalam kondisi apapun. Ada dua tantangan yang Daud akui di dalam mazmur ini, kegagalan internalnya yaitu his youthful sins dan yang kedua adalah oposisi secara ekternal yaitu musuh-musuh yang senang melihatnya berada di dalam kesulitan. Semua ini membuatnya berada di dalam kesesakan, sengsara dan kesulitan. Bagaimana Tuhan tetap memimpin hidup kita walaupun kita mengalami kegagalan secara internal dan juga oposisi secara eksternal? Menghadapi dua situasi itu, Mzm.25 memberikan dua jawaban yang penting. Pertama, belajar mengaku bersalah. Itu pengakuan Daud, saya sudah mengambil langkah secara gegabah, saya berjalan dengan salah. Seorang yang dipimpin oleh Tuhan adalah seorang yang terus mengalami pembaharuan itu, ketika Tuhan menegur ada yang salah kita confess dengan jujur di hadapan Tuhan. Yang kedua, sdr lihat bagaimana menghadapi oposisi dari luar, Daud tidak minta kepada Tuhan supaya oposisi itu disingkirkan, supaya kesulitan itu lenyap darinya. Tetapi dia meminta Tuhan menjaga hatinya supaya integritas dan kelurusan hatinya makin dinyatakan oleh Tuhan. Ketika kesulitannya makin besar, tantangan hidup makin besar yang menghimpit hidupnya, situasi memperbesar kesulitannya, tidak ada jawaban lain kecuali Tuhan makin membesarkan kelapangan hatinya. Guard my soul and enlarge my integrity. Orang yang dipimpin oleh Tuhan walaupun menghadapi kesulitan, tantangan dan kegagalan, dia tetap sadar Tuhan pimpin di situ. Mari kita belajar mengaku kalau ada hal yang salah di situ. Kita tahu walaupun tantangan dan kesulitan begitu besar jangan sampai itu merusak hati kita. Tantangan dari luar boleh datang makin besar, tetapi biar Tuhan menjaga hati kita. Ini yang John Calvin katakan dengan kata ‘godliness’, the right response and the right attitude. Apa yang bisa menjaga hati kita tulus, tetap lurus dan memiliki integritas kecuali kita kembali dipimpin oleh firman Tuhan.(kz)