Tidak ada orang yang bisa menyangkal dan tidak menjadikan hal itu sebagai momen historis yang paling penting di tahun ini: tanggal 20 Januari 2009, Amerika Serikat menginaugurasi presiden kulit hitam yang pertama. Tidak ada momen di dalam sejarah dimana dua juta lebih orang hadir di dalam acara inaugurasi. Sepanjang sejarah, selain inaugurasi dari presiden Abraham Lincoln dan Lyndon Johnson yang dihadiri satu juta orang, inaugurasi Obama ini adalah inaugurasi yang terbesar.
Apakah karena dia hitam? Mungkin. Tetapi ada suara-suara mengatakan jangan terlalu berharap bahwa Obama akan menjadi mesias atau saviour. Jelas dia pasti bukan mesias dan saviour. Dia sendiri mengatakan jalan di depan menanjak dengan tajam. Bukan itu saja, dia mewarisi begitu banyak kesulitan yang tidak gampang dan tidak mudah yang juga ditanggung seluruh dunia saat ini termasuk krisis yang akan kita alami di hari-hari yang akan datang. Orang mengatakan mari kita melihat bukan pada inaugurasinya, tetapi empat tahun kemudian pada waktu dia keluar dari gedung putih apakah hasil yang sudah dia capai. Tetapi bagi saya, kalaupun dia tidak sanggup dan tidak dapat, tetap itu tidak boleh mengecilkan apalagi melupakan momen historis ini. Karena menuju ke situ saja, menjadi presiden kulit hitam yang pertama, itu bukan hal yang gampang.
TIME yang terbaru selain membahas mengenai Barack Obama juga mewawancara 9 orang bekas aktifis yang menyertai perjuangan Rev.DR. Martin Luther King Jr. Sekarang mereka sudah tua. Sembilan orang bekas aktifis itu mengeluarkan kalimat yang sangat menarik. ”...Kami tahu mimpi DR. King someday pasti akan tercapai, tetapi kami tidak menyangka mimpi itu kami lihat sebelum kami mati.” Beberapa bulan yang lalu orang masih berpikir itu adalah hal yang mustahil. Karena menuju ke sana, sdr jangan lupa, untuk mendapatkan pencalonan tunggal dari Demokrat mengalahkan Hillary Clinton itu bukan hal yang gampang. Maka dia bisa menjadi presiden itu harus menjadi sesuatu kebanggaan dan pengharapan kita dan respek kita kepada dia, sesuatu pencapaian yang bagi orang-orang di masa lalu adalah suatu mimpi adanya.
Lima puluh tahun yang lalu di Amerika ada bus dimana orang kulit putih duduk di depan, orang kulit hitam duduk di belakang. Orang yang berumur 60-70 tahun sekarang masih mengalami realita itu. Lima puluh tahun yang lalu ada WC untuk orang kulit putih, ada WC untuk orang kulit hitam. Ada hotel yang hanya bisa ditinggali orang kulit putih dan ada hotel yang hanya untuk orang kulit hitam. Siapa yang menyangka di dalam lima puluh tahun perubahan bisa terjadi? Puji Tuhan, Amerika walaupun di tengah segala kesulitan dan morat-marit yang ada, boleh memberikan contoh kepada kita bahwa manusia harus dihargai dan dinilai sebagaiman Tuhan menghargai dan menilai seseorang di dalam kesederajatan penghargaan dan respek sebab Tuhan mencintai manusia seperti itu.
Waktu ditanya kepada Obama, program televisi apa yang dia suka, dia mengatakan film miniseri “The Wire” yang sangat berhasil pemutarannya di Amerika. Film ini memang tidak gampang dicerna karena begitu complicated filosofinya. Namun film ini sangat baik sekali karena bicara mengenai mengapa orang kulit hitam di Amerika tidak bisa keluar dari self defeating circle yang terus melanda kehidupan mereka. Kenapa mereka sampai tidak bisa keluar untuk membuat hidup mereka lebih baik, lepas dari kemiskinan, obat bius dan violence? Mengapa begitu banyak orang kulit hitam hidup di dalam self defeating circle seperti itu? Mereka terus saja berputar-putar di situ, tidak pernah bertumbuh, sebab apa yang mereka capai selalu akhirnya menjadi hal yang mengalahkan hidup mereka terus-menerus. Memang mereka dulu adalah budak, sekarang mereka sudah lepas dari status budak namun tetap bermental budak. Itu salah satu sebab mengapa mereka tidak bisa keluar dan mendatangkan sesuatu perubahan yang besar dalam hidupnya walaupun kesempatan sudah dibuka, walaupun situasi sudah berubah, tetap hati tidak mau mengalami perubahan. Itu adalah aspek negatif yang harus pertama kali kita singkirkan di dalam hidup kita.
Saya melihat seperti itulah yang terjadi di dalam sejarah orang Israel di dalam Alkitab kita. Mazmur 126 mengatakan kalimat ini: waktu perubahan hidup kami terjadi, peristiwa itu seperti mimpi adanya karena bagi kami mana bisa hal itu terjadi? Ayat ini hanya ingin mengatakan bukan karena kekuatan dan kemampuan kita bisa berhasil, tetapi ada tangan Tuhan yang perkasa yang melakukannya. Orang lain mengatakan perubahan itu tidak mungkin bisa terjadi di dalam hidupmu tetapi saya percaya Tuhan bisa merubah situasi yang buat orang mustahil adanya. Banyak di antara kita mungkin merasa mana bisa keadaan dan situasi hidup kita mengalami perubahan yang drastis? Itu bisa dan mungkin, sebab kita memiliki Tuhan yang sanggup mengadakan perubahan di luar dari apa yang pernah kita bayangkan dan pikirkan. Terlepas dari campur tangan Tuhan yang ajaib dan perkasa, Mazmur 126 juga mengajarkan kepada kita beberapa prinsip yang sangat indah dan sangat menarik.
Yang pertama, pemazmur menolak untuk give up kepada situasi hidupnya. Walaupun situasi hidupnya digambarkan dengan lukisan yang sangat menyedihkan sekali, bagaimana bisa tanah Negeb itu mendapat air? It is impossible. Kalau sdr belajar latar belakangnya, kita menemukan ini adalah salah satu tempat yang paling kering di atas muka bumi ini. Probabilitas terjadinya hujan, probabilitas ada air di situ kecil sekali. Itu situasi dia. Tetapi itu tidak membuat dia menjadi orang yang tidak attach dengan situasi, karena dicatat di sini dia menangis. Tetapi dia juga tidak terlalu attach dengan situasi itu, karena Alkitab mencatat dia berjalan maju. Itu perbedaannya. Kita tidak bisa merubah keadaan kita di belakang, kita tidak bisa merubah kondisi kita, tetapi yang bisa kita kerjakan dan lakukan adalah yang pertama, kita jangan mengambil posisi merasa sebagai korban. Diperlakukan boleh tidak adil, tetapi itu tidak boleh membuat kita menganggap diri sebagai korban. Situasi boleh mendatangkan kesulitan di dalam hidup kita, namun tetap kita tidak boleh menjadi orang yang mengasihani diri. Saya tidak bisa merubah warna kulit saya, saya tidak bisa merubah status saya, latar belakang saya, tetapi itu semua tidak boleh menjadi penghambat dan penghalang.
Yang kedua adalah bagaimana saya bereaksi dengan perasaan saya, itu sangat menentukan bagaimana saya menghadapi situasi hidupku. Bagaimana saya menempatkan perasaan yang tepat kepada situasi itu? Feeling memainkan peranan yang sangat penting sekali di dalam kita bereaksi. Yang saya ingin bicara adalah bagaimana kita menaruh feeling yang tepat, emosi yang tepat, perasaan yang tepat kepada situasi yang kita alami, ini yang kadang-kadang menjadi kesulitan di dalam hidup kita.
DR. Les Parrott mengatakan hal yang satu ini harus kita tangani lebih dulu, baru yang lain akan menjadi lebih mudah, yaitu attitude kita. Bagaimana kita bersikap, begitu kita sudah menaruh negative attitude maka semua yang kita lihat menjadi negatif. Kita bertemu dengan orang-orang yang seperti ini, orang-orang yang “enjoy” menikmati self pity, mengasihani diri sendiri, meletakkan perasaan yang negatif terus di dalam situasinya.
Waktu saya membaca mazmur ini saya menemukan pemazmur menaruh range emosi yang besar sekali. Di satu pihak dia penuh dengan joy dan happines tetapi di sisi lain dia menangis tersedu-sedu. Di dalam keadaan yang susah dan sulit, air mataku mengalir. Tetapi pada waktu Tuhan merubah situasi itu aku sungguh-sungguh bersukacita sehingga orang lain juga bisa melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa itu kepadaku. Range emosi yang luar biasa. Tetapi di tengah-tengah range emosi itu dia mengajarkan kepada kita, kita boleh memiliki emosi, kita boleh bereaksi, tetapi apakah reaksi emosi itu tepat pada situasi yang tepat? It depends on bagaimana kita mengerjakan sesuatu di dalam emosi itu.
Dalam 2 Kor.4:8 Paulus mengatakan ”...kami ditindas namun tidak terjepit, kami habis akal namun tidak putus asa.” Dalam keadaan tertindas, dia tidak putus asa. Mzm.42:12 mengatakan “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah, Penolongku dan Allahku.” Kunci jawabannya ada di sini, how you put your feeling and emotion in your situation properly . Realita, dia kecewa, dia depressi, dia mengalami feeling seperti itu. Akibatnya hidupnya menjadi lumpuh. Tibalah saatnya kemudian pemazmur menyatakan cambukan dan cetusan itu kepada kesadaran dirinya sendiri dengan mengatakan, mengapa engkau tertekan? Mengapa engkau gelisah? Mengapa engkau terus stay di dalam negative feeling yang mengontrol hidupmu? Bangun! Berjalan! Dan bersandarlah kepada Allah. Bangun dan berjalan belum berarti mungkin bisa merubah situasimu. Tetapi di situ kita menemukan sesuatu kesadaran dari pemazmur itu mengatakan, you boleh kecewa pada waktu you tertekan. You boleh menangis pada waktu berada di dalam kekeringan yang tidak habis-habisnya. Tetapi kalau kemudian tangisan dan depresi itu mengatur dan mengontrol bagaimana engkau berpikir dan bagaimana engkau berprilaku dan bagaimana engkau bertindak, stop. Tetapi sdr perhatikan dia minta berhenti dengan merelasikannya dengan beriman. Di sini kemudian kita perlu belajar satu kebenaran yang tidak boleh habis di dalam hidup kita. Paulus mengatakan dia menjalani hidup ini bukan dengan melihat tetapi dengan beriman. Walk not by your sight but by your faith. Perjalanan iman Kristen kita tidak boleh melepaskan prinsip ini. Tetapi perasaan kita seringkali menyertai apa yang kita lihat. Perasaan kita menyertai apa yang kita alami. Tidak ada masalah, sebab kita memang manusia yang dicipta Tuhan memiliki perasaan seperti itu. Tetapi untuk mengalihkan dan mengalahkan dan untuk membuat dia tidak menjadi perasaan negatif yang mengontrol hidupmu, kita perlu mengambil sikap seperti ini: saya hidup bukan dikontrol oleh perasaan saya, tetapi saya hidup dikontrol oleh apa yang saya percaya. Karena itulah kita akan melihat bagaimana kekuatan pengharapan dan percaya itu menjadi hal yang penting sekali di dalam iman orang Kristen.
Dietrich Bonhoeffer di dalam suratnya di penjara menulis: saya bukan orang yang pesimis, yaitu berpikir bahwa segala sesuatu yang saya alami akan menjadi lebih buruk. Tetapi saya juga bukan seorang yang optimis yang percaya bahwa someday saya akan keluar dari penjara ini dan situasi menjadi lebih baik. Tetapi saya hidup hari demi hari dengan pengharapan. Artinya, di sini saya berjuang melakukan segala sesuatu di dalam kekuatan dan kemampuan yang saya bisa, tetapi saya tidak pernah melepaskan tangan Tuhan yang berdaulat untuk campur tangan di situ. Biblically speaking, berpengharapan berarti tidak melihat mungkin hal itu terjadi di depan tetapi itu tidak boleh melepaskan pengharapan kita, juga tidak boleh membuat hati kita kehilangan respons yang tepat di dalam bagaimana kita berespons. Ini yang paling penting. Hai jiwaku, mengapa engkau tertekan? Mengapa engkau kecewa? Mengapa engkau gelisah? Berharaplah kepada Allah dan Dia akan melepaskan engkau pada waktunya. Pemazmur bersukacita, pemazmur juga menangis. Di dalam range emosi ini dia terus berjalan dan berjalan. Dia berjalan karena dia punya pengharapan, tetapi dia berjalan dengan air mata. Dia berjalan dengan kesedihan tetapi dia menolak untuk berhenti dan tangannya tetap menabur benih. Dia berjalan di atas tanah yang kering dan tidak ada airnya. Kakinya hari demi hari menginjak padang pasir yang kering dan panas, tetapi itu tidak melunturkan hatinya untuk terus menabur karena dia percaya someday ada hasil dan buahnya. Itu perbedaannya. Dia bukan seorang optimis bangun pagi-pagi di tengah padang pasir lalu menyanyi ketawa -ketawa sambil melempar benih. itu orang optimis yang kebacut dan kebablasan.
Saya boleh menangis tetapi itu tidak boleh membuat saya terikat. Saya boleh bersukacita dengan sukacita yang dalam tetapi itu tidak boleh kemudian membuat saya melupakan Tuhan di dalam hidup saya. Ini adalah pengontrolan emosi yang penting, bukan dikontrol oleh emosi tetapi dikontrol oleh pengertian iman kita kepada Tuhan.
Gal.6:9 “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah…” Kita boleh menangis, tetapi terus menabur. Tetapi di dalam proses perjalanan menabur itu mungkin akhirnya tidak sampai berhasil dan sukses sebab ada suatu kendala emosi terjadi di sini yaitu menjadi jemu.
Fil.2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Bersungut-sungut kepada diri sendiri. Berbantah-bantah akhirnya menjadi clashed dengan orang lain. Gerutu dan jemu adalah reaksi emosi bukan karena kehilangan kemauan berjalan tetapi kehilangan sukacita berjalan. Filipi adalah salah satu jemaat yang terbaik. Paulus sendiri memuji jemaat ini karena mereka terus membantu Paulus di dalam mendukung pelayanan misi Paulus (Fil.4:10). Filipi dikatakan oleh Paulus sebagai jemaat setia, partnership dengan Paulus di dalam pemberitaan Injil. Bahkan di dalam Fil.1:30 dikatakan mereka rela menderita karena Injil. Tetapi di pasal 2 Paulus mengingatkan semua yang mereka lakukan itu jangan dilakukan dengan bersungut-sungut. Sdr lihat perbedaannya? Bukan mereka tidak melakukan, tetapi mereka bersungut-sungut dan menjadi berbantah-bantahan, kita bertemu di situlah bagaimana emosi kita mengontrol hidup kita. Mungkin kita pikir lebih baik berhenti di tengah jalan tidak melakukannya sebab kita bertanya buat apa saya melakukan hal ini.. toh tidak ada hasilnya?! Tanah ini kering. Buat apa saya terus keluar setiap hari, padahal tidak ada sukacita dan kegembiraan untuk itu? Ini ayat yang indah luar biasa. Kalau kita berada di dalam situasi seperti itu, buat apa menangis? Buat apa keluar menabur? Pemazmur tetap menangis karena itu memang sulit tetapi itu tidak mengontrol dia. Tempatkan emosinya dengan tepat. Orang mungkin bilang tidak ada gunanya. Mungkin memang tidak berhasil, atau mungkin hasilnya tidak kita lihat dengan mata kita, tetapi kita tidak boleh berhenti. Sebab sekali lagi, kita berjalan dengan kita beriman kepada Dia. Kita tidak bisa meragukan iman orang lain. Saya percaya sdr adalah anak Tuhan yang baik, sdr pergi kebaktian, sdr terus berdoa kepada Tuhan, sdr baca Alkitab, dsb. Tetapi bisa jadi di dalam kita mengerjakan dan melakukan semua itu kita tidak kehilangan pengertian dengan menaruh hati dan emosi yang tepat di dalamnya.
Yang kedua, orang yang beriman memiliki ciri dan bukti. Dalam Mzm.126 ini seolah terjadi pengulangan, tetapi di ayat 1 “Tuhan memulihkan keadaan kami…” Itu satu deklarasi, satu statement, satu pengakuan ini terjadi sebab Tuhan yang campur tangan. Sedangkan di ayat 4 “Pulihkanlah keadaan kami…” Ini adalah satu petition, satu permohonan dan satu doa. Perbedaan struktur kalimat ini membuktikan dua hal ini berbeda walaupun menyatakan hal yang sama. Orang yang percaya dan berjalan dengan iman menjadikan konsep kebenaran firman Tuhan yang mengontrol hidupnya walaupun situasi itu gampang meminta emosi kita bereaksi dengan berkelebihan. Orang yang berjalan dengan beriman tetap adalah orang yang dibuktikan oleh hidupnya tidak boleh melupakan aspek ini: kita tahu orang itu berpengharapan, kita tahu orang itu beriman karena kita menemukan bagaimana orang itu bersikap dan berdoa kepada Tuhan.
Dimana bedanya orang yang berdosa dan yang tidak berdoa? Orang yang tidak berdoa sudah tidak punya pengharapan. Orang yang berdoa sebab dia punya pengharapan. Dia berdoa, menyegarkan semangat hidupnya. Bedanya cuma itu. Maka menghadapi situasi hidupmu yang seperti itu, apakah kita give up, ataukah kita berdoa? Berdoa itu mungkin tidak mendatangkan perbedaan secara eksternal tetapi memberikan perbedaan internal hidup rohani yang sangat berbeda.
“Pulihkan keadaan kami…” menjadi satu cetusan doa bahwa tidak ada campur tangan lain lagi, tidak ada yang bisa mendatangkan air di padang pasir Negeb kecuali mujizat Tuhan menurunkan hujan. Tetapi karena hanya itu pengharapan saya maka menjadikan saya orang Kristen yang berlutut berdoa dan bersandar kepada Tuhan. Tahun ini mari kita juga merevolusi hidup doa kita di hadapan Tuhan. Kenapa itu semua bisa hilang? Kita bisa give up, kita bisa kecewa, kita bisa akhirnya membiarkan emosi kita membuat kita terhambat di tengah perjalanan. Atau mungkin kita terlalu ingin situasi kita bisa berubah secara mendadak dan tak terduga. Kita selalu bersukacita kalau kita melihat ada hal-hal yang tak terduga terjadi. Tetapi kalau kita menjalani semua ini lalu kemudian kita kehilangan sukacita itu, mungkin kita memerlukan kalimat ini: “kita bersukacita untuk hal-hal surprise terjadi, tetapi kita harus setia untuk hal-hal yang rutin.” Pemazmur bersukacita sebab Tuhan mendatangkan perubahan besar, tetapi itu tidak boleh melupakan kerutinan dia. Benih yang berlipat ganda datang bukan karena hujan yang dinanti akhirnya datang dengan berlimpah, tetapi di tengah air mata yang mengalir deras yang tidak bisa menumbuhkan benih karena asin, dia tetap berjalan menabur dan menabur. Yang perlu dikerjakan dengan rutin memerlukan semangat yang setia dan pengharapan yang pasti kepada Tuhan. Sdr akan menghadapi tahun-tahun ke depan yang susah dan berat. Kita akan menghadapi pekerjaan yang tidak gampang dan tidak mudah. Belum lagi kita mungkin bertemu dengan orang-orang yang akhirnya mengambil jalan yang salah dan pintas dan mungkin kita terefek di situ akibat perbuatan violence mereka. Kita perlu prepare, tetapi yang penting adalah bagaimana kebenaran firman Tuhan ini mem-prepare hati sdr. Situasi menjadi tidak gampang dan tidak mudah, kata pemazmur, mungkin memerlukan intervensi Allah yang supranatural. Tetapi itu tidak menutup sikap kita hari ini untuk bisa mengintervensi perasaan kita. Perasaan yang berkelebihan, menaruh emosi yang salah di dalam situasi yang tidak tepat. Mari kita seperti pemazmur mengatakan, hai jiwaku, jangan tertekan, bersandar kepada Tuhan.(kz)