GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
18
Jan

Walk in the Spirit & Menang mengatasi Pencobaan

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: January 18, 2009
Nats: Galatia 5:16-18, Titus 3:5, 1:1-5

Mana lebih gampang, memulai sesuatu yang baru ataukah memperbaiki sesuatu yang sudah morat-marit? Kita lebih suka memulai sesuatu yang baru daripada membereskan sesuatu yang sudah berantakan, bukan? Kalau sdr mau bekerja di satu perusahaan, apakah sdr akan minta diberi pekerjaan yang paling gampang ataukah yang paling susah? Kita paling tidak suka kalau disuruh membereskan gudang yang sangat berantakan, bukan? Saya membaca satu kisah nyata di Australia tentang seekor kuda yang sudah cedera dan sebenarnya sudah hendak dibawa ke pejagalan untuk dipotong, tetapi kemudian dibeli oleh seseorang dengan harga $600. Dan ternyata 4 bulan yang lalu kuda ini meraih juara pertama di dalam pacuan. Kemungkinan besar nanti kalau punya anak, harga anaknya seekor bisa mencapai $200.000. Yang membeli kuda itu senang luar biasa. Dari $600 bisa menjadi $200.000 per ekor. Sekarang kuda itu berumur 6 tahun dan bisa memproduksi anak sampai umur 18 tahun. Sdr bisa bayangkan berapa besar keuntungan yang didapat pemiliknya? Tetapi bagaimana bisa ada seseorang yang mengambil keputusan membeli kuda yang dianggap sudah tidak punya harapan, yang sudah digiring ke butcher untuk dipotong, itu yang tidak gampang. Dia bisa melihat kemungkinan yang tidak dilihat orang lain, untuk menjadikan kuda ini menjadi juara kuda pacuan.

Merubah sesuatu yang nampaknya sulit dan tidak mungkin dirubah tetapi akhirnya berhasil menjadi baik, itu mendatangkan suatu keindahan yang luar biasa. Titus mungkin di dalam hatinya bertanya, apakah pelayanannya di Kreta bisa mendatangkan sesuatu yang baik? Maka Paulus menulis surat ini untuk menjelaskan maksudnya mengirim Titus ke Kreta supaya dia bisa membereskan hal-hal yang disorder di sana (1:5). Paulus sampai mengeluarkan kalimat itu karena mungkin Titus bertanya, kenapa engkau meninggalkan saya di sini? Orang Kreta bukan saja disorder, tetapi dari kalimat Paulus kita mendapat gambaran siapa orang Kreta itu. Apa sifat mereka, bagaimana karakter mereka, bagaimana bisa Titus bisa hidup dan melayani di tengah-tengah orang yang seperti itu, memang sangat tidak gampang. Itu yang dialami oleh Titus. Maka sangat menarik, di dalam surat ini Paulus memberikan beberapa kalimat yang begitu menyentuh hati saya. Biasanya di awal suratnya Paulus memberi salam dan memperkenalkan diri sebagai rasul Yesus Kristus dan kemudian menyatakan kiranya damai sejahtera dari Allah menyertaimu, dsb. Tetapi di dalam surat Titus sdr menemukan Paulus menyatakan mengapa dia melayani. Tujuannya sangat jelas, yaitu supaya Titus juga lebih mengerti. Maka saya “curiga” mungkin Titus kecewa, mungkin Titus down menghadapi pelayanan yang begitu berat di Kreta, bagaimana membuat yang disorder menjadi order. Lebih baik minta diutus pergi ke satu tempat yang baru, yang belum ada apa-apa, saya melayani baik-baik di situ dan membentuk satu jemaat daripada menaruh saya di sini. Mungkin isi hati Titus seperti itu. Itu sebab Paulus di pasal 1:1 mengeluarkan kalimat ini “I am the servant and the apostle of Jesus Christ for the sake of the elect of God and for the sake of the knowledge of the truth.” This is the reason why I put you alone there, Titus, supaya engkau bisa merubah orang-orang Kreta yang punya sifat seperti ini, keadaan yang sudah merasuk ke dalam komunitas gereja sehingga menjadi disorder. Tetapi saya bersyukur kalau akhirnya pelayananmu bisa mendatangkan suatu keindahan, perubahan, transformasi yang baik.

Maka mengawali tahun ini, saya percaya tidak ada ayat Alkitab yang lebih indah bicara bagaimana mendatangkan satu perubahan di dalam hidup kita selain konteks dari surat Titus ini. Siapakah orang Kreta? Tidak ada hal yang baik di dalam diri mereka, bukan? Mereka pemalas, otaknya kosong, tidak ada yang baik dari mereka. Yang kedua, kehidupan mereka morat-marit. Tetapi engkau datang ke sana, bikin perubahan supaya mereka menjadi orang Kristen yang melakukan hal-hal yang baik. Bikin perubahan, supaya tidak ada orang yang bisa mencela Kekristenan. Itu tugas Titus. Maka Paulus mengeluarkan kalimat ini, mengapa dia sampai menjadi hamba Tuhan, yaitu demi untuk orang-orang pilihan Tuhan. Tidak ada hal yang lain. Hal ini begitu menyentuh hati saya, maka di dalam rapat KKM kemarin saya mengatakan kepada para pengurus pemuda, inilah yang harus menjadi prioritas hidup kita di dalam melayani Tuhan. Kita ambil bagian di dalam pelayanan, kita harus menyadari dengan sungguh pelayanan berarti kita memberi sesuatu kepada orang. Dan kadang-kadang itu bisa membuat hati kita menjadi kering, karena kita terus memberi. Kita bisa menjadi kering kalau yang ada di dalam kita adalah gentong air, bukan mata air. Kalau itu gentong, lama-lama bisa habis. Tetapi kalau itu adalah mata air, sdr tidak akan merasa kering kalau dia terus mengalir keluar. Sekarang pertanyaannya, bagaimana bisa membuat hatimu yang melayani itu tidak pernah kering? Bukan dengan berhenti memberi, bukan dengan berhenti melayani, tetapi dengan membuat air itu terus keluar dan terus keluar tidak habis-habis. Karena bagaimanapun pada waktu seseorang mengatakan dia mau melayani, itu berarti dia harus siap memberi. Memberi waktu, memberi tenaga, memberi uang, memberi perhatian kita kepada orang lain. Maka apa yang menjadi power yang terus keluar tanpa habis dari diri kita? Maka taruh prinsip ini baik-baik. Pertama, karena saya mengutamakan Tuhan. Kedua, karena demi kepentingan umat Tuhan. Ketiga, demi kebenaran. Barulah di belakangnya kita menaruh kita punya perasaan, kita punya hati, kita punya diri. Itu semua kita taruh di belakang. Dan pegang prinsip penting ini: pada waktu seseorang mengasihi Tuhan dan mengutamakan Tuhan di depan, Tuhan tidak akan pernah mengabaikan dia.

Bagaimana transformasi itu terjadi? Konteksnya adalah: mungkinkah orang-orang Kreta yang personalitas dan karakternya seperti itu, dengan keadaan hidup yang disorder itu bisa berubah, bisa bertumbuh, bisa mengalami transormasi? Jawabannya: BISA. Maka di sini Paulus memakai kata yang bagus sekali: the power of the Holy Spirit will regenerate and renew and transform your life. Itu menjadi kekuatan dan kuasa bagimu. Yang kedua, Paulus mengulang beberapa kali akan hal ini dalam Tit.2:12 dan 3:14. Secara teologis kita tahu ketika kita mengalami kelahiran baru, maka ada manusia baru di dalam diri kita, dengan sendirinya ada keinginan untuk berubah. Tetapi kta sering berpikir, kalau kita sudah menjadi manusia baru maka secara otomatis semuanya menjadi baru dan bagus, bukan? Otomatis, tanpa perlu berusaha, langsung akan menjadi baik. Kira-kira saya memberikan ilustrasi orang Kristen yang lahir baru itu seperti tanah yang sudah subur tetapi perlu dirawat supaya tanah itu bisa secara maksimal menghasilkan pohon yang baik dan berbuah. Seorang yang sudah lahir baru pasti akan cinta Tuhan, pasti akan memiliki keinginan untuk menjadi baik, tetapi Paulus mengatakan manusia baru perlu dididik, memberikan pengertian, membutuhkan direksi. Kita perlu pengetahuan yang benar. Tanah itu sudah subur tetapi alangkah indahnya kalau kita mengerti bagaimana kita menanam dengan benar, pohon apa yang tepat untuk ditanam di situ, sehingga terjad multiplikasi yang indah dalam hidup itu. Kita tidak meragukan keinginan orang Kristen yang tinggal di Kreta untuk ebih cinta Tuhan, tetapi mereka perlu dididik.

Saya percaya jemaat di Kreta adalah jemaat yang masih baru sehingga Paulus mendorong mereka dengan perkataan ini, “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan perbuatan baik…” Di sini memakai kata “belajar”, memperlihatkan proses mendidik lagi, train and teach them to do good. Berarti motivasi ada, keinginan ada, hati yang baru sudah ada, tetapi belum belajar melakukan hal-hal yang baik itu. Training dalam hal apa yang sdr perlukan untuk transformasi itu? Minggu lalu sudah saya katakan, yang pertama adalah train your ears to listen to the word of God. Train to learn the knowledge of truth. Mengapa saya katakan demikian? Karena di dalam konteks Titus kita menemukan jemaat ini menjadi disorder sebab terlalu banyak mendengarkan kesalahan-kesalahan yang ada di luar dan mereka tidak mendengarkan kebenaran firman Tuhan. Hari ini saya merindukan sdr memiliki waktu yang teduh di hadapan Tuhan menjadi suatu training yang penting. Jangan pernah sdr melewati hari atau minggu ini tanpa mendengar suara firman Tuhan. Kenapa? Kembali lagi simple dan sederhana, kita melihat kepada perumpamaan Tuhan Yesus mengenai penabur itu. Benih itu tidak jatuh ke tempat yang netral. Kita menemukan hati kita bukan saja tempat yang subur, tetapi itu adalah “battleground.” Ada burung gagak yaitu si Setan yang bisa mengambil benih itu. Waktu benih itu jatuh di dalam hati kita, bisa juga suara kekuatiran, keadaan kondisi di sekitar kita menjadi suara yang menghimpit sehingga firman Tuhan itu tidak bertumbuh dan berbuah. Tetapi bagaimana bisa menghilangkan itu semua kalau telinga kita tidak pernah mendengar kebenaran firman Tuhan? Maka janji sama Tuhan, tahun ini kita sungguh-sungguh men-train hati dan pikiran kita untuk terus listen to the word of God.

Kedua, perubahan terjadi melalui proses “walk in the Spirit” dan yang ketiga dengan menang mengatasi pencobaan. Di situ transformasi dan perubahan hidup terjadi.

Kata “walk in the Spirit” adalah kata yang sangat penting. Paulus memakai kata yang sinonim dengan ini yaitu “lead by the Holy Spirit” dipimpin oleh Roh Kudus. Kata “walk in the Spirit” itu sinonim dengan kata “lead by the Spirit.” Tetapi orang sering salah mengerti kata ini sehingga muncul perkembangan istilah-istilah yang not Biblical, “slain in the Spirit, drunk in the Spirit, soak in the Spirit.” Itu semua tidak ada di dalam Alkitab, dan semua kata-kata itu memperlihatkan sifat mistis yaitu seorang yang dipimpin oleh Roh Kudus menjadi hilang kesadarannya, karena orang yang dipimpin oleh Roh Kudus masuk ke dalam satu wilayah yang luar biasa. Tetapi Alkitab memakai kata “walk in the Spirit.” Artinya yang berjalan itu bukan Roh Kudusnya tetapi kita yang dengan sadar berjalan. Berarti jelas sekali orang yang dipimpin Roh Kudus tidak kehilangan kesadarannya. Dipimpin oleh Roh Kudus berarti sdr yang jalan, dipimpin oleh Roh Kudus, mengalami progress. Di dalam 1 Pet.2:11 ”...keinginan daging yang berjuang melawan jiwamu” itu kalimat unik dari Petrus. Fleshly desire itu tidak bersifat netral atau hanya memperalat dan menipu, tetapi dia sebenarnya sedang melakukan perjuangan dan peperangan mengalahkan kita.

Maka bagaimana kita bisa meninggalkan nafsu kedagingan itu? Yang pertama adalah kita harus mengerti dengan sungguh-sungguh dan jelas, bagaimana sifat dari fleshly desire itu. Kesalahan teologinya jika kita berpikir waktu kita menjadi orang Kristen maka Tuhan memang sudah ada di dalam diri kita dan sudah bertahta di dalam hati kita, namun bisa jadi nanti posisiNya digantikan oleh Setan waktu seorang Kristen berbuat dosa. Itu konsep teologinya salah. Begitu seseorang sudah lahir baru, dia adalah manusia baru. Titik. Dia bukan setengah manusia baru dan setengah manusia lama. Yesus Kristus bertahta di dalam hatinya.

Ada orang menjelaskan hidup yang dipenuhi oleh Roh Kudus itu seperti air di dalam gelas yang bisa penuh dan bisa tidak penuh. Penjelasan yang lebih baik mungkin seperti udara di dalam balon. Udara itu akan selalu penuh di dalam balon, tetapi mungkin ada balon yang kecil dan ada balon yang besar. Jadi semua orang Kristen ada Roh Kudus secara penuh di dalam hatinya. Tetapi masalahnya apakah kita menjadikan Roh Kudus itu lebih besar atau tidak. Apakah kita memberi Dia kesempatan dan waktu untuk mengontrol hidup kita? Dia tetap menjadi Tuhan di dalam hidup kita. Dia tetap duduk dan bertahta di situ. Ini point yang penting sekali. Sehingga kita tidak boleh mengatakan Roh Kudus akan kabur kalau kita berbuat dosa. Roh Kudus tetap menjadi Tuhan di dalam hidup kita. Itu tidak akan pernah berubah. Cuma yang ada ialah kita mungkin tidak memberi Dia untuk take control hidup kita sepenuhnya. Maka hidup terus berjalan, hidup terus menerus dipimpin oleh Roh Kudus. Kesalahan teologi yang kedua, waktu Tuhan mengampuni dosa kita ketika kita menjadi percaya, dosa itu bukan keluar dari diri kita. Maka orang yang sudah percaya harus ingat baik-baik Roh Kudus tinggal dan bertahta di dalam hidup kita, tetapi dosa itu ada di samping dan tetap tidak keluar. Yang salah ada pendeta berdoa menumpang tangan, “Setan judi, KELUAR! Dosa mabuk, KELUAR!” Sesudah satu minggu orang itu judi dan mabuk lagi, berarti dosanya sudah keluar masuk lagi. Itu teologi yang salah. Yang ada, dosa judi, dosa mabuk terus tinggal di dalam hidup kita, yang selalu berjuang memerangi jiwa kita. Always waging war in your life. Kita hidup di dalam peperangan yang tidak habis-habisnya menghadapi serangan yang dilakukan oleh dosa yang tetap tinggal di dalam hidup kita. Tetapi kita sanggup dan bisa mengalahkan dia, karena Alkitab memberikan janji dan prinsip ini: bukan dia yang bertahta di dalam hidup kita, tetapi Roh Kudus.

Tetapi mengapa Paulus bicara mengenai hidup dipimpin Roh Kudus berkaitan dengan our fleshly desire, bukan musuh dari luar diri kita? Ini point yang penting sekali. Jadi hidup bertumbuh di hadapan Tuhan harus mengerti aspek ini, yaitu ada aspek dimana keinginan fleshly diri yang selalu bertentangan dengan kita, tetapi kita tidak pernah merasa itu sebagai sesuatu yang melawan kehidupan rohani kita sebab itu adalah diri kita sendiri.

Jay E. Adams, seorang teolog Reformed menyebut dosa sebagai “mole” musuh yang menyelusup. Fleshly desire kadang-kadang tidak menjadi hal yang disadari sebab dia adalah “mole” di dalam hidup engkau dan saya. Menghadapi musuh seperti ini tidak bisa tidak kita harus bergantung kepada pertolongan Ilahi. Sinclair Ferguson mengatakan pencobaan yang datang dari fleshly desire dan pencobaan yang diberikan oleh Setan memiliki nuansa yang berbeda. Pencobaan dari Setan adalah satu attack yang bersifat mendadak seperti panah berapi yang menakutkan kita. Misalnya, tiba-tiba muncul perasaan tidak ada harapan lagu dan muncul keinginan mau bunuh diri. Itu adalah serangan dari Setan. Misalnya, tiba-tiba muncul keinginan untuk menghujat Yesus Kristus. Itu juga adalah serangan dari Setan. Serangan itu tidak pernah kita pikirkan sebelumnya tetapi itu muncul dari luar dan begitu mengejutkan dan menakutkan kita. Tetapi fleshly desire biasanya bersifat pelan-pelan dan tidak mendadak. Itu sebab Paulus mengontraskan antara “walk in the Spirit” sehingga kita tidak berjalan di dalam keinginan daging kita. Beri kesempatan seluas-luasnya kepada Roh yang Kudus untuk memimpin hidup kita. Dan Alkitab memberikan prinsip pekerjaan Roh Kudus tidak pernah lepas dari kebenaran firman Tuhan. Roh itu datang, Roh itu akan bersaksi mengenai apa yang Aku katakan kepadamu, kata Yesus. Maka “word of God” dan “work of Holy Spirit” harus berjalan dengan sinkron. Dengan kata lain hidup yang bertumbuh mau dipimpin oleh Roh Kudus tidak boleh lepas dari kebenaran firman Tuhan memimpin hidup engkau dan saya. Ingat baik-baik karena pencobaan dari fleshly desire adalah suatu pencobaan yang sangat subtle. Yak.1:14 mengatakan ”...tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri karena dia diseret dan dipikat olehnya.”

Yang ketiga, bagaimana sdr menang dan bertumbuh melalui kesulitan dan pencobaan eksternal yang datang dari luar kepada sdr?

Yang pertama, sdr dan saya jangan pernah kecewa menghadapi pencobaan hidup dari luar datang kepada sdr. Karena semua orang dicobai. Yesus Kristuspun dicobai.

Yang kedua, semua pencobaan yang datang kepada kita tidak pernah melampaui kekuatan kita untuk menanggungnya. Jangan pernah kecewa, jangan pernah putus asa, jangan pernah takut dan merasa Tuhan tidak sayang kepadamu kalau ada faktor eksternal kesulitan dari luar datang kepada kita. Pegang baik-baik, semua orang menghadapi hal yang sama dan kita mempunyai kekuatan untuk sanggup mengatasi hal itu. Yang ketiga, Tuhan Yesus simpati dan mengerti betapa beratnya pencobaan dari luar kepada kita karena Dia sendiri juga mengalami hal itu. Itu sudah menjadi kekuatan yang menghibur kita.

Tetapi yang menyebabkan orang mengalami kekecewaan waktu pencobaan dari luar datang kepada kita karena kita pikir hanya kita sendiri yang menghadapi pencobaan yang berat ini, orang lain tidak. Yang harus kita ingat adalah pencobaan itu tidak akan berubah menjadi dosa, yang bikin dosa itu adalah pencobaan itu akan berubah menjadi dosa sebab kita merubahnya oleh inner desire. Bukan pencobaan dari luar yang menjatuhkan sdr, tetapi hati sdr bagaimana menghadapinya, itu yang bikin kita jatuh. Isteri Potifar mau menari se-sexy apapun di depan Yusuf, asal Yusuf tidak peduli dan segera lari, dia aman. Tetapi meskipun isteri Potifar sudah berbungkus kerudung sebanyak-banyaknya kalau hati sudah ingin, Yusuf akan jatuh. Yakobus sudah menjawab di sini. Pencobaan itu bukan dosa. Dia berubah menjadi dosa pada waktu kita menyerah kepadanya, kita bekerja sama dengannya, kita mengikuti pikiran dan keinginan dari pencobaan itu, baru dia menjadi dosa. Jadi bagaimana menjaga hati kita baik-baik? Bagaimana kita bisa mengalami pertumbuhan di hadapan Tuhan? Dengan memegang pengertian ini: bukan pencobaan yang membuat kita jatuh, tetapi yang membuat kita jatuh adalah kita merubah hati kita mengikuti pencobaan itu karena fleshly desire kita. Mari kita bertumbuh sama-sama di hadapan Tuhan dan kita meminta Roh Kudus merubah hati kita. Biarlah Dia menjadi Roh yang memimpin hidup kita, Dia makin menjadi besar dan makin mengontrol pikiran dan hati kita. Berani say “No” kepada pencobaan. Ibr.13:7 mencatat semua orang beriman di sepanjang sejarah sudah melewati dan mengalami hal seperti ini, bukan hanya kita. Dan semua pengalaman-pengalaman itu ditulis memberitahukan kepada kita yang hidup taat kepada kebenaran firman Tuhan akan menjadi orang-orang yang diingat Tuhan selama-lamanya.(kz)