Beberapa minggu yang lalu saya sudah membahas setelah Agur merefleksikan hidupnya, dia menemukan satu hal: dia sudah meninggalkan Tuhan di dalam hidupnya dan sekarang ini dia menemukan kembali Tuhan itu. Maka sebelum menulis Amsal bijaksana selanjutnya, dia mulai dengan doa terlebih dahulu, satu doa yang indah: Tuhan, dua hal aku minta kepadaMu. Satu, jangan beri kepadaku kecurangan dan kata-kata jahat keluar dari mulutku. Give me Lord the integrity of heart, hati yang jujur dan tulus. Itu yang paling penting seumur hidupku. Yang kedua, sekarang berkaitan dengan lingkungan luarku, aspek yang saya butuhkan di luar yaitu Tuhan, jangan berikan kepadaku kekayaan sehingga di dalam kekayaan timbul godaan yang besar sekali, akhirnya saya pikir kekayaan itu semua karena kesuksesanku maka aku tidak perlu Tuhan lagi. Jangan sampai itu terjadi. Tetapi jangan juga beri saya kemiskinan akhirnya sampai saya tergoda di dalam kemiskinan saya mengingini milik orang lain sehingga saya akhirnya mencuri dan karena itu saya mempermalukan Tuhan karena saya tidak percaya Tuhan sanggup memelihara saya di dalam kemiskinanku. Dan kemudian dia meminta kepada Tuhan biarlah dia bisa menikmati apa yang menjadi bagiannya. Sampai di sini, pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana saya mengerti apa itu hidup yang cukup? Bagaimana saya menaruh standar cukup itu? Cukupnya saya belum tentu cukupnya dia. Saya melihat orang kelihatan hidupnya mewah, bagi dia belum tentu itu mewah. Jadi tidak ada standar cukup itu.
Beberapa bulan yang lalu di majalah TIME sdr melihat satu artikel mengenai suami isteri dengan dua anak dihitung berapa mereka spend per minggu untuk kebutuhan sehari-hari. Satu famili di Jepang rata-rata menghabiskan $800/minggu. Famili di USA menghabiskan $600/minggu. Famili di Mexico menghabiskan $300/minggu. Setelah itu diperlihatkan satu keluarga yang tinggal di Afrika menghabiskan $1.80/minggu untuk kebutuhan mereka karena air minum di-provide oleh Oxfam. Yang mereka beli adalah sekarung tepung, sepotong ikan kering dan sayuran. Jadi kita melihat standar hidup yang berbeda seperti itu. Agur meminta Tuhan untuk memberi hidup secukupnya. Pertanyaan pertama muncul: Apa itu cukup? Bagaimana kita mendefinisikannya? Kita tidak bisa menaruh standar kita kepada orang lain mengenai apa yang namanya cukup. Itu sebab saya tidak menaruh standar cukup berdasarkan apa yang kita bisa raih karena setelah sdr sampai di situ, percayalah kepada saya, sdr akan merasa belum cukup. Waktu Rockefeller ditanya apa itu cukup, jawabnya “A little bit more.” Maka saya lebih suka mendefinisikan kata “cukup” dalam pengertian bukan apa yang saya targetkan untuk saya raih melainkan apa yang bisa keluar dari diri saya. Sebab orang yang selalu merasa tidak cukup seumur hidup pasti tidak akan pernah sensitif memikirkan orang lain, sebab mereka selalu berpikir, “.. wong diri sendiri saja belum cukup, mana bisa bantu orang lain?” Pertanyaan kedua muncul dalam pikiran saya mengenai doa Agur ini, apakah berdosa kita menjadi orang Kristen menuntut hidup the best dan excellent in our life? Kalau dilepaskan dari konteks Kekristenan, mungkin sdr akan lebih mudah menjawab. Sdr mau jadi orang yang sedang-sedang atau mau jadi orang berhasil? Tentu kita mau jadi orang yang berhasil. Sebagai orang tua, adakah kita merencanakan anak kita menjadi sedang-sedang? Tidak ada, bukan? Kita suruh anak kita makan makanan bergizi supaya bisa tumbuh paling besar dan paling tinggi. Tidak ada di antara kita menyuruh anak di sekolah menjadi yang sedang-sedang saja. Kita mau anak kita menjadi yang the best. Kita mau diri kita menjadi bisnisman yang the best, olahragawan yang the best, dokter yang the best. Semua aspek dalam hidup kita mau menjadi yang the best. Kita tidak merasa bersalah memiliki keinginan seperti itu. Tetapi waktu ditanya apakah sdr mau menjadi orang Kristen yang the best? Ah, ini lain cerita. Jangan terlalu sombonglah, jadi orang Kristen yang sedang-sedang saja. Tidak boleh terlalu tinggi. Tetapi sdr tidak mau mendapat pendeta yang khotbahnya sedang-sedang. Maunya kan dengar khotbah yang the best juga, bukan? Saya selalu guilty dan sedih kalau khotbah saya tidak terlalu baik. Tetapi kalau sesudah kebaktian ada yang mendapat berkat dari khotbah saya, lalu saya bilang “..itu khotbah saya yang the best..” apakah saya sombong? Sdr bilang, jangan begitu, nanti dihukum Tuhan. Banyak hal normal dan lumrah waktu kita mau menjadi the best, tetapi kenapa dalam aspek kerohanian, kita menjadi sungkan untuk menuntut yang the best? Apakah bersalah kalau kita menuntut sesuatu yang excellent dalam hal ini?
Minggu yang lalu saya membeli satu buku “Good to Great in God’s Eyes” karya Chuck Ingram sebagai padanan dari Jim Collins yang menulis satu buku yang baik sekali dalam management berjudul “Good to Great” mengenai analisa dia mengenai perusahaan-perusahaan yang tadinya sedang-sedang saja menjadi perusahaan yang sukses dan great. McDonald’s, SONY, apa rahasia mereka. Ingram mengatakan kita tidak bersalah dan bahkan kita dituntut oleh Tuhan untuk menjadi orang Kristen yang great dan excellent di mata Tuhan. Kita menuntut diri untuk agung, kita itu indah di mata Tuhan. Apakah doa untuk menjadi sedang-sedang saja itu yang dimaksud oleh Agur? Saya kira tidak. Kalau kita membaca seluruh Amsal, tidak ada larangan untuk kita menjadi yang the best bahkan kita diminta belajar untuk belajar kepada semut, jangan menjadi orang Kristen yang malas. Amsal tidak melarang kita menjadi orang yang agung dan besar, yang menuntut sesuatu yang great dalam hidup kita. Kalau begitu kenapa Agur berdoa seperti ini? Agur tidak bicara soal kondisi kaya atau miskin yang menjadi problem. Dia sedang berbicara bahwa di dalam kekayaan ada bahaya yang sangat besar, juga di dalam kemiskinan ada godaan yang sangat besar. Jangan sampai di dalam kekayaanku akhirnya saya membuang Tuhan dan jangan sampai di dalam kemiskinan saya mempermalukan Tuhan. Agur tidak mengatakan kita menjadi orang Kristen yang sedang-sedang, yang tidak punya ambisi dan keinginan untuk hal yang besar dalam hidup ini. Dia tidak melarang kita untuk membangun rumah yang tinggi dan agung. Tetapi kalimat ini penting untuk memberitahukan kita jangan membangun di atas fondasi yang tidak kuat. Bottomless pit. Karena kalau hidup kita penuh dengan keinginan dan desire yang tidak habis-habisnya, itu seperti kuburan yang menganga, percuma membangun di atasnya, tidak akan ada sukses dan nikmatnya. Itu yang Agur tidak mau. Jadi sebelum engkau membangun di atas, taruh fondasi dalam-dalam. Agur sendiri telah mengalami hal ini, seperti yang sudah saya khotbahkan sebelumnya. Dia mengatakan dia berlelah-lelah. Di situlah kesalahan yang dia alami waktu dia berjalan sukses mengerjakan segala sesuatu, dia sampai menjadikan kesuksesan dan kenikmatan itu sebagai tujuan hidupnya. Makin dikejar, makin dia lari sehingga Agur menjadi cape. Akhirnya dia menemukan satu kesadaran dia sudah membuang Tuhan di dalam hidupnya. Itu sebab dia tidak ingin di dalam kekayaan maupun di dalam kemiskinan kita melupakan Tuhan dan tidak menjadikan Tuhan yang sentral di dalam hidup ini. Itu sebab dia ingatkan baik-baik, firman Tuhan itu murni, tidak ada cacat-celanya. Kita hidup di manapun kita banyak mendengar suara-suara di sekitar kita. Sekarang buang suara-suara itu dan dengarkan apa yang Tuhan firmankan. Bukan Alkitab melarang kita untuk hidup sukses. Bukan Alkitab melarang kita menjadi orang Kristen yang mengejar kekayaan. Tetapi sebelum kita mengejar semua itu, jangan sampai kita kehilangan Tuhan di dalam hidupmu. Ini dulu yang Agur inginkan.
Martin Luther King Jr. pernah mengeluarkan kalimat yang luar biasa di dalam khotbahnya bicara mengenai kebahayaan dari berhala modern. Dia mengatakan terlalu banyak frustrasi terjadi di dalam dunia ini sebab manusia terlalu bersandar kepada ilah-ilah ketimbang bersandar kepada Allah. Banyak orang terlalu percaya bahwa science sanggup menyelamatkan dunia, akhirnya justru menemukan di dalam science orang menciptakan bom atom membunuh manusia. Manusia terlalu menyembah dewa kesenangan, the idol of pleasure, sampai akhirnya menemukan di sana kesenangan hanya seumur jagung. Banyak orang bertekuk lutut kepada uang, akhirnya setelah memiliki banyak uang mereka baru sadar uang tidak bisa membeli segala sesuatu dalam hidup ini. Banyak di antara mereka kehilangan kasih, kehilangan arti friendship yang sejati, kehilangan orang-orang yang dikasihi karena uang. Dunia modern harus kembali menemukan Tuhan. Kalau manusia tidak menemukan Tuhan, maka tidak ada pengharapan di dalam hidup manusia. Rediscover God in your life, it is the most important thing in your life, kata Martin Luther King. Kalimat yang sama dari Agur bin Yake, Agur rediscover God di dalam hidupnya, itu sebab dia mengeluarkan doa ini.
Sdr perhatikan kenapa setelah Agur berdoa, Agur bicara mengenai empat jenis orang. Satu, mengenai jenis orang yang tidak menghormati orang tuanya. Kedua, ada jenis orang yang merasa bersih tetapi penuh dengan kotoran sendiri. Ketiga, ada jenis orang yang alis matanya terangkat, sombong dan menghina. Keempat, ada jenis orang yang giginya seperti pisau yang tajam dan tanpa perikemanusiaan mengeluarkan kalimat yang menghancurkan dan mendestruksi orang lain. Kenapa Agur mengatakan seperti itu? Karena Agur sadar di balik dari empat jenis orang ini dia melihat mereka memiliki satu kesamaran yang berbahaya yaitu tidak menjadikan Tuhan sebagai Tuhan melainkan kesombongan sebagai ilahnya. Ini adalah pengamatan dari Agur bin Yake. Sombong merupakan penyembahan berhala. Ini adalah kalimat dari Alkitab. Dan Agustinus juga pernah mengatakan kalimat yang serupa: kesombonganlah yang merubah malaikat menjadi setan, tetapi rendah hati menjadikan manusia bisa hidup seperti malaikat.
Ted Peters dalam bukunya yang berjudul “Sin” memberikan definisi mengenai pride adalah percaya kepada diri sendiri lebih daripada bersandar kepada Tuhan. I am the best. Saya menjadi tuan atas hidupku, menjadi yang terutama di dalam hidupku. Itulah kesombongan. Tetapi kesombongan merupakan penyembahan berhala yang tidak terlalu kelihatan. Sombong adalah satu-satunya penyakit di dunia ini yang bisa menulari semua orang tetapi dirinya sendiri tidak sadar bahwa dia terjangkit. Itu sebab mengapa kesombongan merupakan penyembahan berhala yang sangat bersifat subjektif, kata Ted Peters. Sdr perhatikan jatuhnya Adam dan Hawa terjadi karena penyembahan berhala ini yaitu diri sendiri. Engkau akan sama seperti Tuhan, kata Iblis. Maka Adam dan Hawa tergoda karena ini. Kesombongan adalah penyembahan berhala yang bersifat subjektif kepada diri sendiri.
Ada orang yang tidak menghormati papa mamanya. Mengapa bisa begitu? Ada orang menganggap dirinya hebat. Mengapa bisa begitu? Ada orang dengan matanya melihat orang dengan hina. Mengapa bisa begitu? Ada orang yang mulutnya bersifat destruktif merusak orang lain. Mengapa bisa begitu? Intinya, dari keempat jenis orang ini adalah dosa kesombongan. Ini adalah kebahayaan hidup yang sangat berbahaya. Bila engkau menyombongkan diri tanpa atau dengan berpikir, tekapkanlah mulutmu, kata Agur di ayat 32. Aku mau menjadikan Tuhan yang terutama di dalam hidupku. Dan kebahayaan yang menyebabkan kita tidak menjadikan Tuhan yang terutama salah satunya ialah kita jatuh ke dalam penyembahan berhala diri sendiri. Menjadikan diri kita sebagai yang terutama, ini berhala yang tidak kelihatan sebab tidak ada image-nya, tidak ada gambarnya, tidak ada patungnya. Tetapi Agur bisa merefleksikan paling tidak ada ciri-ciri utama dari kesombongan sebagai penyembahan berhala yang bersifat subjektif itu. Ada jenis orang yang dia amati penuh dengan kesombongan, yang cirinya tidak menghormati orang tuanya. Dia terlalu sombong sampai lupa kepada akarnya. Begitu dia sukses dia berpikir memang dia lahir langsung sukses. Sudah bawa emas lima kilo di tangan. Dia merasa diri sendiri hebat, dia lupa di balik segala kesuksesannya ada orang yang mendukung pada waktu dia tidak berdaya yaitu orang tuanya. Tetapi setelah dia berhasil dia menghina dan tidak mau mengingat kepada akarnya. Tidak tahu mengingat bahwa dia tumbuh menjadi besar begitu ada sumbernya, ujungnya kepada orang tuanya. Kenapa sampai terjadi sikap tidak respek dan menghina orang tua? Pointnya karena tidak menyadari, kesombongan diri diekspresikan dengan rasa hebat, rasa sukses karena dirinya sendiri. Lupa dengan jasa ayah dan ibu yang tanpa pamrih membesarkan. Kita melupakan jasa orang-orang yang pernah menolong dan membantu kita smapai sukses. Jangan pernah lupa itu. Jangan sampai berhala kesombongan membuat kita merasa the best, kita mendapatkan semua itu karena kehebatan kita sendiri sampai kita lupa akarnya. Keluarga kita, sahabat kita, orang-orang yang mengasihi kita. Orang tua juga membesarkan kita tidak pernah memikirkan untuk mendapat balik. Sekarang jenis orang kedua: lupa diri, rasa bersih tetapi hidup penuh dengan kotoran sendiri. Idolnya adalah me only. I am the best. Semua yang kumiliki adalah hasil usahaku sendiri, hasil kekuatanku sendiri. Ketiga, lupa menghargai orang. Ini adalah kesombongan berbahaya. Dia bisa membuat kita lupa kepada akar. Dia bisa membuat kita merasa diri kita yang paling benar, paling hebat, satu-satunya yang the best. Akhirnya kita menjadi orang yang meremehkan orang lain. Memandang orang dengan sebelah mata. Menganggap orang lain rendah dan tidak memiliki sesuatu yang indah. Jujur, banyak hal dalam hidup orang lain yang bisa kita hormati dan hargai. Kita tidak mungkin bisa memiliki semua. Ada banyak bakat dan karunia yang kita bisa hargai dari orang lain. Tetapi orang yang sombong akan meremehkan orang lain Terakhir, ada orang yang mulut bibirnya seperti pisau, kurang sensitif, very perousious. Pada waktu kita menjadi sombong dan menjadikan diri yang terbaik, kita menjadi orang yang tidak pernah sensitif kepada orang lain. Kita tidak pernah peka kebutuhan orang lain. Mari hari ini kita belajar dari doa Agur. Menjadikan Tuhan sungguh-sungguh sebagai yang terutama di dalam hidup kita. Jangan ada berhala lain. Hari ini koreksi baik-baik apakah ada berhala kesombongan, berpikir apa yang kita raih raih dalam hidup ini adalah hasil jasa kita sendiri. Apakah kita menjadi orang yang bisa mengucapkan terima kasih, rasa berbahagia kepada orang-orang yang sudah membantumu menjadi orang seperti sekarang ini, salah satunya adalah ayah ibumu? Biarlah kita membawa berkat yang indah dari kesadaran ini.(kz)