GRII Sydney - Ringkasan Khotbah
25
Nov

Celaan dan Kritikan

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Date: November 25, 2007
Nats: Ams. 30:7-10

“Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong. Yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki, menunjuk-nunjuk dengan jari. Yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan dan yang menimbulkan pertengkaran” (Ams.6:12-14).

Hari ini secara khusus kita akan melihat permintaan Agur bin Yake, ada dua hal yang ia minta kepada Tuhan, “Tuhan, beri kepadaku hati yang lurus, tidak ada kecurangan di dalamnya. Tidak ada kalimat-kalimat yang palsu yang keluar dari mulutku.” Itu permintaannya yang pertama, selama aku hidup beri aku the integrity of heart. Itu yang paling penting dalam hidupku. Yang kedua, the simplicity of life.Biarlah saya hidup puas, saya hidup bersyukur terhadap apa yang menjadi bagian yang Tuhan beri di dalam hidupku. Maka itu sebab dia berdoa, jangan beri kekayaan dan jangan beri kemiskinan. Dua permintaan yang penting: the simplicity of life and the integrity of heart.

Hati yang tulus dan mulut yang tidak mengeluarkan kata-kata yang serong. Amsal sangat menekankan aspek ini. Hari ini saya ingin mengajak kita membedakan dulu bagaimana mendefinisikan antara gossip dan slender, antara kritik dan celaan. Saya rasa banyak di antara kita berpikir bahwa celaan lebih berat derajatnya daripada gossip. Dan gossip lebih bersifat sesuatu yang kita utarakan mengenai orang lain dari belakang. Mungkin kalimat itu benar, mungkin juga tidak, tetapi ini hanya lebih merupakan kalimat yang menyampaikan ketidaksenangan kita kepada orang lain, di belakang orang itu tetapi tidak memiliki intention untuk merusak reputasi dia. Itu yang kita katakan dengan gossip. Slender adalah berbicara secara negatif mengenai seseorang dengan maksud untuk merusak reputasinya, dengan menyampaikannya di depan atau di belakang dia. Berbeda dengan gossip, bisa jadi gossip keluar karena kita mau menyatakan sesuatu yang ada benarnya tentang orang itu tetapi tidak kita lakukan secara langsung di depan orang itu, sedangkan celaan mempunyai maksud negatif untuk merusak reputasinya. Tetapi kenapa celaan menjadi satu hal yang dibenci oleh Tuhan? Sebab di dalam celaan tidak mengandung unsur kebenaran. Ada intention merusak reputasi orang tetapi diberikan dengan unsur kepalsuan di dalamnya. Itu bedanya gossip dan celaan. Itu sebab mengapa Amsal sangat menekankan aspek slender ini sebagai hal yang tidak baik. Bahkan Amsal mengatakan ini hal yang Tuhan benci dan Tuhan tidak suka.

Mengapa seringkali seseorang mengeluarkan kata-kata yang mungkin berusaha menyinggung orang itu dari belakang dengan gossip. Atau kenapa sampai orang itu mengkritik dengan tajam dan keras untuk merusak reputasinya atau mengeluarkan kata- kata yang tidak baik?

Di sini kita menemukan beberapa hal yang perlu kita recognize sebagai celaan yang tidak baik. Saya lihat alasan yang pertama adalah it is about control not about truth. Tidak heran Tuhan Yesus berkata kita sering melihat selumbar di mata orang lain tetapi tidak melihat balok di mata sendiri. Mengapa? Sebab banyak orang berpikir sebelum saya dikritik orang lain, lebih baik saya kritik lebih dulu. Kenapa kita mengeluarkan celaan yang tidak baik? Karena it is about control. Kita mau take control. Kita mau mem- possessed orang lain. Sehingga akhirnya pada waktu kita bicara mengenai status, kedudukan, kita takut terancam, akhirnya kita melempar kritikan pedas kepada orang lain. Bagaimana mengenali satu celaan dan kritikan yang tidak baik? Ams.6:13 baik sekali. Amsal mengatakan “…tidak berguna mulut yang slender, yang mengedipkan matanya…” Sdr belajar memiliki integrity of heart itu baik sekali. Amsal memberitahu kita bisa membedakan kalimat orang itu benar atau tidak dengan cara lihat matanya. Ada body language kalau orang itu menyatakan kalimat bohong. Kita sebagai orang tua juga tahu kalau anak kita sedang berbohong, bukan? Itu sebab orang yang lihai bermain judi poker selalu memakai kacamata hitam. Bagaimanapun you bisa kontrol hatimu, punya kartu bagus, mata tidak bisa menipu, dia akan bersinar-sinar. Itu sebab ditutup dengan kacamata hitam. Hanya orang yang sangat hebat sanggup mengontrol body language dengan sempurna. Tetapi Amsal mengatakan ada orang mungkin bisa senyum dengan kata-kata yang manis kepadamu, tetapi sdr bisa melihat matanya, dia jujur atau tidak. Sdr juga menerima pinangan seorang pria sekalipun dengan kata-kata yang manis, lihat matanya, jangan lihat mulutnya. Itu sebab jangan pernah menerima pinangan lewat telpon. Amsal bilang mulut yang serong tidak ada gunanya. Lihat body language-nya, lihat matanya, lihat kakinya, lihat tangannya. Kalau dia bicara tidak mau melihat lurus kepadamu, ada something wrong. Jadi mata tidak bisa menipu, gerak-gerik kita tidak bisa menipu apakah kita mengeluarkan kalimat yang betul-betul benar atau tidak kita bisa recognize dari sana.

Celaan dan kritikan bagaimana mengenalinya? Jangan kritik, jangan cela, jangan gossip hamba orang lain, kata Agur bin Yake. Artinya, kritikan atau gossip selalu masuk ke dalam wilayah yang bukan tanggung jawabnya. Yang kita mesti kritik anak buah sendiri, bukan anak buah orang lain. Amsal menasehatkan kita untuk tahan diri tidak menjadi orang yang gampang mengkritik orang lain, apalagi yang bukan wilayah responsibility kita. Jangan lakukan itu karena berbahaya. Someday, kalimat yang kita keluarkan kepada orang lain yang bukan tanggung jawab kita dan tidak ada hubungannya dengan kita, akan menjadi kalimat yang berbalik memukul kita. Kalau ada hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan tanggung jawab kehidupan kita, jangan masuk ke wilayah itu.

Hari ini saya bukan hanya melihat aspek itu saja tetapi aspek lain bagaimana sdr dan saya belajar juga hidup tahan menghadapi kritikan, celaan dan gossip seperti itu. Kalau seorang bertanya bagaimana menghadapi orang yang selalu kritik, saya menjawab: sdr tidak bisa menghindar dari situasi seperti itu. Sdr pergi kemana saja pasti akan ketemu orang seperti itu. Sdr dan saya tidak bisa mencegah orang itu mengeluarkan hal yang negatif kepadamu, tetapi sdr dan saya memiliki kekuatan untuk bisa mencegah apakah virus celaan orang itu mau merusak hidup kita lebih banyak atau tidak. Jangankan hal-hal yang lain, sdr pakai baju apa saja, orang bisa cela. Gunting rambut model apa saja, orang bisa kritik. Menikah sama siapa juga, orang pasti kritik. Kita sudah meninggalpun, peti jenasah kita dikritik, bunganya dikritik, bubur ayamnya juga dikritik. Jadi sampai kapan kita bisa rest in peace? Sdr harus mengambil sikap untuk tidak mau kalimat itu mencengkeram dan menjadi virus yang merusak dan menggelapi seluruh hidup kita. Itu yang sdr dan saya harus lakukan. Slenders, celaan, gossip, kritikan itu berada di sekitar sdr. Lalu bagaimana? Hal yang pertama sdr menangkis dengan baik, ambil sikap ini. Sdr dan saya tidak akan pernah bisa tahan menghadapi kritikan dan celaan orang kalau sdr sendiri tidak tahu dan tidak memiliki suatu prinsip yang jelas what is the most important in my life, apakah keputusan-keputusan yang sdr sudah ambil merupakan hal yang lebih baik menurut sdr. Kalau sdr tidak punya prinsip ini, you akan babak belur dihajar oleh celaan orang di dalam hidup sdr.

Ada seorang bapak berjalan dengan anaknya, ingin menjual keledai dari desa ke kota. Bapaknya berpikir kota cukup jauh dan anaknya masih kecil. Karena itu si anak menaiki keledainya dan si bapak berjalan di sampingnya. Di tengah jalan seorang lewat sambil menyindir, “Dasar anak tidak tahu diri, bapaknya sudah tua begitu disuruh jalan sedangkan dia naik keledai.” Bapak dan anak lihat-lihatan lalu kemudian berpikir benar juga kalimat orang itu. Akhirnya anak itu turun dan bapaknya naik keledai itu. Setelah beberapa saat ketemu orang kedua, orang itu mencela, “Bapak itu kejam sekali, masak anaknya disuruh jalan sedangkan dia enak-enak naik keledainya?” Bapak dan anak lihat- lihatan dan berpikir orang itu benar juga, lalu bapak itu turun dari keledainya. Di tengah jalan orang ketiga lewat dan berkata, “Bodoh sekali mereka, punya keledai tidak dinaiki.” Lalu mereka lihat-lihatan, iya benar juga kata orang ini, lalu mereka berdua naik keledai itu. Tidak lama berjalan, lewat orang keempat yang berkata, “Ini orang kebangetan, keledai begitu kurus dinaiki dua orang?” Bapak dan anak lihat-lihatan, akhirnya mereka jadi bingung, what should we do? Akhirnya daripada pusing, mereka mengambil tali dan mengikat keledai itu dan memikulnya sampai ke kota. Itu hidup kita, bukan? Kita akan babak-belur sebab sdr tidak tahu apa yang paling penting dan decision apa yang paling penting sdr ambil dan happy dengan keputusan itu.

Celaan akan dtang ke dalam hidup kita tetapi jangan sampai hal itu consumed all of your mind sampai tidak bisa tidur. Pertama ambil prinsip ini, apa yang matters in my life. Terlalu banyak hal yang penting di dalam hidup kita dan saya percaya kita ingin menggenggam semua itu bersamaan. Tetapi maafkan, seringkali tidak semua hal yang baik itu bisa kita genggam dalam waktu bersamaan. Kadang-kadang kita harus menaruh prioritas dan ambil itu. Orang akan cela, tetapi kalau itu important for you dan buat dia tidak, it’s ok. Jangan biarkan orang lain yang menentukan bagaimana sdr harus menggambar di kanvas kehidupan sdr. Hidup kita seperti kanvas, ambil keputusan sekarang hal apa yang paling penting yang sdr mau gambar di situ. Selesai gambar, mungkin banyak orang yang melihat akan mengkritik. Kalau sdr bingung dan peduli semua kritikan itu, tidak ada habis-habisnya. Karena sdr tahu sdr mau gambar apa, tidak usah peduli dengan kata-kata orang lain. Kalau tidak sdr akan bingung mendengar kritik orang sana-sini. Maka ambil sikap seperti itu, keputusan kehidupan kita yang terindah dan terbaik ada di tangan kita sendiri.

Yang kedua, pada waktu sdr dan saya mengalami celaan dan kritikan dari orang, kita bisa bisa berespons dengan kecewa, kita bisa berespons dengan marah, kita bisa berespons segala macam perasaan yang tidak baik. Namun saya ingin memberi tahu sdr, selain sdr yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan mengambil keputusan yang terpenting bagi hidupmu, sdr juga harus tahu sdr memiliki kontrol atas attitude apa yang sdr harus ambil di dalam hidupmu. Pada waktu orang kritik, apakah saya harus otomatis menyatakan reaksi kecewa, marah dan tersinggung? Mungkin kita akan bilang ya, karena tidak tahu mau respons apa lagi. Apakah hanya itu respons yang sepatutnya kita nyatakan? Tidak.

Bagaimana sdr bersikap mengontrol attitude sdr, itu semua berada di tangan sdr. Kalau sdr sudah mengerti mana yang terindah dan terbaik bagi sdr, ada slenders, ada celaan dan kritikan, biarlah kita menanggapi dengan senyum, dengan santai, take control your attitude, kalau bisa doakan juga orang itu supaya Tuhan mengampuni dia. Itu sebab mengapa saya mengatakan belajar hidup jangan gampang tersinggung.

Ams.27:5-6 berkata, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah…” Kalimat bijaksana dari orang kepada sdr mungkin terdengar tidak enak, tetapi lambat laun sdr jadi bersahabat dengan dia. Teguran yang straightforward kepada sdr mungkin jauh lebih baik, namun teguran itu mungkin menjadi teguran yang sangat menyakiti hati kita. Itu sebab Amsal ini mengatakan itu adalah luka, artinya sakit, tetapi luka itu dibuat oleh seorang teman. Itu jauh lebih baik daripada ciuman yang diberikan oleh lawan. Bagaimana membedakan kita menegur orang sebagai satu kritik yang konstruktif ataukah mencela secara destruktif? Kalau saya menerima sesuatu dari seseorang, seringkali kita gampang cepat bereaksi marah karena kita langsung berpikir apakah kritikan itu objektif atau subjektif. Itu yang pertama. Yang kedua, kita langsung berpikir apakah kritikan itu fair atau tidak fair. Yang ketiga, yang sangat justru malah membuat kita cepat marah yaitu dikritik oleh suami/istri ketimbang dikritik oleh seseorang yang tidak terlalu kita kenal. Kenapa demikian? Dengan orang lain kita ada sedikit sungkan untuk marah. Memang hidup ini sangat paradoks, orang yang paling kita sayangi dan kasihi justru adalah orang yang gampang kita lukai. Anak, suami, istri, gampang kita lukai. Sedangkan orang lain kita agak sungkan untuk melukai.

Kita cepat marah terhadap kritikan orang yang dekat dengan kita karena kita merasa dia sudah tahu siapa kita, kalau dia masih kritik berarti maksudnya jahat. Kita rasa terluka karena kita maunya orang yang terdekat dengan kita memaklumi hal itu, tetapi kalau dia masih mengkritik berarti ada maksud yang bersifat personal. Kita selalu berpikir itu objektif atau subjektif, fair atau unfair, ada maksud tersembunyi atau tidak, itu selalu cara kita menanggapi kritik. Tetapi kita jujur mengakui kita tidak bisa menemukan apakah kritikan itu fair atau unfair karena itu berkaitan dengan respons hati sdr dan saya. Sdr yang mengkritik juga akan bereaksi begini: sudah saya beritahu baik-baik kok marah? Orang yang menerima berpikir sebaliknya. Saya merasa seringkali kita jadi sungkan memberitahu orang karena takut dia terluka. Kita juga tidak sanggup menerima suatu kritikan yang bersifat konstruktif karena kita merasa itu tidak fair.

Waktu saya membaca Amsal ini mendapat prinsip ini: soal fair atau unfair, bukan itu standarnya sebab kalau kita memakai standar itu saya percaya sdr akan lebih suka menerima ciuman daripada luka. Tetapi bukan ciuman atau lukanya yang menjadi persoalan penting melainkan siapa yang memberikannya, teman ataukah lawan? Sekalipun luka dan tidak enak, tetapi sdr jangan sampai tidak menerimanya sebab itu datangnya dari teman, dari orang-orang yang mengasihi kita. Maka kita tidak lagi memikirkan soal objektif atau subjektif, enak atau tidak enak didengar, yang terpenting itu adalah teman atau musuh kita yang memberikannya. Teman dalam pengertian saya tahu hati dan motivasi dia sampai kapanpun, walaupun itu menyakitkan suatu kritikan atau kalimat yang menegur itu patut saya pikirkan, saya dengar dan saya cerna danitu bisa merubah hidup saya. Sdr boleh memberi teguran, kritikan termasuk kepada saya dengan selalu memiliki sikap hati ini: saya memberinya dengan maksud baik karena saya mengasihimu as a friend. Itulah yang membedakannya dengan celaan dan kritikan dari orang lain karena keinginannya merusak reputasi orang sedangkan keinginan temanmu memperbaiki hidup sdr.

Tuhan, beri aku hati yang tulus dan jujur, hati yang penuh dengan integritas, doa Agur. Kita tidak akan gampang marah dan tersinggung terhadap kritikan yang kita terima kalau kita dari awal belajar dengan tulus juga memberikan kritikan dan masukan kepada orang memang juga tidak punya maksud apa-apa. Kalaupun orang memberikan celaan yang tidak baik dan dengan maksud yang jelek, jangan tersinggung. Terima saja, siapa tahu di belakangnya sdr mendapatkan informasi yang baik untuk sdr. Agur meminta hati yang seperti ini, dan biarlah ini juga menjadi kerinduan hati sdr dan saya.(kz)